Feature

Antara Pertemanan dan Biaya yang Harus Kita Keluarkan

“Teman seribu masih kurang, tapi musuh satu sudah kebanyakan”

Tapi kiasan ini nampaknya, sudah tak lagi berlaku untuk sekarang. Ya, saya paham bahwa fitrah manusia sebagai mahluk sosial memang akan senantiasa akan mencari teman, sebab tak akan dapat hidup sendirian.

Dua minggu lalu, tepatnya hari sabtu. Setelah sebelumnya harus bekerja diakhir pekan. Saya kebagian tugas untuk membeli kue sebagai kejutan untuk seorang teman yang berulang tahun. Kamu tentu bisa membayangkan, selain ongkos bekerja diluar yang harus dirogoh dari kantong sendiri, dan masih akan diremburst esok seninnya.

Tiba-tiba saya juga harus membeli kue ulang tahun ratusan ribu rupiah, sebelum nanti bisa mengutip patungan dari teman yang lainnya. Tunggu dulu kawan, ini hanyalah satu dari rangkaian jeratan yang kerap berlindung pada sebuah hubungan pertemanan. 

Lalu esok harinya, masih jadi rangkaian pertemanan, saya harus bangun pagi-pagi buta untuk pergi ke acara pernikahan teman yang tak kalah dekatnya. Iya, dia adalah teman semasa kuliah yang memang sudah lebih dari saudara.

Dengan berbagai alasan, ia meminta saya harus hadir di acara akad pagi hari. Dan sialnya lagi tempat akad berlangsung, berada cukup jauh dari daerah saya tinggal. Dengan alasan menghemat waktu dan segala tetek bengek lainnya, lagi-lagi saya harus merogoh kocek sendiri. Yang jika saya kalikan bisa jadi ongkos busway ke kantor selama sebulan.

Habis dari acara pesta pernikahan, saya baru ingat jika ongkos jahit dari seragam yang kemarin saya kenakan di pesta belum dibayarkan. Maka coba bayangkan dalam rentan waktu 3 hari saja, lagi-lagi saya harus meminta maaf pada diri sendiri. Karena harus membobol tabungan, lebih dari 1 juta rupiah.

Tunggu dulu kawan, ini hanya untuk satu-dua orang teman dekat saja. Belum lagi kawan lain, rekan kerja, teman komunitas, teman gereja, hingga jenis-jenis teman lain yang selalu sigap untuk menagihmu dalam berbagai hal. Entah itu traktiran ulang tahun, gaji pertama, pajak jadian bahkan jika kau resign kerja pun akan tetap diminta traktiran ((sedih aing mah)).

Seolah senasib dengan saya, saat ini kamu mungkin sedang menggerutu dalam hati tapi tak mampu menyampaikan isi hatimu pada mereka yang mengaku sebagai teman. Tapi agar tak terlalu melukai hati teman, alangkah baiknya semua ini kita rubah dimulai dari diri kita. 

Besok Kalau Temanmu Akan Menikah, Jangan Sibuk Minta Dibelikan Bahan Seragam Untuk Pesta

Jujur satu bulan sebelum kawan yang tadi saya ceritakan akan menikah, ia terang-terangan bilang kalau budget untuk pesta yang mereka punya sebenarnya pas-pasan. Bersikap sebagai teman yang mencoba memberi solusi, saya mengusulkan agar ia tak perlu membelikan kita seragam.

Cukup kasih tahu dress code yang nanti akan dipakai. Lalu dia setuju dengan usalan saya, sialnya teman yang dia punya tak hanya saya saja. Maka dengan nada sedikit kecewa, ia lagi-lagi menelpon saya untuk bilang bahwa si A,B,C dan D. Tetap ngotot minta dibelikan bahan.

Saya yang tadinya sudah senang, sebab tinggal mencari padu-padan kebaya yang senada saja. Lagi-lagi harus mengeluarkan uang setidaknya 300 rb, hanya untuk ongkos jahit bahan saja. Bukan tak suka tampil cantik dengan seragam yang senada, hanya saja kadang-kadang kita sebagai teman justru jadi beban pada yang empunya hajat.

Tapi untuk kamu yang mungkin jadi pengantin, juga perlu dipikirkan. Alangkah baiknya jika seragam yang digunakan sudah siap pakai dengan ukuran masing-masing teman. Dengan begitu mereka tak lagi merasa itu jadi beban. Tapi kalau tidak cukup uang ya lupakan saja.

