Feature

Selamat Hari Batik Nasional, Semoga Kau Semakin Dikenal

Apa yang akan kamu bayangkan, jika suatu waktu ada acara yang mengharuskanmu untuk memakai pakaian khas daerah dari tanah air? Yaa, pilihan pertama yang akan dipikirkan tentu saja BATIK.  Hadir dengan berbagai macam motif dan filosofi dari setiap daerah, batik jadi salah satu warisan budaya dunia yang telah diakui oleh UNESCO. Dan meski hari ini adalah pembuka dari hari bekerja, tapi tiba-tiba semua orang kompak untuk mengenakan batik bersama. Itu semua karena hari ini adalah Hari Batik Nasional.

Dipakai Setiap Jumat, Setidaknya Kamu Perlu Tahu Daerah-daerah Asal Batik Yang Merupakan Salah Satu Warisan Nusantara Ini

Tanpa perlu merasa ini jadi beban, bukan berarti kamu harus mempelajari sejarah panjang dari pakaian yang sedang kita bicarakan. Karena tak hanya satu daerah saja, faktanya ada puluhan kota di tanah air yang dikenal sebagai daerah penghasil batik nasional. Maka jika kamu sedang mengenakan satu jenis kain batik, pastikan bahwa setidaknya kamu tahu dari daerah mana kain itu berasal. Sebagian besar dari kita mungkin sama, main pakai saja tanpa tahu dari daerah mana batik itu berasal. Nah untuk menghindari pertanyaan yang mungkin kita temukan, setidaknya cobalah cari tahu setidaknya daerah asal batik yang kamu pakai.  

Meski Terlihat Hampir Sama, Faktanya Setiap Daerah Punya Motif Dan Makna Yang Berbeda-Beda Di Setiap Batiknya

“Ini batiknya dari mana?” “kayaknya dari Solo deh” “Lah bukannya ini motif batik Kalimantan ya?”  “Eh iya kali, saya tidak bisa bedain mirip sih”  *padahal jelas-jelas motifnya beda

Jika katamu batik itu sama saja, hanya ada motif yang terukir serta berbeda saja. Tentu itu adalah pemahaman yang salah! Meski secara keseluruhan teknik dan cara pengerjaannya memang terbilang sama. Mulai dari batik tulis, batik cap hingga motif yang digambar oleh mesin. Namun kenyataanya, meski sama-sama dari Jawa Tengah motif batik Solo dan Yogyakarta ternyata berbeda. Secara kasat mata, kedua daerah ini memang memiliki pola batik yang hampir sama. Namun jika kita telisik lebih dekat lagi ternyata motifnya sangatlah berbeda. Motif dari batik Yogya terlihat lebih gagah dan maskulin. Sedangkan motif batik dari Solo condong pada pancaran aura yang lebih anggun nan luwes. Begitu pula dengan batik dari daerah dan pulau lain yang tersebar di seluruh penjuru tanah air tentu punya ciri khas dan artinya masing-masing.  

Sesuatu Yang Membuat Kita Bangga, Kain Tersebut Telah Masuk Ke Kancah Internasional Dan Diakui Oleh Dunia

Potret dari masyarakat luar negeri yang kini sudah banyak mengenakan batik, tentu buah dari perjuangan pemerintah kita. Berawal pada 3 September 2008 lalu, pemerintah Indonesia mendaftarkan batik sebagai jajaran representatif budaya tak benda warisan manusia UNESCO (Representative List of Intangible Cultural Heritage-UNESCO). Kemudian secara resmi diterima oleh UNESCO 9 Januari 2009 untuk diproses lebih lanjut lagi. Dan buah dari perjuangan itu, pada tanggal 02 Oktober 2009 akhirnya UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia yang dilaksanakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Bahkan hingga kini, sudah banyak tokoh besar dunia seperti, Barack Obama dan Bill Gates. Hingga penyanyi bersuara emas Adele sampai Paris Hilton dan beberapa penyanyi Kpop lainnya yang dengan bangga mengenakan kain kebanggaan bangsa tersebut.  

Saking Terkenalnya, Kain Indah Sarat Filosofi Ini Pernah Diklaim Oleh Negara Lain Sebagai Kepunyaan Mereka

Jika kamu masih ingat, upaya untuk mendaftarkan batik ke UNESCO didorong oleh sikap negara Malaysia yang ingin menyabotase batik sebagai milik negaranya. Wajar memang jika akhirnya negeri jiran itu, ingin mengakui batik sebagai kepunyaan mereka. Mengingat perkembangan mode yang juga telah menyeret batik sebagai salah satu yang berpengaruh. Mungkin mereka menganggap ini adalah aset emas yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dan kemajuan negera tersebut. Untungnya pemerintah kita bergerak cepat untuk mengatasi polemik yang saat itu sempat memanas. Dan sebagaimana asalnya, secara sah batik jadi salah satu warisan budaya yang kita punya. Maka menjadi tugas kita untuk tetap menjaganya.  

