Community

Apapun Masa Lalumu, Kamu Berhak Bangkit dan Mulai Kehidupan yang Baru

Buruk dan baiknya kehidupan pasti akan dirasakan oleh setiap orang. Kamu yang memiliki masa lalu yang buruk tak perlu risau. Kamu pun mampu bangkit asal kamu mau.

Jika kamu merasa jatuh karena banyaknya orang yang mencibirmu dengan alasan keburukanmu di masa lalu, acuhkanlah. Seburuk apapun itu, kamu berhak untuk memulai kehidupan yang baru.

Bangkitlah dari keterpurukanmu selama ini. Jangan sia-siakan kehidupanmu untuk yang kesekian kali. Sayangi dirimu dan cobalah untuk mencintai kehidupanmu dengan berusaha melakukan yang terbaik di sisa waktumu.

Tak Perlu Dengarkan Omongan Orang Lain. Teruslah Berusaha Memperbaiki Kehidupanmu Sendiri

Jangan pedulikan anggapan remeh orang lain terhadapmu. Tak menutup kemungkinan kamu hanyalah mutiara yang menunggu debu hilang dari hidupmu untuk bisa bersinar terang. Kamu hidup untuk dirimu, jadi berusahalah bangkit untuk dirimu juga.

Perubahan Sepenuhnya Ada di Tanganmu

Kamu bisa mengubah keadaan ini. Jika pun kamu tak mampu merubahnya, setidaknya ubahlah attitude mu untuk merubah aura negatif di sekelilingmu. Kamu mampu kok, karena itu kamu cuma butuh sedikit berjuang lebih keras dari yang orang lain lakukan.

Percayalah Tiada Perjuangan yang Sia-sia

Dalam kehidupan ini, tak ada usaha yang sia-sia. Bagaimana pun perjuangan yang kamu lakukan, pasti akan ada hasil yang kamu dapatkan meskipun kecil. Setidaknya kamu harus tahu, keberuntungan akan diraih oleh seseorang yang mau berusaha dan bekerja keras untuk mendapakannya.

Dari Buruknya Masa Lalu, Belajarlah untuk Hidup Lebih Baik di Masa Depan

Kamu yang punya kisah buruk di masa lalu sepatutnya harus bersyukur. Apa yang sudah terjadi bisa jadi satu pembelajaran penting untuk kehidupanmu di masa mendatang. Jangan hanya mengeluh atas buruknya masa lalu, karena di balik itu semua, ada hikmah yang Tuhan sematkan untuk kamu ambil.

Ingat, Tuhan Selalu Ada Bersamamu

Tak perlu merasa sepi dan sendiri dalam menjalani kehidupan ini. Jika kamu adalah orang yang beriman kepada Tuhan, kamu pasti tahu kalau Tuhan tak pernah meninggalkanmu walau sedetik saja. Jangan lupakan Tuhan dalam setiap langkahmu, karena Tuhan pun tak pernah melupakanmu.

Jika Kamu Percaya dan Berusaha, Hidupmu Pasti akan Indah pada Waktunya

Roda kehidupan selalu berputar. Jika dulu kamu mengalami hal sulit, dimana kamu ada di posisi paling bawah, bersabarlah. Kebahagiaan pasti akan menghampirimu jika sudah waktunya. Tuhan sudah mengatur apa yang akan terjadi pada hidupmu. Dengan mudah Dia bisa menjatuhkan dan dengan mudah Dia bisa menempatkanmu di posisi tertinggi dalam kehidupan ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

5 Bantahan Terhadap Argumentasi Konyol Penolak Vaksin MR

Kamu termasuk yang mana, pendukung vaksin MR atau mereka yang menolak? Yup, dalam satu bulan terakhir dunia maya dibuat berisik soal urusan Vaksin MR ini. Tak percaya? Google bahkan menangkap kenaikan hingga lebih 1000 persen perbicangan soal ini. Penyebabnya apa? Tak lain karena menguatnya debat antara para pendukung vaksin dan mereka yang anti vaksin tadi.

Masing-masing punya argumen. Tapi ini soal kesehatan yang sudah selayaknya tak dijadikan bahan debat apalagi cuma jadi penghias gadget dan linimasa semata. Karena Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Mengerikan bukan? Lantas kenapa masih saja ada yang menolak vaksin MR ini? Karena mereka punya alasan yang sesungguhnya sudah bantahannya.

