Feature

Bukannya Aku Anti dengan Seni, Tapi Sebuah Tato di Tubuh Hanya Akan Menuai Kontroversi

Entah sudah berapa kali kamu bilang padaku soal keinginanmu yang ingin membuat tato kecil di lenganmu itu. Hal ini jelas membuatku gusar dan sedikit kesal. Rasanya sukar sekali membuatmu mengurungkan niatmu  itu. Aku tahu, keinginanmu membuat tato tak lepas dari kesukaanmu pada seni. Pun dengan aku, bukannya aku anti dengan seni dan segala hal yang kamu suka, aku hanya tidak ingin kamu jadi perbincangan orang-orang yang tak mengerti maksud dan tujuanmu itu.

Kamu bilang padaku, “Cuek saja dengan apa kata orang,” tapi aku tak bisa demikian. Mungkin teman-teman kita sudah menganggap tato jadi hal yang lazim, tapi tidak dengan keluargamu atau keluargaku. Seringkali, pola pikir lintas generasi membuat kita berbenturan dengan mereka yang lebih tua, atau yang sejak awal sudah menganggap sesuatu yang tak lazim maka selamanya tetap seperti itu. Bukan hanya itu, aku tak rela kamu bertato karena yang kutahu tato justru mendatangkan dampak yang tak baik bagi kulitmu.

Urusan Kesehatan Menjadi Alasan Utama Mengapa Aku Keberatan Kalau Kamu Bertato

Kamu harus tahu, salah satu risiko membuat tato adalah menyebabkan infeksi. Munculnya infeksi bisa saja berasal dari tinta yang telah terkontaminasi bakteri Mycobacterium chelonae. Efeknya, akan muncul ruam di kulit dan terasa perih setelah berbulan-bulan lamanya. Bahkan infeksi virus ini juga bisa berkembang jadi tumbuhnya kutil. Yakin? Masih kekeuh mau menato?  Aku hanya mengingatkan. Belum lagi munculnya alergi. Bisa berupa kemerahan pada kulit yang kemudian jadi gatal-gatal. Alergi yang muncul karena tato bahkan sulit diobati.

Tak Sedikit dari Mereka yang Sudah Bertato Pada Akhirnya Menyesal dengan Tato yang Telah Dibuat

Menutup kulit dengan tato lagi-lagi berimbas pada kesehatan kulit. Pasalnya, adanya tato ternyata membuat dokter sulit melakukan deteksi dini adanya kanker. Akibatnya, kanker pun jadi terlambat untuk ditangani. Maka tak heran jika tidak sedikit orang yang pernah merajah tubuhnya dengan tato akhirnya menyesal di kemudian hari, bahkan berniat menghapus tato tersebut. Berdasarkan penelitian, sebanyak 28 persen orang Amerika menyesali tato yang dibuatnya dalam jangka waktu setahun. Aku tak mau kamu menyesal pada kemudian hari. Jadi, bukankah lebih baik tak usah bertato?

Belum Lagi Soal Restu Orangtuaku, Mereka Tahunya Kamu Tak Bertato, Apa Jadinya Kalau Suatu Saat Kita Terganjal Restu Hanya Karena Tato yang Terlanjur Melekat?

Sekian waktu kita menjalani relasi, orangtuaku memang sudah setuju. Tapi bukan berarti mereka tak menanyakanmu lebih lanjut. Aku tahu, keinginan mereka adalah agar aku mendapatkan orang yang memang tepat untukku. Tapi apa iya, saat aku mengira kamulah yang paling tepat, orangtuaku justru tidak merasa demikian.

Kuakui orangtuaku masih sangat kaku, mereka pasti tidak bisa dengan mudah memahami alasanmu jika kamu benar-benar ingin bertato. Inilah mengapa kukatakan, tato hanya akan menuai kontroversi. Semula kamu datang tanpa tato, apa jadinya kalau mereka mendapati fakta baru? Aku hanya tak siap berpisah denganmu hanya karena urusan tato.

Lagipula, Bukankah Agama Pun Melarang Soal Menato Tubuh?

