Feature

Agar Tak Kaget Menghadapi Peliknya Pertentangan dengan Mertua Kelak, Kamu Perlu Menyiapkan Diri dari Sekarang

Cinta dan pernikahan jelas tak melulu soal bahagia. Seusai pesta, kehidupan justru baru saja dimulai. Berbagai macam keruwetan biduk rumah tangga, akan jadi sesuatu yang menantang kita. Dan salah satunya adalah pertentangan dengan mertua. Terjadi pada setiap orang yang menjadi menantu, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat wajar terjadi. Maklum saja, beliau bukan ibu kandung kita yang selalu akan mengerti dan memahami. 

Bahkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan psikolog dari Cambridge University, Terri Apter pada 2008, mengatakan bahwa ada sekitar 60 persen wanita yang merasakan ada ketegangan dengan ibu dari suami mereka. Rata-rata takut pada sang mertua, karena berpikir bahwa sang mertua akan berbicara hal-hal buruk tentangnya kepada suami, atau ikut campur terlalu jauh dalam rumah tangga mereka.

Hubungan dengan mertua memang kerap jadi sesuatu yang pelik, tak saling memahami hingga berpikir bahwa apa yang kita kerjakan tak pernah benar. Maka tanpa terkecuali, sebelum nanti akan melangkah ke sana, setiap perempuan perlu memahami apa saja yang bisa jadi perdebatan dengan mertua.  

Masalah Biasa Sebelum Menikah, Mertua Kerap Ambil Alih Persiapan Pernikahan Tanpa Bertanya Pada Kita

Banyak persoalan yang akan bermunculan, mulai dari konsep pernikahan, bagaimana desain undangan. hingga apa saja menu makanan yang akan dihidangkan. Bertindak sebagai tuan rumah yang akan menjamu para undangan, mertua acap kali mengambil keputusan tanpa memberitahu kita terlebih dahulu. Padahal sebagai pihak utama yang berbahagia, kita tentu punya cara tersendiri.

Apesnya lagi ini tak hanya datang dari mertua saja, sebab hal serupa juga sering dilakukan oleh orangtua kita. Dengan berbagai pertimbangan untuk menghindari pertentangan, walau mungkin berat hati, kadang, kita terpaksa harus menurunkan ego dan menerima masukan dari mereka.

Setelah Sah Menjadi Istri dari Anaknya, Selanjutnya Rasa dari Masakan Kita Pasti Ikut Dikomentarinya

Rasanya terlalu asin!

Entah ingin memberi masukan atau memang sengaja mempermalukan kita, apa yang biasanya disampaikan oleh ibu mertua selalu jauh dari apa yang sudah kita masak dan sajikan. Padahal untuk urusan mengecap rasa, setiap lidah jelas berbeda. Dan dari sini kita bisa belajar, bahwa tidak enak di lidah mertua tak selalu sesuai dengan kenyataannya.

Bahkan tak berhenti sampai pada rasa saja, cara penyajian dan menu masakan saja masih dimasukan dalam komentarnya. Tak selalu harus dimasukan ke dalam hati, biarlah itu jadi masukan untuk kemampuan yang lebih.

Pelan-pelan Mulai Merambat pada Kebiasaan Lain yang Mungkin Tidak Disukainya

Situasi ini akan semakin bertambah buruk, jika ternyata kita dan mertua tinggal serumah. Tak lagi dapat ditutup tutupi, semua hal yang selama ini mungkin sering kita lakukan bisa saja dicap buruk oleh mertua.

Padahal bukannya ingin bermalas-malasan, mungin kita memang memiliki cara lain untuk melakukan pekerjaan rumah, misalnya mengepel di kala sore dengan terlebih dahulu tidur di siang hari. Namun dengan alasan yang mungkin dipahaminya, lantas kita dianggap sebagai menantu yang malas untuk membersihkan rumah.

Sebisa mungkin tunjukkan bahwa kita tak bermaksud untuk lalai mengurus rumah tangga, hanya saja caranya mungkin berbeda. Dan semoga mertua bisa memahaminya.

Sudah Bersikap Adil, Namun Baik Orangtua atau Mertua Sering Menyampaikan Protes Atas Sikap Kita 

Sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bersikap seimbang untuk dua orangtua kita. Namun ada hal-hal yang nanti akan dijadikan celah untuk membuat kita jatuh dan merasa bersalah. Hingga perlahan, memberi mereka perhatian pun jadi salah satu yang berat untuk dilakukan.

Sebab bukan apa-apa, walau tak ada niat khusus kita sering dianggap berat sebelah. Baik oleh mertua atau juga orangtua kita. Seolah sudah jadi tabiatnya, mereka juga ingin mendapat perhatian serupa dengan apa yang kita berikan pada salah satu dari mereka.

Terlalu Banyak Mengambil Bagian dalam Menentukan Keputusan Rumah Tangga, Wajar Jika Akhirnya Kita Merasa Kesal

Jika hanya untuk sesekali saja, mungkin masih bisa kita terima. Tapi jika ternyata sang mertua justru berperan lebih banyak dari kita untuk menentukan urusan rumah tangga jelas ini jadi sesuatu yang perlu ditanya.

