Trending

Yang Kudapat dari Menonton Film “My Generation” Hari Jumat Kemarin

“Zaman papa dulu…”

Jadi satu-satunya kalimat yang membuat saya tersenyum dan ingat Bapak di rumah.

Dan jika kalian ingin tahu, itu adalah kata-kata pamungkas dari Papanya Konji (Joko Anwar) kepada sang anak Konji (Arya Vasco), setiap kali memberi petuah jika anaknya berulah.

Di tengah hiruk pikuk fenomena generasi micin yang katanya jadi generasi tak bermoral, tadinya saya berpikir bahwa film ini akan jadi salah satu peyegaran jiwa untuk orang tua dan anak muda.

Konon menurut orangtua Konji, sikap dan perilaku anak muda zaman sekarang sama sekali tak menunjukkan nilai-nilai moral. Budaya timurnya telah tergeser dengan perilaku kebarat-baratan yang lebih mendominasi. Babak ini berhasil menyeret saya untuk berpihak pada Konji bahwa “Tak semua anak muda seperti yang Papanya Konji pikirkan”.

Beruntungnya Konji tak sendiri, anak SMA ini punya 3 orang teman lain yang merasa senasib dengannya, mereka adalah Zeke (Bryan Langelo), Orly (Alexandra Kosasie), dan Suki (Lutesha).

Diawali dengan hukuman yang mereka terima dari orangtua masing-masing, perkara video YouTube yang mereka buat. Padahal bagi saya, isinya patut diacungi jempol. Saya dan kamu tentu sudah bosan dengan Vlog yang bertebaran di kanal per-YouTube-an Tanah Air. Harusnya para YouTuber muda belajar dari mereka berempat.

Ya, setidaknya menyuarakan bentuk ketidaksukaan jauh lebih berfaedah daripada nangis sesenggukan karena diputusin pacar ,atau peluk-pelukan di kolam renang dengan laki-laki yang bukan pasangan halalnya. Kenapa? Kamu ingat seseorang ya? 

Dari kacamata perempuan muda berusia 22 tahun, tadinya saya berpikir ini akan jadi jembatan penghubung untuk menyuarakan isi hati saya juga. Tapi nampaknya saya terlalu berharap pada Mbak Upi selaku sutradaranya.

Mimpi mereka untuk berjemur di Bali pada liburan sekolah akhirnya musnah. Mau tak mau liburan kali ini akan dihabiskan di Jakarta. Tak ingin dicap sebagai pecundang yang akan meratapi nasib atas hukuman, titik ini justru jadi garis start memulai petualangan.

Mulai dari cerita putusnya Suki dengan sang pacar, sampai mengerjai mobil mantan, dan manisnya kisah cinta Konji, serta peliknya perasaan Zeke atas kematian adiknya, atau rasa tak pernah dimengerti oleh sang ibu yang dirasakan Orly.

Tayang serempak sejak tanggal 9 November 2017, film hasil rumah produksi IFI Sinema ini memang terlihat ingin mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan keseharian anak muda. Hanya saja, bagi saya ini terlalu jauh. Karena faktanya tak semua anak di Indonesia ini bisa seperti mereka ini. Meski saya sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama, jika dalam posisi mereka.

Melawan aturan dengan menyuarakan kepercayaan akan pilihan sendiri. Namun agaknya kurang pas, jika tak disertai kemampuan yang bisa dijadikan alasan untuk tidak mengikuti apa kata orangtua.

Memang sih, ini cerita saat liburan jadi wajar jika tak ada adegan yang menunjukkan mereka belajar. Tapi masa iya, kamu akan protes besar-besaran menuntut orangtuamu untuk tak terlalu mengekang, sedang kamu tak punya apa-apa untuk dibanggakan? 

Kalaupun kita akan bertanya pada anak-anak SMA, tentu mereka akan mengangguk setuju dan bilang bahwa sesungguhnya gambaran hidup dalam film ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Hidup mewah dengan segala fasilitas, bisa bermain sesuka hati tanpa beban, bahkan Zeke bepergian dengan mengendarai mobil sendiri tanpa dilarang. Kurang apa lagi coba?

