Community

20 Penyesalan Sewaktu Kita Muda, yang Kini Membuat Kita Ingin Memutar Waktu Lagi

Masa sekolah adalah masa paling menyenangkan. Masa dimana kamu bisa hidup dengan sesuka hatimu, tanpa memikirkan hal berat yang dimiliki oleh orang yang beranjak dewasa. Tanggung jawab yang kamu miliki di masa muda juga tak akan seberat tanggung jawab yang harus kamu pikul saat kamu sudah beranjak dewasa.

Tak heran jika kamu baru menyadari beberapa hal yang seharusnya kamu lakukan di masa mudamu. Apa saja sih penyesalan yang  mungkin kamu rasakan hingga kamu ingin kembali memutar waktu? Coba simak penjelasan berikut.

1. Obsesi yang Salah. Ingin Jadi Anak Populer di Sekolah

Kamu memiliki obsesi yang salah di masa muda. Bukannya ingin menjadi siswa berprestasi malah hanya ingin kepopuleran saja. Parahnya kamu melakukan hal yang salah untuk meraih kepopuleranmu, bukan dengan prestasi malah dengan hal-hal yang tidak terpuji.

2. Berteman dengan Mereka yang Kamu Anggap Populer

Kamu tidak mementingkan kualitas dalam berteman, yang terpenting bagimu hanyalah dia populer di sekolah, jadi dia layak untuk kamu jadikan teman.

3. Membully Anak-Anak yang Dianggap Cupu

Untuk terhindar dari bully-an teman, tak jarang kamu ikut-ikutan membully teman yang dianggap cupu. Kamu merasa dirimu sudah cukup populer dan hebat dengan membully teman lainnya.

4. Tak Berani Melawan Saat Jadi Objek Bully-an

Kamu terlalu penakut dan tidak berani melawan saat teman-temanmu menjadikanmu bahan bully-an. Jangankan untuk membalas, untuk membela dirimu sendiri saja kamu tak ada keberanian.

5. Banyakan Bermain Dibanding Serius Belajar

Keasyikan bermain dan melupakan belajar sering kamu lakukan di masa muda. Hasilnya, saat kamu beranjak dewasa, ilmu yang kamu dapatkan sangat minim dibanding temanmu yang selalu serius dalam belajar.

6. Gagal Masuk Jurusan Impian Karena Belajar Pakai Sistem Kebut Semalam

Kamu gagal masuk jurusan yang kamu impikan karena hanya belajar dengan sistem kebut semalam. Seharusnya kamu menyiapkannya dengan matang. Bukan menyepelekannya lantas percaya diri dengan hasil yang akan kamu dapatkan dengan hanya belajar semalam suntuk saja.

7. Gagal Memanfaatkan Waktu untuk Mengasah Kemampuan

Kamu terlalu asyik bermain-main sampai akhirnya lupa memanfatkan waktu untuk mengasah kemampuanmu sendiri. Alhasil saat kamu sudah dewasa kamu baru aka menyesalinya.

8. Terbiasa Menyontek

Kebiasaan menyontek bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Saat kamu dewasa barulah kamu menyadari bahwa menyontek hanya akan membuatmu tergantung pada orang lain dan tidak percaya akan kemampuan  dirimu sendiri.

9. Menghabiskan Waktu untuk Urusan Cinta Monyet

Cinta-cintaan di usia muda memang masih sebatas permainan. Kamu akan merasa rugi saat kamu sudah dewasa, dimana kamu menyadari bahwa banyak waktu yang terbuang hanya untuk mengurusi cinta monyet yang tak penting.

10. Masuk Jurusan yang Tidak Sesuai dengan Kemampuan dan Keinginan

Kamu sudah memilih beberapa jurusan yang kamu ingin masuki saat kamu lulus SMA. Namun nyatanya kamu malah diterima di jurusan yang tidak kamu inginkan. Parahnya lagi jurusan itu tidak sesuai dengan kemampuan yang kamu miiki.

