Feature

Berhenti Jadi Manusia Manipulatif di Sosial Media, Sebab Itu Hanyalah Bualan Semata

Tak perlu malu-malu, sudah akui saja. Kamu pasti punya setidaknya satu akun pada salah satu laman media sosial. Dari sebuah hasil temuan dan Laporan Tetra Pak Index 2017 yang belum lama diluncurkan, ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia, hampir setengahnya adalah penggila sosial media, atau berkisar di angka 40%.

Terlena dalam kenyamanan dan segala hal menarik yang kita temukan pada laman media sosial. Bahkan kita kerap lupa, jika sesungguhnya hal ini telah merusak sebagian diri kita. Dan salah satunya adalah kita kerap berusaha untuk memanipulasi kehidupan sendiri. 

Yap, di sosial media kita berubah menjadi orang lain yang mungkin sesuai keinginan followers. Bahkan kerap berusaha walau sebenarnya tak bisa. Lantas bagaimana bisa menghentikannya? Kali ini kami akan membantu kamu untuk menemukan titik keseimbangan antara kehidupan di media sosial dan aktivitas di kehidupan nyata.

Walau Selalu Ingin, Tak Ada Aturan yang Mengharuskan Kamu Untuk Terus-menerus Memantau Timeline

Platform media sosial nampaknya memang cukup lihai untuk menarik perhatian para penggunanya. Bahkan sering menjebak kita hingga berjam-jam hanya untuk memantau apa saja hal baru yang ada.

Sebagaimana data dari statistik terakhir, setiap remaja menghabiskan waktu hingga 9 jam dalam sehari di platform media sosial dan rata-rata orang dewasa menghabiskan hampir 2 jam di berbagai platform media sosial, yang jika dibandingkan angka ini jauh lebih lama dari waktu yang kita habiskan untuk berinteraksi dengan keluarga di rumah.

Lantas apa hal yang melatari ini? Jika ternyata itu semua hanya jadi kegiatan yang percuma dan sia-sia, lalu untuk apa masih dilakoni?

Pahami Batasannya, Mana Kehidupan di Sosial Media dengan di Kehidupan Nyata

Coba ingat kapan terakhir kamu mengkritik salah satu potret dari para selebriti di media sosial. Bahkan tak jarang kita mengirimkan kritik bahwa apa yang mereka tunjukkan tak sesuai dengan kenyataan. Sadar atau tidak, sebenarnya kita pun melakukan hal yang sama. Berbagi hal-hal indah, dengan potret-potret bahagia yang nyaris tanpa cela.

Masih terasa kurang, cobalah bertandang pada satu laman media sosial dari orang yang kamu kagumi. Foto berlibur di Bali, berenang di Maldives, punya pacar yang gagah, hingga hari-hari yang selalu terlihat sempurna. Tapi apakah ada yang bisa menjamin, jika yang mereka tunjukkan adalah sebuah kenyataan?

Lebih seringnya mereka sama seperti kita, hanya ingin menunjukkan pada dunia sisi-sisi yang sempurna saja. Dari sini kita belajar untuk bisa melihat lebih jelas, mana citra yang memang benar dengan yang dirancang secara sengaja.

Ikuti Apa yang Kamu Sukai, Bukan Sekedar Mengikuti Tren dan Kepopuleran Belaka

Dari sekian juta akun yang ada di sosial media, pasti ada satu akun yang dengan sengaja diikuti karena memang suka. Namun tanpa diduga ketika sedang berselancar ada saja lingkaran lain yang membuat kita akhirnya terhubung dengan akun-akun lain yang sebenarnya tak ada juntrungannya dengan kehidupanmu.

Kamu berhak atas hidup yang kamu punya, waktu dan kesempatan untuk mengikuti akun-akun tersebut. Tempatkan waktu dan kesempatan pada hal-hal yang kamu anggap penting, bukan pada apa yang menurut orang lain penting. Karena jika terus terperangkap pada alurnya, itu semua hanya akan memanipulasi minat dan kesukaan yang sebenarnya ada.

