Feature

Quarter Life Crisis, Jadi Masa Transisi Hidup yang Mau Tak Mau Harus Kita Hadapi

Beberapa  pakar psikologi menyebut ini quarter-life crisis –  jadi sebuah krisis yang dirasakan milennials di usia 25 hingga 35 tahun dan lebih sering terjadi pada orang-orang berpendidikan.

Bentuk sederhananya, krisis ini kita rasakan bisa jadi karena ekspektasi kita, keluarga dan masyarakat terhadap diri, serta lingkungan sekitar tak sejalan dengan realita yang ada di depan mata. Konsekuensinya, kita merasa gagal jadi manusia, merasa tak ada yang mengerti kita, depresi atau bahkan memilih mengakhiri hidup saja.

Usia ini jadi rentan waktu yang cukup sakral sekaligus genting, ada banyak hal yang akan terasa jadi beban. Mulai dari urusan pekerjaan, pasangan, pilihan hidup hingga pada hal lain yang akan kita alami.

Dan jika saat ini kamu sedang mengalami, tenang kamu tak sendiri. Sebab ada ribuan bahkan jutaan orang yang mungkin sedang berkelut pada persoalan yang sama. Walau ini terasa berat dan sulit untuk diuraikan, tetap ada jalan untuk membuatnya terasa lebih mudah.

Kamu Mungkin Khawatir, Tapi Jangan Pernah Merasa Sendiri

Gambarannya begini, saat ini kamu sudah berada pada satu titik hidup yang tadinya kamu pikir jadi tujuan. Bekerja pada perusahaan yang cukup nyaman dengan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan. Tapi setelah itu, ada masa dimana kita masih saja bertanya pada diri sendiri. Benarkah ini jadi pilihan hidup yang akan diyakini? Dan seringnya jawabnya sulit kita cari.

Dan sialnya, hal ini tak terjadi pada hal pekerjaan saja. Tapi juga berimbas pada bagian lain yang ada dalam hidup kita. Pasangan yang tadinya kita pikir akan jadi teman hidup di masa depan, tiba-tiba terlihat seperti sosok yang bukan kita inginkan.

Hingga pada tuntutan dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang kini berubah jadi beban yang harus diselesaikan. Diminta menikah, tak disarankan untuk begini , atau dilarang untuk berlaku begitu.

Ini memang jadi fase sulit untuk menuju fase hidup yang lebih dewasa, tapi pada kenyataanya kita tak sendiri. Kita bukanlah satu-satunya manusia yang sedang berjalan pada kedewasaan yang lebih nyata. Hanya saja kita mungkin masih terjebak, pada masa “dewasa yang berpura-pura”, berkali-kali membuat komitmen dan mencoba untuk dewasa namun belum menemukan hasilnya.

Lalu Apa Kata Psikologi Tentang Quarter Life Crisis Ini?

Dari hasil studi yang baru-baru ini dipublikasi oleh Dr. Oliver Robinson di University of Greenwich, yang berjudul “Munculnya Kedewasaan, Awalan Kedewasaan dan Quater Life Crisis”, setidaknya ada 5 fase yang akan kita rasakan, yakni :

  1. Kita merasa terperangkap oleh pilihan hidup yang kita buat, seperti pekerjaan, hubungan, atau keduanya.
  2. Ada sesuatu yang tampak berkata bahwa “Aku harus keluar dari zona ini”, dan sadar jika kita melakukan satu loncatan ada perubahan yang mungkin akan kita dapatkan.
  3. Kita berhenti dari pekerjaan, putus dengan pacar, atau menghancurkan komitmen lain yang membuat kita kerap merasa terjabak. Hingga akhirnya merasa akan memulai kembali segalanya sedari awal.
  4. Perlahan, kita mulai bangkit dan menata hidup lagi.
  5. Kemudian berubah dan mengembangkan komitmen baru dengan hal-hal yang memang kita ingini.