11. Tidak Patuh akan Nasehat Orangtua

Selalu membantah apa yang dikatakan oleh orangtua bukanlah cerminan perilaku yang layak kamu lakukan. Kamu selayaknya harus menyadari bahwa semua orangtua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.

12. Terlalu “Manut” Apa yang Dikatakan Orangtua

Membantah orangtua memang bukan perilaku yang baik. Namun terlalu manut juga bukan keputusan yang  bijaksana. Kamu punya kehidupanmu sendiri. Kamu yang tahu kemana harus membawa dirimu di masa depan. Tak perlu dengan cara membantah, kamu bisa mendiskusikannya dengan baik bersama orangtua agar mereka pun memahami dan mendukung apa yang diinginkan oleh anaknya.

13. Tidak Jadi Remaja Seutuhnya

Masa Remajamu tak kamu isi dengan hal yang  mungkin tidak bisa kamu lakukan lagi saat kamu dewasa. Kamu kurang mengeksplor diri. Kamu cenderung takut untuk melakukan hal yang baru. Sedangkan saat dewasa kamu baru sadar, kamu tak bisa mencoba-coba hal baru tanpa pertimbangan yang matang.

14. Memaksakan Beli Barang Mahal Demi Gengsi

Persaingan yang tak sehat pernah kamu lakukan di masa lalu. Bersaing hanya untuk gengsi semata. Kamu memaksakan diri membeli barang-barang mahal hanya karena tak mau tersaingi oleh teman yang kamu anggap sebagai rival.

15. Pacaran Cuma Karena Nggak Mau Dibilang Jomblo

Terlihat konyol memang. Kamu akhirnya menerima cinta orang yang nggak kamu sukai sama sekali hanya karena nggak mau dibilang jomblo. Gengsi lebih kamu utamakan.

16. Keasyikan Main Game Sampai Lupa Waktu

Game memang membuat kecanduan. Tapi yang akan lebih membuatmu menyesal adalah saat kamu menyadari bahwa dulu saat kamu masih muda kamu terlalu asyik main game sampai lupa segalanya. Kamu lupa waktu, lupa menjaga kesehatan, sampai lupa untuk menyiapkan masa depan.

17. Tidak Percaya Diri untuk Mencoba Hal yang Kamu Mau

Kepercayaan diri seseorang memang harus dipupuk sejak dini.  Saat usiamu masih muda dan masih banyak kesempatan, kamu cenderung mengurung diri dan nggak berani menunjukkan kemampuan yang kamu miliki. Sehingga tak khayal saat kamu dewasa kamu baru menyesalinya.

18. Nggak Berani Menolak Ajakan Teman untuk Tawuran

Kenakalan remaja memang marak terjadi di kehidupan ini. Kamu pun pernah merasakan dan melakukannya. Dulu kamu menganggap dengan ikut tawuran, kamu akan semakin terlihat maskulin dan jagoan. Namun nyatanya, saat dewasa kamu akan menyadari bahwa tawuran adalah hal yang merugikan. Belum lagi jika ada luka cacat di tubuhmu akibat tawuran di masa lalu.

19. Nggak Berani Menolak Ajakan Pacar untuk Berbuat yang Macam-Macam

Pacaran memang suatu hal yang dilarang oleh satu agama tertentu. Namun masih saja banyak remaja yang melakukannya. Ada kalanya saat kamu sudah dewasa, kamu menyesali masa lalumu yang nggak berani mengatakan tidak saat diajak oleh pacar untuk berbuat di luar batasan normal.

20. Terlalu Asyik dengan Gadget

Sebagai seorang remaja, tentu kamu sudah sangat mengenal akses informasi via internet. Namun belum tentu kamu pun paham cara yang bijak untuk memanfaatkannya. Di era saat ini memang hampir semua kalangan sudah bisa mengoperasikan gadget pintar untuk mengakses informasi via internet.

