Feature

Bukan Karena Cinta, Lantas Pasrah Disiksa

Tania, tentu bukan nama aslinya. Bercerita tentang kisah cintanya dengan sang kekasih. Tahun ini harusnya tahun ketiga hubungan mereka, tapi mendadak ada luka yang ia terima. Kekasihnya berubah, tak lagi jadi laki-laki yang dulu ia kenal. Suka marah-marah, membatalkan janji seenaknya, bahkan beberapa kali mendaratkan tamparan pada pipinya. Dengan atas nama cinta, Ia bilang masih akan tetap bertahan memperjuangkan hubungannya. Sembari berharap si kekasih akan berubah.

Tapi, apakah sang kekasih memang akan berubah atau justru semakin parah?

Pada beberapa kasus, baik perempuan atau laki-laki yang merasa cinta mati. Kerap kali dibutakan matanya, oleh rasa yang katanya lahir dari ketulusan. Bertahan mati-matian, meski sebenarnya ia sudah disiksa habis-habisan oleh sang pasangan. Tak hanya sekedar kekerasan fisik yang mungkin diterima, siksaan batin pun kadang jadi sesuatu yang lebih mengerikan. Jika sudah seperti ini, haruskah kita terus bertahan?

Cinta Itu Tentang Dua Orang, Bukan Hanya Kamu Saja

Beberapa orang mungkin berubah, jadi pahlawan super diawal hubungan lalu mendadak jadi monster menyeramkan saat sudah jadi pacar. Tak ada yang salah dengan ini semua, toh kita tak bisa memaksa bagaiamana seseorang akan bersikap pada kita, sekalipun itu adalah pasangan kita.

Selanjutnya, bagaimana kita dalam menanggapi perubahan-perubahan sikapnya adalah jalan yang kan menentukan. Apakah kita akan tetap dalam kubangan hubungan menyeramkan, atau bisa bebas dan berjalan untuk hidup yang lebih menyenangkan. Jika semua upaya untuk memperbaiki hubungan hanya datang darimu saja, itu artinya ia sudah tak lagi peduli. Sebab tak ada lagi cinta di hati.

Lantas untuk apa terus menerus menunggunya berubah, jika dari sikapnya saja sudah bisa dibaca kalau dia memang sudah tak cinta. Rasa yang berat sebelah, hanya akan membuatmu merana.

Silahkan Buktikan Cintamu, Tapi Jangan Bodoh Hanya Karena Pacarmu

Entah karena merasa pernah berbuat salah lantas ingin menebusnya atau sekedar ingin menunjukkan rasa. Apa saja kadang diperbuat, demi cinta yan katanya adalah dasar dari hubungan. Sah-sah saja memang, kau akan berbuat apa saja. Bahkan jika kamu ingin menyerahkan nyawa, tentu tak akan ada yang melarangnya. Kamu sudah dewasa, pastilah tahu mana yang baik dan benar.

Lebih dari itu semua, sebelum melangkah untuk berbuat sesuatu yang katamu adalah cinta. Cobalah pikirkan lagi, apakah ia memang pantas menerima pengorbananmu ini? Apalagi jika ternyata selama ini, ia hanya jadi orang yang ingin dicintai tanpa tahu caranya berterimakasih.

Memilah-milah semua hal itu perlu, agar kamu tak terjebak dalam pemahaman yang palsu. Berpikir bahwa apa yang kamu lakukan sudah benar, padahal dirimu hanya diperalat oleh sang pacar.

Benar dan Salah Itu Perkara Biasa, Tapi Melakukan Kekerasan Bukanlah Sesuatu yang Bisa Diterima Begitu Saja

Konon pertengkaran dan semua perdebatan, haruslah ada untuk terus mendukung kelanggengan hubungan. Untuk itu, dengan alasan apapun tak ada yang berhak memukul atau melakukan kekerasan terhadap pacar. Meski itu dipicu oleh kesalahan yang mungkin kita lakukan.

Sebagai dua orang yang konon sudah berkomitmen dan mengikat diri untuk saling mencintai. Mengintroveksi diri harusnya jadi sesuatu yang dilakoni setiap kali ada perdebatan yang terjadi. Karena bagaimanapun caranya emosi tak akan pernah jadi jalan keluarnya. Maka jika pacarmu mulai berani melakukan perbuatan yang mengakibatkan sakit pada tubuh. Kamu berhak melawannya, jangan berdiam diri saja.

