Feature

Belum Ingin Menikah Hari Ini, Bukan Berarti Seumur Hidup Akan Sendiri

Mendapat pertanyaan, “Sudah punya calon belum?” saat acara kumpul keluarga, agaknya jadi hal yang biasa. Tapi jangan dulu menyalahkan mereka, sebab hal itu memang menjadi pertanyaan wajar untuk manusia yang sudah dewasa namun tak pernah terlihat menggandeng siapa-siapa.

Perihal usia yang sudah matang hingga keputusan melangkah yang harus disegerakan, memang selalu jadi perkara yang rumit untuk dibicarakan. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menyadarkan kami yang masih sendiri, bahwa sebagian orang masih mendekskrisikan kesendirian sebagai situasi nelangsa.

Kemudian dengan santainya berpendapat bahwa kita yang masih sendiri hingga kini adalah pribadi yang menyalahi kodrat. Tak ingin terbawa emosi, tentu ada beberapa alasan dibalik pilihan itu. Sebab tak ingin menikah sekarang bukan berarti akan hidup sendiri sampai mati.

Hal Pertama yang Harus Kita Mengerti Adalah Setiap Orang Bebas Memilih

Tak ada alasan yang lantas akan membedakan kita dengan mereka yang lebih dulu menikah, sebab ini adalah bagian dari pilihan kehidupan yang sedang dijalankan. Sama halnya dengan mereka yang sudah menikah, harusnya yang lain juga paham jika sendiri dulu adalah pilihan yang harus dihargai.

Karena ini bukanlah perkara mudah, ada ribuan tantangan yang akan dibebankan pada pundak dan kepala. Jika memang belum merasa bisa mengembannya, tak perlu memaksa diri. Tak berniat untuk menyinggung mereka yang mungkin belum mengerti, hanya saja jika pilihan menikah bisa dihargai, hal yang sama harusnya bisa diberikan pada pilihan yang sebaliknya.

Seandainya Mereka Tahu Lelahnya Diberondong Pertanyaan yang Sama Setiap Kali Jumpa, Mungkin Mereka Tak Akan Sampai Hati Mengulanginya

Dielu-elukan sebagai pertanyaan yang bernada skak-mat, kalimat “Kapan nikah?” tak lagi terdengar menakutkan, cuma sedikit membosankan. Karena meski saat ini sudah memiliki kekasih yang bisa diajak bicara soal masa depan, pasti akan ada pertanyaan yang juga bernada serupa.

Seolah tak ada habisnya, mereka yang melempar tanya sepertinya memang doyan membuat hati orang lain nelangsa. Bukan apa-apa, baginya mungkin biasa namun mereka yang menjadi objek tentu punya penilaian yang berbeda.

Diingatkan Terus-menerus, Seolah Kami Tak Paham Bahwa Setiap Manusia Sudah Tercipta Berpasang-pasangan

“Mau apa lagi? Usia sudah cukup, pekerjaan pun sudah mapan. Segeralah cari pasangan,”

Komentar seorang teman yang memang telah lebih dulu jadi seorang bapak. Tak berpikir ia sedang menghakimi, ucapan itu dapat dianggap sebagai bentuk perhatian seorang teman sebaya. Tapi jika terus-menerus disampaikan, jelas menganggu pikiran.

Dengan berbagai alasan positif, memang ada batasan usia untuk seorang laki-laki dan perempuan berada pada masa yang baik. Keturunan dan hal lain jelas jadi pertimbangan memang, tapi bukankah dari awal sudah ada jodoh yang memang disiapkan oleh Tuhan? Lantas untuk apa membebani diri dengan meresahkannya?

Usia Memang Sudah Dewasa, Tapi Sejak Kapan Umur Jadi Patokan Untuk Menikah?

Saat kamu duduk di bangku SMA, mungkin ada temanmu yang memilih menikah lalu meninggalkan pendidikannya, teman lain yang usianya sudah lebih dari seperempat abad masih santai tanpa berpikir harus menikah buru-buru, dan yang lebih uniknya lagi ada yang sudah berkepala tiga namun mengaku masih belum siap menikah.