Beberapa psikolog beranggapan bahwa fase hidup ini, jadi masa yang patut untuk disalahkan untuk segala kebimbangan. Dan kemampuan kita untuk menentukan langkah mana yang akan dijadikan sebagai jalan keluar, jadi penentu yang akan menyelamatkan. Langkah mana yang akan kita ambil untuk menemui jalan keluar.

Fase Ini Jadi Bagian Hidup yang Normal

Beberapa orang mungkin akan berkutat dan kerap menyimpulkan segudang pertanyaan dalam hidupnya. Mengapa hidup terasa bagai benang kusut yang sulit kita temukan garis ujungnya. Tanpa harus berpikir bahwa kita jadi satu-satunya orang yang sedang merasakan kesusahan ini.

Cobalah membuka mata bahwa, nyata ada banyak orang yang sedang bernasip serupa. Terjerat dalam masalah pelik yang sulit diuraikan oleh mata dan kepala, hingga bingung akan mencari solusi dimana. Percayalah ini semua adalah sesuatu yang normal terjadi, untuk itu tak perlu taro takutmu secara berlebih.

Maka Hadapi Situasi Ini dengan Siasat yang Kita Mampu

Seorang psikolog klinis Jeffrey DeGroat, Ph.D dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa sumber dari segala hal yang sedang kita alami adalah diri sendiri, bukan lingkungan atau siapa saja yang diluar diri. Dan untuk memperbaiki ini, DeGroat menyarankan kita mampu memperbaiki diri dan cara menepis segala hal-hal yang bisa saja membuat kita stress.

Sejalan dengan hal itu, beberapa psikolog juga menyebutkan bahwa kecerdasan kita dalam mengelola emosi. Sebab ini akan jadi kunci yang juga menyelamatkan kita, untuk terus berjalan tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.

Tak perlu terlalu takut tak akan bisa mengendalikan diri, sebab kemampuan ini akan tumbuh seiring dengan berjalanannya waktu. Kematangan usia akan memantapkan kondisi emosional yang kita punya.

Buang Semua Hal-hal yang Membuatmu Merasa Terbelenggu

Tak ada cara yang paling memungkinkan selain, menghadapinya sebagai bagian hidup yang memang harus kita selesaikan. Anggaplah ini jadi ujian untuk kenaikan kelas, yang suka atau tak suka harus kita ikuti demi tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Sebab tahap pertama yang akan menandai masa krisis yang sedang kita derita adalah terjerembab dan masuk kedalamnya. Dan hal pertama yang harus kita lakukan adalah, bagaiman cara mencari jalan keluar untuk lepas darinya.

Jadi jika saat ini mungkin kita sedang berada diambang kebingungan dalam hal menentukan pekerjaan. Cobalah mulai dengan berani melepaskan, dengan catatan telah terlebih dulu mencari hal selanjutnya yang akan kita jalankan. Tak perlu takut untuk melepaskan sesuatu, sebab bisa jadi ada hal yang lebih baik setelah itu.

Lakukan Semuanya dengan Tanpa Menghiraukan Komentar Orang

Seringnya, keresahan dan segala hal-hal yang jadi beban pikiran datang dari kepedulian kita terhadapan omongan orang. Tak ada yang salah dengan membuka telinga untuk komentar pihak lain, untuk kehidupan yang sedang kita jalankan. Namun akan menjadi beban jika sudah terlalu menggantungkan keputusan pada hal-hal yang orang lain sampaikan.

Tak apa, jika tetangga akan menilai pekerjaanmu mungkin tak jelas dan tak ada juntrungannya. Kita hanya perlu belajar untuk mengabaikan apa yang sedang mereka suarakan dengan tetap bekerja sesuai hal yang kita yakini. Ingatlah, bahwa diri sendiri jadi pihak yang paling berhak untuk menilai, sejauh mana kita sudah berbuat sesuai dengan hal yang memang kita inginkan.

