Trending

Lowongan Pekerjaan Tersulit, Kamu Sanggup?

Pekerjaan ini memang sangat sulit namun, punya gaji yang sangat besar. Berikut adalah kriteria yang dicari

Jabatan

Direktur Operasional

Tugas dan Tanggung jawab

Mampu bekerja mobile dengan banyak bergerak. Kemungkinan banyak bekerja berdiri. Membutuhkan stamina tinggi karena sering harus menunduk dan juga mengangkat berat dalam waktu lama, seminimalnya dalam lima tahun pertama bekerja.

Kriteria dan Kemampuan

Memiliki kemampuan negosiasi di atas rata-rata. Punya keahlian khusus di bidang perawatan medis dan kemapuan pengaturan bidang gizi dan asupan makanan. Serta keahlian bidang akutansi dan keuangan.

Selain itu diwajibkan punya kemampuan mentoring yang baik disegala bidang seperti psikologi, seni budaya, bahasa, sejarah, moral dan sosial, karena akan dibutuhkan untuk mentransfer kemampuan dan melatih keahlian-keahlian yang dibutuhkan oleh rekanan.

Dalam waktu-waktu tertentu harus mampu bernegosiasi hingga larut malam dengan rekanan. Punya sikap positif dan mampu bekerja dalam tekanan dan situasi yang tanpa rencana ketika berhadapan dengan rekanan.

Durasi Kerja

Diwajibkan memiliki etos kerja pantang mengeluh dan pantang menyerah. Karena dalam waktu-waktu tertentu dibutuhkan bekerja hingga larut malam, masuk di hari libur bahkan tetap bekerja di hari-hari besar dan cuti bersama. Selalu harus siap beban pekerjaan bertambah ketika hari-hari besar tersebut. Istirahat dan waktu makan bisa dilakukan hanya jika rekanan sudah istirahat dan makan.

Penghasilan

Nol Rupiah namun mendapatkan kebahagian yang luar biasa

Sebutan Lain Jabatan

Ibu

Sebutan Lain Rekanan

Keluarga

ibu

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:05 pm

    Emang Ibu adalah Pekerja Keras yang tak lelah bahkan berjuang hingga sekuat tenaga,dan bertaruh Nyawa untuk Keluarganya.
    Salam Hebat dan Bangga untuk Bunda ……….. Sehat selalu, Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bagaimana Motor Ini Mampu Memecahkan Rekor MURI?

Sepeda motor yang satu ini tergolong anyar, baru diluncurkan pada Maret 2017. Meski masih “produk baru” tapi bukan berarti Suzuki GSX S 150 “anak bau kencur” atau “anak bawang” dalam hal prestasi.

Motor sport dengan desain naked (telenjang) non fairing ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Republik Indonesia (MURI) dalam kategori aksi freestyle menggunakan 50 motor dengan 50 pengendara dalam waktu bersamaan.

Aksi pecahkan rekor MURI dilakukan PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) pada hajatan Otobursa Tumplek Blek di Parkir Timur Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta lalu. Pemecahan rekor MURI, berupa aksi freestyle melibatkan 50 motor Suzuki GSX S 150 dengan jumlah peserta 50 orang yang belum pernah dilakukan dalam satu waktu bersamaan. Mereka secara bersama-sama melakukan beragam aksi yang sulit dan menegangkan di hadapan pengunjung yang hadir.

Dalam pemantauan Tim MURI, aksi yang dilakukan para peserta ini sudah memenuhi syarat yaitu jumlahnya banyak yakni 50 biker dan menggunakan 1 jenis motor yang sama secara berbarengan. Uniknya aksi freestyle ini menggunakan Suzuki GSX S 150 dalam kondisi standar ting-ting, alias tanpa modifikasi apapun. Standar pabrik asli.

Sebanyak 50 freestyler yang menunggang GSX S 150 berasal dari berbagai daerah, seperti Garut, Bandung, Bekasi, Jakarta, Bogor, Lampung dan Tangerang. Ajang ini sekaligus membuktikan secara langsung dan otentik, bahwa Suzuki GSX S 150 dalam kondisi standar merupakan motor yang user friendly, sangat mudah dikendarai dan dikendalikan.