Lalu yang menjadi pertanyaan, teori menikah karena sudah cukup usia datang darimana? Tentu ini adalah pandangan yang salah, sebab sesungguhnya tak ada batasan usia untuk seseorang menikah. Prosesi nan sakral ini tak memiliki standardisasi. Akan lebih baik jika kita hanya akan melangkah saat sudah merasa siap untuk mengarunginya, bukan karena katanya sudah waktunya, atau dikejar usia.

Tak Ingin Menjadikan Pernikahan Sebagai Pelarian, Sebab Menikah Jelas Butuh Persiapan

Percayalah Kawan, dengan menikah tak lantas semua beban akan hilang, sebab seberat apa pun kamu menjawab pertanyaan kapan nikah, masih belum ada apa-apanya ketika nanti berumah tangga.

Lebih dari itu, menikah jadi gardu paling depan yang akan menghantarkan kita pada berbagai pengalaman. Contoh kecilnya, kamu yang biasa hidup dengan pola yang kamu suka, mendadak harus menyelaraskan langkah dengan manusia baru yang belum tentu akan selalu seirama. Bukan tak percaya akan adanya manusia yang rela menemani kita dan menurunkan egonya, hanya saja bepikir menikah adalah solusi dari berbagai macam beban tidaklah benar.

Belum Ingin Menikah Sekarang Bukan Berarti Selamanya Ingin Melajang, Aku Hanya Menunggu Dia yang Mau Menggenapkanku

Barangkali bukan aku yang jengah, sebab melakoni semua hal sendiri masih jadi sesuatu yang aku nikmati. Anehnya mereka yang jadi penonton justru berpendapat jika kesendirian ini, akan berakhir hingga kelak kematian datang.

Sebab jika memang sudah waktunya, aku pun ingin seperti yang lainnya. Menjadikan seorang sebagai alasan pulang, hingga rela berbagi bantal saat malam. Aku pun sebenarnya sama dengan mereka yang telah menikah, hanya saja hari ini memang belum waktunya. Sebab untuk mewujudkan itu, aku tak akan sembarangan memilih.

Tidak Perlu Menempatkan Orang Lain Sebagai Patokan, Karena Menikah Bukanlah Sebuah Perlombaan

“Si anu sudah menikah, istrinya baik dan punya anak perempuan nan cantik,” atau “Kamu apa nggak ngiri sama temanmu yang udah foto dengan anaknya di instagram, buruan cari calon suami!”.

Ini adalah pilihan untuk menjadi diri sendiri, tanpa perlu beranggapan jika teman lain sudah melakukan lantas aku pun harus mengikut dibelakang. Tidak, bukan seperti itu Kawan! Ada batas dimana aku akan menjadikan orang lain sebagai panutan, tapi untuk urusan menikah nampaknya tidak akan.

Aku memang masih sendiri, meski sudah banyak undangan pernikahan yang menanti rasanya tak jadi alasan harus buru-buru cari pacar yang mau diajak melangkah ke pernikahan.

Masih merasa nyaman akan kesendirian, bukan berarti selama aku akan melajang. Tak berniat melawat kodrat, aku hanya ingin menunggu dia yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kalau 7 Hal Ini Sudah Kamu Miliki, Harusnya Menikah Muda Tak Lagi Menyakiti Hati

Mengikat diri dalam hubungan yang sakral dengan pasangan adalah sebuah keputusan besar. Ketika itu sudah terpenuhi, itu artinya kita sudah berjanji untuk saling setia  sehidup semati. Jika kamu pikir ini adalah perkara biasa, tentu kamu salah. Butuh kesiapan yang matang dan bekal yang banyak agar nanti tak menyesal.

Tapi diusia yang masih terbilang muda, menikah sering jadi momok mengerikan yang banyak dihindari orang. Selain alasan kesiapan, ekspektasi yang tak sesuai disebut-sebut sebagai alasan untuk tak buru-buru menerima lamaran atau meminang pacar. Akan tetapi, ada hal lain yang juga perlu dibaca. Tentang beberapa kesiapan dan keyakinan yang bisa dijadikan alasan untuk menikah muda. Kira-kira apa saja ya?

