Tips

Ketahuilah Waktumu Hanya Kurang Dari 30 Detik Untuk Membuat Seseorang Tertarik

waktu

Yup betul, bagaimana orang menilai dan memperlakukan kita itu ditentukan hanya di detik-detik awal pertemuan. Gawatnya, penilaian ini kemungkinan besar akan terus tertanam dan bertahan dalam pikiran orang tersebut.

Jadi sehebat, sepintar, sekeren, seganteng apa pun kamu, keberhasilan menarik perhatian seseorang ditentukan hanya dari 30 detik pertama pertemuan. Kalau kita gagal menaklukannya, maka hampir pasti selamanya kita tidak akan bisa mengubah persepsi orang itu terhadap kita.

Coba bayangkan betapa gilanya efek ini. Anggaplah kita ingin menarik perhatian pujaan hati. Segala persiapan sudah dilakukan dengan modal pengetahuan untuk menjalin komunikasi. Namun sayang, karena alasan tertentu kesan pertama yang ditangkapnya negatif. Walhasil jodoh pun lari.

Contoh lain misalnya, ketika kita sedang interview untuk sebuah pekerjaan atau sedang presentasi dengan calon klien. Bermacam persiapan, portofolio kerja, pengalaman dan kemampuan yang ingin kita kerahkan bisa jadi sia-sia cuma karena kita gagal memberikan kesan bagus di awal pertemuan.

Malcolm Gladwell penulis buku super best seller The Tipping Point menyitir sebuah penelitian yang mengatakan bahwa kesan pertama kita terhadap orang lain umumnya sangat akurat dan lolos uji terhadap waktu. Dia menyebut bahwa manusia memberi penilaian terhadap orang lain dalam 30 detik pertama pertemuannya.

Psikolog Sosiologi dari Harvard Business School, Amy Cudd juga meneliti tentang kesan pertama dan menemukan fakta bahwa ada dua hal yang kita tentukan ketika di detik-detik awal pertemuan kita dengan orang lain. Pertama, kita akan mencoba menjawab pertanyaan, “seberapa baik dan dapat dipercayakah orang yang didepanku ini”dan yang kedua, kita akan mencari jawaban dari “orang ini niatnya apa terhadap saya?”

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk bisa memberikan kesan pertama yang baik?

Suka Tidak Suka, Penampilanmu Memang Menentukan

cowok

Memang ada istilah “jangan menilai buku dari sampulnya”, namun bagaimana pun, kesan pertama dalam 30 detik sangat dipengaruhi oleh penampilan. Karena itu penting untuk memperhatikan penampilan seperti tatanan rambut, baju, sepatu, make-up, dan aksesoris lainnya.

Ketika kita ingin menemui orang untuk pertama kalinya, cobalah menyiapkan segala sesuatu terlebih dulu. Tanyakan kepada kawan-kawan terdekat apakah baju yang kita pakai sudah cocok. Bagaimana dengan ukurannya, warnanya dan apa yang mereka terkesan dari penampilan kita itu. Untuk laki-laki yang sering terlewat untuk diperhatikan adalah jam sementara untuk wanita adalah anting dan jam.

Jangan Lesu Begitu, Berdiri Tegap Tapi Jangan Terlalu Kaku

takut

Bahasa tubuh jadi salah satu penentu utama dalam kesan pertama. Untuk mendapatkan kesan yang baik cobalah berdiri dengan kaki terbuka selebar bahu. Jangan bungkuk, bayangkan ada orang yang menarik kepala kita ke atas. Namun usahakan leher dan pundak dalam keadaan relaks jangan terlalu ke atas maupun ke bawah. Patokannya mudah, jika kita bicara dengan orang yang tingginya sama, kita tidak perlu mendongak atau menunduk itu berarti posisinya sudah benar.

Ini juga berlaku ketika duduk. Jangan terlalu menyender atau menjauh dari kursi. Selalu rasakan ada tarikan ke perut setiap kita mengatur posisi. Jika ini terjadi maka posisi kita sudah betul.

