Feature

Masih Muda Sih, Tapi Kok Hutangmu Sudah Banyak? Segeralah Evaluasi Keuanganmu Mulai dari Sekarang

Terakhir, Jangan Lupa Investasi. Siapkan 25 persen Setiap Bulannya untuk Menata Hari Depan yang Penuh Harapan

Bagi generasi milenial mungkin investasi bukanlah sesuatu yang menarik hati. Tapi jauh daripada itu, cobalah ubah pola pikirmu. Janganlah jadi anak muda yang justru terjerat cicilan dan berlaku konsumtif setiap bulannya. Sebaiknya, carilah cara untukmu agar bisa memutar uang setiap bulannya. Apa lagi investasi banyak rupanya. Jangan biarkan uangmu hanya tertidur di bank. Kalau bisa, putarlah uangmu agar hasilnya bisa dinikmati di kemudian hari.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bagaimana Menikmati Akhir Pekan di Jakarta?

Akhir pekan di Jakarta, yakin bakalan asik? Mungkin itu jadi respon yang akan tiba-tiba memenuhi isi kepala. Wajar memang, hiruk pikuk kemacetan jalanan ibukota, kadang jadi sesuatu yang lebih dulu membunuh gairah. Jangankan untuk menikmati suasana kota di akhir pekan, belum sampai ke tempat tujuan kita sudah merasa lelah. Hasilnya? Mungkin bakalan menyerah.

Beberapa tahun belakangan, jalanan ibu kota memang sedang macet-macetnya. Sebab pemerintah saat ini nampaknya sedang memburu waktu untuk membenahi beberapa infrastruktur jalanan ibu kota. Tapi jangan keburu patah arang dulu, meski terkenal penuh dan riuh kita tetap bisa menikmati akhir pekan di Jakarta dengan asik dan menyenangkan.

Agar Tak Bosan dengan Suasana yang Itu-Itu Saja, Pilihlah Tempat yang Berbeda

Lupakan dulu mall dan berbagai macam tempat hang out kekinian. Kali ini mari nikmati jakarta dari lain sisi. Untuk itu kamu boleh bercumbu pada beberapa tempat yang jarang tersentuh.

Di Utara Jakarta, lahan hijau yang masih terasa segar mungkin jadi pilihan menarik pada pagi hari. Dan nanti jika sudah menjelang siang, kita bisa bergerak sedikit ke arah pusat Jakarta tepatnya di daerah pasar baru untuk sekedar melepas rasa lapar.

Sorenya untuk kesan menanti senja yang tak biasa, jika memang masih ingin berada pada sekitaran Pusat Jakarta. Kamu bisa menikmati matahari terbenam di Pelabuhan Sunda Kelapa. Aktivitas para kapal yang sedang bersandar dan beberapa kegiatan para awaknya akan membuatmu merasakan Jakarta dari sisi yang berbeda.

Ini hanya beberapa rangkaian tempat yang bisa kamu nikmati, dan sebenarnya masih banyak lagi yang belum terjamahi. Asal pintar memilih tujuan bukan tak mungkin kamu akan dapat merayakan akhir pekan dengan berkesan.

Sebab Jalanan Ibu kota Sedang Ruwet-ruwetnya, Pastikan Pula Rute Mana yang Tak Akan Membuatmu Merana

Bicara soal Jakarta agak susah memang jika harus memisahkannya dengan kemacetan lalu lintasnya. Belum lagi dengan adanya kegiatan pembangunan yang sedang marak di sana-sini, penampilan yang sudah kece bisa mendadak lusuh karena terjebak macet di jalan.

Walau terlihat sepele, memilah jalanan yang akan dilalui jadi salah satu kunci untuk dapat menikmati perjalanan. Begitu pula dengan akhir pekan di Jakarta yang ingin dirayakan. Carilah alternatif terbaik, rute mana yang sedang lenggang dan tidak ada gangguan. Sebab untuk mencari tahunya pun cukup mudah. Entah itu dari sosial media, atau dari beberapa akun yang biasanya khusus membicarakan tentang jalanan Ibu Kota.