Walau Tak Selalu Ada, Kamu Yakin Bisa Merasa Aman Setiap Kali Bersamanya

Sebelum yakin untuk menikah, kamu jelas perlu yakin pada pasanganmu dulu. Benarkan ia bisa menjadi sosok yang menyayangi dan mencintaimu setulus hati. Bisa jadi teman berbagi, dalam suka maupun duka. Karena biasanya, meski manis saat berpacaran ia bisa saja berubah ketika sudah menjadi suami atau istiri. Itulah penting untuk mengenalinya lebih dalam lagi.

Maka jika ternyata dirimu sudah meyakini, bahwa dia adalah orang yang bisa kamu percayai. Tak ada salahnya, jika memang ingin menikah pada usia yang masih muda.

Bersamanya Kamu Terus Belajar dan Tak Perlu Merasa Butuh Jadi yang Paling Benar

Akan menjalani hidup berdua, kamu dan dia akan menemukan berbagai macam tantangan. Dan bagaimana kalian tetap saling menguatkan adalah hal yang perlu dipertahankan. Nah, kayakinan lain yang juga perlu kamu lihat dan pelajari lagi, adalah kemampuannya jadi teman hidup yang mumpuni.

Dengannya kamu terus berkembang, berubah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Tak lagi egois karena mementingkan diri sendiri, kini kamu paham bagaimana meredam emosi tatkala hati sedang dan bisa diajak kompromi.

Sudah Mantap Memahami Diri Sendiri Akan Membantumu untuk Memahami Dia yang Kau Cintai

Yap, sebelum menikah, pastikan dulu jika kamu bisa memahami dirimu dengan baik. Kamu tahu apa yang kamu mau, berbicara jika memang ada yang tak disukai. Dan tak perlu gengsi untuk mengatakan apa yang sebenarnya perlu disampaikan. Kemampuanmu memahami diri sendiri, jelas sangat membantu. Dengan begitu kamu akan semakin belajar lagi, untuk bisa menerka apa yang kelak ia mau. Percayalah, saling memahami adalah kunci sukses sebuah hubungan pernikahan.

Tanpa Harus Diminta, Kamu dan Pasangan Selalu Bersedia untuk Mendengarkan Keluh Kesah

Tidak hanya tentang hal-hal yang membuat bahagia, kelak kalian akan bertemu dengan berbagai macam persoalan berat yang jadi beban. Pasanganmu mungkin akan terlibat konflik dengan teman kerja, kamu yang juga mendadak bermalasah dengan sahabat SMA, hingga persoalan individu lain yang tadinya hanya kita saja yang merasa.

Nanti, karena sudah menjadi suami dan istri. Kalian pun akan berbagi, mendengar ketika yang satu bicara, atau berbicara ketika yang lain sedang mendengar dengan seksama. Tak selalu inginkan soluasi, terkadang pasangan hanya butuh didengar dan ditemani.

Ragu dan Curiga Itu Perkara Biasa, Namun Kalian Selalu Menemukan Cara untuk Menghalaunya

Meski sudah yakin dengan si dia, beberapa kali di kehidupan setelah menikah. Kamu mungkin akan ragu dengan pasanganmu, curiga kalau si dia melakukan sesuatu yang mencurangi hubungan. Tak perlu khawatir, rasa curiga dan keraguan yang kamu miliki adalah sesuatu yang biasa.

Hal lain yang jauh lebih penting adalah kemampuan kalian berdua untuk bisa menghalaunya. Untuk itu, tak hanya berdoa agar diberi kebahagian saja. Kamu juga perlu untuk meminta diberi kemampuan dalam hal mengusir keraguan pada pasangan.

Mengontrol Diri Itu Wajib, Kalian Tahu Kapan Harus Bersikeras Menantang dan Kapan Harus Diam

Pertengkaran yang terjadi selama pacaran, bisa dipakai jadi ajang pembelajaran untuk kehidupan setelah menikah. Kalian pasti akan bertentangan, tapi di lain hal juga sering sepaham. Kamu perlu untuk menentukan sikap dan tindakan dalam hal menghadapi si dia.

Pastikan diri mampu menselaraskan keinginan, dan bisa saling mengerti setiap kali ada pertentangan dalam hubungan. Kalau kemapuan ini sudah kamu miliki, menikah tak selalu jadi sesuatu yang sulit lagi.