Tidak jarang para remaja malah justru menggunakan gadget untuk hal yang kurang bermanfaat dan cenderung memiliki kecanduan tersendiri dengan gadgetnya. Alhasil kamu yang seorang  pecandu gadget akan memiliki pengetahuan dan pengalaman dengan dunia luar yang sangat minim, karena kamu lebih suka menghabiskan waktumu dengan bermain gadget dan melihat dunia luar tidak secara langsung melainkan hanya lewat sebuah layar saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Terlalu Lama Menjomblo, Membuat Kamu Kian Dekat dengan Hal-hal Ini!

“Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asyik sendiri”

Mungkin lirik lagu tersebut sangat cocok untukmu yang sudah lama menghabiskan waktumu seorang diri. Terlalu lama menjomblo ternyata juga tak baik loh untukmu. Terlebih jika akhirnya kamu sudah benar-benar terbiasa dan asyik dengan kesendirianmu itu. Bahkan nih, dari  hasil beberapa penelitian. Sendiri kelamaan, bisa memicu kematian. Untuk itulah, kamu disarankan segera mencari pacar.

Akan tetapi, sebelum beranjak untuk menebarkan pesonamu. Kami ingin mengajakmu menyadari beberapa hal yang selama ini kamu alami. Iya, kamu alami selama sendiri tanpa kekasih.

1. Merasa Kaku Saat Berkenalan dengan Orang Baru

Karena kamu sudah terlalu lama sendiri, akhirnya kamu pun tak terbiasa dengan kehadiran orang baru dalam kehidupanmu. Kamu pun akan terkesan canggung saat bertemu dengan orang baru. Akhirnya akan sulit untuk orang lain mendekat padamu karena tidak nyaman dengan sikap canggungmu itu.

Bukan tak mau membuka diri, hanya saja ada sedikit keraguan yang masih menghiasi pikiran. Semacam pertanyaan kurang percaya diri, karena sudah lama menyendiri.

2. Banyak Temanmu yang Akhirnya Menyerah untuk Mencarikanmu Pendamping

Temanmu pun ingin melihatmu memiliki pendamping. Mereka berusaha mengenalkanmu dengan kenalannya dengan maksud siapa tahu dia bisa cocok denganmu. Namun karena sikapmu yang cenderung cuek, akhirnya teman-temanmu pun menyerah untuk mencarikanmu pendamping. Bahkan setelah upaya  yang mereka perbuat, tak sedikit pula yang akhirnya merasa kesal padamu.

“Lu maunya pacar yang kaya gimana sih?” 

Sering mendengar kalimat ini? Ya, kadang kamu merasa terharu pada teman-teman yang sibuk mencarikanmu pacar baru. Namun juga sering merasa lucu, kenapa mereka sesibuk itu. Karena bisa jadi kamu sendiri masih menunggu dan tak mau terburu-buru.

3. Padahal Kamu Merasa Bahwa Cinta Bukanlah Hal yang Penting untuk Dipikirkan

Kondisi kesendirianmu yang sudah terlalu lama akhirnya juga memengaruhi pola pikirmu pada makna cinta itu sendiri. Kamu mulai merasa bahwa cinta bukanlah suatu hal penting untuk kamu pikirkan. Ada hal penting lain yang harus lebih dulu kamu dahulukan dibandingkan hanya untuk sebuah cinta. Dan barangkali inilah sebabnya, mengapa kamu masih betah sendiri sampai sekarang.

4. Bisa Jadi, Kamu Merasa Jauh Lebih Baik Saat Sendiri

  

Bisa dibilang kamu sudah cukup nyaman dengan kesendirianmu. Kamu justru tak tertarik meskipun melihat banyak temanmu yang selalu bersama dengan pasangannya. Kamu cenderung asyik dengan duniamu sendiri. Menikmati hobi dan belajar hal baru lebih banyak lagi. Selalu  jadi sesuatu yang lebih menyenangkan daripada harus buru-buru mencari pacar. Walau pada beberapa orang, ini hanyalah sebuah alasan atas ketidakmampuan. Upss…

5. Kamu Sudah Kebal dengan Komentar dan Pertanyaan Orang Terkait Status Single-mu

Mungkin di awal kamu sempat memikirkannya. Namun karena kamu sudah cukup lama sendiri dan menikmati kesendirian itu, akhirnya kamu pun mulai kebal dengan banyaknya komentar dan pertanyaan orang lain terkait dengan statusmu yang masih saja sendiri sampai saat ini.

