Feature

Aku Bukan Pengangguran, Cuma Tidak Ada Kantor. Aku Freelancer!

Buat sebagian orang bekerja lepas alias menjadi freelancer itu seperti mimpi jadi kenyataan. Menjadi bos terhadap diri sendiri, jam kerja yang diatur sendiri, kesuksesan tak bergantung dari siapa pun selain diri sendiri. Terdengar utopis bagi mereka yang masih bekerja rutin di kantor.

Benar seindah itu? Bisa saja benar! Tapi layaknya sendi kehidupan yang lain, bekerja freelance juga ada kadang suka kadang duka. Hanya para freelancer full time yang memahami ini.

Tak bergabung dengan Kantor Manapun Berakibat Sering Dituduh Pengangguran

nasehat

Tak semua orang melek pekerja lepas. Apalagi para orang tua yang masih punya anggapan bahwa bekerja itu haruslah masuk kantor jam 9 dan pulang jam 5. Coba saja jelaskan pada calon mertua, kalau kamu itu bekerja lepas. Niscaya, kamu kesulitan bertemu lagi dengan kekasih pujaan keesokan harinya. Yup, tidak bekerja di kantor memang kerap disamakan dengan pengangguran.

Tidak Punya bos? Kadang (sering) klien itu lebih bossy dari bos beneran loh

marah

“Enak ya gak punya bos, gak ada yang perintah-perintah”

Itu komentar paling umum yang diterima para pekerja lepas. Padahal hal ini tidak sepenuhnya benar. Bekerja freelance berarti bertanggung jawab kepada klien. Dan ketika dalam kantor atasan kita bisa jadi hanya supervisor atau manajer. Ruang lingkupnya hanya di satu divisi.

Berbeda ketika menjadi freelancer. Klien itu sama dengan bos, sama dengan HRD, sama dengan orang keuangan. Jadi bayangkan kamu harus mempertanggung jawabkan pekerjaan kepada orang yang menjadi atasanmu sekaligus yang bisa memecatmu dan juga yang menggaji langsung dirimu. Itu lebih daripada bos biasa.

Gajinya Tak Berbatas Macam Pegawai! Iya Juga Tak Berbatas Bawah

dompet

Betul penghasilan seorang pekerja lepas tak seperti pegawai yang sudah ditetapkan menerima sekian angka setiap bulannya. Tapi perlu diingat freelancer itu menerima bayaran hanya ketika dapat project alias ketika ia bekerja.

Waktu pembayaran pun bervariasi. Ada yang setiap minggu, setiap bulan, ketika proyek selesai. Tapi tak sedikit yang dibayar dalam tempo mundur ke belakang. Bisa dua atau tiga bulan setelah proyek selesai. Jadi ya memang tak berbatas penghasilan pekerja lepas itu, tapi berarti pula bisa di batas paling bawah alias tak punya uang.

Enak Betul Tak Perlu Ke Kantor! Benarkah?

montir

Seorang freelancer bebas mengerjakan pekerjaannya dimana pun kamu suka. Terkadang pergi ke sebuah kafe untuk dapat menikmati wi-fi gratis sambil minum secangkir kopi. Namun ada kalanya saat kamu terlanjur datang ke kafe dan memesan secangkir kopi yang bertarif lumayan mahal dengan satu porsi makanan, wi-fi tidak tersambung di laptopmu. Bahkan kamu tak bisa menggunakan laptopmu karena tidak ada colokan untuk mencharge.

Bekerja di rumah juga bisa jadi malah tak produktif. Siapa sih yang bisa rajin bekerjaa kalau kasur selalu memanggil-manggil dari kamar tidur. Karena itu tempat kerja ini sering kali jadi masalah.

Kata Siapa Pekerja Lepas Bisa Libur Kapan Saja?

bijak menulis

Tidak ada kepastian liburan untuk para freelancer. Kamu akan bekerja saat ada job. Kapan pun job itu kamu terima, kamu harus secepat mungkin menyelesaikannya. Sehingga terkadang saat diadakan liburan bersama keluarga, seringkali kamu harus menetap di rumah dan menyelesaikan pekerjaannya. Mengucapkan selamat tinggal pada liburan bersama sering kamu lakukan.