Bukan tak ingin menghargai dirinya sebagai ibu dari suami kita, namun ada batas yang harus dijaga sejauh mana mertua bisa memutuskan yang kita butuhkan. Tak serta merta ingin menolak perannya, tapi sebagai suami dan istri kita juga butuh privasi. Terlebih dalam hal mengurus rumah tangga sendiri.

Kompromikan terlebih dahulu dengan pasangan, jika memang masih saja sama. Tak ada salahnya untuk menyampaikan langsung kepada mertua. Bahwa kita merasa terganggu atas sikapnya.

Datang dari Generasi yang Berbeda, Pemahaman Kita Jelas Tak Sama Tapi Mertua Sering Kali Bersikap Memaksa

“Zaman mama dulu….”

Kalimat seperti ini jadi jurus pamungkas, setiap kali ia ingin memberi masukan yang sebenarnya lebih terdengar sebagai paksaan. Bagaimana tidak, ia sering mengutarakan hal-hal yang sudah tidak relevan dengan situasi sekarang.

Tak ada yang salah dengan pilihannya di masa lampau untuk mengikuti ajaran mertuanya dulu. Namun apa yang ia dapat pada kehidupannya saat menjadi menantu tak selalu akan berjalan selaras jika kini akan ia sampaikan lagi kepada kita.

Jelaskan padanya bahwa apa yang disampaikannya kepada kita selalu bisa diterima, tapi tak serta merta bisa kita lakukan semuanya. Sebab banyak hal dari waktu terdahulu, yang sudah tak lagi sesuai di zaman kini sekarang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Siap Hidup Susah, Tapi Harusnya Lelakiku Tak Akan Membiarkannya

Fakta tentang menjalani hidup berdua dari titik terendah sampai mas-masa bahagia. Tentu terdengar begitu manis di telinga. Dipercaya jadi bukti nyata dari cinta, beberapa lelaki akhirnya berpikir bahwa perempuannya haruslah mau diajak susah. Kalau tidak, itu artinya dia tak benar-benar cinta.

Eits, tunggu dulu sayang. Aku rasa kamu perlu berpikir sebentar. Tentang bagaimana ayah dan ibuku susah payah membuatku bahagia. Lalu sekarang, tiba-tiba kamu datang untuk mengajak hidup susah. Ini bukan perkara cinta atau tak cinta. Tapi lebih ke bagaimana kesiapanmmu untuk hidup berdua. Karena jika memang benar-benar sayang, kamu tentu akan selalu membuatku bahagia, bukan malah mengajak hidup susah.

“Kita ngontrak dulu ya, sembari nyicil rumah” jauh lebih terdengar bertanggung jawab daripada “Mau beli rumah gimana, hidup juga masih gini-gini aja”. Kalau sama kemampuan diri sendiri saja kamu sudah tak percaya, bagaimana bisa bertanggung jawab atas hidup kita nanti? 

Disamping itu, aku pun tahu jika segala sesuatu butuh proses. Sebelum bisa duduk bersantai di akhir pekan, kita berdua mungkin akan kerja keras, walau di hari libur, demi kebutuhan lain yang sudah menunggu. Tak apa, kupikir ini memang akan jadi bagian dari proses yang harus kita jalani bersama. Tapi, berbeda cerita, jika ajakan hidup susah bersama kamu sampaikan karena kesalahan dalam membuat keputusan. Bukan tak cinta atau tak siap menderita, tapi diriku berhak untuk menolaknya.

Tak perlu terburu-buru, kita masih punya waktu untuk mengatur dan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Lagipula, hidup berdua bukan perkara mudah. Sebab cerita kita bukan hanya tentang bahagia saja, ada sekelumit cerita sedih yang juga bisa menghampiri diri kapan saja. Untuk bisa siap menghadapinya, kita butuh kuda-kuda yang tak sekedar kata ‘pasrah’ dan ‘jalani saja’.

Tak ada yang mengejar kita. tak juga diminta oleh keluarga agar segera menikah. Lantas apa yang kau jadikan alasan untuk menikah dalam waktu dekat? Lupakan puluhan undangan yang sudah datang tiap akhir pekan. Tak semua pencapaian orang harus kita jadikan patokan. Membangun bahtera hidup berdua adalah perkara besar. Ada ribuan kesiapan yang harus direncanakan dengan cepat dan perlahan.

Serupa denganmu, aku pun percaya jika rejeki bisa datang kapan saja. Tapi disamping itu semua, kita juga perlu menjalankan logika. Berpikir rasional untuk segala kemungkinan. Sebab, sebuah persiapan matang saja masih bisa berjalan melenceng dari rencana, apalagi yang tak ada persiapan apa-apa?

Rasa sayang dan cintaku tak perlu kamu pertanyakan, tapi jika kamu datang untuk memintaku mengiyakan ajakan hidup susah. Kupikir aku punya hak untuk menolaknya!