Dan Belajarlah Untuk Mengelola Ekspektasi Sejajar dengan Kemampuan yang Bisa Kita Lakukan

Demi menghindari diri dari hal-hal yang justru bisa jadi sumber sakit hati, berkaca pada diri sendiri adalah sesuatu yang kita butuhkan. Bukan apa-apa, bayangan yang terlalu tinggi sering jadi sumber masalah yang seharusnya bisa dihindari.

Tempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, tentukan hal apa yang akan menjadi tujuan selanjutnya tanpa membuatnya jadi beban yang menyusahkan diri sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Suzuki Nex Berganti Wajah, Tampilannya Makin Gagah Mengincar Kaum Muda

Di gelaran Indonesia International Motor Show 2018, Suzuki mengenalkan suksesor alias penerus dari Suzuki Nex. Sebelumnya Suzuki Nex ini memegang rekor MURI untuk kategori motor matic paling irit dengan pemecahan rekor mampu menempuh jarak 109,8 Kilometer untuk setiap liternya.

Kali ini dikenalkan dengan nama Suzuki Nex II, tampilannya makin sarat aura modern. Yup, mengusung tema #KerenCaraBaru, Suzuki Memperbaharui tampilan Nex II. Secara garis besar, desain motor ini mengikuti tren yang ada saat ini. Tampilannya menggunakan sudut lancip yang tegas dengan tampilan yang simple dan clean.

“Nex II Didesain menyasar anak muda pada rentang usia 17 – 25 tahun, yang mungkin masih pelajar atau mahasiswa namun juga memungkin untuk digunakan orang tuanya atau para dewasa muda”, ungkap Yohan Yahya, selaku Dept.Head Sales and Marketing PT.Suzuki Indomobil Sales.

Salah satu faktor yang membuat motor ini nampak modern dan futuristik, adalah tampilan headlamp yang berada di dalam fairing depannya. Sementara di samping lampu terdapat lubang udara kecil yang menunjang aerodimikanya.

“Desain bentuk lampu depan dan lapisan pelindung yang futuristik, terdapat unsur DNA dari motor sport Suzuki bermesin besar seperti GSX-1000” tambah Yohan.

Salah satu perubahan signifikan terlihat pada Floorboarding atau sandaran kaki yang lebih besar dibanding generasi pertamanya. Sehingga kamu akan merasa lebih nyaman, karena ruang kaki terasa lebih lega.

Lalu juga terdapat ruang kompartemen yang disematkan pada sisi kiri dan kanan tentunya bisa membawa barang bawaan yang banyak. Untuk varian tertentu dalam kompartemen ini terdapat charger untuk handphone.

Iya, ini lah perbedaan lain dengan generasi Nex terdahulu yang cuma punya satu varian, Suzuki Nex II kini punya opsi 5 varian berbeda. Mulai dari Sporty Runner, Fancy Dynamic, Elegant Premium, Elegant dan Standart. Dimana setiap variannya ini dibedakan dari pilihan kelengkapan fitur dan aksesoris yang dimiliki. Jadi kamu bisa menyesuaikan dengan masing-masing karakter yang sesuai dengan penampilan. Inilah yang disebut Suzuki sebagai #KerenCaraBaru.

Buat kamu yang senang warna-warna cerah tanpa banyak grafis bisa memilih varian yang standar. Sementara sporty runner cocok untuk kamu yang aktif karena desain grafisnya yang menyiratkan hal ini. Untuk yang gemar tampilan stylish bisa memilih fancy dynamic. Pilihan terakhir untuk kamu yang senang kemewahan ada warna polos doff di varian Elegant dan Elegant Premium.

“Seri terbaru (NEX II) ini jadi solusi transportasi dan gaya hidup anak muda yang sedang mencari sepeda motor pertama yang paling tepat. Entry terbaru ini memiliki beberapa penyempurnaan dan diperbanyak variannya, sehingga mewakili beragam karakter anak muda” ungkap Seiji Itayama selaku Managing Director 2W PT Suzuki Indomobil Sales.