Bukannya aku ingin menceramahi, hanya saja setahuku demikian. Kamu dan aku sama-sama beragama, bukankah sebaiknya kamu mengurungkan niatmu daripada kepalang terlanjur padahal kamu tahu hal itu dilarang? Aku hanya tak ingin kamu mendapat cap yang tak seharusnya hanya karena sebuah tato.

Mungkin kini kamu tahu, tekadku untuk menentangmu agar tak bertato memang cukup kuat. Kalau dibandingkan antara manfaat dan tidaknya, aku bahkan belum melihat adanya faedah dari sebuah tato. Tapi bila akhirnya kamu enggan mendengarkan segala masukanku, maafkan jika aku marah padamu.

Suatu Saat Bila Aku Marah, Kuharap Kamu Mengerti. Atau Setidaknya, Jelaskanlah Alasan Logis Dari Sebuah Tato yang Begitu Kamu Dambakan Itu

Aku dan kamu sedang tak sepemikiran untuk hal yang satu ini. Karenanya, bila akhirnya kamu memilih jalanmu tanpa mempertimbangkan saran-saranku, tolong maklumi jika aku marah padamu. Sebagai partner, aku mencoba menuntunmu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Toh kalau kamu tak melihat usahaku yang demikian adanya, baiklah, mungkin suatu saat aku akan mengerti. Atau setidaknya, berikan aku satu penjelasan logis yang bisa membuatku mengerti mengapa harus menato.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Keanu Reeves, Gahar di John Wick Namun Sopan Dengan Wanita Di Dunia Nyata

Kali ini nama Keanu Reeves jadi bahan perbincangan bukan karena aksinya dalam film, tapi karena bagaimana ia bersikap kepada para penggemar wanita.

Puja-puji netizen datang karena salah seorang pengguna twitter membagikan beberapa foto Keanu yang berpose bersama dengan beberapa perempuan. Adapun hal yang membuatnya dipuji itu karena bagaimana ia bersikap dalam meladeni orang-orang untuk berselfie atau berfoto bersama.

Sumber : Twitter

Pada foto-foto yang beredar, tangan Keanu selalu terliat tak menyentuh perempuan di dekatnya. Untuk itu, warganet berlomba-lomba untuk memberinya sanjungan karena dianggap tahu bagaimana bersikap sopan pada perempuan.

Lelaki 54 tahun tersebut memang selalu meletakkan tangannya di belakang tubuh para perempuan tanpa menyentuh mereka. Bahkan tak hanya pada satu potret saja, foto-fotonya yang lain juga ia bersikap serupa.

Sumber : Twitter

Tak hanya posenya bersama beberapa penggemarnya, Keanu Reeves berfoto bersama musisi Dolly Parton, dan pose Keanu saat ia sedang berada di lokasi latihan menembak untuk film John Wick: Chapter 3 – Parabellum yang beberapa waktu lalu tayang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dibuka 20 Juni, Pameran Instalasi Seni Kelas Dunia Hadir di Jakarta

Setelah sukses dengan dua pamerannya di Kota Tokyo, Jepang tahun lalu. Kali ini, pameran seni kelas dunia, ‘teamLab Future Park and Animals of Flowers, Symbiotic Lives’ akan hadir di Jakarta.

Bertempat di Mall Gandaria City Lantai 2, Jakarta Selatan, pameran ini akan berlangsung di area seluas 2.000 meter persegi, dengan 5 karya instalasi interaktif. Dan Teknologi digital yang digunakan dengan usungan konsep kreasi kolaborasi atau co-creation, akan jadi sesuatu yang baru bagi pengunjung yang akan datang ke sana. Sorak Gemilang Entertainment (SGE) Live jadi pihak yang berperan untuk membawa teamLab asal Jepang ke Ibu kota dalam skala yang lebih besar.

Melalui CEO SGE Live, Mervi Sumali, Ia bercerita tentang apa yang kemudian memicunya untuk membawa teamlab hadir di Jakarta.