Cobalah Untuk Membagikan Hal yang Memang Benar Perlu, Bukan yang Kamu Anggap Perlu

Tak perduli apa yang sedang dilakukan, kadang kala kita merasa sangat perlu untuk membagikan hal-hal yang sejatinya tidak penting. Bahkan tanpa merasa butuh untuk memperhatikan sekeliling, kita terlalu sering untuk memikirkan apa hal selanjutnya yang akan dibagikan pada laman sosial media.

Ketakutan akan ketinggalan berita dan informasi atau FoMO, jadi sesuatu yang justru bisa memicu hal buruk pada tubuh. Bahkan, menurut Tech Times, FoMO bisa menimbulkan depresi dan kecemasan pada pengguna media sosial usia remaja.

Belajarlah untuk menikmati momen bersama dengan keluarga dan teman, tanpa harus merasa perlu untuk berbagi di laman sosmed yang kamu miliki.

Berupayalah Untuk Lebih Sering Berinteraksi dengan Orang Di Sekeliling Tanpa Harus Terus Terpaku Pada Gadgetmu

Menjadikan gadget lebih dari segalanya, kamu mungkin sering lupa bahwa ada manusia yang bisa diajak bicara. Coba hentikan sejenak aktivitasmu, lalu lihatlah sekelilingmu. Berinteraksi dengan orang lain akan membantu kita untuk lepas dari jerat gadget yang kerap membuat lupa.

Ciptakan koneksi baru yang memang akan dibangun dari interaksi tatap muka yang nyata. Bukan hanya dengan komunikasi secara virtual yang selama ini kamu lakukan. Karena percaya atau tidak, cara ini jauh lebih baik untuk membangun hubungan dengan mereka yang ada di sekeliling kita.

Tak Mesti Semua, Kamu Hanya Butuh Menyalakan Notifikasi dari Akun yang Diperlukan Saja

Demi tidak ketinggalan informasi dan update terbaru, sah-sah saja memang jika harus menyalakan notifikasi dari akun-akun tertentu. Apa lagi jika itu memang bermanfaat untuk kehidupan kita. Video yang membantu mengembangkan hobi, misalnya.

Selanjutnya demi membatasi diri agar tak berleha-leha terlalu lama, cobalah untuk menetapkan berapa lama kamu akan berselancar di dunia maya. Ini akan jadi aturan yang cukup menyenangkan. Tak membuatmu bosan, hingga tak perlu takut terperangkap lebih dalam.

Sebab Apa yang Kita Lihat Tak Selalu Benar Adanya, Cobalah Untuk Belajar Memilah-milahnya

Tanpa perlu dijelaskan, harusnya semua kita sudah paham bahwa apa yang dipertontonkan oleh media sosial tak selamanya benar. Biar bagaimana pun, kemajuan zaman dan perubahan cara interaksi yang kini digantikan oleh  media sosial, jelas punya nilai baik yang juga bisa kita rasa.

Hal yang perlu kita lakukan hanyalah bijak dalam memahaminya. Mengutip apa yang dirasa berharga, tanpa harus merengkuh semuanya. Beranilah untuk menggunakan lebih banyak logika daripada perasaan yang tak semestinya. Pahami mereka yang kita lihat, dengan memahami diri sendiri juga.

Karena kita hidup di dunia nyata, bukan di dalam kehidupan virtual yang ada di dunia maya. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

5 Bantahan Terhadap Argumentasi Konyol Penolak Vaksin MR

Kamu termasuk yang mana, pendukung vaksin MR atau mereka yang menolak? Yup, dalam satu bulan terakhir dunia maya dibuat berisik soal urusan Vaksin MR ini. Tak percaya? Google bahkan menangkap kenaikan hingga lebih 1000 persen perbicangan soal ini. Penyebabnya apa? Tak lain karena menguatnya debat antara para pendukung vaksin dan mereka yang anti vaksin tadi.

