Feature

Berlagak Sok Kaya dengan Gaji yang Pas-pasan, Buat Apa?

Aktivias pamer di media sosial dengan memajang foto-foto kekinian, nampaknya sudah jadi virus yang menyebar. Begitu pula dengan beberapa kawan dekat yang mungkin kita kenal bagaimana situasinya sebenarnya. Bergaya hidup penuh kelimpangan, padahal yang terjadi sebenarnya jauh diluar perkiraan.

Mendapat puja-puji di media sosial memang terlihat menyenangkan, tapi kalau hal-hal seperti ini terus dilanjutkan, kita pasti akan dapat masalah baru yang lebih besar. Sebelum menyesal, mulailah berhenti dari sekarang dengan mencoba memahami dan mempeertimbangkan beberapa kerugian yang akan kamu dapatkan.

Bahagia di Konten Postingan, Tapi Stres di Fakta Kehidupan

Sebagai manusia, tak pernah merasa puas atas apa yang sudha dimiliki sekarang adalah satu sikap yang manusiawi. Satu kebohongan yang sengaja kita buat untuk menjadi pusat perhatian, akan melahirkan kebohongan-kebongan lainnya. Pelan-pelan, hal tersebut akan membuat kita merasa stres dan tertekan hingga merasa sulit untuk menerima diri kita sebagaimana kita ada.

Selalu Merasa Harus Sempurna, Kita Kan Selalu Minder di Segala Upaya

Berpura-pura untuk selalu terlihat paling “Wah”, pelan-pelan akan menghantar kita pada sikap yang tak percaya pada diri sendiri. Melihat orang lain pergi liburan ke Eropa, buru-buru kita cari cara untuk tak terkalahkan pamornya. Dari mulai ikut-ikutan liburan sampai berbagai macam upaya pun dilakukan, biar tak ketinggalan.

Tidurmu pun kian terganggu, karena insecure melulu. Tak ada percaya diri yang berarti, membuatmu dihantui ketakutan yang menyeramkan. Dan bukan tak mungkin juga jadi awal yang buruk untuk kesehatan mental. Karena kita bisa saja mendadak jadi membenci diri sendiri.

Selalu Ingat Bahwa Kebohongan adalah Fana dan Tak Akan Bertahan Lama

Hari ini kamu bohong berbohong dengan mencuri foto orang lain untuk kemudian mengakuinya sebagai potrait dari liburanmu. Tapi percayalah, pelan-pelan pasi akan ada orang yang tahu juga. Tahu bahwa apa yang kamu tuliskan di Instagram bukanlah sesuatu yang benar.

Berimbas pada hal-hal lainnya, segala kebohongan yang sedang kamu bangun akan terbongkar tepat pada waktunya. Jadi untuk apa?

Lagipula Sok Kaya Hanya Akan Merusak Nama Baik Kita Sendiri

Biar sederhana tapi dikenal baik oleh orang-orang, daripada terlihat kaya tapi nyatanya boohong semua. Nama baik harus tetap dijaga, jangan sampai orang lain memandang kita rendah. Tak perlu berpura-pura kaya hanya untuk membuat orang lain terkesan. Saat ini, hal ini boleh jadi kebanggaan. Tapi pelan-pelan jadi sesuatu yang merusak sosokmu dimata mereka.

Dan yang Lebih Parahnya Lagi, Membuatmu Rela Berhutang Hingga Akhirnya Tak Sanggup Bayar

Yap, untuk alasan memenuhi kebutuhan diri dan gaya hidup yang mewah. Tak pelak, kita akan berusaha mencari uang kesana-kemari, bahkan sampai rela berhutang asal tetap terlihat menawan. Padahal, sumber pendapatan masih sangat pas-pasan.

Kalau begitu terus, percayalah kita hanya menambah beban untuk diri sendiri. Berhutang hanya untuk kepuasan pribadi yang tak berarti.

Berhenti untuk bergaya diluar kendali, belajarlah untuk menempatkan diri sesuai dengan kemampuan diri. Tak perlulah bergaya sok kaya, kalau memang kondisi ekonomi kita masih pas-pasan untuk hidup sehari-hari. Gengsi hanya membuatmu kian tertekan, hingga akhirnya kalap mata dan berbuat yang bukan-bukan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top