Satu-satunya hal yang mungkin akan membuat mereka berhenti protes, adalah ketika orangtuanya memberinya pilihan. Tetap jadi anak dari orangtuanya saat ini, atau jadi anak dari Bapak saya yang ketika SMA cuma di kasih uang jajan lima ribu rupiah.

Tapi meski agak sedikit kecewa, saya harus akui bahwa ada sosok yang cukup menarik perhatian yakni Orly. Perempuan kritis yang pintar, dan berprinsip. Keluar dari zona cinta-cintaan yang kerap kita saksikan di beberapa film anak muda. Dari scene yang terlalu terkonsep, serta cerita yang jauh dari kehidupan saya ini, Mbak Upi berhasil memberi penawar lewat sosok Orly.

Meski nyatanya 4 orang ini adalah artis pendatang baru, Faktanya mereka adalah squad pemeran utamanya. Tapi lagi-lagi saya merasa karakter Orly jadi satu-satunya peran yang mendominasi dan punya persona cukup kuat.

Lewat bentuk pemberontakan akan kesetaraan gender, dan hal-hal yang kerap dibebankan pada perempuan. Hingga  rasa tak sukanya kepada sang ibu (Indah Kalalo), yang kerap bersikap bak anak milenial dan berpacaran dengan laki-laki lebih muda darinya.

Cerita lain yang menjadi nilai plusnya, adalah scene yang menampilkan sosok yang selalu ingin tahu. Salah satunya, pertanyaan Konji kepada teman-temannya. Tentang bulan kelahirannya yang lebih cepat 3 bulan dari tanggal pernikahan orangtuanya. Hingga ditutup dengan manis oleh kesadaran mereka akan pentingnya rasa saling mengerti dan menghargai dalam hubungan anak dan orangtua.

Diharapkan akan jadi jembatan bagi orang tua dan anak, namun saya melihat ada beberapa sisi yang dirasa kurang. Saya merasa beberapa orangtua atau bahkan anak muda justru akan mempertanyakan letak nilai-nilai yang seharusnya dapat diambil pelajaran. Ya, setidaknya ini jadi gambaran akan beberapa komentar dari para orangtua, yang kini berseliweran di beberapa media sosial.

Akan tetapi sebagaimana yang Mbak Upi bilang, “Film ini bukan bermaksud menggurui atau menghakimi generasi millenial. Akan tetapi memberikan referensi terkini bagaimana kondisi generasi milenial lebih dekat. Pada akhirnya, antara generasi sekarang dan dulu harus saling memahami,”

Kamu bisa sependapat dengan saya, bisa juga tidak. Toh ini adalah beberapa hal yang berdasarkan sudut pandang saya sendiri. Jika ternyata kamu tak setuju tentu saya tak akan marah. Jika dirasa masih kurang, cobalah pergi ke bioskop dan tonton sendiri. Barangkali kamu punya penilaian yang berbeda. 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Berniat Porno, Tapi Tidur Telanjang Punya Segudang Manfaat Untuk Kesehatan

Setelah lelah beraktivitas seharian, tentu kita ingin istirahat dengan nyaman. Sayangnya, kadang kala kita justru tak bisa mendapatkan tidur yang berkualitas. Namun sudah tahukah kamu, jika salah satu cara untuk mendapatkan istirahat yang berkualitas adalah dengan tidur telanjang?

Salah satu study menyebutkan bahwa pada saat malam hari suhu tubuh kita akan mengalami penurunan, ini terjadi agar daya tahan tubuh kita tetap kuat. Dan jika ternyata kita tidur dengan tetap mengenakan pakaian, maka penurunan suhu tubuh pun akan terhambat.

Meski di Indonesia masih terbilang cukup jarang dilakukan, tapi kita harus tahu manfaat apa saja yang bisa didapatkan dengan tidur telanjang.

Tak Lagi Khawatir Tidur Larut Malam, Menanggalkan Pakaian Mencegah Diri dari Insomnia

Beberapa orang bahkan memilih untuk mengonsumsi otak tidur, hanya karena menderita insomnia akut. Padahal segala jenis obat tentu akan memberikan efek samping dikemudian hari, oleh karena itu kita bisa menanganinya dengan mencoba terlelap tanpa busana. Cara ini dinilai ampuh untuk menjaga kesejukan permukaan kulit yang juga berpengaruh pada tingkat kepulasan tidur kita.

Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian di Australia yang menyebutkan bahwa penggunaan baju tidur justru dapat membuat panas terperangkap di permukaan kulit. Hasilnya, suhu tubuh pun akan turut beranjak naik sehingga kita akan cenderung terjaga semalaman.

Memberikan Ruang Gerak Agar Kulit Bisa Bernafas dengan Bebas dan Baik

Coba bayangkan, setelah seharian penuh mengenakan pakaian yang lengkap, bahkan hampir menutupi sekujur tubuh. Maka ketika nanti kita akan tidur, ini bisa jadi berita baik untuk  tubuh bisa bernafas lebih leluasa.

Masa transisi dari tertutup seharian penuh, sampai pada waktu tidur yang tidak lagi tertutupi oleh pakaian. Hal ini akan membuat kulit terjaga kesehatannya dan menurunkan resiko terkena berbagai masalah kulit.

Lebih Praktis dan Membantu Diri Jadi Bersemangat Beranjak dari Tempat  Tidur

Yap, manfaat lain yang juga bisa kita rasa juga datang dari segi ekonomi. Sebab tak perlu susah payah untuk membeli piyama lagi, tak ada pakaian tidur yang harus dicuci lagi, yang juga tentu akan menghemat pengeluaran. Hingga beranjak dari tempat tidur yang akan lebih terasa mudah dari biasanya.

Jika tak percaya, kita bisa mencoba membuktikan sendiri, bagaimana gejolak rasa untuk bangun dari tempat tidur ketika masih mengenakan piyama dibandingkan ketika tanpa busana. Karena mengenakan busana tidur akan membuat kita malas bergerak untuk mencopot dan berdiri dari tempat tidur, akan tetapi telanjang akan mendorong kita lebih bersemangat untuk berdiri menuju kamar mandi dan beranjak memulai aktivitas.

Hormon Kortisol yang Kerap Naik Saat Kita Kepanasan, Akan Lebih Mudah Diatur Ketika Tidur Tanpa Pakaian

Konon hormon ini bekerja dengan meningkatkan kadar gula darah melalui mekanisme glukoneogenesis, menekan kerja sistem imun, serta meningkatkan metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat. Hormon kortisol akan semakin naik dan bertambah ketika tubuh kita sedang merasa kepanasan.

Namun tidur telanjang, dengan menanggalkan pakaian dapat menjaga suhu tubuh lebih dingin, sehingga bisa tidur dengan baik. Maka tak heran jika situasi ini akan membantu tubuh kita dapat menghasilkan, serta mengatur hormon kortisol lebih optimal.

Dan Berpengaruh Juga Pada Kesehatan Organ Intim Hingga Gairah Seks dalam Hubungan Suami Istri

Khusus untuk kita yang sudah menikah, kegiatan semacam ini memang sudah tak lagi asing di mata. Karena faktanya, tidur telanjang bisa jadi salah satu cara untuk membuka peluang bersentuhan dengan pasangan lebih besar. Terlebih lagi saat kamu tidur berpelukan dengan pasangan.

Kontak tubuh semacam ini, mampu menciptakan gairah seks yang baik dalam hal hubungan suami istri. Dan berpengaruh pula pada testis yang dimiliki laki-laki, karena tidur tanpa pakaian akan membuatnya tetap berada pada suhu yang lebih dingin. Ini jelas akan menjaga kesehatan sperma dan sistem reproduksi secara normal.

Dan untuk perempuan, kondisi tidur yang begini akan membantu mencegah infeksi jamur. Karena jamur tumbuh lebih cepat dalam kondisi hangat dan lembab. Bila kondisinya relatif dingin dan kering, pertumbuhannya pun dapat dicegah.

Bahkan Dipercaya dapat Membuat Tubuh Tetap Awet Muda

Tak hanya olahraga dan menjaga pola makan saja, faktanya kegiatan tidur tanpa busana juga bisa membuat kita awet muda. Hal ini disebutkan karena pada suhu 19-21 derajat Celcius, suhu yang tubuh dapatkan ketika kita tidur tanpa pakaian, hormon HGH (Human Growth Hormone) dan melatonin akan diproduksi secara maksimal.