Hal ini dimungkinkan karena dimensi dari motor garapan Suzuki menggunakan rangka Single Cradle. Ukurannya sendiri memiliki panjang 1.975 mm, lebar 674 mm, dan tinggi keseluruhan mencapai 1.070 mm. Sedangkan untuk ukuran wheelbase sendiri mencapai 1.300 mm.

Dengan ukuran macam ini, GSX-S150 ini bisa dibilang cukup bongsor untuk kelas 150cc. Tapi tak perlu khawatir, tinggi jok yang 785mm sangat pas untuk ukuran rata-rata orang Indonesia tanpa harus berjinjit.

Kestabilan ini berlanjut hingga urusan kaki-kaki. Di depan menggunakan suspensi teleskopik besar dengan di belakang mengusung tipe monoshock guna menambah kestabilan berkendara. Velg alloy berukuran 2,15 inchi di depan dan 3,5 inchi di belakang dibalut ban depan 90.

Joki freestyle mengakui beberapa gaya dasar dalam freestyle tidak sulit dilakukan dengan GSX S 150 seperti wheelie, stoppie, circle dan burn-out. Tentunya tak mudah melakukan trik “menghabiskan ban” itu tanpa mesin dengan tenaga besar.

Tak masalah karena Untuk urusan dapur pacu GSX-S150 ini disematkan mesin berkapasitas 150 cc DOHC yang sama dengan saudaranya tipe R. Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-S150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Kami ingin menunjukan keunggulan dari Suzuki GSX S 150 yaitu bobot yang ringan, handling yang mumupuni dan proposi kendaraan yang didesain khusus untuk pasar Indonesia. Sehingga sangat mudah dan nyaman dikendarai, termasuk ketika digunakan untuk melakukan aksi freestyle,” kata Sales & Department 2W Department Head PT Suzuki Indomobil Sales Yohan Yahya.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:05 pm

    Emang Ibu adalah Pekerja Keras yang tak lelah bahkan berjuang hingga sekuat tenaga,dan bertaruh Nyawa untuk Keluarganya.
    Salam Hebat dan Bangga untuk Bunda ……….. Sehat selalu, Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab Melepaskan Itu Tak Pernah Mudah, Maka Ketahuilah Meski Bahagia Ibumu Pun Berat Melepasmu Menikah

Nak, pacarmu sekarang siapa? Kamu kapan seriusnya? Jadi mau sama yang mana? Pacaran terus, kapan nikahnya? Dan sederet pertanyaan lain sebagai bukti kasih sayangnya saat kamu sebagai putrinya sudah masuk ke usia yang “harus” menikah. Tetapi setelah kamu menemukan si dia yang kamu yakini bisa melewati sisa usia bersama, Ibu masih tetap mengkhawatirkanmu.

Tak bisa dipungkiri ada perasaan-perasaan dari seorang ibu yang tidak bisa diungkapkan saat harus melepaskan putrinya untuk hidup bersama laki-laki pilihannya. Meskipun tidak terucap, tetap ada perasaan yang sulit tergambarkan dan juga diucapkan kepada siapapun saat mengetahui kenyataan anaknya akan memulai hidup yang baru dengan orang lain sebagai jodohnya.

Hal pertama yang dirasakan seorang Ibu begitu putrinya menikah adalah bahagia. Putri kecilnya yang sejak dulu dijaga dengan hati-hati kini akan melepas masa lajang bersama laki-laki pilihannya

“Iya Jeng, alhamdulillah anak saya beberapa bulan kedepan mau menikah. Ini saya lagi repot urusin pernikahannya dia, nanti jangan lupa datang ya!” kira-kira seperti itulah percakapan ibumu dengan teman-temannya. Salah satu bentuk ungkapan rasa bahagia yang meliputi hatinya, karena akhirnya anak yang dia rawat dari kandungan hingga besar sudah menemukan tambatan hatinya dan siap untuk melepas masa lajang. Saking bahagianya terkadang ibumu yang paling antusias mengurusi segala bentuk printilan untuk acara pernikahanmu. Sungguh tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang ibu, saat melihat anaknya bahagia.

