Feature

Menikah Tak Selalu Bahagia, Persiapkan Juga Dirimu Untuk Menghadapi 4 Ujian Pernikahan Ini!

Hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai adalah sebagian besar gambaran yang tersirat ketika seseorang memikirkan tentang sebuah pernikahan. Hidup dalam satu atap, berbagi kasih sayang dari waktu ke waktu. Dipenuhi dengan tawa dan canda serta bahagia menjadi bayangan yang indah dalam pernikahan. Namun bukankah roda kehidupan berputar? Kebahagian dan kesedihan pun akan selalu beriringan.

Semua orang bisa menghadapi rasa bahagianya namun apa yang akan dilakukan jika menghadapi rasa sedih? Begitu juga dengan pernikahan, tak hanya bahagia yang datang, rasa sedih juga siap menghampirimu kapan saja. Lalu apakah ketika sedih itu datang kamu sudah siap menghadapinya dengan partner yang kamu pilih saat ini? Bisakah kamu dan pasangan tetap bersama untuk menghadapinya?

Saat Keuangan Membuat Hubungan Rumah Tangga Yang Kamu Jalani Menjadi Tidak Tenang, Yakinkah Bisa Berjuang Bersama?

Uang memang bukan segalanya, tetapi tetap saja kamu akan butuh uang. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, salah satu hal yang terberat yang adalah saat keuangan sedang tidak stabil. Entah usaha yang sedang dijalani tidak berjalan dengan baik, musibah yang terjadi sehingga mengharuskan keluar uang banyak atau suami yang menjadi satu-satunya pencari nafkah dipecat dari pekerjaannya.

Hal-hal yang tidak pernah diduga sebelumnya bisa saja menjadi penyebab keuangan menjadi tidak stabil. Ketidakstabilan ekonmi dalam keluarga bisa menjadi pemicu rumah tangga menjadi hancur. Jadi bagi kamu yang ingin melangsungkan pernikahan, kamu dan pasangan harus mendiskusikan jika kemungkinan ini terjadi. Berkomitmenlah untuk tetap yakin satu sama lain untuk bisa bertahan dan menguatkan satu sama lain seburuk apapun kondisinya. Agar bahtera pernikahan kalian tak karam dihempas badai.

Kehadiran Buah Hati Selalu Dinanti, Namun Apa Yang Akan Terjadi Bila Yang Diharapkan Tak Kunjung Datang!

Menikah bukan hanya tentang menghabiskan sisa usia bersama orang dia cintai, tapi juga untuk meneruskan garis keturunan. Buah cinta dari kasih sayang kamu dan pasangan, orang tua pun juga mengharapkan kehadiran buah hati kalian sebagai penerus darah. Namun jika ternyata Tuhan belum mengijinkan buah hati hadir diantara kalian, apakah masih bisa bertahan? Apalagi saat usia pernikahan telah berlangsung lama.

Perasaan hampa bisa saja muncul saat buah hati tak kunjung datang. Hal ini bisa memicu pertengkaran. Jika nanti hal ini terjadi pada rumah tangga yang akan kamu bina, berbicara dari hati ke hati adalah hal yang sangat penting dilakukan. Bila hal itu harus terjadi mulailah mengingat kembali apa yang membuat kalian jatuh cinta satu sama lain. Teruslah berusaha dan berdoa, karena keajaiban itu nyata ketika Tuhan sudah berkehendak. Saling menguatkan hati dan berusaha mencari solusi jauh lebih baik dibandingkan saling menyalahkan.

Saat Godaan Orang Ketiga Datang, Apa Masih Akan Terus Melanjutkan Hubungan?

Saat menikah bukan berarti godaan orang lain yang hadir dalam kehidupan kamu dan pasangan akan berhenti. Godaan itu bisa saja semakin besar justru saat kamu sudah menikah, menguji kesetiaan dan kesabaran akan kekurangan pasangan yang baru saja kamu sadari ketika sudah menikahinya.