Hubungan Itu Tentang Dua Orang, Jika yang Berjuang Hanya Dirimu Saja Tak Perlulah Diperpanjang

Sebagaimana awal pertemuan, mengikrarkan diri untuk berpacaran, tentulah harus dilakukan oleh dua orang. Pun begitulah seharusnya yang juga akan dilakukan, oleh kamu dan si dia selama menjalin hubungan. Tapi sebaliknya, ketika kamu sudah susah payah berjuang untuk terus menerus jadi yang terbaik. Ia masih berkutat dengan segala macam perilaku buruknya, yang juga menyakiti hatimu.

Dari titik ini harusnya kamu bisa belajar, bagaimana ia sebenarya sudah tak lagi sayang. Sebeb, jangankan untuk memperlakukanmu baik. Berbuat hal yang sama dengan kau lakukan saja ia tak mau. Lantas, untuk apa terus menerus memberikan cintamu pada orang seperti itu?

Demi Dia Kau Rela Berbuat Apa Saja, Tapi Perasaanmu Tak Pernah Ia Jaga

Dari sekian banyak permintaannya, tak ada satupun yang tak pernah kau ikuti. Sekalipun itu akan mengorbankan kebahagian dan perasaanmu. Fokus utamamu adalah memberikan segala hal yang kau mampu. Baik jika ternyata itu juga melakukan hal serupa. Berusaha untuk membuatmu bahagia, dengan segala kemampuan yang memang ia bisa.

Sialnya, itu hanyalah angan-angan belaka. Seolah jadi Paduka atau Putri Raja, ia menempatkan diri sebagai sosok yang harus dilayanani. Sedang kamu bertugas sebagai pesuruh yang harus selalu siap untuk memenuhi kebutuhan majikanmu.

Yap, tak seperti dua orang yang saling cinta. Kamu dan dirinya lebih mirip, seorang pesuruh dan pemilik tahta. Ia bertugas untuk memerintahmu, sedang kamu jadi seseorang yang selalu sigap untuk melakukan apa saja yang diperintahkan padamu. Itu yang namanya cinta?

Kau Boleh Saja Menyebutnya Sebagai Bentuk Sayang, Namun Menjadi Bodoh Bukanlah Bagian dari Cinta Kawan!

Bukan tak percaya pada kekuatan cinta yang katanya bisa membuat orang berubah. Karena biar bagaimanapun, sesuatu yang menjadikanmu sebagai pihak yang bodoh karena mau saja diperalat oleh kekasihmu. Bukanlah hal yang patut disebut sebagai cinta. Entah karena inisiatifmu sendiri, atau karena permintaan darinya yang kau sebut kekasih. Berbagai macam perbuatan yang kau lakukan, selalu digadang-gadang jadi bentuk lain dari sayang.

Dengar, cinta yang baik pastilah menguatkanmu. Membuatmu jadi pribadi yang baru, membentukmu jadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan malah merusak hidupmu. Mematahkan semangatmu, hingga menjadikanmu sebagai babu atas semua keinginan semu.

Sekalipun Ia Berjanji Akan Berubah Setelah Berbuat Salah, Selalu Ada Kemungkinan Jika Ia Akan Mengulanginya

Setelah pertengkaran hebat yang sering terjadi akhir-akhir ini, Tania memang bercerita kekasihnya pastilah turut serta menangis dan menyesali perbuatannya. Tapi, memar di pipi Tania tetapkan akan jadi luka, membekas dan sulit untuk dilupa.

Serupa dengan itu, janji-jani manis yang mungkin diucapkan kekasihmu tentang perbuatan buruk yang katanya tak akan lagi diulangi. Bisa jadi hanyalah bualan untuk menenangkan situasi. Menjeratmu untuk terus tinggal, dan berharap bahwa semuanya akan berjalan seperti sedia kala.

Meski nyatanya itu adalah sesuatu yang mustahil terjadi lagi. Tak ada yang bisa menjamin memang seseorang pacar tak akan menjores luka, begitu pula dengan dia yang selalu menyiksamu dari semua perbuatannya. Hari ini ia bisa bergaya bak kucing manis yang manja, esoknya ia bisa saja jadi harimau ganas yang bisa menghilangkan nyawa dalam hitungan detik saja.

Silahkan jatuh cinta, tapi jangan pernah pasrah ketika hubunganmu mulai terasa menyiksa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Kisah Memprihatinkan dari Tikiri, Gajah Kurus yang Dipaksa Bekerja di Sri Lanka

Cerita-cerita perenggutan lahan hutan yang akhirnya menghilangkan tempat tinggal untuk binatang mungkin sering kita dengar. Dan hal lain yang lebih menyedihkan adalah, cerita-cerita eksploitasi hewan demi keuntungan oleh beberapa orang. Seperti cerita seekor gajah yang baru-baru ini viral di media sosial.

