Feature

Aku Masih Belum Terobsesi Menikah, Meski Teman Lain Gemar Berbagi Foto Bayinnya

Memasuki usia seperempat abad, bagi sebagian besar perempuan. Menikah jadi sesuatu yang perlu disegerakan. Selain dorongan dari lingkungan, beberapa kawan yang lebih dulu menikah sering jadi ‘kompor’ yang kian memanaskan suasana. Tapi itu mungkin mereka, karena sampai sekarang diriku masih belum berpikir ke arah sana. Tak merasa harus menikah dalam waktu cepat, sekalipun berpasangan dengan yang halal katanya jauh lebih menyenangkan.

Bagiku, menikah bukanlah sebuah perkara mudah. Lebih dari sekedar menyatukan dua kepala manusia. Atau menghasilkan satu bayi lucu untuk kemudian membagikan foto-fotonya di sosial media.

Aku Tak Ingin Menjadikan Pernikahan Jadi Sebuah Pelarian

Beberapa kali, setelah usai sesi curhat dengan beberapa teman yang sudah menikah. Aku pernah berbagi cerita tentang beberapa keresahanku tentang pekerjaan dan kehidupan. Alih-alih memberiku petuah yang bisa membuat diri tenang. Saran yang kudengar tak jauh-jauh dari kata, “Makanya nikah aja, biar nggak pusingin kerjaan” atau “Tuh kan, paling bener emang lu nikah aja dah”.

Sekilas kalimat barusan mungkin terdengar sebagai kepedulian seorang teman. Tapi, hal lain yang justru ingin membuatku tertawa. Dia yang sudah menikah, baru saja curhat tentang berbagai macam persoalan berat dalam hidup berumah tangga. Bagaimana aku bisa percaya, jika menikah itu menyelesaikan masalah?

Seberapa berat pun beban yang sedang aku jalani sekarang, menikah jelas tak jadi jawaban. Karena bagiku, menikah tak melulu tentang mendapatkan kebahagia. Ada sekelumit duka yang juga siap menghampiri kita kapan saja.

Lagipula Foto-foto Manis nan Lucu di Instagram Tak Selalu Jadi Tolak Ukur Kebahagian

Yap, untuk kita para perempuan yang mulai memasuki usia 25 tahunan. Linimasa sosial media, kerap di penuhi dengan berbagai macam foto tentang kehidupan pernikahan. Mulai dari foto lamaran, pernikahan, lahiran, hingga foto-foto bayi lucu dan tak lucu yang sering dijadikan ajang pamer oleh para orangtuanya.

Tak merasa begitu terganggu dengan foto-foto yang katanya bukti dari bahagia itu. Hal lain yang justru aku pelajari adalah, beberapa orang yang gemar berbagi foto dan terkesan bahagia justru adalah mereka yang paling tak bahagia atas pernikahannya.

Usia Bukanlah Penentu, Aku Hanya Akan Menikah Ketika Sudah Merasa Sanggup untuk Melakoninya

Awalnya aku memang pernah berpikir jika baiknya, seorang perempuan menikah pada usia-usia ideal yang banyak dipercaya orang-orang. Tapi kehidupan dan perjalanan cerita dari beberapa teman justru memberiku pemikiran baru.

Mereka yang usia tua, masih ada yang tak mampu bersikap dewasa setelah pernikahannya. Sedangkan, teman lain yang menikah kala masih belia, bisa berubah jadi sosok yang lebih bijak dari usianya. Untuk itulah, aku berpikir bahwa ternyata usia bukanlah penentu untuk kapan kita akan menikah. Tapi bagaimana kita menyiapkan diri untuk melakoninya selepas mengucap janji suci.

Daripada Harus Menambah Beban Tanggung Jawab, Lebih Baik Selesaikan Dulu Impian yang Lebih Dulu Dibuat

Terdengar seperti alasan seorang pecundang. Seorang teman bilang, kalau aku hanya mencari-cari alasan karena tak cukup berani untuk bertanggung jawab. Tapi begini, kupikir setiap orang berhak menentukan apa yang ingin ia jalankan. Tak mau buru-buru memutuskan jadi seorang istri atas laki-laki bukan berarti tak siap untuk bertanggung jawab. Justru ini jadi upaya untuk menghindari diri dari kesalahan.

Menikah berarti menambah tanggung jawab baru. Jika ternyata kita masih belum merasa siap untuk itu, lalu kenapa harus diburu-buru? Tunggulah dulu, sembari belajar bagaimana jadi seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak kelak.

