Tips

Sedang Diet? Pasti Memperhatikan 5 Hal ini! Padahal Itu Hanya Mitos!

Kenapa ada orang yang gemuk sementara ada yang kurus? Untuk satu pertanyaan ini, jawabannya bisa sangat beragam. Tawaran cara-cara efektif menurunkan berat badan pun bertebaran di luar sana. Bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan, kondisi ini kadang membuat stres. Terlalu banyak hal yang harus diperhatikan. Hidup jadi sulit karena terikat banyak aturan. Padahal sebagian adalah mitos. Apa saja itu?

1. Memperbanyak Frekuensi Makan Dalam Jumlah Kecil

Mereka yang sedang diet sering kali diminta untuk makan lebih sering tentunya dengan jumlah yang lebih sedikit. Faktanya belum ada penelitian yang bisa menunjukan korelasi antara makan lebih sering dengan penurunan berat badan. Rasa lapar juga tidak bisa dimanipulasi dengan cara makan porsi kecil dengan jumlah lebih sering.

2. Mengatur Waktu Makan

Jangan makan lewat dari setelah matahari terbenam, makan pagi harus sebelum jam sepuluh, dan sejumlah perintah lain yang berkaitan dengan pengaturan jam makan. Seperti yang pertama belum ada penelitian valid yang bisa menunjukan hubungan mengatur jam makan dengan berkurangnya berat badan.

Sejauh jumlah asupan yang masuk masih lebih sedikit dari yang dipergunakan tubuh, maka otomatis akan terjadi penurunan berat badan. Jadi makan steak di siang hari atau malam hari efeknya akan sama.

3. Hanya Makan Jenis Tertentu

Beberapa memilih menjadi vegetarian, yang lainnya hanya makan ikan. Lalu ada yang memilih menjadi pemakan rendah karbohidrat atau lemak. Memilih jenis makanan tertentu saja tidak akan berpengaruh langsung pada penurunan berat badan. Karena rumusannnya tetap sama, asupan yang masuk harus lebih sedikit dari yang digunakan.

Lantas apa kita bisa makan seenaknya? Tunggu dulu, disini kita hanya bicara soal penurunan berat badan. Kesehatan merupakan faktor yang tidak boleh kita lupakan. Ada banyak jenis makanan yang dibutuhkan namun banyak juga yang membahayakan jika dikonsumsi berlebih. Di faktor kesehatan inilah pengaturan makanan berperan.

mitos diet

4. Melakukan Olah Raga

“Mulai besok mau rajin olah raga supaya kurus” Sering mendengar kalimat itu bukan? Nah, pemikiran tersebut juga salah. Kembali ke pemikiran di atas, berat badan akan turun jika, energi yang kita gunakan lebih banyak dari energi yang kita peroleh dari asupan makanan. Dimana energi dihabiskan, baik itu melalui olah raga maupun tidak sesungguhnya tidaklah berpengaruh.

Berarti kita tidak perlu olah raga? Olah raga diperlukan untuk membentuk tubuh. Karena massa otot dipahat dan dibentuk lewat cara berolah raga. Selain itu, olah raga juga berfungsi untuk faktor kesehatan. Karena itu alih-alih memaksakan diri melakukan olah raga yang dibenci untuk sekedar menurunkan berat badan, kenapa tidak menikmati olah raga yang disenangi. Karena pikiran dan jiwa yang bahagia akan membuat tubuh lebih sehat.

5. Diet Karbohidrat Atau Lemak

Karbohidrat dan lemak punya fungsi setara dengan jenis makanan lainnya. Ketika dalam tubuh, mereka akan disimpan dan diubah menjadi energi kalori ketika tubuh membutuhkan. Jika tubuh tidak butuh banyak kalori, sementara yang disimpan banyak, makan pada saat itu tubuh akan menjadi gemuk. Karena itu hanya membatasi karbohidrat atau lemak tanpa membatasi jumlah asupan lainnya adalah pekerjaan sia-sia.