Pilihlah Waktu yang Pas Untuk Memulai Perjalanan

Yup, setelah tahu tempat mana yang akan kamu tuju serta jalur mana yang akan dilalui. Hal selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah waktu keberangkatan. Jika memang kamu akan bepergian untuk menikmati suasana pagi, cobalah bangun lebih cepat dari biasanya. Dan berangkatlah sebelum jalanan mulai ramai.

Sebaliknya memang kamu ingin menjajal tempat tujuan pada siang atau sore hari pilihlah waktu yang cukup untuk pergi. Katakanlah kamu akan pergi ke suatu tempat untuk menikmati waktu sembari makan siang, cobalah pergi sekitar sebelum jam 10 pagi, karena di samping jalanan yang sudah tak lagi terlalu ramai matahari juga belum terlalu seterik siang.

Atau jika memang ingin menikmati sore, kamu bisa mulai berangkat dari rumah pukul 3 sore, pada jam ini mereka yang bekerja di akhir pekan sudah tentu pulang pada 2 jam sebelumnya. Sedang yang ingin pulang di sore hari akan pulang nanti pada pukul 5 hingga 6 sore. Dengan kata lain jam 3 sore jadi titik netral yang tak akan menjebakmu di jalan.

Dan Bekali Diri dengan Kendaraan yang Akan Membuat Nyaman

Dari sekian banyak hal-hal yang tapi perlu kamu perhatikan, ini jadi point yang perlu untuk diingat. Karena biar bagaimanapun kamu tentu tak akan berjalan kaki untuk menikmati akhir pekan. Kecuali cuma makan di warung depan.

Hadir untuk menjawab kebutuhanmu Motor Address Playful dari Suzuki ini bisa mengantarmu menikmati akhir pekan di Jakarta. Skuter yang memang didedikasikan untuk kamu yang masih berjiwa muda, jadi salah satu skuter terbaik untuk untuk menikmati hari lebih produktif. Lengkap dengan aksesori panel bodi yang penuh warna pada bagian frame cover, handle cover, leg shield hingga pada stripping set.

Kamu juga tak perlu khawatir atau ragu, jika ternyata varian warna tak akan sesuai selera, sebab seri skuter matic dari perusahaan berlogo S ini punya 10 pilihan warna yang diterapkan pada aksesoris panel bodinya. Kamu bebas pilih warna mana yang sekiranya sangat pas dan cocok untuk karaktermu. Mulai dari Stronger Red, Aura Yellow, Fresh Green, Macho Bright Blue, Majestic Gold, Dark Grey, Brilliant White, Hyper Pink, Luminous Orange Hingga Ice Silver.

Keunggulan lain yang akan menjawab kekhawatirmu saat nanti akan berkendara di tengah jalanan ibukota saat akhir pekan tiba. Suzuki Address Playful ini dibekali mesin SOHC 4 langkah kapasitas 113 cc yang memang dipercaya menghasilkan performa baik. Teknologi full injectionnya mampu menekan konsumsi bahan bakar dengan perbandingan kompresi yang mencapai 9.4:1

Dengan komposissi mesin seperti itu, perihal biaya bahan bakar kamu tentu tak perlu ragu, sebab motor ini jadi skuter matic yang tergolong irit. Selain menghemat waktu dalam perjalanan, berkendara dengan Suzuki Adress Playful ini juga membantumu menghemat budget akhir pekan dari perihal ongkos kendaraan.

Ketika Sampai di Tempat Tujuan, Fokuslah Untuk Menikmati Waktu Akhir Pekan

Sudah jauh-jauh menempuh perjalanan, sampai ditempat tujuan masih saja buka instagram. Sebisa mungkin jika memang itu bukanlah sesuatu yang penting dan bersifat darurat, cobalah nikmati waktu akhir pekanmu dengan berkualitas. Jauhkan diri dari dunia sosial media untuk sehari saja, sebab ini akan berpengaruh pada jiwa.

