Feature

Memangnya Apa yang Perlu Kamu Takutkan dari Sesosok Hantu?

Bisa Jadi Penampakan Hantu Adalah Ilusi Semata

Mungkin ini alasan yang paling realistis dari semua alasan di atas. Kamu harus pintar-pintar berpikir logis. Karena pasti ada penjelasan ilmiah mengenai penampakan yang menurutmu adalah sesosok hantu. Bisa saja hal itu sejatinya akibat kesalahan persepsi dari aktivitas otak manusia. Mungkin ketika pulang tengah malam, kamu tidak sengaja melihat kain putih yang diterbangkan angin hingga tersangkut di pohon. Dan kamu menganggapnya sebagai penampakan hantu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Menonton Komedi Remaja Malang Nan Renyah Lewat Film Yowis Ben

“Jancok”

Jadi satu kata yang akan selalu mengundang gelak tawa, selama kamu menontonnya. Masih bercerita seputar kehidupan remaja anak SMA, Yowis Ben jadi film remaja pertama yang hadir dengan warna berbeda. Yap benar, sebab hampir 90% dialog film ini menggunakan bahasa Jawa.

Akhir tahun lalu, Starvision Plus yang jadi rumah produksi film ini boleh dibilang sukses lewat Susah Sinyal, seolah ingin kembali mengulang keberhasilan lewat film bergenre drama komedi. Nampaknya menghadirkan Yowis Ben bukanlah pilihan yang buruk.

Jadi Project Uji Coba, Tapi Film Ini Cukup Berhasil Mengundang Tawa

Disutradarai oleh Fajar Nugros, dan co-director Bayu Skak yang sejatinya adalah seorang YouTuber sekaligus jadi pemain utamanya. Film ini bercerita tentang kegalauan remaja, mulai dari ingin diakui, pencarian jati diri, dan mengejar cinta. Hingga kemudian akhirnya Bayu (Bayu Skak) dan Doni (Joshua Suherman) memutuskan mendirikan sebuah band demi meningkatkan kepopuleran mereka di sekolah, dan juga agar dihargai oleh orangtuanya.

Sang lakon utama, Bayu yang di-bully karena ditolak cintanya oleh Stevia (Devina Aurel) di hadapan satu kelas, yang biasa disebut “Pecel Boy”, serta Doni yang ingin mendapat pengakuan dari orangtuanya, akhirnya mereka mengadakan sayembara untuk mencari personel band. Dan setelah proses tak yakin plus sembur-semburan di toilet sekolah, akhirnya ditemukanlah si penggebuk drum Yayan (Tutus Thomson) dan pianisnya Nando (Brandon Salim).

Tak Ada Usaha yang Akan Sia-sia, Akhirnya Mereka pun Dikenal di Seantero Dunia Maya

Gagal pada kompetisi pertamanya, ini jelas jadi kegalauan mereka. Ditengah kekecewaan itu, Yayan yang sejatinya adalah anak Rohis nan budiman asyik menonton video nasyid di YouTube lewat smartphonenya. Dari sinilah lahir ide, cara lain untuk dikenal adalah mengunggah karya mereka di jejaring dunia maya. Dan yap, berhasil!

Menyoal akting, Bayu bisa dibilang cukup menjiwai dan tampil sangat natural. Nama lain yang juga patut diacungi jempol adalah Brandon Salim yang memerankan Nando. Bagaimana tidak, doi yang sejatinya tak bisa berbahasa jawa, bisa dengan cukup apik berujar dengan bahasa Jawa ala dirinya. Walau masih ada logat yang kurang pas, tapi orang ganteng mah bebas. Eh, tapi ini benaran akting Brandon bagus.

Tapi jika akan ditanya siapa yang paling berhasil mengundang tawa, ya Yayan, sang drummer dengan perannya sebagai sosok laki-laki yang agamis, tak pernah lupa sholat hingga menutup mata tatkala menonton video nasyid perempuan di YouTube.