Jadi pertanyaan semacam “Sendiri mulu, berduanya kapan?”, tak lagi jadi sesuatu yang menyinggung perasaan. Ini lebih terdengar jadi sebuah basa-basi dalam membuka obrolan. Ya, walau kadang-kadang ada juga yang merasa jadi beban. Tergantung bagaimana kamu menyikapinya.

6. Setiap Kali Ada yang Mendekati, Ada Serangkaian Cerita yang Sudah Kamu Persiapkan

Padahal kamu belum tahu pasti. Namun saat ada orang yang mendekatimu kamu akan dilanda kecemasan dan kepanikan. Kamu mulai berpikir keras akan tujuannya mendekatimu, ingin sekedar bermain-main atau benar-benar ingin serius. Hingga akhhirnya, ketakutakan dan kekhawatiran itu membawamu pada keputusan, akan hal-hal yang ingin dilakukan.

Kamu mulai berandai-andai, jika si dia nanti akan melakukan sesuatu apa yang perlu kamu persiapkan untuk merespon tindakannya itu. Sering membuatmu cemas tak karuan, tapi setidaknya kamu merasa tenang jika ada sesuatu yang sudah dipersiapkan.

7. Kamu Menciptakan Tembok yang Semakin Tinggi Karena Keinginanmu untuk Melindungi Diri

Tujuanmu memang ingin melindungi dirimu. Namun tanpa kamu sadari, lambat laun justru tembok yang kamu bangun untuk berlindung semakin tinggi. Akhirnya akan sulit untuk seseorang bisa mejangkau tempatmu berada. Nah, untuk yang satu ini tak selalu sepenuhnya salah. Biar bagaimanapun ini adalah upaya perlindungan untuk diri sendiri.

Dengan kata lain, kamu bisa lebih memilah orang-orang seperti apa yang nanti akan berada di dekatmu. Sehingga patah hati atau disakiti yang dulu pernah terjadi, tak akan terulang kembali. Nah, dari beberapa hal yang tadi sudah dijelaskan. Mana yang saat ini sedang kamu rasakan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ketika Hidupnya Lebih Buruk denganmu, Itu Artinya Ia Tak Tercipta Untukmu

Pernah tidak kamu tiba-tiba bepikir, bahwa ada sesuatu yang sepertinya tak beres dalam hubunganmu? Iya, ini bukan tentang kamu tak bisa membuatnya tertawa atau bahagia. Tapi tentang kenyataan lain yang justru jadi tanda tanya.

Coba lihat hidupnya kini, lalu bandingkan dengan hidupnya sebelum kalian bersama. Dulu ia adalah seorang periang, punya banyak teman dan pekerjaan yang lancar. Tapi bersamamu, harinya justru berubah. Menjauh dari temannya, karena memastikan kamu tak kemana-mana jadi yang lebih utama.

Sering khawatir karena cemburu, ketakutan akan kehilangmu menganggu pekerjaan yang ia lakoni. Lantas, sanggupkah kamu terus menerus melihatnya begitu?

Cinta yang Baik Membawanya Kedamaian, Bukan Membuatnya Gusar Tak Berkesudahan

Sikap periang yang dimilikinya, bisa jadi adalah salah satu hal yang membuatnya suka padanya. Tapi, jauh berbeda dari saat pertama jumpa. Akhir-akhir ini ia justru terlihat sering berwajah sendu, karena tak bahagia. Senyum manis yang tadinya sering mengembang, pelan-pelan mulai hilang. Berganti dengan segudang kekhawatiran atas hubungan yang kalian jalankan.