Namun ini juga seperti koin yang memiliki dua sisi berlawanan. Rasa bahagia dan sedih bercampuraduk menjadi satu. Tak mudah melepaskan anak gadis yang sepanjang waktu nyaris tak pernah jauh darinya!

Bahagia memang saat tahu anaknya akan menikah. Namun dilubuk hati terdalam rasa sedih tak kalah menyelemuti perasaannya. Perasaan dan kenyataan yang harus diterima bahwa anaknya akan pergi meninggalkan rumah dan bersatu dengan jodohnya. Anaknya selalu merajuk untuk dimasakkan makanan kesukaannya, anak yang selalu mencari ibunya setelah sampai rumah dan anak yang selalu ada saja bahan yang diperdebatkan dengannya.

Rasa sedih tak pelak juga datang bersama rasa bahagianya, disela persiapan pernikahan yang sedang kamu siapkan. Ibumu juga menyiapkan hati untuk melepaskanmu hidup bersama orang lain. Mungkin nanti kamu akan sibuk dengan keluarga baru, sehingga sudah jarang berkunjung ke rumah hanya untuk sekedar melepas rindu. Rasa kehilangan tetap saja ada meskipun tak sebesar rasa bahagianya.

Karena membesarkan anak perempuan bukan perkara mudah, muncul rasa gamang dalam hati Ibu. Apakah laki-laki pilihanmu bisa membahagiakanmu Nak?

Ketika hari pernikahan semakin dekat, ibumu akan mulai mengenang bagaimana bahagianya saat tahu kamu hadir di dalam rahimnya. Merawatmu agar tetap sehat selama dalam kandungan, melahirkanmu dengan penuh perjuangan, serta merawatmu dengan kasih sayang hingga kamu bisa seperti sekarang. Semua masa-masa itu dilewati dengan derai tangis dan tawa dan bukan jalan yang mudah dilalui sebagai seorang ibu. Perasaan ingin mendidikmu sebaik mungkin, memberikan yang terbaik menjadi salah satu tujuan terbesar dalam hidupnya.

Bahkan ketika kamu menikah, ibumu masih saja akan mengkhawatirkan apakah rumah tanggamu akan baik-baik saja? Apakah pasanganmu akan merawatmu dengan baik dan benar sesuai dengan harapannya? Apakah kamu akan bahagia hidup bersamanya menghabiskan sisa usia?

Meskipun tak mudah untuk melepaskanmu, dukungan dan doa Ibu akan membuatmu kian mantap membuka lembaran baru. Bukankah doa Ibu adalah sumber kebahagiaan bagi anak-anaknya?

Saat kamu menikah dan sudah bersama dengan pasanganmu. Jarak akan semakin jauh, waktu bertemu juga tak lagi mudah, tetapi doanya tidak akan pernah terputus. Tanggung jawab mungkin saja berubah dan juga berbeda, tetapi harapannya agar kamu hidup bahagia akan selalu dia panjatkan tanpa jeda. Baginya meskipun kamu sudah mengarungi hidup yang baru baik sebagai pemimpin keluarga ataupun pendamping pria yang luar biasa, kamu akan tetap menjadi seorang anak yang dia sayang tanpa pernah berkurang sedikit pun. Doa serta harap agar hidupmu selalu dilimpahkan kebahagiaan dan juga kelancaran dalam segala urusan, serta kekuatan dalam menghadapi cobaan akan tetap terpanjat disetiap doa hingga ajal menjemput.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:05 pm

    Emang Ibu adalah Pekerja Keras yang tak lelah bahkan berjuang hingga sekuat tenaga,dan bertaruh Nyawa untuk Keluarganya.
    Salam Hebat dan Bangga untuk Bunda ……….. Sehat selalu, Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengapa Jalin Hubungan di Era Modern Justru Rentan Rapuh?

Jika di rata-rata dari jumlah kasus di pengadilan Agama, setiap 2 menit sekali terjadi perceraian di Indonesia. Iya, kamu tidak salah baca jumlahnya memang sebanyak itu. Secara prosentase, 15 persen dari pernikahan, harus kandas di pengadilan.

