Feature

Menikah Tak Selalu Bahagia, LDR Pasca Menikah Bahkan Bisa Jadi Tantangan Berat. Pejuang Jarak Pasti Tahu!

Menjalani hubungan jarak jauh bukanlah tanpa tantangan. Harus terpisah lantaran bentangan jarak tentu membuat kamu tak bisa leluasa berjumpa dengan pasangan. Entah dalam kurun waktu sebentar atau bahkan relatif lama. Bahkan Long Distance Relationship (LDR) telah menjadi salah satu faktor terkuat penyebab banyak pasangan harus mengakhiri hubungan mereka. Walau tentunya tak sedikit juga pasangan yang berhasil melewati tantangan ini.

Banyak pasangan yang pada akhirnya menyerah karena sulitnya tantangan yang mereka hadapi saat melakoni hubungan jarak jauh atau LDR. Tapi pernahkah terlintas dibenakmu, lantas bagaimana dengan mereka yang justru jarus ber-LDR setelah sah  menjadi pasangan suami istri. Ada kondisi tertentu yang akhirnya membuat pasangan suami istri tak bisa tinggal serumah dalam jangka waktu tertentu. Tuntutan pekerjaanlah yang biasanya menjadi alasan terbesar. Kalau ditanya mana yang lebih berat, jelas hubungan jarak jauh pasca-menikah jauh lebih berat.

 

LDR Pasca Menikah Memang Berat, Salah Satu Kekuatan Timbul Karena Sudah Ada Komitmen yang Mengikat

Setelah menikah, cobaan dirasa datang silih berganti. Mulai dari masalah tempat tinggal, mertua, hingga persoalan anak. Persoalan kian bertambah jika mereka harus bergelut dengan problem LDR.  Mungkin sang istri tinggal di kota asal, sementara sang suami mendapat tugas ke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri untuk beberapa waktu. Berat bukan?

Namun bukan berarti pernikahan harus berakhir begitu saja layaknya hubungan pacaran. Sebagai pasangan yang telah disatukan dalam ikatan pernikahan, masalah LDR seberat apapun itu sebaiknya diselesaikan dengan sabar dan kepala dingin.

Coba ingat, bagaimana kamu berjanji untuk bersamanya. Kini kamu dan dia telah diikat dengan komitmen pernikahan. Biarkan hal itu yang menjadi kekuatanmu melewati ‘ujian’ LDR pasca-menikah. Percayalah, sebesar apapun badai yang mendera bahtera rumah tangga, semua akan mampu terlewati karena memang telah berkomitmen untuk melaluinya bersama-sama.

 

Kamu yang Melewati Malam-malam Panjang Seorang Diri, Bersabarlah, Tuhan Sedang Menguji Ketabahan Hatimu Sekali Lagi

Untukmu yang harus menjadi pejuang LDR pasca menikah, mungkin kehidupan ‘normal’ sebuah rumah tangga belum tentu bisa kamu rasakan. Malam-malam panjang  harus kamu lewati tanpanya mau tidak mau harus dihadapi.

Iri dengan teman atau mungkin tetanggamu yang terlihat bahagia karena mampu melihat senyum pasangannya setiap pagi sudah jelas menghampiri. Di lain sisi, kamu patut bersyukur. Sebab kali ini Tuhan sedang merenda cerita bahtera rumah tanggamu. Ujian ini datang bukan sebagai konsekuensi, tapi ini menjadi penguat ketabahanmu menantikannya kembali. Sekali lagi, kamu akan lebih menghargai makna rindu yang sesungguhnya.

 

Meski Rindu Semakin Membumbung, Bukan Berarti Kamu Harus Menyerah

Memutuskan ikatan saat masih pacaran lantaran faktor LDR mungkin terbilang mudah. Terutama bagi pasangan yang akhirnya berpikir tak sanggup lagi berjuang melawan jarak hingga garis akhir.

Kamu yang sudah mengikat janji sehidup semati dengannya berarti siap bergulat dengan cobaan, termasuk dengan jarak yang harusnya tak jadi kendala. Kamu boleh bersyukur, pejuang LDR di masa sekarang tak kesulitan berkomunikasi dengan pasangannya. Kamu bisa menelpon, mengirimi pesan, atau bahkan bertatap muka lewat video call. Memang semua itu tak dapat menggantikan indahnya pertemuan, tapi biarkan ujian LDR kali ini menjadi ujian terindah dalam ikatan pernikahanmu dengannya.