Kesimpulannya sederhana, “jika asupan kalori yang masuk lebih sedikit dari yang digunakan beraktivitas maka berat badan akan turun”. Lewat cara apapun, jika kondisi ini terpenuhi makan jarum timbangan akan segera bergeser ke kiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Keluh Kesah Para Dokter, Susah-susah Sekolah Cuma Buat Nakut-nakutin Anak

“Nanti kalau bandel, Mama panggil Pak Dokter lho biar disuntik.”

Saat kamu masih kecil, ibumu mungkin pernah mengungkapkan hal ini. Sadar tak sadar, kamu perlu tahu, kalimat itulah yang sejatinya membuat kita memiliki kesan ‘angker’ pada dokter sejak kecil. Padahal tidak seharusnya demikian. Tak sedikit dokter yang mengaku sedih mendapati bahwa di luar sana masih banyak anak kecil yang takut untuk diperiksa hanya karena paranoid dengan keberadaan dokter di dekat mereka.

Untukmu yang bukan dokter, mungkin ke depannya tak perlu lagi menakut-nakuti anak kecil, entah dia anakmu atau keponakanmu, dengan ancaman demikian. Dokter itu bukanlah sebuah profesi yang perlu ditakuti. Apa lagi bagi kita yang awam, bukankah sudah sering mendengar perjuangan berat seorang calon dokter selama menempuh studi mereka? Karenanya, untuk menghargai jasa sekaligus perjuangan para dokter, setiap tanggal 24 Oktober diperingati sebagai Hari Dokter Nasional. Mungkin kalau ada temanmu, saudara, atau kamu bahkan punya kenalan seorang dokter, jangan sungkan untuk mengucapkan “Selamat hari Dokter!”

Bukan Perkara Mudah, Berjuang dengan Masa Studi yang Relatif Panjang Sungguh Membuat Para Calon Dokter Jadi Pribadi yang Tabah

Profesi ini istimewa sekaligus penuh risiko mengingat pekerjaan mereka punya sangkut paut terhadap keselamatan seseorang. Karenanya, untuk jadi seorang dokter, seorang mahasiswa kedokteran pun harus menempuh proses yang lebih panjang dibanding jurusan lainnya. Umumnya setelah berkuliah selama sekitar 3,5 tahun, kita akan diwisuda sebagai sarjana. Meski hal ini juga berlaku bagi mahasiswa kedokteran, namun mereka harus menjalani masa co-assistant atau yang akrab disebut koas selama dua tahun. Belum lagi ada uji kompetensi, jadi dokter magang selama setahun, baru bisa mendapatkan izin praktik atau bekerja di rumah sakit.

Perlu Komitmen dan Kesungguhan Hati, Sebab Jasa Seorang Dokter Akan Dikenang Hingga Dia Tiada

Untukmu yang mudah bosan, jangan sekali-kali berpikir menjajal profesi sebagai dokter. Selain butuh waktu yang tak sebentar, menjadi seorang dokter adalah sebuah panggilan dari hati. Profesi ini tak bisa hanya mengandalkan mimpi ‘agar-cepat-kaya’. Memang, sebagian orang mengira kalau jadi dokter pasti gajinya besar, tapi selain ada perjuangan yang besar, mereka yang memutuskan mengabdi pada profesi ini pun punya kesungguhan hati yang luar biasa. Itulah mengapa para dokter pasti sebelumnya melakukan sumpah dokter sebagai bukti komitmen mereka terhadap profesi yang satu ini.

Mereka Harus Siap Siaga Setiap Waktu, Karenanya Mereka pun Harus Terbiasa dengan Jam Kerja yang Tak Menentu

Tiba-tiba ada kecelakaan saat dini hari, dokter jaga pun harus sigap memberikan penanganan terhadap para korban cedera. Hal-hal semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari para dokter. Mereka yang menganjurkanmu tidur tujuh jam sehari, justru mungkin ada yang hanya tidur 3-4 jam seharinya. Demi loyalitas terhadap profesi, para dokter ini dituntut siaga setiap waktu. Kamu yang punya pasangan seorang dokter, tak perlu bersedih. Sebaliknya, kamu harus bangga dan memberi dukungan setiap waktu. Sebab apa yang mereka lakukan sungguh patut diapresiasi.