Kawan Resign Belum Tentu Langsung Dapat Kerjaan, Meminta Traktiran Sama Saja Mematikan

Gambarannya begini, seseorang yang resign biasanya tak dapat pesangon apa-apa. Dan belum tentu juga ia sudah langsung bekerja atau tidak. Baik memang jika ternyata ia akan bekerja pada tempat yang menggajinya lebih tinggi. Tapi jika ternyata ia masih mau mencari dan akan menganggur? Apa tak kasihan jika ia akan kehabisan uang dari gaji terakhirnya bekerja, hanya karena teman kerja mintar ditraktir?

Maka sebelum buru-buru teriak minta traktir apalagi sampai menentukan tempat mana yang akan disambangi. Cobalah cari tahu terlebih dahulu, apa alasannya ingin resign. Karena bisa jadi karena ia justru ada masalah, lalu datang lagi kita yang akan menambah masalah untuk hidupnya.

Dan Lagi, Tak Ada Aturan Jika Ulang Tahun Harus Mentraktir Teman! Lalu Kenapa Masih Saja Menodong Kawan?

Tak jelas asal usulnya dari mana bermula, kalau saya tahu siapa orang pertama yang menyuarakan jika seseorang yang ulang tahun harus mentraktir teman. Rasanya saya ingin mengajukan proses padanya.

Bukan apa-apa, pertambahan usia memang jadi momen yang kerap membuat kita bahagia. Tapi menjadi pihak yang akan membayar makan banyak orang jelas membuat kita menderita. Sebab yang ulang tahun adalah satu orang saja, alangkah baiknya jika yang dibuat bahagia adalah dia.

Cobalah berganti sesekali, kawan yang banyak membayar dia yang berulang tahun untuk makan. Bukan malah satu pihak yang jadi bandar untuk bayar orang yang konon mengaku teman. Tapi nyatanya menghisap darah pelan-pelan.

Patungan sih Patungan, Tapi Tetap Saja Jadi Beban

Ya, saya paham memang. Kita tak akan sendiri untuk membayar semua printilan. Entah itu hadiah ulang tahu, kue dan lilin, dekorasi untuk bridal shower, bahkan pada bentuk sumbangsih lain yang biasa kita berikan.

Tapi kamu perlu paham kawan, 100 ribu untukmu tak selalu sama dengan 100 ribu dimata orang lain. Kamu boleh menganggap itu adalah nilai yang kecil, atau barangkali setara dengan kopi yang kamu minum setiap hari. Tapi bagi kawan lain, nilai segitu bisa jadi sangat berarti.

Memberi hadiah memang baik, tapi memaksakan diri kadang justru malam membuat kita merasa terbebani.

Cobalah Nilai Pertamanan dari Sisi yang Berbeda, Bukan Hanya Karena Sumbangsihnya Memberi Hadiah

Dan demi tak lagi melihat pertemanan dari foto-foto indah di instagram,bahagia kalau berpesta, serta senyum sumringah kawan ketika ditraktir makan. Kamu perlu berkaca diri, sejauh mana dirimu sudah berbuat sebagai mana mestinya seorang teman.

Ya, belajarlah untuk melihatnya dari sisi yang berbeda, entah itu bentuk bantual moril dan waktu yang ia berikan. Bukan hanya sekedar materi dan barang yang ia belikan.

Menjalin pertemanan adalah sesuatu yang baik dan bagus, namun menjerat seorang kawan masuk dalam lingkaran yang menyulitkan seperti yang tadi sudah dijelaskan, adalah sebuah kejahatan. Namun sayangnya kita sering menyebutnya sebagai pertemanan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Lupakan Semua yang Lalu, Mari Sambut Hari yang Baru

Segala perkara yang belakang terjadi atas hidup, terasa jadi bom atom yang tak henti-hentinya menghancurkan segalanya. Mengubah tatanan cita-cita, meluluh-lantakan kisah asmara, hingga beban lain yang datang bertubi-tubi dan seolah tak ada habisnya. Beban berat yang melekat di pundak, membuat kita fokus pada hal-hal menyedihkan yang dibawanya. Padahal, bisa jadi ada sedikit suka yang bisa dijadikan alasan untuk tetap mensyukuri semuanya.

Sebelum nanti menyesal karena terlalu lama memendam kekalahan diri, sebelum nanti ia pergi dan memilih manusia lain untuk dicintai, ada banyak amunisi yang bisa kita jadikan alasan untuk kuat berdiri. Cobaan akan selalu datang, ujian tak akan pernah benar-benar bisa kita tanggalkan. Tapi cara kita belajar untuk jadi seorang petarung yang handal, bisa jadi jalan keluar untuk segala persoalan.

