Feature

Bukannya Tidak Setia, Ukuran Jari yang Kian Membesar Bisa Jadi Alasan Pria Melepas Cincin Pernikahan

Terkhusus para istri, pasti ada yang menaruh curiga jika melihat tak ada cincin kawin yang melingkar di jari manis suami mereka. Bahkan bisa saja yang muncul malah perasaan geram hanya karena sang suami tak memberi penjelasan apa-apa dan justru terlihat cuek saja. Bagi seorang wanita, melepas cincin kawin bisa memancing perkara. Pikiran negatif pun bermunculan lantaran sang suami memilih melepas cincin begitu saja. Apa lagi cincin kawin pada dasarnya dianggap sebagai simbol komitmen pernikahan.

Tapi dibalik kekhawatiran itu, sejatinya para suami punya alasan mengapa sewaktu-waktu mereka melepas cincin pernikahan. Yang paling logis, mungkin lantaran jari-jari para suami yang kian membesar (apa lagi kalau berat badan bertambah), keberadaan cincin kawin yang diameternya stagnan akan membuat jari jadi semakin tak nyaman.

Para Wanita Tak Perlu Merasa Ketakutan, Sebab Sejatinya Pria adalah Makhluk yang Tak Suka Mengekspos Hubungan Berlebihan

Bedanya wanita dan pria memang kontras. Tak seperti wanita, pria lebih suka mengungkapkan rasa cinta lewat tindakan. Mereka menganggap cincin hanya sebuah simbol, tak lebih dari itu. Konsep ‘private person’ masih melekat pada pria. Karenanya para suami cenderung menyampaikan kesetiaan lewat bahasa tubuh dibanding menunjukkannya ke setiap orang dengan memakai cincin kawin setiap saat. Bagi pria yang suka melepas cincin kawin pada hari-hari biasa, bukan karena tak peduli dengan pernikahan,Mereka hanya tak perlu mematut diri karena telah menikah. Sebab bagi pria, pernikahan itulah bukti komitmen yang sebenar-benarnya.

Bisa Juga Merasa Tak Nyaman Karena Ukuran Jari yang Semakin Berkembang

Seperti yang telah disebutkan dalam narasi, ukuran jari pria tidak akan stagnan. Mereka berpikir, daripada (cincin) sulit untuk dilepaskan, maka lebih memilih menyimpannya di tempat yang aman. Kalau wanita mungkin berpikir “Bukannya bisa menggunakan air atau sabun jika cincin susah lepas dari tangan?” Sayangnya, pria tidak berpikir demikian. Mereka akan berpikir lebih praktis sehingga menyimpan adalah pilihan yang paling tepat.

Bahkan tak sedikit pria yang menganggap cincin kawin sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Karena sewaktu-waktu bisa menyangkut di sweater, jaket, selimut, syal, atau bahan tekstil lainnya. Serat kain yang menempel di cincin juga bisa merusak pemandangan. Ini juga alasan pria memilih menyimpan cincin kawin mereka.

Menurut Pria, Cincin Hanyalah Sebatas Cincin

Pada awal pernikahan, sepasang pengantin mungkin menganggap cincin adalah segalanya. Bahkan mengagumi setiap ukiran atau lekukan pada cincin tersebut. Apa lagi kalau pada cincin itu tersemat berlian yang akan memancarkan kilau saat terkena cahaya. Pria pun akan berbunga-bunga dibuatnya. Tapi, semakin ke sini, dan semakin bertambahnya usia pernikahan, pemikiran pria akan kembali lagi logis. Mereka pun akan tersadar kalau cincin hanyalah sebatas cincin. Yang dibutuhkannya ialah istrinya, bukan cincinnya.

Atau Ada Juga Tipe Suami yang Menganggap Cincin Kawin Masih Sakral Nilainya, Jadi Lebih Baik Disimpan Berlama-lama 

Dilain sisi, masih ada suami yang menganggap sebuah cincin kawin memiliki nilai kesakralan yang tinggi. Mereka menganggap cincin tersebut sebagai saksi bisu ketika para suami mengikat janji sehidup semati dengan sang istri. Entah berapa pun nilainya ketika dibeli, mereka memilih berhati-hati menjaga benda yang satu ini. Apa lagi kalau memang cincin tersebut dibeli dengan harga yang mahal, dibanding terjadi apa-apa atau hilang sewaktu-waktu, mereka memilih menyimpan baik-baik cincin tersebut di rumah. Kalau cincin biasa, mungkin ketika hilang bisa saja dibeli lagi. Tapi kalau cincin kawin, bukankah seharusnya dijaga baik-baik?

