Feature

Followernya Banyak, Yang Mention Sering, Tapi Sedikit Yang Tahu Siapa Dia!

karakter penulisan

“Min, cara restart Tipe S6, gimana ya?”

“Sis, barangku kok gak sampe-sampe?”

Tak satu dua kali kita berhubungan dengan akun menggunakan komunikasi seperti itu. Bisa itu akun milik perusahaan, brand atau justru fanpage sejumlah public figur. Jumlah followernya tak sedikit, kalau diperhatikan mentionnya pun bisa ratusan perhari. Bayangkan akun telkomsel misalnya di mention 49 ribu kali lebih di bulan maret yang lalu saja.

Tapi sedikit yang tahu siapa orang yang berada di balik akun-akun tersebut. Secara pakem mereka disebut sebagai Social Media Specialits atau ada juga yang menyebutnya dengan Social Media Admin. Jumlahnya bisa jadi tidak cuma seorang dalam satu akun, bisa sampai dikelola tim yang berisi lebih dari sepuluh orang.

Enak ya kerjanya hanya posting, bersosial media kemudian dibayar. Mungkin kamu berpikir begitu. Tapi sesungguhnya, mereka juga manusia yang utuh, bukan akun digital yang tak punya rasa. Bahkan mungkin pekerjaannya tidak seasyik yang dibayangkan. Berikut beberapa fakta yang hanya sedikit orang tahu tentang social media specialist.

Karena Admin Itu Bukan Cuma Posting Status

sosmed admin

Ini bukan akun personal yang bisa sesuka hati diisi apa saja. Social Media Specialist adalah perwakilan dan corong utama sebuah brand di dunia gital. Wajar jika mereka diwanti-wanti untuk hati-hati menjalankan tugasnya.

Mereka harus membuat perencanaan konten yang matang. Secara garis besar ada sejumlah strategi yang harus mereka buat, mulai dari strategi menambah jumlah follower, meningkatkan engagement, sampai menghadapi komplain.

Setelah semuanya selesai, mereka sudah dinanti oleh beban report yang tak mudah. Ini semacam laporan pertanggung jawaban. Kemampuan komunikasi, digital hingga statistik wajib dikuasi oleh mereka.

Karena Kadang Batas Gender Tidak Jelas

gender sosmed

Siapa bilang akun belanja dengan target ibu-ibu adminnya perempuan? Siapa pulak yang yakin kalau akun situs modifikasi kendaraan bermotor yang sarat laki-laki, adminnya juga pria?

Ya jangan salah, ini tantangan lain yang dimiliki para Social Media Specialist. Apalagi untuk mereka yang bekerja di perusahaan besar dengan brand yang beragam. Bisa saja dipindah tugaskan untuk menangani brand yang berbeda dengan gendernya.

Mereka harus sigap melakukan pendekatan yang tetap. Pola komunikasi harus dengan cepat disesuaikan. Ini bukan perkara mudah, mungkin setara para aktor atau aktris. Bedanya, nama mereka tak pernah muncul di kredit title manapun.

Karena Kepo Sudah Jadi Jati Diri

sosmed kepo

Lelah memang menjadi seorang stalker yang selalu kepo terhadap akun orang lain. Tapi ini seperti jadi tugas resmi tak resmi seorang Social Media Specialist. Sejumlah akun kompetitor pasti dimasukan dalam list yang terus dipantau.

Ada tekanan bahkan perasaan sedih, ketika admin lain berhasil membuat gelombang viral dalam akunnya. Dorongan gemas untuk bisa berbuat sama seketika muncul pada saat itu juga. Hidup jadi tak tenang? Iya kadang seperti itu!

Karena Jam Kerja Pun Ikut Tak Jelas

social media admin

Buat yang mendambakan bekerja rutin masuk jam 9 pulang jam 5, jangan coba-coba melamar kerja sebagai Social Media Specialist. Apalagi untuk mereka yang menghandle sendiri alias tidak ada dukungan tim.

Dunia digital dan internet tak seperti kantor yang mengenal jam kerja dan tutup khan? Bisa saja diwaktu-waktu tertentu ada hal dengan urgensi tinggi yang perlu dieksekusi saat itu juga. Impian weekend dengan tenang, liburan menyenangkan sering kali hanya tinggal impian buat mereka.

Karena Kepribadian Jadi Berantakan Tak Jelas

kepribadian sosmed

Ya, batas antara dunia pekerjaan jadi samar. Sering kali gaya bicara, memanggil kawan bahkan update status dan twit di akun personal masih dengan gaya bahasa yang sama. Bayangkan seandainya akun personal dan akun brad yang dimanage berbeda gender misalnya.

