Feature

Bantu Orangtua Memahami, Relasi yang Kini Sedang Kita Jalani

Jangankan untuk bersedia kenalan dengan pacar-pacar saya, tahu laki-laki tersebut bukan sesuku saja. Ibu saya sudah pasang muka mesem tanda tak suka. Barangkali benar, dibalik berjuta rasa indah dari jatuh cinta, tak mendapat restu adalah satu bagian yang bisa membuat kita sengsara.

Tak hanya latar belakang suku saja, tingkat pendidikan, status sosial, sering jadi alasan yang memicu orangtua untuk enggan memberi restunya. Karena meski salah satu unsur tapi sudah serupa, jika berbeda di unsur lain, hubunganmu masih berpotensi mendapat lampu merah.

Benar memang, setiap orangtua tentu inginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi jika boleh berpendapat, memberi pengertian agar orangtua mau paham atas hubungan yang sedang kita  jalankan, perlu dicoba. Dan beberapa hal berikut mungkin bisa dipahami orangtua tentang relasi kita dan si dia.

Bantu Orangtua Membuka Telinga, Tentang Hubungan Kita dan Si Dia

Bukan sedang berlagak menggurui para orangtua, tapi kami pikir kalian perlu membuka mata dan telinga untuk hubungan asmara yang dijalani oleh anaknya. Untuk itu sebagai anak yang juga sedang berjuang berburu restu, cobalah beri ia gambaran secara perlahan. Tentang bagaimana sang pacar membantumu dalam proses hidup. Entah itu urusan pekerjaan, hobi, keinginan, serta mimpi-mimpi lain yang ingin kamu wujudkan.

Tunjukkan pada ayah dan ibu, jika seseorang yang kamu pilih ini adalah orang terbaik dari yang pernah ada. Ceritakan semuanya dengan rinci, agar mereka juga punya gambaran atas pacarmu dari sudut pandang yang berbeda. Tak melulu dari apa yang dilihatnya saja.

Karena Apa yang Dilihat Orangtua, Belum Tentu Serupa dengan yang Dirasakan Anak

Umumnya orangtua akan menilai pacar dari anak-anaknya, hanya dari penampilan dan sikap di setiap pertemuan. Padahal dia yang terlihat urak-urakan belum tentu jahat, dan dia yang bersikap manis dan santun bisa bukanlah sosok yang kita inginkan. Daripada ayah dan ibu kita terjebak dalam pemahaman mereka tentang si dia.

Jauh lebih baik untuk mengutarakan hal sesungguhnya kita rasakan. Jelaskan pada mereka jika, pacarmu ini adalah seseorang yang bisa mengayomimu dalam segala situasi. Membuatmua merasa nyaman saat didera khawatir, dan selalu ada setiap kali kamu membutuhkannya. Sebab tak hanya sebagai pacar saja, ia juga jadi teman cerita yang baik untukmu.

Tak Bermaksud Menentang, Bukankah Anak Juga Berhak Membuat Pilihan?

Berani menentukan apa yang menjadi keinginan, adalah salah satu hal yang juga orangtua selalu ajarkan. Kali ini, ajak mereka untuk berdiskusi tentang hak untuk memilih yang juga kita miliki. Bukan, bukan untuk menantang dan tak mengikuti nasihat mereka. Tapi, pada beberapa hal kita pun perlu bijak untuk menentukan apa yang sekiranya baik untuk hidup.

Dan hal ini, bisa berlaku juga untuk memilih kekasih dan calon suami atau istri. Negosiasikan pada orangtua, tentang anaknya yang sudah dewasa dan percaya bisa memilih pasangan hidup yang terbaik untuknya. Dengan catatan, kamu juga perlu memastikan jika pilihanmu adalah orang yang tepat.

Coba Dikaji Lagi, Sebenarnya Apa yang Memicu Orangtua untuk Tak Memberi Restu

Kadang kala pertentangan untuk memberi restu bisa terhalang karena kurangnya komunikasi antara kita dan orangtua. Kita yang jarang bercerita tentang pasangan, dengan mereka yang tak mau bertanya perihal hubungan. Jadilah cuma menerka-nerka, sehingga tatkala kita meminta restu dari mereka, bisa jadi mereka tak percaya pada pilihian kita.

