Feature

Benarkah Semakin Cepat Menikah, Semakin Baik?

Menilik dari batas usia ideal untuk menikah sesuai Undang-undang, laki-laki yang berusia 19 tahun dan perempuan yang berusia 16 tahun memang sudah diperbolehkan untuk menikah. Barangkali itulah sebabnya, mengapa menikah muda jadi pemandangan biasa di negara kita.

Terlepas dari keinginan tersebut memang datang dari si lelaki atau perempuan, menikah di usia yang masih belia tentu bukanlah rentang usia menikah yang paling ideal. Sialnya, banyak kita yang masih belum sadar.

Dari data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), adat dan kehamilan di luar nikah jadi penyebab yang paling banyak mengapa para remaja berusia akhir belasan dan awal 20-an menikah muda. Dan kenyataan lain yang kian membuat hati teriris adalah, lebih dari 50 persen dari pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian atau kekerasan.

Belum cukup dewasa, tak matang dalam pola pikir, dan tak punya kemampuan menyelesaikan masalah yang baik. Konflik yang terjadi dalam rumah tangga, jelas berbeda dengan apa yang pernah mereka alami ketika berpacaran. Dan biasanya, faktor-faktor inilah yang jadi pemicu.

Padahal Menikah Muda, Bisa Jadi Ancaman untuk Kesehatan Kita

Selain tekanan atas kehidupan rumah tangga yang nanti akan dijalani. Orang yang menikah muda juga akan berhadapan dengan masalah kesehatan. Yap, perempuan yang menikah muda dalam usia remaja. Memiliki peningkatan resiko dari kesehatan organ reproduksi.

Mulai dari keguguran, kematian bayi, kanker serviks, penyakit kelamin, hingga gangguan mental akibat tekanan sosial untuk memikul tanggung jawab orang dewasa di usia yang belum cukup dewasa.

Lalu, Berapa Usia yang Baik untuk Seharusnya Menikah?

Data statistik dari berbagai hasil studi menyatakan, jika orang-orang muda perlu bersabar sebentar. Untuk kemudian memutuskan untuk menikah. Karena kamu perlu tahu, jika angka perceraian bisa merosot hingga 50 persen. Ketika kamu memilih menikah di usia 25 tahun ke atas dibanding menikah di usia awal 20-an.

Untuk itulah sebuah studi terbitan Journal of Social and Personal Relationship tahun 2012 mengatakan bahwa 25 tahun adalah batas usia paling ideal untuk menikah. Sementara itu, Biro Sensus AS tahun 2013 melaporkan jika usia ideal menikah adalah dimulai dari usia 27 tahun untuk perempuan dan 29 untuk si pria.

Dengan demikian, bisa disimpulakan jika batas usia idel terbaik untuk menikah adalah pada rentan usia 28 hingga 32 tahun. Di Indonesia sendiri, BKKBN menilai usia ideal menikah untuk perempuan Indonesia seharusnya minimal 21 tahun.

Karena Semakin Dewasa Kita, Semakin Bijaksana Pula dalam Mempertimbangkan Segalanya

Pertengahan usia 20-an hingga awal 30-an, disebut-sebut sebagai rentang usia ideal untuk seseorang melakukan pernikahannya. Dan faktor kedewasaan, jadi salah satu komponen baik yang bisa mempertahankan hubungan pernikahan. Tapi untuk perihal dewasa, usia tak selalu bisa jadi tolok ukur untuk menilai. Kemampuan kita mengelola emosi dan bertindak untuk menentukan pilihan adalah kekuatan yang jauh lebih penting untuk diperjuangkan.

Kedewasaan akan membuat kita lebih mengerti, apa saja hak dan tanggung jawab yang harus kita miliki demi tujuan hidup yang harus dijalani. Dan tak hanya kematangan fisik saja, finansial yang lebih stabil pun jadi kekuatan yang akan menyokong pernikahan.