Lalu harganya berapa? Nah, untuk urusan satu ini perlu bersabar sedikit karena Suzuki belum membuka harga untuk Suzuki Nex II ini. Nantinya akan diumumkan pada peluncuran resminya ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Kenapa Motor Ini Bisa Bikin Penjualan Suzuki Melesat?

Tahun 2017 lalu bisa dibilang jadi kebangkitan penjualan Motor Suzuki. Padahal penjualan motor nasional turun 0,8 persen, sementara Suzuki justru melesat mencatatkan penjualan tertinggi sebesar 27 persen.

“Tahun 2017, merupakan tahun kebangkitan bagi kami. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan konsumen setia Suzuki atas produk baru Suzuki. Di tahun 2018, kami akan menjawab ekspektasi konsumen dengan menghadirkan beberapa pilihan produk baru, program penjualan, pelayanan aftersales, serta event-event menarik lainnya,” ujar Yohan Yahya, Sales & Marketing 2W Department Head PT. SIS.

Lantas apa yang membuat penjualan Motor Suzuki jadi meningkat pesat? Jawabnya ada pada Suzuki GSX-R150 dan Suzuki GSX-S150. Kehadiran GSX-R150 memang jadi primadona ditengah pasar motor sport, terbukti penjualan GSX-R150 memberikan kontribusi tertinggi tehadap penjualan Suzuki sebanyak 40% dengan jumlah 28.982 unit.

Sebetulnya apa yang membuat motor ini diminati? Sesungguhnya ketika era 90-an Suzuki bisa dibilang pemain yang diperhitungkan di segmen motor laki alias motor kelas sport. Lewat model RGR, pabrikan berlogo huruf S ini menguasi pasar motor bertudung dengan teknologi berkelas di depan kompetitornya yang lain. Karena itu GSX series langsung mengingatkan kembali kehebatan Suzuki ini.

Melalui dua model tadi Suzuki terlihat tak main-main menggarap segmen kelas motor sport. Pasalnya dua variannya kali ini diklaim telah dipersenjatai oleh fitur tercanggih dan terkini. Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 dan GSX-S150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

GSX bisa diminati karena punya keunikan dibanding motor sport lain yang ada di pasar.. Suzuki mengambil langkah berbeda dengan para kompetitornya yang memilih mesin over stroke atau Square. Karena dapur pacu yang disematkan pada GSX-R150 ini justru mengadopsi tipe ukuran over bore alias diameter pistonnya (62,0 mm) lebih lebar bahkan berselisih jauh dibanding langkahnya (48,8 mm).

Layaknya mesin over bore, tenaga yang dihasilkan pada putaran bawah cenderung lebih jinak dan kalem. Karena itu motor ini cukup ramah digunakan di tengah kemacetan tanpa kerepotan mengatasi tenaga dan torsi berlebihan pada putaran bawah.

Tapi sifat asli over bore mulai kelihatan pada putaran menengah dan atas dimulai dari 7000 RPM. Apalagi putaran mesinnya bisa berteriak hingga 13.000 RPM. Tenaga maksimalnya berada di 18,9 dk dengan torsi 14NM. Jangan heran seandainya bung menggunakan motor ini untuk beradu kecepatan, di putaran tengah dan atas cepat mengasapi motor lain.

Tak Cuma urusan dapur pacu yang digarap serius. Tampilan juga menjadi perhatian serius Suzuki. Mengikuti perkembangan tren warna yang disukai oleh publik Indonesia, Suzuki GSX-R150 hadir dalam 5 pilihan warna yaitu Metalic Triton Blue, Titan Black, Solid Black/Gloss, Brilliant White dan Stronger Red. Sedangkan GSX-S15 hadir dalam 4 pilihan warna yaitu Metalic Triton Blue, Metalic Ice Silver, Solid Black/Gloss dan Stronger Red/Titan Black.