Jarang berkomunikasi dengan orang lain

menyerah

Dengan menjadi freelancer, dimana pun kamu berada, kamu dapat tetap bekerja dan menghasilkan rupiah. Kamu akan tahu betapa bernilainya waktu. Karena itulah kamu akan jarang mengobrol dengan semua orang sepanjang hari. Hal itu karena kamu sibuk dengan urusanmu sendiri. Saat suatu hari kamu bertemu dengan orang di sekelilingmu, terkadang kamu merasa merugi karena terlalu banyak menghabiskan waktumu sendirian bersama pekerjaanmu. Karena jarangnya komunikasi yang dilakukan, terkadang kamu akan merasa canggung dalam berkomunikasi.

Berteman dengan kebosanan dan kesibukan

menunda pekerjaan

Pekerjaan yang ada untuk para freelancer tidak tentu. Terkadang saat tidak ada pekerjaan yang dikerjakan kamu akan merasa bosan. Kamu akan berusaha menghabiskan waktumu dengan sebaik mungkin. Bisa dengan menonton film atau berjalan-jalan ke suatu tempat. Tapi saat pekerjaan datang dalam jumlah yang sangat banyak, terkadang kamu merasa kewalahan untuk mengerjakannya.

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pergi ke Bandung, Bisa Lewat Banyak Cara. Kamu Pilih yang Mana?

Untukmu yang tinggal di kawasan Jabodetabek, mungkin agak suntuk kalau menghabiskan waktu liburan atau akhir pekan hanya di sekitaran tempat tinggalmu. Ingin rasanya pergi sejenak ke luar kota demi menghilangkan kepenatan setelah lima hari dalam seminggu suntuk bekerja di Ibukota. Kota terdekat yang biasanya jadi tujuan warga Jabodetabek untuk berlibur ya salah satunya Bandung.

Berjarak sekitar 150 km dari Jakarta, Bandung menawarkan suasana yang kontras nan asri dibanding Jakarta. Meski tak dipungkiri, kemacetan kini juga mendera kota tersebut—terutama saat hari libur, tapi tak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Bandung. Akhir pekan biasanya dipilih, terutama bila ada tanggal merah di hari Jumat, Bandung akan tumpah ruah oleh wisatawan asal Jabodetabek. Menariknya, kini kita tak lagi dipersulit untuk akses ke Bandung. Kamu sendiri, bagaimana? Kalau diminta memilih, kamu akan ke Bandung naik apa?

Naik KRL Disambung Kereta Ekonomi. Meski Memakan Waktu, Setidaknya Tak Memakan Banyak Biaya Perjalanan

Tahukah kamu kalau ongkos ke Bandung bisa bermodalkan kurang dari Rp 30 ribu? Untukmu yang terbiasa naik KRL, barangkali perlu mencoba. Karena ternyata pergi ke Bandung bisa dengan sambung-menyambung KRL sehingga tak memakan ongkos yang cukup banyak. Caranya, dari stasiun asalmu, kamu naik KRL hingga Stasiun Manggarai.

Dari stasiun Manggarai yang adalah stasiun transit, sambung lagi dengan menaiki KRL dengan tujuan akhir Stasiun Cikarang. Selanjutnya, dari Stasiun Cikarang kamu beralih ke kereta ekonomi Walahar jurusan Purwakarta dengan harga tiket Rp 6 ribu. Baru dari Purwakarta, kamu kembali naik kereta ekonomi Cibatuan menuju Bandung hanya dengan tarif Rp 8 ribu. Coba hitung, ongkos perjalananmu dari Jakarta menuju Bandung tak sampai Rp 30ribu. Hemat bukan?

Beli Tiket Bus Travel Agar Tak Lelah dan Bisa Tidur Sepanjang Perjalanan

Kalau tak ingin lelah selama perjalanan ke Bandung, kamu bisa memilih untuk naik bus travel. Apalagi varian bus travel kian beragam dan semakin menawarkan kenyamanan sepanjang perjalanan. Alih-alih lelah, kamu justru bisa tertidur lelap selama perjalanan.

Keberadaan jalan tol Cipularang pun mempercepat perjalananmu dari Jakarta ke Bandung. Di luar adanya situasi waktu tempuh hingga ke pintu tol daerah Bandung bisa dipersingkat hanya 3 jam saja. Nantinya sampai tujuan, kamu cukup check in di penginapan dan melanjutkan agenda jalan-jalanmu. Efisien dan menyenangkan, bukan?

Naik Kereta Argo Parahyangan Demi Efisiensi Waktu

Kereta Argo Parahyangan sudah jadi primadona bila ingin bepergian dari Jakarta ke Bandung. Harga tiket dibawah Rp 100 ribu terbilang cukup terjangkau lantaran fasilitasnya juga mumpuni selama penumpang berada di dalam gerbong kereta. Belilah tiket dari jauh-jauh hari. Karena walaupun hanya bepergian ke Bandung, tiket kereta yang satu ini cukup banyak peminatnya.

