Tips

Berjualan Di Instagram Bukan Cuma Spam Hashtag! Ini cara yang benar!

Jualan di Instagram

Instagram memang kerap disebut sebagai sosial media berikutnya yang akan booming. Apalagi di akhir 2014 lalu, sosial media yang kini dimiliki oleh facebook ini mengklaim sudah mengantongi 300 juta pengguna. Jauh di atas twitter yang kala itu baru menyentuh angka 284 juta.

Meski angka ini kemudian menjadi kontroversi dan direvisi, namun naik daunnya instagram memang tak bisa dianggap remeh. Konsentrasinya yang terletak pada gambar dianggap sebagai daya tarik bagi penggunanya untuk mengeskpresikan diri paling total dibanding sosial media lain.

Kendati fungsinya sebagai media ekspresi namun toh instagram mulai dilirik pengusaha online untuk memasarkan produknya. Apalagi instagram punya pola yang berbeda dalam menerapkan (#)hashtag. Karena ketika diklik, tagar dalam aplikasi ini tidak hanya menampilkan hasil sesuai dengan yang dituliskan, tetapi juga tagar yang berkaitan.

Tak heran jika kemudian, mereka yang berjualan online mulai menggunakan beragam tagar setiap akan memasang foto barang dagangannya. Tujuannya apalagi kalau bukan ikut “nebeng” hashtag-hashtag yang sedang populer.

Sayangnya cara ini sangatlah tidak elok. Sering-seringlah membanjiri follower anda dengan hashtag, niscaya bukannya membeli mereka malah akan kabur. Lantas bagaimana baiknya ketika kita ingin berjualan di Instagram?

1. Letakan Link Di Profile

Langkah utama jika ingin berjualan di instagram adalah dengan memanfaatkan halaman profile. Dalam instagram, halaman inilah satu-satunya tempat yang memperbolehkan link hidup untuk diletakan.

Namun jangan cuma meletakan alamat situs kita begitu saja. Sertakan deskripsi singkat yang menarik terlebih dahulu. Kalimat yang disertakan tersebut harus bisa menggambarkan bisnis kita secara keseluruhan dan terutama menarik orang untuk mengklik link yang tertera.

Tidak punya website? Tidak masalah! Gunakan halaman facebook, thread kaskus, ecommerce atau media lainnya yang bisa memuat keterangan lebih banyak soal jual beli. Biarkan pengunjung paham bahwa Instagram anda buka pusat berjualan.

2. Cari Follower lewat Following

Kecuali brand atau perusahaan anda sudah terkenal, hal ini perlu dilakukan. Seperti halnya di twitter, lazimnya kita akan follow back alias folbek mereka yang mengikuti kita, demikian juga sebaliknya.

Dengan menambah jumlah following juga memperlihatkan bahwa akun kita tersebut juga bersifat sosial dan tak melulu satu arah. Ketika seseorang mengunjungi akun instagram orang lain, kecil kemungkinan mereka akan mem-follow jika profile orang yang ditemuinya hanya sedikit sekali melakukan following.

3. Perhatikan Kualitas Foto

Instagram adalah soal foto. Jadi jangan sekali-sekali mengunggah foto dengan kualitas yang buram, gelap, atau sejenisnya. Orang ingin menikmati keindahan gambar. Karenanya berikan hal tersebut. Bahkan jika memang memutuskan serius berjualan online menyewa fotografer profesional untuk mengambil gambar produk kita, juga tidak masalah.

4. Unggah Teks Dalam Gambar

Instagram memang sosial media berbasis foto, namun bukan berarti tak bisa dieksploitasi lewat teks. Pengguna suka dengan gambar yang berisi teks bermakna. Bisa hanya berupa teks saja atau teks yang dikombinasikan dengan foto.

Teks tentang apa? Paling umum adalah berupa quote alias kutipan yang menarik. Cara lainnya adalah dengan memberikan tips atau trick yang berkaitan dengan produk yang hendak dijual. Metode soft selling seperti ini jauh lebih efektif jika diterapkan di instagram.

