Feature

Kahiyang yang Anak Presiden Tak Ada Gelar Akademik di Undangannya, Terus Kamu Pakai Buat Apa?

“Penting!” Begitu kata sebagian orang, sedangkan yang merasa kontra akan menggerutu sambil berkata, “Buat apa?”

Konon pernikahan memang jadi salah satu perhelatan besar yang akan dihadiri banyak orang pula. Dan tak tahu datang dari mana, untuk urusan isi dari undangan pernikahan, rasanya hampir di seluruh antero nusantara, kompak untuk mencantumkan gelar akademis pada halaman undangan pernikahan.

Tak perlu menepis pandangan karena merasa disinggung, toh tulisan ini juga bukan untuk bahan perdebatan. Hanya saja, masih banyak orang yang tak habis pikir untuk apa gelar-gelar tersebut dicantumkan. Padahal jika ingin berkaca pada masyarakat luar yang berada di negara berbeda. Fenomena ini sangat jarang kita temui. Lalu ada apa dengan masyarakat kita?

Barangkali Ini Jadi Salah Satu Bentuk Syukur, Bahwa Kedua Mempelai Telah Berhasil Menempuh Pendidikan Hingga Perguruan Tinggi

Sekilas alasan ini memang bisa diterima, lagi pula siapa yang tak bangga jika ternyata calon mempelai tak hanya menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah menengah atas saja, bahkan telah berhasil lulus dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana. Belum lagi, jika ternyata gelarmu tak hanya satu saja, ada dua atau bahkan tiga sekaligus. Tentu semakin bangga kan?

Hal lain yang mungkin jadi alasan, penulisan gelar akademik juga jadi bukti bahwa calon pengantin yang tengah menggelar pesta termasuk golongan orang dengan intelektual diatas rata-rata. Walau kadang-kadang gelar tak selalu jadi patokan untuk kecerdasan seseorang.

Hal Lain yang Dipercaya jadi Alasannya Adalah Kebiasaan Masyarakat Kita

Sebenarnya tak ada yang salah dengan pandangan ini. Dengan kata lain, kamu akan semakin terhormat jika punya embel-embel di belakang nama. Meski kadang kala keputusan-keputusan seperti ini datang bukan dari calon mempelainya. Namun karena desakan dari keluarga yang mungkin menginginkan untuk mencantumkan gelar. Ya, mau tak mau kedua mempelai pun hanya bisa pasrah.

Meraih gelar sarjana tentu jadi pencapaian besar pada setiap orang, tapi bukankah saat wisuda orang lain sudah tahu bahwa kita ini adalah seorang sarjana. Lalu untuk apa lagi, harus dicantumkan di undangan pernikahan. Namun percaya atau tidak, kepercayaan orang-orang yang ada di negara kiat kerap jadi sesuatu yang melatarinya. Sebab sebagian besar orang berpikir, bahwa gelar tersebut jadi sesuatu yang harus diagungkan.

Padahal Keputusan Tersebut Kadang Berubah Jadi Bahan Perbincangan, Jika yang Sarjana Hanyalah Salah Seorang Saja

Sesaat setelah menerima undangan pernikahan yang dibagikan di tempat ibadah, saya pernah mendengar seorang ibu berkata, “Yah, kasian ya padahal dia sarjana tapi ketemu suami yang tidak ada gelarnya”. Kalimat-kalimat seperti ini jadi salah satu hal buruk yang bisa saja terjadi. Padahal belum tentu suami sang calon pengantin tersebut tak sarjana. Bisa saja dia hanya tak mau seperti calon istrinya yang mencantumkan gelar di undangan pernikahan.

Tindakan yang tadinya kita pikir jadi sesuatu yang akan menaikkan pamor ketika menikah, bisa berubah jadi bumerang yang justru menyakiti kita sendiri. Apa lagi jika cibiran-cibiran sumbang tersebut terdengar hingga ke telinga kita sendiri.

