Feature

Bukan di Depan Gebetan, Aku Canggung Justru Saat Mengobrol dengan Keluarga di Meja Makan

Bagi kamu ini adalah suatu kejanggalan. Saat dihadapan gebetan kamu merasa biasa tapi di depan keluarga justru  tak biasa. Ingin mengungkapkan ke orang tua, takut mendapat justifikasi anak durhaka. Tapi bagaimana, rasa canggung ini sungguh aneh. Hadir begitu saja, tanpa dengan alasan fana. Meskipun, kamu sebenarnya sayang dan mencintai mereka, tapi tak tahu cara mengungkapkan saja.

Alasan paling tepat kenapa kamu merasa canggung karena kamu tidak dekat dengan keluarga. Kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman, bahkan gebetan. Sehingga semua hal yang berkaitan dengan keluarga kamu merasa tak biasa. Intinya bukan karena tidak suka, tapi hanya tidak terbiasa.

Dikala Berfoto Bersama Kamu Merasa Janggal di Dada

Ada hal yang aneh yang dirasa saat muncul sebuah kegiatan yang menuntut kamu melakukan bersama keluarga. Mungkin ini baru pertama kalinya, di mana kegiatan ini biasanya kamu lakukan bersama gebetan. Misalnya ada moment peringatan ulang tahun yang mengharuskan kamu foto bersama.

Bagi kamu yang tak terbiasa mungkin aneh rasanya, bahkan secara jujur kamu melakukan lantaran terpaksa. Namun, ini terjadi bukan karena kamu tidak menyukai tapi karena tidak terbiasa. Kalau tak percaya, pasti dipercobaan kelima dan keenam kamu merasa biasa saja.

Tak Bisa Mengucap Rasa Sayang, Karena Merasa Aneh Bila Diucapkan

Pernahkah kamu merasa tak bisa mengatakan, “aku sayang ibu” atau “aku sayang ayah”,  kalau kamu sulit untuk mengungkapkan padahal kamu begitu menyayangi keluargamu lagi-lagi itu karena kamu tidak terbiasa. Kamu hanya bisa berbicara kata tersebut di dalam hati, tanpa bisa mengungkapkan satu sama lain.

Ada alasan kenapa kamu seperti ini, antara lain karena kamu tidak dibiasakan untuk mengungkapkan perasaan terhadap orang lain. Alhasil saat dewasa pun, kamu jadi sulit untuk mengungkapkan sesuatu kepada orang lain.

 Tak Pernah Merasa Dekat, Padahal Jarakmu Dengan Keluarga Sangat Erat

Sumber : https://www.instagram.com/gadiiing/

Tak ada waktu di mana kamu terpisah jauh. Setiap hari bertemu, tetapi kamu selalu merasa bukan siapa-siapa. Seolah-olah kamu merasa ada jarak yang jauh antara dirimu dan keluargamu. Di rumah pun terasa sunyi dan tenang seperti tidak ada kehidupan. Apabila mengobrol mungkin hanya bertahan beberapa menit. Lantaran ngobrol terlalu lama pun kamu selalu berujung bingung dengan topik yang akan dijunjung.

Terselip Rasa Sungkan Untuk Melakukan Pelukan

Lingkungan keluarga memang sudah harus dibentuk sejak kecil, sehingga saat dewasa kamu akan terbiasa berbaur dengan suasananya. Apabila tidak, rasa canggung dan sungkan pun melanda. Alhasil kamu pun sulit melakukan beberapa hal yang bersifat kasih sayang seperti pelukan, menggenggam tangan sampai mencium kening atau pipi. Padahal kamu ingin sekali melakukakannya tai apa daya rasa canggung lebih kuat bertengger di dalam dada.

Kemudian Timbul Rasa Iri Terhadap Keluarga Lain

Wajar saja kalau kamu merasa iri akan hal-hal berbau keluarga. Pasalnya kamu selalu membandingnkan antara perlakuan yang kamu dapat dengan keluarga orang lain, Intinya beberapa ungkapan rasa sayang yang diperlihatkan seperti makan bersama atau saling mengetahui kegiatan masing-masing. Tetapi lantaran di keluargamu sangat pasif untuk melakukan itu semua, jadi cenderung lebih membangun sifat lebih individual.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top