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Sebetulnya mereka yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Belum Bersertifikat Halal, Bukan Berarti Lantas Haram

Nah ini yang bikin ramai kemarin. Vaksin MR dikabarkan haram dan tidak boleh digunakan oleh mereka yang muslim. Padahal informasi tepatnya, vaksin MR ini sertifikasinya sedang dalam proses pengurusan.

Analogi sederhananya begini. Ketika kita membeli mie ayam atau ketoprak yang lewat di depan rumah, pernahkah kita mencap makanan tersebut haram karena tidak ada sertifikat halalnya? Kenapa kita bisa tenang saja dan tak mempermasalahkan makanan tersebut? Kalau untuk perkara yang lebih ringan saja kita bisa melihatnya secara jernih, kenapa pulak untuk urusan mendesak macam vaksin MR kita begitu ngotot?

Apalagi urusan vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Kalau sudah ada fatwa berhukum Mubah dari para ulama macam ini, kenapa masih harus ragu lagi?

Paling Konyol Adalah Tuduhan Vaksin MR Dibuat Dari Darah Pelacur

Mungkin ini tuduhan paling gila dan brutal. Disebarkan isu bahwa vaksin MR ini dibuat dari campuran darah pelacur dan darah para penjahat. Jelas ini tuduhan yang begitu sesat. Karena vaksin MR ini merupakan produk kesehatan yang harus melalui uji yang ketat. Proses berisiko seperti menggunakan darah apalagi darah pelacur dan penjahat jelas tidak mungkin dilakukan.

Vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. Apa iya 141 negara itu akan diam saja kalau vaksin MR dibuat asal-asalan seperti tuduhan itu?

Efek Samping Vaksin MR Hanya Minor Dan Nyaris Tidak Dirasakan

Salah satu alasan orang tua menolak anaknya di vaksin MR adalah karena adanya isu bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Padahal hingga saat ini tidak ada studi yang membenarkan isu tersebut.

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Ambil contoh misalnya jika anak kita sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Masalahnya jika sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anak kita memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin.

Jadi kalau masih ngotot tak mau ikut vaksinasi rasanya tepat idiom yang tersebar selama ini. Tak masalah kamu tidak mau ikut vaksin, tapi silahkan mengasingkan diri jauh-jauh dan jangan tinggal dekat kami yang memilih untuk ikut vaksinasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Hanya Malas Membuka Hati Apalagi Kalau Akhirnya Hanya untuk Dikhianati

Keadaanku jauh lebih baik sekarang ini. Sekalipun menyadari statusku kini sendiri, tapi aku tak peduli sebab masa-masa berat itu akhirnya terlewati. Jika ditanya bahagia, maka jawabanku tentu “Ya”, aku lega karena tak harus memaksakan perasaanku untuk tetap menjalin hubungan pada orang yang hanya membuatku terpuruk setiap harinya.

Semuanya sudah berakhir. Aku benar-benar bersyukur. Namun ada tahapan baru yang harus kulalui, yaitu menghadapi berbagai opini dari sekitarku dengan keputusanku yang masih memilih sendiri. Ada rasa malas membuka hati yang mungkin kalian tak mengerti. Aku tak mau terburu-buru menemukan yang baru tapi berakhir pilu. Cukup sekali aku dikhianati.

Meski Aku Tak Menyimpan Dendam, Tapi Masih Jelas Rasanya Saat Memergoki Pasanganku Berselingkuh

Soal dendam, sudahlah, aku sama sekali tak dendam apalagi mau balas dendam. Hanya saja, efek dari perlakuannya terhadapku kala itu, aku sekarang jadi malas membuka hati. Untuk apa menjalin relasi kalau hanya untuk dikhianati? Bukan soal patah hati, tetapi aku tak ingin hal itu terjadi lagi di masa depan. Kenangan pahit itu akhirnya membuatku jadi amat selektif bahkan tak ingin lagi berpacaran apalagi jika ujung-ujungnya dibumbui perselingkuhan.