Tapi Jika Ternyata Kedua Mempelai Sama-sama Memiliki Gelar Dibelakang Nama, Tentulah Jadi Sumber Pujian Saat Pesta

Konon jodoh kerap ditunjukkan lewat raut wajah yang terlihat mirip diantara keduanya. Dan sepertinya latar belakang pendidikan jadi salah satu hal yang memang harus mirip juga. Katakanlah si calon mempelai perempuan, kebetulan lulusan ekonomi yang memiliki gelar S.E. bersanding dengan sang pujaan yang ternyata adalah seorang sarjana teknik dengan embel-embel gelar S.T.

Tak hanya terlihat serasi dan sepadan saja, banyak orang yang menilai gelar tersebut akan memanjakan mata tatkala kita membuka undangan pernikahan mereka. Tapi apa iya, benar begitu? 

Namun Keputusan Tersebut Tak Melulu Jadi Keinginan Sang Calon Pengantin Saja, Adakalanya Orangtualah yang Meminta

Untuk urusan yang satu ini, kita memang kerap tak bisa berbuat banyak. Sebagai anak yang ingin menyenangkan hati orangtuanya, kita tentu tak bisa menolak keinginan mereka. Walau dalam hati, ada rasa yang kurang sreg. Namun demi menghindari situasi yang bisa-bisa semakin pelik, mengangguk tanda setuju nampaknya memang jauh lebih baik.

Hitung-hitung ini akan jadi salah satu bakti kita kepada mereka. Karena telah susah payah berjuang untuk membuat kita mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, hingga memperoleh gelar dibelakang nama.

Perkara Penting atau Tidaknya, Memang Tergantung Bagaimana Kita Menilainya

Sejatinya pihak yang berhak untuk memutuskan akan mencantumkan gelar atau tidak, tentu kedua mempelai. Meski akan ada perundingan lain yang melibatkan orangtua dan calon mertua tentunya.

Meski bagi sebagian orang ini akan terlihat jadi sesuatu yang aneh. Bahkan banyak yang akan bertanya, dimana letak korelasi dari gelar dan pernikahan. Toh kita mau menikah kan, bukan ingin mengikuti kompetisi atau kembali belajar.

Namun bagaimana pun akhirnya, pilihan yang ditetapkan tentu sudah melalui beberapa perundingan. Apa pun itu, kamu dan pasangan berhak untuk melakukannya.

Untuk kamu yang berencana menikah, kira-kira akan masuk ke tim yang mana nih? #TeamdenganGelar atau #TeamtanpaGelar?

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Berhemat Bisa Dilakukan Secara Menyenangkan

Sebetulnya kenapa sih kita harus melakukan penghematan? Kenapa kita harus menabung? Toh kita selama ini mampu membayar kebutuhan kita, kenapa pulak kita harus repot menyisihkan penghasilan untuk menabung?

Meski tidak selalu eksplisit mungkin pertanyaan macam itu kerap muncul di benakmu. Apalagi sedari kecil kita memang ditanamkan untuk tidak boros. Tapi sayangnya kita memang tak pernah diajarkan alasan kenapa kita harus berhemat dan menabung.

Dalam hal menabung, hal paling penting yang harus kamu ingat adalah kondisimu tidak akan selalu sama seperti sekarang ini. Kamu tidak selalu bisa seproduktif seperti saat ini.

Coba bayangkan saja kalau kamu sakit, tentunya kamu tidak akan bisa bekerja seperti biasanya. Atau nanti ketika tua kamu juga sudah tak lagi bisa menghasilkan seperti ketika muda. Pada saat itulah kita akan menuai hasil penghematan yang kita lakukan saat ini.

Lagi pula, bicara soal hemat itu jangan langsung mengasosiasikan dengan hidup susah dan tak menyenangkan. Kita bisa kok, melakukan penghematan dengan cara yang mengasyikkan.

Berhemat Itu Di depan Bukan Belakangan Karena Terpaksa Tak Punya Uang

Ini kekeliruan utama yang sering kita lakukan. Penghematan dan menabung itu dilakukan belakangan ketika duit hanya tinggal sisa remah-remah akhir bulan. Pada saat itu tentunya berhemat jadi tak menyenangkan karena terasa seperti keharusan karena kehabisan uang. Ditambah lagi cara ini sering kali gagal.