Jangan Cemberut Ketika Masuk Ke Ruangan Baru Ya, Tersenyumlah!

perempuan bertato

Ketika kita masuk ke ruangan, saat itulah dimana orang lain akan langsung menilai kita. Karena itu tersenyumlah setulus mungkin jangan berlebihan. Tanamkan di kepala bahwa hari itu adalah hari terbaikmu.

Sapa semua orang yang ada dalam ruangan itu, sambil melakukan kontak mata yang tegas. Jangan lupa memberi jeda, karena orang tidak suka dengan orang yang terburu-buru. Jadi usahakan santai saja dan tak terkesan diburu waktu.

Sekarang waktunya Bersalaman, Kuatnya Genggaman Harus Tepat

jabat-erat

Bersalaman menjadi bagian penting karena ini adalah kontak fisik pertama yang kita lakukan terhadap orang lain. Hindari bersalaman dengan lemah dan cepat. Lakukan dengan keyakinan dan berikan juga jeda waktu terhadap sentuhan tangan itu.

Sekuat apa kita menggenggam orang yang kita sapa? Triknya mudah, bayangkan kita sedang memegang gagang sapu ketika hendak membersihkan rumah. Kita tidak memegangnya dengan lemah lembut tapi juga tidak memegangnya secara kaku bukan? Setidaknya seperti itulah kita bersalaman.

Arahkan Tubuh Ke Orang Yang Kita Ajak Bicara

tangan dimeja

Coba biasakan untuk mengarahkan tubuh kita ke orang yang sedang kita ajak bicara atau bicara dengan kita. Jadi ketika kita berkenalan dengan sejumlah orang, jangan hanya tangan kita yang bergerak tapi seluruh badan kita juga harus mengubah posisi dimana orang yang kita temui itu menghadap. Jangan sekali-sekali berbicara sambil menyender di dinding, menyender di meja atau kursi, karena ini mengurangi rasa percaya orang tersebut terhadap kita.

Ikuti Semua Gerakan Lawan Bicara, Layaknya Kita Adalah Sebuah Cermin

edit tulisan dengan kawan

Cara lain yang mudah adalah dengan melakukan efek cermin. Jika lawan bicara kita menyilangkan tangan di dada, maka lakukan hal sama. Jika ia sedikit memiringkan kepala maka lakukanlah. Tapi lakukan dengan santai. Karena orang cenderung lebih bisa menerima orang yang sama dengannya.

Jadikan Wajahmu Jendela Hatimu

investasi

Jangan gunakan ekspresi wajah netral alias biasa-biasa saja. Karena ada sebagian orang yang wajah netralnya mengesankan galak, sinis dan sebagainya padahal mungkin tidak. Karena itu penting untuk selalu tetap tersenyum di pertemuan pertama. Usahakan senyum tanpa dipaksakan, dan dibuat-buat. Lakukan dengan relaks dan penuh percaya diri.

Sekarang Saatnya Bicara, Ups! Apa Napasmu Sudah Segar?

mulut

Coba bayangkan ketika semua hal sudah dilakukan, penampilan baik, bahasa tubuh bagus, kontak mata berjalan baik, senyum terkembang, begitu mengenalkan nama dan membuka mulut pertama kali lawan bicara langsung merasa terganggu dengan bau napasmu. Wew, apa yang akan ada dipikiran mereka? Hampir bisa dipastikan semua yang kita siapkan akan gagal total.

Karena itu penting untuk selalu menjaga kesegaran mulut. Untungnya aku rajin sikat gigi. Begitu katamu? Ini rahasia terkahir yang perlu kamu pahami. Menyikat gigi itu hanya membersihkan 25 persen dari keseluruhan mulutmu. Walhasil kamu tidak akan bisa memberikan kesan yang baik dengan napas segar kalau hanya mengandalkan sikat gigi belaka.

Kita Perlu menggunakan obat kumur. Tak makan waktu banyak, coba saja LISTERINE® yang hanya membutuhkan waktu 30 detik untuk membersikan kuman dan bakteri di mulut. Secepat itu? Iya faktanya, bakteri dalam sampel plak dan air liur dapat dibasmi dalam 30 detik saat bersentuhan dengan LISTERINE®. Cukup menuangkan 20mL atau setara dengan satu tutup botol LISTERINE®. Tanpa dicampur air langsung teguk dan berkumurlah sambil menghitung hingga 30 dalam hati.