Untuk Itu Sebagai Salah Kebanggaan Indonesia, Kini Batik Sudah Banyak Dikreasikan Pada Berbagai Macam Model Pakaian

Sebagian besar masyarakat kita masih memandang batik sebagai kain yang sering digunakan oleh orang tua atau mereka yang sudah dewasa. Dan berita baiknya, para pegiat mode dalam dunia fashion nampaknya tahu apa yang sedang kita mau. Mereka menciptakan berbagai macam kreasi pakaian yang berbahan dasar batik. Mulai dari kemeja, blus, rok hingga gaun mewah. Tak hanya untuk orang tua, nyatanya kini batik bebas dipakai oleh siapa saja tanpa memandang usia. Menariknya baru-baru ini, pelantun lagu Coke Bottle Agnez Mo baru saja merilis single terbarunya berjudul “Long As I Get Paid”. Dimana pada video klip tersebut, Agnez mengenakan jubah ungu bercorak batik dengan jumpsuit strapless dress bernuansa hitam keemasan. Ini jadi bukti bahwa batik tak lagi hanya tentang kemeja dan blus. Lebih dari itu batik sudah memiliki arti yang lebih luas dan merata.  

Selamat Hari Batik Nasional, Semoga Kau Semakin Dikenal

Pengukuhan UNESCO kala itu jadi bukti, bahwa pengklaiman yang gencar dilakukan oleh negara tetangga Malaysia atas batik milik kita, telah dihapus. Dan bersamaan dengan hari diterimanya batik sebagai warisan budaya milik kita oleh UNESCO delapan tahun silam, hari ini adalah peringatan yang ke-8 sejak batik resmi tercatat sebagai warisan budaya dari Indonesia yang telah diakui dunia. Sebagaimana seruan dari Yayasan Batik Indonesia yang telah dikirimkan kepada Presiden Joko Widodo. Mereka mengajak seluruh lapisan masyarakat dan elemen pemerintahan baik di kota besar dan daerah untuk kompak mengenakan batik pada Hari Batik Nasional. Untuk itu Selamat Hari Batik Nasional, Semoga Kau Semakin Terkenal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Kenapa Sih Istilah Pribumi Masih Sensitif?

Kalau merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia alias KBBI, Pribumi diartikan sebagai penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Sebuah kata yang umum sebetulnya dan tak memiliki muatan apa-apa. Tapi kenapa istilah ini bisa menjadi begitu sensitif?

Di Era Kolonial Belanda Istilah Pribumi Digunakan Sebagai Alat Pecah Belah Dan Dalih Pembantaian

Belanda lewat organisasi VOC yang menguasai Indonesia saat itu membagi masyarakat menjadi tiga golongan. Pribumi alias Inlanders dipakai sebagai kelompok penduduk dari suku asli. Vreemde Oosterlingen, digunakan sebagai penyebutan keturunan Cina, India, Arab. Dan terakhir masyarakat Eropa Belanda sendiri. Sedari awal masing-masing golongan ini dibagi kastanya dengan hak dan kewajiban yang tak sama.

Memasuki Abad 17 imigrasi warga keturunan Tiong Hoa makin deras. Para pendatang ini dikenal baik tingkah lakunya dan lebih bisa berbaur dibanding warga Belanda Eropa. Ditambah kemampuan berdagang mereka yang di atas rata-rata, membuat VOC menjadi cemas.

Untuk mencegah kekuasaannya tergusur, akhirnya penangkapan dan penindasan dilakukan Belanda terhadap warga Tionghoa. Dengan menggunakan cap “non pribumi”, pembantaian pun dimulai 9 Oktober 1740 dan memakan korban jiwa lebih dari 10.000 jiwa. Mula-mula 500 orang Tionghoa yang ditahan dibantai. Kemudian VOC bergerak ke rumah sakit dan setelah itu meluas ke seantero kota. Peristiwa pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini dikenal dengan Geger Pecinan.

Malapetaka Lima Belas Januari, Malapetaka Yang Juga Menggunakan Istilah Pribumi

Memasuki era 70-an sejumlah cendekiawan dan mahasiswa mulai merasa tak puas dengan kepemimpinan presiden Soeharto pada waktu itu. Besarnya peran modal asing khususnya Jepang dituding tak berpihak pada warga lokal.