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Di Film Chapter 3-nya, John Wick Makin Gila

Kalian yang sudah menonton 2 seri film sebelumnya, pastilah setuju jika sekuel ‘John Wick’ jadi salah satu film laga terbaik yang pernah ada. Tak banyak basa-basi, keseruan yang ditampilkan berjalan dengan euforia ketengangan yang cukup mengesankan. Baku hantam tanda ampunan, barangkali itu jadi sesuatu yang akan melekat di ingatan.

Keanu Reeves, seorang pembunuh bayaran kelas kakap yang sedang berusaha untuk pensiun. Jadi pesona yang akan membuat semua orang jatuh cinta pada John Wick. Setelah proses syuting yang sudah dirampungkan tahun lalu. Trailer film ketiganya, baru saja dirilis pada Kamis (17/1) lalu. Selain membuat diri makin tak sabar, cuplikan dari trailer ini memperlihatkan satu adegan yang cukup membuat orang penasaran. Yap, John Wick bakalan naik kuda untuk menghajar para pembunuh yang ingin mematikannya.

Mengusung judul John Wick: Chapter 3 – Parabellum, seri ini akan dimulai dari lanjutan film sebelumnya. Ketika John dikeluarkan dari organisasi pembunuh bayaran yang selama ini jadi tempat ia bekerja. Resikonya? Siapapun diperbolehkan untuk merenggut nyawanya. Bahkan ada imbalan 14 Juta Dollar, untuk yang berhasil membunuhnya.

Tapi bukan John Wick namanya, kalau tak bisa melawan semua pasukan yang menghadangnya, termaksud aktor laga tanah air yakni Cecep dan Yayan Ruhiyan. Ya, walaupun pasti ada beberapa adegan yang akan membuatnya berdarah-darah juga.

Masih disutradarai oleh Stahelski, bisa dipastikan John bakalan tetap hidup dan melawan semua orang. Lagipula, kali ini, John Wick akan dibantu oleh Sofia (Halle Berry), pembunuh bayaran yang ingin John tetap hidup. Nah, akan bagaimana aksi mereka. Silahkan saksikan sendiri tanggal 17 Mei 2019 nanti. Sekarang tonton trailernya aja dulu. 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

7 Alasan yang Membuat Anak Sulung Laki-laki Pantas Disebut Mantu Idaman

Anak sulung memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam keluarga. Tak jarang anak sulung juga harus rela berkorban demi adik-adiknya. Hal inilah yang membentuk karakter anak sulung laki-laki pantas disebut sebagai menantu idaman. Masih belum percaya? Berikut ini alasannya.

1. Pekerja Keras

Anak sulung merupakan penjaga utama saat orangtua sudah tidak ada. Mereka harus berjuang lebih untuk bisa melindungi dan bertanggung jawab atas adik-adiknya. Akhirnya mereka pun akan tumbuh menjadi sosok pekerja keras yang dapat diandalkan keluarga.

2. Memiliki Kedekatan Lebih dengan Orangtua

Biasanya anak sulung cenderung lebih dekat dengan orangtuanya. Jika seseorang sudah dekat dengan orangtuanya, bukan hal yang mustahil untuknya bisa dengan mudah dekat dengan mertuanya juga.

3. Dapat Diandalkan dalam Berbagai Bidang

Anak sulung harus menjadi sosok yang senantiasa siaga saat orangtua membutuhkan bantuan. Mereka harus siap membantu ayah membersihkan kebun atau membantu ibu memasak. Inilah yang membuat mereka tumbuh menjadi sosok yang bisa diandalkan saat berumah tangga kelak.

4. Memiliki Pola Pikir yang Dewasa

Menjadi anak sulung memaksa mereka untuk menjadi lebih dewasa. Mereka harus mampu menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Sikap dewasanya ini juga yang akan membuat mereka tak akan mudah emosi atau naik pitam saat ada masalah yang datang.

5. Memiliki Jiwa untuk Mengayomi

Anak sulung terbiasa mengalah dengan adik-adiknya baik dalam hal apapun. Hal ini membentuk mereka tumbuh menjadi sosok pengayom bagi saudara-saudaranya. Jika nanti mereka sudah berkeluarga, tentu saja mereka bakal mengayomi anak dan istrinya dengan baik.

6. Terbiasa untuk Bertanggung Jawab

Anak sulung laki-laki terbiasa menjadi sosok yang bertanggung jawab bagi adik-adiknya. Mereka sudah biasa membantu adik-adiknya dalam menyelesaikan berbagai masalah. Tak heran jika nantinya saat sudah berkeluarga mereka pun pasti mampu menjadi sosok pemimpin yang bertanggung jawab.

7. Pemimpin yang Baik

Anak sulung laki-laki sudah terbiasa menjadi pemimpin bagi adik-adiknya, Itulah yang membuat mereka mampu menjadi kepala keluarga yang baik. Tentu saja mereka adalah sosok mantu idaman juga dalam keluarga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top