Feature

Kenapa Rindu (Itu Berat)?

“Jangan rindu…berat…kamu gak akan kuat…biar Aku saja”

Begitu kata tokoh Dilan dalam film dan novel Dilan kepada Milea sang kekasihnya. Kalimat sederhana itu pun sempat bikin heboh netizen. Banyak bahkan yang memberikan tanggapan dengan status, cuitan dan meme yang menyatakan ada hal lain yang lebih berat dari rindu.

Namun sebetulnya yang dibicarakan Dilan itu memang bukan omong kosong. Setidaknya menurut sains, rindu memang sesuatu yang sangat berat untuk ditanggung oleh tubuh. Namun untuk sampai pada penjelasan soal rindu, sebelumnya kita coba bahas pangkal penyebabnya yaitu cinta.

Kata orang cinta itu sesuatu yang abstrak dan sulit dijelaskan. Jauh lebih rumit dari penjelasan hukum relativitas Einstein. Namun jika kita tarik menggunakan ilmu psikologi dan biologis, sesungguhnya cinta tidak lah serumit itu.

Menurut jurnal Psychopharmacology yang dirilis tahun 2012, Cinta hanya lah sekumpulan reaksi-reaksi kimia dalam tubuh. Dan reaksi psikologis kita atas keadaan-keadaan tertentu. Cinta merupakan “jebakan” alamiah dimana kita sama sekali tak punya kendali di dalamnya. Serupa dan setingkat dengan memicingkan mata ketika silau atau bersin ketika ada yang gatal di hidung.

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino Cuma Mitos?

pasangan berdua

Ya, konsep “Cinta tumbuh karena terbiasa” tidak dikenal dalam bidang neuro science. Karena ternyata cinta tak bisa tumbuh karena terbiasa. Cinta hanya ditentukan 90 detik sampai 4 menit setelah kita bertemu seseorang. Dalam rentang waktu ini, otak manusia akan menentukan apakah dia jatuh cinta atau tidak.

Cinta itu sangat primitif, tak ditentukan kata-kata romantis, tapi berdasarkan bahasa tubuh dan intonasi suara saja

kaki

Rupanya cinta bukanlah produk kebudayaan hasil olah pikir yang rumit dari manusia. Cinta atau tidaknya kita pada seseorang ternyata ditentukan dari insting primitif setingkat dengan takut dan jijik. Dari sekian banyak faktor yang menentukan kita mencintai atau tidak seseorang, 55 persen diantaranya adalah faktor bahasa tubuhnya. Kemudian  sebanyak 38 persen adalah intonasi suaranya.

Sementara pemilihan kata dan kalimat-kalimat hanya mempunyai peranan 7 persen saja. Atau dengan kata lain, kita bisa bicara hal omong kosong dan tetap membuat seseorang jatuh cinta, kalau bahasa tubuh kita dan intonasi suara kita cocok dengannya.

Secara Kimiawi, Jatuh Cinta Itu Menghasilkan Hormon Dopamine, Setara Pecandu Menggunakan Narkoba

rokok

Ketika kita secara tak sadar menyukai bahasa tubuh dan intonasi seseorang di 90 detik awal pertemuan, bagian otak kita yang bernama Hypothalamus akan sangat aktif. Pada saat itu secara terus menerus sisi otak ini akan menghasilkan hormon Dopamine.

Hormon kimiawi inilah yang juga memberikan perasaan bahagia pada diri manusia. Karena secara simultan akan menciptakan perasaaan senang secara intensif serupa ketika tubuh menggunakan narkotika kokain atau heroin.

Ciri tubuh yang sedang menghasilkan dopamine adalah peningkatan energi yang drastis, penurunan nafsu makan dan penurunan kebutuhan untuk tidur. Selain itu mereka yang kelebihan dopamine hanya fokus pada hal tertentu dan cenderung memperhatikan hal-hal detail. Jangan heran makan kita menjadi sedikit ketika jatuh cinta. Kemudian kita mampu bergadang berjam-jam meski pun mata sudah mengantuk.

Menurut ilmu Neuroscience Cinta Buta Itu Nyata Adanya

pasangan malam

Ketika kita jatuh cinta, jalur syaraf negatif di otak kita yang menghubungkan Nucleus Accumbens dan Amygdala menjadi non aktif. Padahal sesungguhnya jalur ini digunakan otak kita untuk menilai sesuatu itu baik atau buruk yang berguna untuk insting mempertahankan hidup.