Belum lagi, keterikatan terhadap produk jadi sangat tinggi. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari pun mereka jadi fans paling militan dari produk yang ditanganinya. Tak sedikit pula Social Media Specialist yang menghandle lebih dari satu akun brand.

Aneh, tapi begitulah adanya. Jadi jika suatu saat ingin berumpah serapah komplain terhadap akun sebuah brand, ingatlah bahwa ada seseorang nyata di belakang akun itu. Ada orang yang mungkin harus standby 24 jam, tak jelas batas gendernya, dituntut menguasai banyak bidang sekaligus harus kepo. Pahamilah mereka!

2 Comments

2 Comments

  1. yulia

    May 8, 2015 at 10:56 am

    wah.. Jadi mikir-mikir lagi untuk terjun bebas jadi social media admin. Btw, klo ngga kepo ga bisa jd admin ya, hehehehe ?

  2. Sersan Tips

    May 9, 2015 at 6:47 am

    berat juga ya, bahkan bekerja hanya dengan mengetik-ngetik di android bisa berat juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

2 Comments

2 Comments

  1. yulia

    May 8, 2015 at 10:56 am

    wah.. Jadi mikir-mikir lagi untuk terjun bebas jadi social media admin. Btw, klo ngga kepo ga bisa jd admin ya, hehehehe ?

  2. Sersan Tips

    May 9, 2015 at 6:47 am

    berat juga ya, bahkan bekerja hanya dengan mengetik-ngetik di android bisa berat juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Kamu Yang Gemar Berbohong Demi Simpati Dan Pujian, Kamu Itu Sakit Mythomania!

hidung gatal bohong

Kemarin kita sempat tersentak oleh Dwi Hartanto. Anak muda bergelar profesor yang sempat dijuluki “The Next Habibie” dengan segudang prestasi. Penyebutan sebagai “penerus habibie” memang bukan tanpa alasan.

Sebab, Dwi adalah salah satu orang Indonesia yang dianggap mempunyai capaian luar biasa untuk disandingkan dengan BJ Habibie. Pada tahun 2015, ia muncul di media massa atas karyanya di dunia aeronautika, karena disebut menciptakan Satellite Launch Vechile/SLV dengan teknologi termutakhir yang disebut The Apogee Ranger V7s (TARAV7s).

Tapi toh, kehebohan terakhir kemarin sedikit berbeda. Bukan karena prestasinya, tapi justru karena publik akhirnya mengetahui bahwa semua klaim prestasi Dwi Hartanto selama ini adalah kebohongan semata. Jangankan soal satelit, bahkan urusan gelar profesor pun ternyata belum dimiliki oleh Dwi yang masih berstatus mahasiswa doktoral.

Ini Bukan Kasus Besar Pertama, Malasnya Media Melakukan Investigasi Dituding Sebagai Penyebab

Ini memang bukan kali pertama publik kecele luar biasa dengan klaim sesat macam ini. Peran media yang cenderung malas menginvestigasi dituding jadi penyebab mudahnya orang macam Dwi mendapat panggung.

Kamu tentu masih ingat soal pria bernama Joko Suprapto yang mengklaim air yang bisa menggantikan bensin. Tidak main-main pria asal nganjuk Jawa Timur itu bahkan sampai diundang bertemu Presiden SBY di tahun 2007. Belakangan klaim soal energi air ini diketahui sesat dan tidak benar. Trafo pembangkit listrik yang semula didirikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dibongkar dan ditemukan bahwa pembangkit listrik itu ternyata palsu.

Hal tersebut hanya secuil dari deretan kasus serupa. Mulai dari calon suami artis yang mengaku bekerja di Bulog, selebritis mengaku keturunan bangsawan hingga soal puisi-puisi adik sekolah menengah atas yang sempat heboh kemarin dan ternyata hanya di copas dari luar negeri.

Di Dunia Pun Skandal Pembohongan Publik Macam Ini Juga Terjadi 

Kasus besar seperti ini memang tak cuma di Indonesia. Di luar negeri “pembohong besar” macam ini juga ditemukan. Salah satu contoh paling parah adalah skandal Enric Marco. Pria Spanyol ini menghabiskan 30 tahun hidupnya dengan mengatakan bahwa dirinya telah dipenjara oleh Nazi di kamp konsentrasi Flossenburg, Jerman. Dia menerima penghargaan dari dunia internasional atas keberaniannya. Namun belakangan ditemukan bahwa Enric Marco hanya bohong belaka. Bohong selama 30 tahun lamanya!

