Feature

Untuk Kamu Yang Sudah Meminjam Uangku

Aku paham bahwa kondisi ekonomi memang sedang tidak mudah. Aku juga sadar bahwa mungkin tak mudah juga bagimu untuk mengatakan kamu ingin meminjam uang dariku. Aku pikir kamu sudah benar-benar terdesak pada saat itu.

Karena itu meski sedikit, aku berusaha untuk membantumu. Tak sebanding mungkin dengan beban yang harus kamu tanggung. Meski begitu percayalah aku memang ingin membantu. Tapi kemudian ada hal-hal yang aku rasa kamu perlu tahu.

Sering Kali Aku Menghubungi Memang Hanya Ingin Tahu Kabarmu Bukan Karena Ingin Menagih Utang

whatsapp

Seperti sebelum-sebelumnya, kita saling bertukar kabar. Demikian juga yang terjadi setelah PEristiwa pinjam uang itu. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Namun sayang, kamu selalu mengakhirinya dengan kata-kata “duit kamu besok ya”. Aku merasa hubungan kita tak lagi sebagai kawan. Tapi sebagai tukang tagih.

Tapi Ketika Kamu Bilang 1 Bulan, Bukankah Wajar Jika Aku Bertanya 1 Bulan Kemudian?

tanggal

Kamu yang menetapkan durasinya, bukan aku. Tapi kamu seolah menghindar ketika aku bertanya tentang utang itu satu bulan kemudian. Entah kenapa kamu justru jadi sulit dihubungi, tak seperti kemarin-kemarin.

Bukankah Wajar Aku Kembali Menagih ketika Melihatmu Pergi Berlibur, Dan Selfie Dengan Smartphone Baru?

kemping

Sungguh aku bukan iri dengan suksesnya kamu. Aku hanya merasa, mungkin kondisimu sudah jauh lebih baik. Kamu sudah bisa update instagram dan pathmu dengan foto-foto terbaikmu ketika sedang traveling. Jadi ini waktu yang tepat untuk meminta kembali hak aku bukan?

Ketika Itu Kamu Butuh, Sejujurnya Saat ini Aku Yang Butuh

dompet

Aku juga bukan orang yang sangat berada. Kondisi status sosial ekonomi kita kurang lebih setara. Ketika saat itu kondisimu kurang beruntung, aku bisa paham. Karena itu pahamilah saat ini mungkin aku juga sedang membutuhkan uang yang kamu pinjam itu.

Dan Kamu Jadi Galak Ketika Aku Meminta Uangku Kembali

menunjuk

Entah kenapa kamu berubah. Menuduhku tak peka, tak setia kawan. Padahal aku pun tidak ingin merepotkanmu, tapi aku hanya menanyakan soal janjimu. Kenapa lantas kamu block semua jalur komunikasi kita? Dimana letak kesalahanku, yang sedang bertanya baik-baik?

Ya Sudah Aku Ikhlaskan

hak rekreasi

Aku pikir persahabatan kita tak layak dipertaruhkan untuk urusan uang ini. Aku ikhlaskan uang pinjam itu menjadi milikmu. Anggaplah itu pemberian kecil dari kawan lamamu yang memahami betapa sulitnya himpitan hidup saat ini. Bisakah kita kembali berteman?

Lalu Kamu Datang Dan Bilang Lagi: “Aku Sedang Butuh, Aku Mau Pinjam Uang Lagi!”

berbohong

Bukan aku tak mau membantumu. Tapi aku belajar dari yang sudah lalu. Rasanya cukup aku tak bisa membantumu lagi.

Fakta-fakta Soal Meminjamkan Uang Ke Teman

emosi uang

1. Survey CCN Money menyebut, 43 persen orang yang meminjamkan uangnya tidak memperoleh uangnya kembali secara utuh

2. Survey yang sama menyebut 23 persen diantaranya bahkan tidak menerima kembali uangnya sama sekali

3. Perhatikan apakah kawanmu sedang meminta pinjaman atau sedang mengajakmu berinvestasi. Ada dua perbedaan tegas diantaranya. Kamu harus ikut menanggung untung rugi jika itu berbentuk investasi, dan jangan ngotot meminta pengembalian uang.

4. Tidak ada salahnya menuliskan pinjaman itu diatas bukti hitam putih. Ini untuk menjaga perasaan masing-masing dan terlupa satu sama lain.

5. Utang itu pada seringnya membuat diri: Merasa Hina di Siang Hari, Membuat Gelisah di Malam Hari

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top