Feature

Aku Hanya Sedang Berusaha Berdamai Pada Rindu yang Semakin Sukar Dipendam

Setidaknya sudah sebulan terakhir aku tak berjumpa denganmu. Apa kabarmu disana? Pasti baik-baik saja, bukan? Rasanya seperti baru kemarin kita saling memeluk erat sebelum akhirnya kamu beranjak pergi demi menunaikan tugas dan tanggung jawab pekerjaanmu.

Sedih rasanya, tatkala melihat langkah kakimu perlahan menjauh dariku. Aku tahu kamu tak akan menghilang. Hanya saja, perpisahan sementara waktu ini juga terasa berat. Terlebih, aku telah terbiasa melewati hari-hariku denganmu.

Apalah dayaku, kamu harus tetap menjalankan tugasmu di luar sana. Terbentang jarak, ruang, dan perbedaan waktu yang sepertinya akan jadi tantangan baru dalam hubungan kita. Bagaimana pun, ini juga momen untukku belajar menahan rindu dan memilih berdamai meski mungkin sukar dipendam. Kepulanganmu adalah penantianku, tapi setidaknya izinkan aku mengatasi rindu ini dengan caraku sendiri.

Saat Setiap Hal Kecil Mengingatkanku Padamu, Aku Memilih Bergulat dengan Pekerjaan Agar Sejenak Lupa Perkara Rindu

Kemarin aku tak sengaja pulang lewat jalan depan kafe yang biasa kita singgahi. Kulihat meja dan kursi yang biasa kita pilih, tapi saat itu terisi oleh pasangan lain yang terlihat saling menebar senyum satu sama lain. Beberapa saat, kuharap itu aku dan kamu, namun kenyataan berkata sebaliknya, aku harus melewati kafe tersebut dengan menahan rindu. Tak cuma perkara kafe, seringkali lagu-lagu favorit kita berdua tak sengaja kudengar di radio.

Tapi pada akhirnya, caraku bergulat dengan rindu adalah berupaya sesibuk mungkin dengan pekerjaanku setiap harinya. Kesibukan dan tanggung jawab membuatku lupa kalau rinduku sebenarnya sudah tak bisa ditakar. Meski seringkali akhirnya setiap beberapa menit aku terdiam, kembali berkutat dengan rindu, mengingat rupamu, dan segala hal yang pernah kita lalui.

Jadi, rasanya seperti ini berpura-pura menepis rindu padahal hati berkata lain. Kuharap kamu baik-baik saja di sana. Menyibukkan diri sungguh baik dibanding kita saling menerka kabar satu sama lain.

Saking Tak Kuat Menahan Beban Rindu Sendiri, Semuanya Kubawa dalam Doa Karena Di Saat Itulah Kumerasa Tuhan sedang Datang Menghampiri

Aku tahu kita sama-sama menabung rindu di tempat masing-masing. Rasanya tak cukup jika rindu ini hanya kusampaikan berkali-kali padamu atau pada teman dekatku saja. Rindu yang semakin bertambah setiap waktu akhirnya bertumpuk hingga aku tak kuasa menitikkan air mata.

Namun lewat rindu aku bisa belajar mendekatkan diri kepada Tuhan. Kusampaikan selugasnya setiap perkataan yang selama ini kupendam mengenai rindu yang sepertinya tak kunjung tuntas. Semula, kurasa rindu terasa menyakitkan untuk dilewati. Tapi semakin hari kian dekat diriku padaNya, aku sadar, rindu nyatanya indah apabila kita terus membawanya dalam doa. Untukmu yang jauh di sana, kuharap kamu merasakan hal yang sama.

Sejenak Kutepis Rindu yang Hakekatnya Milikmu, Supaya Aku Sadar Di Sekelilingku Masih Ada Kasih Sayang yang Bukan Cuma Darimu

Rindu ini milikmu. Mungkin itu kalimat pertama yang bisa kuteriakkan saat kelak kubertemu kembali denganmu nanti. Aku berkali-kali menyiasati bagaimana mengatasi rindu yang bukannya berkurang malah semakin bertambah. Mulai dengan sibuk bekerja, bepergian bersama teman, hingga melakukan aktivitas yang sebelumnya belum pernah kulakukan.

