Feature

Buat Perempuan Ini Remeh, Tapi Buat Laki-laki Menyakitkan

Untuk urusan sakit hati, perempuan kerap jadi pihak yang katanya tersakiti. Padahal ini tak sepenuhnya benar. Suatu waktu, laki-laki juga bisa sakit hati. Dan pelakunya bisa jadi kaum hawa yang selama ini dikenal lemah dan patut dibela.

Kita semua seakan lupa, bahwa sama halnya dengan perempuan, laki-laki juga bisa merasakan hal yang serupa. Tanpa berniat untuk berdiri pada satu pihak saja, ada baiknya kita memang harus saling menjaga. Baik perilaku, terlebih lagi tutur kata.

Teruntuk kamu, yang mungkin kadang tanpa sengaja menyakiti hati laki-lakimu. Cobalah lihat dan pahami kalimat-kalimat di bawah ini!

Mungkin Jadi Bentuk Spontanitas, Namun Kalimat “Kamu Tak Pernah Mengerti!” Jadi Sesuatu yang Meruntuhkan Harga Dirinya

Untuk urusan hubungan antar pasangan, perempuan tentu tak boleh semena-mena terhadap kaum adam. Meski dengan alasan apa pun, kamu harus tentu tahu bagaimana bertutur kata yang baik. Terlebih terhadap pasanganmu.

Keputusannya memilihmu tentu karena kepribadianmu yang memang terlihat berbeda dengan yang lain. Tapi percaya atau tidak, satu kalimat berbahaya kadang jadi pemicu retaknya hubungan. Daripada merendahkanya dengan kata-kata yang tak enak di telinga, cobalah untuk menjelaskan duduk persoalannya.

Barangkali ini akan sedikit membantunya untuk memahami. Untuk itu kamu pun tak seharusnya mengeluarkan ucapan yang mengisyaratkan ketidakmampuannya. Justru harusnya kamu berbangga diri, karena rasa ingin tahu yang dia miliki jadi bukti usahanya untuk mengerti kamu.

Berniat Untuk Bermanja-manja Padamu, Kamu Malah Bilang Dia Seperti Wanita

Ingat, kamu harus bisa memahami pola tingkah laku dari pasanganmu. Termasuk saat dia sedang ingin dimanja. Di telingamu mungkin ini jadi kalimat biasa yang tak berarti apa-apa. Namun bagi mereka ini jadi bentuk pelecehan yang mencoreng wajahnya.

Padahal sebagai pasangan harusnya kamu jadi orang terdepan yang selalu mendukungnya. Bukan malah menjatuhkannya lewat kata-kata yang tak sepantasnya. Tak peduli pacarmu punya sikap yang memang sedikit kemayu, toh dirinya adalah laki-laki utuh. Dan kamu tak perlu mempertanyakan kejantanannya, hanya karena tanpa sengaja terlihat manja.

Tak Selalu Bermakna Buruk, Namun Kecintaannya Kepada Ibunya Tidak Seharusnya Dijadikan Bahan Bercandaan

Bagi mereka yang memang memiliki hubungan dekat dengan sang ibu, obrolan semacam ini jadi kalimat sensitif yang kerap berakhir pahit pada hubungan. Sebagaimana rasa sayang yang dimiliki oleh perempuan kepada ibunya. Kadang laki-laki memiliki porsi yang lebih dari itu.

Mungkin kamu sedikit jengah dengan sikapnya yang dinilai terlalu kekanak-kanakan. Biar bagaimana pun laki-laki memang harus jadi sosok dewasa yang bijakasana. Tapi membawa kecintaannya kepada ibu untuk turut serta dalam problema hubungan, tentu bukanlah pilihan tepat. Karena kalimat-kalimat seperti ini kerap berujung pada konflik yang merugikan kalian berdua.

Dia Mungkin Tak Mahir Disegala Hal, Tapi Bukan Berarti Kamu Jadi Kerap Mempertanyakan Kemampuannya

Satu hal yang perlu kamu tanamkan dalam dirimu, tak ada manusia yang sempurna. Termasuk laki-laki yang kini kamu jadikan pacar. Ada sisi dari dirinya yang memang lemah, namun juga ada sisi yang tak kalah kuatnya.

Beberapa ruang dalam dirinya, mungkin diisi dengan ketidakmampuannya akan sesuatu hal. Dan sebagai pasangan yang baik, harusnya kamu bertindak sebagai orang yang akan melengkapinya. Bukan malah meremehkannya dengan kalimat bernada tak percaya, jika dirinya memiliki kemampuan. Kamu harus ingat, bagaimana dia dulu berjuang keras demi mendapatkan hatimu.

Apa Lagi Sampai Membanding-bandingkan Dia dengan Mantan Pacarmu

Jangankan dirinya, kamu sendiri tentu tak suka jika harus dibanding-bandingkan dengan orang yang sudah jadi mantan. Meski katamu hal tersebut kadang hanya guyonan, tetap saja akan terdengar tak bersahabat bagi dirinya.

Saat ini, laki-laki yang ada di sampingmu adalah sosoknya bukan mantan pacar yang dulu kamu cinta. Jika memang masih ingin berharap ada sosok yang seperti mantanmu, ada baiknya kamu kembali padanya saja.

Namun kamu pun harus yakin jika mantanmu juga ingin kembali bersama. Karena kalau tidak, kamu akan ditimpa kesialan dua kali lipat.

Kata “Terserah” yang Terlihat Pasrah Tidak Selalu Berlaku Untuk Semua Situasi

Lalu bagaimana jika ternyata dari sekian banyak pertanyaan yang kerap dia tanyakan, kamu akan menjawabnya dengan kata yang sama “Terserah”. Daripada harus mengundang amarah, hanya karena kata terserah. Lebih baik kamu ucapkan apa yang sebenarnya memang kamu mau.

Pacarmu bukanlah dewa yang akan bisa membaca pikiran tanpa kamu katakan.

Apa Lagi Jika Mengakhiri Perdebatan dengan Kata “Aku Tak Peduli!”

Tak hanya tentang dia atau kamu saja, kalian berdua memang harus bisa saling memahami. Sebagai perempuan kamu tentu tak boleh egois.

Lain hal jika kamu dan dia mungkin sedang bercanda, kata-kata bernada tak perduli tentu bisa ditolerir dengan mudah. Lalu bagaimana jika ternyata kalimat tersebut kamu sampaikan diakhir perdebatan. Berpikir jika itu wajar, di matanya justru jadi bentuk ketidakpedulianmu atas hubungan.

Kamu mungkin merasa tak sedang menyalakan api pertengkaran, tapi bisa jadi kalimat-kalimat yang kamu lontarkanlah yang diam-diam telah menyulutnya perlahan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top