Mereka Yang Gemar Berbohong Macam Ini Terkena Sakit Mythomania 

hidung gatal bohong

Di dunia psikologi, ada istilah mythomania atau kebohongan patologis. Seorang pembohong patologis tak hanya untuk mengelabui orang lain, tapi juga membohongi dirinya sendiri hingga ia percaya kebohongan itu benar.

Berbeda Dengan Orang Umumnya, Mythomania Berbohong Bukan Karena Ingin Mengambil Keuntungan

Semua orang pasti pernah berbohong dalam hidupnya. Namun kebohongan yang dilakukan oleh penderita gangguan Mythomania ini berbeda dengan kebohongan yang dilakukan orang umum.

Orang umum biasanya berbohong karena mekanisme pertahanan diri atau karena ingin mendapatkan keuntungan. Misalnya berbohong pura-pura sakit ketika hendak diperiksa KPK, karena tak mau bertanggung jawab. Atau berbohong hendak memberangkatkan puluhan ribu jemaah umroh padahal uangnya dipakai berfoya-foya.

Hal semacam itu tidak termasuk Mythomania. Karena pada penderita Mythomania, kondisi dan keadaan mereka sebetulnya tidak membutuhkan mereka berbohong. Dan mereka juga berbohong bukan karena ingin mengambil keuntungan.

Mythomania Berbohong Untuk Mendapatkan Simpati Dan Pengakuan, Kamu Salah Satunya?

Nah, pada penderita gangguan Mythomania, mereka berbohong hanya demi mendapatkan simpati dan pengakuan dari orang lain. Ketika ingin mendapatkan simpati mereka cenderung memperparah kondisi mereka yang sebenarnya. Menunjukan betapa tidak beruntungnya keadaan mereka. Betapa menderitanya hidup mereka.

Dan Sebaliknya ketika ingin mendapatkan pujian mereka cenderung melebih-lebihkan pencapaian mereka. Membual tentang prestasi yang tak ada atau membesar-besarkan skala pencapaiannya. Juara makan krupuk tingkat RT diakui sebagai level provinsi misalnya.

Jika kebohongan pertama berhasil, Mythomania akan makin membesar-besarkan ceritanya dan mereka menikmati itu. Menurut Psikolog Ajeng Raviando, Jika tidak ditangani lingkungan sekitarnya, mythomania bisa bertambah parah, tidak bisa bedakan mana yang benar dan salah.

Berbohong Bagi Penderita Mythomania Itu Serupa Candu 

Berbeda dengan manusia normal yang berbohong hanya untuk penyelamatan dan aksi ambil untung, untuk Mythomania, berbohong itu serupa candu. Menurut psikolog Ratih Zulhaqqi, orang yang memiliki gangguan psikologis ini kadang melakukannya tanpa sadar. Malah mereka tak merasa bersalah karena sudah terlalu sering berbohong dan jadi hal yang wajar. Sifatnya candu, dia harus selalu melakukan itu untuk membuat dirinya puas.

Gawatnya Karena Sudah Terbiasa Berbohong Para Mythomania Kadang Sulit Dideteksi 

Kadang kala, penderita mythomania sudah sangat lihai dalam berbohong sampai bahasa tubuhnya terlihat sangat wajar saat sedang membual. Bila sudah terbiasa bohong, mereka juga bisa membual soal hal-hal sepele. Sulit mencari sendi kehidupannya yang tak dibalut hal yang tak dibesar-besarkan.

Mythomania Penyebabnya Bisa Karena Dibiarkan Berbohong Sedari Kecil

Memang banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang terkena gangguan Mythomania. Namun salah satunya adalah karena kesalahan dididikan orang tua dan lingkungan.

Mythomania bisa muncul ketika orang tua hanya memberikan perhatian pada hal-hal ekstrem yang terjadi pada anak. Baik itu hal yang buruk maupun hal yang baik. Misalnya anak hanya diberi tepukan tangan jika ia berhasil mencapai rangking satu saja. Tak ada penghargaan terhadap proses jika ia tidak mencapai peringkat satu.

Walhasil seorang anak mengaku-aku sebagai juara satu, padahal dia sama sekali tidak mendapat peringkat di kelas. Ketika orangtua dan lingkungan mendiamkan, maka dia merasa kebohongannya sah-sah saja dilakukan.

