Feature

Buat Kamu Yang Bilang Uang Tak Bisa Membeli Kebahagian, Relakah Kamu Kalau Aku Minta Uangmu?

“Uang itu tidak bisa membeli kebahagian”. Begitu kalimat yang sering kamu lontarkan ketika aku berkeluh kesah tentang rumitnya hidup karena sedang tak punya uang. Menurutmu aku terlalu berfokus pada uang untuk mematok kebahagian diri sendiri.

Padahal sesungguhnya aku juga tak pernah kok berandai memiliki uang segudang. Aku hanya ingin hidupku lebih baik sedikit dengan perasaan lega karena tak terhimpit sulitnya ekonomi. Tapi sekali lagi, buatmu aku terlalu melebih-lebihkan kehadiran uang dalam hidup.

Tapi benarkah aku berlebihan menilai uang?

Katamu bahagia itu sederhana. Tapi sesungguhnya kita bisa berdebat 7 hari 7 malam untuk mendefinisikan apa itu bahagia

Alasanmu selalu sama, bahwa bahagia itu sederhana. Aku tak pernah menyangkal hal ini. Namun sesungguhnya definisi bahagia itu justru sering jadi perdebatan. Hal-hal yang kamu klaim sebagai sumber kebahagiaan bisa jadi tak berpengaruh apa-apa buatmu. Demikian juga sebaliknya.

Seperti juga selera makan bukan. Ada makanan yang kamu suka, dan ada makanan yang aku suka. Tentunya kebahagian kita tak mungkin sama kalau kita sama-sama makan ayam, sementara aku doyan ayam dan kamu tidak.

Kamu Bersikukuh Bilang Tak Butuh Uang, Namun Barang-Barang Baru Milikmu Berhasil Membuat Kamu Tersenyum Bahagia

Masih tetap dengan pendirianmu yang bilang uang tak bisa beli bahagia. Seakan tak mau membuka mata sebenarnya kamu sedang berbohong pada diri sendiri. Bagaimana mungkin kamu bisa lupa senyum bahagia atas barang baru yang kamu miliki. Hingga rasanya aku ingin bertanya, bagaimana kau mendapatkannya ? meski kamu tak akan menjawab, aku sudah tentu tahu. Uang adalah jawabannya.

Kalau Iya Bahagiamu Tak Butuh Uang, Bolehkah Aku Minta Uangmu Untukku?

emosi uang

Tidak? Kenapa Tidak? Bukankah kamu tak perlu uang untuk bisa bahagia? Untuk apa kamu menyimpan sesuatu yang tak juga menambah kebahagian untuk dirimu. Bukankah lebih baik kamu melepaskan semua uangmu jika itu tak berhubungan dengan rasa bahagiamu. Jangankan dikasih, aku pinjam saja kadang kamu menolaknya.

Aku Tak Hanya Omong Kosong, Karena Penelitian Juga Membuktikan “Uang Itu Bisa Membeli Kebahagiaan”

Bukan ingin menyalahkan pendapatmu yang bilang bahagia tak bisa dibeli dengan uang. Tapi kamu juga harus dengar fakta lain yang mungkin kamu tak tahu. Bukan sekedar omong kosong, karena uang bisa membeli kebahagiaan itu dijelaskan di sejumlah penelitian.

Salah satunya adalah Dr Elizabeth Dunn, seorang profesor psikologi di University of British Columbia, Kanada. Ia melakukan serangkaian survey yang menghubungkan antara orang dengan rasa bahagia. Hasilnya adalah rasa bahagia itu muncul ketika seseorang itu punya waktu luang yang lebih banyak.

Penelitian Whillans dan psikolog Ryan Howell, yang dilakukan oleh Harvard University juga menemukan hal yang sama. Penelitian ini dilakukan di empat negara dengan melibatkan 6000 responden. Jadi ini bukan survei dari lembaga abal-abal.