Pernah Jadi Korban Kekerasan Saat Menjalin Hubungan, Membuatku Semakin Jauh Dari Keinginan Membuka Hati

Bayangkan, aku dan dia bahkan belum menikah. Tapi nyatanya dia justru berani main tangan dan berani memukul saat kami selisih paham. Hal semacam ini yang akhirnya membuatku trauma dan memilih untuk menunda dulu dalam membuka hati. Banyak teman yang bilang, tak semua orang suka memukul, tapi entah kenapa aku hanya belum bisa menyingkirkan rasa malasku untuk membuka hati. Semacam ada luka yang memang belum sepenuhnya sembuh.

Baik Laki-laki Maupun Perempuan, Rasanya Hanya Buang-buang Waktu Kalau Membuka Hati Tapi Ujung-ujungnya Digantungkan

Hal ini terjadi tak cukup sekali. Entah salahku dimana, tapi hubungan yang aku dambakan tak pernah berhasil. Saat aku mengajaknya membicarakan soal kepastian, dia justru pergi dan tak kembali sekian lama, tersisa hatiku yang sudah hancur dan tak tahu bagaimana menatanya kembali. Intinya, aku benar-benar malas dengan segala hal yang berbau romansa. Niat baikku, perasaanku, segala hal yang tadinya kusimpan dan akhirnya kuutarakan baik-baik, ternyata berujung kisah diriku yang hanya dipermainkan.

Traumaku Belum Sembuh Sebab Kala Itu Keberadaanku Hanya untuk Dimanfaatkan

Pernahkah kamu merasa kebaikan hatimu hanya dimanfaatkan oleh seseorang semata-mata untuk kepentingan dirinya? Ini salah satu hal yang membuatku kapok pacaran. Entah bagaimana, aku menemukan fakta kalau mantanku hanya memanfaatkan keberadaanku demi kesenangannya saja. Materi yang kebetulan ada padaku, pada akhirnya berusaha dimanfaatkan olehnya. Bukan hanya rasa malas yang muncul, aku pun jadi lebih hati-hati pada siapapun yang berniat mendekatiku.

Alasanku Enggan Membuka Hati Salah Satunya Karena Sulit Sekali Kompromi dengan Gebetan yang Maunya Terus Dominan

Dominan yang kumaksud adalah selalu mengatur kemauanku sehingga aku merasa tak bebas melakukan hal yang aku inginkan. Bagaimanapun, aku ingin sesekali bersama duniaku sendiri dan tak ingin satu orang pun mengaturnya. Kalau terus-terusan bersama si dominan, entah mengapa rasanya seperti dikekang. Itulah alasan aku memilih perpisahan. Dan sekarang, pada akhirnya aku sadar urusan memilih pasangan pun harus lebih selektif lagi. Rasa malas memang masih ada, tapi semoga aku bisa mengatasi perasaan ini secepatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Berdamailah dengan Masa Lalu, Buka Hati untuk Cinta yang Baru

Perkara masa lalu, biarkan dirimu terus belajar dari orang-orang sekitar. Aku yakin, akan ada saatnya kamu mau menerima dan mengikhlaskan hubungan yang sempat berakhir di tengah jalan. Aku tahu rasanya memang sulit, kamu harus mengalami kenyataan pahit di masa lalu.

Tapi, kamu sudah melalui hal itu, kini saatnya untuk membuka hati dan melihat masa depanmu pada sebuah hubungan yang baru tanpa perasaan ragu. Kawan, sudahlah, bukan lagi saatnya untuk meragu. Bagaimanapun, kamu berhak mengukir kisahmu dengan hal-hal yang baru yang lebih indah dengan seseorang dimana nantinya kamu bisa merasakan bahagia lagi.

Saat Ragu Mulai Menyapa, Pikirkanlah Kalau Kamu Juga Berhak Bahagia

Setiap orang dibekali Tuhan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kamu hanya harus fokus pada kelebihan yang kamu miliki dan kembangkanlah kemampuan tersebut setiap harinya. Hal ini bisa jadi langkah sederhana yang membuatmu percaya bahwa kamu itu berharga.

Terlepas dari seberapa besar pengalaman membentuk pemikiran untuk menghindari hubungan dengan seseorang yang baru, kamu itu berhak bahagia. Tak usah membandingkan dirimu yang sekarang dengan yang lama serta mengungkit lagi soal kegagalan hubungan dengan orang baru yang datang menghampiri.