Dibanding Menikah Buru-buru, Belajar untuk Membahagiakan dan Memantaskan Diri Jauh Lebih Perlu

Dari sekian banyak hal yang kujadikan tujuan. Berbahagia dan mencintai orang-orang terdekat masih jadi sesuatu yang harus lebih banyak dilakukan. Terburu-buru menikah hanya akan membuatmu membuang waktu bersama orang yang sebenarnya masih membutuhkanmu.

Maka sebelum keputusan dan pikiran menikah itu datang, jauh lebih baik jika waktu yang ada dipakai untuk memantaskan diri saja. Siapkan jiwa, hati, dan fisikmu untuk menjadi sosok pendamping yang baik di masa depan. Jangan sampai sudah memutuskan berlama-lama untuk menikah, tapi masih saja tak memantaskan diri.

Setiap orang punya jalan cerita dan pilihan hidup yang berbeda, kita tak berhak untuk memaksa orang lain untuk melakoni hal yang serupa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perihal Jodoh Tak Melulu Mencari Dia yang Terbaik, Tapi Dia yang Bisa Menerimamu dengan Baik

Semua orang berhak untuk menentukan, manusia seperti apa yang akan dipilih menjadi pasangan. Perhitungan dan syarat yang digunakan pun tak sama, ada yang memilih dari penampilan, kemampuan berpikir, harta yang dimiliki, hingga kecocokan selera humor berdua.

Perkara memilih dan dipilih ini memang akan selalu menjadi pembahasan yang menarik. Tapi satu hal yang pasti dan penting kamu ingat dalam hati. Pencarian dia yang kelak menjadi jodoh, tak selalu memilih dia yang terbaik tapi siapakah dia yang bisa menerimamu dengan baik.

Kamu mungkin menggelengkan kepala tanda tak setuju atas apa yang baru saja kamu baca. Tapi setelah memahami beberapa hal dibawah ini, kamu mungkin akan menganggukkan kepala.

Kecantikan dan Ketampanan Memang Memukau Mata, Tapi Dia yang Memilihmu Tanpa Memandang Rupa adalah Jodoh yang Sebenarnya

Karena dia yang diharap menjadi jodoh adalah teman hidup sepanjang masa. Akan tiba saatnya kamu dan dia menua, terlihat keriput dan tak lagi bercahaya, maka jika rupa adalah alasan yang kau pakai untuk memilih seorang pasangan. Ini semua akan hilang.

Sebaliknya carilah ia yang memang mau bertahan dalam segala keadaaan. Tak menilaimu dari penampilan dan mengabaikan semua kekurangan. Ia menerimamu, meski kulitmu lebih gelap darinya, tetap memperlakukanmu baik walau dirimu tak secantik perempuan yang lainnya. Dan selalu setiap mempertahankan hubungan meski ada banyak orang yang lebih cantik dan lebih tampan.

Tak Hanya Tentang Dia yang Mau Berbagi, Tapi Dia yang Tetap Bertahan di Segala Situasi

Setelah nanti menikah dan hidup berdua, kisah perjalanan hubungan tak lagi tentang hal-hal yang bahagia. Akan ada duka untuk menguatkan rasa, ujian untuk  lebih saling mengenal dan cobaan yang bisa datang kapan saja tanpa adanya persiapan.

Pada titik inilah kamu akan paham, bahkan perkara jodoh tak hanya tentang dia yang bisa dijadikan teman berbagi untuk semua suka. Tapi bagaimana ia tetap tinggal, meski ada banyak cobaan yang kelak akan mengahadang. Tak peduli bagaimana keadaannya, ia tetap memilih bersamamamu dalam suka dan duka.

Bukan Mencari dia yang Punya Banyak Kelebihan, Tapi Bagaimana Ia Menerimamu Meski Punya Banyak Kekurangan

Orang-orang dengan kemampuan segudang memang selalu terlihat mengangumkan. Tanpa sadar kita pun bisa terpesona dan jatuh hati padanya. Mencintai dirinya dari segala yang dimilikinya, namun kerap kecewa karena ia juga memaksa agar kita memiliki kelebihan yang sama banyakya. Untuk itulah, dalam hal mencari pendamping yang mumpuni.