Tentu hal itu akan berdampak besar pada hubungan kalian sebagai pasangan suami istri dan akan sangat sulit diperbaiki. Karena pondasi terkuat sebuah hubungan selain hubungan adalah rasa percaya. Jika itu sudah dirusak, maka akan sulit diperbaiki. Bila pada suatu hari orang ketiga  itu sungguh-sungguh datang yang harus dilakukan hanya menenangkan diri dan berkomunikasi dengan baik. Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah.

Menikah Bukan Hanya Menyatukan Dua Manusia Namun Juga Dua keluarga. Tapi Kalau Keluarga Terlalu Ikut Campur Dalam Rumah Tanggamu Bagaimana?

Saat menikah kamu tidak hanya akan hidup dengan pasanganmu saja. Tetapi ada dua keluarga yang menyatu karena pernikahan kalian. Pada saat itu, dua kebiasaan dari keluarga yang berbeda akan mulai berbaur. Namun untuk bisa menyatu, akan ada beberapa perdebatan karena idealisme masing-masing keluarga. Kamu pun dituntut untuk mengikuti kebiasaan tersebut. Sepertinya terlihat remeh, namun pada kenyataannya tidak semudah itu.

Mertua atau saudara ipar bisa saja mencampuri hubungan rumah tanggamu bersama pasangan. Kamu pun akan sulit menentukan sikap, karena merasa ini adalah keluargamu dan orang lain tidak berhak mencampuri urusanmu. Tapi kamu juga tidak mungkin menolak secara terang-terangan karena takut ada pihak yang tersinggung hingga memancing pertengkaran. Hal terbaik yang bisa kamu lakukan saat itu adalah tetap mendengarkan dan mengabaikan yang menurutmu tidak perlu dilakukan. Kamu bisa ambil pelajaran yang baik untuk kebahagiaan kamu dan pasangan dimasa depan dari mereka yang telah banyak makan asam garam kehidupan pernikahan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mendidik Anak Dengan Baik; Menuntun Tanpa Melibatkan Ambisi Orangtua

Penting untuk membantu anak agar mereka bisa menjadi sosok yang membanggakan. Namun membantu anak untuk mewujudkan keinginan dan mimpi-mimpinya pun tak kalah krusial. Mendidik anak untuk menjadi seperti yang dinginkan orangtuanya jelas bukan tindakan tepat. Pada kenyataanya untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah. Terkadang orangtua masih saja menyalahkan anak atas kenakalan atau kesalahan yang diperbuatnya tanpa bercermin apa yang telah diajarkannya padanya. Padahal, bukan tak mungkin orangtualah yang justru berperan paling besar dalam hal ini. Akan lebih baik bila orangtua menerapkan cara mendidik anak yang lebih baik dan efisien. Bukan waktunya lagi menggunakan cara kolot untuk mendidik anak, apalagi hingga menggunakan kekerasan.

Jangan Terlalu Sering Mengucapkan Kata-kata Kasar Di Depan Anak

Orangtua adalah guru anak yang utama sekaligus contoh konkret baginya. Apa yang dilakukan dan diucapkan orangtua adalah salah satu hal yang pasti akan ditiru oleh sang anak. Tidak hanya itu, jika orangtua tidak pandai dalam mengontrol perkataan, ucapan yang dilontarkannya bisa menjadi bumerang suatu saat nanti. Jangan pernah berkata kasar kepada anak. Selain hal itu akan mereka tiru, berkata kasar juga akan membuat mereka merasa selalu dipojokkan dan tak berharga.

Kekerasan Saat Mendidik Anak Jelas Tak Bisa Ditolerir Lagi

Banyak orangtua yang menyangka kekerasan adalah hal yang perlu dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi terkadang orangtua lupa, mendidik anak dengan kekerasan akan melatih anak untuk melakukan hal yang sama pula. Kepribadian anak muncul dari cara orangtua mendidiknya. Saat mereka tumbuh di lingkungan yang keras, mereka pun dapat menjadi sosok dengan pribadi keras. Hal ini berlaku sebaliknya. Intinya, sebagai orangtua jangan pernah sesekali menggunakan cara kekerasan untuk membuat anak jera dan mengubahnya jadi pribadi yang disiplin. Kedisiplinan muncul bukan karena kekerasan, tetapi kebiasaan.