Dan Kamu Yakin Dia Adalah Sumber Bahagia yang Terus Mengubah Hidup Lebih Baik dari Sebelumnya

Sudah merasa mantap dalam hal menemukan dia yang menjadi sumber bahagia. Kamu percaya bersama dia, ada bahagia lain yang terus selalu ada. Ia jadi tempat berbagi, menemani semua langkahmu setiap hari. Dengannya kamu tak lagi merasa sepi, karena bagimu ia adalah mentari yang selalu memberi terang dan kehangatan di setiap kesusahan yang kamu rasakan.

Menikah memang bukanlah keputusan remeh, kamu perlu mempersiapkan banyak hal untuk bisa melenggang ke pelaminan. Tapi lebih daripada itu, selain kesiapan mental dan finansial. Beberapa hal yang sedari tadi sudah dijelaskan, bisa jadi alasan mengapa akhirnya kamu mantap untuk memutuskan menikah muda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Suka Duka Menanam Kebaikan, 9 Hal ini Pasti Kamu Rasakan

Orang baik di zaman sekarang ini sudah sangat sulit untuk di temukan, karena pada umumnya manusia memiliki ego nya masing-masing yang membuat mereka mendahulukan kebahagiannya sendiri di banding kebahagiaan orang lain. Bahkan tidak sedikit yang sudah tidak memiliki rasa empati atau kepedulian terhadap sesama. Padahal, saat kamu mendahulukan orang lain, kamu sudah menanam kebaikan untuk dirimu sendiri.

Berbeda dengan mereka, kamu yang memiliki hati putih selalu mendahulukan perasaan orang lain di banding perasaanmu sendiri. Bagimu melihat orang lain bahagia adalah sebuah kebahagiaan untuk dirimu juga. Kamu patut bangga jika termasuk dalam kategori orang seperti ini. Selamat, orang seperti kamu sekarang sudah sangat langka!

Kamu yang selalu menanam kebaikan dengan mendahulukan orang lain tentu sudah tidak asing bahkan sangat paham dengan 9 hal ini, karenamu banyak orang yang percaya bahwa orang baik di dunia itu masih ada.

1. Kamu Sangat Berhati-hati dalam Berkata, Karena Tidak Mau Membuat Orang Lain Terluka

Bagimu, lidah adalah pedang yang bisa menyakiti hati orang lain kapan saja. Karena itu kamu sangat menjaga segala yang kamu ucapkan kepada orang lain. Sebelum berbicara kamu akan memikirkan terlebih dahulu apakah kalimat itu apakah menyakiti orang lain atau tidak? Jika memang ada yang sedikit kurang enak di dengar maka kamu pun akan mencari kalimat lain yang lebih pas untuk di ucapkan. Berbicara yang baik atau diam mungkin sudah menjadi semboyanmu sejak dulu.

2. Saat Seseorang Menginginkan Apa yang Kamu Miliki, Kamu Tidak Segan untuk Memberikannya

Ketika sesuatu yang kita miliki di inginkan oleh orang lain, mungkin kebanyakan orang akan menolak memberikan bahkan balik memarahinya. Namun, berbeda dengan yang lain kamu akan memberikannya meskipun itu adalah barang kesayanganmu sendiri. Bagimu orang lain yang menginginkan lebih membutuhkan, sedangkan kamu telah lama memilikinya dan bisa membeli yang baru.

3. Bagimu, Menjadi Pendengar yang Baik Lebih Penting Daripada Kegiatan Kesukaanmu

Menjadi pendengar yang baik adalah sifatmu selama ini, jika ada yang sedang menceritakan sesuatu padamu maka fokusmu pun ada pada pembicaraan itu, tak perduli saat itu kamu sedang melakukan kegiatan apa atau bahkan bisa jadi itu hobimu sendiri. Karena menurutmu salah satu cara menghargai seseorang adalah dengan mendengarkan, kegiatanmu bisa dilakukan di lain waktu.

Sedangkan dia yang membutuhkan telinga mungkin saja sudah tidak cukup kuat untuk bercerita, karena itulah kamu lebih mengutamakan mendengarkannya daripada kegiatanmu.

4. Kamu Menghabiskan Banyak Waktu Untuk Memikirkan Orang Lain

Bukan tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, tapi bagimu perasaan orang lain lebih penting. Kamu akan terus memikirkan orang lain jika ada yang merasa tersakiti olehmu. Meskipun tanpa sengaja tapi luka yang kamu buat di hatinya sangat menjadi beban untuk hidupmu. Tapi jangan terlalu di pikirkan juga, akan lebih baik jika kamu mulai perduli dengan dirimu sendiri.