Tentunya ini sebuah ironi. Ketika di era modern segala hal dikatakan telah terhubung, perceraian justru mengalami peningkatan. Sejatinya para pasangan seharusnya dengan mudah mengail informasi tips-tips langgeng berumah tangga yang bertebaran di internet. Namun hal ini tak mampu mendongkrak suksesnya angka pernikahan. Apa yang menyebabkan usaha mempertahankan bahtera cinta justru lebih rumit di era saat ini?

Cara Kita Berkomunikasi dengan Pasangan Tidaklah Efektif, Meski Ada Smartphone yang Memudahkan Komunikasi

Komunikasi yang baik adalah fondasi bagi suksesnya suatu hubungan. Banyak terjadi kasus dimana emosi dipendam terlalu lama dan akhirnya malah menjadi bom waktu yang berbahaya. Ini terjadi karena tidak terjalinnya komunikasi yang baik.

Meski kini sudah ada ponsel cerdas yang seharusnya bisa memudahkan kita berkomunikasi dengan pasangan, justru keberadaannya malah menjaauhkan kita dari pasangan. Seberapa sering kamu berhubungan dengan pasangan (resmi) kamu dibandingkan dengan pasang status atau membalas komentar? Mana yang lebih penting buatmu, mengetahui kabar terakhir pasangan, atau tak mau ketinggalan informasi viral terakhir di timeline? Seringkali, kita asyik sendiri dengan smartphone daripada harus mengobrol dan mengakrabkan diri dengan pasangan.

Kita Terpaksa Bertahan dengan Orang yang Tidak Sungguh-sungguh Kita Cintai

Kebanyakan dari kita enggan menghabiskan waktu sendirian bukan? Karena ketakutan akan kesendirian ini, banyak orang yang memilih untuk menjalin hubungan dengan orang lain dalam keadaan “terpaksa” hingga akhirnya mereka tidak benar-benar bahagia.

Alasan lainnya mengapa seseorang harus bertahan dengan orang yang tidak sungguh-sungguh dia cintai adalah karena faktor usia, tekanan dari orangtua untuk segera menikah, dan lingkungan. Keadaan-keadaan yang memaksa untuk menjalin sebuah hubungan yang tidak disukai. Hubungan yang dilandasi keterpaksaaan hanya akan berakhir dengan perpisahan.

Gawatnya, tekanan ini diamplifikasi oleh teknologi terkini. Kita bisa dengan mudah menyaksikan kawan kita silih berganti menikah. Lalu di group-group messanger, tak jarang satu dua selentingan di alamatkan pada yang belum menikah. Walhasil, tekanan-tekanan macam ini membuat seseorang memilih untuk menikah padahal belum yakin dengan pasangannya.

Tidak Dilandasi dengan Kepercayaan Satu Sama Lain, Kecanggihan Teknologi Justru Membuat Kita Mudah Cemburu

Selain komunikasi, kunci lainnya agar hubungan dapat bertahan lama adalah kepercayaan satu sama lain. Sayangnya, banyak dari kita yang  tidak menjalankan hal ini ketika menjalin suatu hubungan.

Berapa banyak kita cemburu pada pasangan hingga sampai-sampai kita hampir gila dibuatnya? Hanya karena dia tidak memberi kabar dalam sehari atau karena dia lama membalas pesan WhatsApp yang kita kirim 5 menit yang lalu?

Kecemburuan berasal dari ketidakpercayaan pada pasangan. Ketika foto pasangan mendapatkan “like” atau reaksi lain dari lawan jenis, kita serta merta mudah mengasumsikan dia berselingkuh. Sewaktu melihat mantan pasangan menjadi pengikutnya di sosial media, kita pun merasa terintimidasi. Dan di saat dia tidak segera membalas pesan kita padahal jelas Last Seen-nya baru saja online, masalah besar pun terjadi.

Padahal sesungguhnya, jika hubungan ingin langgeng, kuncinya adalah membangun kepercayaan satu sama lain. Jika sudah percaya, maka tidak ada alasan lagi untuk terlalu cemburu pada pasangan.

Terlalu Sibuk Bekerja Mengejar Materi, Karena Silau Dengan Orang Lain

Konyol memang jika mengatakan hidup tak butuh materi. Namun berkonsentrasi penuh hanya melulu mengejar materi pastinya akan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat penting dalam berhubungan.