Ketika Cita-cita Terbelokkan, Bukan Berarti Kita Tak Bisa Mewujudkan Impian

Merasa perlu bekerja dengan passion yang disenangi, susah payah kita berjalan untuk  mewujudkan keinginan. Sialnya, kenyataan yang didapati tetap jauh dari yang diharapkan. Berpikir ini adalah sebuah kegagalan, kita memilih fokus pada semua ketidakberhasilan yang didapatkan.

Lalu lupa, jika apa yang selama ini kita kerjakan juga bermanfaat untuk kehidupan. Memberi kita kabahagian, pelajaran, pengetauan baru, hingga nilai positif lain yang selalu kita abaikan. Hanya karena merasa jika pekerjaan ini bukanlah sesuatu yang kita inginkan.

Baik memang jika semuanya berjalan sesuai rencana, tapi ingatlah kalau dunia sering bercanda dengan merubah banyak haluan jalan. Sebagai seorang pencari, kita hanya perlu memaksimalkan perjalanan agar tetap bisa menemukan apa yang diinginkan.

Patah Hati Itu Hal Biasa, Suatu Saat Kamu Juga Akan Merasakan Cinta yang Luar Biasa

Pernah jatuh cinta dan bahagia. Memberikan segalanya, lalu ditinggal pergi begitu saja. Kecewa, mungkin sudah pasti. Tapi menangis dan mengutuki semua yang sudah terjadi tentu tak akan berarti. Tak ada yang salah dari patah hati berkali-kali, anggaplah ini sebagai pelajaran bagi diri sendiri.

Bertemu dengan banyak pribadi, memberikan kita banyak pelajaran berarti. Sudah menjadi pola yang pasti, jika selain bahagia cinta pun bisa membuatmu terluka. Nah, daripada berusaha untuk tak selalu terluka, bersiaplah untuk tetap  tenang meski nanti mungkin akan terluka.

Belum Bisa Buat Orangtua Bahagia Bukan Berarti Tak Berguna, Semua Hal Tentu Ada Masanya

Beberapa orang mungkin bisa merasa biasa saja meski belum bisa memberi apa-apa untuk kedua orangtua. Namun di sisi lain, ada pula orang-orang yang kerap khawatir atas pencapaian hidupnya. Merasa gagal jadi anak yang berbakti, tak berguna untuk membahagiakan mereka yang dicintai.

Hei, bukankah sesuatu yang bernilai baik memang selalu sulit didapatkan? Tak perlulah kamu takut sampai menjadikannya beban pikiran. Bukan apa-apa, jiwa yang terlalu diselimuti rasa bersalah tentu tak baik. Bukannya bisa fokus untuk melakukan hal-hal baik yang kamu inginkan, rasa bersalah justru membuatmu kian tertekan dan akhirnya tak mendapatkan hasil apa-apa.

Kedua orangtua pun tentu paham, apa yang sedang kamu perjuangkan. Hal yang terpenting sekarang adalah, bagaimana kamu terus berjalan dan menemukan jalan keluar. Demi membuat mereka bangga atas apa yang kamu lakukan.

Tak Lagi Punya Banyak Teman Tak Selalu Menyedihkan, Justru Kamu Lebih Paham Siapa yang Layak Dipertahankan

Seiring dengan bertambahnya usia, kita semua akan merasakan babak kesepian hebat dalam kehidupan. Tak punya teman sebanyak masa sekolah, berpikir jadi manusia paling sedih sedunia, hingga bertanya-tanya apakah yang salah dari diri kita.

Dengar, hal seperti ini terjadi atas hidup semua orang. Tak ada yang berubah dari kita atau teman-teman yang tadinya kita miliki, waktu dan prioritas hidup yang harus diutamakanlah yang kemudian merubah pola hubungan pertemanan kita. Di saat kita masih berjibaku dengan banyaknya cicilan kebutuhan, teman lain mungkin sudah sibuk dengan anak kecil yang baru saja ia hasilkan. Semuanya ada masanya, dan kita harus selalu bersiap untuk kehilangan semuanya, termaksud teman.