 

Tetaplah Tenang dan Berpikir Positif. Meski Didera Kegamangan, Hatimu Tahu Kemana Ia Harus Kembali

Ini mungkin salah satu kelebihan para pejuang LDR pasca menikah. Tak seperti pasangan yang masih tahap pacaran, kamu jauh lebih tahu tanggung jawab dan peranmu masing-masing. Tak perlu khawatir berlebihan, meski kamu pun masih sulit menepisnya. Percayalah, ketika dua hati sudah terikat dalam ikatan yang sah akan selalu tahu kemana ia harus kembali.

 

Terutama Kamu yang Akan Menyambut Seorang Anak, Prioritasmu Nanti Bukan Hanya untuk Pasangan. Kewajibanmu Sebagai Orangtua Setidaknya Mampu Mengalihkan Rasa Rindumu

Kehadiran seorang anak pasti akan mengalihkan kegamanganmu selama menjalani LDR. Prioritasmu pun bukan hanya soal pasangan, tapi tentang tanggung jawabmu sebagai orangtua. Terhalang jarak dengan suami atau istri bukan lagi alasan untuk tidak memprioritaskan sang anak. Kamu pun akan lebih memikirkan segala kebutuhan anakmu dibanding berdiam diri lantaran didera rindu. Tanggung jawab besar menantimu dan kamu harus memikulnya dengan baik.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

10 Desain Rumah Minimalis Untuk Pasangan Muda yang Baru Saja Menikah

Biar tak  hanya sekedar angan-angan belaka, perihal membeli rumah memang jadi sesuatu yang perlu dipersiapkan sebelum atau setelah menikah. Beberapa pasangan memang memilih memiliki rumah dulu, baru menikah. Tapi ada pula yang justru sebaliknya, menikah dulu lalu membeli rumah. Sah-sah saja sebenarnya, toh setiap orang memiliki pandangan dan rejeki yang berbeda-beda.

Teruntuk kamu yang mungkin baru saja menikah dan sedang bingung untuk menentukan pilihan desain rumah. Masih tinggal berdua, kaplingan sederhana dengan 2 kamar tidur jelas sudah cukup untuk kalian berdua. Untuk membantumu menentukan pilihan, cobalah tengok beberapa desain inspirasi rumah minimalis yang coba kami rangkumkan.

1. Untuk Ukuran Rumah Minimalis, Sebenarnya Kita Hanya Perlu 4 Ruangan Saja

Sumber : https://rumahminimalisanda.com

Yap, 2 untuk kamar tidur, sisanya buat ruang tamu berukuran sedang dan kamar mandi.
Berita baiknya, lahan yang tersisa bisa kita pakai sebagai taman atau ruang hijau yang menjaga kesegaran udara sekitar.

Meskipun nanti akan punya anak, satu kamar yang tersisa masih bisa dipakai untuk dirinya. Nah bagaimana? Tak sulit bukan. Meski sederhana, desain seperti ini jadi konsep yang cukup ramah untuk pasangan yang baru menikah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jatuh Bangun LDR Yang Hanya Dirasakan Para Pejuang Jarak

Tak ada yang bilang kalau LDR itu mudah. Seberat-beratnya ujian, perkara jarak pun juga bisa jadi hal yang sangat berat bagi setiap pasangan. Belum lagi omongan di luar sana yang dengan mudahnya berkata kalau hubungan jarak jauh tak akan berhasil dan buang-buang waktu. Berat bukan? Memutuskan untuk LDR bukan hanya perkara berdamai dengan jarak, tapi juga melembutkan hati dan ego agar bisa menerima situasi semacam ini sekaligus menahan rindu meski berujung pilu.

Ketika kamu dan dia sudah memutuskan berjuang bersama, maka ujian jarak adalah sebaik-baiknya kesempatan untuk kalian agar bisa saling menyemangati dan terus belajar untuk saling menghargai. Terlebih jika pasanganmu memutuskan merantau demi masa depan kalian berdua. Memang berat, tapi percayalah ujian semacam ini tak akan bertahan lama. Ketika kamu yakin bisa melakoninya, maka jadikan hal itu semangat dan energi untuk menghadapi perkara LDR. Aku tahu rindu itu berat. Tapi semuanya akan terbayar ketika di ujung waktu, kamu bisa kembali berjumpa dengannya.

Saat Dia Berada Di Perantauan, Kamu Seperti Menjadi Satu-satunya Orang yang Tak Bisa Bersandar di Pundak Pasangan

Ketika kamu pergi ke tempat umum seperti mall, bioskop, atau di manapun itu, terbersit rasa ingin pergi bersama dan menggandeng tangannya seperti yang dilakukan banyak pasangan yang kamu jumpai. Saat sedih pun ada pundak yang bisa disandari. Sementara kamu, hanya bisa membayangkan sosoknya atau mendengarkan suaranya saja.