Disebutkan bahwa orang yang membelanjakan uangnya untuk “membeli waktu luang” akan merasakan dirinya lebih bahagia. Karena makin banyak waktu untuk diri sendiri, maka semakin bahagialah orang tersebut.

Bagaimana Membeli Bahagia? Belilah Waktu Luang! Itu Yang Aku Inginkan

Yup, begitu caranya untuk bahagia. “Belanjakan” penghasilanmu untuk membeli waktu luang. Bukan dengan membeli barang. Kecuali kalau barang itu bisa memberikanmu waktu lebih luang.

Contohnya sederhana, kamu membutuhkan waktu 1 jam kalau harus mencuci baju manual. Sementara dengan mesin cuci, kamu tinggal pencet tombol dan bisa melakukan hal lain yang kamu suka sambil menunggu cucian selesai.

Atau misalnya kamu menghabiskan terlalu banyak waktu karena gadgetmu sudah terlalu lemot. Saatnya mengganti yang baru supaya lebih cepat ketika digunakan dan tak menyita banyak waktu.

Pekerjaan yang gajinya di atas gaji standar, tentunya bisa membeli banyak waktu. Karena tak perlu lagi bekerja di dua tempat sekaligus. Tak perlu lagi mengejar lembur untuk menutupi kebutuhan dari biaya over time di kantor.

Jadi kalau kali lain kamu bilang uang tak bisa membeli kebahagiaan, aku akan bilang:

“Bisa, karena aku akan membeli waktu luang dengan uangku”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dilema Memilih Tempat Kerja : Suasana yang Nyaman atau yang Bergaji Besar?

Untuk kamu yang baru saja lulus, kesulitan memilih tempat kerja bisa jadi dilema. Ingin memilih tempat kerja yang nyaman atau yang menawarkan gaji besar. Tapi tak hanya dirasakan oleh para fresh gradute saja, karyawan yang sudah lama bekerja pun sering bimbang. Sudah merasa nyaman di tempat kerja yang sekarang, tapi juga butuh tambahan penghasilan demi masa depan.

Suasana seperti ini, sering mengacau pikiran. Bahkan sering menjebak kita dan tak bisa menentukan, mana yang baiknya dipilih. Nah, sebelum menentukan pilihan yang mungkin bisa jadi terbaik untukmu. Ada untung-rugi yang harus kamu pahami terlebih dahulu, dari pekerjaan nyaman atau yang bergaji besar.

Bekerja Nyaman Bisa Mengurangi Tekanan dan Berpeluang Mengambil Pekerjaan Sampingan

Jika kamu kebetulan berhasil masuk ke dalam perusahaan besar yang sudah mapan. Biasanya perusahan tidak memberi tekanan yang besar pada karyawan. Sebaliknya, kamu bisa bekerja dengan nyaman dan suasana yang juga jauh dari kata stres.

Selain itu, karena teknan yang ada tak begitu besar. Tempat bekerja seperti ini biasa memberimu waktu luang yang lebih besar. Sehingga kamu bisa memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan atau pekerjan lain yang mungkin bisa jadi sumber penghasilan. Memulai bisnis di rumah atau membuka online shop, misalnya.

Tapi Dampak Buruknya Bisa Membuatmu Malas, Kurang Profesional dan Takut Akan Tantangan

Pola yang sudah lama terpatri atas orang-orang yang terlalu nyaman di pekerjaannya sekarang adalah susah keluar untuk memulai pekerjaan lain. Lagipula situasi sekarang ini sudah cukup nyaman, kalau harus keluar belum tentu bisa menemukan yang nyamannya sama. Begitu kira-kira gambarannya.

Padahal ini adalah sebuah pola pikir yang salah. Karena biar bagaimana pun, pandangan seperti ini akan membuat kita menutup diri pada hal-hal lain. Merasa tak sanggup untuk mengikuti tantangan, hanya karena tak siap untuk berkompetisi dengan orang luar.

