Feature

Aku Tak Marah, Cuma Tak Lagi Mau Searah

Perkara cinta, memang selalu membawa kita pada berbagai macam situasi yang berbeda. Diawal pertemuan, bersama selamanya jadi mimpi berdua. Tapi kini, pelan-pelan semuanya mulai hilang. Entah karena rasa yang sudah tak ada, ada kecocokan yang tak lagi bisa dibina.

Tadinya kau jadi sosok yang selalu kucinta, tapi pelan-pelan kenyataan membawa kita pada situasi yang berbeda. Hak-hal yang tadinya tak ada, belakang jadi sumber masalah. Bukan ingin berlaku egois karena tak memikirkan perasaanmu, tapi aku juga tak bisa terus menerus memaksa diriku.

Memilih mundur dan menarik semua janjiku, bukan berarti ada amarah yang sedang ingin kutunjukkan padamu. Percayalah, hatimu masih serupa yang dulu. Menganggapmu jadi sosok yang kukagumi dan kuhargai, tapi untuk kembali bersama lagi, kupikir tak lagi bisa kita lakoni.

Sudah Melalui Banyak Pertimbangan, Keputusan Ini Kubuat dengan Pikiran yang Tenang Tanpa Tekanan

Kupikir kita berdua hanyalah dua orang yang sedang lalu lalang, berhenti sebentar untuk saling mengasihi. Tanpa tahu kemana akan melangkah pergi. Tak ada rencana, bahwa kita berdua masih belum bisa untuk saling memahami tanpa diminta. Serupa dengan kamu yang masih sering sekali marah, aku pun masih belum bisa mengontrol diri untuk tak ikut terpancing emosinya, tiap kali ada pendapat yang berbeda.

Selama ini kita memang berjalan bersama, beriringan pada beberapa masalah. Tapi untuk kelangsungan hubungan kita berdua, kau bahkan tak bisa menjawabnya akan dibawa kemana. Sudah, ini hanya menghabiskan waktu saja. Padahal bisa saja, ada orang lain yang sedang menunggu kita. Menunggu kamu untuk dijadikan pasangan, menungguku untuk segera dihalalkan. Toh kita tak pernah tahu, apa rencana Tuhan!

Tak Ada Keinginan untuk Bisa Berubah, Jadi Bukti Lain Bahwa Kita Berdua Tak Benar-benar Cinta

Kamu kerap kali jadi pihak yang keras kepala, tetap kekeh meski kadang kala terbukti salah. Jika hanya berlangsung satu-dua kali mungkin aku masih bisa memahaminya, tapi lama-lama aku juga bisa jengah. Disetiap akhir pertengkaran, kita berdua memang berjanji untuk tak lagi mengulang kesalahan. Tapi nampaknya, serupa gagal dalam menepati janji. Kita berdua tak bisa membuktikan apa yang katanya akan ditepati.

Dari sini aku belajar untuk lebih memahami hubungan ini, memilah mana yang jadi bukti dengan janji yang hanya berguna meredam emosi. Sisanya? Kita kembali jadi dua sosok yang tak lagi saling peduli. Berjalan beriringan hanya karena takut kehilangan pasangan, bukan karena memang benar-benar cinta sebagaimana pertemuan awal.

Bahkan untuk Menunjukkan Rasa Sayang Pun, Kita Sudah Terlihat Kian Enggan

Barangkali benar, semua rasa yang membara diawal akan mudah padam. Serupa dengan rasa yang ada pada hubungan kita berdua. Tadinya kita adalah dua sejoli yang hampir selalu terlihat mesra, saling memberi tanpa diminta. Bahkan tak sungkan untuk melakukan apa saja demi menyenangkan hati pasangnnya. Tak ada yang timpang, kita berdua melakukan hal yang sama dengan seimbang.

Cinta kita mungkin mulai hilang, terbang dibawa oleh berbagai macam keraguan. Dari yang tadinya saling sayang, berubah jadi dua orang dengan rasa segan yang kian terasa sungkan. Jangan bilang tak bisa menunjukkan apa-apa. Karena sesungguhnya, kita berdua hanya kehilangan keinginan untuk berbuat lebih. Sebab cinta yang tadinya jadi pemicu rasa, sudah hilang dengan sendirinya.  