Alasan yang Cukup Unik yaitu Ketika Suami Menganggap Model Cincin Itu Berbahaya

Seiring berkembangnya desain cincin kawin, sebagian wanita biasanya menginginkan model cincin kawin dengan detail yang rumit demi menunjukkan sebuah keistimewaan akan pernikahannya. Tapi biasanya hal semacam ini yang justru membuat pria enggan memakainya. Bahkan lebih jauh lagi, pria menganggap desain yang terlalu ‘tidak biasa’’ malah bisa melukai pasangan. Entah saat memeluk atau saat ingin menggandeng istri, bahkan bukan tak mungkin bisa saja melukai wajah sang istri ketika diusap. Itulah sebabnya sebagian pria memilih untuk menyimpan cincin kawin mereka.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Siasat Jitu Untuk Menjawab Pertanyaan ‘Nyelekit’ dari Keluarga Saat Lebaran Tiba

Setahun sekali, kita menantikan 1 Syawal untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar. Bermaaf-maafan, saling bertukar kabar, sampai bertanya seputar kesibukan yang sedang dilakukan sudah jadi bagian dari silaturahmi keluarga saat lebaran.

Tapi ada kalanya di tengah situasi yang kamu harapkan bisa berjalan kondusif, ada saja hal-hal diluar ekspetasi yang harus kamu hadapi. Misalnya, menghadapi pertanyaan ‘nyelekit’ berbau sindiran, sinisme, atau bahkan sarkasme pasti pernah kamu terima, bukan?

Begini, kuncinya yang terpenting ada pada dirimu yang menanggapi. Daripada dimasukkan ke dalam hati, cobalah untuk menanggapi omongan atau pertanyaan tersebut dengan senyuman. Ingat lho, di hari yang Fitri, sebaiknya rayakan dengan sepenuh hati.

Saatnya Kamu Memiliki Pengendalian Diri yang Baik, Kali Ini Kuminta Anggaplah Omongan yang Datang Sebagai Bentuk Perhatian…

Sebab ada banyak cara untuk mengungkapkan perhatian. Tak melulu dengan sikap yang positif dan omongan yang membangun. Sebab ada lho yang justru menunjukkannya dengan melontarkan pertanyaaan nyelekit seperti yang kamu rasakan. Angap saja begitu.

Anggaplah apa yang kamu terima sebagai bagian dari rasa perhatian mereka. Sukar memang, tapi cobalah untuk mengendalikan dirimu agar tidak terbawa perasaan atau emosi saat menghadapi omongan nyelekit dari saudara.

Memberi Senyum Adalah Hal Terbaik dan Terindah yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Membangun Komitmen untuk Saling Bermaaf-maafan

Di hari yang Fitri, kamu pasti ingin suasana kumpul keluarga terasa hangat dan membahagiakan. Langkanya intensitas bertemu dengan anggota keluarga yang lain, sebaiknya kamu manfaatkan untuk lebih sering lagi memberi senyum. Jangan hanya karena kamu menghadapi omongan atau komentar mereka yang begitu nyelekit, mood-mu jadi ikut berantakan.

Nah, untuk menghadapi situasi semacam ini, ya cukup senyum saja lalu beralih ke saudaramu yang lain. Cukupkan pembicaraan antara kamu dan dia yang melontarkan pertanyaan atau omongan tersebut, manfaatkan waktumu untuk berinteraksi dengan anggota keluarga yang lainnya juga ya.

Saat Mereka Bertanya, Sebaiknya Lontarkan Kembali Pertanyaan yang Serupa tapi dengan Nada Positif

Membangun image yang positif itu perlu. Seiring bertambahnya usiamu. Tapi tentu image yang dibangun harus dengan ketulusan hati. Seperti membuktikan kalau kamu pun sekarang sudah  bisa dewasa dalam menyikapi segala situasi yang mungkin menyulitkanmu.