Masing-masing punya argumen. Tapi ini soal kesehatan yang sudah selayaknya tak dijadikan bahan debat apalagi cuma jadi penghias gadget dan linimasa semata. Karena Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Mengerikan bukan? Lantas kenapa masih saja ada yang menolak vaksin MR ini? Karena mereka punya alasan yang sesungguhnya sudah bantahannya.

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Sebetulnya mereka yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Belum Bersertifikat Halal, Bukan Berarti Lantas Haram

Nah ini yang bikin ramai kemarin. Vaksin MR dikabarkan haram dan tidak boleh digunakan oleh mereka yang muslim. Padahal informasi tepatnya, vaksin MR ini sertifikasinya sedang dalam proses pengurusan.

Analogi sederhananya begini. Ketika kita membeli mie ayam atau ketoprak yang lewat di depan rumah, pernahkah kita mencap makanan tersebut haram karena tidak ada sertifikat halalnya? Kenapa kita bisa tenang saja dan tak mempermasalahkan makanan tersebut? Kalau untuk perkara yang lebih ringan saja kita bisa melihatnya secara jernih, kenapa pulak untuk urusan mendesak macam vaksin MR kita begitu ngotot?

Apalagi urusan vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Kalau sudah ada fatwa berhukum Mubah dari para ulama macam ini, kenapa masih harus ragu lagi?

Paling Konyol Adalah Tuduhan Vaksin MR Dibuat Dari Darah Pelacur

Mungkin ini tuduhan paling gila dan brutal. Disebarkan isu bahwa vaksin MR ini dibuat dari campuran darah pelacur dan darah para penjahat. Jelas ini tuduhan yang begitu sesat. Karena vaksin MR ini merupakan produk kesehatan yang harus melalui uji yang ketat. Proses berisiko seperti menggunakan darah apalagi darah pelacur dan penjahat jelas tidak mungkin dilakukan.

Vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. Apa iya 141 negara itu akan diam saja kalau vaksin MR dibuat asal-asalan seperti tuduhan itu?

Efek Samping Vaksin MR Hanya Minor Dan Nyaris Tidak Dirasakan

Salah satu alasan orang tua menolak anaknya di vaksin MR adalah karena adanya isu bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hingga saat ini tidak ada studi yang membenarkan isu tersebut.

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Ambil contoh misalnya jika anak kita sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Masalahnya jika sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anak kita memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin.

Jadi kalau masih ngotot tak mau ikut vaksinasi rasanya tepat idiom yang tersebar selama ini. Tak masalah kamu tidak mau ikut vaksin, tapi silahkan mengasingkan diri jauh-jauh dan jangan tinggal dekat kami yang memilih untuk ikut vaksinasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Tunggu Inspirasi, Tapi Teruslah Motivasi Diri Agar Karir Sukses Tanpa Tunggu Nanti

Siapa sih yang tidak ingin sukses dalam berkarir? sepertinya itu sudah absolut, karena kesuksesan akan berimbas kepada kehidupan yang sejahtera. Tetapi kalau berbicara soal sukses, banyak orang yang mengatakan dan menginginkan tapi tak ada satu tindakan yang benar-benar mengisyrakatkan mereka sedang berjuang meraih kesuksesan. Dengan alasan mereka sedang menunggu inspirasi datang, apakah benar inspirasi salah satu upaya menuju kesuksesan?

Kesuksesan yang kamu bangun sebenarnya tidak butuh datangnya inspirasi, tetapi bagaimana caranya kamu dapat memotivasi diri. Motivasi untuk menggapai sesuatu pastinya akan memunculkan ide-ide kreatif dalam merangkai kesuksesan. Ingat tak ada kesuksesan tanpa tindakan, dan kesuksesan dibangun dari proses panjang bukan bermodalkan keberuntungan. Menurut John C Maxwell dalam bukunya Success One Day At A Time ada beberapa fakta tentang orang sukses dalam berkarir.