Karena itu cobalah untuk melakukan penghematan itu di depan. Rencanakan semua pengeluaran itu sebelum bulan berjalan. Jadi yang kita lakukan adalah mengatur pemasukan dan pengeluaran, bukan melakukan pengetatan ikat pinggang karena kekurangan uang. Tentukan dulu sedari awal prosentase uang yang ingin kita hemat setiap bulannya.

Irit Itu Tak Perlu Rumit, Menabunglah Menggunakan Rumus 80-20!

Seorang pemikir manajemen bisnis bernama Joseph M. Juran memperkenalkan konsep menabung 80-20. Konsepnya dari rumus ini sangat sederhana. Kamu hanya perlu menabung sebesar 20% dari pendapatan bersih yang telah kamu peroleh. Kemudian gunakan sisanya untuk dibelanjakan. Sebesar 50% dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan 30% sisanya dipakai untuk membeli apa yang kita inginkan.

Sertakan Impianmu Dalam Rencana Penghematan, Karena Menabung Dengan Tujuan Itu Jauh Lebih Mudah

Tak perlu menabung dengan jumlah sangat besar dengan tujuan yang tak jelas. Sikap “yang penting punya tabungan” biasanya sumber dari kegagalan menabung. Karena kita tak akan punya motivasi jelas kenapa harus berhemat.

Karena itu cobalah untuk menetapkan terlebih dahulu tujuanmu. Misalnya, berhemat karena ingin mengganti smartphone terbaru dengan harga tertentu, ingin membeli sepatu merk tertentu yang harganya tak murah, ingin menabung untuk penghasilan di hari tua, berhemat untuk dana darurat ketika sakit, dan tujuan spesifik lainnya.

Dengan membagi tujuanmu secara rinci manajemen keuanganmu juga akan lebih baik. Dan kamu akan punya banyak pos keuangan yang tidak saling tumpang tindih.

Jangan Salah ya, Barang Yang Keren Tak Selalu Idientik Dengan Boros

Kamu keliru kalau berpikir barang-barang yang hemat itu tak bagus. Dan sebaliknya barang-barang yang keren itu harus boros. Coba ambil contoh misalnya lampu LED yang hemat energi. Bentuk dan nyala lampunya jauh lebih baik dari lampu biasa. Pendingin ruangan juga punya karakteristik yang sama. AC dengan teknologi low watt punya bentuk yang lebih langsing dan jauh lebih bisa disesuaikan dengan tampilan interior rumah.

Kendaraan Yang Hemat Pun Bisa Juga Tampil Keren Loh

Sementara untuk kendaraan kamu bisa menengok Suzuki Nex. Motor satu ini memegang rekor MURI untuk kategori motor matic paling irit. Ketika pemecahan rekor mampu mencapai 109,8Km/L. Hal ini dimungkinkan karena Suzuki Nex dibekali mesin 113cc dengan teknologi SUPER FI (Suzuki Performance Fuel Injection) dan mesin berkonsep LeaP (Light, Efficient and Powerful) yang telah terbukti menghasilkan tenaga besar secara presisi dan minim gesekan sehingga mampu mengoptimalkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Tapi meski lekat dengan irit dan hemat bukan berarti Nex akan membuat kita jadi tampil seadanya. Karena Suzuki menawarkan rasa elegan dan mewah pada skutik yang dibandrol Rp12.950.000 ini. Pilihan warna misalnya disediakan Mat Titanium Silver, Titanium Silver, dan Matt Black. Warna-warna yang masuk kategori berkelas.

Desainnya sendiri juga berkelas dengan lampu depan model V dengan bodi keseluruhan yang ramping. Nah, terkait dengan dimensi, pada Suzuki Nex ini memiliki ukuran dimensi dengan panjang 1850 mm, lebarnya 665 mm, dan tinggi 1035 mm serta memiliki berat hingga 90 Kg saja. Suzuki pun juga melengkapi Suzuki Nex ini dengan velg roda berpalang tiga dengan rem cakram di depan. Sebuah tampilan yang tentunya elegan sekaligus sporty.