Yap, binatang malang itu adalah Takiri, seekor gajah berusia 70 tahun yang dipaksa ikut dalam sebuah festival keagamaan di Sri Lanka untuk menghibur penonton. Namun, tak ada yang menyangka di balik kostum warna-warni yang dikenakan gajah tersebut. Gajah berjenis kelamin betina itu dalam kondisi yang miris. Di balik kain yang dikenakan, Yap, dari beberapa foto yang beredar luas, ternyata badan Takiri sangat kurus tidak seperti gajah pada umumnya.

Dilansir dari worldofbuzz.com, Kamis (15/8), pada awalnya kisah gajah malang tersebut diungkap oleh Lek Chailers, pendiri yayasan Save Elephant Foundation, sebuah organisasi yang fokus dalam penyelamatan gajah. Dalam momentum peringatan Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus lalu, melalui halaman Facebook ia menceritakan bahwa Tikiri merupakan salah satu dari 60 gajah yang dipaksa bekerja selama 10 malam berturut-turut di Esala Perahera, sebuah festival yang digelar di Kandy, Sri Lanka.

“Tikiri bergabung dalam parade awal setiap malam hingga larut malam selama sepuluh malam berturut-turut, ia bekerja di tengah-tengah kebisingan, kembang api, dan asap. Dia berjalan beberapa kilometer setiap malam sehingga orang-orang akan merasa diberkati selama upacara,” katanya.

Membuat orang-orang kian simpatik dan merasakan kesedihan yang teramat dalam atas kondisi gajah itu. Kulitnya terlihat mengendur, bagian tulang rusuk dan tulang belakangnya bahkan sampai terlihat di balik tubuh kurusnya itu.

“Bagaimana kita dapat menyebut festival ini berkah, atau sesuatu yang suci, jika kita membuat hidup makhluk lain menderita? Hari ini adalah Hari Gajah Sedunia. Kita tidak dapat membawa dunia yang damai kepada gajah jika kita masih berpikir bahwa kondisi Tikiri bukanlah masalah,” sambung Lek Chailers lagi.

Di sisi lain, menurut kabar terbaru yang disampaikan oleh yayasan Save Elephant Foundation lewat halaman Facebook, Kamis (15/8), kondisi Tikiri kini semakin mengenaskan. Kondisi kesehatan Tikiri dikabarkan semakin menurun. Foto terbaru yang mereka bagikan memperlihatkan Tikiri terkulai lemas dikerubungi banyak orang.

Kisah Tikiri pun ramai jadi bahan perbincangan para pengguna media sosial. Dan sejak pertama kali diunggah pada Selasa (13/8) lalu, postingan tersebut telah dibagikan ulang lebih dari dua ribu kali. Sebagian besar warganet pun mengungkapkan keprihatinannya terhadap apa yang dialami Tikiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dari Hasil Riset, Laki-laki yang Suka Kirim Foto Penis ke Perempuan Ternyata…

Kalian mungkin pernah mendengar atau membaca, beberapa kasus lelaki yang sering mengirim foto penis miliknya kepada kaum hawa. Nah, sebuah riset mengungkap ternyata laki-laki yang suka melakukan hal tersebut memiliki kepribadian narsis dan seksis.

Riset ini dipublikasikan oleh The Journal of Sex Research pada 18 Juli 2019 lalu. Tim ilmuwan menuliskan bahwa ini adalah penelitian pertama yang secara kuantitatif menginvestigasi motif pria heteroseksual mengirim foto penis mereka. Dalam riset ini, seperti dilansir IFL Science, para peneliti mempelajari 1.087 responden laki-laki di Amerika Serikat. Ada 48 persen di antara para responden mengaku pernah mengirimkan foto penisnya ke perempuan meski tidak diminta.

Untuk menilai perilaku para responden, tim periset meminta mereka untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Dari situ para ilmuwan menemukan bahwa laki-laki yang mengirimkan foto penis memiliki tingkat narsis dan seksis yang sangat tinggi. Nah, orang dengan sifat narsis cenderung memiliki rasa kagum berlebihan pada dirinya sendiri. Mereka sering merasa bahwa dirinya lebih baik dibanding orang lain atau terobsesi dengan dirinya. Inilah yang kemudian mendorongnya percaya diri untuk mengirimkan foto-foto penis miliknya kepada orang-orang. 

Tak hanya itu saja, riset ini juga menemukan, 15 persen responden mengaku alasan mereka mengirimkan foto itu adalah untuk membuat penerimanya merasa takut. Sementara delapan persen lainnya ingin membuat penerima foto itu merasa malu. Selanjutnya, para peneliti juga menemukan, bahwa motivasi utama responden mengirimkan foto adalah akibat sifat misoginis dan ingin memiliki kontrol.