Berhenti Mengekang Anak, Apalagi Hingga Mengatur Masa Depannya

Hal ini yang kerap menjadi problematika dalam mendidik anak. Orangtua sudah sepatutnya mendampingi anak-anak. Tetapi bukan dengan cara mengekang dan mengatur segala hal termasuk masa depan sang anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya sendiri. Anak yang sering dikekang cenderung akan liar saat mereka berada jauh dari pengawasan orangtua. Biasakanlah memberi kesempatan pada mereka untuk mengambil langkah yang diinginkannya.

Sesekali Perhatikan Bakat Anak, Bantu Dia Untuk Mengembangkan Bakat Yang Dimilikinya

Bagaimana orangtua dapat mendidik anak dengan baik dan benar jika orangtua tidak memahami seperti apa anak mereka? Sebagai orangtua kita perlu memerhatikan apa bakat dan kekurangan anak-anak kita. Hal ini perlu dilakukan agar orangtua tidak salah dalam mengembangkan kemampuan yang menjadi bakat mereka, tapi pada kenyataannya itu adalah kekurangan mereka.  Orangtua yang baik adalah mereka yang mampu memahami bagaimana anaknya serta tahu cara paling tepat mendidiknya.

Biarkan Anak Memilih Jalannya Sendiri, Namun Tetap Ingatkan Saat Dia Tidak Berada Dijalan Yang Semestinya

Jangan mengekang dan biarkan anak-anak memilih jalannya sendiri. Tapi yang perlu diingat dan diperhatikan orangtua adalah dengan tidak melepas tapi memberikan kesempatan bagi anak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dan lakukan, serta usaha apa yang harus mereka kerjakan untuk mengembangkan kemampuannya.

Hargai Setiap Pencapaian Yang Berhasil Diraih Oleh Anak

Tidak perlu berlebihan dalam memberikan rewards kepada sang anak. Terkadang hal kecillah yang akan membuat anak-anak sadar bahwa orangtuanya selalu memperhatikan mereka dan selalu ada untuk mereka. Orangtua dapat memberikan penghargaan dengan sebuah pelukan, kecupan, atau mungkin ucapan yang membangun mereka untuk tetap semangat dan berjuang demi mimpinya.

Beri Anak Contoh Kontekstual Dalam Kehidupan Agar Dia Bisa Menjadi Pribadi Yang Bijaksana

Sebagian anak akan belajar dengan baik saat mereka diberi contoh langsung secara kontekstual. Orangtua sudah sepatutnya menunjukkan hal-hal yang ada di dalam kehidupan ini untuk dijadikan bahan pelajaran bagi anak-anak kita. Dengan cara ini, anak akan lebih bisa mengambil pelajaran langsung dari apa yang mereka lihat, dengar dan mereka alami sendiri. Jika orangtua hanya memberitahu anak-anaknya dengan cerita dan cerita, bukan hanya kebosanan yang mereka dapatkan, tetapi juga rasa meremehkan karena mereka tidak tahu dengan mata kepala mereka sendiri saat mereka berada pada posisi seperti yang kita ceritakan kepada mereka.

Didik Anak Dengan Contoh Nyata, Sebab Orangtua Adalah Contoh Dan Guru Utama Bagi Anak

Orang yang pertama dicari dan dibutuhkan oleh anak adalah orangtuanya. Oleh karena itu orangtua harus mampu menjadi contoh yang baik untuk anak. Bukan hanya dari tingkah laku saja, namun juga dari segala sisi. Orangtua menyandang tugas sebagai guru utama yang dibutuhkan anak untuk mendidiknya agar menjadi pribadi yang baik di waktu nanti. Bukan tidak mungkin saat orangtua menjadi contoh yang buruk, maka anak pun akan bertingkah laku buruk. Sesuai dengan pepatah yang menyebutkan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu pula anak-anak kita, secara alamiah, mereka akan mewarisi segala tindak tanduk yang dimiliki orangtuanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Kalah Asyik, 9 Cara Bermain Bersama Anak Tanpa Smartphone Ini Bisa Diterapkan Orangtua

Semakin banyak saja smartphone yang diiklankan dengan fitur-fitur yang unggul. Tidak hanya kebutuhan komunikasi tapi juga pendidikan, bisnis, dan hiburan pun terpenuhi. Beberapa orangtua, dengan alasan rasa sayang, membiarkan anak-anak bermain dengan smartphone.