Selain itu, aturan yang fleksibel di tempat kerja yang nyaman juga banyak membentuk watak buruk bagi karyawan. Karena tak ada larangan yang begitu keras, kamu bisa saja berubah jadi orang yang sembrono. Telat membuat laporan, hingga datang terlambat setiap ada meeting bulanan. Ya, kamu tak profesional.

Akan Tetapi Jika Gajinya Lebih Besar Mampu Menjamin Finansial dan Membuatmu Kian Profesional

Untuk situasi ini, keuntungan dari segi finansial jelas jadi kelebihan yang wajib disyukuri. Biar bagaimana pun, pundi-pundi harus tetap terisi. Nominal pendapatan yang bertambah, setidaknya akan membantu kita memenuhi kebutuhan harian pada tingkat yang lebih baik. Syukur-syukur bisa menyisihkan jumlah tabungan yang lebih besar untuk masa depan.

Tapi jangan buru-buru senang dulu, karena jika gaji yang ditawarkan memang lebih besar. Ada kemampuan yang seimbang yang harusnya kita bayarkan. Tekanan yang datang untuk capaian pendapatan yang telah ditentukan akhirnya merubahmu jadi sosok yang mampu berkompetisi dengan baik. Karena mau tak mau kamu harus bergerak untuk mencapai targetmu, yang sebenarnya juga baik untuk mengembangan karir dan membuatmu kian profesional.

Namun Sialnya Kamu Jadi Mudah Stres Karena Tekanan yang Lebih Besar dengan Waktu Luang yang Terbatas

Yap, dituntut untuk mencapai target yang ditentukan, terpaksa membuat kita berjuang keras untuk terus bekerja. Beberapa hal yang akan terasa kian dekat, tentu saja stres kalau-kalau targetnya masih belum kesampaian juga. Selain itu, waktu untuk bisa beristirahat meski sekedar beleha-leha sebentar. Akan hilang, diganti dengan konsentrasi untuk mengurus pekerjaan.

Bahkan kalau bisa, seluruh waktu yang ada dalam hidupmu akan kamu serahkan untuk terus fokus bekerja sampai apa yang sudah ditentukan perusahaan bisa di dapat dengan cepat. Gajinya memang besar, tapi setara dengan itu tingkat stres yang kamu dapat juga kian besar.

Lalu, Kemana Pilihanmu Akan Jatuh?

Sesungguhnya, ini bukanlah pilihan yang sulit. Karena kamu hanya butuh mencari apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Sembari menemukan jawaban, kamu pun perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan lain yang nantinya akan dirasakan.

Jika kamu memilih untuk berada pada zona kerja yang nyaman, mungkin penghasilan yang akan kamu dapatkan lebih sedikit. Dan begitu sebaliknya, jika kamu memilih untuk berada  pada tempat kerja yang bergaji besar. Cobalah bersiap untuk tekanan besar serta waktu luan yang mulai terbatas.

Tanyakan pada dirimu sendiri, mana pilihan yang sesungguhnya kamu cari. Sembari menyiapkan kemampuan, untuk resiko yang juga akan diemban.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kantor yang Bebas Berpakaian, Tak Berarti Kamu Boleh Datang dengan Pakaian Rumahan

Di era sekarang sebuah kantor atau perusahaan tidak lagi menekankan karyawannya harus memakai office look. Meskipun tidak semua, tapi beberapa start up telah melakukan kebijakan ini. Apalagi kantor-kantor di bidang kreatif. Pasalnya, ada yang berujar bahwa berpakaian rapih saat ke kantor adalah suatu tekanan. Entah bisa dibenarkan atau tidak, yang jelas generasi milenial sangat senang mendapatkan kantor bebas berpakaian.

Perlu diketahui ketika diberikan kebebasan, bukan berarti datang dengan berpakaian semaunya dan seenaknya. Meskipun bebas, kamu juga mesti tahu aturan. Pada dasarnya aturan tersebut mengacu kepada etika, karena tak mungkin kamu hanya memakai kaus kutang dan celana pendek ke kantor kan? selain tidak enak dipandang, itu sama saja kamu telah menyepelekan tempat kamu bekerja.