Kereta ini memulai rutenya dari Stasiun Gambir dan berakhir di stasiun tujuan, Stasiun Bandung. Hal menarik lainnya kalau kamu memilih naik kereta Argo Parahyangan yaitu pemandangan selama di perjalanan. Rute kereta yang satu ini akan melewati jalur yang cukup ekstrem namun tetap aman. Sebagian dari penumpang mengaku penasaran dan memilih naik kereta ini lantaran ingin menikmati sensasinya berkereta lewat jalur yang ekstrem.

Kalau Pergi Sekeluarga Mungkin Memang Lebih Baik Menyewa Mobil Pribadi

Sementara untukmu yang mungkin memang berencana pergi ke Bandung bersama keluarga besar, memang lebih baik berkendara dengan mobil pribadi. Meski tak senyaman naik travel, yang terpenting kamu tiba di tujuan dengan selamat, bukan? Lagi pula, selama perjalanan, kamu dan anggota keluargamu bisa menghabiskan waktu dengan bercengkrama. Kalau sepanjang hari kerja kamu sukar sekali menemukan momen semacam ini, maka biarlah perjalanan ke Bandung jadi kenangan yang menarik untuk keluargamu.

Tapi Kalau Pergi Bareng Teman Sepermainan, Sangat Disarankan untuk Touring Demi Menambah Pengalaman

Touring ke Bandung? Pasti seru! Apalagi kalau hal ini sudah masuk agendamu bersama kawan-kawan sejak jauh-jauh hari. Kapan lagi kamu bisa berkendara sembari membuat momen agar diingat sampai hari tua? Soal persiapan, H-sebulan sebisa mungkin kamu berdiskusi dengan teman-temanmu agar rencana touring bisa dieksekusi. Terpenting, keselamatan dan keamanan saat berkendara yang pasti harus jadi dua hal utama. Meski mungkin kamu terbiasa touring dengan jarak melebihi Jakarta-Bandung, ingatlah mungkin touring kali ini akan memberikan pengalaman berbeda. Tetap buatlah perjalanan kali ini jadi mengesankan.

Soal kendaraan, kamu bisa mempercayakan kuda besi dari Suzuki yaitu Suzuki GSX-S150. Kamu jangan khawatir, tak hanya nyaman dipakai berkendara sehari-hari, motor ini pun tetap menunjukkan performa yang mumpuni untuk durasi perjalanan jauh.

Untuk urusan dapur pacu GSX-S150 ini disematkan mesin berkapasitas 150 cc DOHC yang sama dengan saudaranya tipe R. Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-S150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

Tipe GSX-S150 ini memang bergaya street fighter yang juga mengadopsi tampilan touring yang cocok untuk perjalanan jauh. Karena itu posisi berkendaranya tak terlalu menunduk macam di tipe R. Handle barnya dibuat lebar dengan posisi yang berada tinggi di atas tangki dan tempat duduk. Tentunya gaya berkendara ini dimaksudkan agar pengemudi tak lekas lelah dalam perjalanan jauh.

Manajemen mesin GSX-S150 ini dilengkapi dengan 6 sensor untuk efisiensi kerja untuk membuat konsumsi bahan bakar lebih ekonomis. Sistem pengapiannya disebut closed loop, dengan adanya oksigen sensor pada pembuangan yang bisa dibilang jarang diterapkan pada motor sekelasnya. Ini juga termasuk penerapan throttle body diameter 32mm dan injektor 10 lubang produk Mitsubishi agar pengabutan campuran bahan bakar lebih atomized. Sebagai bocoroan, teknologi ini serupa yang ada pada GSX-R 1000 loh.

Serunya performa tinggi ini diimbangi dengan radiator yang besar. Dengan ukuran pendingin air yang besar ini, diharapkan suhu mesin akan tetap optimal meski dipacu dengan tenaga maksimal. Dan pastinya akan tetap nyaman jika dipakai dalam durasi perjalanan jauh atau untuk dipakai harian.

Konsisten dengan konsep ini, tangki dibuat aerodinamis dengan bentuk melengkung. Kapasitasnya yang mencapai 11 liter, dipastikan cukup untuk mencapai jarak tempuh jauh. Meski aerodinamis  justru penampilan GSX-S150 ini terlihat cukup gagah. Dijamin perjalan touring ke Bandung akan jadi momen tak terlupakan.