Harta, Tahta, dan Wanita, Jadi Ujian Selanjutnya

Populer sudah, disegani juga iya, target selanjutnya adalah menaklukan hati Susan setelah ditolak oleh Stevia. Yap, setelah dikenal sekota Malang, dan menyisipkan wajah Susan di setiap video klipnya, Bayu dan Susan pun akhirnya mulai dekat. Kencan ke kawasan Batu, hingga pakai baju kaos couple yang bertuliskan “LOVE”. Tapi kemunculan Susan justru jadi sumber keretakan empat serangkai ini.

Setelah drama pertentangan karena merasa diri paling benar ditengah siaran langsung di radio yang tadinya ingin mengajak mereka berbincang-bincang seputar bandnya. Namun tanpa diduga, mereka justru mengumumkan rencananya untuk bubar. Ari Didu yang berperan sebagai Cak Jon, adik dari Ibu Bayu yang juga adalah seorang penyiar pun dibuat kebingungan.

Kemudian Ditutup dengan Manis Oleh Adegan Haru

Sejatinya, perempuan dan sahabat memang bukanlah sebuah pilihan. Tak ingin kehilangan apa yang sudah dibangunnya, Bayu pun sadar jika sikapnya memang salah. Tak bertemu beberapa waktu, hingga bertemu lagi atas dasar mau sama mau. Ya, kalau yang maunya cuma satu mah sakit!.  Mereka pun saling memaafkan, di depan studio tempat mereka biasa latihan diiringi dengan bunyi pentungan mangkok bakso yang seolah berperan jadi musik latar.

Bahasa Jawa dalam dialog yang sebelumnya jadi bahan bully-an dari para warganet yang tak budiman, sejatinya jadi nyawa yang menghidupkan suasana. Tak berhenti disitu saja, semua musik yang ada di film ini adalah karya orisinil yang cukup ramah di telinga dan dimainkan oleh Yowis Ben sendiri. Apa lagi yang berjudul “Nggak Iso Turu”, sampai sekarang pun masih terngiang-ngiang di telinga. Kamu yang tak mengerti bahasa Jawa, jangan khawatir sebab ada subtitle yang terasa pas dan natural.

Dan pihak lain yang lain yang jadi pusat perhatian selanjutnya adalah duel maut aki-aki tua yang ternyata adalah pelawak legendaris asal Jawa Timur, yakni Cak Kartolo dan Cak Sapari yang setiap hari nongkrong di warung pecel Ibu Bayu. Bersahut-sahutan demi merebut perhatian, hingga dialog-dialog kental yang membuat penonton terpingkal-pingkal.

Dari film ini kita kembali diingatkan, jika kini banyak remaja yang memang sudah melupakan bahasa daerahnya. Maka tak heran jika akhirnya Bayu yang juga berperan sebagai sutradara memilih bahasa Jawa sebagai bahasa utamanya, menyampaikan pesan yang cukup penting bahwa sudah selayaknya sebagai remaja kita berperan serta untuk tetap mengingat bahasa ibu yang menjadi budaya dari daerah asal. Jika memang sudah cukup penasaran, menjadikan film ini sebagai tontonan akhir pekan adalah pilihan yang benar.

Lalu setelah itu, kamu pun akan buru-buru ingin berlibur ke Malang dan menikmati suasana sejuk di kampung warna-warni Jodipan.

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Untukmu yang Masih Sendiri, 4 Film Ini Paling Pas Untuk Mengobati Keresahan Hati

Tanpa bermaksud ingin menyudutkan kesendirian yang kini sedang kamu jalani, suatu waktu akan ada momen yang membuat kita merasa berkecil hati karena tak punya kekasih. Tapi jangan pula berpikir jika punya pasangan akan selalu membuatmu bahagia. 

Sebelum bengong dan berdiam diri karena meratapi nasib, 4 judul film ini akan membantu kita bersyukur meski hingga kini masih sendiri.