Aura modern juga langsung terasa begitu kita duduk di motor ini. Karena kita akan disambut oleh LCD speedometer full digital. Khusus kelas Suzuki GSX-R150 telah dilengkapi fitur canggih seperti Key-less Ignition System. Jadi pengendara tak perlu lagi memutar anak kunci, cukup mengantungi sensor dan menekan tombol starter untuk menghidupkan mesin. Sebagai perbandingan, fitur ini menjadi yang pertama di kelasnya.

Dengan kombinasi macam itu wajar jika kemudian motor ini disukai oleh banyak pecinta otomotif dan mendongkrak penjualan Suzuki.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Kisah Mengharukan dari ‘Suga BTS’, Dalam Hal Memperjuangkan Mimpi

Setiap orang memiliki masalah dalam kehidupan ini. Masalah kehidupan tak pernah memandang siapa yang didatanginya. Tak peduli dia seorang penguasa atau pun rakyat jelata, jika memang itu sudah takdirnya, tetap dia yang harus berjuang melewatinya.

Seperti halnya yang dilalui seorang public figure yang satu ini. Dia adalah seorang rapper bernama Suga anggota grup BTS yang banyak digandrungi oleh banyak orang terlebih lagi para perempuan. Kehidupan yang dia jalani bukanlah kehidupan yang mudah. Sama seseperti lainnya, perjalanan kehidupannya pun dipenuhi dengan lika-liku yang terbilang cukup berat.

Mimpinya Sempat Tak Mendapat Restu dari Kedua Orangtua

Suga terlahir dari keluarga dengan kondisi finansial yang tak cukup baik. Karena itulah kedua orangtu Suga menginginkan Suga menjadi seorang pegawai kantoran yang nantinya akan menerima pendapatan tetap setiap bulannya. Namun hal ini tak sejalan dengan apa yang Suga impikan. Dia memiliki passion di dunia musik. Sehingga akhirnya dia memutuskan untuk bergabung menjadi trainee di agensi industri hiburan Korea.

Pantang Menyerah untuk Meraih Mimpi

Ada banyak hal yang menjadi batu sandungan Suga dalam meraih mimpinya. Mulai dari pandangan orang yang meremehkan kemampuannya sampai dengan persaingan yang sedikit kotor dari sesame rapper yang ingin menjatuhkannya.

Namun semua itu terbayar dengan apa yang kini sudah berhasil diraih olehnya. Nama Suga sudah banyak dikenal oleh masyarakat di penjuru dunia. Sudah banyak penghargaan yang diraihnya dalam perjalanan karirnya selama ini.

Momen Paling Haru Saat Keluarga Suga Datang untuk Menyaksikan Konsernya

Memilih melangkahkan kaki pada jalurya sendiri membuat Suga harus merelakan diri untuk menjauh dari keluarganya. Dukungan yang tak dia dapatkan dari kedua orangtuanya membuatnya jauh dari kedua orangtuanya. Bahkan saat Suga sudah ada di puncak kejayaan pun, keluarganya tak pernah datang untuk melihat langsung konser Suga.  Bahkan saat liburan tiba, saat anggota BTS yang lain pulang ke rumah masing-masing, Suga lebih memilih untuk tetap tinggal di asrama.

Sampai akhirnya hal yang Suga tunggu-tunggu tiba. Pada konsernya di tanggal 8 Mei 2016 silam, keluarganya datang untuk menyaksikan penampilan Suga secara langsung. Bahkan Suga tak bisa menahan tangisnya saat melihat kakak dan orangtuanya ada di konser penonton melihatnya tampil. Sesuatu yang sudah lama Suga impikan akhirnya terwujud juga.

