Feature

Aku Bilang ‘Jangan Bilang-bilang’, yang Kamu Lakukan Malah Bilang Ke yang Lain

Aku Bilang ‘Jangan Bilang-bilang’, yang Kamu Lakukan Malah Bilang Ke yang Lain Suatu saat ada kalanya aku butuh teman sepertimu. Ada hal yang selalu ingin kuceritakan padamu karena aku bingung harus cerita ke siapa. Kuharap kamu menyimpannya rapat-rapat, karena aku malu jika orang lain terutama teman-teman kita yang lainnya sampai tahu hal-hal konyol atau terlalu sensitif yang ada padaku. Semua itu hanya kuceritakan padamu.

Sebentar, sepertinya belum ada seminggu aku berbagi rahasiaku padamu. Kok aku dengar selentingan kalau si A tahu soalku darimu? Benarkah kamu yang menceritakan padanya? Kan aku sudah bilang, “Jangan bilang-bilang ya…”

Pernah di posisi itu? Berharap teman baikmu menyimpan rapat-rapat rahasiamu, tapi yang ada malah sebaliknya? Mungkin hampir semua orang pernah merasakannya. Karena tak selamanya rahasia menjadi rahasia. Apalagi kalau dia ternyata sudah membeberkannya pada teman-teman dekatnya yang lain.

Entahlah Apapun Alasannya, Tapi Mengapa Harus Rahasiaku yang Kamu Umbar di Hadapan Teman-temanmu?

Inilah pertanyaan yang selalu terlintas di benakku. Aku yang selama ini selektif memilih teman berbagi cerita tiba-tiba merasa terkhianati lantaran kamu sendiri tak bisa jaga rahasia. Bukannya disimpan, topik tentangku malah dijadikan bahan candaan. Pantaskah? Mungkin sesekali aku perlu mengatakan padamu itu jika kepercayaan tak hanya dibutuhkan dalam hubungan, tapi juga persahabatan.

Keceplosan, Lagi-lagi Itu Alasanmu Jika Kepergok Menceritakan Rahasiaku Pada Teman-temanmu yang Lain

Aku tahu lingkup pertemananmu memang luas. Aku pun tak kenal banyak teman-temanmu yang lain. Hanya saja, aku pun tak habis pikir. Disaat aku kecewa lantaran ceritaku kini jadi konsumsi publik, kamu

hanya tinggal meminta maaf dan beralasan jika kesalahanmu kali ini karena keceplosan. Hampir saja aku terbawa emosi, karena menurutku kali ini kamu sudah keterlaluan. Baiklah, biarkan aku mencoba mengontrol emosi. Dilain sisi, setidaknya sekarang aku tahu, ternyata kamu bukan lagi teman sharing yang tepat untukku.

Seiring Hobimu yang Suka Menceritakan Rahasiaku, Apakah Kamu Memang Ingin Menyerangku dari Belakang?

Kini aku tahu, mentalmu tak terlalu tebal untuk mengatakan ketidaksukaanmu padaku. Kalau kamu tak nyaman berteman denganku, mengapa kamu menjelma kawan bak malaikat? Untuk apa jika akhirnya segenap rahasiaku justru kamu jadikan senjata untuk menyerangku? Mungkin sesekali kita perlu berdiskusi mengenai hobimu itu, Kawan. Aku tak tahu sudah sejauh mana kamu selalu membicarakan tentangku. Tapi aku hanya khawatir reputasimu akan semakin jelek di depan banyak orang. Kita tak tahu ke depannya bagaimana. Kalau ini sudah jadi hobimu, aku takut orang-orang akan menjauhimu, termasuk mereka yang tadinya suka bergosip denganmu.

Bukan, Bukannya Aku Mengekangmu dengan Segala Topik yang Pernah Kita Bicarakan. Hanya Saja Kamu Terlalu Kelewatan Mengumbar Hal-hal yang Menurutku Cukup Kita Saja yang Tahu

Aku ingat masa-masa kita tertawa pada candaan yang sama. Kemudian perlahan kita membangun cerita lewat percakapan-percakapan yang terus bergulir. Hingga akhirnya aku menaruh rasa percaya kepadamu. Entahlah itu sebuah kesalahan atau bukan, tapi waktu itu aku melihatmu sebagai seseorang yang baik dan setia kawan. Sekarang aku mengerti, setiap kali aku mengungkapkan kalimat “Jangan bilang-bilang ya!” berarti itu berlaku sebaliknya bukan? Disaat kamu bisa ceritakan hal lain tentang kita kepada dunia dan teman-temanmu yang lain, kamu memilih mengumbar cerita tentang keluargaku, pekerjaanku, atau bahkan gajiku. Semua yang semula kita sepakati “cukup kita saja yang tahu,”

