Tips

Lelah Sekali Berulang Kali Dibohongi, Ini Caranya Agar Tak Ditipu Lagi

berbohong

Kenapa kita sulit sekali mendeteksi kebohongan? Itu terjadi karena kita sudah terlalu terbiasa untuk berbohong dan dibohongi. Sebuah studi di toronto Canada menemukan bahwa 90 persen anak, sudah belajar berbohong semenjak usia 4 tahun.

Kemudian studi lain menyebutkan 60 persen orang dewasa minimal melakukan satu kebohongan setelah 10 menit melakukan pembicaraan. Sementara sisanya alias 40 persen, berbohong sedikitnya 10 kali dalam satu minggu.

Kebohongannya mungkin bukan sesuatu yang serius. Misalnya ditanya kabar, kita menjawab baik padahal tidak. Atau memuji penampilan seseorang ketika diminta pendapat padahal kita tidak menyukainya.

Coba bayangkan sejak usia 4 tahun kita sudah berbohong dan tentunya sudah dibohongi. Sekurangnya seminggu sekali kita berbohong dan dibohongi. Nah, karena sudah terlatih sejak kecil kita jadi tidak peka terhadap kebohongan. Secara tak sadar kita jadi permisif dengan perilaku bohong.

Permasalahannya, bisa jadi kita dihadapkan pada bentuk kebohongan yang membahayakan diri kita. Mulai dari dibohongi pasangan, rekan bisnis, dan lainnya dengan bentuk bohong yang melukai hati bahkan mencederai sebuah hubungan. Sayangnya, kita sering tak bisa merasakan kebohongan itu sesegera mungkin.

Untuk itu, kita perlu menajamkan lagi intuisi terhadap kebohongan. Supaya kita bisa membuat diri kita yang terbiasa tadi untuk lebih awas. Coba perhatikan, hal-hal ini!

Kok Tiba-Tiba Suaramu Jadi Lebih Tinggi?

Seseorang punya pola intonasi suara yang tetap. Coba perhatikan dimana tinggi rendah lawan bicara kita. Buat garis imajinasi kewajaran. Kemudian, perhatikan ketika mereka mulai bercerita. Jika pada satu titik, suaranya tiba-tiba menjadi tinggi atau justru menjadi rendah tanpa ada faktor luar yang mempengaruhi (marah, sedih atau sebagainya), itu sebuah tanda untuk kita waspada. Bisa jadi saat itu dia sedang berbohong

Kenapa Bicaramu Jadi Lebih Cepat Dari Biasanya?

Sama dengan intonasi, kecepatan bicara seseorang juga sudah ada standarnya masing-masing. Amati dan buat rata-rata jumlah kata yang biasa digunakan lawan bicara kita dalam satu menit. Pancing mereka untuk bicara hal-hal yang sudah kita ketahui. Misalnya, fakta diri seperti usia, informasi berita terbaru, dll.

Ketika kita sudah dapat standarnya, perhatikan ketika mereka membicarakan hal lain. Jika jumlah kata yang digunakan lebih sedikit atau lebih banyak, ini tanda bahwa mereka sedang berbohong. Mudahnya, orang yang berbohong cenderung bicara lebih cepat atau justru lebih lambat dibanding ketika sedang jujur.

Garuk-garuk hidung terus? Hidungmu gatal?

hidung gatal bohong

Penelitian menemukan bahwa sensor otak akan menerima informasi bahwa hidung terasa sedikit gatal atau ada yang mengganggu di hidung jika kita sedang berbohong. Sewaktu Bill Clinton ditanya disidang dan berbohong tentang selingkuhnya dengan Monica Lewensky, disebut bahwa Presidan Amerika Serikat itu menyentuh hidungnya sebanyak 88 kali! Jadi perhatikan apakah lawan bicara kita menyentuh hidungnya berulang-ulang ketika sedang menceritakan sesuatu.

Apa iya orang yang berbohong itu tidak bisa melihat mata lawan bicaranya?

Ini kesalahan yang sering diungkapkan tentang kebohongan. Banyak orang percaya bahwa ketika berbohong, orang tidak akan berani menatap lawan bicaranya. Hal ini salah besar! Karena justru orang yang berbohong akan cenderung menatap lawan bicaranya.