Pada situasi seperti ini, kita perlu lihai untuk melihat apa yang sebenarnya harus dilakukan. Cari tahu, mengapa ayah atau ibu tak suka pada pacarmu. Karena bisa jadi, ketidak sukaan itu hanyalah hasil dari sebuah kesalahpahaman  yang sebenarnya bisa dibenahi.

Minta Kesempatan, Tunjukkan Jika si Pacar adalah Sosok yang Kita Butuhkan

Kurangnya bukti dari keseriusan bisa jadi alasan yang membuat orangtua enggan untuk memberi restu. Apalagi jika kamu dan si dia baru kenal. Ini wajar, karena disadari atau tidak. Tak memberi restunya adalah bentuk pertahanan lain untuk melindungi kita dari pasangan yang salah.

Maka, jika memang sudah percaya bahwa dia adalah ‘orangnya’. Cobalah untuk menunjukkan kesungguhan dihadapan kedua orangtua. Buat mereka percaya bahwa kita dan pacar bisa jadi pasangan yang saling menggenapi. Tunjukkan bahwa dia memang sosok yang benar-benar kita butuhkan.

Naluri Orangtua Memang Jarang Salah, Tapi Bukan Berarti Berhak untuk Terus Memaksa

Mengikuti apa kata orangtua adalah sesuatu yang wajib, karena biar bagaimana pun menentang mereka bukanlah perbuatan baik. Namun ajak juga orangtua untuk mengerti, tentang hal apa saja yang kita ingini. Restu yang terhalang bisa jadi karena kekhawatiran yang berlebihan, tentang pilihan yang kita ajukan.

Tapi orangtua yang bijaksana, tentulah bisa memahami anaknya tanpa harus memaksa. Tinggal bagaimana kita bisa membuat mereka  percaya saja.

Lagipula, Bukankah Bahagia Kita adalah Bahagia Ayah dan Ibu Juga?

Begini, jika memang sudah tak bisa meluluhkan hati kedua orangtua untuk memberi restunya. Cobalah dekati mereka dari sisi terakhir yang kami jadikan sub judul diatas. Yap, kalau memang kedua orangtua masih berpikir bahwa pilihan kita adalah sesuatu yang salah. Ajukan pada mereka, jika ini adalah sesuatu yang membuat kita bahagia. Biasanya, cara ini bisa menyentuh hati mereka untuk bisa luluh dan akhirnya bisa memahami apa yang kita inginkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kenapa Membaca Itu Penting?

“Membaca tak hanya mengisi kepalamu, Ia menutrisi pikiranmu. Dan itulah keajaiban sebuah buku”

Kamu bisa mengonsumsi suplemen minyak ikan, memakan banyak buah-buahan. Ikut kelas bahasa, les berbicara, atau latihan teratur untuk segala hal setiap minggu. Ya, konon ada banyak metode yang (dipercayai) bisa meningkatkan daya ingat dan fungsi kognitif kita. Bahkan industri pelatihan otak dan penilaian diperkirakan akan mencapai 8 Miliar dollar AS pada tahun 2022 mendatang. Akan tetapi, cara termurah, termudah dan paling teruji untuk mempertajam otak manusia ada dekat di hadapan kita, yakni “membaca”.

Ini bukan sekedar bualan, fakta tentang membaca itu baik bagi otak kita tentu benar adanya. Jadi tak heran, jika para ibu kerap kali memilih untuk mematikan televisi untuk kemudian  mengajak anaknya membacca buku-buku yang bagus. Bahkan, aktivitas ini dipercayai mampu meningkatkan otak kita terhadap banyak hal.

Membantu Kita Memproses Materi Tertulis dengan Mudah

Ini adalah dampak paling mendasar yang akan kita terima dari membaca. Menerima informasi dalam bentu bahasa, kita terlatih untuk memproses materi tertulis. Entah itu dari surat, koran, majalah, kata-kata, atau kalimat yang mungkin jadi sebuah cerita.

Sel utama syaraf kita bekerja untuk mencari sesuatu yang menjadi pusat perhatian setiap kali membaca. Informasi yang terlihat dihantar pada otak, sehingga kita bisa mengerti lebih cepat. Dan memaksa otak kita untuk berpikir lebih cepat dan keras.