Sayangnya, teknologi lagi-lagi berperan dalam memperbesar tuntutan mendapatkan materi lebih ini. Banyak kawan yang memposting perjalanan terakhirnya ke luar negeri misalnya. Lalu tak terhitung juga yang berpose di depan mobil atau rumah barunya. Belum lagi urusan fashion yang tak kalah banyaknya.

Walhasil, tuntutan menghasilkan materi yang setara juga menjadi makin besar. Padahal mungkin pasangan malah tak pernah menuntut lebih. Mereka justru waktunya terbengkalai karena kita makin sibuk memacu diri mendapatkan materi.

Tidak Sabar untuk Mengerti Satu Sama Lain

Masalahnya saat ini, kita sudah dibiasakan dengan segala sesuatu yang cepat.  Makanan cepat saji,  kopi instan, kerja cepat, jalan yang cepat, dan sebagainya. Kebiasaan kita yang  ingin segalanya serba cepat membuat kita jadi tidak sabaran, termasuk dalam soal  percintaan. Segala sesuatu yang cepat dalam soal cinta bisa terlihat ketika kita ada masalah.

Saat ada masalah dengan pasangan, kita rasanya ingin cepat menyelesaikannya. Bukan karena peduli pada hubungan yang sedang dijalani, namun kita terlalu sayang pada waktu kita jika dipakai hanya untuk bertengkar. Alhasil banyak dari kita yang menghindari konflik dengan mengalah secara terpaksa agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan. Ada juga yang menyelesaikan masalah dengan uang.

Padahal, jika kita bisa meluangkan waktu sedikit lebih banyak dan tidak terburu-buru, kita bisa menyelesaikan masalah dengan berdiskusi dan mencari jalan keluar yang disepakati secara bersama-sama. Cara seperti ini merupakan salah satu cara yang baik, agar tidak menyisakan dendam di hati.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:05 pm

    Emang Ibu adalah Pekerja Keras yang tak lelah bahkan berjuang hingga sekuat tenaga,dan bertaruh Nyawa untuk Keluarganya.
    Salam Hebat dan Bangga untuk Bunda ……….. Sehat selalu, Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Lebih Memilih Terlambat Menikah Daripada Salah Pilih Pasangan

“Kapan nikah? “Mau sampai kapan sendiri aja? Ingat umur, jangan ditunda-tunda lagi. Apa kamu mau jadi perawan tua?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering membuatku ingin meledak. Apa mereka tidak tahu kalau setiap orang punya pemikiran yang berbeda-beda?

Ingin rasanya aku berteriak di wajah mereka. “Ini kehidupanku! Aku yang memegang keputusan! Bukan kamu!” Lagipula, aku memang ingin lebih selektif dalam menentukan siapa pria yang cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Aku ingin pernikahan yang berjalan tanpa akhir.

Sekarang coba hitung, berapa banyak gugatan cerai yang dilayangkan ke pengadilan setiap harinya? Apa yang menjadi penyebab itu semua? Jawaban mereka umumnya sama, “Kami merasa sudah tidak cocok lagi”. Itu semua adalah kata lain dari salah pilih pasangan. Dan aku tidak mau jika pernikahanku berakhir dengan alasan salah pilih pasangan.

Aku Tidak Ingin Membebani Orangtua Lagi, Aku Ingin Menikah dengan Biaya Sendiri
pexels-photo-65038

Salah satu alasanku tidak ingin terburu-buru menikah adalah soal biaya. Aku tidak ingin membebani orangtuaku. Aku ingin mereka bisa pensiun dengan berkecukupan. Aku ingin pernikahan impianku digelar atas biayaku sendiri dan pasangan.

Aku juga tidak berharap atau bermimpi terlalu jauh bisa mendapatkan pasangan yang kaya raya. Maka aku sibuk bekerja untuk menabung sebanyak-banyaknya. Aku tidak ingin menggantungkan diri pada orangtua, pasangan apa lagi sampai berutang ke bank untuk menikah.

