Feature

Aku Tak Pernah Berhenti Mencintaimu Dan Merindukanmu, Aku Hanya Berhenti Menunggumu

“…Bukannya aku mudah menyerah, tapi bijaksana. Mengerti kapan harus berhenti. Ku kan menunggu, tapi tak selamanya,”—Usai Di Sini, Raisa

Terlepas dari kebahagiaan Raisa yang baru saja menikah, aku terhenyak kala mendengar satu lagu pamungkasnya itu. Liriknya sederhana, tapi berhasil membuat pikiranku melayang sejenak. Teringat kembali sebait kisah tentang aku dan kamu. Lagu ini mungkin hanya sebagian kecil yang mungkin mewakili perasaanku. Andai kamu tahu itu. Menantimu, sudah aku lakukan. Mencintai dan menyayangimu tanpa kamu minta pun aku jabani.

Namun kini nyatanya kita berada di jalan yang berbeda, meski rasa rindu itu masih ada. Malam-malam yang biasanya kuhabiskan untuk mendengar suaramu, kini tak lagi sama. Aku tahu ini memang akan kuhadapi, tapi setidaknya inilah caraku menghadapi mimpi-mimpi yang memang sudah nyaris di ujung tanduk. Tak tahu apakah akan jadi nyata atau hanya pupus begitu saja. Inilah caraku untuk menjadi bijaksana.

Ingatkah Kamu Tentang Mimpi Kecil yang Kita Rangkai Bersama Lewat Celoteh dan Percakapan?

Kita tak membangun mimpi yang terlalu ‘wah’. Hanya angan kecil agar selalu berada pada titian yang sama. Aku di sampingmu, kamu di sampingku. Berharap kita akan terus saling melengkapi. Masih jelas terasa di benakku, betapa bahagianya aku ketika mengingat kepingan mimpi kecil yang kita bangun bersama. Hangat dan penuh makna. Pastinya akan terasa indah jika kita berdua berhasil menggapainya.

Waktu pun terus bergulir. Kita masih saling setia pada hubungan sederhana yang terus mengalir. Aku bahagia melihat kau selalu ada di sampingku. Kita pun mulai menata mimpi agar rapi dan bernuansa. Hari demi hari terus kulewati dengan semangat yang sama, yaitu berani bermimpi bersamamu. Semangat itulah yang menjadi kekuatanku setiap harinya.

Kamulah Satunya Alasan Aku Berani Menunggu, Bahkan Ketika Tadinya Kukira Aku Tak Punya Kekuatan untuk Melakukan Hal Sebesar Itu

Semula kumenganggap menunggu adalah sebuah perjuangan yang melelahkan. Belum tentu aku bisa sekuat mereka di sana yang sudah bergulat dengan penantian sekian lama. Tapi ketika akhirnya Tuhan ternyata mengujiku dengan cara yang sama, aku pun tak kuasa untuk menghindar.

Kamu yang selama ini jadi penyemangat hari-hariku, kamu juga yang dikirim Tuhan sebagai alasan untukku agar berani menghadapi ujian dariNya. Seperti ingin naik level, aku mulai menyadari ujian seperti ini memang perlu adanya. Selain untuk memastikan kualitas relasi kita berdua, aku pun jadi lebih mengenalmu dan caramu melewati berbagai ujian.

Ternyata Ujian Kali Ini Terasa Sangat Berat. Berbagai Fase Krusial Kita Hadapi, Termasuk Pertengkaran demi Pertengkaran yang Menyesakkan Dada

Aku percaya akan mimpi-mimpi kita, Aku masih kuat menantimu yang kutahu kamu pun tengah berjuang di ujung sana. Hanya saja, kurasa inilah ujian yang sesungguhnya. Semuanya mulai terasa berbeda.

Aku dan kamu tiba-tiba berada di fase paling emosional. Perdebatan tak lagi soal hal-hal kecil saja. Tapi juga tentang mimpi yang semula kompak kita rangkai bersama. Kini aku belajar, mimpi yang sama ternyata tak cukup menguatkan dua hati yang ingin bersama.

Aku Pun Jadi Mulai Sering Bertanya Tentang Arah Hubungan Kita. Aku Hanya Tak Ingin Kita Jadi Lupa Akan Tujuan Bersama Hanya Karena Tertutup oleh Ego dan Perdebatan

Maafkan aku jika akhirnya aku kembali meragukan hubungan hubungan kita. Segala pertengkaran kurasa hanya akan membuat kita lelah. Aku ingin menyelesaikannya dengan kepala dingin sehingga kita bisa sejenak merenungi kembali tujuan yang telah kita buat bersama.