Tapi Seiring Berjalannya Waktu, Kamu Kian Tahu Cara Mengusir Sedih. Sebab Dari Jauh, Dia pun Selalu Meyakinkanmu Jika Jarak Tak Akan Membuat Hubungan Kalian Kian Rapuh

Perlu waktu yang tak sebentar untuk mengusir kegalauan lantaran ditinggal pergi merantau. Sedih, sudah jelas. Namun seriring berjalannya waktu, kamu seperti tahu caranya mengusir sedih agar berlalu. Si dia juga terus menyemangati agar kamu lebih tenang. Caranya meyakinkanmu membuat kamu mengerti kalau hubungan jarak jauh tak harus membuat kalian jadi rapuh.

Ada Rasa Gembira dan Bangga yang Terselip Atas Pencapaian Pasanganmu. Di Lain Sisi, Hal Itu Juga yang Membuatmu Terpacu Meraih Mimpi

Di lain sisi, keputusannya untuk merantau lantaran adanya panggilan pekerjaan membuatmu berbangga. Dia yang selama ini mendampingimu adalah sebaik-baiknya panutan dalam hal meraih mimpi. Kamu pun jadi terpacu untuk melakukan hal  yang sama, yaitu meraih mimpi yang selama ini belum tercapai.

Satu-satunya Obat Rindu Adalah Berjumpa Lewat Suara Sembari Melihat Foto-foto Lama yang Tersimpan Sebagai Memori

Saat melihat teman di media sosial tengah memamerkan kemesraan bersama pasangannya, kamu mungkin hanya bisa menahan rindu sembari berharap kapan bisa berjumpa dengannya. Satu-satunya cara selain mengontaknya secara langsung, ya kamu harus bernapas lega hanya dengan melihat kembali foto-foto lama yang tersimpan sebagai memori. Setidaknya cara itu bisa menenangkan rindu yang semakin membumbung.

Kamu Tak Hanya Bergulat dengan Rindu, Tapi Juga dengan Ego Pribadi. Kamu Belajar Sebaik Mungkin Mengatur Rindu Agar Tak Membuatnya Khawatir denganmu

Meski kalian menjalani LDR, tapi hubunganmu pasti melewati fase-fase tertentu. Ada masanya, terutama di awal-awal kamu ditinggal pergi, kamu akan merengek-rengek lantaran rindu. Perlahan tapi pasti, kamu menyadari hal semacam itu hanya menunjukkan jika egomu kelewat besar dan justru kian menyulitkannya di perantauan. Semakin hari, kamu pun semakin menyadari, mengatur rindu itu perlu agar dia tetap bisa fokus dengan tanggung jawab pekerjaannya yang jauh lebih penting.

Melihat Teman-temanmu Galau Lantaran Ditinggal Kekasih Mereka, Tebersit Kata-kata “Ah Biasa Saja, Aku Malah Lebih Lama,”

Kelihatannya sombong memang, tapi faktanya demikian. Seiring berjalannya waktu dan kamu sudah berhasil melewati masa-masa LDR, kamu pun jadi terlihat terbiasa dan ‘menikmati’ rasanya berjauhan dengan si dia. Jangankan dilanda rindu, bergulat dengan pilu pun kamu sudah biasa. Begitu batinmu.

Kamu Jadi Punya Ikatan dengan Tempat-tempat Tertentu Seperti Stasiun hingga Bandara. Sebab Disanalah Tempat Rindu Bisa Hilang dan Tapi Juga Bisa Tumbuh Kembali

Kamu seakan-akan merasakan hidupmu seperti film romansa dimana kamu harus mengantar dan menjemput dia. Stasiun dan bandara sudah jadi tempat yang menggoreskan berbagai cerita tentang kalian berdua. Sebab di sanalah tempat rindu berakhir sekaligus bermula.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jika Mengingat Kembali Momen Sial Bisa Membuatmu Tertawa, Itu Tandanya Kamu Sudah Dewasa

Pernahkah kamu mengalami yang namanya momen sial? Entah tiba-tiba terpleset saat sedang berada di keramaian, bajumu terkena kotoran burung, hingga kepala  yang terantuk tembok dan semacamnya. Kira-kira apa responmu setelahnya? Adakah yang merasa kesal dan merutuki diri sendiri? Atau justru tertawa karena merasa konyol dengan kesialan yang menimpamu? Sejatinya, kalau kamu justru tertawa saat ditimpa kemalangan kecil, itu artinya kamu sudah dewasa karena bisa menyikapi hal buruk dengan cara jenaka.