Tetapkan Sasaran yang Tepat dalam Mencapai Kesuksesan, Mulailah Sebelum Terlambat

Untuk melihat hasil positif dari apa yang kamu lakukan adalah tumbuhkan komitmen di setiap hari. Agar kamu tidak kendur dan tetap bersemangat. John C Maxwell mengingatkan bahwa ada kekeliruan kenapa orang tak kunjung sukses karena fokusnya yang terpecah dan salah. Jika kamu menetapkan sasaran untuk tumbuh setiap hari, maka hasil positif itu akan terlihat terutama dengan membuat sasaran tepat jangka pendek dan jangka panjang yang tepat.

Gali Potensi Dalam Diri, Teruslah Berpacu Dengan Kemampuan yang Tak Kamu Sadari

Banyak orang yang merasa kalau ia sudah mengeluarkan semua kemampuan yang ia miliki, padahal ada kemampuannya yang masih belum digali. Kenapa ini bisa terjadi? karena rasa puas yang mengandrungi diri sendiri. Agar kamu dapat naik ke tingkat karir yang lebih tinggi, bulatkan tekad untuk terus memperbaiki diri sendiri dengan mengeluarkan seluruh potensi. Karena proses perubahan dan pertumbuhan memiliki nilai yang baik terhadap pembelajaran dalam diri.

Kesempatan Biasanya Akan Kalah Dengan Kesenangan yang Kamu Utamakan

Di usia muda belia, banyak hal yang mendistraksi otak kalian untuk melakukan hal yang sifatnya bersenang-senang.  Seperti pepatah mengatakan, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Apa yang kamu tanam adalah apa yang kamu tuai, sehingga kalau masa muda kamu hanya dihabiskan dengan bersenang-senang, jangan harap kesuksesan akan datang. Justru orang yang berusah payah di masa sekarang pasti ada ganjaran besar yang sepadan dengan apa yang mereka perjuangkan.

Jangan Takut Untuk Bermimpi, Selain Gratis Mimpi Adalah Refleksi Besar Bagi Perubahan Mencapai Kesuksesan

Jangan mimpi terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit begitu kata orang-orang di luar sana ketika kamu sedang berandai-andai. Ingat bahwa tidak ada batasan seseorang dalam bermimpi, jadi bermimpilah setinggi-tingginya. Karena apabila mimpi itu kamu kejar pasti mereka akan mengejarnya dan melampaui keterbatasan. Potensi manusia seyogyanya tidak terbatasan dan masih banyak hal yang dapat dieksplore dan dijelajahi. Tetapi kalau kamu memiliki anggapan ini sudah melampaui batas, itu kamu sendiri yang menciptakan batasan itu, ya kan?

Prioritaskan Hal yang Ingin Kamu Kerjakan, Aturlah Waktu Sesuai Kemauan

Mengatur waktu sesuai kemauanmu bukan berarti kamu dapat meremehkan waktu. Waktu itu ibarat pedang yang dipakai terus menerus, pasti akan tumpul dan tidak bisa kembali tajam. Kalau kamu kerap menyia-nyiakan waktu tentu akan sangat rugi, sukses dalam berkarir adalah memiliki kemampuan dalam mengatur waktu. Henry Kaiser, salah seorang pendiri perusahaan sukses pernah bertaka. “Setiap menit yang diinvestasikan dalam perencanaan akan menghemat dua menit waktu pelaksanaan.”

Bagaimana apakah kamu masih menunggu inspirasi menjadi sukses? atau sudah mulai membangunkan motivasi dalam diri?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Pelajaran Berharga yang Bisa Kamu Ambil dari Kisah Cinta Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan

Kamu tentu tak asing kan dengan sosok Mark Zuckerberg, founder facebook yang masuk ke dalam jajaran orang terkaya vesi Forbes. Hidup dengan sederhana yang membuat banyak orang terkesan, memang ada banyak pelajaran yang bisa kamu ambil dari kehidupan mereka. Yap, Tak hanya karirnya yang bisa menginspirasi banyak orang, kamu pun bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah cinta Mark dan istrinya, Pricilla.