Semua itu dilakukan karena secara tak sadar orang yang sedang berbohong itu ingin mengetahui apakah kebohongannya berhasil atau tidak. Normalnya orang akan menatap lawan bicaranya 50 persen dari lama total kalimat yang dikeluarkannya. Jika ia memandang lebih dari 70 persen selama pembicaraan, kita harus hati-hati karena sepertinya ia sedang berbohong.

Kenapa melirik ke kiri terus?

Orang yang sedang berbohong akan cenderung melirik ke arah kiri. Jika ia sedang berbohong yang berkaitan dengan visual, misalnya “aku lihat, aku tidak melihat, sejauh yang aku tahu, tadi aku pergi ke..” maka ia akan melihat ke kiri atas. Sementara jika kebohongannya berkaitan dengan perkataan, “Aku gak bilang begitu, maksud aku bilang begitu…” maka ia akan melihat ke kiri secara mendatar.

mata berbohong

Jadi kamu jatuh cinta dengannya? Ya nggak sih!

Orang yang berbohong sering kali menggunakan kata-kata yang kontradiksi alias saling berlawanan dalam satu kalimat utuh. Kerena itu berhati-hatilah dengan kalimat “iya bukan begitu juga” atau “ya nggak sih” dan sejenisnya. Dalam kalimat panjang hal ini juga bisa terjadi.

Misalnya ada perbicangan seperti ini:

“Menurutmu si Anita cantik gak?”

“Banyak yang bilang dia cantik sih, tapi menurutku biasa saja”

Atau situasi lain misalnya:

“Bagaimana menurutmu dengan strategi marketing kita yang baru?”

“Dalam situasi normal bisa jadi itu gak berhasil, tapi dengan tim yang kita punya saya yakin bisa!”

Cerita Yang Dipanjang-panjangkan cenderung banyak bohongnya

Mereka yang berbohong cenderung lebih banyak menambahkan detail dan bumbu-bumbu cerita. Hal ini dilakukan secara tak sadar untuk menutupi kebohongan yang dilakukan.

Misalnya, kita ambil contoh sebuah situasi seseorang baru pulang dari kantor dan menemui istrinya:

“Halo sayang!” ucap si pria ketika baru pulang

“Hei, tumben baru pulang, macet ya?” tanya pasangannya

“Iya, wow jalanan tadi luar biasa macet. Di tol ada truk yang terbalik. Truk yang panjang itu loh, yang 18 roda kamu tahu khan? Dia melintang di tengah jalan, dan sepertinya sedang membawa container berisi buah-buahan. Banyak pisang, rambutan yang tumpah di jalanan. Mobil-mobil jadi tidak lewat. Kamu sendiri tahu tol dalam kota di jam pulang kantor begini, biasanya bisa 10-20 mobil tiap setengah menit. Kejadianlah panjang macetnya. Dan polisi baru tiba satu jam kemudian, itu pun menggunakan motor. Motor biasa, bukan motor gede…dst”

Detail yang keterlaluan seperti ini biasanya dikeluarkan jika seseorang sedang berbohong.

Oh begitu, coba kamu ceritakan terbalik?

Ini salah satu trick untuk mengetahui seseorang berbohong atau tidak. Seorang pembohong akan mempersiapkan ceritanya secara tak sadar di kepalanya. Semua detail sudah diperhitungkan. Masalahnya ketika kita berbohong, otak kita hanya melatih memanggil memori secara berurutan dari depan ke belakang.

Hal ini tidak bisa dilakukan sebaliknya. Kebohongan tidak bisa dilakukan secara terbalik. Biasanya ceritanya tidak akan selancar ketika bercerita dari depan ke belakang. Dan terutama jadi akan banyak detail cerita yang tidak konsisten.

Misalnya dicerita yang tadi, setelah selesai diceritakan, kita bisa bertanya secara mundur

“Tadi motor polisnya bukan yang besar jadi ya? Motor apa tadi?”

Kemudian disusul

“Iya tadi di tol jadi berapa mobil tiap setengah menitnya?”

“Kenapa mobilnya tidak bisa lewat?”

“Truknya bawa pisang, rambutan sama duku ya?”