Tak terlihat secara jelas datang darimana sedihnya, yang terlihat hanyalah raut wajah kecewa, takut, serta kerap khawatir untuk berbagai macam alasan. Jika memang begitu, cobalah untuk melepasnya sendiri dulu.

Jauh dari Kata Berkembang, Hidupnya Kian Monoton Setelah Kamu Datang

Rasa sayang harusnya mendorong seseorang untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya terlihat mustahil. Membantunya meningkatkan kemampuan dan kreativitas, dan semua hal baik itu jelas memberi dampak baik untuknya.

Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, itu artinya memang ada sesuatu yang salah. Bandingkan lagi, bagaimana hidupnya ketika kalian tak bersama. Seberapa banyak pencapaian yang ia perbuat dengan seorang diri saja? Dan kenapa ketika sudah bersama ia justru berdiam diri dan tak berbuat apa-apa?

Semangatnya pelan-pelan hilang, dan jika benar begitu sebaiknya kau lepaskan genggamanmu.

Hanya Demi Kamu, Ia Sering Berbohong

Tak jelas apa alasannya, dari seluruh perubahan sikap yang ia tunjukkan. Kebohongan jadi salah satu hal yang paling banyak kau temukan. Mulai dari kebohongan kecil, hingga yang besar. Dari yang menurutmu tak penting untuk ditutupi sampai hal besar lain yang harusnya tak perlu disembunyikan lagi.

Hubungan kalian, kerap kali dijadikan alasan untuk berbohong dan tak ingin membuatmu marah atau kecewa padanya. Tapi asal kamu tahu saja, cinta yang baik merubah sesorang untuk lebih terbuka dan membicarakan semuanya. Jika ia kerap kedapatan berbohong, itu artinya ada sesuatu yang salah.

Tak Lagi Bergairah untuk Melakoni Hal Lain, Hidupnya Seolah Bertumpu Hanya Padamu Saja

Jadi sesuatu yang kadang sulit diterima, perubahan sikap yang ia tunjukkan kadang memang tak masuk akal. Namun itu semua adalah kenyataan yang mau tak mau harus kamu terima. Kamu bisa melihat ia kehilangan semua gairah, tak lagi terlihat hidup melakukan hal yang tadinya ia suka.

Dan kesimpulan yang bisa ditarik dari sikapnya, kemampuan yang tadinya ia bisa perbesar berubah jadi ketidakpastian yang kian kecil. Tak mau berbuat apa-apa tanpa dirinya, baginya kamulah roda pemutar hidup yang ia percaya. Tapi, bukankah cinta harusnya membuat kita kian kuat? Jika dirinya justru melemah, itu artinya bukan cinta.

Lari dari Tanggung Jawab, Ia Berubah Lebih Buruk dari yang Sebelumnya

Yap, coba tengok seseorang yang katamu paling kamu cintai itu. Ingat kembali bagaimana ia dulu menyelesaikan semua pilihan dan menyelesaikannya dengan benar. Lalu masihkah ia bersikap demikian sampai sekarang? Jika ternyata jawabannya adalah tidak. Berarti ada sesuatu yang memang perlu dibenahi dalam hubungan kalian berdua. Dia yang terjebak dan tak bisa memilah perilakunnya, atau sikapmulah yang membuat ia jadi demikian berubah.

Mungkin Bukan Hanya Salahmu Juga, untuk Itu Cobalah Mencari Penyebabnya

Perkara hubungan yang bisab merubah setiap orang. Siapa yang salah jelas sulit untuk ditentukan. Satu pihak bisa saja merasa biasa dan tak berbuat salah, tapi di sisi lain bisa jadi pasangannya mengira dialah penyebab seseorang berubah.