Karena jika ternyata akhir pekanmu masih saja bersama dengan handphone dan segala hal yang membuatmu terlena. Tentu akhir pekan yang sedang kau jalani tak akan bermakna. Jika sesekali membuka untuk sekedar posting di instastory instagram bolehlah, namun kalau keblalasan buka akun gosip dan saling balas komentar tentu itu akan membuatmu lupa. Iya, lupa jika tadinya kamu sedang ingin menikmati akhir pekan di Jakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Belum Ingin Menikah Hari Ini, Bukan Berarti Seumur Hidup Akan Sendiri

Mendapat pertanyaan, “Sudah punya calon belum?” saat acara kumpul keluarga, agaknya jadi hal yang biasa. Tapi jangan dulu menyalahkan mereka, sebab hal itu memang menjadi pertanyaan wajar untuk manusia yang sudah dewasa namun tak pernah terlihat menggandeng siapa-siapa.

Perihal usia yang sudah matang hingga keputusan melangkah yang harus disegerakan, memang selalu jadi perkara yang rumit untuk dibicarakan. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menyadarkan kami yang masih sendiri, bahwa sebagian orang masih mendekskrisikan kesendirian sebagai situasi nelangsa.

Kemudian dengan santainya berpendapat bahwa kita yang masih sendiri hingga kini adalah pribadi yang menyalahi kodrat. Tak ingin terbawa emosi, tentu ada beberapa alasan dibalik pilihan itu. Sebab tak ingin menikah sekarang bukan berarti akan hidup sendiri sampai mati.

Hal Pertama yang Harus Kita Mengerti Adalah Setiap Orang Bebas Memilih

Tak ada alasan yang lantas akan membedakan kita dengan mereka yang lebih dulu menikah, sebab ini adalah bagian dari pilihan kehidupan yang sedang dijalankan. Sama halnya dengan mereka yang sudah menikah, harusnya yang lain juga paham jika sendiri dulu adalah pilihan yang harus dihargai.

Karena ini bukanlah perkara mudah, ada ribuan tantangan yang akan dibebankan pada pundak dan kepala. Jika memang belum merasa bisa mengembannya, tak perlu memaksa diri. Tak berniat untuk menyinggung mereka yang mungkin belum mengerti, hanya saja jika pilihan menikah bisa dihargai, hal yang sama harusnya bisa diberikan pada pilihan yang sebaliknya.

Seandainya Mereka Tahu Lelahnya Diberondong Pertanyaan yang Sama Setiap Kali Jumpa, Mungkin Mereka Tak Akan Sampai Hati Mengulanginya

Dielu-elukan sebagai pertanyaan yang bernada skak-mat, kalimat “Kapan nikah?” tak lagi terdengar menakutkan, cuma sedikit membosankan. Karena meski saat ini sudah memiliki kekasih yang bisa diajak bicara soal masa depan, pasti akan ada pertanyaan yang juga bernada serupa.

Seolah tak ada habisnya, mereka yang melempar tanya sepertinya memang doyan membuat hati orang lain nelangsa. Bukan apa-apa, baginya mungkin biasa namun mereka yang menjadi objek tentu punya penilaian yang berbeda.

Diingatkan Terus-menerus, Seolah Kami Tak Paham Bahwa Setiap Manusia Sudah Tercipta Berpasang-pasangan

“Mau apa lagi? Usia sudah cukup, pekerjaan pun sudah mapan. Segeralah cari pasangan,”

Komentar seorang teman yang memang telah lebih dulu jadi seorang bapak. Tak berpikir ia sedang menghakimi, ucapan itu dapat dianggap sebagai bentuk perhatian seorang teman sebaya. Tapi jika terus-menerus disampaikan, jelas menganggu pikiran.

Dengan berbagai alasan positif, memang ada batasan usia untuk seorang laki-laki dan perempuan berada pada masa yang baik. Keturunan dan hal lain jelas jadi pertimbangan memang, tapi bukankah dari awal sudah ada jodoh yang memang disiapkan oleh Tuhan? Lantas untuk apa membebani diri dengan meresahkannya?