1. Duet Maut Adinia Wirasti dengan Reza Rahardian dalam Film “Kapan Kawin”

Dinda yang diperankan oleh Adinia Wirasti, memiliki karir sukses di Jakarta sebagai General Manager sebuah hotel bintang empat. Tapi sebuah kesuksesan itu bukanlah ukuran yang bisa membuat orangtuanya bahagia, karena ternyata Dinda masih single hingga memasuki usianya yang ke 30.

Bagi orangtua Dinda yang tinggal di Jogja, status Dinda yang masih single ini adalah kegagalan mereka sebagai orangtua. Bosan dicerca oleh orangtuanya dengan pertanyaan “Kapan kawin, Dinda?”, akhirnya dia menyusun sebuah rencana.

Ia memutuskan untuk menyewa Satrio, seorang aktor teater idealis kenalan sahabatnya untuk berpura-pura menjadi pacar Dinda. Film ini berisi pesan moral bahwa cinta tidak bisa dipaksa dan akan datang dengan sendirinya. Karena akhirnya Dinda kemudian jatuh cinta dengan Satrio pacar sewaan yang tadinya hanya berpura-pura.

2. “How To Be Single”, Hidup Akan Tetap Baik-baik Saja Meski Tanpa Pasangan

Bercerita tentang berbagai macam tipikal orang di New York, yang berusaha untuk menemukan jodohnya. Namun anehnya selalu dan selalu saja bertemu dengan orang yang salah. Bahkan ada pula yang terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai lupa pacaran.

Diperankan oleh Dakota Johnson dan Rebel Wilson, Film ini ditutup dengan sebuah pemandangan yang akhirnya menjelaskan bahwa tak harus selalu pacaran untuk bisa merasa bahagia. Karena meski sendiri kita pun bisa tetap bahagia. Sebab masih ada teman dan keluarga yang selalu setia untuk kita.

3. Berani Keluar dari Zona Nyaman, “Eat Pray Love” Mungkin Bisa Jadi Jawaban

Eat Pray Love bercerita tentang kehidupan seorang penulis wanita bernama Elizabeth Gilbert (Julia Roberts). Dia akhirnya berani memutuskan untuk menikah dengan kekasih yang selama ini ia cintai, dan setelah resmi menjadi suami istri merekapun bersepakat untuk pindah ke New York.

Di kota tersebutlah kehidupan baru mereka resmi dimulai, namun bayangan indahnya sebuah pernikahan ternyata sangat jauh dari apa yang didapatkan oleh Elizabeth. Ia pun bercerai dari sang suami. Hampir 3 tahun larut dalam kesedihan pasca perceraiannya, akhirnya ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk mencoba menenangkan diri.

Dan di negara terakhir yaitu Indonesia, tepatnya di Bali, Elizabeth bertemu dengan seseorang yang mengubah cara pandangnya akan hidup. Film ini akan jadi sesuatu yang cocok untuk kamu yang saat ini sedang bernasib sama, mencari jati diri dan ketenangan jiwa.

4. Dan Berjuang Untuk Lepas dari Bayang-bayang Mantan Lewat Film 500 Days of Summer”

Tom Hansen diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt menjalani kehidupannya yang hambar sebagai seorang pegawai di perusahaan pembuat kartu ucapan. Ia termasuk golongan orang yang percaya kalau ia tak akan bahagia sebelum bertemu dengan seseorang yang tepat.

Hingga akhirnya bertemu dengan Summer Finn yang diperankan oleh Zooey Deschanel, perempuan yang sejak perceraian orangtuanya tak percaya pada cinta dan tidak tertarik untuk berhubungan dengan lawan jenis. Saling merasa nyaman dan cocok, akhirnya mereka mencoba untuk bersama meski akhirnya perbedaan prinsip menghancurkan hari-hari indah Tom Hansen.

Dari film ini kita belajar bahwa tak semua hal yang kita inginkan akan selalu kita dapatkan. Namun meski demikian dunia menyimpan banyak hal-hal yang membuat bahagia lebih dari sekedar nilai pacaran yang sering kita puja-puja.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top