Trending

Akhirnya Papa Di Sidang (Lagi), Tapi Lagi-Lagi Bukan Sidang Yang Itu

Bagi mereka yang memang sedang punya waktu luang, atau yang ingin melatih diri untuk nobar liga champions yang sudah mulai tayang. Agaknya sidang praperadilan Setya Novanto tak kalah menegangkan. Karena kita sering dibuat harap-harap cemas menanti episode berikutnya dari bagian hidup sang papa.

Eh tapi meski menarik, soal-soal Papa jangan dijadikan meme loh, sebab pak Fredrich Yunadi pengacara pak Setya Novanto selalu memantaumu. Nanti kamu terciduk! Cukup duduk santai ambil kopimu, kita nikmati perjalanan kasusnya Papa.

Sudah Pernah Di Sidang, Tapi Justru Sidang Praperadilan

Sumber : nasional.kompas.com

Selain sepak bola dan Raisa, nampaknya papa Setnov jadi salah satu figur yang bisa mempersatukan masyarakat Indonesia. Masih lekat diingatan, riuhnya situasi masyarakat kita sehabis ajang Pilkada DKI.

Namun berita diembankannya status tersangka pada sang Ketua Umum Partai berciri khas kuning itu, jadi pengikat yang kembali mengeratkan hubungan di beberapa media sosial. Kita semua jadi satu memperhatikan gerak-gerik kasusnya Papa.

Setya Novanto tak lantas pasrah dilabeli sebagai tersangka. Perlawanan keras langsung dilancarkan. Jalan yang ditempuh melalui praperadilan. Digelar pada tanggal 12 September 2017 lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, bak magnet yang membuat kita memusatkan perhatian padanya.

Sekedar informasi, sidang praperadilan adalah sebuah sidang yang biasanya digelar ketika tersangka menyatakan keberatan dan mempermasalahkan penetapan dirinya sebagai tersangka.. Dengan kata lain, sidang ini biasanya jadi penentu sah atau tidaknya sebuah penangkapan pada seseorang. Kalau menang berarti pula pemberhentian tuntutan pada sebuas kasus.

Papa Ketika Itu Mendadak Jatuh Sakit, Tapi Syukurlah Segera Sembuh Ketika Menang Sidang

Sumber : Tribun News

Pada sebuah wawancaranya di kanal Youtube milik Najwa Shihab Fredrich Yunadi selaku kuasa hukum dari sang ketua DPR tersebut, mengatakan bahwa pada sidang praperadialnnya september lalu, Setya Novanto jatuh sakit dan memang harus dirawat.

Seolah tak percaya jika laki-laki 62 tahun tersebut memang sedan jatuh sakit, potretnya yang sedang terbaring di tempat tidur RS Premier Jatinegara malah dijadikan guyonan dengan berbagai macam bentuk meme. Apa kalian termasuk yang melakukan ini?

Namun sakitnya papa tak berlangsung lama. Secara kebetulan ketika hakim tunggal Cepi Iskandar menyatakan status tersangka Novanto tidak sah, sebagai hasil dari putusan pada sidang parperadilan pertamanya, papa bisa pulang dari rumah sakit dan dinyatakaan sehat.

Setidaknya dari sini kita belajar, bahwa hati yang gembira adalah obat paling mujarab yang pernah ada. Sebab beberapa hari setelahnya, Papa sudah kembali bepergian ke daerah untuk menjalani serangkaian program kerja yang memang mesti dijalaninya.

 

Nah, Kali Ini Sidang Praperadilan Jilid II, Serupa Sidang Yang Pertama

Sumber : Tribun News

Setali tiga uang dengan yang pertama, persidangan kali ini bukanlah persidangan kasus e-KTP. Tapi ini adalah sidang praperadilan untuk melawan penetapan KPK atas kasus Setya Novanto. 

Iya, setelah kalah di sidang pertama, KPK memang belum bisa move on. Papa pun kembali ditetapkan tersangka. Wajar sih, KPK masih memburu Ketua DPR-RI ini. Pasalnya kasus yang menjeratnya bukanlah hal sepele. Korupsi Proyek e-KTP  ini telah merugikan negara sebanyak 2,3 Triliun rupiah. 

Tak berapa lama setelah penetapan tersangka lagi, Papa kembali sakit. Tapi kali ini masuk rumah sakit gara-gara ketiban sial. Penyebabnya mobil fortuner yang ditumpanngi Papa menabrak tiang listrik (lampu), hingga hancur…cur…cur…cur. Setya novanto pun harus dibawa ke rumah sakit.

Tapi bukan papa namanya kalau hanya pasrah di rumah sakit. Setya Novanto kembali melakukan perlawan, dengan mengajukan sidang praperadilan laagi. Jadilah sidang praperadilan jilid II ini digelar di Pengadilan Jakarta Selatan dengan agenda sidang mulai pukul 09.00 Wib yang akan dipimpin hakim tunggal Kusno.

 

KPK Juga Akan Hadir Sidang Kali Ini

Sumber : Nasional | Kini.co.id

Dan setiap kali kita akan membahas papa setnov agaknya kurang sedikit greget jika tak turut serta membahasa KPK juga. Tak perlu ditanya lagi, sidang jilid II ini tentu akan menjadi perdebatan yang cukup menegangkan.

Sebelumnya penyidik KPK telah merampungkan berkas penyidikan, atas tersangkanya Novanto pada kasus dugaan korupsi proyek e-KTP ke tahap penuntutan. KPK bekerja ngebut berlomba dengan sidang praperadilan yang saat ini di gelar.