Usia Memang Sudah Dewasa, Tapi Sejak Kapan Umur Jadi Patokan Untuk Menikah?

Saat kamu duduk di bangku SMA, mungkin ada temanmu yang memilih menikah lalu meninggalkan pendidikannya, teman lain yang usianya sudah lebih dari seperempat abad masih santai tanpa berpikir harus menikah buru-buru, dan yang lebih uniknya lagi ada yang sudah berkepala tiga namun mengaku masih belum siap menikah.

Lalu yang menjadi pertanyaan, teori menikah karena sudah cukup usia datang darimana? Tentu ini adalah pandangan yang salah, sebab sesungguhnya tak ada batasan usia untuk seseorang menikah. Prosesi nan sakral ini tak memiliki standardisasi. Akan lebih baik jika kita hanya akan melangkah saat sudah merasa siap untuk mengarunginya, bukan karena katanya sudah waktunya, atau dikejar usia.

Tak Ingin Menjadikan Pernikahan Sebagai Pelarian, Sebab Menikah Jelas Butuh Persiapan

Percayalah Kawan, dengan menikah tak lantas semua beban akan hilang, sebab seberat apa pun kamu menjawab pertanyaan kapan nikah, masih belum ada apa-apanya ketika nanti berumah tangga.

Lebih dari itu, menikah jadi gardu paling depan yang akan menghantarkan kita pada berbagai pengalaman. Contoh kecilnya, kamu yang biasa hidup dengan pola yang kamu suka, mendadak harus menyelaraskan langkah dengan manusia baru yang belum tentu akan selalu seirama. Bukan tak percaya akan adanya manusia yang rela menemani kita dan menurunkan egonya, hanya saja bepikir menikah adalah solusi dari berbagai macam beban tidaklah benar.

Belum Ingin Menikah Sekarang Bukan Berarti Selamanya Ingin Melajang, Aku Hanya Menunggu Dia yang Mau Menggenapkanku

Barangkali bukan aku yang jengah, sebab melakoni semua hal sendiri masih jadi sesuatu yang aku nikmati. Anehnya mereka yang jadi penonton justru berpendapat jika kesendirian ini, akan berakhir hingga kelak kematian datang.

Sebab jika memang sudah waktunya, aku pun ingin seperti yang lainnya. Menjadikan seorang sebagai alasan pulang, hingga rela berbagi bantal saat malam. Aku pun sebenarnya sama dengan mereka yang telah menikah, hanya saja hari ini memang belum waktunya. Sebab untuk mewujudkan itu, aku tak akan sembarangan memilih.

Tidak Perlu Menempatkan Orang Lain Sebagai Patokan, Karena Menikah Bukanlah Sebuah Perlombaan

“Si anu sudah menikah, istrinya baik dan punya anak perempuan nan cantik,” atau “Kamu apa nggak ngiri sama temanmu yang udah foto dengan anaknya di instagram, buruan cari calon suami!”.

Ini adalah pilihan untuk menjadi diri sendiri, tanpa perlu beranggapan jika teman lain sudah melakukan lantas aku pun harus mengikut dibelakang. Tidak, bukan seperti itu Kawan! Ada batas dimana aku akan menjadikan orang lain sebagai panutan, tapi untuk urusan menikah nampaknya tidak akan.

Aku memang masih sendiri, meski sudah banyak undangan pernikahan yang menanti rasanya tak jadi alasan harus buru-buru cari pacar yang mau diajak melangkah ke pernikahan.