Puncaknya pada 15 Januari 1974 bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka Kakuei ke Indonesia yang disambut aksi demonstrasi. Dengan menggaungkan istilah keberpihakan kepada pribumi, demo itu pun berubah menjadi kerusuhan yang dikenal dengan Malapetaka lima belas Januari alias Malari.

Jakarta berasap, penghancuran dan penjarahan terjadi di mana-mana. Belakangan tidak hanya menyasar produk-produk Jepang, massa juga melampiaskan kekesalannya kepada perusahaan-perusahaan Tionghoa. Pada Peristiwa Malari ini, setidaknya sebelas orang tewas dan 300 lainnya luka-luka. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dibakar, 144 bangunan ikut rusak. Sekitar 775 orang ditahan menyusul aksi pemerintah memadamkan kerusuhan tersebut, beberapa terdiri dari anak di bawah umur.

Mei 98, Ketika Istilah Pribumi Jadi Tameng Kekerasan Dan Istilah Non-Pribumi Jadi Alasan Menghunus Pedang

Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Peristiwa ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa.

Sedihnya ketika itu masyarakat kita menuliskan kalimat “milik pribumi” pada rumah dan toko mereka agar aman dari pembakaran. Kalimat singkat tersebut kalau kita renungi sebetulnya berarti “ini milik pribumi, jangan dijarah dan dibakar” dan sebaliknya kalau tak ada tulisannya berarti “ini milik non pribumi silahkan di…”

Nyatanya ketika itu jatuh korban dari kita semua. Ya, kita semua! Sekian banyak korban jiwa yang meninggal karena terjebak dalam toko atau rumah yang terbakar. Harta benda banyak yang ludes terbakar dan dijaarah. Semua dikecam ketakutan dan ekonomi pun lumpuh.

Guna Meredam Rasa Sensitif Tersebut Habibie Pun Mengeluarkan Instruksi Presiden

Membaca urusan kata pribumi dan non pribumi yang begitu sensitif, Presiden Habibie yang menggantikan Presiden Soeharto pun bergerak cepat untuk melakukan rekonsiliasi nasional. Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998 pun dikeluarkan, intinya tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non pribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan. Dalam peraturan tersebut, penggunaan istilah pribumi dihentikan dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintah. Penggunaan kata Warga Negara Indonesia alias WNI pun lebih dikedepankan.

Kampret Itu Binatang Sejenis Kelelawar, Tapi Salah Konteks Ketika Digunakan Dalam Kalimat Bisa Membuat Orang Marah Bukan?

Kata memang punya arti baku dalam kamus. Serupa kampret yang diterjemahkan sebagai kelelawar kecil pemakan serangga, hidungnya berlipat-lipat. Tapi pasti berbeda artinya jika kamu lontarkan itu kepada orang lain dengan nada yang kesal.

Nah, gambaran di atas hanya sebagian contoh kecil dari sekian banyak letupan peristiwa urusan yang berkaitan dengan istilah pribumi dan non pribumi. Dengan sejarah panjang soal kata pribumi dan non pribumi macam itu, menjadi wajar jika sebagian kita masih begitu sensitif dengan istilah tersebut.

Namun, tokoh-tokoh nasional macam Presiden Jokowi sampai yang terakhir Gubernur DKI Anies Baswedan sudah mulai menggunakan lagi istilah ini. Kita hanya bisa berharap, jika pun istilah itu masih akan digunakan, semoga sesuai konteks yang lebih positif.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Untuk Para Calon Istri, Bekali Diri dengan Skill Tertentu Agar Tetap Produktif Meski Tidak Bekerja

Menikah dan berumah tangga berarti siap menata kehidupan yang baru. Nantinya kamu tak lagi sendiri sebab harus tinggal bersama suami. Jika sebelumnya rutinitasmu adalah bekerja, bekerja, dan bekerja, setelah menikah jelas berbeda. Apalagi jika kamu dan suami sepakat kalau yang bekerja cukup suami saja, sementara istri tetap tinggal di rumah. Sudahkah kamu membayangkan apa saja yang bisa kamu lakukan? Kesampingkan dulu urusan rumah tangga (jelas itu sudah jadi tanggung jawab). Kali ini, kamu perlu tahu pentingnya skill lain yang wajib dimiliki. Sekalipun kamu nantinya hanya akan berada di rumah, bukan berarti tak bisa produktif. Karenanya, sebelum menikah, ada baiknya kamu perbanyak ilmu yang pastinya akan berguna saat kamu punya banyak waktu senggang. Bahkan kalau kamu terus meningkatkan kemampuanmu, barangkali skill itu justru bisa jadi pekerjaan sampingan yang menjanjikan.