Perhatikan bagaimana kita menambahkan detail buah duku. Jika lawan bicara mengiyakan dan tak mengkoreksi bisa dipastikan ia berbohong karena ia melewatkan detail tidak adanya duku yang jatuh dari truk itu.

Jadi lain kali, jangan mau dibohongi ya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Ternyata, Perempuan Gemuk Lebih Mampu Membuat Laki-laki Bahagia

Bertubuh kurus kadang kala jadi acuan untuk menjadi cantik yang dipercaya sebagian besar perempuan. Padahal, tolok ukur kecantikan tak selalu dari besar atau tidaknya tubuhmu. Nah, jika kau rasa usaha untuk menjadi kurus yang selama ini kamu lakukan sering gagal, tak perlu bersedih hati.

Karena ternyata menurut sebuah studi baru oleh departemen psikologi di Universitas Namibia (UNAM), lelaki yang menikah dengan (atau dalam hubungan dengan) perempuan bertubuh gempal sepuluh kali lebih bahagia daripada mereka yang menjalin hubungan dengan perempuan bertubuh kurus. Surat kabar Argentina, Nuevo Diario yang pertama kali melaporkan temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Dr Filemón Alvarado dan Dr Edgardo Morales di departemen psikologi UNAM ini.

Fakta lainnya, menurut penelitian, laki-laki lebih banyak tersenyum ketika mereka bersama pasangan dengan tubuh melekuk atau berisi, para laki-laki tersebut juga lebih mudah dalam menyelesaikan masalah. Mengapa? Menurut Alvarado dan Morales, yang melakukan penelitian ini, Indeks Massa Tubuh yang lebih tinggi memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan lelaki.

Jadi meski tubuhmu tetap terlihat gemuk walau sudah melakukan olahraga dan diet ketat, jangan bersedih lagi ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengelus Kucing Ternyata Bisa Membuatmu Bahagia Hingga Awet Muda

Ada banyak sekali cara untuk bisa bahagia dan lepas dari beban kehidupan. Dan memiliki binatangan peliharaan adalah salah satu hal yang banyak dilakukan oleh orang. Entah itu annjing atau kucing, sebagian besar orang menilai bermain dan berinteraksi dengan binatang tersebut memberikan kesanagan yang tak biasa. 

Dan hal ini diamini pula oleh sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLOS One, yang mengatakan bahwa mengelus atau membelai kucing (dan anjing) mampu menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada seseorang. 

Tak berhenti disitu saja, penelitian yang dilakukan di Australia juga menemukan bahwa pemilik kucing memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dibanding mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan. Dimana tingkat stres seseorang yang memelihara kucing lebih rendah.

Hal ini disimpulkan dari kuisioner yang dijawab oleh para partisipan, dimana mereka yang memiliki hewan peliharaan merasa hidupnya lebih bahagia, lebih percaya diri, jarang merasa gelisah, serta punya kualitas tidur yang lebih baik dan lebih baik dalam menghadapi masalah hidup sehari-hari.

Menariknya lagi, memelihara hewan tak hanya memberi manfaat baik untuk orang-orang dewasa yang terbiasa menghadapi masalah, anak-anak yang memiliki peliharaan kucing juga mendapat manfaat yang besar. Pada survei berbeda yang dilakukan pada lebih dari 2.200 anak-anak usia 11-15 tahun, mereka yang memiliki peliharaan punya kualitas hidup lebih baik, lebih bahagia dan bisa belajar bertanggung jawab.

Dan semakin dekat ikatan anak dengan hewan peliharaan, semakin baik kesehatan emosional anak tersebut. Misalnya anak lebih energik di sekolah, tidak merasa kesepian dan menikmati waktunya sehari-hari meski sedang sendirian.

Tapi nih, selain memiliki Kucing peliharaan, ternyata mengelus dan membelai bulunya pun bisa membuatmu bahagia. Hal ini ditemukan oleh peneliti lain yang mencoba melihat perbedaan kehidupan dan tingkat kebahagiaan serta harapan hidup pemilik peliharaan dengan mereka yang tak punya hewan peliharaan.

Ternyata, kegiatan kecil mengelus bulu hewan yang lembut memberikan sensasi menenangkan yang mampu memicu produksi hormon endorfin sehingga bisa melepaskan stres dari tubuh dan menjadikan tubuh lebih sehat dan awet muda.