Pada kondisi tertentu, smartphone untuk permainan anak dianggap lebih simpel. Tidak perlu bawa bahan dan alat tertentu. Apalagi ketika anak rewel mendadak. Misalnya saat di restoran dan sedang menunggu pesanan makanan, bingung juga apa yang harus dilakukan.

Sebenarnya, Smartphone untuk anak-anak bukan pilihan yang bijak. Jika berlebihan bisa bikin kecanduan. Dunia anak adalah dunia bermain, mereka sangat menyukai permainan. Kalau anak mulai bosan, Jangan buru-buru mengeluarkan smarphone. Simak dulu beberapa cara bermain bersama anak tanpa smartphone. Beberapa diantaranya tidak membutuhkan peralatan khusus dan praktis. Dijamin menyenangkan!

Meski Tahun Terus Berganti, Bermain Tebak-tebakan Tetap Ampuh Membuat Suasana Berubah Ceria

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Orangtua dapat memanfaatkannya dengan main tebak-tebakan. Misalnya orangtua yang menyebutkan ciri suatu benda, anak yang menebak namanya. Cara ini bisa dilakukan di mana saja, karena tanpa menggunakan alat apa pun.

Buat Suasana Jadi Menyenangkan Dengan Mengajak Anak Bernyanyi

Anak-anak senang sekali mengekspresikan dirinya. Minta mereka menyanyikan lagu seperti Balonku Ada Lima, Pelangi-Pelangi, Bintang Kecil hingga lagu berbahasa asing seperti Twinkle-twinkle Little Star. Tepuk tangan dan menari juga disarankan. Eits, jangan lupakan juga lagu dari animasi kesayangannya.

Menggambar Dan Mewarnai Dapat Membuat Anak Lebih Kreatif

Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan anak-anak yang umum dilakukan. Menggambar atau mewarnai benda-benda yang disukai memang seru. Alternatif yang tidak biasa misalnya melukis dengan menggunakan cap tangan. Gunakan cat yang aman untuk anak. Bakalan lebih kreatif nih mereka!

Atau Bisa Dengan Membuat Kerajinan Kertas Bersama-sama

Kerajinan kertas bisa terdiri dari melipat maupun menggunting. Ajak anak membuat perahu kertas, pesawat kertas, maupun binatang seperti katak dan lainnya. Menggunting berbagai gambar dan menempelkannya juga bisa. Tingkat yang lebih sulit misalnya ajak anak menghias foto atau buat scrapbook. Jangan lupa, berikan penghargaan dengan memajang atau menempel hasilnya. Anak akan termotivasi membuat karya yang lebih bagus.

Menyusun Puzzle Dan Lego Tentu Akan Membuat Anak Antusias

Puzzle mengasah daya ingat dan konsentrasi anak. Kalau ada waktu lebih, bikin puzzle sendiri juga gampang kok. Anak tidak akan pernah bosan bermain puzzle yang beragam. Selain puzzle, menyusun lego atau balok juga meningkatkan kemampuan fokus anak.

Membaca Dongeng Pun Tak Kalah Menarik. Lagi Pula Pesan Moral Yang Terdapat Dalam Dongeng Berpengaruh Positif Untuk Perkembangan Anak

Membaca memang tidak masuk dalam kategori permainan. Tapi membaca dongeng bisa jadi salah satu pilihan. Kegiatan ini tidak harus dilakukan menjelang tidur. Setelah membaca dongeng bersama-sama, tanyakan apa tanggapannya mengenai beberapa tokoh. Tantang mereka untuk memainkan peran tokoh tersebut. Secara tidak sadar ia belajar mengenai kehidupan.