Tidak Sedang Ingin Menjadikanmu Sebagai Pihak yang Bersalah, Aku pun Tak Ingin Terus Menerus Membohongi Rasa

Bersama seolah tanpa ada masalah, boleh saja kita lakoni berdua. Toh mereka yang sekian lama melihat kita, pastilah tak tahu apa yang sedang terjadi dalam hubungan kita. Akan tetapi, membohongi diri sendiri, jadi sesuatu yang teramat sulit dijalani. Kamu boleh bilang masih cinta, begitu pula dengan aku yang mungkin bisa terus berpura-pura. Tapi, jika memang sudah tak ada rasa untuk apa?

Tak ada yang salah dan yang benar, kupikir kita berdua memang sudah sama-sama bosan. Kehilangan rasa sayang, atau memang tak pernah cinta sedari awal. Bertahan meski sudah lama saling membiarkan, pilihan berpisah barangkali jadi keputusan yang paling benar.

Jangan Pikir Aku Marah, Meski Kecewa Kupikir Pilihan Ini Jadi yang Terbaik untuk Kita Berdua

Setelah mendengar kalimat yang kupakai untuk memutuskan hubungan, kamu mungkin berpikir bahwa kemarahanku jadi momok besar yang menakutkan. Walau tak bisa membatasimu untuk membayangkan apa yang kamu pikirkan, tapi kamu perlu paham. Jika apa yang menjadi keputusan, tak melulu datang karena kemarahan. Justru ini jadi pilihan paling aman untuk hubungan.

Sudah sekian lama tak saling menyanyangi lagi, apa yang ada di hati kita berdua tak lagi bisa dibilang cinta. Tapi ketakutan akan kesendirian, jika tak lagi bersama. Kita memang takut berpisah, tapi bukan karena rasa. Sebab hal yang kita takutkan adalah kesendirian. Merasa tak siap menyandang status tanpa pasangan, susah payah kita tetap bertahan. Meski sudah tak ada lagi kecocokan.

Dirimu Boleh Saja Menciptakan Pandangan Baru Akan Diriku, Tapi Benci Bukanlah Alasanku Meninggalkanmu

Tak bisa memaksamu untuk tetap menyukaiku, kini kamu bebas untuk melakukan apa saja sesukamu. Tak lagi terikat apa-apa, keputusan yang sudah dibuat jadi akhir yang harus dijalankan. Silahkan ciptakan semua paham yang bisa membuatmu puas dan mampu menerima keadaan.

Tapi membencimu bukanlah satu-satunya alasan pergi menjauh dari hubungan. Sampai pada titik bosan, kita berdua tak paham bagaimana mengembalikan kemesraan. Maka jika saat ini sudah tak bisa saling menguatkan, berpisah selalu jadi keputusan terbaik yang perlu dijalankan.

Karena Pada Akhirnya Kita Memang Harus Berpisah, Demi Menemukan Dia yang Mau Diajak Berjalan Searah

Selain cinta dan rasa percaya, pemikiran yang sejalan jelas jadi salah satu yang dibutuhkan dalam hubungan. Itu pula sebabnya, aku tak lagi mau berjalan beriringan. Karena kita berdua tak lagi terlihat bisa saling bergandengan. Beberapa kali aku meminta kita untuk berjalan ke depan, tapi kamu masih saja sibuk untuk bertahan ditengah jalan. Tidak maju, bahkan tidak mundur pula.

Barangkali benar kata beberapa orang, perpisahan tak selalu lahir dari kebencian, bukan pula karena keegoisan salah satu pasanngan. Tapi bisa pula lahir dari kesadaran. Kesadaran karena tak lagi bisa bersama dengan visi yang serupa. Daripada terus-menerus saling menyakiti, berpisah memang sudah jadi keputusan terbaik yang mesti dijalani.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top