Kuakui, setiap hal yang kulakukan itu berhasil membuatku sedikit lupa dengan beban rindu yang sedang kutanggung. Mungkin aku harus berterima kasih padamu. Kalau bukan karena bergulat dengan rindu, mungkin aku tak akan pernah tahu rasanya melakukan hal baru dan menyadari banyaknya perhatian dari orang di sekelilingku.

Saking Sibuknya Menumpuk Rindu, Aku Lupa Caranya Mencipta Bahagia Meski dalam Kondisi Pilu

Bahagia bukan lagi sebuah pilihan, tapi jadi keharusan. Setidaknya aku harus memiliki prinsip yang demikian. Menahan rindu sejatinya sulit, tapi setidaknya mungkin ini caraku dan waktuku untuk mencoba membahagiakan diri meski tanpa kamu. Dengan melakukan berbagai hal baru, kutahu aku bisa mengalihkan rasa pilu karena dilanda rindu.

Mungkin kalau bukan karena sakitnya menahan rindu, aku akan sulit melakukan dan menciptakan ruang bahagiaku sendiri. Harapanku, ketika kamu pulang nanti, mari lakukan banyak hal yang sudah kita buat dalam angan selama kita saling menanti di ujung rindu.

Ketika Kita Terpaut Jarak, Saat Itulah Aku Belajar jadi Wanita yang Kuat

Kesetiaan dan kesabaranku kian diuji dari hari ke hari demi menantimu pulang dan memelukku hangat. Ratusan hari bahkan ribuan jam tanpamu seolah menempaku untuk terus belajar menjadi perempuan yang pantas untukmu.

Kini aku sibuk memperbaiki diri adalah target utamaku sebelum kamu pulang. Berlatih kesetiaan pun juga jadi tantanganku. Terutama jika ada yang terang-terangan mendekatiku, kukira ini semacam melatih kesetiaan. Pun ketika kamu rasa-rasanya sulit dihubungi, kesabaranku pun turut diuji. Sepertinya memang kita harus berterima kasih pada jarak ini. karena ia lah kita menjadi tahu hubungan seperti apa yang kita sedang perjuangkan ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ketika Hidupnya Lebih Buruk denganmu, Itu Artinya Ia Tak Tercipta Untukmu

Pernah tidak kamu tiba-tiba bepikir, bahwa ada sesuatu yang sepertinya tak beres dalam hubunganmu? Iya, ini bukan tentang kamu tak bisa membuatnya tertawa atau bahagia. Tapi tentang kenyataan lain yang justru jadi tanda tanya.

Coba lihat hidupnya kini, lalu bandingkan dengan hidupnya sebelum kalian bersama. Dulu ia adalah seorang periang, punya banyak teman dan pekerjaan yang lancar. Tapi bersamamu, harinya justru berubah. Menjauh dari temannya, karena memastikan kamu tak kemana-mana jadi yang lebih utama.

Sering khawatir karena cemburu, ketakutan akan kehilangmu menganggu pekerjaan yang ia lakoni. Lantas, sanggupkah kamu terus menerus melihatnya begitu?

Cinta yang Baik Membawanya Kedamaian, Bukan Membuatnya Gusar Tak Berkesudahan

Sikap periang yang dimilikinya, bisa jadi adalah salah satu hal yang membuatnya suka padanya. Tapi, jauh berbeda dari saat pertama jumpa. Akhir-akhir ini ia justru terlihat sering berwajah sendu, karena tak bahagia. Senyum manis yang tadinya sering mengembang, pelan-pelan mulai hilang. Berganti dengan segudang kekhawatiran atas hubungan yang kalian jalankan.

Tak terlihat secara jelas datang darimana sedihnya, yang terlihat hanyalah raut wajah kecewa, takut, serta kerap khawatir untuk berbagai macam alasan. Jika memang begitu, cobalah untuk melepasnya sendiri dulu.

