Feature

Berhenti Melakukan 6 Kebohongan Pada Diri Sendiri Yang Hanya Membuat Hidupmu Stagnan Ini!

Disadari atau tidak kita pasti sering membohongi diri sendiri untuk beberapa hal. Mungkin bibirmu menyangkal, tapi hal itu pasti kerap terjadi. Meski begitu kamu akan kembali berkata “tidak” untuk menenangkan diri. Kamu boleh saja berkata “tidak” lagi, namun hatimu akan selalu jujur.

Beberapa keadaan dalam hidup memang sering membuat kita tidak sadar, bahwa ternyata kita telah membohongi diri sendiri. Cam Caldwell, seorang profesor manajemen di Purdue University North Central, Indiana di Amerika Serikat. Mengatakan hal tersebut terjadi karena “kita sering memahami dua ide yang saling bertentangan tanpa mengakui konfliknya”. Terbungkus dalam beberapa kalimat yang kita percaya sebagai penenang. Justru kata-kata tersebut jadi penghalang untuk kesuksesan yang kita inginkan. Untuk itu coba tanyakan diri sendiri dan pikirkan beberapa kebohongan ini. Jika beberapa diantaranya memang sering kita lakukan, sebaiknya hentikan dari sekarang.

Prinsip “Tidak Boleh Gagal” Jadi Tolak Ukur Yang Justru Jadi Penghambat Sukses Yang Sebenarnya

Tak ubahnya dengan keberhasilan, kegagalan juga adalah sesuatu yang memang kerap kita temui. Prinsip bahwa kita tidak boleh gagal justru kerap jadi bumerang. Kegagalan jadi sebuah bagian yang rasanya tidak mungkin terpisahkan dari keberhasilan. Kita bisa melihat hal itu juga terjadi pada mereka yang sekarang terkenal karena kesuksesannya. Sebut saja Bill Gates yang dulunya hanyalah seorang mahasiswa drop out dari kampusnya di Harvard. Bahkan pernah bekerja sebagai office boy, lalu apakah dia menyerah karena gagal? Tidak ! berkat kegigihannya dengan rekannya Paul Allen mereka berhasil menciptakan perusahaan perangkat Lunak Microsoft. Bahkan berhasil menduduki kursi orang terkaya di dunia versi majalah Vorbes selama kurang lebih 13 tahun mulai dari 1995 – 2007. Bill Gates membuktikan bahwa setelah gagal, bukan berarti kita harus berhenti. Untuk itu jangan pernah berpikir bahwa kegagalan adalah hal yang tabu terjadi pada orang-orang sukses.

Percaya Bahwa Segala Sesuatu Yang Terjadi Bisa Diatasi Seorang Diri

Percaya pada kemampuan diri memang bukanlah hal yang negatif. Namun akan menjadi sesuatu yang salah jika ini kita pakai dalam segala hal. Karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa mengatasi semua hal dengan seorang diri. Ada beberapa bagian dari hidup yang memang terjadi diluar dari perkiraan dan jangkauan kemampuanmu. Tidak perlu memaksa diri untuk melakukan sesuatu diluar kesanggupan. Bukannya tak  kunjung menemukan titik terang ini malah hanya akan menjadi beban. Kemudian menimbulkan masalah baru yang tentu akan memperkeruh suasana.

Sebaliknya berikan ruang kepada orang lain yang mungkin berniat membantu. Karena biar bagaimanapun ada beberapa hal yang memang, hanya akan bisa dapat terselesaikan dengan bantuan orang lain.

Berpikir Bahwa Tidak Punya Waktu Yang Cukup Untuk Melakukan Sesuatu, Sehingga Semuanya Sudah Terlambat

Kenyataannya kita akan selalu punya waktu yang cukup untuk segala sesuatu. Omong kosong itu hanya akan mengerdilkan kemampuan diri sendiri. Sebelum mempercayai kata-kata ini apakah kamu sudah pernah mencoba? Jika ternyata belum, berhenti untuk percaya bahwa kamu tidak punya waktu untuk melakukan sesuatu yang kamu inginkan. Cobalah untuk melakukannya, karena ini adalah hal yang memang harus kamu lakukan. Untuk hasil yang memang maksimal kamu juga harus melakukan yang terbaik.
Dari situ kita akan belajar bahwa kata-kata yang selama ini kita percaya hanyalah sebuah kebohongan. Sekaligus bisa menilai kemampuan akan diri sendiri, apakah hal tersebut memang hal yang kamu mau atau tidak. Ingat tidak ada kata terlambat untuk segala sesuatu, semuanya bisa berubah hanya dalam hitungan detik.