5. Unggah Foto Yang Mengundang Diskusi

Ketika sudah memiliki cukup follower, posting lah foto yang bisa mengajak orang berdiskusi. Tidak masalah untuk menggunakan kalimat tanya atau meminta feedback dari keterangan foto. Dengan menambahkan kalimat, “bagaimana pendapatmu?” atau “pernah punya pengalaman yang sama?”

Bahkan sesekali (ingat sesekali), boleh juga meminta follower untuk mengunjungi halaman profile kita, kemudian meminta mereka mengunjungi tautan yang ada dihalaman tersebut. Lebih berani? Satu dua kali lakukan aksi berjualan langsung di instagram.

6. Posting 2 kali sehari

Tidak ada rumusan pasti soal berapa kali jumlah yang pas untuk mengunggah foto di instagram. Namun minimal lakukanlah dua kali sehari. Hal ini cukup untuk memberi pesan kepada follower atau calon follower bahwa akun yang anda jalankan memang aktif.

Di sisi lain, jangan sampai menaikan foto secara berlebihan. Banyak orang yang tidak suka jika lini masanya hanya dipenuhi oleh foto yang berasal dari satu akun saja. Bisa-bisa malah jumlah follower akan berkurang jika kita terlalu sering mengupdate foto.

7. Posting di hari kamis dan minggu

Pola ini memang sangat bergantung dari segmentasi follower yang dimiliki. Namun secara umum instagram, seperti juga sosial media yang lainnya punya momen emas pada setiap hari kamis. Karena itu usahakan untuk mengunggah foto yang lebih bagus pada hari tersebut.

Dan instagram juga punya keunikan dibanding sosial media lain. Aplikasi berbasis foto ini juga banyak diakses pada hari minggu. Jadi usahakan posting utama kita berada pada dua hari ini.

8. Gunakan Hashtag

Tips pertama adalah dengan menggunakan hashtag sesuai dengan even dan waktu. Misalnya, idul fitri, akhir tahun, awal tahun, natal, liburan, hari ibu, hari air dan even-even sejenis. Gunakan hashtag-hashtag ini jika berkaitan dengan produk yang hendak kita jual.

Tips kedua adalah dengan membuat hashtag untuk brand. Perlu diingat jika membuat hashtag untuk memperkuat brand, haruslah yang unik. Jangan membuat hashtag yang terlalu umum. Misalnya jika produknya berupa susu, jangan membuat hashtag sekedar #susu, namun pikirkan kata unik lain untuk melengkapi hashtag tersebut.

Tips ketiga adalah dengan menggunakan hashtag populer. Gunakan hashtag populer seperti #nofilter #sunset dan sejenisnya jika memang berkaitan dengan foto yang diunggah. Secara tak langsung bisa membawa follower baru tanpa disengaja.

Tips keempat jangan berlebihan. Gunakan hashtag secara proporsional. Jumlah hashtag yang berlebihan apalagi tak berkaitan dengan isi foto sering membuat orang malas untuk mengikuti akun kita dikemudian hari.

9. Follow pengguna dengan minat yang sama

Cari akun-akun yang sudah lebih dulu eksis yang punya karakteristik serupa dengan akun yang kita kelola. Follow beberapa follower mereka. Biasanya kesamaan minat akan membuat mereka lebih melirik akun yang sedang kita kelola tersebut. Ujungnya lebih mudah melakukan penjualan karena follower yang sudah lebih tertarget.

10. Berinteraksi Dengan Pengguna lain

Sekedar follow tidak akan berpengaruh apa-apa jika kita tidak berinteraksi. Berila komentar atau sekedar klik suka pada gambar mereka yang menarik. Dengan melakukan interaksi semacam ini, mereka akan lebih terbuka untuk menerima informasi baik itu informasi tentang penjualan sekalipun.

PS: Instagram adalah platform sosial media yang sangat powerfull untuk dipakai membangun brand image dan berjualan. Namun ingatlah selalu untuk melakukan penjualan secara soft selling. Lakukan pendekatan secara interaksi dan penjualan akan terbangun sedikit demi sedikit.