Kamu harus bangga. Faktanya, tak semua orang bisa melakukannya. Ada yang saking kesalnya ditimpa sial, moodnya jadi berubah sepanjang hari. Tapi bicara soal momen sial, masihkah kamu bisa tertawa jika skala ‘kesialan’ yang kamu hadapi jauh lebih besar? Ataukah, sisi jenakamu akan lenyap entah kemana? Coba tanyakan dalam diri masing-masing, masihkah kamu bisa tertawa jika mendapati situasi semacam ini…

Saat Orang-orang Menertawakan Cita-cita dan Ambisimu yang dianggap Tidak Relevan…

Kamu dengan penuh percaya diri dan berapi-api selalu menyuarakan apa yang jadi cita-citamu selama ini. Sayangnya, tak semua orang bisa menerimanya. Alih-alih memberikanmu semangat dan motivasi, mereka malah menyepelekanmu karena kamu dirasa tak mampu meraih mimpimu itu. Pernahkah kamu terjebak di situasi semacam itu? Lalu bagaimana kabarmu sekarang? Sudahkah berhasil meraih apa yang dicita-citakan. Selamat, kamu telah berhasil mengalahkan segala intimidasi mereka.

Mentalmu akan dikatakan dewasa jika berhasil menyikapi semua ini secara santai dan dengan hati yang damai. Mungkin kalau diingat-ingat lagi, kamu merasa ditimpa kesialan lantaran teman-temanmu malah menertawakan cita-cita yang sudah kamu dambakan sejak lama. Tapi lihatlah, siapa yang sekarang bisa tertawa di akhir cerita?

Ketika Kamu Hendak Wawancara Kerja, Tapi Kondisi Badanmu Justru Sedang Lesu. Alhasil, Mimpi Bekerja di Tempat yang Kamu Dambakan pun Pupus Begitu Saja

Mungkin ada yang mengatakan jadwal wawancara bisa di-reschedule. Tapi sayangnya hal itu tak berlaku dengan undangan wawancara kerja yang kamu terima. Mereka memintamu datang di hari yang sudah ditentukan. Karena kondisimu benar-benar tidak fit, kamu pun tak datang. Hari itu, mungkin kamu merasa kesal, bete, hingga bergumam macam-macam dengan tubuhmu yang tak bisa diajak kompromi. Tapi lihatlah sekarang, ternyata kamu justru mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari tawaran saat itu. Menyenangkan bukan?

Tak Banyak Orang yang Masih Bisa Tertawa Lepas Melihat ‘Ketidakadilan’ Soal Penghasilan

Dulu, sebelum gajimu sebaik sekarang ini, apakah kamu tetap bisa tertawa lepas bila mengingat banyaknya hal yang harus kamu penuhi? Belum lagi persaingan sengit di dalam kantor. Rasanya kamu merasa semesta tak adil soal penghasilan. Wah, tahan dulu dirimu. Seberat apa pun situasinya, tetap cobalah untuk bersyukur. Tengoklah orang-orang yang mungkin belum seberuntung dirimu. Menjadi dewasa bukan hanya ketika kita bisa tertawa melihat hal pahit yang kita alami, tapi juga keikhlasan hati menerima setiap jalan hidup yang harus kita lalui bukan?

Kamu Tahu Betapa Sukarnya Mengatur Waktu, Tapi Klien Seenaknya Mengganti Jadwal Bertemu

Sebagai pekerja yang terus menjalin relasi dengan klien, terkadang kita hanya bisa berencana dan klien yang menentukan. Kita sudah membuat janji sejak lama. Tapi ketika hari H justru ditunda lantaran kepentingan lain. Rasanya ingin protes, tapi tak bisa. Apa lagi mau marah. Ya sudah, terima saja. Berpikir positif saja bahwa klien memang sedang benar-benar berhalangan.

Siapa yang Bisa Tertawa Jika Setiap Hari Rasanya Hanya Kamu yang Jadi Bulan-bulanan Atasan?

Kesal memang jika tanpa disadari ternyata kita terus yang jadi objek omelan atasan. Padahal sebenarnya itu bukan kesalahan kita. Mau menyanggah pun sukar rasanya. Tapi kamu jangan patah semangat. Cobalah pelan-pelan meyakinkan atasanmu bahwa kamu tak bersalah sama sekali. Selama kamu bisa membuktikan bahwa kamu tak salah, semuanya akan baik-baik saja. Hitung-hitung juga menempa mentalmu, sebab di dunia kerja, hal-hal seperti itu sudah pasti ada. Kalau kamu berhasil melewatinya, kembali mengingat momen jadi bulan-bulanan atasan tentu akan membuatmu tertawa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top