Jauh dari Kata Berkembang, Hidupnya Kian Monoton Setelah Kamu Datang

Rasa sayang harusnya mendorong seseorang untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya terlihat mustahil. Membantunya meningkatkan kemampuan dan kreativitas, dan semua hal baik itu jelas memberi dampak baik untuknya.

Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, itu artinya memang ada sesuatu yang salah. Bandingkan lagi, bagaimana hidupnya ketika kalian tak bersama. Seberapa banyak pencapaian yang ia perbuat dengan seorang diri saja? Dan kenapa ketika sudah bersama ia justru berdiam diri dan tak berbuat apa-apa?

Semangatnya pelan-pelan hilang, dan jika benar begitu sebaiknya kau lepaskan genggamanmu.

Hanya Demi Kamu, Ia Sering Berbohong

Tak jelas apa alasannya, dari seluruh perubahan sikap yang ia tunjukkan. Kebohongan jadi salah satu hal yang paling banyak kau temukan. Mulai dari kebohongan kecil, hingga yang besar. Dari yang menurutmu tak penting untuk ditutupi sampai hal besar lain yang harusnya tak perlu disembunyikan lagi.

Hubungan kalian, kerap kali dijadikan alasan untuk berbohong dan tak ingin membuatmu marah atau kecewa padanya. Tapi asal kamu tahu saja, cinta yang baik merubah sesorang untuk lebih terbuka dan membicarakan semuanya. Jika ia kerap kedapatan berbohong, itu artinya ada sesuatu yang salah.

Tak Lagi Bergairah untuk Melakoni Hal Lain, Hidupnya Seolah Bertumpu Hanya Padamu Saja

Jadi sesuatu yang kadang sulit diterima, perubahan sikap yang ia tunjukkan kadang memang tak masuk akal. Namun itu semua adalah kenyataan yang mau tak mau harus kamu terima. Kamu bisa melihat ia kehilangan semua gairah, tak lagi terlihat hidup melakukan hal yang tadinya ia suka.

Dan kesimpulan yang bisa ditarik dari sikapnya, kemampuan yang tadinya ia bisa perbesar berubah jadi ketidakpastian yang kian kecil. Tak mau berbuat apa-apa tanpa dirinya, baginya kamulah roda pemutar hidup yang ia percaya. Tapi, bukankah cinta harusnya membuat kita kian kuat? Jika dirinya justru melemah, itu artinya bukan cinta.

Lari dari Tanggung Jawab, Ia Berubah Lebih Buruk dari yang Sebelumnya

Yap, coba tengok seseorang yang katamu paling kamu cintai itu. Ingat kembali bagaimana ia dulu menyelesaikan semua pilihan dan menyelesaikannya dengan benar. Lalu masihkah ia bersikap demikian sampai sekarang? Jika ternyata jawabannya adalah tidak. Berarti ada sesuatu yang memang perlu dibenahi dalam hubungan kalian berdua. Dia yang terjebak dan tak bisa memilah perilakunnya, atau sikapmulah yang membuat ia jadi demikian berubah.

Mungkin Bukan Hanya Salahmu Juga, untuk Itu Cobalah Mencari Penyebabnya

Perkara hubungan yang bisab merubah setiap orang. Siapa yang salah jelas sulit untuk ditentukan. Satu pihak bisa saja merasa biasa dan tak berbuat salah, tapi di sisi lain bisa jadi pasangannya mengira dialah penyebab seseorang berubah.

Tak harus buru-buru, coba dilihat pelan-pelan dulu. Pihak manakah yang sekiranya jadi penyebab perubahan diri. Jika memang itu karenamu, belajarlah untuk lebih bijaksana dalam menanggapinya. Lepaskan ia jika ternyata, tak ada bahagia yang ia terima setelah sekian lama bersama. Jujurlah pada dirimu sendiri dengan mengakui bahwa kamu memang jadi sosok yang membuatnya berubah menjadi lebih buruk dari dirinya yang sebelumnya.