1 Comment

1 Comment

  1. nunik utami

    April 28, 2015 at 11:22 pm

    Wah, info berharga banget, nih. Makasih, ya. Sekalian mau izin share.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Ternyata Ini 5 Hal yang Paling Dibenci Perempuan Hebat

Di era milenial ini, perempuan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri. Iya, keberadaannya memang disetarakan dengan posisi laki-laki. Banyak perempuan yang dituntut untuk menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Nah, inilah 5 hal yang ternyata menjadi hal paling dibenci oleh para perempuan hebat.

1. Tidak Dihargai

Perempuan juga tak suka saat dirinya tidak dihargai dengan baik. Jika ada orang yang mengkritik atau memberi saran terhadap ide yang dimilikinya mungkin mereka akan berusaha menerimanya sebagai perbaikan diri. Namun jangan salah, jika ada yang menganggapnya remeh, mereka tak akan tinggal diam.

2. Tidak Diberi Ruang Bebas

Tentu saja semua perempuan butuh yang namanya ruang bebas untuk bisa mengekspresikan diri mereka. Mereka pun punya keinginan untuk berkembang dan tumbuh menjadi apa yang mereka cita-citakan. Mereka tak suka jika diri mereka dibatasi dengan alasan title “perempuan” yang melekat pada dirinya.

3. Membohongi Diri Sendiri

Perempuan hebat paham tentang apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Mereka tahu caranya mengontrol diri sendiri tapi tetap menjadi dirinya. Mereka bukan orang yang suka menipu dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekelilingnya.

4. Mengeluh

Selanjutnya, perempuan hebat tidak suka mengeluh. Mereka punya jiwa yang kuat untuk menghadapi masalah sebesar apapun. Pantang untuknya mengeluh pada hal yang bisa dicari solusinya.

5. Dihantui Kegagalan

Perempuan hebat tak suka hidup dengan bayang-bayang kegagalan. Mereka mengerti bahwa gagal adalah suatu hal yang lumrah. Dari kegagalan pulalah mereka bisa belajar menjadi seorang yang lebih baik.

1 Comment

1 Comment

  1. nunik utami

    April 28, 2015 at 11:22 pm

    Wah, info berharga banget, nih. Makasih, ya. Sekalian mau izin share.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Bukan Tidak Betah, 7 Tanda Ini Menunjukan Kamu Sedang Bekerja Di Tempat Yang Salah.

Bekerja memang tidak selalu harus sesuai dengan passionmu, yang terpenting adalah kamu merasa nyaman dengan pekerjaanmu itu. Namun, jika kamu sudah merasa berusaha sebaik mungkin tapi tetap saja hasilnya tidak memuaskan hatimu, bisa jadi kamu berada di lingkungan tempat kerja yang salah.

Saat loyalitas dan komitmen sudah kamu berikan sepenuhnya, namun yang kamu terima tidak sesuai dengan perjuangannya. Nah, ada 7 tanda yang menandakan bahwa kamu sedang berada di tempat kerja yang salah. Jika kamu merasakan semuanya maka bersiaplah untuk pindah, ini untuk kebaikanmu juga ya.

1. Kamu Tidak Menyukai Hari Senin

Hari sabtu dan minggu adalah surga untukmu. Namun, ketika hari senin tiba semangatmu menurun seketika. Seperti kamu tidak merasa nyaman dengan pekerjaanmu dan merasa tersiksa harus melanjutkannya. Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang bisa membuatmu semangat, bukan malah membuatmu stres. Jika di hari pertama dalam seminggu saja kamu sudah tidak bersemangat, bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?

2. Kamu Merasa Bekerja Karena Terpaksa

Selain tidak bersemangat, kamu juga merasa apapun yang kamu kerjakan adalah karena keterpaksaan. Semuanya kamu lakukan karena tidak ada lagi pilihan. Jika hal ini sudah kamu rasakan maka jangan dilanjutkan, itu tandanya kamu harus segera berhenti dari kantormu atau kamu akan menyesal sudah membuang banyak waktumu di sana.