Namun ketika jatuh cinta, jalur ini tidak aktif. Jangan heran jika kita tidak mampu merasakan makanan yang tidak enak, bau yang kurang sedap dan hal negatif lain termasuk di dalamnya faktor-faktor negatif yang terdapat pada pasangan.

Lalu Darimana Datangnya Rindu? Itu Karena Hasil Dari Produksi Hormon Oxytocin dan Vasopressin

bersama di hutan

Ketika jatuh cinta bagian otak Hypothalamus selain menghasilkan hormon Dopamine,   juga menghasilkan setidaknya dua hormon lagi. Kedua Hormon ini adalah Oxytocin dan Vasopressin.

Hormon Oxytocin ini secara alami dihasilkan ketika seorang ibu melahirkan bayinya. Oxytocin lah yang membuat payudara ibu secara otomatis menghasilkan susu ketika anaknya menangis. Hormon inilah yang membuat anak secara insting akan merasa aman dan ingin terus berada dekat pelukan ibunya. Nah, paham bukan, kenapa mereka yang sedang jatuh cinta selalu ingin dekat berpelukan? Karena ketika jatuh cinta, hormon Oxytocin kembali diproduksi secara massal.

Sementara Vasopressin secara natural sebenarnya adalah hormon yang menciptakan rasa haus untuk menjaga kesehatan ginjal. Ketika jatuh cinta, hormon ini juga diproduksi secara masif. Inilah yang bertanggung jawab terhadap rasa haus (rindu) kita pada pasangan.

Kenapa Rindu Berat, Terlebih Ketika Kamu Putus Cinta? Karena Otak Butuh Waktu Untuk Berhenti Memproduksi Dopamine

putus

Ketika kita putus cinta dan hubungan berakhir, otak kita tak serta merta menghentikan produksi dopamine. Otak akan terus aktif menghasilkan hormon “bahagia” ini.

Walaupun begitu di sisi lain, ketika putus, sisi otak kita yang bernama Orbital Frontal Cortex yang mengatur kontrol diri dan emosi akan aktif. Bagian otak ini akan berusaha mengambil alih fungsi otak dan berusaha melupakan pasangan kita.

Pertentangan dua bagian inilah yang membuat putus cinta menjadi begitu sulit dan ujungnya membuat diri tertekan dan sedih. Tapi dari sini kita bisa menyimpulkan satu hal. Bahwa idiom bahwa “waktu akan mampu menyembuhkan luka hati putus cinta” adalah benar adanya. Karena menghentikan produksi Dopamine yang berkaitan dengan si Dia butuh waktu yang tidak singkat.

1 Comment

1 Comment

  1. blue

    September 16, 2016 at 11:01 am

    sontoloyo ini si mimin..
    ulasannya masuk di akal dan makjleb banget! :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Menurut Studi, Perempuan Indonesia Lebih Suka Lelaki yang Rajin Beribadah

Laki-laki silahkan protes, akan tetapi hampir seluruh dunia mengatakan kalau perempuan lebih religius dibandingkan para kaum adam. Dan dari hasil sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Ilmiah Keagamaan oleh seorang profesor sosiologi John P. Hoffmann dari Universitas Brigham Young pada tahun 2018 lalu, menunjukkan salah satu faktor yang dapat menyebabkan perilaku tersebut karena lelaki cenderung berani mengambil risiko. Bahkan tak terkecuali lelaki Indonesia.

Yap, para laki-laki di Negara kita masuk jadi bagian dari lelaki yang disebutkan dalam penelitian diatas. Akan tetapi, terlepas dari kemampuan mereka yang konon lebih berani mengambil resiko. Lelaki Indonesia berbeda dari laki-laki negara lain, dikarenakan mereka dinilai lebih patuh pada perintah dan kewajiban dalam agama.

Ini sejalan dengan survei yang dilakukan oleh situs kencan online terkemuka OkCupid selama Ramadan, yang mana, ada sekitar 60% pengguna lelaki OkCupid berkata jika mereka berpuasa selama bulan suci Ramadan.