Dan Selain Kesiapan Mental, Ternyata Tingkat Pendidikan Juga Mempengaruhi Kelanggengan Hubungan

Tak hanya soal fisik dan kedewasaan saja, ternyata tingkat pendidikan juga memiliki peranan dalam pernikahan. Percaya atau tidak, menurut sebuah studi Family Relation tahun 2013, seseorang yang memilih menikah hingga berhasil menyabet gelar sarjana dipercaya lebih langgeng berumah tangga dari mereka yang berpendidikan rendah.

Ini terdengar masuk akal, karena seseorang yang duduk di bangku kuliah biasanya memiiki pandangan yang luas akan segala sesuatu. Pandangan ini pelan-pelan akan membentuk pribadimu, hingga lebih mudah berkompromi selama menjalani hubungan.

Jadi Kapan Mau Nikah? Nanti, Ketika Kamu Siap dan Yakin untuk Menjalaninya

Namun pada akhirnya, pihak paling berhak untuk menentukan kapan kamu akan menikah. Adalah seseorang yang selama ini sulit kamu mengerti apa maunya. Ya, dia adalah dirimu sendiri. Tak peduli menikah pada usia 20-an, 30-an, atau 40-an sekalian, kamu tetap jadi yang paling berhak untuk menenukan dengan siapa kamu akan benar-benar menikah.

Tak ada yang melarang untuk menikah muda, tapi dirimu pun perlu paham apa saja yang kelak kamu rasakan ketika menikah di usia yang sudah tak lagi muda. Pikirkan semuanya dengan matang, lalu tentukan jika kamu memang sudah merasa cukup kuat untuk menghadapi sebuah pernikahan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Bayi Berusia 4 Bulan di Sumsel Meninggal Dunia, Karena Asap Kebakaran Hutan

Kabakaran lahan hutan yang mengakibatkan kabut asap di beberapa wilayah Sumatera Selatan kini menelan korban jiwa. Elsa Fitaloka, seorang bayi perempuan yang masih berusia 4 bulan asal Banyuasin, dinyatakan meninggal dunia akibat Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

“Ada bayi meninggal dunia sekitar pukul 18.35 WIB ketika dirawat di rumah sakit. Menurut analisa awal akibat ISPA,” ucap anggota BPD Dusun III, Talang Buluh, Banyuasin, Agus Darwanto, saat dikonfirmasi lewat telepon, Minggu (14/9/2019), sebagaimana dikutip dari laman detik.com. 

Lebih lanjut, Agus mengaku korban Elsa adalah warganya. Bayi tersebut adalah anak dari pasangan Nadirun dan Ita Septiana.

“Mulai sesak nafas kemarin malam dan masih di rawat di rumah. Tadi pagi lihat kondisinya semakin parah, dirujuklah ke rumah sakit Ar-Rasyid di Palembang dan meninggal,” kata Agus.

 

Dikatakan Agus, dari diagnosa awal Elsa disebut terkena serangan ISPA. Elsa pun sempat diminta dirujuk ke RS Muhamad Hoesin Palembang, namun saat itu tidak ada kamar kosong.

“Sempat dibawa ke bidan desa, kata ibu bidan sudah parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Itulah kami bawa ke rumah sakit Ar-Rasyid untuk penanganan,” jelas Agus lebih lanjut.

“Diagnosa awal dokter bilang kena ISPA, Elsa juga kemarin memang sesak nafas. Itu bersamaan saat kabut asap kemarin tebal sekitar pukul 23.00 WIB,” sambung Agus lagi.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin, Hakim mengaku pihaknya sudah menurunkan tim ke rumah sakit Ar-Rasyid tempat korban awal dirawat.

“Kami sudah dapat info dan langsung diterjunkan tim ke sana sekarang juga. Kami turut berduka cita,” kata Hakim.

Beliau menyebutkan jika kondisi kabut asap yang tebal, dia sudah menghimbau agar masyarakat menggunakan masker. Termasuk menghimbau dan mengurangi kegiatan di luar rumah.

