Feature

Berdasarkan Riset, Millenial Justru Lebih Rentan Selingkuh

Saat berpacaran atau menjalin hubungan, tentunya tak ada yang ingin pasangannya selingkuh. Hubungan jangka panjang hingga maut memisahkan jelas didambakan setiap orang sampai kapan pun. Namun, cita-cita semacam itu tentu tak akan terwujud kalau salah satu dari pasangannya justru tergoda untuk selingkuh bukan?

Untukmu para millenials yang sedang membaca tulisan ini, bukan maksudnya untuk menilai angkatan kalian sebagai generasi yang tak setia. Hanya saja, semoga lewat tulisan ini para millenials—yang mungkin membacanya bersama pasangan justru berani membuktikan bahwa kamu dan pasanganmu bukanlah salah satu dari millenials yang dimaksudkan oleh para peneliti. Semangat ya, terkhusus dalam mempertahankan hubungan!

Faktor Pertama yaitu Soal Ketergantungan. Pasangan Millenials yang Sudah Meyakini Hubungan Mereka Tak Akan Goyah, Justru Ingin Cari Hal Baru yang Dianggap Lebih Menantang

Mengutip dari Daily Mail, para millenials membuka kesempatan untuk selingkuh lantaran adanya rasa ketergantungan yang tinggi. Mereka memiliki pacar dan merasa bergantung kepada mereka. Ya, soal bergantung bukan berarti saling menjaga dan mengusahakan untuk selalu ada, tapi mereka meyakini kalau hubungan mereka akan baik-baik saja dan tak akan goyah. Nah justru karena hal itu, mereka justru jadi tertantang untuk melakukan hal-hal baru yang lebih ekstrim. Seperti dengan selingkuh secara diam-diam.

Usia yang Terbilang Muda Membuat Mereka Merasa Bebas dan Sukar Dikekang. Apabila Terlalu Diikat, yang Ada Mereka Justru Punya Keinginan untuk Berontak

Ya, millenials memang identik dengan jiwa yang bebas dan membuat mereka enggan untuk diatur-atur dalam kehidupan. Termasuk dalam menjalani hubungan. Apabila mereka bertemu pacar yang justru membuat peraturan tertentu meski untuk kebaikan bersama, ada kalanya millenials justru merasa terkekang dan tak suka dengan hal-hal semacam itu. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk selingkuh. Hal ini dianggap ‘lumrah’ sekaligus bukti adanya jiwa yang ingin memberontak. Mereka ingin membuktikan bahwa dengan ‘dia yang baru’ pun, mereka bisa merasakan kebahagiaan itu.

Millenials Dikatakan Mudah Bosan dan Cenderung Suka Mengeksplorasi Tantangan Baru demi Mencari Kepuasan Tersendiri

Salah satu sifat yang paling terlihat dari generasi kita adalah tak pernah merasa puas. Ya, para millenials melihat tak hanya dari satu sisi. Tapi bisa datang dari berbagai sisi bahkan dalam bentuk yang bervariasi. Saat berpacaran dengan seseorang tak bisa memuaskan dari berbagai sisi, mereka lantas akan mencari orang lain untuk melengkapi kepuasan diri. Kalau rasa untuk mencari puas itu semakin membelenggu diri dan tak bisa dikontrol, maka siap-siap saja berarti kamu yang membuat pintu perselingkuhan terbuka lebar.

Sifat Setia pun Susah Berkembang dari Kebanyakan Millenials

Tracey Cox, seorang sex and relationship expert mengungkapkan bahwa millenials adalah generasi yang telat dewasa. Jika dibandingkan dengan generasi terdahulu yang sudah mengikat janji setia di umur 20-an dan bisa seterusnya bersama, nah millenials ini justru berlaku sebaliknya. Ya, di usia awal hingga pertengahan 20-an mereka masih menikmati masa remaja yang harusnya sudah terlewati. Kedewasaan yang telat dibentuk inilah yang menyebabkan sukarnya mereka menerima adanya komitmen setia yang harus dijaga. Tak heran, yang namanya selingkuh atau meninggalkan pasangan dilihatnya bukan sebagai masalah yang serius.