Dibalik Kuatnya Mental Para Dokter, Akan Ada Momen dimana Mereka Begitu Rindu Menikmati Weekend dan Family Time

Mental para dokter sudah terlatih untuk tidak mudah homesick. Apalagi mereka yang ditugaskan di daerah, menjadi dokter sungguh perlu pengorbanan besar. Family time pun jadi momen mewah yang jarang dirasakan para dokter ini. Tapi sekuat-kuatnya mental mereka, dokter tetaplah manusia yang punya rasa. Rasa rindu pada keluarga, kekasih, sahabat, bahkan me-time jelas terasa. Hanya saja, mereka selalu dilatih untuk mengutamakan panggilan jiwa dibanding kesenangan pribadi.

Sejak Mahasiswa, Mereka Dituntut Punya Simpati dan Empati yang Mendalam. Bukankah Tak Adil Kalau Keberadaan Dokter Justru Jadi Alat Orangtua untuk Menakuti-nakuti sang Anak?

Sekali lagi, saat masih menjadi mahasiswa kedokteran, para calon dokter dituntut tak hanya peduli dengan masalah kesehatan, tapi juga harus terbiasa menanamkan simpati dan empati kepada orang lain. Mereka harus cekatan untuk menolong orang dan terbiasa untuk menomorsatukan kesehatan orang lain dibalik kesenangan pribadi. Itulah mengapa saat berjumpa dengan dokter, bukan hal sulit untuk memberikan senyuman terbaik mereka pada pasiennya. Nah untuk para orangtua, yuk ubah stereotipe dokter itu menyeramkan seperti yang selama ini sudah terlanjur melekat pada kepala sebagian anak-anak!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kebiasaan Mager Itu Tak Baik, Sebab Badan Jadi Rentan Sakit dan Stamina Jadi Tak Enerjik

Sering dengar kata mager ‘kan? Satu kata ini suka jadi alasan singkat kenapa orang enggan beranjak dari posisinya. Satu kata yang merupakan akronim dari ‘malas gerak’ ini memang cukup ampuh jadi alasan. Misalnya, saat akhir pekan ibumu meminta ditemani ke pasar sebentar, tapi dengan singkat kamu jawab kalau sedang mager. Kamu pun memilih tiduran di rumah dibanding menemani ibumu.

Tahukah kamu, sering mengucapkan kata ‘mager’ ternyata memicu munculnya mood suntuk lho. Kalau sudah suntuk, tubuh pun jadi rentan ngantuk. Bukannya berusaha mengusir rasa mager, kamu malah mengikuti kata hati untuk berlama-lama berdiam diri di atas kasur. Hati-hati, karena ternyata bahaya kesehatan mengintai kamu yang hobi mager.

Tekanan Darah Tinggi Mengancam Kamu yang Enggan Meningkatkan Produktivitas Diri

Sejatinya kamu harus bersyukur kalau badan terasa lelah usai bekerja atau melakukan aktivitas lainnya. Itu artinya kamu memang produktif. Lain halnya jika kamu justru kurang gerak. Ya, badan yang jarang digerakkan akan membuat sirkulasi darah jadi tak lancar dan tidak teratur. Akibatnya, tekanan darah pun bisa naik. Kondisi semacam ini kalau dibiarkan berlama-lama maka sejumlah penyakit seperti stroke hingga masalah ginjal pun bisa jadi akan menyerangmu. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Jika kamu merasa kurang gerak, mulailah aktif dan jangan malas berolahraga ya!

Metabolisme dalam Tubuh Jadi Lambat, Akibatnya Obesitas pun Datang Lebih Cepat

Selain aktivitas jadi tidak produktif, kebiasaan mager yang berlebihan ternyata bisa mengganggu metabolisme tubuh. Umumnya, orang dengan segudang aktivitas cenderung terlihat fit bukan? Hal ini lantaran setiap gerakan yang dilakukan oleh tubuh membantu sistem pencernaan agar dapat menjalankan proses metabolisme sebaik-baiknya. Sementara kalau kamu mager, tubuh pun akan benar-benar kurang gerak sehingga metabolisme tak berjalan dengan maksimal. Akibatnya, lemak-lemak pemicu obesitas pun siap mengintai badanmu.