Kesedihan dalam Hidup Akan Selalu Ada, Tapi Satu Hal yang Pasti “Kita Harus Selalu Bangkit dan Berdiri Lagi”

Tak ada yang bisa memastikan jika kita akan baik-baik saja untuk segalanya. Segala macam aspek kehidupan, kerap berkonspirasi untuk menciptakan kesedihan yang jadi beban. Tapi di waktu lain, kita pun bisa bahagia dengan perasaan yang tak terkira. Intinya, bahagia dan duka selalu datang kapan dalam bentuk apa saja.

Merasa dipecundangi waktu dan keadaan adalah respon yang biasa atas semuanya. Tapi jagan pernah merasa menyerah untuk semua perkara. Karena dibalik semua ujian dan cobaan yang ada. Hal yang wajib dilakukan adalah bangkit dan berdiri lagi untuk memulai hidup baru yang lebih bahagia lagi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Laki-laki yang Marah Setiap Kali Ditanya, Bisa Jadi Sedang Berbohong pada Perempuannya

Apapun itu alasannya, kebohongan tetaplah tak bisa dibenarkan. Dan akan terasa menyakitkan jika ternyata, hal tersebut dilakukan oleh seseorang yang kita sayang. Sialnya, untuk bisa tahu si dia sedang berbohong, gampang-gampang susah.

Bahkan dilansir dari laman elitedaily.com, untuk bisa tahu apakah si pacar sedang berbohong atau tidak itu tidak mudah. Sebab tidak ada tanda-tanda atau ciri-ciri khusus yang menunjukkan seseorang sedang berbohong. Apalagi jika si dia lihai dalam menyembunyikan kebohongannya dengan sangat baik.

Ia bisa saja mengelak dan berkata tak sedang menyembunyikan apapun dari kita. Namun sebagai perempuan, kamu tak boleh ditipu terus-terusan. Untuk itu, coba cari tahu kebenarnya dari caranya bersikap di depan kita.

Terlihat Gusar, Fokusnya Selalu Buyar Setiap Kali Diajak Bicara dan Ngobrol Berdua

Memang, selihai apapun penjahat menyembunyikan kelakukannya, pastilah akan tercium juga. Begitu pula dengan kebohongan yang mungkin sedang disembunyikan oleh si dia. Kalau tak percaya, coba ajak dirinya ngobrol berdua. Lalu perhatikan bagaimana gerak-gerikannya setiap kali menyampaikan jawabannya atas pertanyaan yang kita berikan.

Kalau ternyata ia terlihat tak tenang dan cenderung tak fokus serta sedikit gugup, barangkali ia memang sedang berusaha merangkai cerita bohong yang diharapkan bisa membuat kita percaya. Tanda lainnya, ia mungkin akan menggaruk kepalanya, memainkan tangannya di meja, menggoyang-goyang kaki, atau berkali-kali menggeser posisi.

Pertanyaan yang Sama, Seringkali Dibalas dengan Jawaban yang Berbeda

Di awal obrolan, kita mungkin sudah bertanya “kemana” dan “ngapain” saja dia semalaman. Jawaban pertama mungkin ia bilang ada di rumah dan tidak mengerjakan apa-apa. Namun pada beberapa menit selanjutnya, ketika kita mencoba untuk menanyakan hal yang sama. Ia malah berkata jika dirinya ada di luar dan kumpul bersama teman.

Itu karena dari awal ia memang sudah berbohong, sehingga lupa pada jawaban yang sebelumnya sudah disampaikannya. Nah loh, ketahuan kan. Dari jawabannya saja sudah tak seragam, berarti ada sesuatu yang memang sedang disembunyikan.

Tak Pernah Bisa Mengulang Cerita dan Bagaimana Detail Rincian Kejadiannya

Jika memang benar, biar ditanya beribu kali pun. Seseorang akan bisa mengulang cerita dengan sama persis, atau setidaknya mendekati jawaban pertamanya. Berbeda dengan si dia yang sedang berbohong, apa yang ia ceritakan terdengar bukanlah sebuah kenyataannya yang sebenarnya.

Beberapa bagian tidak terdengar selaras, bahkan kadang jadi sesuatu yang tak mungkin dilakukan berbarengan. Jangankan untuk mengulang cerita, ia bahkan tak lupa bagaimana detail rinci kejadiannya. Entah karena lupa pada karangan cerita pertama atau sedang berhati-hati agar tak ketahuan bohongnya.

Bahkan Akan Marah, Jika Diberi Pertanyaan

Ini adalah tanda paling mudah untuk diidentifikasi. Bukannya memjawab pertanyaan yang kita berikan, ia justru marah saat diberi pertanyaan. Berdalih jika kita tak mempercayainya, padahal yang sedang ia lakukan adalah sebuah kamuflase agar kita bia mempercayainya.