Kita tak perlu menjadikan ‘punya banyak kelebihan’ sebagai syarat untuk menentukan. Cukup cari ia yang bisa menerima kita meski dengan segala kekurangan yang ada. Kelebihan yang dimiliki seseorang jelas hal yang patut disyukuri, tapi seorang partner yang bisa menerima kekurangannya pasangannya jauh lebih menentramkan jiwa.

Lupakan Berapa Banyak Kesamaan, Lihat Bagaimana Ia Merayakan Perbedaan

Ingat ya, untuk yang kesekalian kalinya kami katakan. Perihal mencari jodoh, bukan dilihat dari seberapa banyak persamaan yang kita dan si dia miliki. Lebih penting daripada itu, hal lain yang akan membantu kita untuk menjalani hubungan berdua adalah kesiapan kita untuk bisa bekerja sama meski dalam pandangan yang berbeda.

Karena menjadi berbeda dengan pasangan sendiri adalah perkara biasa, namun bagaimana kita merayakan dan memaknai perbedaan itulah yang kelak akan menjadi kunci dari suksesnya sebuah hubungan.

Mencari Jodoh adalah Perkara Melengkapi, Maka Carilah Ia yang Membuatmu Terlengkapi Setiap Kali Bersama dalam Segala Situasi

Dia yang emosional kelak akan bertemu dengan dia yang lembut dan tak suka marah-marah. Yang masih sembarangan makan, akan bertemu dengan dia yang pintar menjaga pola makan. Seorang jodoh yang sempurna, baiknya mampu melengkapi kekosongan yang tak dimiliki oleh pasangannnya.

Tak hanya sebagai teman hidup yang kelak akan dipanggil sebagai suami atau istri. Ia datang untuk menyempurnakan segala kekurangan dan kekosongan yang sebelumnya ada dalam diri. Sehingga, setiap kali bersamanya kita merasa sempurna. Sebab ada satu bagian dari kita yang mendadak di isi oleh dirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hidup di Dunia Hanya Sebentar, Kurang-kurangin Nyakitin Hati Orang

Segala nikmat dan kepunyaann yang dimiliki, sering kali membuat kita gelap mata dan lupa diri. Bukannya lebih banyak bersyukur karena punya sesuatu yang lebih, hidup nyaman yang didapatkan justru digunakan jadi alat untuk membuat orang lain tersakiti. Duh, ngeri!

Tak peduli seberapa banyak harta yang kamu punya atau secantik dan setampan apa dirimu dan secerdas apa pemikiranmu. Satu hal yang wajib dan harus selalu diingat adalah, semua yang ada pada kita sekarang hanyalah sementara. Maka teruslah berbuat baik dan berhenti untuk menyakiti hati orang lain. Sebab kehidupan tak bisa diterka, kamu bisa saja pergi tanpa sempat meminta maaf pada mereka yang telah disakiti.  

Meski Diperlakukan Buruk, Berusahalah untuk Senantiasa Berbuat Baik Pada Siapa Saja

Jangan pernah jumawa atas segala hal yang dipunya. Siapapun kita sekarang, sebanyak apapun harta yang sudah berhasil dikumpulkan, hingga kecerdasan tingkat tinggi yang ada di pikiran. Tak boleh jadi alasan untuk berlaku semena-mena pada orang yang lebih rendah dan lemah.

Merasa lebih tinggi dari orang lain, kadang membuat kita berhak untuk berlaku sombong, meninggikan hati, hingga akhirnya membuat mereka sakit hati. Siapapun kamu dan sebesar apapun keberuntungan dalam hidupmu, berusalah untuk rendah hati dan tak menyakiti.

Sebab Tuhan Pun Tak Meminta Kita untuk Membalas Hal Buruk dengan Serupa Buruknya

Apapun agamamu, untuk perkara bersikap dengan sesama manusia. Kita selalu diminta senantiasa berbuat baik kepada siapa saja, meski itu adalah orang yang menyaki kita. Memang sih, ini akan jadi sesuatu yang sulit. Karena mendapat perbuatan jahat, selalu mengundang amarah untuk membalas hal yang sama jahatnya.

Tapi percayalah, semesta dan sang pemiliknya selalu bersikap adil atas segalanya. Dia yang sudah berbuat jahat, kelak akan mendapat balasan yang setimpal. Untuk itu, dengan kita tetap berbuat baik akan selalu ada hal baik yang juga kita dapatkan sebagai balasan.