Lagipula, Kegagalan Seharusnya Bisa Membuatmu Memiliki Hati yang Lebih Lapang

Kalau kamu pernah putus cinta, bukan berarti kamu gak bisa mencinta lagi. Kegagalan dalam hubungan justru bisa menjadikan pribadimu lebih dewasa dalam hal mencintai dan dicintai. Sudah selayaknya kamu lebih bisa mencintai dirimu yang sekarang, kawan. Menerima seseorang yang pastinya bisa menghargai dirimu lebih dari sebelumnya, dan menjalin hubungan yang lebih naik tingkat. Karenanya, kegagalan memang seharusnya bisa membuatmu memiliki hati yang lebih lapang.

Pahamilah Kalau Setiap Pilihan yang Kamu Tetapkan Selalu Ada Risikonya

Keraguan dalam menerima seseorang justru bisa membawa dampak bagi dirimu sendiri. Mau sampai kapan kamu meragu dan terpenjara dengan perasaan itu seterusnya? Padahal, kamu sendiri juga tahu bahwa setiap hal yang membuatmu bahagia juga sepaket dengan kemungkinan terburuk serta kesedihannya.

Bagaimanapun, kegagalan di masa lalu harus membuatmu lebih bijak dalam mengambil langkah di masa depan. Setiap pilihan ada sisi enak dan tak enaknya memang, tapi jangan sampai kamu justru berhenti menutup diri untuk menjajal kesempatan baru dalam hidupmu.

Yakinkan Diri, Jika Kamu Memang Sudah Benar-benar Belajar dari Masa Lalu

Kalau dulu kamu masih main-main dalam menjalin hubungan, karena kegagalan yang terdahulu otomatis membuatmu makin bisa berpikir rasional, kan? Kamu jadi tahu mana yang lebih cocok dan mengeliminasi yang sekiranya tak sesuai sama dirimu. Termasuk soal memilih dan memantapkan hati pada hubungan yang baru.

Sekalipun memilih seseorang tanpa bayang-bayang orang di masa lalu memang bukan hal yang mudah, Janganlah sering membandingkan keduanya hingga tak kunjung mengambil kesempatan saat ada yang mendekati. Saat ini, yang perlu kamu perlu menghilangkan kebiasaan membandingkan ini, karena setiap orang punya kelebihannya sendiri.

Terpenting, Kamu Harus Sayangi Dirimu Lebih Dulu

Keraguan saat mau menjalin hubungan bisa datang dari ketidakyakinan diri untuk bertahan pada pilihan. Nah, jika kamu merasa dalam kondisi yang semacam ini, cukup jalani segala sesuatu dari apa yang ada di depan mata, terima dirimu seutuhnya. Dengan ini, maka kamu akan lebih mudah mempersilahkan seseorang hadir dan menjalani hubungan baru. Ingatlah, Tuhan pasti punya alasan dalam mempertemukanmu dengan seseorang yang  baru. Terlepas dari kenangan atau kejadian yang tak menyenangkan, aku berharap kamu bisa menjalani hubungan yang lebih berkualitas lagi dari sebelumnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hubungan Kian Hambar Tapi Enggan Tuk Meninggalkan, Aku Tahu Bagaimana Rasanya Kawan!

Relasi yang sudah berjalan dalam kurun waktu tahunan, tak bisa jadi patokan hubunganmu dengannya bisa tetap baik-baik saja. Justru ada saja rintangan yang jauh lebih besar yang akan kamu hadapi. Yang paling sering kejadian, ada sekian orang merasa tak punya lagi cinta yang sama besarnya seperti dulu saat baru awal-awal jadian. Semacam kehilangan gairah dalam hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun. Tapi dirinya sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan selain bertahan.