Merasa Kita Tidak Punya Pilihan Lain, Kemudian Melakukan Hal Yang Sama Secara Terus Menerus

Ini adalah kebohongan besar yang sering kita pelihara dengan baik dalam hidup. Meyakini bahwa diri sudah tak punya pilihan lain. Seakan tak ada pilihan lain selain berdiam diri dan berkutat pada sesuatu yang sudah jadi kebiasaan. Padahal kita selalu punya pilihan untuk segala sesuatu, bahkan untuk urusan mandi saja kita punya pilihan. Ini hanyalah contoh kecil yang bisa kita lihat atau lakukan, mau mandi atau tidur seharian. Hingga kepada pilihan-pilihan besar yang mungkin tingkatannya jauh lebih sulit. Orang yang berhak menentukan untuk mengambil pilihan itu atau tidak  hanyalah dirimu sendiri. Meski kadang pilihan yang kamu ambil salah, bukan berarti kamu lantas jera. Hal itu justru jadi bahan untuk evaluasi diri, untuk pilihan selanjutnya yang mungkin akan terjadi. Jika yang orang lain bisa sukses meski pernah salah dalam memilih, berarti kamu juga bisa. Hal yang penting untuk dikembangkan hanyalah keberanian untuk menentukan pilihan.

Merendah Diri Adalah Sesuatu Yang Baik, Tapi Berlindung Di Balik “Aku Tak Sepintar Mereka” Adalah Kebohongan

Kebohongan yang sering sekali terucap adalah mengklaim diri tidak sepintar orang lain. Meski ketika dihadapkan dengan beberapa orang yang mungkin lebih pintar, tingkat percaya dirimu akan terpengaruh. Tapi bukan berarti kamu harus merendahkan diri dibalik kata-kata tersebut. Bahkan Pakar psikologi Dr. Rose Mini mengatakan bahwa kemampuan intelektual hanya akan mempengaruhi 20% keberhasilan seseorang, selebihnya ditentukan oleh faktor lain. Dari sini kamu jadi bisa tahu bahwa untuk bisa berhasil dan sukses tidak harus pintar. Kamu bisa menggali potensi lain dari dalam diri sendiri. Kembangkan kemampuan sosial dan komunikasi dengan banyak orang. Karena suatu saat mereka bisa jadi penyokong yang mungkin saja akan membantumu untuk sukses.

Selalu Yakin Bahwa Keberhasilan Yang Telah Lalu Kelak Akan Datang Lagi, Yang Penting Mau Menunggu Waktu Yang Tepat

Sebelum memutuskan untuk percaya bahwa sesuatu yang baik akan tiba asal mau menunggu. Pikirkan kembali apakah waktu yang tepat itu benar-benar ? Memilih untuk percaya akan hal ini sama saja dengan membuang waktu demi menunggu. Jika memang kamu menginkan sesuatu, lakukan usaha untuk mendapatkannya. Tanpa harus menunggu waktu yang katanya tepat, karena waktu yang tepat adalah sekarang atau tidak akan ada sama sekali.

Karena kamu tidak akan mungkin bisa menemukan sesuatu yang tepat, jika hanya menunggu. Mulailah segalanya dengan tindakan kecil yang perlahan akan mengantarkan kamu pada mimpimu.