Media Sosial Punya Andil Menciptakan Distraksi dalam Cara Pandang Mereka Terhadap Suatu Hubungan

Ya, media sosial sangat berpengaruh dalam menciptakan pola pikir berani berselingkuh. Di internet dan media sosial, mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan eksistensi. Namun tak cuma soal eksistensi, lama-lama distraksi pun terjadi lantaran mereka kesulitan menangkap makna sebuah hubungan jangka panjang tanpa diselingi konflik selingkuh. Mereka selalu berprinsip rumput tetangga selalu lebih hijau. Ya, semacam terbersit rasa tak ingin kalah jika teman atau kolega punya pasangan yang tampak mentereng. Demi memenuhi hasrat inilah, tak sedikit millenials yang akhirnya mengorbankan hubungan yang telah dibangun lama demi mengejar seseorang lainnya yang mungkin hanya terlihat apik di depan kamera.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Siap Hidup Susah, Tapi Harusnya Lelakiku Tak Akan Membiarkannya

Fakta tentang menjalani hidup berdua dari titik terendah sampai mas-masa bahagia. Tentu terdengar begitu manis di telinga. Dipercaya jadi bukti nyata dari cinta, beberapa lelaki akhirnya berpikir bahwa perempuannya haruslah mau diajak susah. Kalau tidak, itu artinya dia tak benar-benar cinta.

Eits, tunggu dulu sayang. Aku rasa kamu perlu berpikir sebentar. Tentang bagaimana ayah dan ibuku susah payah membuatku bahagia. Lalu sekarang, tiba-tiba kamu datang untuk mengajak hidup susah. Ini bukan perkara cinta atau tak cinta. Tapi lebih ke bagaimana kesiapanmmu untuk hidup berdua. Karena jika memang benar-benar sayang, kamu tentu akan selalu membuatku bahagia, bukan malah mengajak hidup susah.

“Kita ngontrak dulu ya, sembari nyicil rumah” jauh lebih terdengar bertanggung jawab daripada “Mau beli rumah gimana, hidup juga masih gini-gini aja”. Kalau sama kemampuan diri sendiri saja kamu sudah tak percaya, bagaimana bisa bertanggung jawab atas hidup kita nanti? 

Disamping itu, aku pun tahu jika segala sesuatu butuh proses. Sebelum bisa duduk bersantai di akhir pekan, kita berdua mungkin akan kerja keras, walau di hari libur, demi kebutuhan lain yang sudah menunggu. Tak apa, kupikir ini memang akan jadi bagian dari proses yang harus kita jalani bersama. Tapi, berbeda cerita, jika ajakan hidup susah bersama kamu sampaikan karena kesalahan dalam membuat keputusan. Bukan tak cinta atau tak siap menderita, tapi diriku berhak untuk menolaknya.

Tak perlu terburu-buru, kita masih punya waktu untuk mengatur dan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Lagipula, hidup berdua bukan perkara mudah. Sebab cerita kita bukan hanya tentang bahagia saja, ada sekelumit cerita sedih yang juga bisa menghampiri diri kapan saja. Untuk bisa siap menghadapinya, kita butuh kuda-kuda yang tak sekedar kata ‘pasrah’ dan ‘jalani saja’.

Tak ada yang mengejar kita. tak juga diminta oleh keluarga agar segera menikah. Lantas apa yang kau jadikan alasan untuk menikah dalam waktu dekat? Lupakan puluhan undangan yang sudah datang tiap akhir pekan. Tak semua pencapaian orang harus kita jadikan patokan. Membangun bahtera hidup berdua adalah perkara besar. Ada ribuan kesiapan yang harus direncanakan dengan cepat dan perlahan.

Serupa denganmu, aku pun percaya jika rejeki bisa datang kapan saja. Tapi disamping itu semua, kita juga perlu menjalankan logika. Berpikir rasional untuk segala kemungkinan. Sebab, sebuah persiapan matang saja masih bisa berjalan melenceng dari rencana, apalagi yang tak ada persiapan apa-apa?

Rasa sayang dan cintaku tak perlu kamu pertanyakan, tapi jika kamu datang untuk memintaku mengiyakan ajakan hidup susah. Kupikir aku punya hak untuk menolaknya!

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Di Film Chapter 3-nya, John Wick Makin Gila

Kalian yang sudah menonton 2 seri film sebelumnya, pastilah setuju jika sekuel ‘John Wick’ jadi salah satu film laga terbaik yang pernah ada. Tak banyak basa-basi, keseruan yang ditampilkan berjalan dengan euforia ketengangan yang cukup mengesankan. Baku hantam tanda ampunan, barangkali itu jadi sesuatu yang akan melekat di ingatan.

