Feature

Cara Pandang Bermasalah, Merasa Berhak Menunjuk yang Salah

“Semut diseberang lautan terlihat, tapi gajah di pelupuk mata tak dilihat”

Ungkapan barusan, barangkali jadi gambaran yang pas untuk orang-orang yang kerap bertindak bak Tuhan. Menyalahkan orang lain dengan seenaknya, tanpa tahu bahwa manusia lain pun punya hak serupa. Ya, hak untuk sepaham denganmu atau tidak.

Asal kamu tahu saja, puncak kedewaasaan tertinggi dari seseorang adalah, ketika kamu setuju untuk tidak setuju. Jadi, jika beberapa hal yang kerap terlihat sering jauh dari pandanganmu, bukan berarti kamu berhak untuk bilang itu adalah sesuatu yang salah. Meski sesungguhnya, hal itu mungkin salah.

Maka sebelum bersikap dan merasa dirimu paling benar, ada beberapa hal yang perlu ditanyakan pada diri sendiri.

Setiap Orang Punya Pandangan dan Pilihan Terbaik Sesuai Versinya

Kamu mungkin bisa berkata bahwa, kamu adalah orang terbaik yang ada di kelompok pertemanan milikmu. Tapi, pendangan itu tak selalu sejalan dengan kawan lain yang nyatanya ia adalah seorang teman. Menganggap diri adalah yang terbaik, boleh jadi sudah mendarah daging. Tapi, merendahkan orang hanya karena tak sepaham jelas salah.

Walau mungkin apa yang kita percaya adalah sesuatu yang benar, dan yang dibicarakan oleh kawan adalah salah. Kita hanya berhak untuk menyampaikan kebenaran yang kita percaya. Selanjutnya, ia bebas untuk menentukan pilihannya dan kita pun tak bisa memaksa dia untuk percaya. Karena biar bagaimanapun, serupa dengan kita. Ia juga punya hak yang sama, untuk mempercayai sesuatu sesuai dengan versi dirinya.

Orang Lain Mungkin Bisa Salah, Tapi Siapa Kamu yang Berhak Menghakiminya?

Lain hal jika kamu adalah orangtuanya, bosnya di kantor hingga posisisi lain yang memang mau tak mau menugaskan dirimu untuk menentukan. Batas mana yang akan jadi garis antara salah dan benar. Bahkan meski begitu, ia masih berhak untuk menentukan akan setuju atau tidak denganmu. 

Untuk beberapa kesempatan, diri kita mungkin berada pada posisi yang benar. Tapi bukan berarti itu sudah benar sesuai aturan. Barangkali, diri kita sendirilah yang menganggap itu benar. Bagaimana dengan pandangan orang lain? Belum tentu serupa. Ingatlah, bahwa apapun yang kita katakan benar, bukan berarti akan mendapat hasil yang sama dengan yang orang lain lihat.

Serupa dengannya yang Katamu Salah, Dimata Orang Lain Kamu Pun Pernah Berbuat Hal Serupa

Konon ketika kita memilih untuk menunjuk orang lain bersalah dengan jari telunjuk, ada tiga jari lain yang sudah menunjuk diri kita secara bersamaan. Dengan kata lain, setiap kali kita bertindak untuk menyatakan seseorang bersalah, ia juga punya hal yang sama untuk mengelaknya dan tak setuju dengan pendapat kita.

Hari ini kamu mungkin bisa berkata bahwa rekan kerjamu salah, karena kebetulan ia datang terlambat untuk pertemuan yang sudah dijanjikan. Tapi disaat bersamaan, bisa saja ada orang lain yang datang untuk menyadarkanmu. Bahwa pada hari-hari lain di masa lalu, kamu pun pernah begitu.