Tidak Memiliki Uang Untuk Memulai Sesuatu Yang Di Inginkan

Anggapan ini sama saja dengan membatasi diri atau membuat diri gagal bahkan sejak ingin memulai. Coba ingat bagaimana Jack Ma mengembangkan Alibaba dengan uang seadanya. Dulu ia hanyalah seorang guru miskin di China, namun berkat usahanya hidupnya berubah. Kini Jack Ma menjelma jadi orang terkaya di China dan orang kedua terkaya di Asia menurut Bloomberg Billionaires Index. Daripada harus bingung akan modal yang terasa kurang, lebih baik kamu memulainya dengan memanfaatkan uang yang ada. Persiapkan segala sesuatu yang nantinya akan menggambarkan visi serta tujuan dari usaha yang kamu buat. Hal ini akan membantumu untuk menemukan investor yang mungkin akan membantu memberikan modal. Berdiam diri dalam ketakutan akan kebutuhan uang untuk modal tidak akan merubah apapun.

Mari tanyakan kembali pada diri sendiri, apakah kamu masih kerap melakukan kebohongan-kebohongan tersebut? Jika jawabannya “Iya” segera hentikan atau kesuksesan tidak akan pernah datang. Mulailah semuanya dengan jujur pada diri sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Siasat Jitu Untuk Menjawab Pertanyaan ‘Nyelekit’ dari Keluarga Saat Lebaran Tiba

Setahun sekali, kita menantikan 1 Syawal untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar. Bermaaf-maafan, saling bertukar kabar, sampai bertanya seputar kesibukan yang sedang dilakukan sudah jadi bagian dari silaturahmi keluarga saat lebaran.

Tapi ada kalanya di tengah situasi yang kamu harapkan bisa berjalan kondusif, ada saja hal-hal diluar ekspetasi yang harus kamu hadapi. Misalnya, menghadapi pertanyaan ‘nyelekit’ berbau sindiran, sinisme, atau bahkan sarkasme pasti pernah kamu terima, bukan?

Begini, kuncinya yang terpenting ada pada dirimu yang menanggapi. Daripada dimasukkan ke dalam hati, cobalah untuk menanggapi omongan atau pertanyaan tersebut dengan senyuman. Ingat lho, di hari yang Fitri, sebaiknya rayakan dengan sepenuh hati.

Saatnya Kamu Memiliki Pengendalian Diri yang Baik, Kali Ini Kuminta Anggaplah Omongan yang Datang Sebagai Bentuk Perhatian…

Sebab ada banyak cara untuk mengungkapkan perhatian. Tak melulu dengan sikap yang positif dan omongan yang membangun. Sebab ada lho yang justru menunjukkannya dengan melontarkan pertanyaaan nyelekit seperti yang kamu rasakan. Angap saja begitu.

Anggaplah apa yang kamu terima sebagai bagian dari rasa perhatian mereka. Sukar memang, tapi cobalah untuk mengendalikan dirimu agar tidak terbawa perasaan atau emosi saat menghadapi omongan nyelekit dari saudara.

Memberi Senyum Adalah Hal Terbaik dan Terindah yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Membangun Komitmen untuk Saling Bermaaf-maafan

Di hari yang Fitri, kamu pasti ingin suasana kumpul keluarga terasa hangat dan membahagiakan. Langkanya intensitas bertemu dengan anggota keluarga yang lain, sebaiknya kamu manfaatkan untuk lebih sering lagi memberi senyum. Jangan hanya karena kamu menghadapi omongan atau komentar mereka yang begitu nyelekit, mood-mu jadi ikut berantakan.

Nah, untuk menghadapi situasi semacam ini, ya cukup senyum saja lalu beralih ke saudaramu yang lain. Cukupkan pembicaraan antara kamu dan dia yang melontarkan pertanyaan atau omongan tersebut, manfaatkan waktumu untuk berinteraksi dengan anggota keluarga yang lainnya juga ya.

Saat Mereka Bertanya, Sebaiknya Lontarkan Kembali Pertanyaan yang Serupa tapi dengan Nada Positif

Membangun image yang positif itu perlu. Seiring bertambahnya usiamu. Tapi tentu image yang dibangun harus dengan ketulusan hati. Seperti membuktikan kalau kamu pun sekarang sudah  bisa dewasa dalam menyikapi segala situasi yang mungkin menyulitkanmu.

Tunjukkan kalau pertanyaan atau komentar yang nyelekit tak akan mampu meruntuhkan mood baikmu dan ada baiknya kamu mengalihkan pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan kepada si penanya.