Keanu Reeves, seorang pembunuh bayaran kelas kakap yang sedang berusaha untuk pensiun. Jadi pesona yang akan membuat semua orang jatuh cinta pada John Wick. Setelah proses syuting yang sudah dirampungkan tahun lalu. Trailer film ketiganya, baru saja dirilis pada Kamis (17/1) lalu. Selain membuat diri makin tak sabar, cuplikan dari trailer ini memperlihatkan satu adegan yang cukup membuat orang penasaran. Yap, John Wick bakalan naik kuda untuk menghajar para pembunuh yang ingin mematikannya.

Mengusung judul John Wick: Chapter 3 – Parabellum, seri ini akan dimulai dari lanjutan film sebelumnya. Ketika John dikeluarkan dari organisasi pembunuh bayaran yang selama ini jadi tempat ia bekerja. Resikonya? Siapapun diperbolehkan untuk merenggut nyawanya. Bahkan ada imbalan 14 Juta Dollar, untuk yang berhasil membunuhnya.

Tapi bukan John Wick namanya, kalau tak bisa melawan semua pasukan yang menghadangnya, termaksud aktor laga tanah air yakni Cecep dan Yayan Ruhiyan. Ya, walaupun pasti ada beberapa adegan yang akan membuatnya berdarah-darah juga.

Masih disutradarai oleh Stahelski, bisa dipastikan John bakalan tetap hidup dan melawan semua orang. Lagipula, kali ini, John Wick akan dibantu oleh Sofia (Halle Berry), pembunuh bayaran yang ingin John tetap hidup. Nah, akan bagaimana aksi mereka. Silahkan saksikan sendiri tanggal 17 Mei 2019 nanti. Sekarang tonton trailernya aja dulu. 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

7 Alasan yang Membuat Anak Sulung Laki-laki Pantas Disebut Mantu Idaman

Anak sulung memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam keluarga. Tak jarang anak sulung juga harus rela berkorban demi adik-adiknya. Hal inilah yang membentuk karakter anak sulung laki-laki pantas disebut sebagai menantu idaman. Masih belum percaya? Berikut ini alasannya.

1. Pekerja Keras

Anak sulung merupakan penjaga utama saat orangtua sudah tidak ada. Mereka harus berjuang lebih untuk bisa melindungi dan bertanggung jawab atas adik-adiknya. Akhirnya mereka pun akan tumbuh menjadi sosok pekerja keras yang dapat diandalkan keluarga.

2. Memiliki Kedekatan Lebih dengan Orangtua

Biasanya anak sulung cenderung lebih dekat dengan orangtuanya. Jika seseorang sudah dekat dengan orangtuanya, bukan hal yang mustahil untuknya bisa dengan mudah dekat dengan mertuanya juga.

3. Dapat Diandalkan dalam Berbagai Bidang

Anak sulung harus menjadi sosok yang senantiasa siaga saat orangtua membutuhkan bantuan. Mereka harus siap membantu ayah membersihkan kebun atau membantu ibu memasak. Inilah yang membuat mereka tumbuh menjadi sosok yang bisa diandalkan saat berumah tangga kelak.

4. Memiliki Pola Pikir yang Dewasa

Menjadi anak sulung memaksa mereka untuk menjadi lebih dewasa. Mereka harus mampu menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Sikap dewasanya ini juga yang akan membuat mereka tak akan mudah emosi atau naik pitam saat ada masalah yang datang.

5. Memiliki Jiwa untuk Mengayomi

Anak sulung terbiasa mengalah dengan adik-adiknya baik dalam hal apapun. Hal ini membentuk mereka tumbuh menjadi sosok pengayom bagi saudara-saudaranya. Jika nanti mereka sudah berkeluarga, tentu saja mereka bakal mengayomi anak dan istrinya dengan baik.

6. Terbiasa untuk Bertanggung Jawab

Anak sulung laki-laki terbiasa menjadi sosok yang bertanggung jawab bagi adik-adiknya. Mereka sudah biasa membantu adik-adiknya dalam menyelesaikan berbagai masalah. Tak heran jika nantinya saat sudah berkeluarga mereka pun pasti mampu menjadi sosok pemimpin yang bertanggung jawab.

7. Pemimpin yang Baik

Anak sulung laki-laki sudah terbiasa menjadi pemimpin bagi adik-adiknya, Itulah yang membuat mereka mampu menjadi kepala keluarga yang baik. Tentu saja mereka adalah sosok mantu idaman juga dalam keluarga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top