Trending

Perusahaan Kacamata Ini Mengalahkan Apple, Google, Alibaba, Instagram Sebagai Perusahaan Paling inovatif 2015!

perusahaan inovatif

Majalah Fast Company kembali merilis daftar perusahaan paling inovatif untuk tahun 2015. Daftar bergengsi yang paling ditunggu para pelaku bisnis ini kembali memuat nama-nama yang sudah bisa diduga seperti tahun-tahun sebelumnya.

Perusahaan teknologi masih mendominasi macam Apple, Google, Alibaba dan Instagram. Namun ditengah riuhnya nama-nama raksasa tersebut dalam daftar yang dirilis, peringkat satunya justru mengejutkan banyak pihak.
Tersebutlah nama Warby Parker, perusahaan kacamata asal Amerika. Lima tahun yang lalu, perusahaan ini bahkan belum berdiri. Namun kini Warby Parker menjadi salah satu ecommerece kacamata terbesar di dunia.

Fast Company memberikan posisi prestisius sebagai perusahaan paling inovatif, karena menganggap Warby Parker berhasil mengubah pola pembelian kacamata. Karena sebelumnya, kacamata merupakan salah satu barang yang sangat tidak bisa diterima dalam percaturan dunia penjualan online melalui warbyparker.com.

Namun dalam lima tahun terakhir Warby Parker mampu mengubah persepsi ini. Bahkan inovasi mereka kini juga mampu dibawa ke ranah offline. Beberapa toko offline tradisional mereka telah berdiri menyusul kesuksesannya di dunia offline.

Dengan efisiensi yang dilakukannya, Warby Parker bisa menjual kacamata yang secara tradisional dipasaran akan berharga sekitar 5 juta rupiah, menjadi hanya kurang dari 1 juta rupiah. Terobosan ini membuat Warby Parker membukukan pendapatan pertahun lebih dari USD100 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Berbanding terbalik dengan kesuksesan perusahaan di atas. Nama besar teknologi lain seperti Twitter dan Amazon justru terdepak dari daftar. Hal ini terjadi karena dua perusahaan tersebut dianggap tidak memiliki inovasi berarti ditahun 2014-2015.

1 Comment

1 Comment

  1. Diana Putri

    June 6, 2015 at 2:45 pm

    mahal gak ya harganya, bagus banget sih motif-motifnya pas saya liat di website nya. terimakasih artikelnya 😀 jadi salah satu motovasi buat berwirausaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

1 Comment

1 Comment

  1. Diana Putri

    June 6, 2015 at 2:45 pm

    mahal gak ya harganya, bagus banget sih motif-motifnya pas saya liat di website nya. terimakasih artikelnya 😀 jadi salah satu motovasi buat berwirausaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Keluh Kesah Para Dokter, Susah-susah Sekolah Cuma Buat Nakut-nakutin Anak

“Nanti kalau bandel, Mama panggil Pak Dokter lho biar disuntik.”

Saat kamu masih kecil, ibumu mungkin pernah mengungkapkan hal ini. Sadar tak sadar, kamu perlu tahu, kalimat itulah yang sejatinya membuat kita memiliki kesan ‘angker’ pada dokter sejak kecil. Padahal tidak seharusnya demikian. Tak sedikit dokter yang mengaku sedih mendapati bahwa di luar sana masih banyak anak kecil yang takut untuk diperiksa hanya karena paranoid dengan keberadaan dokter di dekat mereka.

Untukmu yang bukan dokter, mungkin ke depannya tak perlu lagi menakut-nakuti anak kecil, entah dia anakmu atau keponakanmu, dengan ancaman demikian. Dokter itu bukanlah sebuah profesi yang perlu ditakuti. Apa lagi bagi kita yang awam, bukankah sudah sering mendengar perjuangan berat seorang calon dokter selama menempuh studi mereka? Karenanya, untuk menghargai jasa sekaligus perjuangan para dokter, setiap tanggal 24 Oktober diperingati sebagai Hari Dokter Nasional. Mungkin kalau ada temanmu, saudara, atau kamu bahkan punya kenalan seorang dokter, jangan sungkan untuk mengucapkan “Selamat hari Dokter!”