Semula kita meyakini tujuan yang telah kita buat sanggup membawa kita pada titian yang telah kita impikan. Itulah mengapa aku jadi sering bertanya tentang keseriusanmu pada hubungan kita. Aku telah memberikan segala waktu yang kupunya untuk menantikanmu. Bahkan segala perasaan dan harapanku, sekali lagi hanya tertuju padamu. Tapi benarkah aku harus terus menunggu? Kamu bahkan tak pernah memberi kalimat yang setidaknya melegakan hari-hariku yang berat kala harus menantimu.

Bukannya Aku Tak Mencintaimu, Tapi Kurasa Segala Penantian Ini Harus Kucukupkan. Bak Penggalan Lagu Raisa, Aku Hanya Mencoba Bijaksana

Inilah caraku menjadi bijaksana, yaitu melakukan manuver besar dengan mimpi yang semula kudambakan selama ini. Bukan aku tak mencintaimu, bahkan hingga detik ini pun aku masih punya rindu yang sama besarnya untukmu. Hanya saja, semua ini harus kucukupkan. Aku tak berbuat apa-apa, aku tak menduakanmu, aku tak membencimu. Aku hanya berhenti menunggu. Kuharap kamu mengerti.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kenali Tanda Rekan Kantormu Menyebalkan, Tak Usah Buang-buang Waktu untuk Mengajaknya Berteman

Hampir semua orang memiliki sisi yang menyebalkan. Coba saja tanya ke teman-temanmu. Pun tak menutup kemungkinan kalau kamu bisa bertemu orang yang menyebalkan di mana pun. Ketika ada seseorang yang memiliki sisi menyebalkan, tak masalah kalau kamu mau menghindari berurusan dengan orang yang seperti itu.

Ini mungkin kamu akan tahu kalau kamu tak akan tahan dengan sifatnya. Kawan, sesekali menjaga jarak dengan orang yang memiliki hal-hal negatif itu baik lho. Kalau kamu memiliki teman dan dia memunculkan tanda-tanda seperti ini, kamu harus berhat-hati ya!

Senang Di Atas Penderitaan Orang Lain

Hal ini mungkin jarang ditunjukkan oleh beberapa orang. Tapi kalau kamu punya teman yang menunjukkan kebahagiaannya padahal ada temannya yang sedang tertimpa musibah, sebaiknya kamu jaga jarak saja dengan teman tipikal semacam ini. Ia mungkin tak terlihat tertawa.

Tapi selentingan atau nyinyiran yang keluar dari mulutnya jadi pertanda kalau dia ini punya karakter senang kalau ada temannya yang menderita. Bukankah jauh lebih baik bertemu dengan teman yang mampu bersimpati dan berempati?

Ia tak Kelihatan punya Rasa Tanggung Jawab Terhadap Pekerjaannya

Saat seseorang mendapatkan suatu tanggung jawab untuk melakukan sesuatu, pasti setidaknya dia akan memiliki rasa tanggang jawab itu. Tapi ada lho,  beberapa orang yang tak punya rasa tanggung jawab tinggi. Mereka cuek saja dengan tanggung jawab yang sejatinya dibebankan padanya.

Kalau orang semacam ini ada di lingkup kerja atau di kantormu, bukankah yang ada hanya merugikanmu? Bisa saja, kalau kamu meminta tolong sesuatu dan dia mengiyakan di awal, tapi pada akhirnya dia tak melakukannya, jadinya menyebalkan, kan?

Kamu Merasa Tak Nyaman Saat Berada di Dekatnya

Saat kamu menghabiskan waktu bersama seseorang atau berada dekat dengan orang semacam ini, kamu akan merasakan energi atau aura yang muncul dari orang itu. Saat kamu berkumpul dengan teman-temanmu, tiba-tiba ada salah satu temanmu yang membuatmu merasa tak nyaman. Bisa karena perilakunya, atau hal-hal kecil yang ditunjukkan, lho. Ini juga menjadi sebuah tanda bagi kamu untuk mempertimbangkan apakah dia adalah teman yang baik atau kurang baik.

Faktanya, Banyak Teman yang Mulai Mengingatkanmu

Saat kamu mengenal sosok yang menurut orang-orang menyebalkan, maka saat berurusan dengannya kamu juga harus berhati-hati. Kamu butuh pendapat orang-orang terdekat kamu atau setidaknya caritahu tahu orang seperti apa dia. Ini tindakan antisipasi yang kamu lakukan untuk berhati-hati untuk berteman dengan orang lain lho.

Dia Tak Pernah Merasa Bersalah

Kesalahan bisa dilakukan secara sengaja atau tak sengaja. Saat orang merasa melakukan sesuatu yang salah, normalnya dia akan merasa tak enak atau merasa ganjal. Namun, kalau kamu bertemu orang yang melakukan kesalahan dan dia justru tak menunjukkan rasa bersalah atau semacamnya, kamu harus merasa janggal dengan hal ini. Dia malah menunjukkan sikap santai-santai saja. Kamu patut curiga dengan karakter dia yang sebenarnya.

