Feature

Aku Lebih Memilih Terlambat Menikah Daripada Salah Pilih Pasangan

“Kapan nikah? “Mau sampai kapan sendiri aja? Ingat umur, jangan ditunda-tunda lagi. Apa kamu mau jadi perawan tua?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering membuatku ingin meledak. Apa mereka tidak tahu kalau setiap orang punya pemikiran yang berbeda-beda?

Ingin rasanya aku berteriak di wajah mereka. “Ini kehidupanku! Aku yang memegang keputusan! Bukan kamu!” Lagipula, aku memang ingin lebih selektif dalam menentukan siapa pria yang cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Aku ingin pernikahan yang berjalan tanpa akhir.

Sekarang coba hitung, berapa banyak gugatan cerai yang dilayangkan ke pengadilan setiap harinya? Apa yang menjadi penyebab itu semua? Jawaban mereka umumnya sama, “Kami merasa sudah tidak cocok lagi”. Itu semua adalah kata lain dari salah pilih pasangan. Dan aku tidak mau jika pernikahanku berakhir dengan alasan salah pilih pasangan.

Aku Tidak Ingin Membebani Orangtua Lagi, Aku Ingin Menikah dengan Biaya Sendiri
pexels-photo-65038

Salah satu alasanku tidak ingin terburu-buru menikah adalah soal biaya. Aku tidak ingin membebani orangtuaku. Aku ingin mereka bisa pensiun dengan berkecukupan. Aku ingin pernikahan impianku digelar atas biayaku sendiri dan pasangan.

Aku juga tidak berharap atau bermimpi terlalu jauh bisa mendapatkan pasangan yang kaya raya. Maka aku sibuk bekerja untuk menabung sebanyak-banyaknya. Aku tidak ingin menggantungkan diri pada orangtua, pasangan apa lagi sampai berutang ke bank untuk menikah.

Masih Banyak Hal yang Ingin Aku Lakukan dan Tempat yang Ingin Aku Kunjungi

nature-person-red-woman

Hidup adalah pilihan. Aku menghargai pilihan teman-temanku yang menikah muda, hamil, melahirkan, menyusui lalu mengurus anak dan suami. Jika mereka bahagia, aku tidak masalah. Toh itu kehidupan mereka. Tapi aku punya cara pikir berbeda.

Sekarang aku punya karir yang baik dan uang yang cukup. Aku ingin traveling, mengunjungi berbagai tempat yang indah dan mengumpulkan kenangan. Mumpung masih muda, punya waktu dan uang. Aku ingin melakukan berbagai hal-hal seru yang mungkin tidak bisa dilakukan lagi ketika sudah berkeluarga.

Aku tidak ingin bertengkar dengan suamiku hanya karena ingin melakukan hal-hal yang aku suka. Aku juga tidak ingin meninggalkan anakku untuk jalan-jalan. Aku ingin puas menghabiskan masa mudaku sebelum menikah. Ketika sudah punya anak, aku harus mepertanggungjawabkan tugasku sebagai ibu sekaligus istri.

Aku Tahu Tidak Ada Orang yang Sempurna, Maka Aku Mencari Pasangan yang Mau Menerima Kekuranganku

nature-person-hands-girl

Selama ini aku mungkin terlihat sangat pemilih. Tapi bukannya karena aku mencari sosok yang sempurna, tanpa kekurangan sama sekali. Justru aku sudah berkali-kali mencoba memahami mereka. Aku tahu betul ini hal yang sulit. Aku juga punya kekurangan. Selama ini justru aku sudah cukup dikecewakan.

Mereka tidak bisa menerima kekuranganku. Padahal untuk menjalin hubungan yang lebih serius dan untuk jangka panjang, kita harus menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Maka aku rasa memang ini belum waktunya. Aku harus bersabar menunggu lebih lama hingga dia tiba. Dia yang mau menerima diriku apa adanya.

Aku Bukan Orang yang Anti Ikatan, Aku Juga Ingin Berkeluarga, Jadi Jangan Menilaiku Sembarangan

pexels-photo (8)

Jika kamu pikir aku tidak kunjung menikah karena aku anti ikatan, kamu salah besar! Aku bukan seperti yang kamu pikir. Aku juga tidak ingin terlalu lama sendiri. Aku ingin membangun keluarga kecil yang bahagia dan menghabiskan hidup bersama pasangan yang aku cintai.

Tapi masalahnya, untuk mendapatkan pasangan yang cocok tidak semudah belanja buah atau sayur. Tinggal datang ke supermarket, sudah tersedia barangnya dan tinggal pilih. Mencari pasangan itu butuh momen dan kesempatan yang pas.

Aku Tidak Ingin Terjebak dalam Kehidupan Rumah Tangga yang Menyiksa

hands-people-woman-meeting

Sudah banyak kasus perceraian yang terjadi di sekitarku. Padahal mereka berkenalan sendiri, pacaran lalu menikah dengan cepat. Saat itu mereka tampak begitu bahagia. Entah kenapa hanya sebentar, mereka sudah memutuskan berpisah.

Ada yang karena perselingkuhan, ada juga yang karena kekerasan dalam rumah tangga. Ini yang membuatku kadang takut. Bagaimana kalau harus terjebak dalam kehidupan rumah tangga yang menyiksa? Aku tidak mau mengalami hal seperti itu. Bertahun-tahun menahan sakit hati karena konflik dengan pasangan atau mertua.