Bukan Perkara Mudah, Berjuang dengan Masa Studi yang Relatif Panjang Sungguh Membuat Para Calon Dokter Jadi Pribadi yang Tabah

Profesi ini istimewa sekaligus penuh risiko mengingat pekerjaan mereka punya sangkut paut terhadap keselamatan seseorang. Karenanya, untuk jadi seorang dokter, seorang mahasiswa kedokteran pun harus menempuh proses yang lebih panjang dibanding jurusan lainnya. Umumnya setelah berkuliah selama sekitar 3,5 tahun, kita akan diwisuda sebagai sarjana. Meski hal ini juga berlaku bagi mahasiswa kedokteran, namun mereka harus menjalani masa co-assistant atau yang akrab disebut koas selama dua tahun. Belum lagi ada uji kompetensi, jadi dokter magang selama setahun, baru bisa mendapatkan izin praktik atau bekerja di rumah sakit.

Perlu Komitmen dan Kesungguhan Hati, Sebab Jasa Seorang Dokter Akan Dikenang Hingga Dia Tiada

Untukmu yang mudah bosan, jangan sekali-kali berpikir menjajal profesi sebagai dokter. Selain butuh waktu yang tak sebentar, menjadi seorang dokter adalah sebuah panggilan dari hati. Profesi ini tak bisa hanya mengandalkan mimpi ‘agar-cepat-kaya’. Memang, sebagian orang mengira kalau jadi dokter pasti gajinya besar, tapi selain ada perjuangan yang besar, mereka yang memutuskan mengabdi pada profesi ini pun punya kesungguhan hati yang luar biasa. Itulah mengapa para dokter pasti sebelumnya melakukan sumpah dokter sebagai bukti komitmen mereka terhadap profesi yang satu ini.

Mereka Harus Siap Siaga Setiap Waktu, Karenanya Mereka pun Harus Terbiasa dengan Jam Kerja yang Tak Menentu

Tiba-tiba ada kecelakaan saat dini hari, dokter jaga pun harus sigap memberikan penanganan terhadap para korban cedera. Hal-hal semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari para dokter. Mereka yang menganjurkanmu tidur tujuh jam sehari, justru mungkin ada yang hanya tidur 3-4 jam seharinya. Demi loyalitas terhadap profesi, para dokter ini dituntut siaga setiap waktu. Kamu yang punya pasangan seorang dokter, tak perlu bersedih. Sebaliknya, kamu harus bangga dan memberi dukungan setiap waktu. Sebab apa yang mereka lakukan sungguh patut diapresiasi.

Dibalik Kuatnya Mental Para Dokter, Akan Ada Momen dimana Mereka Begitu Rindu Menikmati Weekend dan Family Time

Mental para dokter sudah terlatih untuk tidak mudah homesick. Apalagi mereka yang ditugaskan di daerah, menjadi dokter sungguh perlu pengorbanan besar. Family time pun jadi momen mewah yang jarang dirasakan para dokter ini. Tapi sekuat-kuatnya mental mereka, dokter tetaplah manusia yang punya rasa. Rasa rindu pada keluarga, kekasih, sahabat, bahkan me-time jelas terasa. Hanya saja, mereka selalu dilatih untuk mengutamakan panggilan jiwa dibanding kesenangan pribadi.

Sejak Mahasiswa, Mereka Dituntut Punya Simpati dan Empati yang Mendalam. Bukankah Tak Adil Kalau Keberadaan Dokter Justru Jadi Alat Orangtua untuk Menakuti-nakuti sang Anak?

Sekali lagi, saat masih menjadi mahasiswa kedokteran, para calon dokter dituntut tak hanya peduli dengan masalah kesehatan, tapi juga harus terbiasa menanamkan simpati dan empati kepada orang lain. Mereka harus cekatan untuk menolong orang dan terbiasa untuk menomorsatukan kesehatan orang lain dibalik kesenangan pribadi. Itulah mengapa saat berjumpa dengan dokter, bukan hal sulit untuk memberikan senyuman terbaik mereka pada pasiennya. Nah untuk para orangtua, yuk ubah stereotipe dokter itu menyeramkan seperti yang selama ini sudah terlanjur melekat pada kepala sebagian anak-anak!