Meski Setiap Orang Kini Punya Gawai Canggih, Punya Skill Fotografi Masih Jadi Nilai Lebih

Punya gawai canggih? Jangan cuma bisa selfie, lebih baik kamu perdalam skill fotografi. Mulailah menyediakan waktu untuk sekadar membaca buku panduan dasar fotografi yang mudah kamu temukan di toko buku. Atau kalau sekiranya terlalu mahal, kamu bisa belajar lewat internet bukan? Sekarang ini kalau mau belajar tapi malas baca, kamu bisa menonton tutorialnya lewat YouTube. Tapi saranku, tetap perdalam bahan bacaanmu ya! Bukan hanya teori, kamu pun bisa mendapat referensi bermain dengan angle kalau kamu rajin membaca dan praktik langsung. Dengan belajar fotografi, banyak hal menyenangkan yang kamu dapat. Apalagi kini postingan yang menonjolkan sisi visual nan artsy tengah digandrungi. Kamu bisa buktikan sendiri di Instagram, bagaimana orang berlomba-lomba mengabadikan momen lewat foto yang semenarik mungkin.

Mengasah Skill Menulis Lambat Laun Bisa Membentukmu Jadi Sosok yang Berkarakter dan Inspiratif

Siapa yang tidak bangga jika hasil karyamu dinikmati orang banyak? Mungkin itu yang dirasakan para penulis. Kamu pun bisa meniru jejak mereka. Sekiranya kamu yakin kalau bisa menulis, mengapa tidak? Belajar menulis sejak usia muda itu baik demi skill-mu di masa depan. Dibanding menghabiskan waktu untuk bergosip atau hal-hal yang tidak penting, lebih baik tuangkan pemikiranmu lewat tulisan. Siapa tahu saat orang membacanya, mereka jadi terinspirasi oleh karyamu itu. Belum  lagi jika tulisanmu tiba-tiba dilirik oleh para penerbit, bukan tak mungkin ini akan jadi kesempatan emas untuk lebih baik lagi.

Memasak Itu Bukan Semata Karena Kodrat Perempuan, Melainkan Keahlian yang Bisa Membuat Hati dan Perut Nyaman

Selain menyenangkan hati suami, punya skill memasak itu jadi nilai plus tersendiri. Kamu tak akan merasa bosan di rumah hanya karena merasa tak ada kerjaan. Kamu bisa coba resep baru dan bereksplorasi dengan beragam jenis makanan sampai akhirnya kamu menguasai resep tersebut. Kalau sekiranya mendapat respon positif dari suami dan keluargamu kelak, tak menutup kemungkinan kamu bisa coba usaha katering kecil-kecilan yang bisa menambah pundi-pundi tabunganmu. Menarik bukan?

Kamu Bisa Merajut? Percayalah, Skill Rajut Itu Tak Lekang Oleh Waktu

Kamu tak perlu takut dianggap kuno hanya karena skill merajutmu. Sekarang ini di Instagram justru banyak ibu muda yang sibuk membuka usaha kreasi rajutan sembari menjalankan peran mereka sebagai istri dan ibu rumah tangga. Selain ampuh mengusir rasa bosan, hasil rajutanmu pun punya bermanfaat. Kalau tertarik, kamu bisa coba menilik beragam tutorial merajut di YouTube. Bahan-bahan yang diperlukan pun cenderung mudah dan bisa dibeli lewat online. Intinya, saat ini banyak perempuan yang membekali diri mereka dengan skill DIY (Do-it-yourself) yang bisa membawa manfaat pada kemudian hari. Apalagi saat ini kehadiran tutorial di internet yang bersifat borderless kian memudahkan kita semua mempelajari hal baru. Jika mereka sudah berani mencoba, kamu kapan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Punya Banyak Teman Itu Tak Selalu Membuat Bahagia, Seringkali Hidup Malah Jadi Tak Nyaman

Apa sih rasanya punya banyak teman? Benarkah hidup jadi terasa seru saat jumlah teman melampaui jumlah Kurawa? Terasa populer, sudah pasti. Nongkrong ke mall A, tiba-tiba ketemu teman A, jalan-jalan ke tempat B, tiba-tiba ketemu teman yang lainnya. Mungkin itu yang akan kamu rasakan saat kuantitas temanmu cukup banyak.