Sebentar, Sebenarnya Apakah Tujuanmu Mengumbar Cerita Tentangku? Aku Hanya Ingin Tahu

Mungkin menurutmu seru saat membicarakan teman yang tak ada di sebelahmu kepada teman lain yang ada di hadapanmu. Mungkin menurutmu itu lumrah sampai akhirnya kamu bercerita hal-hal yang sebaiknya tak perlu kamu ceritakan. Aku hanya ingin tahu, apa sebenarnya yang menjadi tujuanmu melakukan ini? Kalau menurutmu hal itu lumrah sehingga aku tak perlu marah, maka aku tak akan marah. Hanya saja, aku butuh penjelasan yang masuk akal, Kawan. Bukan sebatas pernyataan “Ah kamu masak marah sama aku cuma karena masalah sepele,”. Dari lubuk hatiku, aku masih berharap kita masih bisa berteman dan bisa berbagi cerita seperti biasanya, Kawan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Lelaki Sejati adalah Dia yang Diam-diam Mendoakan, Bukan Diam-diam Menduakan

Menjadi satu-satunya orang yang bertahta di hati pacar, adalah keinginan semua orang. Meski se-santai apapun seseorang dalam menjalani hubungannya, diduakan tentu bukanlah keinginan. Ia akan selalu menjaga hatinya tetap untukmu, menjadikanmu sebagai pasangan yang bahagia, dan tak akan pernah berniat untuk menyakitimu meski dari perkara-perkara biasa.

Ya, dia yang tulus akan selalu membawamu dalam doanya, meski tak pernah diberitahu secara terang-terangan. Mendoakanmu agar selalu bahagia bersamanya, bukan dengan sengaja mendua jika sedan tak bersama. Bersamanya kamu akan bahagia, tertawa dalam setiap suka dan saling topang untuk segala duka.

Ia Sadar, Mendoakanmu Adalah Cara Mencintai Paling Sederhana yang Nilainya Mulia

Ada banyak cara untuk mencintai, anehnya lelaki ini justru memilih doa untuk menjadikanmu sebagai kekasihnya. Paham jika semua yang terjadi adalah kehendak Yang Maha Esa, ia memilih jalan berbeda dari laki-laki lainnya. Jauh dari janji manis yang biasanya hanyalah bualan, ia memintamu menjadi sebagian dari dirinya. Saling berbagi rasa atas restu semesta. Tak mewah, bahkan sangat sederhana. Tapi doanya justru jadi pemikat yang membuatmu kian percaya dan tak lagi ragu menerima cintanya.

Tak Hanya Hadir pada Pandangannya, Kamu Juga Menetap dalam Doanya

Selalu bahagia setiap kali bersamanya, kamu pun tahu jika ia juga selalu membawamu dalam doanya. Sebagaimana namamu yang sudah terpatri di hatinya, ia juga melakukan hal serupa dalam doanya. Menyelipkan namamu setiap kali beribadah, dan tak pernah lupa memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk senantiasa memberkahi hidupmu dengan segala bahagia.

Tak selalu disebutkannya, tak pula dipamerkan untuk  membuatmu percaya, diam-diam kamu tahu jika namamulah yang selalu jadi pokok doa dalam setiap sujudnya.

Karena Dirinya Tahu, Menduakanmu Diam-diam adalah Perbuatan yang Tak Benar

Dari sekian banyak lelaki yang pernah mendekat, sosok kali ini memang jauh dari kriteria. Namun anehnya, kesederhanaan dan segala perbuatan yang tak berlebihan, justru membuatnya jadi lelaki yang istimewa. Belaku baik bukan hanya untuk dianggap bertanggung jawab, hal yang ia lakukan memang sudah jadi kebiasaan.

Bahkan tak hanya padamu yang kini sudah jadi pacar, ia pun selalu dipandang baik oleh semua orang. Hampir mendekati kata sempurna, lelaki ini tahu bagaimana cara memperlakukan perempuannya dengan istimewa.

Walau Tak Suka Memberimu Kalimat Puitis, Perbuatannya Padamu Selalu Romantis

Jika lelaki lain akan selalu menghadiahimu kalimat-kalimat manis nan puitis, ia datang sebagai sosok yang lebih suka membawa seseuatu yang nyata. Membawamu ke tempat istimewa, membantumu untuk menyelesaikan pekerjaan yang tak kunjung reda, hingga hal nyata lain yang selalu dilakukannya tanpa diminta. Lihai dalam membaca gerak tubuhmu, ia selalu tahu apa yang sedang kamu butuh. Tanpa banyak bicara, ia sudah menjadi lelaki romantis sepanjang masa.