1 Comment

1 Comment

  1. Diana Putri

    June 6, 2015 at 2:45 pm

    mahal gak ya harganya, bagus banget sih motif-motifnya pas saya liat di website nya. terimakasih artikelnya 😀 jadi salah satu motovasi buat berwirausaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Orang Rasis IQ nya Rendah

Seakan tak pernah mati dari dalam sanubari, entah kenapa rasisme masih terlihat hidup dalam setiap diri kita. Sebuah gagasan yang kerap kali menimbulkan polemik bagi kesatuan umat manusia. Tanpa perlu ditampik lagi, hal ini memang jadi suatu penyakit yang memecah belah kesatuan.

Diawal tahun 2012 lalu, seorang ahli kejiwaan Gordon Hodson dari Brock University, Ontario, Kanada, menunjukkan hasil dari penelitiannya, bahwa ternyata sikap rasis berhubungan dengan tingkat intelektualitas. Yang mana dalam hal ini Hodson berkata jika seseorang yang memiliki IQ rendah akan cenderung untuk bersikap rasis dan berprasangka buruk kepada sesamanya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang katanya adalah manusia hebat dengan intelektual yang tak perlu ditanyakan, akankah mereka bersih dari sikap rasis? Jawabannya tentu saja tidak selalu demikian.

Mereka yang Intelejensinya Rendah Memang Cenderung Bersikap Reaktif Akan Sesuatu Yang Berbeda Dengan Pandangan yang Dianutnya

Mari memutar kepala ke sebelah kita, atau setidaknya bertanya pada hati. Pada beberapa kesempatan kita sering sekali bertemu dengan orang lain. Jika konteks pertemuannya adalah aktivitas yang menimbulkan interaksi dalam hal komunikasi. Tentu ada beberapa hal yang akan terlihat tak sejalan. Jika sudah demikian, kita justru kerap berkutat pada apa yang kita anggap benar.

Tingkat pendidikan dan kemampuan jadi tolak ukur yang sering kita gunakan untuk menilai rendah pada lawan bicara. Hasilnya tanpa disadari, pemikiran ini jadi jembatan yang akan membuat kita malah berlaku tak adil. Kita merasa lebih unggul, akhirnya hak-hak dari orang yang berbeda acap kali dilanggar.  

Tapi Tak Hanya Tingkat IQ Saja, Ada Variabel Lain yang Kerap Jadi Pemicu Seseorang Berlaku Demikian

Bukan berarti kita bisa jadi hakim yang akan memvonis mereka yang berpendidikan rendah jadi individu yang kerap membuat rusuh. Karena sejatinya intelektual seseorang kadang tak ditakar dengan tingkat pendidikan.

Karena Hodson juga mengungkapkan bahwa sikap prasangka buruk itu sangat kompleks, sehingga kemunculan sikap ini, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya Entah itu untuk sebuah kepentingan atau kebutuhan akan pengakuan hingga keadaan yang justru memaksa, hingga akhirnya seseorang berubah demikian.

Disadari atau tidak, hal ini kerap terjadi pada siapa saja. Bahkan bisa jadi kita juga mengalaminya.

Jika Di Negara Lain Hal Ini Jadi Sesuatu Yang Terlihat Nyata, Di Negara Kita Juga Ternyata Sama

Sebuah hasil penelitian dari beberapa ahli menyatakan, setidaknya ada 5 negara dengan peringkat tertinggi untuk masalah rasisme. Amerika sebagai negara pertama, kemudian disusul  oleh India, Arab Saudi, Israel, dan ada Jepang pada peringkat ke lima. Kasus-kasus yang kerap terbungkus dalam rasisme ini jadi sesuatu yang menyebabkan adanya kesenjangan sosial.