Masih merasa nyaman akan kesendirian, bukan berarti selama aku akan melajang. Tak berniat melawat kodrat, aku hanya ingin menunggu dia yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Harus Punya Uang Banyak Dulu, Sebab Materi Bukan Satu-satunya Cara Jika Kamu Ingin Berdonasi

Seringkali kita ‘terjebak’ pada pemikiran kalau beramal hanya bisa dilakukan dengan uang, atau sembako. Padahal tidak juga. Coba kamu renungkan, sebagai makhluk sosial, kita belum sepenuhnya memberi diri pada sekitar hanya karena kita merasa tak punya cukup uang untuk didonasikan. Pada akhirnya masih banyak dari kita yang berpikir begini: “Kalau tidak ada uang, berarti tidak bisa beramal.” Kawan, kalau kamu memang ingin beramal, sejatinya tak melulu dengan uang. Cobalah untuk berdonasi dengan cara lain. Lagipula, sebenarnya tak semua orang membutuhkan atau mau dibantu dengan uang. Ada juga yang sebenarnya justru lebih membutuhkan tenagamu.

Berdonasi sejatinya bukan hanya soal membantu orang lain. Tapi melatih kesadaran dan empati kita, serta melihat sejauh mana kita mau memaksimalkan potensi dan kelebihan yang ada untuk dibagikan kepada sesama. Ada juga yang menganggap kegiatan amal atau donasi sebagai sebuah bentuk ungkapan syukur. Apa pun alasannya, berdonasi dan beramal adalah kegiatan baik, dan percayalah kamu tak akan menjadi miskin setelahnya.

Mulailah dengan Rajin Menyumbangkan Barang Bekas Layak Pakai

Barang bekas seperti baju biasanya hanya dibiarkan tertumpuk begitu saja. Meski masih layak pakai, barang-barang tersebut kalau didiamkan justru akan mempercepat kerusakannya. Karenanya, daripada tidak terpakai, lebih baik kamu gunakan untuk donasi. Di luar sana, pasti masih banyak orang yang membutuhkannya. Mulai dari baju bekas, sepatu bekas, dan sebagainya. Saat dirasa sudah tak muat lagi, cobalah sumbangkan untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.

Daripada Bepergian dan Menghambur-hamburkan Uang, Lebih Baik Sibukkan Diri dengan Mengikuti Kegiatan Sosial

Untukmu yang terketuk untuk membantu sesama, cobalah cari tahu kegiatan sosial komunitas tertentu yang memberi kesempatan untuk kamu bisa melibatkan diri dan bergabung. Tak hanya mendapat pengalaman baru, tapi kamu juga akan merasakan interaksi langsung dengan sesama. Jika di kantormu ada kegiatan semacam CSR, ikutlah serta karena tenagamu sangat berguna. Bukan tenaga saja, siapa tahu ide-ide cemerlangmu juga bisa menolong dan menghibur mereka yang membutuhkannya.

Meski Terbilang Sepele, Tapi Ikut Berkontribusi dalam Membagikan Info ke Teman-temanmu Sangatlah Berguna

Tahukah kamu, membagikan suatu informasi sebuah kegiatan donasi juga sangat membantu. Misalnya, ada temanmu yang meminta tolong. Kebetulan kamu punya banyak link yang potensial untuk terlibat dalam kegiatan itu, maka tak ada salahnya kan membantu teman? Tak usah malu apa lagi malas dalam berbuat kebaikan.  Tapi ingat, sebaiknya pastikan dulu kegiatan itu memang benar dan jelas dalam pelaksanaannya.

Tapi Sebelum Memberi Diri untuk Ikut Berdonasi, Pastikan Dahulu Niatmu Memang untuk Memberi

Ini terpenting, setiap kebaikan sejatinya membutuhkan niat baik pula. Coba kamu renungkan, sejauh ini sudahkah setiap tindakan atau kebaikan yang kamu lakukan memang benar-benar berasal dari niat yang muncul dari dalam hatimu? Percayalah, sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan, di mata Tuhan bernilai besar. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan.

Di lain sisi, kalau kamu tetap merasa ingin memberi donasi berupa materi, sejatinya tak masalah. Toh kebutuhan setiap orang jelas berbeda-beda. Tak ada salahnya menyediakan sebagian dari rejeki atau pendapatan kita untuk tetap berbagi pada sesama.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Gemuk Tak Jadi Alasanku Untuk Minder, Dibalik Bentuk Tubuhku Akan Selalu Ada Hal-hal Yang Bisa Aku Banggakan

MOST SHARE

To Top