Tak harus buru-buru, coba dilihat pelan-pelan dulu. Pihak manakah yang sekiranya jadi penyebab perubahan diri. Jika memang itu karenamu, belajarlah untuk lebih bijaksana dalam menanggapinya. Lepaskan ia jika ternyata, tak ada bahagia yang ia terima setelah sekian lama bersama. Jujurlah pada dirimu sendiri dengan mengakui bahwa kamu memang jadi sosok yang membuatnya berubah menjadi lebih buruk dari dirinya yang sebelumnya.

Maka, jika benar-benar cinta, cobalah lepaskan ia. Biarkan ia mencari jalannya, dan belajar untuk mencari bahagianya dulu sebelum nanti berbagi bahagia lagi bersamamu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kadang Seorang Teman Memberi Solusi Bukan Karena Empati, Tapi Sekadar Asal Bicara Saja

Sadarilah, tak semua teman tempat kita curhat adalah seorang pendengar yang baik, yang mau turut merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Karenanya, tak usah heran kalau akhirnya yang kamu dapat adalah solusi yang terdengar ‘ala kadarnya’ bahkan terkesan menggampangkan sebuah masalah.

Padahal jika dikembalikan ke dirinya sendiri belum tentu mereka akan terima dengan masukan seperti itu. Namun bukan berarti berbagi cerita ke teman adalah langkah yang salah ya. Mungkin supaya tak mendapat respon yang tak enak, kamu perlu mengenali karakter mereka dulu. Carilah sosok teman yang benar-benar tepat, yang bisa menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik bagi dirimu.

Seorang Teman Belum Tentu Merasakan Emosi yang Kamu Rasakan

Bagaimanapun, seorang teman belum tentu bisa merasakan emosi seperti yang kamu rasakan saat kamu menceritakan ceritamu. Padahal ada kalanya kamu hanya butuh didengarkan saja dibanding meminta saran dari mereka. Hati-hati, salah cerita pada orang, justru bisa membuatmu merasa sia-sia.

Sadarilah, meski sejak awal kita berharap mereka mau turut merasakan emosi yang sama seperti yang kamu rasakan kala itu. Tak semua orang bisa merasakan apa yang kita sedang rasakan.

Selesai Cerita Justru Dapat Penghakiman dari Teman yang Kamu Ajak Cerita, Menyebalkan Bukan?

Percayalah, tak semua curahan hati kamu bisa diterima dan direspon dengan baik oleh teman yang kamu ajak berbagi. Bahkan, tak semua teman akan setuju dengan jalan cerita yang kelak kamu bagikan pada mereka. Alih-alih ingin mendapat hati yang plong setelah mengeluarkan segala keluh kesahmu, yang ada kamu hanya akan mendapatkan kecewa.

Jika tahu bakal mendapat penghakiman dari lawan bicaramu. Pastikan terlebih dahulu, sebenarnya seberapa besar ia mau mendengarmu.

Tak Menutup Kemungkinan Ceritamu Justru Disebarluaskan pada yang Lain

Tak semua teman bisa menjaga rahasiamu dengan baik setelah kamu ceritakan seluruhnya pada mereka. Karenanya, jangan menceritakan masalahmu ke sembarang orang. Namun carilah sosok teman yang dapat dipercaya bisa menjaga rahasiamu dengan aman.

Susah memang, tapi kuberitahu, jangan sampai setelah kamu curahkan semua pada temanmu, masalahmu malah makin runyam dan akhirnya hanya mengganggu ketentraman hatimu, kan?

Berujung Penyesalan yang Menderamu Karena Sudah Cerita ke Temanmu

Akhirnya ketika kamu tahu bahwa teman yang kamu ajak berbagi cerita tidak bisa dipercaya dalam menjaga segala rahasiamu, yang ada kamu akan merasa menyesal sendiri. Bahkan hal ini bisa berdampak pada merenggangnya hubungan pertemanmu dengannya. Mungkin pada akhirnya kamu bisa petik pelajarannya dari sini agar bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman untuk diajak berbagi cerita.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top