Bahkan menyebar luas hingga rasanya sangat susah untuk dihentikan. Jangan dulu senang, karena sebagaimana polemik yang masih berlalu lalang pada kehidupan masyarakat kita, pertengkaran antar suku di Indonesia jadi sesuatu yang masuk dalam sejarah negara kita. Hingga pada sekat-sekat yang kerap dibina untuk mengkotak-kotakkan orang-orang yang ada di negeri kita.

Karena Kalimat Rasis Ini Tak Hanya Dipakai Untuk Sesuatu Yang Bersifat Serius Dengan Tujuan Tertentu Saja

Menurut Oxford English Dictionary, definisi rasisme merujuk pada pemahaman yang menganggap bahwa ras atau suku tertentu lebih superior atas ras atau suku yang lainnya. Dan terlepas dari penempatan kata rasis yang masih jadi polemik di semua negara, termasuk Indonesia. Faktanya kalimat-kalimat yang bertujuan untuk membedakan beberapa golongan, juga kita pakai pada beberapa kalimat yang mungkin bersifat guyonanSaya percaya jika salah satu diantara kita pernah berkata, “Pantesan pelit, Orang Padang sih!”. Padahal korelasi bahwa keturunan Minang dari Padang adalah manusia yang pelit tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.  

Dan Kita Sendiri Mungkin Jadi Salah Satu Orang Yang Kerap Melakukannya

Para tetua terdahulu sering berkata bahwa ketika jari telunjuk milik kita sedang mengarah pada orang lain, tiga jari lain justru sudah menunjuk pada diri sendiri. Dengan kata lain, ini jadi pengingat bahwa tak perlu menuduh orang lain yang kerap berlaku demikian rasisnya.

Karena bisa jadi, kita sendiri jadi pelaku yang terbilang cukup sering untuk melakukannya. Kita tentu tak ingin terlihat sebagai orang yang arogan atas pendapat yang bertentangan, atau tak terlihat berpendidikan hanya karena ucapan. Hingga disebut si IQ jongkok karena bersikap rasis pada sesama manusia.

Jadilah manusia yang lebih peka, dan berhati-hati dalam setiap tutur kata yang kita ucapkan.

1 Comment

1 Comment

  1. Diana Putri

    June 6, 2015 at 2:45 pm

    mahal gak ya harganya, bagus banget sih motif-motifnya pas saya liat di website nya. terimakasih artikelnya 😀 jadi salah satu motovasi buat berwirausaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Kenapa Sih Istilah Pribumi Masih Sensitif?

Kalau merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia alias KBBI, Pribumi diartikan sebagai penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Sebuah kata yang umum sebetulnya dan tak memiliki muatan apa-apa. Tapi kenapa istilah ini bisa menjadi begitu sensitif?

Di Era Kolonial Belanda Istilah Pribumi Digunakan Sebagai Alat Pecah Belah Dan Dalih Pembantaian

Belanda lewat organisasi VOC yang menguasai Indonesia saat itu membagi masyarakat menjadi tiga golongan. Pribumi alias Inlanders dipakai sebagai kelompok penduduk dari suku asli. Vreemde Oosterlingen, digunakan sebagai penyebutan keturunan Cina, India, Arab. Dan terakhir masyarakat Eropa Belanda sendiri. Sedari awal masing-masing golongan ini dibagi kastanya dengan hak dan kewajiban yang tak sama.

Memasuki Abad 17 imigrasi warga keturunan Tiong Hoa makin deras. Para pendatang ini dikenal baik tingkah lakunya dan lebih bisa berbaur dibanding warga Belanda Eropa. Ditambah kemampuan berdagang mereka yang di atas rata-rata, membuat VOC menjadi cemas.

Untuk mencegah kekuasaannya tergusur, akhirnya penangkapan dan penindasan dilakukan Belanda terhadap warga Tionghoa. Dengan menggunakan cap “non pribumi”, pembantaian pun dimulai 9 Oktober 1740 dan memakan korban jiwa lebih dari 10.000 jiwa. Mula-mula 500 orang Tionghoa yang ditahan dibantai. Kemudian VOC bergerak ke rumah sakit dan setelah itu meluas ke seantero kota. Peristiwa pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini dikenal dengan Geger Pecinan.