Kalau tidak suka dengan rasa pedas mint, kamu bisa berkumur dengan LISTERINE® Greentea yang sensasi pedasnya lebih mild. Temui berbagai varian dari LISTERINE®, beserta manfaatnya di sini.

Mengingat kuman dan bakteri terus berkembang setiap saat, jadi dengan sekali berkumur hanya dapat melindungi mulut selama 12 jam. Supaya lebih efektif kita harus berkumur sekurangnya 2 kali sehari untuk mendapatkan perlindungan 24 jam.

Mudah bukan? Jadi sudah #SiapBanget untuk memberikan kesan pertama yang baik dalam 30 detik pertamamu?


Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab Seintens Apa Pun Kita Berkirim Pesan Singkat, Tak Akan Bisa Menggantikan Kehadiranmu yang Senyatanya

Kata Mama, aku boleh bersyukur karena yang namanya komunikasi sekarang ini semakin dimudahkan. Dulu saat Mama dan Papa masih pacaran, tak ada yang namanya komunikasi intens setiap hari. Kalau tidak lewat telepon, ya terpaksa surat-menyurat sembari menabung rindu. Memang benar adanya, keberadaan teknologi seakan memangkas jarak yang mungkin terbentang jauh antara dua orang yang sedang menjalin relasi.

Durasi berkirim pesan pun tak lagi jadi masalah yang berarti. Tinggal ketik, kirim, ceklis dua, penerima pesan pun bisa langsung membacanya. Begitulah kira-kira. Meski dua orang yang menjalin relasi tetap berjarak, setidaknya bisa saling tahu kabar masing-masing tanpa perlu lelah menunggu.

Hanya saja, benarkah relasi yang semacam ini akan seterusnya membawa dampak yang baik? Sekalipun bisa terus  terhubung sepanjang hari dan saling tahu kabar masing-masing kapanpun kita mau…

Hingga Hari Ini Tiada yang Bisa Menggantikan Makna Kehadiran yang Sesungguhnya

Apalah arti relasi tanpa sebuah kehadiran yang nyata adanya. Kalau ada orang bilang dalam relasi penting sekali yang namanya perhatian dan afeksi, mungkin itu bisa kita rasakan dengan saling terhubung setiap hari lewat telepon dan bertukar pesan singkat. Tapi soal kehadiran yang nyata, teknologi belum sanggup menjawab kegamangan ini.

Padahal, ketika menjalin relasi, yang paling didambakan adalah kehadiran kekasih hati di setiap momen penting hidup kita, bukan? Lantas kalau kita berdua justru sama-sama nyaman via suara dan menabung rindu di udara, benarkah relasi ini sedang baik-baik saja?

Membangun Chemistry Tak Cukup dengan Tertawa Online dan Tersenyum Via Emoji

Aku tertawa dengan lelucon yang kita bicarakan. Pun dengan kamu di seberang sana. Tapi rasanya ada yang kurang, aku tetap tak bisa melihat tawamu. Kalaupun via videocall, aku tetap tak merasakan suasana nyata bahwa kamu benar-benar tertawa di samping atau di depanku. Gelak tawa kita memang tidak palsu, hanya saja aku tak cukup puas kalau belum merasakan sendiri perihal tawamu benar-benar nyata di depanku.

Chemistry mungkin bisa muncul lewat percakapan. Tapi seberapa kuat hal itu akan bertahan? Aku bertanya, saat kamu menyematkan emoji tawa, benarkah kamu memang sedang tertawa? Atau saat kamu mengirim emoji senyum, benarkah wajahmu memang sedang memulas senyum? Namun diatas semua itu, aku hanya rindu kita saling bertatap muka saat kamu atau aku sedang bicara.

Jangan Kira Situasi Semacam Ini Tak Menarik Perhatian Para Peneliti, Justru Ternyata Ada Juga Penelitiannya

Apa yang kukatakan di atas sejatinya tak hanya kurasakan seorang diri. Ketidakyakinan kalau pasangan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sama ternyata jadi sekelumit kekhawatiran bagi mereka yang terbiasa berkirim pesan singkat. Journal of Couple and Relationship Therapy pernah melakukan penelitian pada 276 orang tentang kebiasaan mereka mengirim pesan dan kepuasan dalam suatu hubungan.