Jarang Memberi Janji, Tapi Bersamanya Hidupmu Selalu Terasa Terpenuhi

Segala janji yang biasanya diawali dengan “nanti” barangkali sudah jadi sesuatu yang basi. Tak lagi layak dijadikan acuan, dirinya bergerak untuk selalu jadi pahlawan yang tak pernah kesiangan. Menolongmu setiap kali butuh bantuan, mendengar setiap kali butuh didengarkan, dan siap sedia jadi apa saja setiap kali dirimu membutuhkan kehadirannya. Tanpa banyak bicara, ia berhasil menyisihirmu dengan segala perbuatan nyata yang selalu membuatmu merasa jadi perempuan paling istimewa.

Tak Banyak Bicara, Tapi Setiap Kali Berdoa ‘Namamu’ Jadi Kata yang Paling Banyak Keluar dari Mulutnya

Ribuan doa yang sudah ia panjatkan, tentu tak pernah dijadikan tameng untuk terlihat lebih sayang. Segala harap untuk kebahagianmu, segala permohonan untuk tawamu, dan hal-hal baik yang senantiasa menghampiri hidupmu dibalut dalam satu doa yang selalu ia panjatkan dengan diam. Ia tahu, ini adalah proses negosiasi dengan sang Pencipta. Maka sebaik-baiknya sikap yang memang harus ia lakukan, adalah mendoakanmu diam-diam.

Bersamanya kamu selalu merasa ditemukan, dituntun ke hidup yang lebih menyenangkan, dan dibahagiakan dengan cinta yang tak hanya sekedar kata. Ia tahu jika perempuan yang dibawanya dalam doa itu adalah seseorang yang ia butuh, begitu pula denganmu, yang juga percaya jika lelaki yang pelit bersuara itu adalah lelaki yang kamu cinta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sering Mengigau Saat Tidur, Bahaya Nggak Sih?

Disadari atau tidak, ada beberapa orang yang memang kerap mengingau setiap tidur. Fenomena ini memang adalah sesuatu yang lumrah terjadi saat kita sedang tidur. Hasil sebuah riset di Norwegia, pada 2010, hampir 66% dari populasi manusia berbicara dalam tidur mereka dalam berbagai bentuk, yang lain menyampaikan monolog yang menawan atau bahkan melakukan percakapan yang kompleks.

Meski begitu, dari beberapa penjelasan para ahli, kebiasaan ini bukanlah termaksud masalah kesehatan yang berarti. Akan tetapi, jika hal tersebut terjadi secara terus menerus sudah tentu kamu perlu ke dokter. Selain itu, inilah yang perlu kita ketahui dari kebiasaan mengingau yang sering terjadi. 

Sebenarnya Belum Banyak Penelitian tentang Bicara Saat Sedang Tidur

 

Sebelumnya fenomena ini dikenal sebagai parasomnia (sejenis gangguan tidur) dalam Klasifikasi Internasional tentang gangguan tidur. Akan tetapi, dari temuan terbaru gejala ini direklasifikasi dari gangguan menjadi hanya kejadian normal yang dapat terjadi selama tidur. 

Nah, menurut Rafael Pelayo, spesialis tidur dengan Sleep Medicine Center di Stanford Health. karena hal tersebut bukan gangguan yang dianggap serius, jadi tak ada permintaan untuk penelitian tentang tidur. Dengan kata lain berbicara saat sedang tidur merupakan perilaku yang sebagian besar tidak dipelajari dan tidak dipahami dengan baik. 

Lagipula, Apa yang Kita Ucapkan Saat Ngigau Sebagian Besar Adalah omong Kosong

Dari hasil klasifikasi temuan yang sama, kalimat atau kata-kata yang kita ucapkan selama mengigau bukan termaksud cerminan perilaku atau kenangan pada situasi sebelumnya. Jadi semua pertengkaran dengan pasangan atau drama pekerjaan yang baru saja kamu alami, kemungkinan besar tak akan kamu bicarakan selama tidur. 

Ini penting dipahami, karena mereka yang sering ngigau memang kadang mengatakan hal-hal yang sulit dipahami sepanjang liar. Bahkan beberapa katanya tergolong liar. Selain membuat orang yang mendengar menjadi kelabakan menebak maksud, kadang kala kita juga bertanya-tanya. 