Jika harus bercerai pun, aku takut harus menjadi single parent. Belum lagi status sebagai janda yang harus aku sandang. Mungkin ini berlebihan, belum menikah tapi sudah memikirkan perceraian. Tapi tidak pernah ada yang tahu masa depan. Inilah yang membuatku sangat berhati-hati sebelum menentukan menikah.

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sejalan dengan Usia yang Bertambah, Bagimu Kriteria Pasangan Pun Ikut Berubah

Dulu, saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan caramu berpikir tentang cinta.

Pernah berpikir lelaki romantis adalah pasangan sempurna, kini kamu justru merasa jengah jika si dia hanya bisa mengumbar kata manis saja. Benar, kita sadar bahwa deretan kriteria dia yang jadi pasanngan tak lagi melulu tentang dia yang mampu berkata manis seperti lelaki di film romantis.

Sebelumnya, Sering Tak Ada Jeda untuk Memulai Cinta, Kini Punya Pertimbangan Panjang dalam Menerima Seseorang

Mari ingat kembali, perjalanan asmara yang kita miliki sejak dari kekasih pertama. Setiap kali putus cinta, rasanya tak pernah butuh lama untuk bisa kembali membuka hati untuk dia yang baru. Tapi, hal tersebut tak lagi berlaku untuk usia yang sedewasa kini. Biar banyak yang datang untuk menawarkan hati dan cintanya, rasanya selalu susah untuk mengiyakan ajakan untuk memulai hubungan.

Bukan perkara belum bisa melupakan mantan pacar terdahulu, walau kadang hal itu pun bisa jadi alasan. Tapi ini lebih kepada pertimbangan yang perlu dipikirkan matang-matang. Tak lagi mau sembarangan, ada banyak ketentuan yang kita jadikan standar untuk dia yang akan jadi pasangan.

Bukan Rasa yang Menggebu-gebu, Tapi Bagaimana si Dia dan Kamu Mengelola Emosi

Di usia remaja, apapun seolah terasa mudah. Berpikir bahwa kita akan bersama selamanya dengan dia yang dicinta. Jika diibaratkan sebuah bunga, rasa cinta yang ada  di hati kita sedang mekar-mekarnya. Harum ke semua penjuru, bahkan menutup bau dari si dia yang mungkin bisa menyakitimu.

Tapi ketika sudah dewasa, cinta dan rasa yang menggebu-gebu bukanlah jadi penentu. Tapi bagaimana kita dan pasangan bisa sama-sama belajar untuk selalu mampu mengelola emosi dalam segala hal. Untuk itu pulalah, kata putus tak lagi bisa diucapkan dengan mudah seperti kala remaja.

Kini Kamu Paham, Kalau Hubungan yang Baik Bukan yang Tanpa Pertengkaran

Jadi dua sejoli yang selalu akur, bertaburan kata romantis, hingga hal-hal manis lain yang akan menghiasi cerita. Pernah jadi mimpi yang diharapkan untuk selalu ada dalam hubungan cinta. Bayangan yang selalu ada di kepala, bagaimana kita dan si dia selalu tertawa tanpa adanya masalah.

Padahal pada kenyataannya, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebab hubungan yang baik, tentu juga butuh perdebatan. Kamu pasti tak suka, jika lelakimu selalu mengiyakan kata-katamu seolah tak punya pendapatnya sendiri, dan begitupun sebaliknya.

Pertengkaran dan perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, hal ini justru jadi tanda bahwa ada komunikasi yang berjalan antara kita berdua.

Tadinya Putus Cinta Selalu Buat Kecewa, Tapi Sekarang Kamu Sadar Ada Pelajaran dari Sana

Berbalik sebentar ke sikap kita dalam menghadapi putus cinta saat masih di bangku SMA. Menangis semalaman, mengutuki keadaan, atau membencinya dan menganggapnya musuh yang pantas dilenyapkan. Menariknya, kedewasaan turut serta membawa perubahan dalam diri kita dalam hal memahami masalah.

Tak lagi memandang patah hati jadi sebuah pilu yang patut ditangisi, kini kita sadar ada banyak pelajar yang bisa diambil dari setiap asmara, meski kadang berakhir dengan luka.

Dulu Kamu Meyakini Adanya Cinta Sejatinya, Kini Kamu Mengerti Rasa yang Abadi Harus Diciptakan Sendiri

Hidup kita bukanlah cerita romansa yang ada di film-film romantis milik Disney. Ini adalah kehidupan nyata yang butuh upaya. Yap, selain restu dari pemilik hidup, kita perlu berusahauntuk saling membahagiakan jika memang ingin cinta ini jadi sesuatu yang layak disebut keabadiaan.

Butuh mengerti dan dimengerti, mendengar dan didengar, memahami dan dipahami, hingga hal lain yang memang bisa membantu kita mempertahankan hubungan hingga menua bersama.

Kita mungkin pernah bermimpi tentang segala hal indah yang sekiranya terjadi atas hubungan, tapi kini kita sadar bahwa ada banyak hal yang berubah seiring usia yang terus berjalan. Dan ini adalah sesuatu yang wajar.

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top