“Ramadan merupakan bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh sebagian besar orang Indonesia, karena 87% dari 264 juta penduduknya beragama Islam. Kami melakukan survei ini karena penasaran apakah puasa dianggap sebagai kriteria bagi orang yang mencari pasangan kencan,” kata CMO OkCupid, Melissa Hobley, dalam siaran pers yang diterima media, Kamis (13/6/2019).

Dan dari sekian banyak syarat dan kriteria yang sering ditetapkan oleh perempuan untuk memilih calon pasangan. Ternyata kaum hawa di negara kita menaruh “taat beragama” jadi kriteria teratas dalam pertimbangan.

Ini tentu penting, khususnya bagi kalangan perempuan muslim yang cenderung mencari pasangan yang mampu menjadi imam.

“Hal ini mungkin tidak berlaku bagi setiap orang. Namun secara umum, lelaki yang religius diharapkan lebih mampu membantu pasangannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” tambah Melissa.

Namun konsep taat beragama yang disebutkan tentu tak hanya merujuk pada sosok ‘alim’ yang sedari dulu dianggap yang paling paham agama. Kini para perempuan menilai jika sosok taat beragama, haruslah meliputi kemampuan menjaga hubungan dengan Tuha, berkomitmen dengan pasangan, dapat dipercaya, bertanggung jawab dan cerdas secara emosional.

Dan sebagian besar perempuan menilai jika, seorang lelaki terlihat taat untuk menjalankan kewajiban dalam agamanya. Ia tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik.

1 Comment

1 Comment

  1. blue

    September 16, 2016 at 11:01 am

    sontoloyo ini si mimin..
    ulasannya masuk di akal dan makjleb banget! :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dan Kamu Belum Punya Uang untuk Jaminan Hari Tua?

Sebelum kelak menyesal, ada hal yang perlu kamu tanyakan pada diri sendiri. Sudahkah kamu punya cukup uang untuk tabungan masa depan? Nah, jika ternyata jawabannya adalah “belum”, itu artinya kamu perlu bergerak dari sekarang. Tak perlu risau dan berpikir jika kamu sudah terlambat, sebab perkara menyisihkan uang tak pernah ada kata terlambat untuk memulai.

Konon, dibandingkan laki-laki, perempuan akan hidup lebih lama. Jadi mereka membutuhkan uang yang lebih banyak pula untuk hari tuanya. Namun di waktu yang bersamaan, beberapa perempuan kerap memiliki persoalan dengan pekerjaan, yang bisa berdampak pada keputusan untuk berhenti bekerja. Padahal bisa jadi ia belum punya tabungan untuk hari tuanya. Jadi tak heran jika perempuan memang sering ketinggalan dalam hal menabung untuk masa depan.

“Mereka membutuhkan lebih banyak uang, tetapi mereka berada dalam situasi di mana mereka akan menabung lebih sedikit,” kata Cindy Hounsell, presiden dari Women’s Institute For A Secure Retirement, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada kesehatan keuangan jangka panjang para perempuan.

Nah, jika kamu adalah salah satu orang yang tertinggal dalam hal menabung untuk hari tua, cobalah lakukan beberapa hal ini sebagai langkah untuk mempersiapkan masa depan.

Jangan Tunggu Nanti, Mulailah Hari Ini

Sebagian besar perempuan sering merasa jika menabung untuk hari tua adalah sesuatu yang menyiksa mereka. Untuk selanjutnya merasa akan menabung jika keuangannya sudah membaik. Padahal ini adalah pemikirann yang salah, dan yang seharusnya kamu lakukan adalah mulailah menabung segera.

Lebih lanjut, Hounsell berkata jika tak ada hari yang sempurna untuk menisihkan sebagian penghasilan untuk pensiun dalam setiap bulan. “Jika kamu menunggu hari itu, itu tidak akan terjadi,” katanya.

Pilihan lain yang bisa kamu lakukan, ikut serta menabung dana pensiun yang ditawarkan perusahaan tempat kerja. Biasanya, tabungan ini dipotong langsung dari gaji yang kita miliki. Tapi menabung pada beberapa flatform keuangan yang menawarrkan bunga yang cukup lumayan, juga bisa jadi salah satu pilihan. Pangkas semua biaya yang sekiranya tak penting, demi tabungan yang diinginkan.  

Mulailah Realistis dan Bergerak Membuat Perubahan

Jika kamu baru mulai menabung dana pensiun atau jaminan hari tua pada usia 40-an atau 50-an, itu artinya kamu butuh usaha yang ekstra disiplin.