Maka, jika benar-benar cinta, cobalah lepaskan ia. Biarkan ia mencari jalannya, dan belajar untuk mencari bahagianya dulu sebelum nanti berbagi bahagia lagi bersamamu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kadang Seorang Teman Memberi Solusi Bukan Karena Empati, Tapi Sekadar Asal Bicara Saja

Sadarilah, tak semua teman tempat kita curhat adalah seorang pendengar yang baik, yang mau turut merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Karenanya, tak usah heran kalau akhirnya yang kamu dapat adalah solusi yang terdengar ‘ala kadarnya’ bahkan terkesan menggampangkan sebuah masalah.

Padahal jika dikembalikan ke dirinya sendiri belum tentu mereka akan terima dengan masukan seperti itu. Namun bukan berarti berbagi cerita ke teman adalah langkah yang salah ya. Mungkin supaya tak mendapat respon yang tak enak, kamu perlu mengenali karakter mereka dulu. Carilah sosok teman yang benar-benar tepat, yang bisa menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik bagi dirimu.

Seorang Teman Belum Tentu Merasakan Emosi yang Kamu Rasakan

Bagaimanapun, seorang teman belum tentu bisa merasakan emosi seperti yang kamu rasakan saat kamu menceritakan ceritamu. Padahal ada kalanya kamu hanya butuh didengarkan saja dibanding meminta saran dari mereka. Hati-hati, salah cerita pada orang, justru bisa membuatmu merasa sia-sia.

Sadarilah, meski sejak awal kita berharap mereka mau turut merasakan emosi yang sama seperti yang kamu rasakan kala itu. Tak semua orang bisa merasakan apa yang kita sedang rasakan.

Selesai Cerita Justru Dapat Penghakiman dari Teman yang Kamu Ajak Cerita, Menyebalkan Bukan?

Percayalah, tak semua curahan hati kamu bisa diterima dan direspon dengan baik oleh teman yang kamu ajak berbagi. Bahkan, tak semua teman akan setuju dengan jalan cerita yang kelak kamu bagikan pada mereka. Alih-alih ingin mendapat hati yang plong setelah mengeluarkan segala keluh kesahmu, yang ada kamu hanya akan mendapatkan kecewa.

Jika tahu bakal mendapat penghakiman dari lawan bicaramu. Pastikan terlebih dahulu, sebenarnya seberapa besar ia mau mendengarmu.

Tak Menutup Kemungkinan Ceritamu Justru Disebarluaskan pada yang Lain

Tak semua teman bisa menjaga rahasiamu dengan baik setelah kamu ceritakan seluruhnya pada mereka. Karenanya, jangan menceritakan masalahmu ke sembarang orang. Namun carilah sosok teman yang dapat dipercaya bisa menjaga rahasiamu dengan aman.

Susah memang, tapi kuberitahu, jangan sampai setelah kamu curahkan semua pada temanmu, masalahmu malah makin runyam dan akhirnya hanya mengganggu ketentraman hatimu, kan?

Berujung Penyesalan yang Menderamu Karena Sudah Cerita ke Temanmu

Akhirnya ketika kamu tahu bahwa teman yang kamu ajak berbagi cerita tidak bisa dipercaya dalam menjaga segala rahasiamu, yang ada kamu akan merasa menyesal sendiri. Bahkan hal ini bisa berdampak pada merenggangnya hubungan pertemanmu dengannya. Mungkin pada akhirnya kamu bisa petik pelajarannya dari sini agar bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman untuk diajak berbagi cerita.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jatuh Cinta Itu Mudah, Tapi Menjaganya Susah

Semua kita pasti setuju, jika proses jatuh cinta selalu dipenuhi dengan hal-hal manis yang menenangkan jiwa. Tak berhenti memikirkan dirinya, sampai senyum-senyum manis meski tak ada yang orang disamping kita.

Tapi jatuh cinta, jelas tak hanya sampai pada proses menyatakan cinta lalu diterima saja. Setelah itu, kita justru diminta untuk berjuang dengan porsi yang lebih besar. Memulainya mungkin cukup dengan sebuah perasaan suka, tapi untuk terus bisa bertahan jelas kita butuh usaha. Maka dengan demikian, jika jatuh cinta terasa mudah, menjaganya sudah pasti susah.