Libatkan Anak Dalam Permainan Mencari Harta Karun Dan Buat Dia Bersemangat Menemukannya

Amankan barang berharga mereka, misalnya mainan kesayangan. Ajak anak untuk menemukannya. Memberi daftar barang-barang lain juga lebih menantang. Berilah batasan wilayah di mana harus mencari, misalnya sebatas ruang tidur dan ruang keluarga saja.

Permainan Bola Selalu Bisa Membuat Suasana Jadi Ceria

Ada banyak macamnya permainan bola, sebut saja lempar dan tangkap bola, menendang bola atau basket dengan ring yang lebih rendah. Menggunakan balon warna-warni juga menarik. Tinggal modifikasi saja aturan mainnya.

Membuat Permainan Sendiri? Kenapa Tidak?

Beli mainan sih udah sering, kalau buat sendiri? Cobalah membuat mainan bersama anak, pasti asyik. Kalau ada barang bekas seperti botol, kardus atau kain, manfaatkan saja. Anak-anak pasti menikmati proses pembuatannya. Apalagi kalau disesuaikan dengan kesukaan mereka. Bermainlah bersama mereka dengan hasil karyanya, pasti bangga.

Pilih permainan yang sesuai dengan usia anak. Tapi sebenarnya, semua kegiatan yang menyenangkan juga termasuk kategori permainan. Lebih bagus lagi kalau yang bermanfaat. Tidak hanya memberikan kesenangan tapi pengalaman dan pembelajaran. Ikatan antara orangtua dengan anak juga jauh lebih erat. So, jangan mau dikalahkan dengan smartphone. Kalau mereka tidak bermain dengan kita, maka dengan siapa lagi?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Capek Gendong Bayi? Kesal Anak Rewel? Ketika Ia Berusia 10 Tahun Dan Menolak Dipeluk, Saat Itu Kamu Menyesal!

Tak pernah ada yang bilang merawat anak itu mudah. Bangun tengah malam karena tangisannya tentunya membuat kondisi badan tak nyaman. Seiring bertambah usianya, berat badannya pun bertambah, rasa pegal mulai melanda ketika diminta gendong.

Belum lagi ocehan cerewetnya ketika mulai bisa bicara. Semua hal ingin diceritakannya tanpa henti. Sementara terkadang pikiran sedang lelah karena pekerjaan dan ingin sekali istirahat. Apalagi kemana-mana selalu minta ditemani. Seolah tak ada lagi me time untuk ayah maupun bunda. Lelah? Capek?

Sekarang Kesal Ketika Terbangun Tengah Malam Akibat Tangisan, Ketika Ia Sudah Tidur Di Kamar Sendiri Justru Kamu Yang Rindu

Bisa dibayangkan pusingnya beraktivitas seharian dan ketika sampai di rumah mau beristirahat, malah terganggu tangisan bayi. Ingin rasanya mengabaikan begitu saja dan gunakan penutup telinga. Menyuruh pasangan untuk menenangkan si kecil di tengah malam sepertinya jadi pilihan menarik.

Tapi coba bayangkan, ketika anakmu beranjak besar dan kemudian meminta tidur di kamar terpisah. Jangankan tangisnya, kamu bahkan tak lagi bisa menemaninya menghabiskan malam sebelum mata terpejam. Seringnya dia justru memintamu meninggalkannya di kamar sendirian. Ketika itu kamu rindu tangis kecilnya dulu.

Sekarang Capek Gendong, Sementara 5 Tahun Lagi Peluk Gendong Dirimu Tak Lagi Menarik Buatnya

Sedikit-sedikit si kecil akan minta gendong. Dipeluknya erat dirimu, seolah tak mau lepas. Bukannya tak sayang, tapi badannya yang kian berat memang kadang bikin pinggang terasa pegal.

Tapi momen ini sesungguhnya akan begitu lekas berlalu. Ketika ia sudah mulai lancar berjalan dan berlari, besar kemungkinan peluk gendongmu tak semenarik dulu. Makin dewasa malah ia malu untuk terus berada dibuaianmu. Dan ketika saat itu tiba kamu malah ingin menggendongnya selalu.