3. Kamu Tidak Tahu Jelas Peranmu Di Tempat Kerja

Selama ini kamu bekerja hanya karena perintah atasan saja. Kamu tidak pernah tahu jelas apa fungsimu disana. Padahal pekerjaan yang baik adalah yang memposisikan kita sebagai seseorang yang sangat di butuhkan, bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Kamu harus segera mencari kantor yang lebih cocok untukmu.

4. Seringkali Kamu Merasa Tidak Dihargai

Seringkali usahamu tidak mendapat apresiasi, dan saat itulah kamu merasa tidak dihargai. Meskipun kamu sudah berprestasi, datang paling pagi dan pulang paling akhir, namun tetap saja usahamu terlihat sia-sia. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa kamu pertahankan. Jangan bertahan dengan tempat yang tidak menghargaimu.

5. Kamu Masih Memimpikan Perusahaan Lain

Jika kamu masih menginginkan bekerja di tempat lain, itu artinya kamu tidak nyaman dengan tempat kerjamu sekarang. Cobalah untuk bekerja di tempat yang kamu impikan, agar kamu bisa merasa nyaman dan tidak mempunyai beban.

6. Kamu Merasa Asing Di Kantormu Sendiri

Kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah, harusnya kamu bisa menjadi diri sendiri saat bekerja, namun yang terjadi malah sebaliknya. Itu tandanya kamu mulai menyadari bahwa kantormu memiliki lingkungan yang tidak sehat sehingga kamu enggan berbaur. Mungkin kamu memang tidak cocok berada disana.

7. Tempat Kerjamu Menghentikan Potensimu

Setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik, termasuk kamu. Jika di tempat kerjamu kamu berhenti belajar, maka itu sama saja dengan mematikan potensi yang ada dalam dirimu. Kita bekerja untuk berkembang, bukan hanya stuck di satu bidang. Segeralah pindah dan cari tempat kerja yang lebih memberimu ruang untuk berkembang.

Jika salah satu atau bahkan semua hal di atas kamu rasakan, maka segeralah untuk pindah. Bekerja untuk jangka panjang, maka kenyamanan harus kamu dapatkan.

1 Comment

1 Comment

  1. nunik utami

    April 28, 2015 at 11:22 pm

    Wah, info berharga banget, nih. Makasih, ya. Sekalian mau izin share.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Fresh Graduate UI Tolak Gaji Rp 8 Juta Sah-sah Saja, Asal…

Sebuah postingan dalam fitur instastories dari seseorang yang mengaku lulusan baru dari Universitas Indonesia sedang jadi bahan perbincangan. Stories instagram tersebut awalnya dicapture oleh salah seorang temanya, lalu dibagikan di sebuah akun base pada platform twtitter yang sampai sekarang masih menjadi trending topik. 

Sumber : Twitter

“Jadi tadi gue diundang interview kerja perusahaan lokal dan nawarin gaji kisaran 8 juta doang. Hello meskipun gue fresh graduate gue lulusan UI, Pak. Universitas Indonesia. Jangan disamain sama fresh graduate dengan kampus lain dong ah. Level UI mah udah perusahan luar negeri. Kalau lokal mah oke aja, asal harga cocok,” begitu ia menumpahkan kekesalan pada postingan instastory  yang viral itu.

Melihat itu, sebagian besar netizen di twitter menilai postingan itu bernada angkuh dan tak mencerminkan attitude yang baik. Membawa nama besar kampus untuk menyombongkan diri, begitu kira-kira netizen beropini. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, memangnya kenapa kalau Fresh Graduate UI tolak gaji 8 juta? Bukankah itu adalah hak pribadinya, sebagaimana perusahaan juga berhak mencari karyawan yang mau digaji sesuai angka yang ditawarkan. 

Begini, rasanya tak ada takaran yang bisa dijadikan acuan gaji dalam bekerja, untuk kita-kita yang baru saja mendapat gelar sarjana. Bahkan meski sama-sama lulus dari universitas yang sama, punya gelar serupa dan bekerja di perusahaan yang sama. Tetap ada kemungkinan jika gaji yang diterima oleh masing-masing orang berbeda. 