Bahkan Maryanne WWolf, EdD, selaku direktur UCLA Center for Dyslexia, Diverse Learners, and Social Justice, mengatakan “Biasanya, ketika anda membaca, anda akan memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir” Dan tak hanya itu saja, beliau juga menambahkan, jika

“Membaca memberi kita jeda yang unik untuk memahami dan mengerti. Berbeda dengan ketika kita sedang mendengar bahasa lisan atau menonton film dan kaset” ungkapnya.

Membantu Kita Meningkatkan Memori

Sebuah penelitian kecil di Emory University menemukan bahwa beberapa manfaat membaca bertahan selama lima hari. “Kami menyebutnya aktivitas bayangan, hampir seperti memori otot,” kata Gregory Berns, PhD, direktur Center for Neuropolicy at Emory.

Baik, kamu mungkin akan berkata jika ini bukanlah sesuatu yang menakjubkan. Sebab membaca memang memberikan latihan pemahaman akan bahasa bagi otak. Tetapi, membaca juga memberikan energi positif pada bagian otak yang bertanggung jawab atas aktivitas motorik dalam diri kita. Sehingga kita bisa bergerak lebih leluasa untuk melakukan sesuatu sebagai bentuk respon dari apa yang kita baca. 

Bahkan meski kita berkata tak senang bepergian dengan menaiki motor, ketika kita sedang membaca kalimat yang menjelaskan kita sedang naik motor. Otak akan bekerja untuk membayangkan, seolah-olah kita sedang melakukan sesuatu seperti yang sedang kita baca.

Dan Kata Peneliti, Membaca Bacaan Sastra Sangat Memberikan Pengaruh Baik Pada Otak Kita

Meski serupa membaca, ternyata jenis bacaan pun memberikan pengaruh yang berbeda-beda. Hasil penelitian yang dilakukan di Stanford University menyebutkan jika membaca bacaaan sastra akan memberikan latihan khusus yang baik pada otak manusia.

Penelitian ini dilakukan pada orang-orang yang membaca novel Jane Austen, dan para peneliti menemukan jika ada peningkatan aliran darah ke area otak yang mengotrol fungsi kognitif dan eksekutif, sebagai lawan dari efek membaca yang dilakukan dengan lebih santai dan tenang.

Lalu Akankah Juga Berpengaruh Serupa Pada Pembaca yang Mengalami Disleksia?

Ketidakmampuan pengidap disleksia dalam memahami atau menyusun kalimat, jadi pertanyaan lain yang mungkin sedang kita pikirkan. Akankah membaca memberikan pengaruh yang sama pada mereka? Jawabannya, Ya!

Para ilmuwan di Universitas Carnegie Mellon mempelajari anak-anak usia delapan hingga sepuluh tahun yang pola membaca di bawah rata-rata dan tak tentu arahnya. Mereka menjalani perbaikan waktu membaca dengan waktu sekitar seratus jam selama penelitian.

Dan ternyata aktivitas tersebut menunjukkan perbaikan secara signifikan dalam meningkatkan kualitas materi pada otak mereka. Informasi yang diterima, tetap bisa diproses dengan baik. Dengan kata lain, Otak anak-anak ini telah mulai menyesuaikan diri dengan cara-cara yang dapat bermanfaat bagi seluruh otak, dan tidak hanya korteks temporal yang berpusat pada membaca.

Itulah Mengapa, Membaca dengan Cermat Perlu Dijadikan Kebiasaan

Dalam buku barunya, Reader, Come Home, Wolf mengatakan jika dirinya saja yang bekerja dengan cara menulis. Masih butuh membaca lebih banyak untuk bisa memahami banyak hal. Sialnya, kebiasaan ini mulai bergeser oleh kehadiran layar ponsel yang lebih sering dipegang dan dibaca.

Nah untuk itu, agar bisa lebih leluasa menyelesaikan bacaan dan terus menambah daftarnya. Ia menyarankan kita untuk segera mematikan ponsel ketika ingin membaca. Tak perlu lama-lama, sisihkan waktu satu atau dua jam setiap hari untuk membaca buku apa saja.