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perubahan Pasti Terjadi, Termasuk Saat Bertemu Dia yang Selama Ini Kamu Cari

Setelah sekian lama mencari, akhirnya kamu menemukan dia yang sekarang jadi pasanganmu. Kesukaran saat mencari memang masih membekas dalam hati, namun hidupmu jauh lebih bahagia sekarang. Tak lagi kamu merasa sendiri dalam menjalani kehidupan.

Sekarang ada teman berbagi baik dalam suka maupun lara. Sadar tak sadar, tapi yang pasti, kamu pun merasakan ada perubahan yang terjadi dalam hidupmu. Ya, asmara dan afeksi pasti memberikan dampak tersendiri untukmu.

Kamu Tak Lagi Merasa Sendirian, yang Ada Justru Merasa Aman dan Tenteram

Kamu bertemu dengan dia yang selama ini kamu cari sebab dia benar-benar mau menerimamu apa adanya. Betapa menyenangkan, kamu tak perlu berpura-pura jadi orang lain saat sedang dihadapannya hanya demi membuatnya tetap berada di dekat kita.

Kamu yang punya selera dan porsi makan yang banyak, suka tertawa, bahkan tak bisa jaim, semua fakta itu tak perlu kamu sembunyikan. Yang terpenting, tak ada lagi perasaan kesepian semenjak kedatangannya. Di lain sisi, hadirnya sudah mampu membuatmu merasa aman dan tenteram.

Hatimu Akan Berhenti Bertanya-tanya Serta Tak Akan Banyak Drama

Kamu dan dia sudah saling percaya sehingga tak perlu mengintrogasi pasanganmu lagi. Rasa percaya itu muncul lantaran kalian sudah saling menjaga hati satu sama lain. Ya, saling percaya dan menjaga perasaan masing-masing justru semakin menyehatkan hubunganmu. Di lain sisi, bersama orang yang tepat akan membuat kisah cintamu minim drama.

Masing-masing darimu memilih untuk tidak egois atau memaksa kehedak sendiri. Justru, kalian saling memberi dukungan terhadap masing-masing agar bisa bersikap terbuka dan tak perlu mengumbar kode yang membingungkan.

Bersamanya, Kamu Tak Akan Mempermasalahkan Hal-hal Kecil yang Bisa Memicu Konflik

Kamu sudah bisa memaknai arti sebenarnya dari sebuah hubungan saat bersamanya. Saat ada masalah pun kalian sudah mengerti bagaimana mengatasinya tanpa perlu membesar-besarkan masalah tersebut.

Karena kalian saling memahami bahwa masalah kecil lebih baik segera diselesaikan dibanding jadi pemicu konflik. Kalian saling meyakini bahwa tiap masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

Kalau Dipikir-pikir, Ternyata Kamu dan Dia Punya Banyak Sekali Kemiripan

Kemiripan yang satu ini bukan perkara wajah, namun soal pola pikir, hobi, selera humor, sampai musik pun ternyata kalian nyambung. Kesamaan semacam ini yang semakin menyatukan kalian. Rasanya, membicarakan banyak hal dengannya tak pernah menemukan kata bosan sebab kamu selalu menemukan bahan pembicaraan yang baru.

Ditengah Kesibukannya, Dia Tetap Memprioritaskanmu

Sesibuk apapun aktivitasnya, dia akan tetap membalas pesan dan mengabarimu. Ya, dia tak akan membuatmu menunggu berjam-jam perihal kabarnya. Karena yang namanya menghubungimu adalah sesuatu yang sudah jadi prioritasnya tanpa perlu diminta.

Di lain sisi, pelan tapi pasti kamu pun mulai memahami yang namanya dinamika sebuah hubungan meski tak selalu bertemu setiap saat, pada akhirnya kamu akan tetap jadi prioritasnya.

 

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kawan, Kita Tak Sedang Bekerja di Jepang, Rileks Saja dan Buat Suasana Kerja Terasa Menyenangkan

Bagi yang pernah baca soal Jepang atau bahkan tinggal di negara tersebut, pasti sudah tahu kalau budaya kerja di Negeri Sakura bisa dibilang cukup keras. Sebagian besar orang-orang Jepang terkenal workaholic sehingga persaingan antar individu di tempat kerja jelas terasa.  Mereka rela menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja hingga pekerjaan mereka di hari itu selesai. Hanya saja, bekerja dalam kondisi seperti ini rentan membuat fisik cepat lelah dan pikiran jadi stres, lantaran seperti tak diberi ruang untuk rileks.