Berjuanglah dan Biarkan Waktu yang akan Membuktikan

Tidak ada usaha yang akan berakhir sia-sia. Mungkin jika dulu Suga memilih untuk diam danberhenti berjuang, kini dia bukanlah siapa-siapa di dunia musik. Namun karena dia mau memperjuangkan apa yang dia mimpikan, kini dia berhasil meraih apa yang menjadi impiannya sejak kecil. Bahkan mungkin apa yang dia dapatkan sudah melebihi apa yang dia harapkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Saat yang Lain Ramai dengan Isu Pelakor, Acha dan Suami Mempererat Relasi dengan Rajin Ngobrol

Kita mungkin sudah ada di titik jengah saat melihat linimasa Instagram atau media sosial lainnya yang heboh dengan isu pelakor. Kalau boleh dibilang, apa jangan-jangan Indonesia memang sedang darurat pelakor? Bagi kamu yang hanya mengamati, mungkin meyakini tak akan ada efek apa-apa. Tapi jangan salah, imbas terhadap fenomena ini ternyata beragam. Ada yang merasa sudah tak percaya lagi dengan yang namanya komitmen, ada yang takut menikah, bahkan ada yang memilih bungkam lantaran bingung harus berkomentar apa menyadari maraknya keberadaan perebut pasangan orang.

Hei, normal saja muncul ketakutan seperti itu. Tapi bukan berarti kita menutup mata dengan keberadaan cinta sejati, kan? Diantara sekian banyak sensasi yang diciptakan selebritis atau orang terkenal lainnya, masih ada kok yang bisa dijadikan panutan untukmu dalam memaknai sebuah komitmen pernikahan. Coba tilik saja kisah Acha Sinaga dan suaminya, Andy Ambarita. Kedua pasangan ini selalu kompak menebarkan pesan positif yang bisa membangun rasa percaya kalau cinta sejati itu masih ada.

Acha dan Andy Sering Tak Sungkan Menunjukkan Kemesraan Mereka Lewat Postingan Instagram

Sebelumnya, Acha Sinaga dikenal sebagai pesinetron. Namun kini perempuan 28 tahun itu lebih suka dikenal sebagai content creator. Ya, kesibukan Acha sekarang ini lebih terlihat di Instagram. Setelah menikah, Acha ikut sang suami pindah ke Australia dan menetap di Sydney. Meski jauh dari keluarga di Indonesia, namun seiring perannya sebagai istri, Acha tak sungkan membagikan momen kebahagiaannya bersama sang suami. Keduanya bahkan sering membuat iri warganet lantaran rumahtangganya mesra dan jauh dari gosip miring.

Kekompakan Bagi Acha dan Andy Ditunjukkan dengan Saling Mendukung Passion Masing-masing

Acha dengan profesi barunya sebagai influencer sekaligus content creator patut senang sebab mendapat dukungan penuh dari sang suami. Terbukti, bukan hanya mendukung Acha, Andy pun sering terlibat sebagai fotografer dibalik foto-foto Acha yang menakjubkan. Kalau ada istilah Instagram Husband, mungkin julukan itu patut disematkan pada Andy.

Tak hanya itu, Acha pun mendukung penuh kegiatan suaminya yang punya kegiatan pelayanan gereja di Sydney. Bahkan dalam beberapa momen, Acha tampak tak sungkan untuk berduet dengan Andy yang piawai bermain gitar.

Meski Dikenal Sebagai Influencer, Acha dan Andy Sering Membagikan Cerita Mengenai Pertumbuhan Rohani Mereka Pasca Menikah

Keduanya menyadari bahwa pertemuan dan pernikahan yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Bagi Acha dan Andy, kehidupan sehari-hari pun harus melibatkan campur tangan Tuhan. Apa yang dilakukan pasangan ini pun patut diacungi jempol. Keduanya tak sungkan membagikan pengalaman spiritual mereka di Instagram. Bagi sebagian pengikutnya, hal itu jelas menakjubkan sebab tak banyak pasangan yang memilih cara hidup seperti keduanya.