Jika kamu masih bingung untuk memulai darimana, cobalah cari daftar 100 buku yang wajib dibaca sebelum kamu mati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hati-hati! Curhat Pada Sembarangan Teman, Bisa Jadi Rahasiamu Terbongkar

Mengira dia bisa menyimpan rahasia, sering kali kita menceritakan semua hal pada seorang teman. Bukannya menutup rapat mulutnya, ia malah jadi pihak yang kerap membeberkan cerita. Tak bermaksud membuatmu menaruh curiga, tapi beberapa orang bersedia mendengar hanya karena tahu ada informasi yang bsia dijadikan bahan gibah.

Uneg-uneg yang kita keluarkan, mendadak jadi bahan gosip dengan tambahan beberapa kalimat yang sejatinya tak kita sebutkan. Alih-alih membuat diri lebih tenang, curhat ke sembarangan orang malah membuat hati kian gusar. Curhat memang membuat tenang, memberi jawaban atas masalah yang kita sampaikan. Tapi perlu diingat pula, teman curhat yang kita pikir kawan bisa mendadak berubah jadi lawan.

Jangan Langsung Menyerah, Sebelum Curhat Berusahalah Sendiri dalam Menyelesaikan Masalah

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya seorang diri. Hanya saja, kadang kala kita butuh teman untuk mendengarkan apa yang sedang kita rasakan. Inilah yang mungkin jadi penyebab, mengapa kita memilih curhat dengan teman. Berharap mereka bisa memberi saran yang tak kita pikirkan atau hal lain yang bisa membantu jalannya pikiran.

Namun sebelum memutuskan untuk bercerita pada temanmu, cobalah untuk berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar dari semua masalah. Uraikan semuanya pelan-pelan, cari titik mana yang jadi sumber persoalan, hingga nanti akan ada jalan keluar yang jadi jawaban.

Lagipula Daripada Curhat ke Teman, Bercerita ke Pasangan atau Keluarga Justru Lebih Aman

Yap, meski katamu teman bisa seperti saudara, pada waktu tertentu mereka bisa saja berubah secara tiba-tiba. Berbeda dengan pasangan atau saudara dan keluarga yang akan tetap menjaga rahasia yang kamu bagikan pada mereka. Tapi, lain hal jika kamu memang lebih percaya teman daripada pasangan atau keluargamu.

Semuanya kembali pada kita sebagai si pencerita. Apakah yakin sudah memilih teman curhat yang benar, atau memilih bicara pada pasangan saja, setiap kali ada masalah. Tapi ingat, sebaik-baiknya teman, keluargalah yang akan selalu menerima kita untuk pulang dalam segala keadaan.

Tapi Jika Memang Terpaksa Butuh Didengar Orang Lain, Pilihlah Teman yang Bisa Menyimpan Semua Cerita

Sejalan dengan yang tadi sudah dijelaskan diatas, kadang kala kita memang butuh didengar. Tapi persoalan yang sedang mendera mungkin adalah masalah kelaurga, sehingga kita merasa akan lebih baik jika yang mendengar adalah teman saja. Harapannya cuma satu, didengar atau diberi saran dan semua cerita tak akan bocor keluar.

Maka untuk berjaga-jaga, cobalah cari teman yang bisa dipercaya. Bisa menyimpan rahasia, dan tahu batasan tentang menjaga semua isi pembicaraan. Meski tak bisa memastikan jika ia tak akan bercerita kepada orang lain. Kesediannya untuk mau mendengarkan adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Dan akan berbeda jika ternyata dirinyalah yang kemudian membeberkan semua rahasia kita.

Minta Ia Menutup Rapat Mulutnya, Jangan Ember dan Mengobral Semua Masalah

Demi mengingatkan seorang kawan, tak ada salahnya jika kita kembali menngingatkan dirinya tentang semau cerita yang baru saja kita bagikan bersamanya. Sampaikan padanya, jika kita tak ingin kabar ini diketahui banyak orang atau terdengar sampai keluar. Memilihnya menjadi teman bercerita karena kita percaya, jadi sebisa mungkin mintalah ia tetap menjaga kepercayaan yang sudah kita sematkan padanya.   

Namun Jika Tak Ingin Menambah Masalah, Cobalah Curhat Kepada Allah

Nah, alternatif paling baik setiap kali ada beban yang mendera, tentu saja curhat kepada Alla. pasangan bisa saja berubah tak mau mendengarkan, sahabat atau kawan bisa saja membeberkan semua rahasia dan cerita yang kamu sampaikan, tapi Tuhan sang pemiliki semesta akan selalu siap untuk mendengarkanmu bercerita, dimana dan kapan saja.