5. Kamu Tidak Bisa Jika Melihat Orang Lain Kesulitan Sedikit Saja

Hatimu yang terlalu perasa membuatmu tidak tega melihat seseorang sedang menderita walaupun sedikit saja. Rasa empatimu sangat besar. Sehingga keinginan untuk membantu orang lain sangatlah tinggi. Meskipun terkadang kamu mengorbankan banyak hal untuk memberi bantuan. Namun kamu juga harus ingat bahwa melakukan kebaikan juga harus disesuaikan dengan kemampuan, dirimu tetaplah nomor satu.

6. Banyak Orang Menyebutmu Sok Baik, Padahal Kamu Memang Beneran Baik

Karena pada dasarnya manusia itu selalu memiliki sifat iri dan dengki. Tapi juga memiliki sikap baik seperti sifat yang kamu miliki. Tak sedikit orang yang meragukan kebaikanm, bahkan mengatakan semua itu hanyalah pencitraan agar mendapat pujian. Padahal semua itu kamu lakukan karena ketulusan kan? Memang, apapun yang kita lakukan meskipun itu kebaikan tetap saja di mata seorang pembenci akan terlihat buruk. Tenang saja, kamu masih mempunyai dua tangan untuk menutup telinga.

7. Kamu Sering Sekali Mengalah dan Menjadi Orang yang Meminta Maaf

Siapapun yang salah dalam suatu masalah tetaplah kamu yang selalu ingin mengalah. Karena sifatmu yang tidak mau melihat orang lain tersakiti, sekalipun kamu tidak salah tetap saja kamu selalu ingin meminta maaf duluan. Hal ini mungkin perlu kamu pikirkan, jika memang bukan kamu yang salah tak perlu kamu meminta maaf hanya untuk menjaga hati orang lain. Memang tidak ada salahnya, tapi nanti orang lain akan mulai semena-mena terhadapmu.

8. Kamu Selalu Merasa Kesulitan dalam Menolak

Sifatmu yang baik dan sering mendahulukan orang lain daripada diri sendir, membuat banyak orang meminta bantuan terhadapmu. Dan kamu selalu merasa sulit untuk menolak permintaan mereka. Sekalipun permintaan itu sebenarnya mengganggu kegiatanmu atau bahkan harus membuatmu mempelajari terlebih dulu demi berkata iya. Jangan takut berkata tidak jika memang kamu belum bisa membantunya.

9. Kamu Tidak Marah, Walau Kadang Sudah Disakiti

Dan yang terakhir saking baiknya kamu tidak akan marah berkepanjangan saat dirimu sendiri merasa tersakiti. Bagimu rasa marah yang kamu perlihatkan hanya akan menyakiti orang lain. Dan tentu saja hal itu juga akan menyakiti dirimu sendiri karena kamu paling tidak bisa melihat orang lain tersakiti. Apalagi penyebabnya adalah dirimu sendiri. Jadi, kamu lebih memilih untuk segera melupakan dan kembali baik-baik saja.

Itulah beberapa hal yang mungkin sering dirasakan oleh seseorang yang lebih mendahulukan perasaan orang lain di banding dirinya sendiri. Berbuat baik memang boleh, menjaga hati orang lain juga boleh, namun jika itu semua itu di luar batas kemampuanmu mungkin kamu harus menampakkan sosok jahatmu sesekali.

Mulailah bersikap tegas terhadap hal-hal yang memang diluar batas pengertianmu, dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang memanfaatkanmu karena sifat baikmu yang alami itu. Jangan berhenti berbuat baik, semua yang kamu lakukan itu sudah benar, hanya saja ada beberapa hal yang perlu kamu pikirkan untuk kebaikanmu sendiri, tak melulu tentang perasaan orang lain.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Hanya Perkara Komitmen, Ada Beberapa Hal yang Buat Milenials Takut Menikah Muda

Dilema atau memang belum kepikiran, pernikahan jadi perkara krusial bagi para generasi milenials. Mereka yang lahir antara tahun 1982 – 1990-an ini, barangkali sudah mulai didesak untuk segera menikah. Meski pada kenyataannya, sebagian dari mereka justru masih enggan untuk terjun untuk berumahtangga.