Tunjukkan kalau pertanyaan atau komentar yang nyelekit tak akan mampu meruntuhkan mood baikmu dan ada baiknya kamu mengalihkan pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan kepada si penanya.

Biasanya orang akan lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya dibanding mendengarkan jawaban orang.

Kalau di Momen yang Sekarang Ini Kamu Masih Ditanya Soal Karier, Target Menikah, atau Mungkin Kapan Mau Memiliki Momongan, Hadapilah dengan Kepala Dingin dan Tetap Meminta Doa

Perihal bagaimana saudara, tante, paman, ya siapapun itu dalam lingkup keluarga besarmu yang suka bertanya soal ‘kapan’, lebih baik jawablah dengan sebijak mungkin. Tak perlu kamu emosi atau jadi malas mengobrol dengan mereka, semalas apapun itu, lawanlah egomu dan jawablah dengan tetap meminta doa. Jadi orang bijak memang sukar, tapi justru akan lebih baik untuk dirimu sendiri sekaligus belajar mengendalikan diri, bukan?

Di Hari dimana Kamu Merayakan Kemenangan, Jangan Mau Kalah dengan Situasi yang Suka Semena-mena

Coba pikirkan kembali, setelah satu bulan menahan hawa nafsu dan amarah, ini adalah momen kamu meraih kemenangan di hari Lebaran. Untuk itu, jangan mau terusik dengan omongan-omongan yang mungkin tak mengenakkan hatimu.

Fokuskan niatmu untuk menikmati kemenangan dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Toh merayakan dan menikmati kemenangan di momen Lebaran ini sepenuhnya hakmu sebagai manusia. Tak perlu lagi lah pusing-pusing mikirin mereka. Sebab belum tentu apa yang mereka ucapkan ini benar-benar dipikirkan sebelumnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengapa Laki-laki yang Sudah Melukai, Jadi Sosok yang Paling Sulit Hilang dari Hati?

Tenang, tenang ini bukan perkara belum move on atau tidak. Tapi jika saat ini, kamu sedang merasakan hal yang serupa, kamu tak sendiri.

Konon dia yang selama ini sudah berhasil melukis tawa, bisa saja jadi pihak yang melahirkan luka. Membuat kita bersedih, menangis hingga menimbulkan benci yang bisa merusak hubungan. Cinta pertama katanya akan selalu dikenang. Disisi lain, sejalan dengan itu, dia yang sulit dilupakan justru adalah sosok lelaki yang sudah melukai hatimu begitu dalam.

Berbagai upaya untuk melupakan sudah dilakukan, anehnya sosoknya justru selalu datang dalam pikiran. Lalu, apa hal yang sebenarnya menjadi penyebab dari ini semua?

Kamu Sudah Mencintai dengan Sangat Dalam, Namun Pada Waktu yang Bersamaan Ia Justru Memilih Pergi dan Melenggang

Gambarannya begini, kita mungkin sudah merasa ia adalah sosok yang akan menemani sampai akhir usia nanti. Hingga tak segan untuk percaya sepenuh hati, padahal si dia justru berbalik dan memilih untuk pindah ke lain hati.

Kecewa dan sakit hati itu wajar, karena biar bagaimana pun kita pernah saling sayang. Namun hal yang justru membuat kita sulit untuk melupakan adalah besarnya rasa sayang yang sudah kita berikan, beberapa saat sebelum ditinggalkan. Cinta boleh saja sudah dicurahkan, tapi memaksa orang lain untuk tetap tinggal jelas diluar kemampuan.

Mencoba Beralih pada Sosok yang Baru, Tapi Nyatanya Bayang-bayang Mantan Masih Seperti Hantu

Hal lain yang kita perlu ingat adalah, kisah cinta yang berakhir tak sesuai keinginan. Sudah menjadi takdir atas kehidupan. Tak bisa dicegah atau dihindari, mau tak mau memanglah harus dihadapi.

Setelah putus karena telah dilukai, beberapa orang memilih untuk buru-buru mencari mengganti. Seolah ingin membuktikan bahwa diri ini juga bisa hidup tanpa tanpanya. Tak apa memang, jika kita sudah menemukan orang yang tepat. Tapi biasanya, hal ini diputuskan hanya untuk sebuah pelarian.