Interaksi yang dibangun antara manusia dan hewan dalam hal ini bukan sekedar antar majikan dan hewan peliharaan namun lebih seperti keluarga dengan adanya kasih sayang yang besar. Itulah mengapa mengelus kucing bisa membuatmu bahagia dan awet muda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Benarkah Kelelahan Bisa Menyebabkan Kematian?

Sebenarnya kelelahan yang menyebabkan kematian bukan sebuah fenomena yang tidak umum. Sebab situasi atau kejadian semacam ini jadi sesuatu yang masih jarang terjadi, meski ada kemungkinan terjadi. Pada sebuah kasus di Jepang, meninggal dunia karena kelelahan disebut Karoshi.

Karoshi adalah istilah dari bahasa Jepang yang berarti fenomena kematian akibat kelelahan bekerja. Kata ini berasal dari kata “karo” yang berarti kerja paksa dan “shi” yang berarti kematian. Nah, dilansir dari BBC, pada tahun 2015 lalu, angka kematian karena lelah bekerja di Jepang meningkat cukup tinggi hingga 2.310 jiwa.

Lalu Bagaimana Kelelahan Bisa Menyebabkan Kematian?

Walau terdengar tak mungkin, tapi terlalu memorsir tenaga untuk terus bekerja tanpa kenal lelah jadi hal buruk yang bisa menghilangkan nyawa. Karena terlalu lama dapat meningkatkan level stres yang sangat tinggi. Apalagi jika sebelumnya kita juga belum sempat memiliki waktu istirahat yang cukup.

Saat stres, jantung akan bekerja lebih keras dari biasanya. Dikutip dari laman time.com, dr. Alan Yeung, direktur medis di Stanford Cardiovascular Health, mengatakan bahwa seseorang yang memiliki tingkat stres tinggi akan mengalami peningkatan irama jantung dan tekanan darah. Kedua kondisi itulah yang kemudian akan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung dan gagal jantung, terutama pada mereka yang telah memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya.

Sebenarnya, hubungan antara jam kerja yang panjang dan penyakit jantung sendiri belum bisa dijelaskan secara gamblang. Namun, para peneliti menyimpulkan bahwa hormon kortisol dan epinephrine yang dilepaskan saat stres, turut menyumbang masalah jantung pada mereka yang bekerja lembur.

Daripada Itu, Ada Beberapa Resiko Penyakit yang Timbul Menjadi Pemicu Kematian Akibat Kelelahan

Masih dikutip dari laman yang sama, sebenarnya, kelelahan hingga menyebabkan kematian bisa saja terjadi. Menurut dr. Yeung, kematian akibat gagal jantung yang disebabkan oleh stres sangat mungkin terjadi, tetapi kasusnya cukup jarang.

Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa kelelahan tidak secara langsung menyebabkan kematian akibat penyakit jantung. Namun, kondisi stres berkepanjangan dan iskemia-lah yang menyebabkan risiko kematian akibat penyakit jantung meningkat.

Tak hanya berhenti disitu saja, para pakar kesehatan lain juga menyebut inveksi virus dan dehidrasi juga bisa menyerang kita jika mengalami kelelahan dan tidak kunjung beristirahat hingga akhirnya menyebabkan kematian.

Maka Sesibuk Apapun Kamu, Jangan Pernah untuk Abai pada Kondisi Tubuh dan Kesehatanmu

Dengan berbagai macam alasan, kadang kalau kita memang abai pada kesehatan. Terlalu sibuk bekerja, hingga lupa makan siang. Pulang larut malam jam tidurmu kian berkurang. Tubuh pun menjadi lemas, kekurangan nutrisi yang harusnya disalurkan ke seluruh tubuh. Belum mendapat istirahat yang cukup, biasanya kita harus tetap bekerja hingga akhirnya lelah dan melemahkan tubuh kita.

Maka, sesibuk apapun dan sepadat apapun kegiatan dan pekerjaan pastikan tubuh tetap mendapatkan nutrisi dan asupan makanan yang cukup. Tapi bukan hanya asal makan, kita juga harus menjaga pola tidur, jangan tidur terlalu larut dan selalu sempatkan diri untuk berolahraga. Jangan sampai karena kesibukan, kamu lupa menjaga kesehatan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top