Lagipula Mereka yang Terlalu Mudah Menyalahkan Orang, Punya Gangguan dalam Mengendalikan Diri Sendiri

Yap, beberapa ahli yang melakukan penelitian untuk sikap dan penguasaan diri seseorang berkata bahwa, mereka yang terlalu terburu-buru untuk marah dan menyatakan orang lain salah. Memiliki kemampuan mengontrol emosi yang rendah. Dan sialnya, sikap seperti ini bisa membuatmu dijauhi orang. Karena biar bagaimanapun, tak ada orang yang suka berteman dengan manusia yang merasa dewa. Tak pernah berbuat salah, dan berhak menjatuhi orang lain apa saja yang menurutnya tak benar.

Salah dan Benar Itu Perkara Biasa, Jadikan Pelajaran Bukan jadi Ajang Merendahkan Orang

Percayalah bahwa tak ada satupu manusia yang sempurna. Dia yang katamu benar, boleh jadi salah pada tindakan lain. Dan begitu sebaliknya, dia yang katamu salah, bisa saja lebih hebat darimu pada beberapa hal yang kau tak bisa. Cobalah untuk lebih jeli melihat situasinya, dengan mulai memilah-milah hal mana yang layak dijalankan persoalan, dengan yang tak seharusnya dipermasalahkan.

Perbedaan cara pandang, harusnya membuat kita sama-sama belajar. Jika apa yang ada dalam isi kepala satu manusia, belum tentu bisa diterima makhluk lainnya. Tak perlulah merasa paling unggul sendiri, lalu melenggang untuk menyombongkan diri dengan apa yang kita percayai.

Tak Boleh Melihat dari Satu Sisi, Kamu Pun Perlu Paham Bagaimana Ia dari Sisi yang Berbeda

Ingat ya, setiap orang punya pendapat, pandangan, pola pikir, hingga kemampuan yang berbeda-beda. Tak ada yang serupa, dan tak bisa pula kita memaksanya untuk sama. Sebab meski serupa doyan makan mie, kamu jelas tak bisa mengajak orang lain mengangguk untuk memilik mie goreng, jika ternyata ia lebih suka mie kuah. Dari sini kita harusnya bisa belajar, bahwa apa yang sejalan saja, kadang tak bisa disamaratakan semua.

Cobalah untuk membuka mata, melepaskan apa yang kita percaya tadi. Untuk kemudian belajar melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda. Dengan begitu, barangkali kita bisa lebih memahami dirinya.

Dan Percayalah, Terbiasa Menyalahkan Orang Lain Tak Membuat Dirimu Lebih Besar

Barangkali kamu berpikir bahwa berupaya untuk menunjukkan kesalahan seseorang akan membuatmu dipandang lebih baik. Mendapat penghargaan karena sudah menujukkan sesuatu yang besar, hingga berharap akan lebih dikenal, sebab sudah mengoreksi orang. Padahal faktanya, seringkali tidak begitu.

Dipandang baik tak dilihat dari kemampuan kita untuk berteriak salah dan benar pada seseorang. Tapi bagaimana kita bisa menyampaikan pendapat dengan baikk tanpa terkesan menggurui dan bertindak paling benar sendiri. Ingat, bintang yang bersinar tak pernah berkata jika ia tinggi. Tapi semua orang tahu, jika setiap malam ia ada di langit untuk menerangi bumi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sejalan dengan Usia yang Bertambah, Bagimu Kriteria Pasangan Pun Ikut Berubah

Dulu, saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan caramu berpikir tentang cinta.

Pernah berpikir lelaki romantis adalah pasangan sempurna, kini kamu justru merasa jengah jika si dia hanya bisa mengumbar kata manis saja. Benar, kita sadar bahwa deretan kriteria dia yang jadi pasanngan tak lagi melulu tentang dia yang mampu berkata manis seperti lelaki di film romantis.

Sebelumnya, Sering Tak Ada Jeda untuk Memulai Cinta, Kini Punya Pertimbangan Panjang dalam Menerima Seseorang

Mari ingat kembali, perjalanan asmara yang kita miliki sejak dari kekasih pertama. Setiap kali putus cinta, rasanya tak pernah butuh lama untuk bisa kembali membuka hati untuk dia yang baru. Tapi, hal tersebut tak lagi berlaku untuk usia yang sedewasa kini. Biar banyak yang datang untuk menawarkan hati dan cintanya, rasanya selalu susah untuk mengiyakan ajakan untuk memulai hubungan.