Dua hormon ini dipercaya sejak lama sebagai katalisator penting dalam proses detoksifikasi serta peremajaan sel-sel tubuh. Sehingga tubuh dan kulit akan berpeluang untuk terlihat lebih muda.

Hingga Mampu Menurunkan Resiko Diabetes yang Bisa Menyerang Siapa Saja

Terlihat sepele memang, namun siapa sangka jika pada salah satu jurnal yang diutarakan oleh Diabetes Journal Amerika Serikat bahwa tidur telanjang dipercaya jadi penyebab turunnya risiko seseorang menderita diabetes.

Sebab dengan begini, kita telah merangsang pertambahan jumlah brown fat, yakni jaringan lemak berwarna kecokelatan yang berfungsi untuk meningkatkan metabolisme lemak serta glukosa darah.

Tapi perlu diingat pula, aktivitas tidur telanjang ini haruslah dibarengi dengan tempat tidur dan selimut yang bersih. Karena jika ternyata tempat tidur kita kotor, hal ini justru bisa jadi sumber penyakit yang akan menyerang tubuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Bukan Hanya Minum Dengan Sedotan, Beberapa Kebiasaan Sehari-hari Ini Ternyata Juga Mempercepat Proses Penuaan

Sedotan plastik. Selain tak baik untuk lingkungan, benda tersebut ternyata jadi penyebab wajah cepat keriput. Mungkin kamu tak percaya, atau memilih abai saja toh setiap orang pasti akan mengalami penuaan, tapi kamu perlu tahu, beberapa kebiasaan nyatanya justru mempercepat proses penuaan.

Penyebabnya seringkali tidak kita sadari yang lama-lama jadi semacam kebiasaan. Karenanya, penting sekali kamu mencari tahu penyebab penuaan, setidaknya kamu jadi bisa mengantisipasinya bukan? Sekarang coba lihatlah sekitarmu, tak jarang kita menemukan orang yang usianya masih muda tapi justru sudah memiliki tanda-tanda penuaan dini.

Menonton TV Terlalu Lama Ternyata Bisa Memperpendek Usia, Ada Penelitiannya!

 Menonton televisi berlama-lama sejatinya tak baik untuk kesehatan organ tubuh terutama pinggangmu. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli di University of Queensland, setiap jam yang digunakan untuk menonton TV dapat mengurangi umur selama 22 menit. Para peneliti menganjurkan hendaknya kita perlu mencari aktivitas lain yang lebih menggerakan badan. Bahkan, orang yang menonton TV dalam waktu lama akan berisiko tinggi terkena penyakit Alzheimer.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Terlalu Percaya, Barangkali Dia Hanya Ingin Memanfaatkanmu Saja

Perihal dimanfaatkan dan memanfaatkan memang jadi sesuatu yang sulit kita baca. Karena pelakunya sering kali merupakan orang yang cukup dekat dengan kita. Benar memang, kita tak boleh main tuduh saja. Sebab bisa saja dia memang tulus menjalin hubungan dengan kita.

Namun jika ternyata perlakuan darinya kerap memberatkan, itu artinya kita perlu memasang kuda-kuda. Bukan berpikiran buruk padanya, tapi kita juga tak boleh langsung percaya. Sebab seorang serigala, biasanya mendekat terlebih dulu untuk leluasa menerkam mangsa.

Dia Selalu Di Dekatmu Saat Kamu Senang, Namun Jika Kamu Sedang Kesusahan Ia Mendadak Hilang

Untuk hal-hal yang merupakan urusan senang-senang, entah kenapa ia selalu datang meski tak diundang. Dan akan berbanding terbalik jika yang terjadi adalah sebuah kesusahan. Jangankan untuk datang dan bertanya kabar, bertemu secara tak sengaja saja seperti tak saling kenal.

Dan lebih liciknya lagi, ketika kamu mungkin coba bertanya kemana ia selama ini. Dengan cepat dan lihai, ia akan membangun sebuah cerita bohong dengan tujuan membuatmu percaya. Ia memang lihai dalam hal berbicara, untuk itu kerap membuatmu percaya.

Menempatkan Diri Sebagai Pihak yang Tak Bisa Apa-apa, Padahal Dia Hanya Ingin Bergantung Padamu Saja

“Kamu saja ya, kan kamu serba bisa,”

Jadi sebuah kalimat yang kerap terdengar darinya, bukan karena memang tulus untuk memuji kita. Trik yang ia pakai hanya sedang berusaha melindungi diri, berpura-pura seperti manusia yang tak memliki kemampuan, sehingga segala sesuatu dibebankan padamu.