Setidaknya bebas berpakaian adalah minimal kamu mengenakan T-shirt dan jeans ke kantor. Dan pastikan kamu tidak berpakaian seperti ini saat berangkat ke kantor ya.

Bebas Tapi Sopan, Jangan Memakai Pakaian Rumahan

Mungkin kamu memiliki kaus kesayangan yang sampai belel pun kamu tetap nyaman memakainya. Tapi, nyaman buatmu belum tentu nyaman di mata orang lain. Pakaian yang seperti itu sebaiknya kamu kenakan saat di rumah, bukan berangkat ke kantor. Meskipun bebas berpakaian bukan berarti tidak ada aturan lho. Kamu harus kenakan pakaian yang setidaknya enak dipandang.

Memakai Pakaian yang Kusut

Tentu penampilan dapat menopang mood seseorang dalam bekerja. Tidak bagusnya penampilan pasti akan menganggu konsenstrasi saat di kantor. Terutama saat kamu mendapatkan komentar dari karyawan lain, atau melihat seseorang yang melihatmu secara tidak enak. Untuk itu perhatikan pakaianm.

Apalagi jika menggunakan pakaian kusut, jelas sangatlah tidak enak dipandang. Sebisa mungkin kamu harus membawa pakaian ganti untuk mengganti pakaianmu yang kusut. Apalagi kalau kamu ke kantor naik angkutan umum.

Memakai Pakaian yang Sudah Dipakai di Hari Sebelumnya

Mungkin kamu memiliki sikap yang terlalu cuek soal pakaian. Apalagi mengetahui kalau kantor kamu adalah kantor yang bebas berpakaian. Secuek-cueknya kamu dengan penampilan, tak semestinya juga kamu memakai pakaian yang sudah dipakai di hari sebelumnya. Jangan heran kalau kamu mendapatkan cap jorok dari teman-teman kantor lantaran pakaianmu tidak diganti-ganti.

Jangan Sampai Memakai Sandal Ke Kantor Karena Tidak Etis

Dalam suatu kondisi seperti hujan, kamu mungkin bisa memakai sandal ke kantor karena sepatumu kebasahan atau semacamnya. Tetapi di luar dari kondisi tersebut, memakai sandal ke kantor sangatlah tidak etis. Apalagi kalau dilihat teman kerja dan bosmu, otomatis kamu akan dipandang berbeda. Lain kasusnya apabila bos dan teman kantor memang memperbolehkan memakai sandal.

Mengenakan Piyama Saat Bekerja

Lebih kacau lagi kalau kamu mengenakan piyama saat bekerja. Jelas saja itu sudah salah, karena piyama adalah pakaian untuk beristirahat bukan bekerja. Kamu bisa mengenakan piyama ke kantor apabila saat itu sedang ada pesta kostum atau semacamnya. Karena kami yakin sebebas apapun kantormu pasti tidak srek apabila melihat seseorang mengenakan piyama saat bekerja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pertama dalam Sejarah APBN, Penerimaan Negara Tembus 100%

Sehari sebelum perayaan Tahun Baru 2019 kemarin, Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati mengumumkan penerimaan negara 2018 mencapai 100%.  Belia juga mengatakan jika capaian tersebut adalah yang pertama kali dalam sejarah APBN.

Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah meraup penerimaan sebesar Rp 1.894,72 triliun atau 100% dari target APBN 2018. Dan adapun sumbernya antara lain dari perpajakan, yakni pajak dan bea cukai, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah.

“Pada tahun ini untuk pertama kalinya Kementerian Keuangan tidak mengundang-undangkan APBN Perubahan dan tahun 2018 ditutup dengan Penerimaan Negara sebesar 100%,” kata Sri Mulyani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/12/2018), sebagaimana dikutip dari detik.com. 

Dan, kabarnya hasil dari pencapaian ini akan dilaporkan oleh Sri Mulyani kepada Presiden Joko Widodo, hari ini Selasa (1/1/2019).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top