Setidaknya kamu berhati-hati dengan karakter orang yang malah akan memberikan efek nagatif untuk kamu, ya. Kamu harus bisa memilih mana yang bisa menjadi teman dekatmu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Paksa Seseorang Kembali Ceria Jika Sedihlah yang Ia Rasa

Tak selalu bahagia, beberapa kejadian mengerikan bisa datang begitu saja. Mendapati pacar yang selingkuh dengan sahabatmu, rekan kerja yang mendadak pindah tak lagi bisa bertemu, hingga kabar dari ibu yang minggu ini harus masuk rumah sakit lagi.

Silih berganti, kesedihan bisa saja menyelimuti hati. Menganggu saraf bahagia dan menggantinya dengan satu ketakutan yang luar biasa pada diri kita. Situasi ini jelas diluar ekspektasi, karena kalau bisa memilih pastilah kita ingin bahagia sampai mati. Dipandang jadi sesuatu yang menakutan, kesedihan selalu kita jadikan momok yang harus segera dihilangkan.

Dikubur secepatnya, dan harus berganti dengan bahagia seperti kata-kata orang bijak di sosia media. Jika bahagia bisa dirayakan dengan begitu baiknya, mengapa kesedihan selalu kita anak tirikan?

Tak Seharusnya Dibedakan, Bahagia dan Sedih Memang Haruslah Ada dalam Kehidupan

“Sudahkah anda bahagia hari ini?” atau “Jangan lupa bahagia”, barangkali jadi jargon yang bertebaran di media sosial. Dibuat dengan dasar kepedulian, kita semua berlomba-lomba untuk mencari bahagia sampai pada celah paling sempit yang ada.

Seolah lupa pada teka-teki yang ada, sedih dan bahagia memang sudah ditakdirkan akan datang kapan saja pada hidup kita. Karena memang begitulah, hidup yang sesungguhnya. Perjalanan ini adalah misteri, banyak hal tak terduga yang mungkin menghampiri. Jika bahagia bisa membuatmu tertawa, maka kesedihan harusnya bisa diterima dengan serupa.

“Akui – nikmati – dan tak perlu ditutup-tutupi”

Meminta Orang Lain Segera Bahagia Memang Elok Didengar Telinga, Padahal Kau Tak Tahu Sebesar Apa Dukanya

“Sudahlah, lupain aja. Masih banyak yang bisa buat kamu bahagia” jadi kalimat lazim yang mungkin sudah kita gunakan ratusan kali pada beberapa teman. Berperan sebagai malaikat yang akan memberi penghiburan. Kita berusaha mengumpulkan petuah-petuah ajaib yang nadanya serupa. “Kamu harus bahagia”.

Padahal, tak hanya bahagia. Menangis setiap kali bersedih pun dipercaya mampu membuat seseorang menenangkan pikirkannya. Tak tahu seberapa dalam lobang menganga di hatinya, daripada sibuk memintanya melepaskan semua sedihnya. Bersedia memberikan telinga untuk mendengar keluh kesahnya jadi sesuatu yang lebih ia perlu.

Pelan-pelan Mulai Membandingkan Sedihnya dengan Orang Lain yang Lebih Nelangsa

Antara ingin terlihat bijak dan berwawasan luas atau memang berniat untuk menghibur seorang kawan. Menyuruhnya membuka mata, tentang kehidupan menyedihkan lain yang lebih parah dari pengalamannya. Seolah terlihat wajib untuk disampaikan pada mereka.

Mendorongnya untuk segera bahagia dengan membandingkan kesedihannya dengan orang lain jelas tak jadi jalan keluar. Karena semakin mencoba untuk menghilangkan semua kesedihan, akan selalu ada celah yang membuatnya justru kian muncul ke permukaan. Diharapkan akan hilang dari ingatan, luka yang diminta hilang justru kian terasa dalam pikiran.

Terlalu Takut Pada Sesuatu yang Terasa Berat, Kita Lupa Bahwa Hidup Takkan Sempurna Jika Hanya Ada Bahagia

Coba bayangkan sebentar, kamu hidup dengan segala kelimpahan dan bisa mendapatkan apa saja yang kamu inginkan tanpa usaha yang perlu keras. Lalu ingat kembali, tawa dengan air mata dari ibu kala melihatmu diwisuda. Bagaimana ayah memelukmu sambil bercurah air mata, ketika kamu berhasil naik jabatan tanpa butuh waktu yang lama.

Sejatinya, manusia bisa merasakan berbagai macam emosi dengan cara bersamaan. Tertawa sampai menangis, bahagia sampai terharu. Semua itu terjadi begitu saja, menandakan bahwa hidup kita memanglah sempurna. Tak perlu takut berlebihan dengan kesedihan, biarkan mereka menangis jika memang sedang berduka. Dan berhenti memintanya tertawa jika ia memang sedang ingin diam saja.