Meski begitu sesuai jadwal sidang yang memang akan berlangsung hari ini, kabarnya, pihak KPK juga akan turut serta menghadiri sidang Praperadilan kali kedua dari papa.

Tim KPK akan hadir dalam sidang praperadilan tersebut” ujar Febri Diansyah Juru Bicara KPK kemarin

 

Akankah Papa Menang Lagi?

Hal lain yang masih menjadi teka-teki semesta adalah, apakah papa akan menang atau kalah? Bak menonton laga sepak bola home and away, sidang berjilid-jilid ini memunculkan tanda tanya siapa yang jadi pemenang sidang kedua ini.

Kalau Kalah Artinya Papa Akan Lanjut Sidang Korupsi e-KTP, Lalu Papa Sakit Lagi?

Sumber: Tribun News

Kalau kita berandai-andai Papa kalah pada siang jilid II ini, berarti kasus e-KTP bisa melenggang laju hingga ke pengadilan. Tapi tunggu dulu, berkaca dari sidang sebelumnya. Tentunya kita khawatir jika papa akan mendadak sakit dan tebaring lemah lagi. Mengingat serunya kasus ini, baiknya kita mendoakan kesehatan bagi sang Papa. Gak seru khan nonton pertandingan bola kalau pemainnya ada yang cedera.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dia yang Membicarakan Orang Lain di Depanmu Adalah Orang yang Akan Membicarakanmu di Belakangmu

Pernah dengar saran, yang kira-kira intinya begini, “Jangan mau main sama orang yang suka ngomongin orang, karena kalau kamu nggak ikutan, kamulah yang akan jadi bahan omongan”.

Beruntung memang jika kita bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran. Tapi, kita juga tak bisa menghindari orang-orang yang suka merusak suasana. Berbicara tentang orang lain di hadapan kita, untuk kemudian menjadikan kita bahan cibiran ketika tak bersamanya.

Sekilas, urusan membicarakan orang memang terlihat menyenangkan. Dia mungkin merasa bahwa dirinya jauh lebih dari segalanya dibanding orang yang sedang ia bicarakan. Sehingga merasa berhak untuk bersikap sok benar. Sulit untuk dibuat sadar, mencoba memberinya pengertian sering tak berarti baginya. Lalu kita harus apa?

Bahagia Kita Akan Selalu Jadi Cibirannya

Begini, orang-orang yang suka bergosip ria, adalah tanda hidup yang tak bahagia. Sehingga orang yang dilihatnya tampak hidup tenang dan aman-aman saja. Seringkali dijadikan bahan obrolan murahan yang tak berdasar. Entah itu mengkritik kehidupan kita, pekerjaan, sampai ke hal pribadi yang lainnya.

Seolah-olah kita selalu ada di pihak yang salah, sedangkan ia adalah seseorang yang benar tanpa cela. Ini sudah jadi pola pikir yang ia pakai, jadi tak perlu kita jadikan beban. Semua hal tentang orang lain, akan selalu ia jadikan bahan kritikan.

Lagipula Waktu Kita Terlalu Berharga untuk Memikirkan Dia

Daripada memikirkan dia yang sibuk bikin cerita halu tak benar. Lebih baik kita berbahagia, dan menikmati hidup dengan cara yang kita bisa. Jalani hari dengan sesuatu yang bermakna, dan optimalkan waktu dengan mereka yang membuat kita bahagia juga. Kunci rapat semua sela untuk orang-orang beracun yang tahunya hanya ingin mencela.

Karena biar bagaimanapun kita tak bisa merubahnya. Tapi bagaimana cara kita menanggapinya adalah pilihan dan tanggung jawab kita. Waktu dan pikiranmu terlalu berharga hanya untuk memikirkan dirinya.

Bahkan Meski Tak Menyinggung Perasaannya, Ia Akan Tetap Berbicara Semaunya

Berhadapan dengan si mulut besar yang suka ngomongin orang, memang tak akan ada habisnya. Sekalipun yang kita perbuat tak bersinggungan dengan dirinya. Ada saja hal yang salah untuk dikritik dan dijadikan pembahasan.

Tak perlu susah payah membuatnya percaya pada kita, jangan pula merasa butuh membantunya untuk berubah. Karena manusia seperti itu, sudah kebal oleh berbagai macam petuah. Yang ia tahu, dirinya adalah satu-satunya orang yang paling benar.

Daripada Menjadi Beban untuk Diri Sendiri, Lebih Baik Kita Pergi

Yap, berhubungan atau berteman dengannya hanya akan jadi sesuatu yang sulit. Diam dipikir tak bisa melawan, tapi ketika dilawan ia pasti akan bersikap lebih garang. Maka, balasan terbaik adalah menjaga jarak dari dirinya.

Tak perlu merasa tak enak hati, sekalipun ia adalah teman yang konon sudah dekat. Kita berhak untuk memilah-milah, kepada siapa saja kita akan berteman. Kalau dirinya memang terlihat menyusahkan, sebaiknya tinggalkan.

Dan Kalau Masih Tetap Menjadikan Kita Bahan Gosip, Sebaiknya…

Untuk kemungkinan lain, jika memang kamu sudah kehabisan kesabaran atas semua tingkah dan cerita-cerita tak sedap yang ia ciptakan. Silahkan buat keputusan besar yang sekiranya wajar untuk dilakukan. Menegurnya ketika bersikap tak baik secara langsung, hingga memintanya berhenti menjadikan kita bahan obrolan murahan yang tak benar.

Namun, jika ternyata apa yang kita sampaikan masih tak berarti apa-apa untuknya. Itu artinya dirinya memang adalah seorang pengarang cerita bohong yang handal. Sudah, tak perlu dekat-dekat dengan dia!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top