Hasilnya? Bukannya membantu proses melupakan lebih cepat, menerima orang baru dengan buru-buru justru membuat kita merasa bersalah. Karena meski sudah bersamanya, sosok yang dibayangkan masih saja dia yang telah jadi cerita.

Bahkan Kenangan Buruk Akan Dirinya, Kerap Membuat Kita Takut Kembali Terluka

Bayangan yang ada dipikiran sekarang adalah dia yang tadinya kita cinta justru jadi pihak yang menggoreskan luka. Pelan-pelan membuat diri tak nyaman, sebab mencintai dia yang tadinya kita percaya akan membuat bahagia saja, akhinya berujung dengan sia-sia.

Selain hal buruk yang sering terbayang, memang masih ada jenis bahagia yang pernah dirasakan berdua. Namun, tingkat dari rasa sakit hati yang kita lalui terasa lebih tinggi. Beberapa kali demi memastikan diri, kita mungkin akan bertanya-tanya, mengapa dia yang kita cintai dengan tulus justru membuat hati terluka? Dan akhirnya kita pun masih sering tak bisa menerima orang yang sedang berusaha untuk mendekatkan hatinya kepada kita.

Takut Kehilangan Itu Sah-sah Saja, Tapi Tetap Mempertahankan Hubungan Jelas Bukan Pilihan

Tak ada yang salah dengan pilihan untuk tetap tinggal, barangkali hati mungkin berpikir bahwa sebentar lagi dia akan kembali seperti semula. Hal lain yang justru menjadi kesalahan adalah langkah apa yang akan kita ambil jika ternyata dia tak terlihat menunjukkan perubahan.

Bukan, itu jelas bukan cinta. Karena faktanya kita hanya takut kehilangan sosoknya saja. Sehingga apa pun yang ia lakukan, akan tetap kita terima dengan dada yang lapang.

Melepasnya Memang Tak Akan Mudah, Tapi Tetap Lelap Dalam Luka, Untuk Apa?

Proses melupakan seseorang yang pernah kita cinta, barangkali memang jadi sesuatu yang susah. Jatuh-bangun kita menyembuhkan luka, hingga belajar untuk ikhlas dalam menerima semua. Tak ada yang bilang ini akan mudah, tapi bukan berarti juga kita tak bisa.

Tanpa ada yang akan memaksa kita tetap tinggal lagi, sebenarnya kita berhak untuk memilih hal apa yang akan dilakoni. Namun, jika ternyata tetap berada disampingnya hanya akan membuat luka kian menganga, lantas untuk apa?

Belajarlah untuk lebih bijak dalam memilah-milah pilihan, tentang jalan mana yang harus kita ikuti dan jalani.

Cobalah Nikmati Masa Transisi Ini, Hingga Benar-benar Tak Ingat Lagi

Jangan dipaksakan untuk benar-benar melupakan dengan cepat, tapi tak juga tetap lelap dalam bayang-bayang pacar yang sudah pergi meninggalkan. Buka hati dan pikiran, lihat sosok mana yang benar-benar sayang, dan terima hal-hal yang memang sudah jadi ketentuan.

Sebab tak satu pun dari kita bisa menentukan, jalan cerita seperti apa yang besok terjadi atas kehidupan. Hal yang bisa kita lakoni hanyalah menunggu dan menjalani alur cerita yang sudah disiapkan untuk kehidupan kita.

Karena Bukan Tak Bisa Melupakan, Kamu Hanya Terlalu Mengingat Hal-hal yang Nyaman dan Lupa Pada Luka yang Juga Telah Ia Goreskan

Jika memang saat ini kamu masih saja berkutat pada proses melupakan yang tak bisa diijalankan. Cobalah fokuskan diri pada keinginan yang sedang ingin dijalani, bukan malah berdiam diri pada bayang-bayang bahagia yang dulu ada.

Tanamkan pada pikiranmu, jika lelaki itu pernah dengan tega melukai hatimu. Cobalah ingat kembali, bagaimana ia pergi meninggalkanmu saat sedang butuh, hingga tak adanya rasa bersalah dari dia yang sudah menorehkan luka.

Bukan berarti tak bisa melupakannya dia, hanya saja dirimu kurang giat mengingat luka hati yang telah dibuatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top