Feature

Calon Suamiku, Mampukah Kamu Setia? Aku Tak Mau Kelak Anakku Jadi Korban Perceraian Seperti Diriku

Tak ada anak yang ingin pernikahan orangtuanya berakhir. Perpisahan atau pertengkaran orangtua yang tak kunjung henti adalah ketakutan tersendiri bagi setiap anak. Fenomena perceraian orangtua, sekalipun orangtuanya tetap akur dan memiliki jadwal rutin untuk ganti-gantian mengunjungi anaknya, tak mengurangi beban si anak yang akhirnya mendapat label dari masyarakat sebagai ‘korban broken home’.

Stigma negatif soal keluarga akan selalu menghantui sang anak sampai ia tumbuh dewasa. Cukup aku saja, yang membawa label tersebut. Aku tak mau hal semacam ini nantinya dialami anak-anakku. Karenanya, sebagai pasangan, maukah kamu berjanji untuk saling setia demi kebahagiaan anak-anak kita?

Sebagai Anak Broken Home, Aku Sempat Merasakan Betapa Menderitanya Hidup Dalam Ketiadaan Rasa Percaya Terhadap Lawan Jenis

Melihat konflik yang terjadi pada kedua orangtuanya, terlebih kalau konflik tersebut sepertinya sukar terselesaikan sejatinya bukanlah salah sang anak melainkan kegagalan orangtuanya. Bagaimanapun, kondisi semacam itu tentu akan membawa dampak tersendiri. Sebagai anak korban perceraian, aku sempat merasakan betapa pedihnya masa laluku. Bahkan melihat ayah dan ibuku bertengkar membuatku semakin yakin kalau pernikahan yang akhirnya bahagia sampai kakek nenek hanyalah dongeng semata.

Aku Tak Ingin Naif, Tapi Kurasa Aku Pernah Merasa Begitu Tak Layak untuk Mendapatkan Cinta

Perceraian orangtua yang kualami saat aku masih kanak-kanak membuat aku merasa tak semangat saat menyadari diriku sudah berada di fase dewasa. Padahal, di fase ini seharusnya aku sudah bisa cukup matang untuk berpikir dan mengambil keputusan terutama soal jatuh hati dan menetapkan langkahku ke depannya harus bersama siapa.

Namun, melihat retaknya hubungan diantara kedua orangtuaku, kemudian membuatku berpikir kalau aku lebih baik tak ada. Yup, aku sempat berpikir demikian. Kalau dari orangtua saja aku merasa tak mendapatkan cinta, bagaimana aku bisa mendapatkan cinta dari orang lain yang sebelumnya tak pernah tahu siapa aku? Betapa hatiku patah saat itu. Sungguh, jangan sampai anakku merasakan hal yang kurasakan kala itu.

Cukup Aku Saja yang Hampir Putus Asa dan Memikirkan Kalau Menikah dan Berkomitmen dalam Suatu Hubungan Bukanlah Hal yang Aku Dambakan

Melihat kegagalan hubungan yang terjadi dari kedua orang tuaku membuatku takut akan berkomitmen dan menikah. Apalagi di saat usiaku memang sudah menginjak usia memasuki fase pernikahan, saat kecil aku dihadapkan oleh kenangan dan realita bahwa pernikahan kedua orangtuaku harus kandas. Mau dihindari seperti apa, tentu saja ada trauma tersendiri yang aku alami.

Dan akhirnya, sampai dewasa, akupun putus asa dan menurutku berkomitmen dalam sebuah hubungan bukanlah hal yang aku dambakan. Namun untung saja, traumaku pulih. Bertemu denganmu dan caramu meyakinkanku membuatku jadi sadar, kelak kita tak boleh mengulang kenangan lama yang begitu menyakitkan hati.

Perpisahan Orangtua Membuatku Meragu Soal Adanya Cinta Sejati, Jangan Sampai Anak-anakku Kelak Merasakan Hal Itu Lagi

Melihat orang tuanya yang telah membina rumah tangga puluhan tahun lamanya, mulanya aku yakin kelak aku akan seperti ayah ibuku. Semacam relationship tersendiri untukku. Tapi dengan adanya perceraian itu, jujur saja, aku sempat meragu soal adanya cinta sejati. Aku sempat tak yakin akankah ada orang yang bisa mencintai dan dicintai atau justru merasakan sakit yang sama karena sebuah kehilangan.

Perpisahan Orangtua Kehilangan Tujuan Hidup Lantaran Tak Merasa Ada yang Peduli dengan Hidupku, Sekalipun Aku Sendiri

Tentu saja semua orang ingin berkeluarga. Apalagi di usiaku yang sudah menginjak dewasa. Tapi bagi seorang broken home yang tentu saja dalam hal ini memilikin trauma, berkeluarga adalah sesuatu yang sering kali dianggap mengerikan. Kenangan- kenangan tentang kegagalan orang tua tentu terus terbayang.

Aku pernah merasa, seiring perpisahan yang dialami orangtuaku, aku jadi kehilangan tujuan hidup dan merasa tak ada yang peduli dengan nasibku. Kini kamu tau betapa aku sempat menderita karena trauma itu. Jadi, maukah kau berjanji untuk sama-sama setia dan terus jalan bersamaku seiring bertambahnya usia?