Sebab Setiap Orang Punya Tingkat Ketakutan dan Kesedihan yang Berbeda, Kita Tak Punya Hak untuk Memintanya Menyudahi Sedihnya

Beberapa orang hidup dengan dirundung masalah yang tak terbanyak banyaknya. Kawanmu mungkin pernah dipukuli oleh kekasihnya, anak yang jadi korban perceraian orangtuanya, hingga seseorang yang mungkin pernah hampir diperkosa oleh kerabat dekatnya. Lalu masihkah kita merasa berhak untuk memintanya segera bangkit dari sedihnya?

Membiarkan dia diam dalam sedihnya bukan berarti kita tak peduli kepadanya. Tapi, ada hal lain yang sedang kita sadari. Bahwa saat ini, bersedih mungkin memang jadi sesuatu yang ia butuhkan. Mengambil langkah untuk memaksanya berbahagia saat hatinya sedang berkabung, bukanlah sesuatu yang membantu. Sebaliknya, berusahalah untuk bisa mendengarnya dan membantu sebisanya. Bukan memaksanya untuk bahagia.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Hidupmu akan Lebih Baik Jika Kamu Berani Melakukan 7 Tantangan Ini!

Setiap orang pasti menginginkan hidupnya menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Namun untuk merealisasikannya tentu bukan hal yang mudah. Banyak orang yang tak tahu bagaimana harus memulai langkah guna memperbaiki hidupnya. Coba lakukan 7 tantangan ini, jika kamu berhasil melakukannya, kamu akan mendapatkan hidup yang lebih baik di masa depan.

1. Tantang Dirimu untuk Fokus pada Hidupmu dan Berusaha Mengembangkan Kemampuanmu

Bisa dibilang saat kamu berpikir rumput tetangga lebih hijau, cobalah untuk memberikan air lebih banyak pada rumputmu sendiri. Tantanglah dirimu sendiri untuk berusaha fokus pada apa yang kamu miliki dan mengembangkannya. Pastikan kamu paham apa yang menjadi kelemahan dan kekuatanmu.

2. Tantang Dirimu untuk Melepaskan Hasrat Berlebihanmu dan Lebih Menikmati Hidupmu

Saat kamu memiliki hasrat yang berlebihan atas suatu hal, cobalah untuk menantang hidupmu dengan melepaskannya dan mencoba menikmati apa yang ada dalam hidupmu. Tak semua hal yang ada di dunia ini bisa kamu jangkau dengan mudah, kamu harus paham jika ada beberapa hal yang bisa terjadi di luar kendalimu.

3. Tantang Dirimu untuk Konsisten dalam Melakukan Sesuatu

Saat kamu berpikiran ingin melakukan suatu hal yang baru, cobalah untuk menantang dirimu agar lebih konsisten dalam menjalankan sesuatu. Apapun kendala yang kamu hadapi, tetaplah berada di jalur yang kamu inginkan dan tetaplah berusaha untuk melakukannya dengan konsisten.

4. Tantang Dirimu untuk Memilih yang Paling Kamu Takuti dari Dua Pilihan

Saat kamu dihadapkan dengan dua pilihan, cobalah untuk menantang dirimu sendiri dengan memilih hal yang paling kamu takuti. Karena dengan memilih hal paling kamu takuti, kamu akan tumbuh dengan lebih baik dan lebih cepat.  Pilih yang sulit dan yang paling kamu takuti agar kamu belajar untuk bekerja lebih keras.

5. Tantang Dirimu untuk Tidak Menyalahkan Diri Sendiri

Saat kamu melakukan sebuah kesalahan dan kamu sadar akan hal itu, cobalah menantang dirimu untuk tak menyalahkan diri sendiri. Tantanglah dirimu sendiri untuk bisa memaafkan segala kesalahan yang sudah kamu perbuat. Cobalah untuk menjadikan sebuah kesalahan itu sebagai salah satu media pembelajaranmu agar tak lagi mengulanginya di masa depan.

6. Tantang Dirimu untuk Membalas Semua Cacian Orang Lain dengan Kebaikan

Tak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan pula. Saat kamu menemui ada orang yang meremehkanmu, cobalah untuk menantang dirimu dengan membalas pandangan rendah mereka dengan kebaikan.

7. Tantang Dirimu untuk Tetap Tenang dan Fokus pada Apa yang Harus Kamu Jadikan Prioritas

Saat kamu memikirkan sesuatu secara berlebihan, cobalah menantang dirimu sendiri untuk tetap tenang. Tentukanlah mana yang memang sudah seharusnya kamu jadikan prioritas. Kendalikan dirimu dan usahakan untuk selalu fokus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top