Bukan berarti tak baik, justru itu tandanya kamu supel dan mudah menerima orang baru untuk jadi temanmu. Belum tentu semua orang bisa sepertimu. Tapi kalau bicara kualitas pertemanan, coba kamu renungkan sebentar. Sudahkah mereka yang hadir di kehidupanmu adalah teman yang benar-benar akan membawa dampak yang baik untukmu? Karena pada dasarnya, ternyata ada dampak negatif yang muncul dari mereka yang lebih mementingkan kuantitas teman dibanding kualitas pertemanan.

Kamu yang Tergolong Populer Justru Rentan Mengalami Masalah Kesehatan

Sepuluh tahun lalu, para peneliti dari Universitas Virginia melakukan studi yang melibatkan 169 remaja berumur 15 tahun dengan latar belakang ekonomi dan ras yang bervariasi. Hasil studi tersebut baru diterbitkan baru-baru ini dan banyak temuan baru yang diperoleh para peneliti itu. Berdasarkan penelitian tersebut, remaja yang memiliki lingkaran sosial kecil justru memiliki risiko menderita social anxiety yang lebih rendah. Mereka juga lebih mampu menghargai diri sendiri serta tak akan mudah didera depresi saat usianya 25 tahun. Sementara mereka yang dikenal populer dalam lingkup pergaulannya, risiko mengidap social anxiety jauh lebih tinggi.

Merasa Populer Membuat Seseorang Jadi Ketagihan Ingin Selalu Dianggap Trendsetter Sampai Melupakan Kehidupan yang Sebenarnya

Kita hidup di zaman media sosial dimana tingkat kepopuleran seseorang dinilai dari tingginya jumlah likes dan followers. Sayangnya tak semua orang bisa mengendalikan diri saat ia dianggap kategori populer. Karena terbiasa membaca kolom komentar dan mengikuti saran-saran para warganet demi terkesan keren, ada juga seseorang yang akhirnya kecanduan dengan media sosial sampai mood-nya pun diatur oleh bagaimana respon warganet atas postingannya. Kalau sudah demikian, kamu perlu hati-hati. Bukan apa-apa, hanya saja sewaktu-waktu kesehatan mentalmu bisa terancam.

The World Economic Forum and Harvard School of Public Health telah menunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan oleh ekonomi global untuk menanggulangi masalah kesehatan mental ini diperkirakan meningkat dari $2,5 trilliun pada 2010 menjadi $6 trilliun pada 2030. Biaya tersebut dikatakan lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulangi penyakit kanker, diabetes serta penyakit pernapasan ringan yang dijadikan satu.

Teman Itu Bukan Hanya Kuantitas, Tapi Kamu Juga Perlu Membangun Pertemanan yang Berkualitas

Joseph Allen, seorang peneliti dari Universitas Virginia mengatakan, “Disukai oleh banyak orang tidak serta merta bisa menggantikan hubungan persahabatan yang saling mendukung satu sama lain.” Menambah teman memang dapat menambah wawasan. Tapi membangun kualitas pertemanan yang harusnya lebih diprioritaskan. Saat remaja, kamu mungkin tak sadar dengan siapa saja kamu mulai memupuk persahabatan itu. Kabar baiknya, berdasarkan penelitian tersebut, hubungan persahabatan yang baik kala remaja ternyata baru bisa dirasakan dampaknya ketika kita dewasa.

Para peneliti itu mengungkapkan, jalinan persahabatan yang sehat dapat membantu seseorang dan sahabatnya itu melewati masa pencarian jati diri dengan baik. Keberadaan sahabat pun mendorong terbentuknya perasaan positif pada diri seseorang. Kalau perasaan semacam ini senantiasa terjaga, maka kamu tak perlu lagi mengkhawatirkan kesehatan mentalmu.

Punya Banyak Teman Justru Jadi Keblinger Atau Punya Sedikit Teman Tapi Saling Mendukung?

Seperti halnya hubungan, kamu pun harus memiliki tujuan dalam persahabatan. Tujuannya tentu bukan perkara saling menguntungkan atau semacam ada maunya, tapi bagaimana kamu dan dia sama-sama dapat berkembang dan mampu menggali potensi diri. Teman yang baik adalah mereka yang terus mendukungmu agar terus maju. Mereka yang tulus berteman denganmu tak akan menjerumuskanmu pada hal-hal negatif. Situasinya berbeda jika lingkup pertemananmu cenderung luas. Bisa saja kamu dibutuhkan dua orang teman pada saat yang bersamaan. Apalagi kalau dua-duanya sama-sama tak mau mengalah, bukannya bisa membantu temanmu, kamu malah jadi keblinger sendiri. Duh…

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top