Biasanya orang akan lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya dibanding mendengarkan jawaban orang.

Kalau di Momen yang Sekarang Ini Kamu Masih Ditanya Soal Karier, Target Menikah, atau Mungkin Kapan Mau Memiliki Momongan, Hadapilah dengan Kepala Dingin dan Tetap Meminta Doa

Perihal bagaimana saudara, tante, paman, ya siapapun itu dalam lingkup keluarga besarmu yang suka bertanya soal ‘kapan’, lebih baik jawablah dengan sebijak mungkin. Tak perlu kamu emosi atau jadi malas mengobrol dengan mereka, semalas apapun itu, lawanlah egomu dan jawablah dengan tetap meminta doa. Jadi orang bijak memang sukar, tapi justru akan lebih baik untuk dirimu sendiri sekaligus belajar mengendalikan diri, bukan?

Di Hari dimana Kamu Merayakan Kemenangan, Jangan Mau Kalah dengan Situasi yang Suka Semena-mena

Coba pikirkan kembali, setelah satu bulan menahan hawa nafsu dan amarah, ini adalah momen kamu meraih kemenangan di hari Lebaran. Untuk itu, jangan mau terusik dengan omongan-omongan yang mungkin tak mengenakkan hatimu.

Fokuskan niatmu untuk menikmati kemenangan dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Toh merayakan dan menikmati kemenangan di momen Lebaran ini sepenuhnya hakmu sebagai manusia. Tak perlu lagi lah pusing-pusing mikirin mereka. Sebab belum tentu apa yang mereka ucapkan ini benar-benar dipikirkan sebelumnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengapa Laki-laki yang Sudah Melukai, Jadi Sosok yang Paling Sulit Hilang dari Hati?

Tenang, tenang ini bukan perkara belum move on atau tidak. Tapi jika saat ini, kamu sedang merasakan hal yang serupa, kamu tak sendiri.

Konon dia yang selama ini sudah berhasil melukis tawa, bisa saja jadi pihak yang melahirkan luka. Membuat kita bersedih, menangis hingga menimbulkan benci yang bisa merusak hubungan. Cinta pertama katanya akan selalu dikenang. Disisi lain, sejalan dengan itu, dia yang sulit dilupakan justru adalah sosok lelaki yang sudah melukai hatimu begitu dalam.

Berbagai upaya untuk melupakan sudah dilakukan, anehnya sosoknya justru selalu datang dalam pikiran. Lalu, apa hal yang sebenarnya menjadi penyebab dari ini semua?

Kamu Sudah Mencintai dengan Sangat Dalam, Namun Pada Waktu yang Bersamaan Ia Justru Memilih Pergi dan Melenggang

Gambarannya begini, kita mungkin sudah merasa ia adalah sosok yang akan menemani sampai akhir usia nanti. Hingga tak segan untuk percaya sepenuh hati, padahal si dia justru berbalik dan memilih untuk pindah ke lain hati.

Kecewa dan sakit hati itu wajar, karena biar bagaimana pun kita pernah saling sayang. Namun hal yang justru membuat kita sulit untuk melupakan adalah besarnya rasa sayang yang sudah kita berikan, beberapa saat sebelum ditinggalkan. Cinta boleh saja sudah dicurahkan, tapi memaksa orang lain untuk tetap tinggal jelas diluar kemampuan.

Mencoba Beralih pada Sosok yang Baru, Tapi Nyatanya Bayang-bayang Mantan Masih Seperti Hantu

Hal lain yang kita perlu ingat adalah, kisah cinta yang berakhir tak sesuai keinginan. Sudah menjadi takdir atas kehidupan. Tak bisa dicegah atau dihindari, mau tak mau memanglah harus dihadapi.

Setelah putus karena telah dilukai, beberapa orang memilih untuk buru-buru mencari mengganti. Seolah ingin membuktikan bahwa diri ini juga bisa hidup tanpa tanpanya. Tak apa memang, jika kita sudah menemukan orang yang tepat. Tapi biasanya, hal ini diputuskan hanya untuk sebuah pelarian.