Awalnya Semua yang Terasa Kurang Terkesan Manis, Tapi Percayalah Itu Tak Akan Berjalan Lama

Pada beberapa waktu awal, segala hal yang terasa kurang bisa dirayakan dalam sebuah kesederhanaan. Memesan satu porsi lauk dengan dua porsi nasi demi menghemat biaya, memang bukanlah sesuatu yang buruk untuk berdua. Selama masih bisa dinikmati bersama, jelas selalu terasa istimewa.

Namun juga akan terdengar manusiawi, jika kita menginginkan sebuah hubungan yang berjalan dengan angan besar. Bukan yang melulu jalan di tempat. Kita butuh perubahan, sesederhana bisa makan berdua di restoran mewah tanpa takut tak bisa bayar.

Bukan Tak Percaya Rasa Cinta, Tapi Pasti Bosan Jika Setiap Akhir Pekan Hanya Duduk Manis di Rumah Saja

Jangan bilang perempuanmu sedang ingin meragukan rasa sayang dan ketulusan. Biar bagaimanpun dia selalu percaya jika cinta akan mendatang berbagai macam hal baik dalam hubungan. Akan tetapi, kamu juga perlu mencari celah bagaimana caranya untuk terus menghidupkan rasa.

Bayang-bayang akan hidup berdua bisa jadi belum siap diterima. Karena masih pacaran saja, hubungan kalian terasa hambar tanpa ada istimewanya. Sesekali, kalian harus pergi kencan berdua. Walau hanya sekedar menikmati dua gelas kopi, sembari bercerita beberapa angan bersama. 

Kita Harus Realistis, Seberapa Serius Kita Akan Menjalani Hubungan Ini

Tantangan dalam hubungan kita jelas akan berubah, dari hal-hal remeh yang tak harusnya jadi sumber masalah. Berubah dengan berbagai macam pertanyaan seputar keseriusan berdua. Perempuanmu mungkin bisa mendadak marah, karena tahu kamu menghabiskan 30% gaji hanya untuk foya-foya. Padahal jauh lebih berguna jika uangnya kamu tabung saja.

Begitupun sebaliknya, lelakimu bisa saja merasa kecewa jika kamu masih saja bersikap kekanak-kanakan dan mempermasalahkan tentang mantan yang jelas-jelas sudah lama dilupakan. Belajar untuk terbuka dalam segala, mengemukakan sesuatu yang memang sekira tak benar. Dan sama-sama belajar untuk memahami, akan dibawa kemana hubungan ini.

Demi Cinta yang Tetap Terjaga, Kita Pun Butuh Waktu yang Baik untuk Berdua

Memupuk rasa cinta dan kasih sayang, bukan hanya tentang ikatan. Bagi perempuan, perlu untuk bepergian bersama pasangan walau si lelaki mungkin merasa enggan. Hidupkan semua rasa dan cinta dengan cara yang istimewa, agar tak pernah ada kata bosan untuk bersama.

Tak harus sering, asal bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan berguna. Belajar memasak berdua kala akhir pekan, atau berkebun bersama untuk suasana yang lebih kekeluargaan. Dengan begitu kalian akan terlatih, jadi pasangan yang tak hanya saling mencintai tapi juga bisa jadi rekan kerja yang baik untuk segala hal yang akan dilakukan nanti.

Hingga Akhirnya Kalian Akan Sadar, Menjalin Hubungan Bukan Soal Cinta Semata

Membuat perhitungan dalam hubungan, bukan berarti sedang ingin menancapkan sebuah standar besar. Ini lebih kepada sebuah kesadaran, tentang hal-hal nyata lain yang memang akan dirasakan setiap pasangan. Kita butuh pergi berkencan, kita butuh makan malam berdua yang berkesan, kita butuh menghadiahi pasangan, dan berbagai hal lain yang memang membutuhkan perhitungan dan jelas jadi pengeluaran.

Maka dengan demikian, walau katamu jatuh cinta itu mudah, menjaganya jelas saja susah. Karena selain biaya, kau pun perlu untuk mau terbuka. Mempelajari bagaimana sebenarnya sikap aslinya dan seberapa besar kemungkinan bisa berdua selamanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top