Orang-orang tersebut berusia sekitar 18 – 25 tahun, kemudian mereka diminta melaporkan kebiasaan komunikasi dan perasaan tentang hubungan mereka. Peserta juga diminta menjawab pertanyaan seperti berapa kali mereka telah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan mereka dan sejauh mana mereka merasa seolah-olah pasangannya memperhatikan mereka. Kalau begini, benar-benar memprihatinkan, bukan? Aku tak ingin sampai seperti mereka…

Tapi Bukan Berarti Aku Tak Suka Berkirim Pesan Singkat denganmu, Aku pun Sadar Ini Satu-satunya Cara Agar Kita Tetap Terhubung…

Untuk beberapa situasi seperti mendamaikan hati setelah bertengkar, mengutarakan sesuatu yang sungkan dikatakan, rasanya lebih nyaman diketik lewat pesan singkat. Bagaimanapun, aku menyadari intensitas paling nyata bisa diwujudkan dengan berkirim pesan singkat. Tapi kumohon, janganlah kita sampai terlalu nyaman berkirim pesan singkat sehingga menyepelekan pertemuan bahkan mengurangi intensitas bertemu. Jangan juga jadikan hal ini sebagai cara mempertahankan jarak dariku sebagai pasanganmu. Kalaupun kamu ingin punya waktu sendiri, bukankah lebih baik kita bicarakan baik-baik?

Pada Akhirnya, Kuakui Seintens Apa Pun Kita Mengobrol Lewat Pesan Singkat, Tak Ada yang Bisa Mengalahkan Kualitas Obrolan saat Kita Sedang Bertatap Muka

Selama denganmu, tak akan pernah bisa cukup. Baik dalam hal komunikasi maupun intensitas pertemuan. Itulah mengapa rasanya akan tetap kurang sekalipun kita terus-menerus berkirim pesan singkat hanya demi tahu kabar masing-masing.

Tapi di lain sisi, bertukar pesan terlalu sering pun tak terlalu baik untuk kita. Kamu pasti akan menemukan titik penat, kamu tak bisa menebak intonasiku, mimik wajahku, atau emosiku saat mengutarakan sesuatu. Untuk itulah meski berkirim pesan singkat akan menolong kita, di lain sisi justru jadi tantangan kita.

Ke depannya, mungkin ada baiknya kita berjanji untuk lebih menjaga kata-kata yang kita utarakan lewat pesan singkat. Semaju apa pun teknologi, tetap ada kelemahannya, bukan? Kalaupun ada percakapan yang cenderung berpotensi menghasilkan perasaan sakit hati, mungkin lebih baik disimpan dan tak diutarakan sampai suasana benar-benar kondusif. Sebab saat sedang sendiri-sendiri di tempat masing-masing, seseorang akan lebih punya waktu lebih untuk memikirkan perkara omongan pasangannya, bukan?

Karenanya aku ingin kamu tahu, sesukar apa pun jalan di depan, aku hanya ingin membuat pasanganku tidak hanya merasa dicintai, tapi juga membuatnya merasa dihargai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

“Seleb English” Konten Edukasi dari Sacha Stevenson, Bagaimana Berbahasa Inggris yang Baik dan Benar

Tak lama setelah membuat video berjudul “How To Act Indonesian”, nama Sacha Stevenson mulai banyak dikenal oleh sebagian besar pegiat media sosial. Dalam seri video tersebut, Sacha menampilan beberapa adegan yang menggambarkan bagaimana masyarakat kita melakoni hidupnya sehari-hari. Mulai dari kebiasaan, kekonyolan, sikap, bahkan pada keramahan setiap masyarakat kita. Jadi jangan heran, jika selama menyaksikan videonya. Barangkali kita akan berkata “Wah ini gue banget”.

Lahir di Kanada, pada 21 Januari 1982 lalu. Sacha sudah tinggal dan menetap di Indonesia selama 17 tahun lamanya. Menikah dengan lelaki Indonesia, yang juga jadi teman duet untuk berkarya dalam melahirkan konten youtube di saluran pribadinya.