“Selalu ada kesempatan untuk mulai menabung” kata Hounsell, “Tapi itu berarti, kammu harus memotong drastis semua pengeluaran”.

Perbandingannya begini, jika kamu ingin mulai menabung dana jaminan hari tua di usia 20-an, itu berarti kamu harus menyisihkan 10 hingga 15 persen dari jumlah kesuluran gaji untuk masa tua yang nyaman. Namun jika kamu ingin mulai menabung pada usia 40-an, itu artinya kamu butuh menarik 25 hingga 40 persen gaji, dan jika usiamu sudah diatas 45 tahun itu artinya kamu harus menabung 40 hingga 60 persen dari gaji.

Langkah lain yang bisa kamu lakukan, mulailah beralih ke transportasi umum untuk bekerja, serta berhenti untuk makan di luar setiap akhir pekan.

Utamakan Diri Sendiri, Serta Coba Evaluasi Kembali Semua Pengeluaran Kita Selama Ini

Beberapa kali, kita lebih terfokus pada masalah keuangan orang lain, lalu lupa pada perkara keuangan sendiri. Apalagi jika kita memiliki tanggung jawab untuk membayar beberapa kebutuhan orangtua. Perlu untuk memilah-milah kebutuhan dan kewajiban yang harus dijalankan.

“Anda harus selalu fokus pada diri sendiri terlebih dahulu,” kata Joanna Leng, penasihat keuangan di Singapura yang baru-baru ini meninggalkan posisinya sebagai Senior Estate Planner di Rockwills untuk memulai praktiknya sendiri bekerja secara khusus dengan orang tua tunggal.

Masih melanjuti hal yang tadi dijelaskan, jika memang sudah punya pasangan. Perlu juga untuk membicarakan masalah keuangan pribadimu dengannya. Selain itu, coba cek lagi berapa banyak pengeluaran yang sebenarnya tak kita butuhkan. Dengan begitu, kita bisa menyisihkan dan tersebut untuk masuk ke tabungan.

“Kamu masih punya waktu,” katanya, “Kamu lebih baik memutuskan untuk menabung dan menaatinya.” tutup Hounsell

1 Comment

1 Comment

  1. blue

    September 16, 2016 at 11:01 am

    sontoloyo ini si mimin..
    ulasannya masuk di akal dan makjleb banget! :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ternyata Ada Alasan Ilmiah, Mengapa Laki-laki Sulit ‘Move On’ Setelah Putus Cinta

Jika harus dibandingkan dengan penyesalan lain dalam hidup, ternyata menyesali kisah cinta lama jadi sesuatu yang lebih sering kita pikirkan. Bahkan menurut para psikolog. Craig Eric Morris, seorang antropolog dari Binghamton University yang pernah meneliti kesedihan akibat putus cinta, mengatakan bahwa Manusia dari kebangsaan manapun mengalami trauma menyakitkan tersebut.

Dan dari salah satu penelitiaan Morris, 90 persen dari responden yang ia teliti mengaku pernah mengalami trauma emosional—seperti rasa marah, depresi dan kecemasan—serta truma fisik macam pusing, insomnia, dan penurunan berat badan setelah putus. Bahkan pada penelitian yang diikuti responden yang lebih tua, Morris menemukan kesedihan jangka panjang akibat cinta yang kandas lazim dialami oleh para laki-laki.

Logika Laki-laki Memang Bekerja, Tapi Resah di Hatinya Sulit Reda

Diawal masa berakhirnya hubungan, lelaki memang masih bisa terlihat baik-baik saja. Cenderung memakai logika dalam memaknai segala hal, mereka anya berpikir jika ini adalah cerita yang harus diterima dengan hati yang lapang. Komitmen panjang yang sebelumnya diikrarkan, mendadak hilang dan pergi begitu saja.

Setelah beberapa waktu berlalu, barulah lelaki akan sadar jika ada bagian dari dalam dirinya yang sudah hilang. Amy Summerville, Kepala Regret Lab, Miami University, sebuah unit riset yang mendalami penyesalan verbal, yang salah satunya penyesalan karena putus dengan mantan mengatakan, setiap pilihan yang kita ambil memang memiliki konsekuensi sampai hubungan itu berakhir. Inilah yang kemudian bisa melahirkan penyesalan atas keputusan dan tindakan dalam hubungan.