Adalah wajar bila orangtua membiarkan buah hatinya bicara hal yang tak sesuai kenyataan karena sewajarnya anak-anak memiliki imajinasi sendiri. Namun, orangtua harus waspada bila anak masih melakukan hal itu saat usianya sudah di atas 6-7 tahun.

Kasihannya Mythomania Ini Sesungguhnya Merasa Kosong Di Dalam

Mungkin bagi kita yang tak mengalami gangguan ini akan merasa bingung, kenapa sih harus berbohong untuk hal-hal semacam itu? Nah sebetulnya, mereka yang menderita Mythomania ini merasakan adanya kekosongan di dalam jiwa mereka.

Tidak ada cinta dan kasih sayang yang melingkupi mereka. Karena itu mereka merasa perlu melakukan kebohongan-kebohongan itu demi mendapat simpati dan pujian secara terus menerus.

Kamu Menghadapi Si Mythomania? Berhati-hati ya!

Kamu mungkin salah satu orang yang menghadapi para Mythomania ini. Mereka yang selalu mengundang drama dalam kehidupan mereka. Cari perhatian luar biasa dan beberapa kali kamu sudah menemukan kebohongannya.

Meski kamu belum merasakan kerugiannya secara langsung bagi dirimu, kamu tetap harus berhati-hati. Karena kebohongan yang satu akan berimbas untuk kebohongan yang lainnya. Kamu yang ada disekitarnya bukan tak mungkin akan dilibatkan dalam kebohongannya. Jika ini terjadi kamu juga yang akan rugi bukan?

2 Comments

2 Comments

  1. yulia

    May 8, 2015 at 10:56 am

    wah.. Jadi mikir-mikir lagi untuk terjun bebas jadi social media admin. Btw, klo ngga kepo ga bisa jd admin ya, hehehehe ?

  2. Sersan Tips

    May 9, 2015 at 6:47 am

    berat juga ya, bahkan bekerja hanya dengan mengetik-ngetik di android bisa berat juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

2 Comments

2 Comments

  1. yulia

    May 8, 2015 at 10:56 am

    wah.. Jadi mikir-mikir lagi untuk terjun bebas jadi social media admin. Btw, klo ngga kepo ga bisa jd admin ya, hehehehe ?

  2. Sersan Tips

    May 9, 2015 at 6:47 am

    berat juga ya, bahkan bekerja hanya dengan mengetik-ngetik di android bisa berat juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Tahu Hidup Pas-pasan Itu Tak Gampang Tapi Setidaknya Aku Tak Perlu Ngutang

Kamu mungkin sedang mencibirku atas gaya hidup yang kupunya. Katamu aku tak menikmati hidup, tak sepertimu yang memang tampak selalu bahagia. Ya, benar memang kamu sungguh tak salah. Aku memang tak sepertimu yang terlihat bahagia dengan segala hal mewah yang kamu punya. Bahkan tanpa kamu yang bilang, sesungguhnya aku sadar hidup pas-pasan yang katamu tak bahagia ini, bukanlah mimpi dari semua orang. Termasuk diriku juga. Tapi setidaknya sekarang aku paham, meski hidup pas-pasan memang tak gampang tapi ada banyak hal lain yang kudapatkan.   

Awalnya Kupikir Itu Hanya Candaan Tapi Sepertinya Kamu Semakin Sering Menjadikannya Bahan Cibiran

Kamu tahu sebenarnya aku bukanlah orang yang mudah untuk merasa tersinggung ataupun marah. Sebagai seorang teman kupikir rasanya wajar jika kita akan bertukar kritik atas kehidupan. Tapi suasananya menjadi berbeda, ketika ucapan itu semakin sering dilontarkan. Sungguh aku tak bermaksud untuk marah, karena kutahu setiap orang adalah guru bagi yang lainnya. Kita berhak menilai siapa saja sesuai dengan pandangan yang kita punya. Satu yang masih aku tak bisa terima, kamu menjadikanku bahan cibiran yang membuat hatiku semakin tak karuan. Untuk itu, rasanya hal ini memang patut kusampaikan.  

Semua Orang Mungkin Bisa Tertipu Akan Penampilan, Tapi Kenyataannya Tak Selalu Demikian

Seperti sebelum-sebelumnya, kamu masih menganggap penampilan adalah alat untuk menunjukkan kemampuan diri. Dan benar saja, disetiap kesempatan kamu memang terlihat lebih menawan. Dan dari tempat aku memandangamu, ada beberapa orang yang tiba-tiba berbisik “Tak semua buah bagus, manis rasanya”. Dengan masih tetap bingung aku memandangnya, hingga akhirnya paham akan hal yang barusan diucapkannya. Kita memang bisa saja telihat tampan dan anggun disegala kesempatan. Namun penampilan tak selalu jadi patokan, untuk menilai seseorang.  