Jadi kamu siap berhemat dengan cara yang menyenangkan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Hubungan Tanpa Status: Kerugian yang Terlihat Menyenangkan

Sering terlihat bersama, namun ketika ditanya apa status hubungannya, malah dijawab dengan tidak ada apa-apa. Pemandangan akan dua orang yang seperti ini, nampaknya kerap kita temui. Bahkan sikap dan perilaku mereka pun biasa, sama seperti pasangan yang pacaran pada umumnya.

Tapi jika kamu adalah salah satu orang yang ingin berniat untuk menjalani hubungan serupa, sini aku kasih tahu sedap dan tidaknya menjalani hubungan tanpa status. Meski katamu itu akan membuatmu lebih leluasa, sebenarnya kamu sedang dirugikan oleh rasa.  

Katamu Ini Tak Berarti, Namun Pelan-pelan Kamu Malah Menaruh Hati

“Apalah arti sebuah status, jika kita berdua sudah sama-sama nyaman”

Hati mana yang tak akan luluh, mendengar kalimat manis seperti itu. Tentu kita akan menggangguk setuju, dan lantang bersuara bahwa status memang tak selalu perlu. Ya, benar memang. Tapi, apa yakin bisa tetap bertahan dengan status yang demikian?

Jika hubunganmu hanya akan berjalan, satu atau dua minggu. Mungkin alasan itu bisa diterima. Gawatnya, kalian berdua justru semakin sering bertemu. Entah itu sekedar mengobrol atau makan bersama setiap malam Minggu. Percaya atau tidak, seiring dengan berjalannya waktu, salah satu dari kalian akan mulai sayang. Dan ketika rasa sayang yang tumbuh dari kebersamaan itu justru bertepuk sebelah tangan, kamu pun jadi terluka.

Satu Kebohongan Untuk Menutupi Hubungan, Akan Ada Kebohongan Lain di Belakang

Tak perlu ditanya satu per satu, hubungan ini tentu jadi rahasia kalian berdua. Seolah tak ingin ada yang tahu, kalian kerap bertemu secara diam-diam. Awalnya mungkin akan merasa baik-baik saja, lalu kamu pun akan merasa bahwa semuanya mulai membuatmu tak nyaman untuk menjalaninya.

Kebohongan yang awalnya dilakukan demi hubungan, akan melahirkan kebohongan lain yang kamu pikir akan menyelamatkan. Bertindak jadi sosok yang sedang berjuang, bisa jadi kamu hanya dimanfaatkan.

 

Kamu Mungkin Selalu Ada Untuknya, Tapi Dirinya Justru Sebaliknya

Konon hubungan tanpa status memang membuatmu lebih leluasa dalam menjalaninya. Tak ada perasaan yang harus dijaga hingga masih bisa bepergian dengan siapa saja. Anehnya kamu justru bertindak sebagaimana pasangan yang sedang berusaha menyenangkan hati pacarnya.

Baik, kamu mungkin telah menganggap dirinya sebagai pacar yang sah. Hingga apa pun yang dia butuhkan dalam hidupnya, kamu selalu ada untuk memenuhinya.

Anehnya, perlakuan yang kamu terima justru berbanding terbalik dengan apa yang sudah kamu lakukan untuknya. Hatimu bisa saja ingin berontak dan meminta hal yang sepadan. Tapi ada daya, dimatanya kadang diri ini bukanlah siapa-siapa.

 

Tak Akan Bisa Berbuat Banyak, Meski Kerap Takut Kehilangan Jejak

Dia yang kamu sebut pacar mungkin akan dengan senang hati memenuhi segala permintaan. Masalahnya, orang yang kini kamu panggil sayang bukanlah pacar sungguhan. Kalian berdua hanya sedang terjebak pada keinginan yang mungkin saling menguntungkan. Kamu butuh pacar, dirinya butuh sandaran.

Berbekal sayang semuanya mengalir begitu saja tanpa adanya deklarasi hubungan. Bahkan apa pun yang akan dilakukannya, kamu hanya bisa terima apa adanya. Karena jika salah satu berupaya untuk menuntut yang lain untuk sesuatu yang terlalu banyak, maka kita perlu ingat jika diri ini bukanlah siapa-siapa baginya.