Hal ini dikarenakan, laki-laki yang sedang berbohong percaya jika kemarahan bisa jadi alat yang meredam curiga seseorang. Karena melihatnya marah, kita pun mengurungkan niat untuk bertanya. Apalagi jika kebetulan dirimu adalah sosok yang tak suka bertengkar. Masuklah, trik jitu yang ia sedang mainkan. Jangankan untuk pertanyaan besar yang serius, hal-hal remeh saja kadang bisa mebuatnya marah.

Selalu Mengalihkan Topik Pembicaraan

Seolah ingin kabur dari jerat kecurigaan yang sudah kita tunjukkan. Laki-laki akan bisa dengan mudah mencari pengalihan agar perempuannya tak lagi membahas kebohongan yang mungkin sedang ia lakukan. Ditanya apa, dijawabnya apa. Tak ada yang singkrom, sebab ia sedang ingin mengalabui kita.

Untuk itu, jika memang merasa ia selalu mengalihkan topik pembicaraan. Kemungkinan besar ada kebohongan yang mungkin sedang ia sembunyikan dan takut ketahuan.

Kerap Terlihat Panik, Setiap Kali Kita Ingin Mengecek Ponselnya

Demi menghargai privasi, kita mungkin jarang sekali untuk memintanya menunjukkan apa yang ia kerjakan pada ponsel miliknya. Sialnya, kepercayaan dan keleluasaan yang kita berikan justru dipakai sebagai alat untuk menutupi kebohongan. Jadi jangan heran, jika tiba-tiba kamu meraih ponselnya, ia malah tak mau membukakan kuncinya.

Walau dibalas dengan sebuah candaan dengan berkata, “tak ada apa-apa disana”, jangan mudah percaya. Sebab ketika ia berkata tak ada apa-apa, bisa jadi karena ada apa-apa.

Dan Berperilaku Aneh Serta Terlihat Beda dari Biasanya

Sekali lagi, ia mendadak berubah bukan seperti lelaki yang kita cinta. Entah itu dari caranya bicara, pola perilaku, serta sikapnya kepada kita. Dia yang tadinya cuek dan tak begitu romantis, mendadak jadi perhatian. Dia yang tadinya sering mengingatkan makan, berganti dengan jarang memberi kabar.

Memang sih, perubahan seperti ini tak selalu berarti ada kebohongan yang disembunyikan. Tapi biasanya, hal tersebut dilakukan untuk menutupi sesuatu yang tak ingin kita tahu. Pintarlah membaca perubahan sikapnya, jangan sampai terjebak dan tertipu oleh kebohongan yang dibuatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Buat Apa Menyimpan Dendam Cuma Buat Diri Remuk Redam

Tak melulu tentang bahagia, beberapa perkara dalam hidup kadang menyisahkan luka. Alih-alih bisa melupakannya, sebagai manusia biasa kadang kita malah memeliharanya jadi sebuah amarah. Memupuknya subur dengan rasa benci, hingga akhirnya menjadi dendam yang terus tumbuh di hati.

Dendam adalah suatu kondisi dimana kita berharap orang lain yang berbuat salah kepada kita. Kelak akan mendapatkan balasan serupa dengan yang telah diperbuatnya. Sialnya, daripada buru-buru melupakan amarah atau mengelola emosi dengan cara yang lebih baik. Kita justru memilih untuk menyimpan dendam yang kemudian membuat kita selalu beranggapan bahwa, orang lain adalah ancaman. Meski kejadian yang membuat kita marah itu mungkin sudah lama berselang.

Kita tak sadar, jika menyimpan dendam hanya akan membuat diri kesal, merusak hubungan dengan orang-orang sekitar hingga gangguan kesehatan yang bisa merusak tubuh tanpa diduga. Sebelum nanti akan menyesal karena sudah terlambat, cobalah pahami apa saja yang bisa dilahirkan oleh dendam.

Membuatmu Lebih Tua dari Usia yang Sebenarnya

Kamu pasti pernah dengar kan, kalau mudah tersenyum membuat kita awet muda. Nah, menyimpan dendam serupa dengan memelihara amarah dalam diri. Sehingga, tak ada lagi sumber energi positif yang bisa melahirkan bahagia untuk sekedar tersenyum. Efek samping dari dendam, akan jadi pemicu stres yang kemudian menimbulkan depresi dan frustasi.