Sekarang Lelah Dengar Bawel Curhatnya, Ketika Masuk SMP Dia Tak Lagi Mau Bercerita

Kata-katanya mungkin tak jelas. Kalimatnya masih penuh berantakan. Ceritanya bercampur antara fiksi dan kenyataan. Pusing kalau harus meladeni anakmu bercerita terus menerus.

Padahal waktu itu tak akan berlangsung lama. Selepas SD dan beranjak masuk SMP dia hanya akan bercerita ke kawannya saja. Tak akan lagi dia berbagi cerita hari-harinya kepadamu.

Sekarang Malas Temani Sulitnya Bikin PR, Padahal Nanti Kamu Rindu Dimintai Solusi Akan Masalahnya

Sudahlah rumit menyelesaikan masalah kita sendiri, masih harus pulak diminta bantuan menyelesaikan soal-soal sekolah. Jalan paling mudah memang memberikan les tambahan dan kemudian tak lagi terlibat urusan tersebut.

Coba kamu sadari ketika nanti dia sudah punya banyak kawan dan mengenal pihak lain. Pada saat itu kamu mungkin akan jadi orang terakhir yang didatangi ketika mereka punya kesulitan. Ketika itu rindumu membuncah ingin mendengar keluh kesahnya dan dimintai solusi.

Sekarang Diajak Bermain Macam Beban, Sementara Selepas SD Dia Hanya Akan Bermain Dengan Temannya Saja

Tak mudah memang tetap tertarik dengan permainan anak-anak. Karena sebagai orang dewasa kita tak lagi mengalami tantangan melakukan permainan tersebut. Wajar kemudian rasa malas mendera ketika anak mengajak main bersama.

Namun sesungguhnya momen tersebut akan segera hilang. Selepas sekolah dasar ia juga sudah tak lagi melibatkanmu dalam kesenangan bermainnya. Orang tuanya akan dianggap tak bisa mengimbangi kemajuan jaman yang mereka hadapi. Dan kamu pun ditinggalkan.

Sekarang Peluk Cium Hanya Formalitas, Ketika Anakmu Dewasa Hanya Itu Yang Kau Rindukan

Kapan terakhir mencium si kecil? Mungkin kamu termasuk yang melakukannya sering. Tapi apakah kamu benar-benar meresapinya? Atau sekedar formalitas ketika melepasnya masuk ke sekolah misalnya.

Sekarang mungkin ciuman sayang itu hanya lewat begitu saja, namun percayalah kamu akan merasakan rindunya mencium anakmu ketika ia mendewasa. Tak mudah memintanya menerima ciumanmu nanti. Apalagi ketika di depan teman-temannya. Ia tentu malu terlihat sebagai anak manja, sementara ketika itu kamu yang butuh ingin bermanja dengaannya.

Sadarkah Kamu Momen Ini Hanya Akan Berulang Ketika Kamu Punya Cucu, Itupun Kalau Kamu Diberkahi Umur Panjang

orangtua

Momen ini akan sesegera mungkin berlalu, dan taukah kamu hal itu hanya akan berulang nanti 20 tahun lagi ketika anakmu sudah mempunyai cucu. Dan ketika itu, apakah kamu masih diberi berkah umur panjang? Sampaikah kamu ke momen itu lagi?

Kenapa Orang Tuamu Memanjakan Cucunya? Bisa Jadi Dahulu Mereka Melakukan Kesalahan Sepertimu Saat Ini

Sebagaian kamu mungkin sering kesal ketika orang tuamu yang kini berpredikat kakek dan nenek begitu memanjakan cucunya. Semua kedisiplinan yang kalian terapkan bisa diterabas begitu saja oleh kakek nenek.

Coba kamu merenung sejenak, mungkin orang tuamu sedang membayar kerinduan dan rasa bersalahnya ketika merawatmu dulu. Mereka sudah menyadari betapa rindunya memelukmu, menggendongmu dan membelikanmu jajanan untuk membuatmu tersenyum. Mereka mungkin dulu tak melakukannya karena dulu mereka ada di posisimu.

Jadi pahami mereka, berbaik hatilah kepada mereka. Peluk orang tuamu saat ini juga dan cium mesra si kecil sedari sekarang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top