Jika Katamu Bahagia Haruslah Mewah, Apalah Aku Yang Hanya Ingin Berkecukupan Saja

Berdampingan sebagai dua orang berbeda tentu jadi pengalaman baru bagiku dan kamu. Akhirnya aku tahu bahwa kita punya pandangan yang berbeda atas hidup yang kita mau. Tanpa merasa ada beban kamu sering bilang jika hidup yang bahagia tentu haruslah mewah. Kutarik bibirku melebar untuk sekedar tersenyum merespon ucapanmu. Setiap orang memang berhak untuk menyuarakan pendapat. Untuk itu aku ingin bilang bahwa kali ini kita tak sependapat. Bagiku hidup dengan berkecukupan jauh lebih baik daripada kata mewah yang kamu agung-agungkan.  

Hingga Suatu Kali Kamu Bilang Hidupku Nelangsa, Padahal Meski Demikian Aku Tetap Bahagia

Ini tentu bukanlah hal yang sederhana, karena untuk mengartikan kata nelangsa kita butuh waktu yang cukup lama. Sesuatu yang katamu jadi bentuk kesulitan tak selalu berlaku untuk orang lain. Sebaliknya hal-hal yang katamu terlihat sedih justru bisa jadi sumber bahagia bagi yang lain. Dan hal ini pula yang terjadi atas diriku yang tadi jadi bahan kritikanmu. Meski dimatamu hidupku terlihat sangatlah susah, justru aku jauh lebih bahagia. Karena untuk segala sesuatunya kita tentu punya ukuran yang berbeda. Kopi yang katamu enak belum tentu cocok untuk perut milikku begitu pula dengan arti kata bahagia dan nelangsa yang kita punya.  

Berbeda Denganmu Yang Punya Segalanya, Meski Aku Tak Tahu Darimana Asalnya

Memang sih kelihatannya kamu memang punya segalanya, barang mewah dengan nominal yang menakjubkan. Hingga kehidupan sehari-hari yang terlihat tanpa beban. Berbeda denganku yang harus susah payah mencari uang untuk sekedar makan. Tapi jika harus diminta untuk memilih, aku masih akan tetap berada pada hidupku sekarang. Dan untuk kehidupan bergelimang benda berharga sepertimu, aku sendiri tak tahu bagaimana caranya. Karena selama ini meski sudah giat bekerja, yang kupunya belum sebanyak milikmu.  

Ucapanku Tadi Hanyalah Sebuah Ujaran Yang Belum Tentu Benar, Untuk Itu Seharusnya Kamu Tak Perlu Marah

Tak perlu memasang muka masam untuk hal-hal yang tadi aku ucapkan. Lagipula aku hanya mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan. Kalau memang salah mohon dimaafkan, tapi jika hal ini membuatmu marah mungkin benar. Meski untuk jawaban yang paling benar, yang tahu tentu hanya kamu seorang. Ujaran yang aku sampaikan hanyalah sebuah pandangan atas hidup yang sedang aku saksikan. Meski tak sepenuhnya benar, setidaknya itulah yang bisa aku simpulkan.  

Satu Yang Ingin Aku Sampaikan, Meski Hidupku Pas-pasan Setidaknya Aku Tak Perlu Ngutang

Aku pikir hubungan yang kita punya tak seharusnya renggang hanya karena perbedaan pandangan. Anggaplah bahwa kamu memang sudah di jalan yang tepat dengan segala yang kamu anggap benar. Tapi kamu juga perlu mendekatkan telinga kearahku untuk sekedar mendengar. Meski katamu hidupku susah karena tak punya apa-apa, setidaknya aku tak perlu susah payah untuk ngutang demi hidup yang katamu bahagia. Aku hanya ingin menjalani hidup sesuai dengan kemampuanku dan tak berniat memaksa diri untuk sesuatu yang memang diluar kemampuanku.

2 Comments

2 Comments

  1. yulia

    May 8, 2015 at 10:56 am

    wah.. Jadi mikir-mikir lagi untuk terjun bebas jadi social media admin. Btw, klo ngga kepo ga bisa jd admin ya, hehehehe ?

  2. Sersan Tips

    May 9, 2015 at 6:47 am

    berat juga ya, bahkan bekerja hanya dengan mengetik-ngetik di android bisa berat juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top