Bukan perkara belum bisa melupakan mantan pacar terdahulu, walau kadang hal itu pun bisa jadi alasan. Tapi ini lebih kepada pertimbangan yang perlu dipikirkan matang-matang. Tak lagi mau sembarangan, ada banyak ketentuan yang kita jadikan standar untuk dia yang akan jadi pasangan.

Bukan Rasa yang Menggebu-gebu, Tapi Bagaimana si Dia dan Kamu Mengelola Emosi

Di usia remaja, apapun seolah terasa mudah. Berpikir bahwa kita akan bersama selamanya dengan dia yang dicinta. Jika diibaratkan sebuah bunga, rasa cinta yang ada  di hati kita sedang mekar-mekarnya. Harum ke semua penjuru, bahkan menutup bau dari si dia yang mungkin bisa menyakitimu.

Tapi ketika sudah dewasa, cinta dan rasa yang menggebu-gebu bukanlah jadi penentu. Tapi bagaimana kita dan pasangan bisa sama-sama belajar untuk selalu mampu mengelola emosi dalam segala hal. Untuk itu pulalah, kata putus tak lagi bisa diucapkan dengan mudah seperti kala remaja.

Kini Kamu Paham, Kalau Hubungan yang Baik Bukan yang Tanpa Pertengkaran

Jadi dua sejoli yang selalu akur, bertaburan kata romantis, hingga hal-hal manis lain yang akan menghiasi cerita. Pernah jadi mimpi yang diharapkan untuk selalu ada dalam hubungan cinta. Bayangan yang selalu ada di kepala, bagaimana kita dan si dia selalu tertawa tanpa adanya masalah.

Padahal pada kenyataannya, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebab hubungan yang baik, tentu juga butuh perdebatan. Kamu pasti tak suka, jika lelakimu selalu mengiyakan kata-katamu seolah tak punya pendapatnya sendiri, dan begitupun sebaliknya.

Pertengkaran dan perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, hal ini justru jadi tanda bahwa ada komunikasi yang berjalan antara kita berdua.

Tadinya Putus Cinta Selalu Buat Kecewa, Tapi Sekarang Kamu Sadar Ada Pelajaran dari Sana

Berbalik sebentar ke sikap kita dalam menghadapi putus cinta saat masih di bangku SMA. Menangis semalaman, mengutuki keadaan, atau membencinya dan menganggapnya musuh yang pantas dilenyapkan. Menariknya, kedewasaan turut serta membawa perubahan dalam diri kita dalam hal memahami masalah.

Tak lagi memandang patah hati jadi sebuah pilu yang patut ditangisi, kini kita sadar ada banyak pelajar yang bisa diambil dari setiap asmara, meski kadang berakhir dengan luka.

Dulu Kamu Meyakini Adanya Cinta Sejatinya, Kini Kamu Mengerti Rasa yang Abadi Harus Diciptakan Sendiri

Hidup kita bukanlah cerita romansa yang ada di film-film romantis milik Disney. Ini adalah kehidupan nyata yang butuh upaya. Yap, selain restu dari pemilik hidup, kita perlu berusahauntuk saling membahagiakan jika memang ingin cinta ini jadi sesuatu yang layak disebut keabadiaan.

Butuh mengerti dan dimengerti, mendengar dan didengar, memahami dan dipahami, hingga hal lain yang memang bisa membantu kita mempertahankan hubungan hingga menua bersama.

Kita mungkin pernah bermimpi tentang segala hal indah yang sekiranya terjadi atas hubungan, tapi kini kita sadar bahwa ada banyak hal yang berubah seiring usia yang terus berjalan. Dan ini adalah sesuatu yang wajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top