Masih Banyak Hal yang Ingin Aku Lakukan dan Tempat yang Ingin Aku Kunjungi

nature-person-red-woman

Hidup adalah pilihan. Aku menghargai pilihan teman-temanku yang menikah muda, hamil, melahirkan, menyusui lalu mengurus anak dan suami. Jika mereka bahagia, aku tidak masalah. Toh itu kehidupan mereka. Tapi aku punya cara pikir berbeda.

Sekarang aku punya karir yang baik dan uang yang cukup. Aku ingin traveling, mengunjungi berbagai tempat yang indah dan mengumpulkan kenangan. Mumpung masih muda, punya waktu dan uang. Aku ingin melakukan berbagai hal-hal seru yang mungkin tidak bisa dilakukan lagi ketika sudah berkeluarga.

Aku tidak ingin bertengkar dengan suamiku hanya karena ingin melakukan hal-hal yang aku suka. Aku juga tidak ingin meninggalkan anakku untuk jalan-jalan. Aku ingin puas menghabiskan masa mudaku sebelum menikah. Ketika sudah punya anak, aku harus mepertanggungjawabkan tugasku sebagai ibu sekaligus istri.

Aku Tahu Tidak Ada Orang yang Sempurna, Maka Aku Mencari Pasangan yang Mau Menerima Kekuranganku

nature-person-hands-girl

Selama ini aku mungkin terlihat sangat pemilih. Tapi bukannya karena aku mencari sosok yang sempurna, tanpa kekurangan sama sekali. Justru aku sudah berkali-kali mencoba memahami mereka. Aku tahu betul ini hal yang sulit. Aku juga punya kekurangan. Selama ini justru aku sudah cukup dikecewakan.

Mereka tidak bisa menerima kekuranganku. Padahal untuk menjalin hubungan yang lebih serius dan untuk jangka panjang, kita harus menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Maka aku rasa memang ini belum waktunya. Aku harus bersabar menunggu lebih lama hingga dia tiba. Dia yang mau menerima diriku apa adanya.

Aku Bukan Orang yang Anti Ikatan, Aku Juga Ingin Berkeluarga, Jadi Jangan Menilaiku Sembarangan

pexels-photo (8)

Jika kamu pikir aku tidak kunjung menikah karena aku anti ikatan, kamu salah besar! Aku bukan seperti yang kamu pikir. Aku juga tidak ingin terlalu lama sendiri. Aku ingin membangun keluarga kecil yang bahagia dan menghabiskan hidup bersama pasangan yang aku cintai.

Tapi masalahnya, untuk mendapatkan pasangan yang cocok tidak semudah belanja buah atau sayur. Tinggal datang ke supermarket, sudah tersedia barangnya dan tinggal pilih. Mencari pasangan itu butuh momen dan kesempatan yang pas.

Aku Tidak Ingin Terjebak dalam Kehidupan Rumah Tangga yang Menyiksa

hands-people-woman-meeting

Sudah banyak kasus perceraian yang terjadi di sekitarku. Padahal mereka berkenalan sendiri, pacaran lalu menikah dengan cepat. Saat itu mereka tampak begitu bahagia. Entah kenapa hanya sebentar, mereka sudah memutuskan berpisah.

Ada yang karena perselingkuhan, ada juga yang karena kekerasan dalam rumah tangga. Ini yang membuatku kadang takut. Bagaimana kalau harus terjebak dalam kehidupan rumah tangga yang menyiksa? Aku tidak mau mengalami hal seperti itu. Bertahun-tahun menahan sakit hati karena konflik dengan pasangan atau mertua.

Jika harus bercerai pun, aku takut harus menjadi single parent. Belum lagi status sebagai janda yang harus aku sandang. Mungkin ini berlebihan, belum menikah tapi sudah memikirkan perceraian. Tapi tidak pernah ada yang tahu masa depan. Inilah yang membuatku sangat berhati-hati sebelum menentukan menikah.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:05 pm

    Emang Ibu adalah Pekerja Keras yang tak lelah bahkan berjuang hingga sekuat tenaga,dan bertaruh Nyawa untuk Keluarganya.
    Salam Hebat dan Bangga untuk Bunda ……….. Sehat selalu, Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top