Malapetaka Lima Belas Januari, Malapetaka Yang Juga Menggunakan Istilah Pribumi

Memasuki era 70-an sejumlah cendekiawan dan mahasiswa mulai merasa tak puas dengan kepemimpinan presiden Soeharto pada waktu itu. Besarnya peran modal asing khususnya Jepang dituding tak berpihak pada warga lokal.

Puncaknya pada 15 Januari 1974 bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka Kakuei ke Indonesia yang disambut aksi demonstrasi. Dengan menggaungkan istilah keberpihakan kepada pribumi, demo itu pun berubah menjadi kerusuhan yang dikenal dengan Malapetaka lima belas Januari alias Malari.

Jakarta berasap, penghancuran dan penjarahan terjadi di mana-mana. Belakangan tidak hanya menyasar produk-produk Jepang, massa juga melampiaskan kekesalannya kepada perusahaan-perusahaan Tionghoa. Pada Peristiwa Malari ini, setidaknya sebelas orang tewas dan 300 lainnya luka-luka. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dibakar, 144 bangunan ikut rusak. Sekitar 775 orang ditahan menyusul aksi pemerintah memadamkan kerusuhan tersebut, beberapa terdiri dari anak di bawah umur.

Mei 98, Ketika Istilah Pribumi Jadi Tameng Kekerasan Dan Istilah Non-Pribumi Jadi Alasan Menghunus Pedang

Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Peristiwa ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa.

Sedihnya ketika itu masyarakat kita menuliskan kalimat “milik pribumi” pada rumah dan toko mereka agar aman dari pembakaran. Kalimat singkat tersebut kalau kita renungi sebetulnya berarti “ini milik pribumi, jangan dijarah dan dibakar” dan sebaliknya kalau tak ada tulisannya berarti “ini milik non pribumi silahkan di…”

Nyatanya ketika itu jatuh korban dari kita semua. Ya, kita semua! Sekian banyak korban jiwa yang meninggal karena terjebak dalam toko atau rumah yang terbakar. Harta benda banyak yang ludes terbakar dan dijaarah. Semua dikecam ketakutan dan ekonomi pun lumpuh.

Guna Meredam Rasa Sensitif Tersebut Habibie Pun Mengeluarkan Instruksi Presiden

Membaca urusan kata pribumi dan non pribumi yang begitu sensitif, Presiden Habibie yang menggantikan Presiden Soeharto pun bergerak cepat untuk melakukan rekonsiliasi nasional. Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998 pun dikeluarkan, intinya tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non pribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan. Dalam peraturan tersebut, penggunaan istilah pribumi dihentikan dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintah. Penggunaan kata Warga Negara Indonesia alias WNI pun lebih dikedepankan.

Kampret Itu Binatang Sejenis Kelelawar, Tapi Salah Konteks Ketika Digunakan Dalam Kalimat Bisa Membuat Orang Marah Bukan?

Kata memang punya arti baku dalam kamus. Serupa kampret yang diterjemahkan sebagai kelelawar kecil pemakan serangga, hidungnya berlipat-lipat. Tapi pasti berbeda artinya jika kamu lontarkan itu kepada orang lain dengan nada yang kesal.

Nah, gambaran di atas hanya sebagian contoh kecil dari sekian banyak letupan peristiwa urusan yang berkaitan dengan istilah pribumi dan non pribumi. Dengan sejarah panjang soal kata pribumi dan non pribumi macam itu, menjadi wajar jika sebagian kita masih begitu sensitif dengan istilah tersebut.

Namun, tokoh-tokoh nasional macam Presiden Jokowi sampai yang terakhir Gubernur DKI Anies Baswedan sudah mulai menggunakan lagi istilah ini. Kita hanya bisa berharap, jika pun istilah itu masih akan digunakan, semoga sesuai konteks yang lebih positif.

1 Comment

1 Comment

  1. Diana Putri

    June 6, 2015 at 2:45 pm

    mahal gak ya harganya, bagus banget sih motif-motifnya pas saya liat di website nya. terimakasih artikelnya 😀 jadi salah satu motovasi buat berwirausaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top