Bahkan, ada responden yang setuju dengan komentar semacam, “Saya memiliki rasa tidak suka pada perempuan dan mengirim foto penis memuaskan saya” atau “Mengirim foto penis membuat saya merasa memiliki kontrol dari orang yang saya kirimi gambar itu”.

Sebagian besar lelaki yang mengirim gambar, menganggap apa yang ia lakukan itu akan membuat penerimanya merasakan hal positif. Temuan lain dalam riset ini menunjukkan, 45 persen responden mengirimkan foto dengan harapan mendapat balasan gambar serupa. Yakni, perempuan akan berbalik mengirimkan foto gambar alat vital mereka.

Uniknya, hanya sedikit responden yang mengaku mengirimkan foto penis demi memuaskan rasa seksual mereka. Karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa libido tidak selalu menjadi alasan kenapa pria mengirimkan foto penisnya ke perempuan. Bisa saja mereka yang mengirimkan foto penisnya ke perempuan karena tidak cukup percaya diri dengan tampangnya. Mereka lalu merasa “alat vitalnya” punya kemungkinan lebih besar untuk memukau perempuan yang sedang ia dekati. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Seorang Polisi Terbakar saat Mahasiswa Unjuk Rasa di Cianjur

Seorang anggota polisi Resor Cianjur, Aiptu Erwin, dikabarkan terbakar saat sejumlah mahasiswa menggelar unjuk rasa di depan Pendopo Kabupaten Cianjur. Akibatnya Aiptu Erwin menderita luka bakar serius di sekujur tubuh. Dan saat ini, polisi tersebut masih menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati, sejak Kamis sore (15/8/2019).

Selanjutnya, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko memaparkan kronoligi kejadian tragis tersebut sebagai berikut. “Saat ini kita ketahui ada tragedi terbakarnya personel Polri khsusunya di Polres Cianjur anggota tepatnya Polsek Cianjur Kota. Selain itu, dua personel dari Satuan Sabhrara Polres Cianjur juga menderita luka bakar,” kata Truno di Mapolrestabes Bandung, Kamis (15/8/2019).

Beliau menambahkan, kronologi kejadian berawal dari unjuk rasa mahasiswa yang telah direncanakan sejak Senin 12 Agustus 2019 sesuai surat pemberitahuan ke Polres Cianjur dan ada pernyataan dari koordinator lapangan organisasi kepemudaan Cipayung plus Cianjur untuk melakukan audiensi terkait dengan kebebasan berpendapat atau mengemukakan pendapat.

Kemudian, hari kemarin Kamis (15/8/2019) sekitar pukul 12.00 WIB rombongan mahasiswa sebanyak 50 orang mengatasnamakan dari OKP Cipayung plus Cianjur menyampaikan pendapat terkait isu lapangan pekerjaan dan pendidikan. Mereka ingin audiensi khususnya di Pemkab Cianjur dan DPRD Kabupaten Cianjur.

“Namun upaya pengunjuk rasa (audiensi dengan pemda dan DPRD Cianjur) tidak berhasil menemui pimpinan dewan yang dimaksud. Kemudian mereka melanjutkan aksi unjuk rasa sekitar pukul 13.00 WIB,” ujar Kabid Humas.

Setelah itu, tutur Truno, para mahasiswa itu menggelar aksi unjuk rasa dan melakukan penutupan Jalan Siliwangi depan pintu masuk Pemda Cianjur. Akibatnya terjadi kemacetan arus lalu lintas di kawasan itu atau tidak tertib. Kemudian massa mahasiswa membakar ban bekas.

Nah, setelah itu Anggota Polri yang melakukan pengamanan dan menjaga ketertiban atas nama Aiptu Erwin, anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Bojong Herang, Polsek Cianjur Kota, memadamkan api.

“Saat pemadaman api, ada salah satu oknum dari 50 orang mahasiswa yang disebutkan tadi, menyiram yang bersangkutan (korban Aiptu Erwin) dengan bahan bakar minyak yang mudah terbakar. Sehingga kondisi Aiptu Erwin terbakar dan saat ini sedang dalam penanganan medis. Khususnya di Rumah Sakit Polri Kramat Jati yang berkoordinasi dengan RSUD Cianjur,” tutur Truno.

Tak haya Aiptu Erwin, ungkap Truno, dua anggota Sabhara Polres Cianjur yakni, Bripda Yudi Muslim dan Bripda FA Simbolon juga mengalami luka bakar setelah berusaha menyelamatkan rekannya dengan cara memadamkan api. “Sesaat setelah kejadian korban Erwin dan dua rekannya dibawa ke rumah sakit,” ungkap Truno.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top