Tak semua orang paham akan alasan dan ketakutan mereka. Nah, dilansir dari loveumentary.com, setidaknya beberapa hal ini kerap jadi alasan utama mengapa generasi milenials masih takut untuk menikah.

Masih Merasa Belum Siap Membuat Ekspektasi yang Realistis

Selain memberi kemudahan untuk berbagi potret di media sosial, kini Instagram jadi salah satu tolok ukur kebahagian. Disana, kita kerap terdistraksi, membandingkan kehidupan kita dengan kawan. Susah untuk menahan diri, beberapa pencapaian teman justru membuat kita iri hati. Termaksud dalam hal pernikahan.

Milenials merasa perlu untuk punya standar, bahkan tak sedikit yang berekspektasi terlalu tinggi. Menjajarkan beberapa syarat, yang kemudian jadi sumber ketakutan. Ya, kita takut jika dia yang kelak jadi pasangan hidup nanti tak sesuai ekspektasi. Takut kecewa tentang kebenaran pernikahan yang kerap dipajang di dunia maya, itulah kenapa milenials masih memilih untuk jangan menikah dulu.

Enggan untuk Berhadapan dengan Konflik-Konflik Berat

Menikahi seseorang berarti menikahi keluarganya juga. Bagaimana jika ternyata ibunya tak suka pada perempuan yang tak bisa memasak. Ayahnnya tak ingin punya menantu yang punya tato, hingga perkara-perkara lain yang sering jadi ujian dalam hubungan.

Padahal, masa-masa sekarang bisa jadi quarter life crisis untuk para milenials. Sudahlah pusing dengan masalah diri sendiri, harus menambah beban dengan kemungkinan lain yang membuat hidup kian berat.

Selanjutnya, ketakutan akan karakter pasangan yang akan berubah selepas menikah juga disebut-sebut sebagai salah satu beban yang sedang berusaha dihindari juga. Hal ini kemudian membuat kita merasa, kalau sebenarnya diri ini masih belum siap untuk menghadapi konflik-konflik berat dalam pernikahan nanti.

Belum lagi, sebuah studi yang dilakukan oleh Gottman Institute menyebutkan bahwa 69% konflik dalam hubungan percintaan tak bisa diselesaikan. Hingga kita dan pasangan akan mengalami konflik-konflik berat setelah menikah, jadi salah satu penyebab yang membuat sebagian generasi milenial merasa lebih baik sendiri dulu daripada buru-buru menikah tanpa kesiapan mental yang matang.

Masih Tak Tega untuk “Membebani” Orang Lain, Walaupun Itu adalah Suami Sendiri

Setiap orang punya permasalahan sendiri. Hal ini yang kadang membuat kita cemas bila harus memulai hubungan pernikahan. Rasa enggan dan tak enak hati jika harus membebani diri sendiri, tentang persoalan yang tak bisa kita selesaikan sendiri.  

Padahal ekspektasinya, seharusnya kita bisa menadiri. Walau nyatanya masih saja seperti ini. Itulah yang kemudian membuat kita takut untuk memulai hubungan karena tak ingin membuat orang yang kita cintai terbebani dengan masalah yang kita miliki.

Tak Ada Panutan yang Bisa Dijadikan Role Model

Konon dari hasil penelitian, generasi milenial umumnya dibesarkan oleh generasi Baby Boomer (generasi dengan tingkat perceraian yang tinggi). Ditambah lagi dengan ekspektasi yang kelewat tinggi dari berbagai macam film Disney dan film romantis yang pernah ditonton. Alhasil kita sering merasa bingung.

Merasa tak punya panutan yang bisa memberi nasihat atau arahan soal pernikahan dan berharap terlalu tinggi memiliki kehidupan pernikahan yang seindah cerita cinta di Drama Korea. Maka tak heran, jika ketimpangan ini pun bisa jadi salah satu penyebab generasi milenial merasa bingung memaknai pernikahan dan takut melangkah.

Nah, yang menjadi pertanyaanya. Apakah kamu juga sedang merasakan beberapa ketakutan tersebut?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top