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ternyata Laki-laki Bertubuh Pendek Lebih Sering Marah Dibanding Mereka yang Tinggi

Kalau harus diperhatikan, seorang lelaki yang bertubuh pendek ternyata lebih sering marah dan mudah terbakar cemburu dibanding mereka yang lebih tinggi. Tapi ini bukan sekedar perkiraan biasa. Karena dari hasil temuan para ilmuwan yang melakukan penelitian di Centres for Disease Control di Atlanta, ternyata lelaki bertubuh pendek lebih mudah terpancing emosi.

Menariknya lagi, penelitian yang dilakukan terhadap setidaknya 600 lelaki berusia 18 sampai 50 tahun ini, juga menemukan bahwa laki-laki bertubuh pendek juga lebih mudah emosi dan melakukan kekerasan dibanding mereka yang bertubuh  tinggi.

Hasil dari penelitian tersebut berkata, bahwa mereka yang pendek menganggap dirinya kurang maskulin yang kemudian bisa memicu tingkat ketakutan dan amarah dalam diri mereka.

Sumber : The Mirror

Disamping itu, penelitian lain yang dilakukan ilmuwan di Universitas Oxford juga mengungkapkan jika alasan seseorang bertubuh pendek lebih mudah marah sebenarnya sangat sederhana. Rasa percaya diri yang kurang, ditambah anggapan masyarakat tentang orang pendek kurang menarik, menjadikan mereka lebih mudah marah hingga berpikir negatif.

Namun tak selalu buruk, karena selain hasil temuan yang tadi sudah disebutkan. Peneliti tersebut juga menemukan fakta bahwa tak semua laki-laki bertubuh pendek lebih mudah marah. Karena, penelitian lain juga menemukan bahwa beberapa laki-laki pendek bahkan memiliki kesabaran yang lebih baik. Beberapa dari mereka juga memiliki rasa percaya diri tinggi, bahagia yang natural dan kemampuan menerima diri sendiri yang lebih baik.

Sumber : YouTube

Dengan kata lain, kita pun harus tahu jika faktor fisik bukanlah satu-satunya pemicu untuk seseorang, (khususnya laki-laki) kehilangan rasa percaya dirinya. Karena biasanya, ada beberapa hal lain yang juga mempengaruhinya. Mulai dari faktor ekonomi, lingkungan, keluarga, dan pekerjaan yang dimiliki.

Karena tinggi pendeknya seseorang kadang bukanlah sebuah jaminan bahwa ia mudah marah, cemburu atau tak percaya diri. Karena semuanya itu, kembali pada masing-masing pribadi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Melanie Putria dan Angga ‘Maliq & D’Essentials’, Resmi Bercerai!

Berbeda dengan Angga yang tak tampak dalam persidangan, Melanie Putria terlihat hadir dengan didampingi oleh kuasa hukumnya, pada sidang perceraiannya, yang digelar di Pengadilan Agama Jakarta Barat, kemarin Senin (21/1).

Dan atas kesepakatan bersama, keduanya akhirnya resmi bercerai sebagaimana hasil putusan yang dibacakan oleh hakim.

“Hari ini dikarenakan bukti sudah cukup, keterangan saksi juga sudah menguatkan alhamdulillah hari ini juga sekalian putusan. Sudah resmi bercerai,” ujar Indah Dewi Yani, kuasa hukum Melanie saat ditemui di Pengadilan Agama Jakarta Barat, dikutip dari laman detik.com.

Ternyata proses perceraian keduanya sudah sejak lama dilangsungkan dan sepakat berpisah dengan baik-baik. 

Sebelumnya, keduanya menikah pada 7 Maret 2010 lalu. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Sheemar Rahman Purariredja. Jarang terlihat dalam gosip miring, keduanya tampak mesra di sosial media. Namun, mendadak harus berpisah setelah 8 tahun berumah tangga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dihargai Rp. 1.500/Kg, Petani di Banyuwangi Buang Buah Naga ke Sungai

Dinilai tak mendapat harga yang cukup mempuni, beberapa petani buah Naga di Bayuwangi terlihat membuang hasil panen ke sungai. Hanya dihargai sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram (kg). Tindakan para petani yang membuang buah naga ke sungai ini jadi salah satu bentuk protes atas merosotnya harga buah tersebut.

Dikutip dari laman Detik.com, Hari candra setyawan (29), warga Dusun Silirbaru Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi mengaku, anjloknya buah naga di Banyuwangi membuat dirinya merugi.

“Terpaksa saya buang ke sungai karena memang tidak laku. Dijual pun juga tidak nutut dengan ongkos petani,” ujarnya kepada wartawan, Senin (21/1/2019).

Dan dari foto dan video yang beredar luas di dunia maya, konon kegiatan membuang buah naga tersebut adalah kali kedua. “Ini bentuk protes kami karena buah naga dari Banyuwangi tidak laku dipasarkan. Kemarin kita buang 100 kilo. Ini lebih banyak lagi. Hampir 200 kilogram,” tambahnya.

Dianggap tak bisa mengembalikan modal, beberapa petani buah naga di wilayah sekitaran Banyuwangi, yakni di Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, akhirnya mempersilahkan masyarakat untuk memetik sendiri buah naga di kebunnya.

“Silakan kalau mau ambil sendiri di kebun. Gratis. Harga tidak nutup dengan ongkos petik,” ujar Ukri, dikutip masih dari laman yang sama.

Situasi ini sudah berjalan sekitar 2 minggu lebih, padahal menurut Ukri para petani baru bisa dikatakan mendapat untung jika harga buah naga diatas Rp. 6.500/kg.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top