Bahkan Meski Sudah Lama Berpisah, Bayang-bayang Mantan Bisa Tiba-tiba Muncul Begitu Saja

Tanpa bisa dijelaskan dengan rinci, seorang lelaki sering meratapi perasaan was-was atas tindakannya di masa lalu. Rasa ingin memiliki yang pernah ada, mengontrol rasa serta usaha untuk bisa kembali memiliki hubungan ideal yang pernah dimimpikan. Lain dengan perempuan yang bisa berkata ada hal baik yang didapatnya setelah berpisah, lelaki justru hanya akan diam dan tak bersuara. Meski kepalanya, sedang dipenuhi dengan segala macam kenangan masa lalu yang bisa datang kapan saja.

Terlihat Lebih Tegar, Padahal Setiap Kali Diterpa Masalah Lelaki Justru Berharap Bisa Kembali Pada Mantannya

Masih dari penelitian yang dilakukan oleh Summerville, bagi banyak orang, urusan percintaan ibaratnya pencarian terus-menerus. Perjalanan kisah cinta seolah menghadapkan lelaki pada pertanyaan tentang terus menerus mencari pasangan baru demi bisa merasa bahagia dengan pasangannya sekarang.

Hasilnya, setiap kali ada masalah yang sedang menerpa, selalu ada keinginan untuk kembali bersama dengan dia yang pernah dicintai di masa silam. Yap, kesedihan dan persoalan yang sedang diemban membuat kita melongok masa lalu dengan membayangkan bahwa ‘seharusnya kita bisa hidup bersamanya’.

Perempuan Bisa Lekas Move On, Tapi Lelaki Berat untuk Mencintai Perempuan Lain Lagi

Pada tahun 2015 lalu, Morris dan kolaboratornya dari University College London,mempublikasikan sebuah riset skala besar yang meneliti orang dewasa dari semua kalangan umur—termasuk komunitas gay—terkait respons saat mengalami kesedihan gara-gara putus cinta. Rasa sakit selepas putus cinta memang berlaku universal, artinya tak hanya lelaki saja, perempuan pun merasakan kesedihan yang sama.

Namun, perempuan cenderung mampu bangkit lebih dulu setelah putus cinta dan lekas move on. “Para peserta perempuan mengaku mereka bicara dengan kawan, kerabat serta pemuka agama (setelah putus cinta),” kata Morris. “Saat curhat, mereka ngomong seperti ‘kejadiannya udah lama sih’ atau ‘Aku sih belajar dan ini hikmahnya’. Tuturya lagi.

Tapi fakta lain yang juga didapat, perempuan jarang bilang ‘Dia lelaki terbaik dalam hidupku dan aku belum bisa berdamai dengan kenyataan bahwa kami putus’. Dengan kata lain perempuan cenderung lebih enteng meninggalkan masa lalu, meski prosesnya perlahan. Sedangkan lelaki justru sebaliknya, terlihat biasa saat awal putus cinta, galau berkepanjangan setelah merasa kehilanan.

Dan Ternyata Hal Ini Dipengaruhi Tradisi dan Tatanan Sosial dalam Kehidupan Kita

Hal lain yang perlu para lelaki pahami, ternyata menurut Morris ketidakmampuan para lelaki dalam melupakan mantan kekasihnya dipengaruhi oleh tradisi yang menempatkan lelaki sebagai pihak yang memulai hubungan asmara. Ditambah dengan ekspektasi dari tatanan sosial yang mengharuskan lelaki setiap pada satu pasangan, mengingat funsi mereka sebagai kepala rumah tangga yang kelak akan menjadi pencari nafkah.

Alhasil, putus cinta atau kehilangan pacar terasa lebih menusuk buat lelaki. “Pedihnya putus bertambah parah bila punya nilai penting dalam hubungan sosial,” katanya. Tapi dari hasil lanjutan penelitian yang dilakukan oleh Morris, ia juga mengungkapkan jika nantinya lelaki akan bisa mengatasi patah hati mereka—bahkan mereka yang terus menyesali kegagalan cinta di masa lalu.

1 Comment

1 Comment

  1. blue

    September 16, 2016 at 11:01 am

    sontoloyo ini si mimin..
    ulasannya masuk di akal dan makjleb banget! :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top