Malas Gerak Bisa Picu Stres. Masih Muda Kok Rentan Depresi? Bahaya Lho!

Fakta menunjukkan jika bergerak secara aktif ternyata ampuh menurunkan tingkat stres seseorang. Pekerjaan mungkin membuatmu stres, tapi jangan sampai kamu kurang gerak ya! Apalagi saat akhir pekan, lebih baik gunakan waktumu untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat. Kenapa? Kalau kamu hanya berdiam diri di kamar alias mager, beban masalah bukannya hilang tapi yang ada kamu malah tambah stres.  Bahkan hal itu bisa jadi pemicu tubuh jadi rentan terkena gangguan kesehatan lainnya.

Percaya Atau Tidak, Malas Gerak pun Memicu Osteoporosis

Intinya bagimu yang selalu bangga dengan hobi mager-mu itu, kamu harus berhati-hati dari sekarang. Kurang gerak ternyata tak baik untuk kesehatan tulang. Malas gerak tercatat dapat meningkatkan risiko pengeroposan tulang alias osteoporosis lebih cepat. Masa iya masih muda tapi kesehatan tulangmu tidak terjaga? Mulai sekarang, lebih sering gerak yuk kawan!

Selain Mengganggu Metabolisme Tubuh, Kamu Pun Jadi Sulit Tidur Pada Malam Hari

Coba kamu bandingkan, lebih enak mana, tidur malam setelah melewati hari yang penuh dengan aktivitas atau tidur malam dengan kondisi sebelumnya dimana kamu hanya berbaring terus sepanjang hari? Kualitas tidurmu jelas akan kurang dibanding dengan mereka yang memilih menepis rasa mager. Kamu perlu tahu, dengan aktif bergerak kamu akan terbebas dari gangguan tidur. Sementara yang lebih suka mager, bisa dipastikan akan lebih piawai begadang dan bangun siang. Kalau sudah begini, produktivitas pun jadi semakin kacau bukan?

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Hanya Galau, Patah Hati Bisa Bikin Kamu Pegal Linu

Putus cinta tak pernah terasa mudah. Sejatinya hal yang membuat kita sulit lepas dari bayang-bayang mantan adalah kenangan bersamanya. Meski katanya perempuan jadi pihak yang akan menderita atas berakhirnya hubungan, peneliti dari Universitas Binghamton, Amerika justru menemukan hal sebaliknya. Sebagaimana yang telah diteliti oleh Craig Morris, salah satu ahli biologi evolusi dari universitas tersebut, putus cinta memang bisa membuat seorang perempuan merasakan sakit dalam hal emosi yang lebih parah daripada laki-laki. Akan tetapi, itu semua hanyalah sementara. Namun ada hal lain yang jauh lebih menarik daripada sekedar rasa sakit hati yang kamu mungkin derita. Karena tak hanya masalah emosi saja, beberapa hal aneh akan terjadi pada tubuhmu pasca putus cinta. Termasuk pegal linu yang tiba-tiba menyerbu seluruh tulang di tubuh.

Bersumber Dari Rasa Kecewa Yang Ada, Malam Setelah Putus Cinta Ada Kecemasan Yang Datang Secara Berlebihan Bahkan Membuatmu Insomnia

Salah satu studi dari beberapa orang ahli, efek dari putus cinta hampir sama dengan seseorang yang kecanduan kokain. Kehilangan tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa dia yang kemarin bilang cinta, bisa pergi begitu saja? Belum lagi ketakutan tidak akan menemukan orang yang seperti dirinya kadang membuat kita merasa cemas berlebihan. Alhasil pola tidur yang kita punya akan berantakan, kalau sudah begitu pun kesehatan tubuh ikut terganggu. Kehilangan memang membuat kita merasa gelisah dengan porsi yang kadang berlebihan yang sering berujung pada gangguan kesehatan. 