1. Mereka Memilih Menikah dengan Pesta yang Sederhana

Mark dan Priscilla memilih untuk menggelar pesta pernikahan yang sederhana meski Mark sudah memiliki harta yang melimpah. Ya, pasangan ini memang memiliki cara yang berbeda untuk menciptakan sebuah momen istimewa dalam kehidupan mereka.

2. Mereka Saling Menghargai Meski Memiliki Latar Belakang yang Berbeda

Pasangan ini memiliki latar belakang budaya yang berbeda, namun mereka saling menghargai dan menerima budaya dari masing-masing. Perbedaan yang ada di antara mereka tak menyurutkan rasa cinta yang mereka miliki satu sama lain.

3. Priscilla Setia Mendampingi Mark dari Titik Terendah Sampai Titik Saat Ini

Sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, Mark dan Pricilla sudah berpacaran selam kurang lebih 9 tahun. Priscilla pun selalu setia mendampingi Mark dari titik terendahnya sampai saat ini Mark sudah menjadi seorang yang sukses.

4. Mereka Memiliki Cara Romantis Tersendiri untuk Menjaga Keutuhan Hubungan Mereka

Jauh dari cara mewah, pasangan ini memiliki cara tersendiri untuk terus menjaga keutuhan hubungan mereka. Mereka selalu melaksanakan satu kali kencan dalam satu minggu, minimal 100 menit, tidak di apartemen Mark dan tak membahas sedikit pun tentang facebook. selain itu, cincin pernikahan untuk melamar Pricilla pun dibuat dengan desain yang dibuat sendiri oleh Mark.

5. Mereka Memiliki Ikatan yang Kuat dan Tak Hobi Pamer Kemesraan

Meski mereka tak suka memamerkan kemesraan mereka di depan banyak orang, justru ikatan keduanya sangatlah kuat. Mereka hanya ingin kemesraan mereka dinikamati berdua saja, tanpa harus menjadi konsumsi publik secara umum.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tahu Hanya dari “Katanya”, Pantaskah Kita untuk Menilainya?

Terdengar konyol memang, jika harus buru-buru marah untuk sebuah ucapan yang hanya bersumber dari mulut orang. Tapi mau kita akui atau tidak, diri ini pasti pernah marah pada seseorang, hanya karena katanya ia menjelek-jelekkanmu dibelakang. Memandang seseorang buruk, hanya karena katanya kawan lain ia bukanlah orang baik. Hingga ikut-ikutan memusuhi tetangga dengan alasan serupa, ya “katanya”.

Benar memang, kita memang boleh saja merasa berhak untuk membuat satu pernyataan tentang seorang kawan. Tapi, jika semua informasi yang kita terima hanya datang dari sesuatu yang “katanya”, apa iya apa yang kita lakukan sudah benar? Ingat ya, penampilan tak selalu menentukan sikap asli seseorang, apa yang kita lihat buruk belum tentu buruk sungguhan. Apalagi jika hanya kata orang, bukan dari sesuatu yang memang kita lihat langsung.

Dengar, Tak Semua Orang Senang Melihatmu Punya Teman

Nah, bukannya berpikiran buruk pada orang, tapi faktanya beberapa orang tak suka kita acap kali menjelma jadi seorang sahabat karib. Mendekapmu erat, untuk bisa lebih mudah tahu titik lemahmu. Berpikir, bahwa cerita bohongnya bisa berhasil. Ucapan dan penyatannya tentang seseorang yang katanya berkata buruk padamu, bisa saja lahir dari karangan pribadi.

Ini bukan tentang ingin menunjukkan kebenaran padamu, ia hanya ingin mengajakmu membenci orang lain yang mungkin tak ia senangi. Dengan begitu, hubunganmu dengan si dia yang tadi ia jadikan tersangka mungkin akan renggang. Sampai, sini harusnya kamu paham. Bahwa beberapa orang senang, melihatmu membenci dan dibenci orang.