Cemburumu Menguras Hati, Namun Dirinya Bisa Jadi Tak Peduli

Tak hanya ada pada lirik lagu saja, hal seperti ini kerap membuat kamu panas hati. Bahkan ketika dia sedang bersama dengan yang lain tepat di hadapanmu, tak ada yang bisa kamu perbuat, karena nyatanya statusmu tak cukup kuat untuk menghentikan sikapnya.

Bersyukur jika dirinya mengerti bahwa hatimu sedang tak sehat atas pemandangan yang dibuatnya. Hal lain yang akan semakin mencabik-cabik hati adalah saat dia justru bersikap biasa tanpa rasa bersalah. Wajar memang, toh kamu dan dirinya hanyalah sebatas teman.

Hingga Pada Pandangan Buruk yang Kerap Orang-orang Katakan

Bohong jika katamu, tak akan ada yang curiga atas hubungan yang kalian punya. Setidaknya akan ada satu dua orang yang akan memerhatikan apa yang kerap kalian lakukan. Baik itu bertemu diam-diam, hingga membantunya dibeberapa kesempatan.

Beberapa orang akan mulai bersikap sebagai hakim atas pilihan yang sedang kamu jalani. Menganggap kamu gampangan hingga menilai hubunganmu tak punya masa depan  Kamu bisa saja tak peduli dengan apa yang orang lain katakan, apalagi jika ternyata pelan-pelan kalian justru saling menguatkan karena sudah punya rasa yang sama. Lalu bagaimana jika apa yang selama ini orang lain kerap katakan, akan berubah jadi kenyataan. Sakit kan?

Dan Ketika Kamu Mulai Mematrikan Hati Untuknya, Dia Justru Pergi dengan Pilihan Barunya

Ini akan jadi bagian terperih dari hubungan tanpa status yang tadinya kamu anggap tak akan sia-sia. Hatimu bisa saja sudah berubah, karena sadar bahwa sebenarnya dia bisa jadi sosok yang melengkapi kekuranganmu. Tapi untuk isi hati dari miliknya? Tentu hanya dialah yang tahu.

Setelah sekian lama memendam rasa, akhirnya kamu hanya bisa kecewa saat dia memilih orang lain. Bukan kamu yang kemarin katanya bisa menenangkan jiwa, namun ternyata hanya sebatas teman untuknya. Bukan jadi pasangan yang akan dicintai selamanya.

Bukan tak percaya pada pilihan hidupmu, namun memilih untuk menjalin hubungan tanpa status kadang hanya membuatmu jadi manusia yang merugi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Bukannya Aku Anti dengan Seni, Tapi Sebuah Tato di Tubuh Hanya Akan Menuai Kontroversi

Entah sudah berapa kali kamu bilang padaku soal keinginanmu yang ingin membuat tato kecil di lenganmu itu. Hal ini jelas membuatku gusar dan sedikit kesal. Rasanya sukar sekali membuatmu mengurungkan niatmu  itu. Aku tahu, keinginanmu membuat tato tak lepas dari kesukaanmu pada seni. Pun dengan aku, bukannya aku anti dengan seni dan segala hal yang kamu suka, aku hanya tidak ingin kamu jadi perbincangan orang-orang yang tak mengerti maksud dan tujuanmu itu.

Kamu bilang padaku, “Cuek saja dengan apa kata orang,” tapi aku tak bisa demikian. Mungkin teman-teman kita sudah menganggap tato jadi hal yang lazim, tapi tidak dengan keluargamu atau keluargaku. Seringkali, pola pikir lintas generasi membuat kita berbenturan dengan mereka yang lebih tua, atau yang sejak awal sudah menganggap sesuatu yang tak lazim maka selamanya tetap seperti itu. Bukan hanya itu, aku tak rela kamu bertato karena yang kutahu tato justru mendatangkan dampak yang tak baik bagi kulitmu.