Hingga Pada Beberapa Masalah Kulit Yang Tiba-Tiba Saja Menghampiri Wajah

Konon jatuh cinta katanya sering ditandai dengan beberapa jerawat di wajah, dan ternyata putus cinta juga mendatangkan hal yang sama. Masih berhubungan dengan susah tidur dan cemas yang berlebihan, wajar memang jika tiba-tiba wajah kita akan ditumbuhi beberapa jerawat. Karena stres dan susah tidur dengan durasi yang panjang, membuat tubuh dan sel kulit kita ikut lelah. Hasilnya semua ini akan menimbulkan jerawat di wajah hingga kesehatan rambut yang juga terganggu.

Lebih Parahnya Lagi, Organ Tubuh Sekitar Dadamu Sering Terasa Nyeri Dan Kerap Berujung Pada Serangan Jantung

Sindrom yang diberi nama Brokenheart ini memang hadir dengan efek samping yang berbeda-beda. Bahkan tak tanggung-tanggung, kegelisahan ini bisa merenggut nyawa. Sebagaimana yang telah diutarakan oleh Dr. Graham, pensiunan spesialis jantung yang kini menjabat sebagai ketua Sexual Advice Association di London, Inggris. Kaum perempuan lebih berisiko mengalami kematian tak lama setelah patah hati. Tapi dalam jangka waktu lama, lebih banyak laki-laki yang meninggal karena serangan jantung akibat dari patah hati ketimbang kaum hawa. Hal itu karena gaya hidup para laki-laki itu menjadi tidak teratur pasca putus cinta. Dan kehilangan orang yang dicintai sering menempatkan kita jadi seseorang yang beresiko terkena serangan jantung 6 kali lebih besar lagi.

Bisa Membuatmu Kehilangan Nafsu Makan Atau Malah Tak Kuasa Menahan Hasrat Untuk Makan, Hingga Akhirnya Berpengaruh Pada Berat Badan

Untuk efek yang satu ini nampaknya memang lebih banyak menyerang kaum hawa. Kita bisa melihatnya pada orang-orang yang ada di sekeliling kita. Dirinya yang tadinya punya pola makan yang baik berubah jadi seseorang yang tak nafsu untuk makan. Atau sebaliknya, dia yang tadinya sangat ketat dalam hal menjaga pola makan menjelma jadi manusia si pemakan segalanya. Debra Smouse, salah seorang pakar hubungan mengatakan bahwa “Seolah-olah memang ada hubungan antara perut dan hati kita. Ketika makanan masuk melalui bibir, hal itu seakan mengirimkan rasa sakit pada tubuh. Kita merasa sangat kesulitan untuk menelan. Kita memaksa diri untuk makan sesuatu, dan disaat bersamaan nafsu makan tak ada sama sekali,” Tak hanya itu saja, kadang putus cinta juga membuatmu tak bisa mengontrol nafsu untuk terus makan sebagai pelarian dari kekecewaan hingga akhirnya menambah berat badan.

Dan Percaya Atau Tidak, Putus Cinta Membuatmu Gampang Merasa Nyeri Pada Otot Hingga Pegal Linu

Untuk hal yang terakhir mungkin sering menyerang kita, hanya saja kita mungkin tak sadar. Berpikir bahwa tubuh sedang lelah, bisa jadi nyeri otot dan pegal linu yang kamu derita dikarenakan putus cinta. Kondisi jiwa yang tertekan membuat kita lebih mudah mengalami cedera daripada biasanya. Bersamaan dengan stres yang menyerang tubuh dan pikiran kita, kejang pada otot mungkin sering kali muncul. Sehingga otot yang berkontraksi menyebabkan rasa sakit dan nyeri di berbagai bagian tubuh yang sering berakhir dengan linu. Berhenti untuk menyalahkan diri sendiri atas apa yang sedang terjadi. Sebaliknya mulailah berdamai dengan hal-hal yang mungkin akan kamu hadapi. Karena konon untuk sampai pada cinta yang sejati, kita harus mengalami patah hati hingga beberapa kali. Galau dan sakit hati adalah sesuatu yang wajar dan sah, tapi tetap berdiam diri dalam sakit hati bukanlah sesuatu yang harus kamu lakukan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top