Tak ada alasan untuk terus-menerus memahaminya, kamu perlu tegas untuk bilang tidak. Sebab jika terus mengikuti keinginan, dan permintaanya,  siap-siap saja ia akan melakukan hal yang sama lebih sering dari sebelumnya.

Menjadi Pendengar yang Baik Untuk Semua Keluh Kesahnya, Tapi Ia Justru Sebaliknya

Ya, kita tahu relasi yang terjalin pada dua orang berbeda jadi salah satu wadah untuk kita bertukar sapa, hingga pada hal-hal yang lainnya. Dan, selama ini kamu sebagai orang yang mengenalkan berpikir jika mendengarkannya saat ia ada dibawah tentulah adalah kewajiban, anehnya dia malah tak berpikir demikian.

Jika sedihnya adalah sedihmu juga, baginya sedihmu akan tetap jadi bebanmu sendiri. Tak ingin terbebani, ia selalu menolak untuk mendengar ceritamu. Karena dimatanya sesuatu yang terpenting adalah bisa mendapat solusi, bukan memberi solusi untuk orang lain. Ia egois, tapi kerap berlindung dengan berbagai alasan yang terdengar logis.

Bertindak Bak Orang yang Melindungi, Sebenarnya Dia Hanya Menjadikanmu Sebagai Objek Kepentingan Pribadi

Jika ini terjadi antara perempuan dan laki-laki, mungkin akan merambah ke hal-hal yang lebih spesifik lagi. Bagaimana ia berperan sebagai pangeran baik hati di depan orang, namun mendadak jadi tuan yang sewenang-wenang ketika sudah tak lagi ada orang.

Perbuatan-perbuatan baik darinya hanyalah sebuah ilusi, sebab dengan begitu ia bisa sembunyi dan melindungi diri. Seolah sedang menjaga, padahal secara tak sadar ia sedang menguras semua yang kamu punya. Cobalah ingat dulu, berapa kali ia memaksamu untuk melakukan sesuatu yang sebanarnya tak kamu mau. Jika ternyata sering, itu artinya ia memang tak benar-benar ingin mengayomi.

Bahkan Hanya Akan Datang Saat Dirinya Merasa Butuh

Ini akan jadi bukti nyata lain yang sering tak bisa kita lihat dengan cepat. Wajar memang, orang-orang seperti ini biasanya sangat lihai untuk memainkan peran. Bahkan meski sedang berbuat kejahatan ia bisa terlihat bagai malaikat pernuh berkat.

Namun jika kamu ini memastikannya secara sungguh-sungguh, perhatikanlah intensitas kedatangannya padamu. Jika ternyata ia hanya akan datang saat merasa butuh bantuan, bisa dipastikan ia memang hanya ingin memanfaatkan.

Tak perlu menyampaikannya secara langsung, sebab ia pasti punya alasan untuk bisa lepas dari tuduhan. Berjalanlah pelan-pelan untuk mundur dari hubungan. Sebab ia hanya ingin mencari keuntungan.

Dan Membuat Batasan Agar Kamu Tak Mengenal Orang-orang Terdekatnya

Pertanda lain yang bisa kamu baca, perihal bagaimana sikapnya yang sebenarnya adalah dengan melihat perlakuannya dalam hal membatasi diri kita. Entah dengan alasan apa, ada dinding pemisah yang sepertinya sengaja dibangun dalam hubungan kita dengannya. Ia tak ingin terlihat dihadapan orang yang kita kenal, tapi juga tak ingin memperlihatkan kita pada mereka yang ia kenal.

Bukan ingin mengajakmu jadi seseorang yang kerap menaruh curiga, akan tetapi jika sikapnya memang terlihat tak seperti orang atau kawan biasanya. Kamu memang patut curiga. Cobalah cari beberapa hal yang terasa janggal, selidiki lebih dalam hingga kamu bisa mendapat jawaban. Jika memang ia ternyata kerap melakukan beberapa poin yang tadi dijelaskan, bisa jadi ia memang hanya ingin memanfaatkanmu saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top