Urusan Kesehatan Menjadi Alasan Utama Mengapa Aku Keberatan Kalau Kamu Bertato

Kamu harus tahu, salah satu risiko membuat tato adalah menyebabkan infeksi. Munculnya infeksi bisa saja berasal dari tinta yang telah terkontaminasi bakteri Mycobacterium chelonae. Efeknya, akan muncul ruam di kulit dan terasa perih setelah berbulan-bulan lamanya. Bahkan infeksi virus ini juga bisa berkembang jadi tumbuhnya kutil. Yakin? Masih kekeuh mau menato?  Aku hanya mengingatkan. Belum lagi munculnya alergi. Bisa berupa kemerahan pada kulit yang kemudian jadi gatal-gatal. Alergi yang muncul karena tato bahkan sulit diobati.

Tak Sedikit dari Mereka yang Sudah Bertato Pada Akhirnya Menyesal dengan Tato yang Telah Dibuat

Menutup kulit dengan tato lagi-lagi berimbas pada kesehatan kulit. Pasalnya, adanya tato ternyata membuat dokter sulit melakukan deteksi dini adanya kanker. Akibatnya, kanker pun jadi terlambat untuk ditangani. Maka tak heran jika tidak sedikit orang yang pernah merajah tubuhnya dengan tato akhirnya menyesal di kemudian hari, bahkan berniat menghapus tato tersebut. Berdasarkan penelitian, sebanyak 28 persen orang Amerika menyesali tato yang dibuatnya dalam jangka waktu setahun. Aku tak mau kamu menyesal pada kemudian hari. Jadi, bukankah lebih baik tak usah bertato?

Belum Lagi Soal Restu Orangtuaku, Mereka Tahunya Kamu Tak Bertato, Apa Jadinya Kalau Suatu Saat Kita Terganjal Restu Hanya Karena Tato yang Terlanjur Melekat?

Sekian waktu kita menjalani relasi, orangtuaku memang sudah setuju. Tapi bukan berarti mereka tak menanyakanmu lebih lanjut. Aku tahu, keinginan mereka adalah agar aku mendapatkan orang yang memang tepat untukku. Tapi apa iya, saat aku mengira kamulah yang paling tepat, orangtuaku justru tidak merasa demikian.

Kuakui orangtuaku masih sangat kaku, mereka pasti tidak bisa dengan mudah memahami alasanmu jika kamu benar-benar ingin bertato. Inilah mengapa kukatakan, tato hanya akan menuai kontroversi. Semula kamu datang tanpa tato, apa jadinya kalau mereka mendapati fakta baru? Aku hanya tak siap berpisah denganmu hanya karena urusan tato.

Lagipula, Bukankah Agama Pun Melarang Soal Menato Tubuh?

Bukannya aku ingin menceramahi, hanya saja setahuku demikian. Kamu dan aku sama-sama beragama, bukankah sebaiknya kamu mengurungkan niatmu daripada kepalang terlanjur padahal kamu tahu hal itu dilarang? Aku hanya tak ingin kamu mendapat cap yang tak seharusnya hanya karena sebuah tato.

Mungkin kini kamu tahu, tekadku untuk menentangmu agar tak bertato memang cukup kuat. Kalau dibandingkan antara manfaat dan tidaknya, aku bahkan belum melihat adanya faedah dari sebuah tato. Tapi bila akhirnya kamu enggan mendengarkan segala masukanku, maafkan jika aku marah padamu.

Suatu Saat Bila Aku Marah, Kuharap Kamu Mengerti. Atau Setidaknya, Jelaskanlah Alasan Logis Dari Sebuah Tato yang Begitu Kamu Dambakan Itu

Aku dan kamu sedang tak sepemikiran untuk hal yang satu ini. Karenanya, bila akhirnya kamu memilih jalanmu tanpa mempertimbangkan saran-saranku, tolong maklumi jika aku marah padamu. Sebagai partner, aku mencoba menuntunmu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Toh kalau kamu tak melihat usahaku yang demikian adanya, baiklah, mungkin suatu saat aku akan mengerti. Atau setidaknya, berikan aku satu penjelasan logis yang bisa membuatku mengerti mengapa harus menato.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Mewarnai Rambut Adalah Caraku Merayakan Kebebasan Berekspresi

Rambutmu diwarnai? Kira-kira alasan apa yang mendorongmu berani mengubah warna rambut? Faktanya memang demikian, kendati perempuan Asia sudah dianugerahi warna rambut yang hitam nan indah, masih banyak yang ingin mewarnai rambutnya. Bahkan berdasarkan penelitian yang ada, sekitar lima juta perempuan mengecat rambutnya.

