Feature

Banyak yang Berharap Indonesia Macam Majapahit? Memang Sehebat Apa Kerajaannya?

Tiap kali mendengar kata Majapahit, kita mungkin akan segera terbayang tentang pelajaran sejarah yang dulu diajarkan guru di sekolah. Kerajaan besar yang berpusat di wilayah Jawa Timur ini, memang sempat jadi penguasa hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara. Jika dilihat dari kitab Nagarakertagama, kekuasaan Majapahit meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Indonesia bagian timur, termasuk Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga sebagian Maluku.

Pernah jadi negara super power (negara adidaya seperti Amerika Serikat di masa sekarang) Majapahit memiliki pengaruh besar terhadap dunia di zaman kekuasaaannya, hingga membuat Tiongkok segan. Berkuasa cukup lama, dari tahun 1293 sampai 1500 M. Sebenarnya seberapa hebat Kerjaaan Majapahit kala itu?

Awal Mula Berdiri Hingga Jadi Kerajaan Terbesar di Asia Tenggara

Berdiri pada akhir abab ke-13 atau lebih tepatnya pada tahun 1293, kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang kemudian dikukuhkan sebagai seorang Raja dengan gelar Sri Kertajasa Jayawardhana. Beliau sempat memerintah kerajaan Majapahit selama 16 tahun hingga akhirnya digantikan oleh Sri Jayanegara.

Sejak awal berdiri, Kerajaan ini memang sudah besar. Hingga pase keempat kepemimpinan kerajaan, Ratu Tribuana Tunggadewi menurunkan takhta kepada sang putra yang kala itu masih berusia 16 Tahun bermana Hayam Wuruk. Selanjutnya, dengan dukungan dan bantuan dari seorang Patih bernama Gajah Mada yang juga diangkat oleh Ratu. Pada tahun 1350-1389 Majapahit berubah menjadi kerajaan yang benar-benar makmur dibawah kepemimpinan Hayam Wuruk.

Bahkan seluruh rakyat yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit hidup benar-benar dengan kesejahteraan. Ya, wilayah kekuasaan kerajaan kian meluas saja. Alasan lain yang membuat Majapahit kian meluas sebagaimana yang dicatatat sejarah, adalah tekad dari Gajah Mada yang bersumpah untuk menyatukan wilayah-wilayah Nusantara dalam naungan Majapahit tatkala ia menyampaikan Sumpah Amukti Palapanya.

Memiliki Panglima Tertinggi yang Punya Kemampuan Mumpuni

Jika sekarang, kamu mungkin mengenal Gajah Mada sebagai nama salah satu universitas di kota Jogjakarta. Tapi tahukah kamu jika itu diambil dari nama panglima tertinggi di Kerajaan Majapahit. Dan meski berasal dari rakyat biasa, Gajah Mada jadi pihak yang berpengaruh pada  keberhasilan Hayam Wuruk dalam memimpin Kerajaan. Bahkan menurut Negarakertagama, beliau adalah panglima tertinggi, mahapatih, sekaligus tangan kanan yang paling dipercaya oleh Hayam Wuruk.

Karena sebesar apapun armada yang digunakan, sebanyak apapun pasukan yang dimiliki, jika Gajah Mada tak lihai dalam mengatur strategi, maka semuanya akan sia-sia. Selain nama Gajah Mada, ada pula Mpu Nala yang tak kalah hebatnya dalam hal kepemimpinan militer kerajaan.

Tapi kemampuan Gajah Mada dalam memimpin pasukan tak didapat dengan cuma-cuma. Pada tahun 1321 ketika ia dipromosikan menjadi Patih di Daha, yakni sebuah wilayah yang lebih luas dibanding sebelumnya, untuk menggantikan Arya Tilam. Gajah Mada harus mendapat pendidikan, pelatihan, dan bimbingan dari Maha Patih Maja Patih saat itu, yaitu Arya Tadah.

Dan kemampuan luar biasa dari Gajah Mada, akhirnya membuat Arya Tadah menyakini jika ia bisa menggantikan dirinya sebagai panglima tertinggi.

Jadi Tak Heran, Jika Perlahan Wilayah Kekuasaan Majapahit Melebar Hingga ke Negara Tetangga

Tak hanya menguasai sebagian besar wilayah di Nusantara, Kerajaan Majapahit berkembang meluas dan menjadi sangat besar hingga ke negara tetangga. Dan tak hanya dari pulau Jawa saja, wilayah kekuasaannya juga tersebar di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Bahkan melebar pula sampau ke kerajaan Malaka (Malaysia), Tumasik (Singapura), serta sebagian Thailand dan Filipina serta Kesultanan Champa (Vietnam & Kamboja).

Bahkan bisa dibilang, hampir seluruh wilayah di Asia Tenggara berhasil dinaungi oleh Kerajaan Majapahit. Hal inilah yang kemudian membuat Kekaisaran China menaruh segan dan hormat pada Kerajaan Majapahit. Karena mereka menganggap kerajaan hebat ini bisa jadi kerabat yang bisa diajak bersekutu. Ditandari dengan tindakan Kaisar China yang mengirimkan seorang putri bernama Tan Eng Kian pada untuk dinikahi oleh Brawijaya V pada awal abab ke 15, sebagai langkah untuk mempererat persaudaran antara Kerajaan Majapahit dengan Brawijaya.

Dan Penyebaran Agama Islam yang Dimulai dari Inti Kerajaan

Selain putri Tan Eng Kian yang dikirimkan oleh Kaisar Cina, Kesultanan Champa juga mengirim seorang putri bernama Anarawati. Anarawatilah yang kemudian perlahan menyebarkan agama Islam dalam kerajaan.

Dari beberapa catatan sejarah, hal ini dilakukan dengan segala macam cara. Dimulai dari pengusiran Tan Eng Kian, memengaruhi raja hingga kemudian menikahinya. Setelah itu, Anarawati meminta raja untuk membuat sebuah padepokan pengajaran Islam yang didirikan di Surabaya.

Lalu, Anarawati memanggil saudaranya dari Champa untuk mengajar. Perlahan Islam mulai menyebar dan memengaruhi banyak sekali aspek. Dari sinilah muncul pemuka agama Islam besar yang kelak disebut Wali Songo. Semuanya dibuka oleh kehebatan Anarawati memengaruhi keputusan sang Brawijaya V.

Hal lain yang juga perlu dipahami, Kerajaan Majapahit yang dikenal besar dan mansyur bisa runtuh karena berbagai macam hal, termaksud persoalan internal dalam kerajaan. Keruntuhan kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1478 ketika Panembahan Jimbun mengkhianati sang Ayahnya yakni Brawijaya V dengan menyerang pusat kerajaan dan membuat kerajaan Majapahit yang dikenal besar itu runtuh.

Perlu kita pahami, meski besar dan sejahtera suatu kerajaan atau negara bisa musnah dalam sekejab hanya karena ego beberapa golongan untuk sesuatu yang ingin dikedepankan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top