Satu Tahun Menikah, Hidup Acha dan Andy Semakin Berwarna untuk Dijalani

Acha dan Andy menikah pada 15 April 2017. Kini sudah setahun keduanya mengarungi bahtera rumah tangga. Uniknya, kemesraan mereka selalu baru setiap harinya. Setiap foto atau stories yang diunggah setidaknya membuat publik mengamini bahwa keduanya memang benar-benar menjalani hidup yang lebih bahagia di Sydney. Di tengah-tengah kesibukannya, Acha bahkan masih sempat membuat vlog untuk dibagikan ke followers-nya.

“seperti naik bianglala atau giant wheel, itu gambaran kehidupan pernikahan kita. ada waktunya di atas ada waktunya di bawah. Tuhan percayakan berkat yang baru, tapi Tuhan juga ijinkan masalah atau proses baru yang harus kita lalui. Tuhan kasih berkat kebahagiaan, tapi Tuhan ijinkan juga airmata dalam hubungan kita. selamat Ulang Tahun Pernikahan yang pertama sayang, aku bersyukur Tuhan menyatukan kita ❤️” tulis Acha.

Keduanya Sepakat, Bahwa Kehidupan Pasca Menikah Harus Dijalani dengan Komitmen Mau Jadi Pribadi yang Lebih Baik Lagi

Menikah dan kehidupan setelahnya harus membawa kebaikan dan perubahan yang baik bagi dua insan yang sudah dipersatukan. Hal ini mungkin diamini oleh Acha dan Andy. Terbukti, dalam sebuah video yang diunggahnya, Acha pernah menuliskan keterangan foto begini:

masih pacaran: “cause you’re amazing, just the way you are ” 
setelah menikah: “tapi kalau bisa berubah jadi orang yg lebih baik, mau kan sayang 
@andyamb ?”

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Hal-hal yang Akan Kamu Korbankan, Ketika Memutuskan Untuk Jadi Seorang Perantau

Ada banyak hal yang akhirnya membuat seseorang harus rela menjadi seorang perantau. Mungkin saja kamu memutuskan merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tuntutan dari pekerjaanmu sebelumnya atau sekedar untuk menempuh pendidikan. Tentu setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing. Nah, sebelum kamu memutuskan untuk menjadi seorang perantau, yakinkan dulu dirimu sendiri, siap nggak mengorbankan 4 hal ini.

1. Masakan Ibu yang Tiada Duanya

Mungkin kamu tetap biasa makan makanan enak di luar sana. Namun, selezat apapun makanan di restoran termahal sekalipun, tak akan mampu mengalahkan nikmatnya masakan yang terlahir dari tangan seorang ibu. Gimana? masih yakin untuk jadi anak rantau?

2. Nggak Betah di Kos-kosan Karena Nggak Ada Teman

Jika di rumah kamu akan selalu ada teman meski hanya sekedar ngobrol, beda lagi saat kamu memilih untuk merantau. Jadi wajar saja kalau banyak anak rantau yang lebih sering kluyuran. Sesuailah dengan pernyataan kalau rumah itu surga dunia, jadi ya pasti lebih betah kalau di rumah. Kalau dikos-kosan, beda lagi ceritanya.

3. Perlu Pandai-pandai dalam Hal Mengatur Keuangan

Jika di rumah kamu bisa mendapatkan fasilitas seperti makan, tempat tinggal, listrik dan air secara cuma-cuma, saat berada di tempat perantauan kamu harus rela merogoh kantong untuk itu semua. Jadi ya harus pandai-pandailah dalam mengatur keuangan.

4. Siap-siap Menghadapi Tanggal Tua

Di rumah kamu tak akan merasakan perbedaan yang signifikan antara tanggal tua atau pun muda. Karena semua kebutuhanmu sudah disiapkan oleh orangtuamu. Namun saat kamu memutuskan untuk merantau, bersiap-siaplah merasakan tanggal tua saat kamu tak pandai dalam mengelola keuanganmu sendiri. Bisa-bisa makan kerupuk sama nasi aja di tanggal tua nanti.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top