Apa yang Membuat Orang Mewarnai Rambut?

Mungkin kalau untuk mereka yang sudah mulai muncul uban, mewarnai rambut adalah cara untuk menutup munculnya rambut putih tersebut. Tapi tak melulu demikian, terlebih saat ini mewarnai rambut telah jadi bagian dari fesyen, seni, dan tren. Sehingga mewarnai rambut pun mulai dianggap sebagai salah satu cara merayakan kebebasan berekspresi.

Terbukti, 60 persen mengubah warna rambutnya sebagai bagian dari fesyen dan memilih menggonta-ganti warna rambut yang sedang tren saat itu. Jumlah tersebut ternyata terus meningkat setiap tahunnya.

Berekspresi Itu Hak Setiap Orang, Tak Masalah Kalau Kamu Mewarnai Rambut Semata-mata Demi Mengubah Penampilan 

Beberapa tahun atau mungkin dekade lalu, mewarnai rambut masih dianggap sebagai hal yang terlalu ‘liar’. Orang yang mewarnai rambutnya, terutama perempuan, biasanya dianggap nakal atau urakan. Tapi seiring perubahan zaman, ternyata mewarnai rambut mulai dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk mengubah penampilan.

Untukmu yang memang tertarik mengubah penampilan agar terlihat berbeda, jangan takut menjajal warna rambut yang kontras dengan warna rambutmu. Kamu bisa meniru langkah selebritis Korea untuk hal yang satu ini.

Percaya Diri Bukan Hanya Soal Berbicara Lantang di Depan Umum, Tapi Berani Tampil dengan Gaya Rambut yang Kita Inginkan

Bagi sebagian orang, percaya diri bukan berarti tampil di depan umum atau melawan rasa takut. Tapi tentang bagaimana dia tahu apa yang diinginkan dirinya tanpa terpengaruh penilaian orang lain. Salah satunya dengan berani memilih warna rambut yang kamu inginkan. Kebanyakan orang yang ingin mewarnai rambut biasanya memikirkan warna apa yang sekiranya cocok dengan mereka.

Tapi diatas semua itu, kamu perlu membangun rasa percaya diri terlebih dahulu sebelum mulai memutuskan untuk mewarnai rambutmu. Kalau rasa percaya diri sudah ada, saat kamu melihat tampilan barumu, maka kamu akan cepat beradaptasi dan bisa berlaku seperti biasanya tanpa perlu ada rasa tak nyaman.

Menariknya, Style Mewarnai Rambut Bagi Perempuan Jepang Menandakan Kalau Mereka Peduli Kesehatan Rambut 

Tampil beda pasti jadi tujuan utama pewarnaan rambut. Namun tetap saja, kamu tak bisa mengabaikan perawatan rambut. Kamu perlu tahu, perempuan Jepang yang mewarnai rambut justru dianggap yang paling memperhatikan kesehatan rambut. Pasalnya, mewarnai rambut memang membutuhkan perawatan ekstra.

Perempuan Jepang biasanya kerap merawat kulit kepala mereka dengan perawatan khusus di salon. Mereka berprinsip kalau rambut sehat memang berasal dari kulit kepala yang sehat. Kalau rambut terjaga kesehatannya, maka penampilan pun akan lebih sempurna.

Tak Perlu Perawatan Mahal, Mewarnai Rambut pun Sejatinya Bisa Bikin Kamu Tampak Lebih Awet Muda

Agar terlihat lebih awet muda, poni bisa dijadikan cara ampuh demi mendapat tampilan yang lebih fresh. Tapi tak melulu poni, untukmu yang lebih suka mewarnai rambut, silahkan coba cara yang satu ini. Namun kamu tetap harus jeli dalam memilih warna cat rambut yang cocok dengan kepribadianmu. Biasanya kalau sudah menemukan warna yang tepat untuk rambut, bukan saja bisa membuatmu terlihat awet muda, kamu pun akan nampak lebih bahagia dari biasanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top