Sehat atau tidaknya sebuah relasi pun hanya kamu dan pasanganmu yang tahu. Bersyukurlah kamu kalau saat ini relasimu baik-baik saja, kamu dan pasangan bisa merawat cinta yang ada di tengah-tengah kalian. Sementara di luar sana, ada banyak sekali orang yang memutuskan untuk bertahan dalam sebuah hubungan walau ia merasa hubungannya sudah tak lagi sehat untuknya. Aku pernah merasakannya. Beberapa alasan mungkin terdengar klise, tapi memang itulah kenyataan…

Terlalu Malas Mengulang Pola ‘Kenalan-Pendekatan-Pacaran’ Seperti yang Sudah-sudah…

Memulai lagi. Rasanya malas sekali. Harus cari gebetan lagi, kenalan lagi, pendekatan, bahkan sampai mengulang lagi fase pacaran dari awal—yang berbeda cuma satu, yaitu pasangan yang baru. Yup, yang namanya menjalin hubungan yang baru, semua mau tak mau dilakukan kalau memang memilih untuk melepaskan pasanganmu yang sekarang. Kala itu aku pun berpikir demikian. Terlalu malas untuk berkutat dengan hal-hal semacam itu, karenanya aku memilih bertahan.

Tapi izinkanku memberi saran. Sebab ini soal masa depan, apa iya kamu terlalu malas untuk semua itu?  Bukankah lebih menyebalkan terjebak dengan seseorang yang membuatmu tidak sreg lagi dengan hubunganmu yang sekarang? Soal pasangan, masa depanmu pun ikut dipertaruhkan. Sekali kamu mengiyakan sebuah pernikahan yang tidak kamu inginkan, selamanya kamu akan terjebak di dalamnya. Kalau memang hatimu tidak untuk si dia yang ada disampingmu sekarang ini, lantas untuk apa terus bertahan dan berusaha keras?

Berusaha Mencoba untuk Nyaman Hanya Karena Takut Tak Bisa Menemukan yang Sepadan

Tak usah menghakimi diri sendiri dan takut tak akan dapat pasangan, yang perlu kamu pikirkan sekarang ini adalah bisakah kamu keluar dari hubunganmu yang hambar? Kalau kamu berani mendobrak hal ini, percayalah, akan ada seseorang yang tidak akan membuatmu merasa bosan walau setiap hari bersamanya. Kalau kamu belum merasakannya sekarang, tandanya dia memang bukan orang yang dipersiapkan untukmu, jangan takut putus dengannya.

Kamu Memilih Bertahan Karena Pertimbangan Usiamu yang Dicap Pantas Menikah

Dulu aku begitu, aku memilih bertahan karena usia jadi pertimbangannya. Usiaku seakan mengejarku untuk segera berumahtangga dengan pasanganku kala itu. Bertahun-tahun aku memegang prinsip “selagi ada pasangan” aku pun jadi ‘mau-tidak-mau’ tetap bertahan. Untukmu, jangan sampai terjebak situasi yang sama sepertiku. Selalu ada kesempatan asal kamu mau mengusahakannya. Lagipula, untuk apa kamu fokus pada usia menikah padahal kamu sendiri tidak yakin bisa hidup bahagia dengannya?

Kamu Merasa Dirimu Pantas Menerima dan Berada di Situasi Tersebut

Jangan sekali-kali berpikir kamu pantas berada di situasi yang sulit hanya karena kamu berlaku buruk di masa lalu. Bangunlah kepercayaan diri dan tunjukkan bahwa semua orang patut bahagia. Jangan pernah beranggapan kamu pantas menderita dengan bertahan pada cinta yang hambar. Kamu selalu pantas bahagia, asal kamu sendiri mau memperjuangkannya.

Kamu Tak Percaya Diri Karena Takut Mendapatkan Pasangan yang Lebih Buruk dari yang Sekarang

Padahal tak ada jaminan hal itu bisa terjadi. Begini, tak ada salahnya kamu juga peduli dan memikirkan dirimu sendiri untuk urusan relasi seperti ini. Jangan sampai bertahan membuatmu stres setiap harinya. Bahkan sekalipun kamu sudah sendiri, itu lebih membahagiakan dibanding jadi pasangan orang yang tidak lagi kamu cintai.

Hindari menyiksa dirimu sendiri. Kalau memang kamu tidak merasa nyaman, jangan takut untuk segera pergi dan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Cinta tak bisa dipaksakan, kawan. jangan salahkan dirimu atau dia yang tidak bisa membuat cinta kalian seindah dulu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top