Sponsored Content

Mungkin Kamu Tak Tahu, Tapi Mereka Yang Memikirkan Pendapatan Dan Belanja Kita Agar Semua Lebih Baik

Besar pasak dari pada tiang. Idiom yang cukup membuat dahi mengernyit jika kita mengalaminya bukan? Coba bayangkan kalau dalam keluargamu, terjadi hal macam itu. Dimana pengeluaranmu jauh lebih besar daripada uang yang kamu punya. Bukan cuma bikin pusing kepala, tapi semua aktivitas bisa saja terhenti karena kurangnya uang.

Itu baru keluarga yang kecil, pernah membayangkan kalau situasi tersebut terjadi di sebuah negara? Tentunya sebagai rakyat kita bisa dibuat pusing kalau negara kurang uang bukan. Karena itu layaknya sebuah negara, kita juga perlu mengatur anggaran pendapatan dan belanja kita.

Seperti Halnya Ibu Pintar Dalam Rumah Tangga, Lembaga Ini Yang Memberi Rekomendasi Pendapatan Dan Belanja Dalam Negara

Keuangan keluarga yang sehat tentunya tak lepas dari peran ibu yang pintar mengatur keuangannya. Seberapa banyak pun penghasilan, kalau tidak dikelola dengan bijak tentunya akan selalu saja kurang dan ujungnya membuat keluarga tak bahagia.

Nah, dalam pemerintahan peran macam ibu pintar ini kurang lebihnya dilakukan oleh Badan Kebijakan Fiskal. Badan ini berada di bawa Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Apa tugasnya? Menyelenggarakan perumusan, penetapan, dan pemberian rekomendasi kebijakan fiskal dan sektor keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Maksudnya bagaimana? Jadi Badan Kebijakan Fiskal inilah yang memberikan rekomendasi Anggaran Belanja kita sebagai negara. Lewat apa pendapatan bisa dimaksimalkan dan di sektor mana pengeluaran bisa lebih ditata. Kalau dalam keluarga seperti mengurangi uang jajan anak atau mengatur agar pemasukan bertambah.

Pengeluaran Konsumtif Coba Dikurangi Dan Diarahkan Ke Pengeluaran Produktif

Berkaca sejak tahun 2015 yang lalu, pola APBN alias Anggaran Pendapatan Belanja kita sudah berubah loh. Dari cara pandang dan paradigmanya sudah berubah. Kalau dulu masih banyak fokus pengeluaran yang sifatnya hanya konsumtif, sejak 2015 sudah bergeser.

Sebagian belanja dialihkan menjadi lebih produktif dengan mereformasi subsidi energi serta mengatur ulang belanja kementerian dan lembaga negara. Tentunya perubahan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kalau diandaikan dalam keluarga, sebelumnya kita banyak membelanjakan untuk konsumtif seperti baju mahal, televisi dan pengeluaran lain yang konsumtif. Kini pengeluarannya dialihkan ke hal yang lebih produktif misalnya membeli laptop yang lebih baik agar pekerjaan lebih cepat selesai.

Ingat Hebohnya Amnesty pajak Kemarin? Lembaga Ini Salah Satu Motornya

Hal penting yang diatur dalam kebijakan fiskal adalah soal pajak. Nah, tahun 2016 lalu tentunya kamu masih ingat kehobohan soal amnesty pajak bukan? Salah satu motornya dan yang melakukan pengawasan adalah Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu ini. Hasilnya meski dilakukan revisi atas target penerimaan pajak, namun dalam realisasi mampu tumbuh positif sebagai akibat dari implementasi amnesty pajak ini. Dari Program pengampunan pajak atau tax amnesty diyakini tidak hanya berpengaruh positip pada penerimaan pajak di tahun itu saja, namun juga akan berpengaruh pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini karena basis pajak (tax based) yang baru akan meningkat seiring dengan program amnesti pajak itu. Analoginya seperti kita menemukan sumber pendapatan yang baru, yang sebelumnya belum kita olah potensinya.

Irit Itu Bukan Asal Pengetatan Ikat Pinggang Tapi Ini Soal Efisiensi

Bagaimana di 2017? Pada Semester I tahun 2017, hampir seluruh indikator perekonomian Indonesia menunjukkan nilai yang positif dengan pertumbuhan ekonomi relatif stabil sebesar 5,0 persen. Terjadi peningkatan penerimaan negara dan belanja negara, serta penurunan defisit anggaran dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sedangkan pembiayaan anggaran mengalami penurunan, terutama komponen pembiayaan utang.

Mungkin kita akan melihat beberapa sektor seperti lebih ditekan dalam hal belanjanya. Namun sesungguhnya hal itu dilakukan untuk tujuan yang lebih besar. Yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi negara. Tak asal potong budget lembaga negara, tapi pengeluaran itu dialihkan ke hal yang lebih produktif seperti pembangunan infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja.

Untuk Lebih Mengenal Badan Kebijakan Fiskal Akan Ada Fiscal day


Kita akan bisa lebih mengenal lembaga ini, pada acara Fiscal day yang dihelat pada tanggal 5-6 Oktober 2017 ini. Salah satunya adalah Bincang BKF yang akan dihadiri oleh 300 orang masyarakat umum dan mahasiswa. Acara ini mengsung tema “peran milenial dalam menyusun kebijakan fiskal”.

Selain itu BKF mengundang Netizen dan blogger untuk berbincang mengenai APBN 2018. Badan ini ingin mengetahui pandangan para netizen mengenai kebijakan fiskal di tahun 2018 mendatang.

Dengan makin terbukanya badan ini kepada masyarakat tentunya diharapkan bisa terus merekomendasikan kebijakan yang memihak masyarakat luas. Kalau kamu berminat untuk ikut, bisa mendaftar secara online melalui di sini.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top