“Keadaan asap tebal ini jangan keluar rumah kalau tidak penting. Sebaiknya memakai masker, di Dinas Kesehatan dan perangkat telah siap 24 Jam untuk melayani masyarakat,” pungkas Hakim.

*Featured Images : Ilustrasi/Pixabay

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Adela Resmi Layangkan Gugatan Cerai pada Sang Suami

Kabar tak megenakkan, baru-baru ini datang dari pelantun lagu ‘All I Ask”, Adele. Yap, belum lama ini, ia mengumumkan perpisahannya dengan sang suami, Simon Konecki. Dan kini, penyanyi perempuan berusia 31 tahun tersebut secara resmi melayangkan gugatan cerai pada suaminya.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh oleh pihak Adele melalui sebuah pernyataan yang dikutip dari E! News, Jumat (13/9), dimana Adele menggugat cerai Simon setelah 8 tahun, dan memutuskan akan merawat anak mereka, Angelo, bersama-sama.

“Mereka berkomitmen untuk membesarkan Angelo bersama dengan penuh cinta,” ungkapnya sang sumber.

Akan tetapi, hingga ini dituliskan, baik Adele maupun Simon Konecki masih belum angkat bicara terkait kabar gugatan cerai mereka tersebut.

Sebelumnya, Ryan Tedder, vokalis OneRepublic sekaligus sahabat dekat Adele, mengungkap kabar sang musisi setelah memutuskan untuk berpisah. Ia menyebut Adele tengah merasa kesulitan karena perceraian, namun keadaannya baik-baik saja.

“Perceraian memang sangat membuatnya kesulitan. Tapi sekarang dia baik-baik saja,” ujar Ryan beberapa waktu sebelumnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Lelaki yang Hina BJ Habibie di Sosmed, Ternyata Mengidap Gangguan Jiwa

Kepergian Presiden ke-3, BJ Habibie jadi luka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun, saat semua orang sedang berduka, seorang lelaki didatangi polisi karena melakukan ujaran kebencian atas meninggalnya BJ Habibie. Akan tetapi, setelah diinterogasi, ternyata laki-laki tersebut mengalami gangguan jiwa.

“Kami sudah lakukan interogasi terhadap seorang diduga pelaku ujaran kebencian saat mengomentari wafatnya Bapak BJ Habibie lewat media sosial,” kata Kasat Reskrim Polres OKU Timur, AKP M Ikang saat dikonfirmasi, Jumat (13/9/2019) dilansir dari detiknews.com. 

Lebih lanjut, Ikang mengarakan jika, pelaku adalah BA (16) warga Desa Petanggan, Belitang, OKU Timur. Dan dari intogasi polisi, BA mengakui jika dirinya memang telah berkomentar pedas di media sosial.

“Pelaku mengakui perbuatannya, tetapi orang tuanya mengaku anaknya dalam kondisi gangguan jiwa. Dia baru pulang berobat dari Ernaldi Bahar Palembang (rumah sakit jiwa) dan dirawat selama 40 hari,” kata Ikang.

Saat ini, lanjut Ikang, BA tengah dirawat jalan. Hal ini dibuktikan dengan adanya surat keterangan dari rumah sakit dan obat yang masih dikonsumsi aktif oleh BA.

“Semua ada, ada obat-obatan, ada surat berobat jalan. Kalau diinterogasi dia diam, lupa dan kemarin didampingi juga sama keluarganya,” jelas Ikang.

Melihat kondiri BA yang memang menderita gangguan jiwa, polisi hanya melakukan interogasi dan tidak melakukan penahanan. Namun, Polisi juga meminta keluarga untuk melakukan pengawasan terhadap BA.

Sebelumnya, sebagai infromasi, pelaku mengomentari sebuah postingan atas wafatnya BJ Habibie di media sosial. Ia berkomentar ‘Mampus lo keparat cuihh‘ yang kemudian memacing emosi warganet di Instagram.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top