Kamu boleh banyak-banyak bersyukur, suasana kerja di Indonesia belum sekeras di Jepang. Meski kita tak bisa mengelak, setiap pekerjaan pasti memiliki tuntutan besar terhadap para pegawainya, tapi setidaknya lingkungan kerja di negara kita masih terbilang kondusif. Menciptakan suasana kondusif pun sejatinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin sebagian dari kita masih ada yang bergulat dengan pekerjaan yang melelahkan sekaligus tempat kerja yang tak menyenangkan. Ketika tempatmu tak menjanjikan suasana yang kamu dambakan, mengapa tidak kamu saja yang coba ciptakan?

Coba Bangun Suasana yang Menyenangkan saat Bekerja dengan Memancing Gelak Tawa

Buat tempat kerja menjadi menyenangkan. Percayalah, ketika tempat kerja terasa kondusif, tidak kaku, terkesan nyaman dan enak untuk bekerja, pasti kamu tak akan bosan saat bekerja. Tatalah ruangan kerjamu agar memberi kesan lebih terbuka. Atur juga komunikasi dengan teman-teman di sekitarmu. Sesering mungkin tertawalah dengan canda tawa yang bergulir agar suasana menjadi santai. Selain itu, kamu juga bisa menambahkan dekorasi atau tanaman hias sesuai dengan keinginan agar lebih rileks.

Terapkan Kesan Serius Tapi Tetap Santai dimanapun Kamu Berada

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, tertawa itu perlu agar kamu tak bosan saat bekerja. Terkadang para karyawan melakukan senda gurau bukan karena mereka memang tipe orang yang suka bercanda, dan menghabiskan waktu, serta tidak bekerja. Justru itu merupakan salah satu kegiatan mereka di kala sedang stres atau sedang suntuk dengan pekerjaan. Jadilah pribadi yang menerapkan kesan kerja yang serius namun santai di lingkungan kerjamu. Dengan adanya keakraban yang terjalin lewat obrolan ringan, bukan tak mungkin karyawan justru jadi bekerja lebih produktif.

Kalau Kamu punya Jabatan Sebagai Atasan, Jangan Ragu untuk Memberi Tanggung Jawab kepada Anak Buahmu

Jika posisimu bukan lagi karyawan biasa, melainkan atasan yang harus mengarahkan anak buahmu, jangan ragu untuk memberi tanggung jawab dan otonomi pada segenap anak buah agar mereka bisa semakin berkembang. Memang perlu bimbinganmu, tapi dengan menerapkan prinsip kerja semacam ini, sejatinya akan sangat mendukung kreativitas. Kalau karyawan sudah merasa tertarik dengan tanggung jawab yang diberikan padanya, mereka pasti akan lebih bersemangat dalam bekerja dan mengejar target bersama.

Bangunlah Komunikasi dengan Rekan Kerja Sesering Mungkin

Fungsi komunikasi jelas penting bukan? Dengan adanya komunikasi akan menjadi jelas mengenai apa yang diharapkan dari atasan dan hal-hal apa yang bisa diperbaiki dari sistem kerja kita sebagai karyawan. Setidaknya kita bisa sama-sama tahu dan mengevaluasi, apakah telah sesuai atau ada yang harus diperbaiki atau mungkin ada hal-hal lainnya yang harus dilakukan. Komunikasi tak hanya saat rapat mingguan saja, bangunlah keakraban setiap harinya supaya tidak ada rasa canggung antara satu dengan yang lainnya.

 

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Gaya Hidup dan Kebiasaan Generasi Milenial Berpotensi Memicu Bangkrut di Usia 40-an

Melancong dan hobby nongkrong, barangkali jadi dua hal yang kerab akrab pada generasi milenial. Yaap, orang-orang yang kebetulan lahir pada periode tahun di atas tahun 1980-an hingga tahun 1997, diprediksi memiliki kemungkinan terpuruk dalam segi keuangan di usia 40.

Dari beberapa penelitian, konon hal ini disebabkan karena kita sulit untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran. Menikmati hidup digadang-gadang jadi sesuatu yang sedang dijalankan, kita mungkin memang sering lupa jika hidup bukan untuk hari ini saja.

Gambaran sikap ini memang tak serta merta tumbuh begitu saja. Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, juga berpengaruh untuk membentuk pribadi seorang manusia. Tak terkecuali para generasi Milenial yang tak lain adalah kita.