Memiliki pengikut kurang lebih 400 ribu orang, Sacha selalu melahirkan konten-konten menarik untuk disaksikan. Tapi, jika saya akan ditanya manakah konten miliknya yang paling saya sukai. Pilihan saya, jelas jatuh pada seri “Seleb English” yang selalu memberi banyak pelajaran baru seusai menontonnya.

Konon, Kata Sacha Video Seri Ini Adalah Sesuatu yang Baru

Jika kita coba melihat pada beberapa video karya miliknya, kurang lebih ada 20 jenis playlist video pada saluran youtube pribadinya. Dan benar saja, jika seri “Seleb English’ ini adalah sesuatu yang baru ia lahirkan pada pertengahan April 2018 lalu.

Dengan modal, pernah menjadi guru bahasa Inggris selama 7 tahun. Tak ada salahnya jika Sacha membuat video ini sebagai bahan pelajaran untuk para pengikutnya di Youtube. Hanya saja, objeknya mungkin berbeda dari tempat kursus atau sekolah. Ia tak menyampaikan pemahaman lewat materi dari buku-buku tebal atau kamus yang biasa kamu gunakan. Tapi, menggaet para selebriti sebagai bahan pembelajaran.

Tidak Menyebut Dirinya Benar dan yang Dikoreksi Salah, Ia Datang Hanya Untuk Membenarkan Apa yang Seharusnya

Pada video pertama seri “Seleb English” ia mencatut nama Rich Brian, Ayu Ting-ting, Agnezmo, Dian Sastro dan Sule. Hampir serupa dengan seorang guru yang sedang melakoni peran dalam hal menjelaskan sesuatu pada seorang murid. Sacha memberhentikan rekaman suara yang jadi subjek pembahasan, menjelaskan titik salahnya dan menuturkan bagaimana pengucapan yang benar yang seharusnya disampaikan. Mulai dari aksen yang harusnya ditekan, atau kata yang seharusnya diganti dengan kata lain. Sampai beberapa hal, yang mungkin sebelumnya belum kita ketahui sama sekali.

Bahkan tak sampai disitu saja, ia juga mengapresiasi setiap kemampuan berbahasa Inggris semua orang yang ia jadikan bahan koreksi. Mulai dari yang dinilai buruk, sedang, baik, hingga sangat baik.

Sacha Membuktikan, Jika Konten di Youtube Tak Selalu Buruk Seperti yang Banyak Digambarkan

Kita jelas sudah jengah dengan video-video sensasi dari akun-akun yang mengaku konten kreator, video sensasi dengan judul-judul klik bait yang hanya ingin mendulang pundi-pundi dolar dari satu klik para pengguna media sosial, hingga para aksi-aksi tak pantas yang seharusnya tak dijadikan tontonan.

Dan, lahirnya konten “Seleb English” dari Sacha ini. Mungkin bisa jadi sesuatu yang tak hanya menyengarkan tampilan timeline saja. Tapi juga memberikan pelajaran baru untuk siapa saja yang merasa butuh tahu lebih dalam, bagaimana berbahasa Inggris yang baik dan benar.

Disambut Baik Oleh Pengikutnya, Konten-konten Seperti Ini Memang Jadi Sesuatu yang Kita Butuhkan

Setidaknya, tak hanya membuang-buang kuota untuk menonton video-video youtube yang kadang tak ada juntrungannya. Mulai sekarang, ada satu hal baik yang sudah akan kita bayangkan tiap kali akan menonton deretan video miliknya, yakni pelajaran baru dalam berbahasa Inggris yang ia berikan. Karena biar bagaimanapun, ini jadi salah satu bahasa yang seharusnya kita kuasai.

Lebih dari itu, kedepan kita mungkin berharap, akan lebih banyak kreator yang menciptakan konten mendidik serupa yang juga sama baiknya. Memberi edukasi pada setiap orang yang menyaksikan, dan jadi bahan pelajaran baik untuk semua orang.

Dan untuk Sacha, tetap berkarya dan lahirkan lebih banyak konten mendidik lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top