Memilah-milah Lingkungan Boleh Saja, Tapi Selalu Percaya “Katanya” Belum Tentu Benar

Segala sesuatu yang ingin dilakoni, memang jadi tanggung jawab pribadi. Tak ada yang bisa menahan, apa yang kita ingin ya cobalah untuk dilakukan. Tapi termakan hasutan yang tak benar, jelas jadi sebuah kesalahan. Jauhi dia, jika memang menurutmu ia memberi pengaruh buruk bagimu, tapi jika pandangan buruk tentangnya hanya kau dapat dari apa kata orang. Sebaiknya, pikirkan kembali. Benarkah orang tersebut sudah mengatakan yang sesungguhnya? Karena jika ternyata salah, apa hak kita untuk bilang tak baik?

Untuk Lebih Paham, Coba Balik Situasinya

Yap, barangkali ini akan mempermudah kita memahami kondisinya. Coba bayangkan, dirimu adalah seseorang yang memang terbilang tak suka bergaul dengan banyak orang. Jarang ikut nimbrung pada obrolan orang, lalu mendadak disebut sebagai sosok anti sosial oleh seorang teman, yang kemudian disebarkan pada lebih banyak kawan. Hasilnya, kamu dijauhi oleh mereka. Padahal, apa yang telinga mereka dengarkan hanya bersumber dari kata satu orang yang sebenarnya tak begitu adanya.

Setiap sikap dan tindakan yang dilakukan seseorang, pastilah punya alasan. Begitu pula sikap temanmu, rekan kerja, keluarga atau bahkan siapa saja yang kamu kenal. Tapi, bagaiamana rasanya, disebut-sebut sebagai sosok yang sebenarnya bukanlah dirimu? Tentu tak enak kan? Kalau memang tak suka, jangan berbuat hal serupa.

Mengenal Karakter Seseorang Itu Tak Gampang, Apalagi dengan Modal Kata Orang

Tanpa harus kujelaskan, kamu pasti paham. Untuk bisa menggali dan mengenali ruas sisi dari pribadi seseorang, butuh waktu yang cukup lama. Kamu, tak bisa seenaknya bilang orang lain angkuh hanya karena katanya tak pernah bertegur sapa dengan orang lain.

Untuk itu, sebelum memberanikan diri untuk membuat satu pernyataan tentang oponimu atas karakternya. Cobalah kenali dirinya lebih dalam, sehingga kamu bisa tahu bagaimana dirinya yang sesungguhnya. Tapi, tetap saja tak ada manusia yang paling berhak untuk menentukan baik dan buruknya seseorang. Menilainya, bukanlah tugasmu. Kecuali dia sendiri yang memintanya.

Kalau Memang Penasaran, Coba Tanya Langsung Pada yang Bersangkutan

Kalau memang masih merasa ingin membuat satu pernyataan tentang dirinya. Cobalah tanya sendiri pada orangnya, bukan hanya dengar apa kata orang saja. Sampaikan pada dirinya, apakah semua ucapan orang lain tentang dirinya benar atau tidak? Setidaknya ini akan jadi jawaban yang sedikit membantu. Layakkah kita memberinya sebuah label atas, apa yang selama ini kita dengar?

Selanjutnya Kita Akan Paham, Seberapa Hebatpun Kamu Menilai Seseorang Bukanlah Tugasmu

Inti dari semua hal yang tadi kita bicarakan, memang tetap jatuh pada pandangan bahwa manusia bukan Tuhan. Tak ada yang berhak untuk menilai seseorang dengan modal dengar kata orang. Tidak pula, merasa layak untuk menguatarakan pendapat atas seseorang karena oranglain juga membicarakan orang tersebut.

Simpan semua keinginan untuk menyudutkan dan membicarakan orang, apalagi jika semuanya hanya bersumber dari ucapan-ucapan yang tak jelas kau dengar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top