Hasilnya? Bukannya membantu proses melupakan lebih cepat, menerima orang baru dengan buru-buru justru membuat kita merasa bersalah. Karena meski sudah bersamanya, sosok yang dibayangkan masih saja dia yang telah jadi cerita.

Bahkan Kenangan Buruk Akan Dirinya, Kerap Membuat Kita Takut Kembali Terluka

Bayangan yang ada dipikiran sekarang adalah dia yang tadinya kita cinta justru jadi pihak yang menggoreskan luka. Pelan-pelan membuat diri tak nyaman, sebab mencintai dia yang tadinya kita percaya akan membuat bahagia saja, akhinya berujung dengan sia-sia.

Selain hal buruk yang sering terbayang, memang masih ada jenis bahagia yang pernah dirasakan berdua. Namun, tingkat dari rasa sakit hati yang kita lalui terasa lebih tinggi. Beberapa kali demi memastikan diri, kita mungkin akan bertanya-tanya, mengapa dia yang kita cintai dengan tulus justru membuat hati terluka? Dan akhirnya kita pun masih sering tak bisa menerima orang yang sedang berusaha untuk mendekatkan hatinya kepada kita.

Takut Kehilangan Itu Sah-sah Saja, Tapi Tetap Mempertahankan Hubungan Jelas Bukan Pilihan

Tak ada yang salah dengan pilihan untuk tetap tinggal, barangkali hati mungkin berpikir bahwa sebentar lagi dia akan kembali seperti semula. Hal lain yang justru menjadi kesalahan adalah langkah apa yang akan kita ambil jika ternyata dia tak terlihat menunjukkan perubahan.

Bukan, itu jelas bukan cinta. Karena faktanya kita hanya takut kehilangan sosoknya saja. Sehingga apa pun yang ia lakukan, akan tetap kita terima dengan dada yang lapang.

Melepasnya Memang Tak Akan Mudah, Tapi Tetap Lelap Dalam Luka, Untuk Apa?

Proses melupakan seseorang yang pernah kita cinta, barangkali memang jadi sesuatu yang susah. Jatuh-bangun kita menyembuhkan luka, hingga belajar untuk ikhlas dalam menerima semua. Tak ada yang bilang ini akan mudah, tapi bukan berarti juga kita tak bisa.

Tanpa ada yang akan memaksa kita tetap tinggal lagi, sebenarnya kita berhak untuk memilih hal apa yang akan dilakoni. Namun, jika ternyata tetap berada disampingnya hanya akan membuat luka kian menganga, lantas untuk apa?

Belajarlah untuk lebih bijak dalam memilah-milah pilihan, tentang jalan mana yang harus kita ikuti dan jalani.

Cobalah Nikmati Masa Transisi Ini, Hingga Benar-benar Tak Ingat Lagi

Jangan dipaksakan untuk benar-benar melupakan dengan cepat, tapi tak juga tetap lelap dalam bayang-bayang pacar yang sudah pergi meninggalkan. Buka hati dan pikiran, lihat sosok mana yang benar-benar sayang, dan terima hal-hal yang memang sudah jadi ketentuan.

Sebab tak satu pun dari kita bisa menentukan, jalan cerita seperti apa yang besok terjadi atas kehidupan. Hal yang bisa kita lakoni hanyalah menunggu dan menjalani alur cerita yang sudah disiapkan untuk kehidupan kita.

Karena Bukan Tak Bisa Melupakan, Kamu Hanya Terlalu Mengingat Hal-hal yang Nyaman dan Lupa Pada Luka yang Juga Telah Ia Goreskan

Jika memang saat ini kamu masih saja berkutat pada proses melupakan yang tak bisa diijalankan. Cobalah fokuskan diri pada keinginan yang sedang ingin dijalani, bukan malah berdiam diri pada bayang-bayang bahagia yang dulu ada.

Tanamkan pada pikiranmu, jika lelaki itu pernah dengan tega melukai hatimu. Cobalah ingat kembali, bagaimana ia pergi meninggalkanmu saat sedang butuh, hingga tak adanya rasa bersalah dari dia yang sudah menorehkan luka.

Bukan berarti tak bisa melupakannya dia, hanya saja dirimu kurang giat mengingat luka hati yang telah dibuatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top