Dan untuk Hidup yang Lebih Tenang, Teruslah Belajar Menjadi Lebih Baik dari yang Sekarang

Setiap hari sepanjang hidup adalah proses belajar yang tiada akhir. Cerita dan kisah hidup yang berbeda, akan memaksa kita selalu memetik hikmah dari semuanya. Titik inilah yang kemudian akan membantu kita membuka mata, melihat hal-hal baik mana yang perlu dijadikan pelajaran.

Buang semua rasa jumawa atas kemampuan diri yang sekarang. Berpikir kalau kita sudah pintar hingga tak perlu belajar, hanya akan menyeret kita pada kekalahan, jika sewaktu-waktu ada hal baru yang akan terjadi di hari mendatang. Namun, jika ada persiapan yang matang yang selalu dipelihara dalam segala bentuk pelajaran. Maka hidup akan lebih tenang.

Sembari Mengasah Kemampuan dan Pengetahuan, Jangan Lupa untuk Selalu Bersyukur atas Segala Kepunyaan

Ucapan syukur atas semua hal adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa terimakasih atas kehidupan. Jangan sampai apa yang dimiliki jadi alasan untuk bisa merendahkan orang lain atau menyakiti hati mereka.

Sebaliknya, ketika kita mempunyai sesuatu yang lebih dibanding orang lain. Jadikan itu sebagai ajang untuk bersyukur, berbagi, hingga memberi contoh bagaimana menikmati semua pemberian Tuhan dengan rasa syukur yang besar. Terus menerus belajar adalah kewajiban, serupa wajibnya dengan ucapan terimakasih yang tiap hari harus kita sampaikan.

Hidup Hanya Sebuah Persinggahan, untuk Itu Lakukan Semua Hal Baik yang Berkenan Bagi Allah dan Banyak Orang

Jangan gelap mata atas segala hal indah yang sedang Allah titipkan kepada kita. Semua itu bisa hilang dalam sekejap saja. Entah sore nanti, besok pagi, atau lusa. Apapun bisa terjadi atas hidup kita semuanya.

Untuk itu, selagi ada waktu dan masih diberikan kesempatan hidup dengan nyaman. Menjadilah berbeda dari orang-orang biasanya. Menjadi manusia yang taat kepada Tuhanmu dan baik kepada semua manusia yang ada di dekatmu. Jangan terkecoh, tetap rendah hati dan teruslah berbuat baik, selama kamu bisa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Simaksi Naik Rinjani Akan Pakai Registrasi Online

Sudah digodok sejak satu tahun belakangan, akhirnya prosedur pendakian Gunung Rinjani akan memakai sistem booking online per Juni 2019 mendatang. Untuk jalur pendakian, akan ada 4 jalur dibuka dengan kuota pendaki yang masih akan dibatasi.

Kepala BTNGR, Sudiyono pada Kamis (16/5/2019) kemarin menyatakan akan ada 4 jalur pendakian yang rencananya dibuka, yaitu melalui Senaru, Sembalun, Timbanuh dan Aik Berik. Dimana setiap jalur akan diberi batas kepasitas antara 100 hingga 150 orang pendaki setiap hari.

Selain itu, setiap pendaki juga akan diberi rentang waktu untuk menginap selama dua malam di areal camping yang sudah ditentukan. Namun untuk sistem pembayaran tiket simaksi kemungkinan masih menggunakan proses manual.

“Kami menggunakan booking online nanti. Jadi tetap pakai kuota begitu. Tapi bayar tiketnya kemungkinan masih manual, langsung. Sudah ada bookingnya baru bayar gitu,” jelas Sudiyono.

Sistem itu diterapkan demi efektivitas dan efisiensi pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani. Di sisi lain, reservasi online ini juga jadi salah satu hal yang akan  menguntungkan para pendaki. Karena memberi akses kemudahan untuk mengecek kuota yang tersedia hingga pembayaran tiket yang juga akan terhubung dengan beberapa metode pembayaran. Nantinya, sistem reservasi online Gunung Rinjani dapat dilakukan via web eRinjani atau melalui aplikasi berbasis android yang bisa diunduh di PlayStore.  

Saat ini, keempat titik jalur menuju puncak Rinjani masih dalam proses perbaikan. Masih tetap dengan atauran sebelumnya, setiap pendaki tidak diperkenankan untuk mencapai puncak dan mendirikan tenda di areal Danau Segara Anak. Buat yang ingin segera ke sana, bisa segera melihat jadwal libur ya. Karena kordinasi perizinan dan persiapan sistem booking online yang akan diterapkan akan mulai beroperasi pada awal Juni mendatang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top