 

“Saya jatuh cinta dengan artwork dari teamLab, padahal untuk melihatnya harus berkunjung ke negara tetangga. Saya lihat, semua orang harus berinteraksi dengan artwork-nya, melihat itu tuh saya jadi amaze. Takjub,” katanya dalam pagelaran jumpa pers ‘teamLab Future Park’ di Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2019).

Lebih lanjut, ia juga berharap jika kehadiran teamlab ini bisa memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi para pengunjung. Baik anak-anak atau pun orang-orang dewasa. Bahkan Mervi juga meyakini jika instalasi karya seni ini akan sangat disukai para milenial yang konon dekat dengan instagram dan visual art.

“Generasi muda kan suka sekali instagram, tapi sejauh ini visual art yang ada belum bisa berinteraksi. Dan saya pikir orang Indonesia sudah sangat siap untuk sesuatu yang seperti ini. Karena ketika saya melihat pameran yang tahun lalu berlangsung di Jepang, banyak juga orang Indonesia yang sengaja datang”. Tutur Mervi.

Selain itu, CEO teamLab Kids, Akitae Matsumoto, yang juga hadir menuturkan jika project ‘Future Park’ yang sudah dimulai 5 tahun yang lalu ini, memiliki 2 konsep.  

“Kreativitas dan bermain, ada co-creation konsep di pameran ini. Kamu dapat menikmati karya seni kami sendirian, tapi nggak akan seru. Di saat bersamaan kamu juga harus bermain dengan orang lain dan itu akan lebih fun. Itulah konsepnya,” tukasnya.

Menghadirkan 5 karya instalasi digital, yakni Animal Flowers, Symbiotic Lives, Graffti Nature: Lost, Immersed and Reborn, Sliding through the Fruit Field, Sketch Aquarium, dan Light Ball Orchestra. Akitae menuturkan, setidaknya ada sekitar 600 orang lebih yang turut serta untuk membuat konsep dari teamlab ini.

Akan dibuka mulai tanggal 20 Juni hingga 20 Desember 2019 mendatang, kamu bisa mendapatkan tiket masuk dengan mengakses website resmi atau mengunjungi ticket boothnya langsung di Gandaria City. Akan dibagi pada 8 slot, demi kenyamanan pengunjung dalam menikmati instalasi tersebut jumlah pengunjung akan dibatasi 200-300 orang per hari.

Sebagai bentuk resmi dari pembukaannya, pameran seni kelas dunia ‘teamLab Future Park’ tersebut akan dibuka nanti malam oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dakota Johnson Belum Siap Jadi Ibu, Hubungannya dengan Chris Martin Akhirnya Kandas

Vokalis band Coldplay, Chris Martin dikabarkan telah mengakhiri hubungannya dengan aktris Dakota Johnson. Relasi mereka kandas sejak bulan lalu setelah dua tahun berkencan. Mengutip dari The Sunday Express, alasan kandasnya hubungan mereka lantaran Dakota tidak menginginkan kehadiran buah hati. Keduanya tidak memiliki tujuan yang sama untuk rencana memulai keluarga.

Seperti diketahui, pelantun A Sky Full of Stars itu sudah memiliki dua anak hasil pernikahan dengan mantan istrinya, Gwyneth Paltrow. Ia pun ingin secepatnya memulai keluarga baru bersama Dakota dan tinggal di kediaman mewah mereka di Malibu, Los Angeles, Amerika Serikat. Sayangnya, Dakota bersikeras bahwa dirinya belum siap untuk melangkah ke jenjang tersebut dalam waktu dekat.

“Chris menjelaskan bahwa dia menginginkan lebih banyak anak secepatnya, tetapi karier Dakota benar-benar sedang meroket dan kehamilan menjadi hal terakhir yang dia pikirkan,” kata seorang teman dekat pasangan tersebut.

Kabar ini tentu mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, hubungan mereka selalu tampak harmonis, “Chris dan Dakota sangat santai dan selalu terlihat bahagia bersama,” kata seorang sumber kepada The Sun. Namun ayah Apple dan Moses Martin tersebut memang tidak pernah terlihat berkencan dengan Dakota sejak musim gugur pada Maret 2019.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top