Jangan takut ceritamu dijadikan bahan gosip, karena yang sesungguhnya akan kau dapat bisa jadi jalan keluar dari persoalan yang kau sampaikan. Dekatkan diri untuk berbagai semua hal, datang padanya setiap kali kamu lemah dan bahagia. Dengan begitu, Allah tahu jalan seperti apa yang sedang kamu butuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Ingin Hidupmu Maju? Mulailah Dengan Menghilangkan Kalimat-Kalimat Ini

Perkataan adalah doa, maka jangan pernah sembarangan dalam mengatakan sesuatu. Jika hari-harimu selalu dipenuhi kalimat-kalimat positif maka kehidupanmu pun akan dipenuhi dengan hal-hal positif. Jika sebaliknya, maka ada hal-hal negatif lah yang akan menghiasi hari-harimu, jangan sampai hal itu terjadi ya.

Apapun yang terjadi dalam hari-harimu usahakan untuk tetap berbaik sangka dengan terus memotivasi diri menggunakan kalimat-kalimat positif. Ubah kalimat-kalimat negatif yang selalu ada di pikiranmu. Jika kamu ingin hidupmu maju, mari hilangkan kata-kata ini.

1. “Saya Tidak Bisa”

Bagaimana mungkin kamu tahu tidak bisa jika kamu saja belum mencobanya? Jika setiap kegiatan kamu awali dengan kalimat ini maka kamu telah meragukan kemampuanmu sendiri. Mari ganti kalimat ini dengan “Saya Pasti Bisa”

2. “Saya Malas Mengerjakannya”

Bagaimana hidupmu bisa maju jika kamu saja masih memelihara sifat malas, tidak ada pemalas yang sukses, bangkitlah dan lawan rasa malas itu. Hilangkan kalimat yang memanjakan dirimu namun menghancurkan masa depanmu ini!

3. “Ini Sangat Sulit, Saya Tidak Mampu”

Jika pada awalnya saja kamu sudah mengganggap semuanya serba sulit, maka bagaimana tuhan akan mempermudah hidupmu? Berusahalah untuk membuat yang sulit itu menjadi mudah, bukan malah mensugestikannya dengan kalimat itu.

4. “Saya Sibuk dan Tidak Mempunyai Waktu”

Waktu bukanlah milik kita, lantas tidak ada orang yang tidak punya waktu luang dalam hidupnya. Jangan membuat dirimu sendiri sibuk dengan hal yang sebenarnya tidak perlu kamu lakukan. Luangkan waktumu untuk berbagai hal positif yang bisa kamu lakukan, jangan sampai kalimat diatas malah membuatmu terasa sombong ya.

5. “Saya Tidak Mau Tahu Apapun”

Bersikap cuek memang boleh, namun jika kalimat itu sudah keluar dari mulutmu maka bukan cuek lagi yang ada pada dirimu, namun lebih terkesan arogan. Cobalah untuk melakukan toleransi dengan menjaga perkataanmu, hidupmu tidak akan maju jika kamu masih mengandalkan orang lain dalam melakukan sesuatu.

6. “Saya Tidak Bisa Hidup Tanpa Dia”

Jatuh cinta tidak harus membuat kita menjadi bodoh. Sebesar apapun cintamu padanya, kamu tidak lantas berhak mengatakan ini. Hidupmu adalah milik Tuhanmu, bukan kekasihmu. Selama dia bukan oksigen maka kamu bisa hidup tanpa dia, jangan menghancurkan dirimu dengan kalimat itu. Semua itu hanya akan membuat pasanganmu besar kepala dan berbuat seenaknya.

7. “Saya Selalu Benar”

Tidak ada manusia yang selalu benar, yang ada hanyalah yang merasa benar. Jangan pernah merasa bahwa dirimulah yang paling benar dan orang lainlah yang salah. Karena kamu adalah manusia biasa yang tentunya pernah melakukan kesalahan. Tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati sepintar apapun dirimu.

Nah sekarang mulailah untuk menghilangkan kalimat-kalimat itu di dalam kehidupanmu ya. Kemudian mulailah untuk menggantinya dengan kalimat-kalimat positif agar ia bisa membawa hal-hal positif ke dalam kehidupanmu juga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top