Dan menurut Prita Ghozie, CEO ZAP Finance beberapa kebiasaan tersebut tak lepas dari slogan “You Only Live Once” atau lebih dikenal dengan “YOLO”. Tak hanya Itu saja, Jason Vitug dalam buku You Only Live Once: The Roadmap to Financial Wellness and a Purposeful Life (2016), mengatakan bahwa slogan YOLO menjadi ekspresi akan ketidakpastian hari esok. Slogan ini mengajarkan untuk meraih kesempatan dan hidup dengan bebas. Dan setidaknya ada 3 hal utama yang menyebabkan kebangkrutan di usia 40.an nanti.

Membeli Sesuatu Bukan Karena Kebutuhan, Jadi Gambaran Jika Kita Nampaknya Tak Punya Tujuan

Katakanlah kamu dan saya kini sudah berada pada rentan usia 24-26 tahun, bukannya belajar untuk mulai menabung. Kita lebih suka bepergian meski tanpa alasan yang jelas. Barangkali sosial media dan gambaran kehidupan didalamnya jadi salah satu alasan, mengapa kita kerap terjebak dalam perilaku yang seperti ini. Mulai dari membeli barang hanya karena tren, hingga nongkrong di tempat kece hanya untuk sebuah foto di feed instagram.

Maka bukan tidak mungkin, jika masih saja terus menerus seperti ini. Benar, pada usia 40 tahun kita mungkin akan bangkrut karena tak bisa mengelola keuangan. Dan salah satu gambarannya, bisa kita lihat pada hasil riset yang dilakukan oleh rumah123.com dan karir.com, dimana gaya hidup generasi milenial di Indonesia (25-35 tahun) lebih mengutamakan aktivitas travelling ketimbang membeli rumah.

Lebih Besar Pasak daripada Tiang, yang Berarti Kita Gagal dalam Hal Mengatur Keuangan

Berapa banyak dari kita yang masih, membuat catatan atau list secara manual kemana hasil pendapatan akan ditempatkan? Mulai dari berapa biaya transport untuk ke kantor, alokasi uang untuk makan sebulan, berapa persen gaji yang akan dijadikan tabungan, hingga biaya lain-lain yang juga perlu untuk disediakan.

Penghasilan yang sejatinya bisa dipakai untuk tabungan dan hidup yang lebih baik, lebih sering kita pakai hanya untuk bertahun hidup dalam sebulan. Bahkan jangankan untuk menunggu tanggal gajian, uang yang diterima biasanya hanya akan habis bergitu saja. Tanpa menempatkan dana sesuai kebutuhan.

Salah satu contohnya adalah perilaku konsumtif yang ditunjukkan dengan makan di tempat-tempat mewah. Hal ini dibuktikan dengan, penggunaan kartu kredit Bank of America Merrill Lynch yang dikutip Weforum.org menunjukkan jika restoran adalah muara terbesar dari uang milik milenial di Amerika Serikat, dengan sebanyak 23,8 persen pengeluaran kita pakai hanya untuk makan di restoran.

Seolah Hidup Untuk Hari Ini Saja, Sebagian Besar dari Kita Tak Punya Dana Darurat Untuk Situasi yang Mendesak Lainnya 

Bersenang-senang bukanlah sebuah pilihan yang salah, bahkan jika kamu akan bilang jika harus bisa bahagia seolah-olah esok tak akan lagi ada di dunia. Itupun bisa diterima. Tapi, kehidupan yang kita jalani adalah sebuah fakta, bukanla ilusi dengan bayang-bayang bermodal perkiran-perkiraan akan hal-hal yang senang-senang saja.

Coba bayangkan, jika suatu waktu ada sesuatu yang terjadi di luar rencana. Sakit penyakit ataupun kesialan yang mungkin menimpa kita. Alih-alih masih bisa tetap tenang karena punya uang simpanan, seringnya kita mungkin akan merelakan aset untuk dijual demi memenuhi kebutuhan.

Tak bisa dihindari, jika memang tak ingin bakrut pada usia 40.an, kita memang harus bisa berhitung tentang berapa kebutuhan dana yang diperlukan untuk memenuhi pengeluaran yang sifatnya wajib, butuh, atau hanya ingin saja.

Hal lain yang mungkin bisa dipilih, dengan menempatkan 10 persen gaji untuk investasi, tapi jangan dipakai hingga usia 40 tahun nanti.

 

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top