Di lain sisi, ini memang jadi dilema, menyebutkan angka diatas yang ditawarkan perusahaan disangkanya sok kepinteran, tapi menerima gaji yang disebutkan kadang kita juga enggan. Membuat tolok ukur standar gaji dari seorang lulusan baru yang tak punya pengalaman apa-apa memang agak abu-abu, tapi kita tak pernah tahu kan apa alasan si alumni UI tersebut membuat standar gaji yang ingin diterimanya.

Bisa jadi ia sudah tahu kapasitasnya, makanya ia berani menolak angka 8 Juta. Meski di luar sana, ada banyak orang dengan strata pendidikan serupa tetap bahagia menjalani pekerjaannya meski upah yang diterima masih sedikit diatas UMR kota. 

Di sisi lain, daripada ikut-ikutan nyinyir untuk mencemooh dirinya, ada baiknya kita belajar bagaimana cara ia membuat standar atas diri. Sebab pada kenyataannya, tak semua kita bisa percaya diri untuk menghargai diri seperti ia. Dan tak menutup kemungkinan pula, jika angka 8 juta baginya tak ada apa-apanya. Jadi wajar jika ia mau lebih.

Belum lagi gaya hidup yang ia miliki, terbiasa dengan segala sesuatu yang terpenuhi. Bisa jadi angka 8 juta hanya untuk jajan dua minggu saja. Maka dengan menghitung semua pengeluaran bulanan yang nantinya ia butuhkan, angka yang ditawarkanperusahaan tersebut bisa jadi masih jauh dari jumlah pengeluaran yang ia perlukan. Kalau ternyata faktanya begini, ya wajar sih ia menolak. 

Dia juga butuh menyisihkan untuk dana darurat, tabungan untuk kelak menikah, membeli rumah, mobil, dana pensiun, sampai ke biaya beli makan binatang peliraan. Padahal 8 juta yang ditawarkan perusahaan, hanya mampu menutupi kebutuhan dan gaya hidupnnya selama sebulan. Meski harus diakui pula, sebesar apapun gaji yang kita terima akan selalu terasa kurang jika harus mengikuti gaya hidup yang kita inginkan. Tapi anehnya, sekecil apapun gaji yang kita terima selalu terasa cukup, jika dipakai untuk hal-hal yang memang dibutuhkan.

Hal lain yang harus kita pahami sebagai orang yang ‘ngakunya’ berpendidikan, sebelum mematok harga atau angka untuk gaji yang diinginkan, ada baiknya kita berkaca terlebih dahulu. Ketahui sampai mana kemampuan dan keahlian, barulah bernegosiasi perihal gaji. Kalau memang kita merasa layak menerima angka yang kita inginkan, tak ada salahnya untuk disampaikan. Dengan catatan, jika ternyata perusahaan menolak dan tak menerima angka yang kita sebutkan. Tak perlulah mencak-mencak di instagram, apalagi sampai membawa-bawa nama kampus lain dengan nada yang ‘meremehkan’.

Dan sekedar informasi, mengutip dari hasil penelitian tentang situasi alumni UI di dunia kerja atau Tracer Study UI periode 2017-2018. Sebagian besar fresh graduate UI bergaji berkisar antara Rp 3-6 juta, dan hanya ada sekitar 5,7% yang bergaji di atas Rp 15 juta. Dengan kata lain, nama besar kampus mungkin meloloskan kita dari satu seleksi alam, tapi keahlian, kontribusi, etika dan sopan santun adalah nilai lain yang kadang jauh lebih dibutuhkan untuk melamar pekerjaan.

Untuk menutup ini, saya akan mengutip salah satu kalimat dari Bos kami di kantor yang selalu saya ingat sejak awal masuk bekerja sampai sekarang.

“Keahlian bisa dipelajari, ilmu bisa digali. Tapi attitude sulit dibenahi”. 

1 Comment

1 Comment

  1. nunik utami

    April 28, 2015 at 11:22 pm

    Wah, info berharga banget, nih. Makasih, ya. Sekalian mau izin share.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top