Intinya, tidak ada arti nyata dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang yang sedang ngigau saat tidur. 

Dan Tak Ada Rentang Usia Tertentu, Semua Orang Bisa Mengalami Gejala Ini 

Beberapa orang berpikir, berbicara saat sedang tertidur hanya akan dialami oleh mereka yang sudah dewasa dan lansia. Padahal hal tersebut tak selalu benar. Masih dari kata Pelayo, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika kamu sudah berbicara saat tidur sejak kecil. Karena faktanya, berbicara saat tidur cenderung sangat umum terjadi pada anak-anak dan remaja – sekitar 50%, bahkan anak-anak antara usia 3 dan 10 mengoceh dalam tidur mereka.

“Jika Anda tidur sambil berbicara saat masih muda, jangan anggap penting,” kata Pelayo. Tidak perlu takut atau bergegas ke dokter.

Untuk orang dewasa, biasanya akan mulai menyadari jika ia sering mengingau saat tidur ketika memasuki usia 20 hingga 30-an. Dimana mereka sudah mulai berbagi kamar atau tempat tidur dengan orang lain. Sehingga orang lain atau pasangan yang tidur bersama merekalah yang kemudian tahu, jika mereka adalah seorang talk sleep.

Namun jika banyak bicara saat tidur terjadi pada mereka yang berusia sekitar 50 tahun atau lebih, hal tersebut bisa dikatakan sebagai penanda penyakit, seperti seperti penyakit Parkinson atau demensia.

Sialnya, Fenomena Ini Biasanya Sering Bercampur dengan Masalah Tidur Lainnya 

Bicara saat sedang tidur memang jelas berbeda dengan beberapa gangguan tidur yang lain. Mengigau hanyalah menceracau dengan kalimat-kalimat yang biasanya tak bermakna. Tak ada artinya dan tak jelas ke mana arahnya. Namun, jika bicaramu sudah lebih dari sekedar obrolan biasa, bisa jadi kamu sedang mengalami kondisi lain yang terkait dengan sleep apnea

Selain itu, James Rowley, kepala divisi pengobatan paru-paru, perawatan kritis dan tidur dengan Detroit Medical Center, berbicara melalui tidur juga dapat disebabkan oleh stres, kecemasan, dan depresi. Jika hal tersebut sudah terjadi berulang kali, cobalah bicarakan pada dokter ahli spesial tidur, karena sepertinya anda butuh perawatan. 

Demi Mengatasinya, Cobalah Lakukan Kebiasaan Baik dengan Tidur Terjadwal dan Dalam Waktu yang Cukup 

Kalau harus dilihat dari keseluruhan kebiasaan ini, momen mengigau kerap terjadi akibat kita terlalu lelah. Atau masih memikirkan sesuatu sesaat sebelum tidur. Untuk menguranginya, cobalah untuk tidur dengan terjadwal. Selain itu penuhilah kebutuhan tidurmu, jangan terlalu singkat atau terlalu lama. Hindari juga makan makanan yang mengganggu kualitas tidurmu, seperti makan makanan berat atau minuman beralkohol.

Walau tak disebut sebagai gejala yang berarti, kita perlu untuk tetap menjaga diri. Jangan terlalu dianggap sepele, apalagi jika  itu sudah menganggu tidurmu dan pasanganmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Garuda Melarang Penumpang Mengambil Foto dan Video Kegiatan di Dalam Pesawat

“Menindaklanjuti arahan dari manajemen, kepada seluruh awak kabin diinformasikan sebagai berikut: Tidak diperbolehkan mendokumentasikan segala kegiatan di pesawat, baik berupa foto ataupun video oleh awak kabin ataupun penumpang,” tulis dalam pengumuman tersebut.

Lebih lanjut, “Awak kabin harus menggunakan bahasa yang “assertive” (tegas) dalam menyampaikan larangan kepada penumpang untuk point 1 di atas, kecuali sudah mendapatkan surat izin dari perusahaan”.

Dan Ketiga, “Perusahaan akan memberi sanksi jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan di atas”. 

Dilansir dari kompas.com, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra atau biasa disapa Ari Askhara membenarkan larangan itu dengan mengirimkan file imbauan kepada penumpang.

“Dalam rangka untuk menjaga ketertiban kabin pesawat, menunjang keselamatan operasi penerbangan, kelancaran pelayanan selama penerbangan, dan menghormati hak-hak penumpang, bersama ini kami mengimbau hal-hal sebagai berikut,” demikian bunyi pengumuman yang dibagikan Ari.

Menurutmu gimana nih?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top