Selain gangguan emosi, tubuh akan merespon stres berlebih dengan cara memicu penuaan dini. Hal ini disebabkan adanya perubahan kromosom DNA dalam proses regenerasi untuk pembentukan sel baru. Sehingga memicu penuaan biologis organ dalam tubuh yang lebih cepat. Sebaliknya, memaafkan akan menghasilkan hormon stress yang lebih terkendali dan diminimalisir sehingga proses respon stress pada tubuh dapat kembali normal.

Tubuh Akan Mudah Terserang Penyakit dengan Rasa Nyeri dan Kronis

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukan bahwa seseorang yang menyimpan dendam memiliki peluang 50% lebih tinggi untuk mengalami penyakit dengan rasa nyeri seperti ulserasi lambung, sakit punggung dan sakit kepala.

Dengan kata lain, jika kamu giat menyimpan dendam dalam hati atau pikiranmu, bukan tak mungkin jika suatu waktu kamu akan merasakan hal yang sama juga. Diserang penyakit dengan rasa nyeri yang bersifat kronis. Selain itu, peneliti juga mengambil kesimpulan bahwa menyimpan dendam berkaitan kemungkinan berkaitan dengan gangguan psikosomatis.

Secara Tak Langsung Juga Menuntun Kita Pada Gaya Hidup yang Tak Sehat

Ketika pikiran telah dipenuhi dengan berbagai macam dendam yang terus tumbuh tanpa kita hilangkan. Sebagaimana yang tadi sudah dijelaskan, stres yang kemudian menghinggapi pikiran akan membuat kita kurang memerhatikan kondisi kesehatan.

Bahkan sebuah studi menunjukkan kondisi mental yang sedang tak stabil, mendorong seseorang lebih banyak merokok dan mengonsumsi junkfood yang tinggil kalori. Perilaku macam inilah yang kemudian merusak kesehatan tubuh. Yang selanjutnya mendatangkan berbagai macam jenis penyakit berbahaya yang bisa membuat kita sakit parah.

Dan Mengubah Susunan Hormon Otak Kita

Salah satu organ tubuh terpenting, otak akan bekerja saat kita berpikir, berkomunikasi, dan membentuk hubungan sosial dengan orang lain. Nah, fungsi tersebut konon dipengaruhi oleh dua hormon yang saling berkaitan namun dapat bekerja berlawanan yaitu hormon kortisol dan hormon oksitosin.

Hormon kortisol biasanya dilepaskan saat kita berada di bawah tekanan mental besar, seperti saat menyimpan dendam. Sebaliknya, hormon oksitosin diproduksi ketika kita memaafkan atau saat berdamai dengan diri kita maupun orang lain.

Agar fungsi otak bisa tetap berjalan dengan seimbang, kedua hormon tersebut perlu  menciptakan stress baik atau yang disebut juga eustress. Seperti saat bekerja untuk mencapai tujuan, serta mengendalikan stress buruk atau distress.  

Padahal, Hormon kortisol dikenal sebagai hormon yang berbahaya jika diproduksi secara terus menerus dalam waktu yang lama, karena tidak hanya memengaruhi kerja sistem saraf pusat namun juga kerja organ lainnya. Kamu bisa bayangkan kan, bagaimana jadinya fungsi otak akan terganggu karena adanya hormon kortisol yang lahir dari dendam yang terus membara.

Serta Dipercaya Meningkatkan Risiko Kerusakan Jantung Juga

Setiap emosi dan kecewa yang ditumpuk, pelan-pelan akan jadi bukit kebencian yang terus tumbuh dan tak bisa hilang. Padahal, situasi ini disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya tekanan darah tinggi pada seseorang. Dan akan sangat berbahaya jika berlangsung dalam waktu yang lama.

Serupa dengan kemunculan emosi negatif yang kemudian membuat kita merasa tertekan. Dan akan menjadi akar dari meningkatnya resiko penyakit jantung jika terjadi terus menerus dalam waktu yang lama. Hal ini sejalan dengan hasil dari sebuah riset yang dilakukan oleh Asosiasi Jantung Amerika sudah membuktikan bahwa menyimpan rasa marah dan dendam dapat memicu terjadinya penyakit jantung koroner yang didahului oleh kondisi tekanan darah tinggi dan arterosklerosis.

Jadi, masih mau menyimpan dendam lagi? Memaafkan mungkin tak mudah, namun daripada membahayakan diri kita, lebih baik belajar untuk jadi orang yang peyabar. Dan selalu lembutkan hati untuk memafkan kesalahan orang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top