Feature

Ketika Sesuatu Sudah Berakhir Tinggalkanlah, Jangan Terus Menyirami Bunga Yang Mati

Semuanya tentu setuju jika putus cinta jadi babak pedih untuk kehidupan seseorang. Dan melupakan dia yang kemarin kita cintai, tentu bukanlah perkara mudah. Hasilnya kita sering berupaya keras agar bisa melupakannya dengan segera. Entah itu dengan menangis, hingga pergi berlibur demi membahagiakan diri.

Bahkan menurut sebuah studi yang dimuat di The Journal of Positive Psychology, butuh durasi waktu 11 minggu untuk kita bisa menerima perpisahan dan menyadari manfaat positifnya. Tapi bagaimana jika ternyata sudah lebih dari 11 minggu, kamu masih lelap dalam bayang-bayang mantan?

Segala Sesuatu Hadir dengan Maknanya, Termasuk Sedih yang Kamu Rasa

Kehilangan tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Bohong jika kamu akan bilang dirimu akan baik-baik saja! Bisa jadi cerita ini, justru jadi sesuatu yang membuat luka kian dalam. Tapi lupakan dulu kesakitanmu, coba hitung sudah berapa banyak pelajaran yang bisa kamu dapat saat masih bersamanya.

Karena biar bagaimana pun tidak ada kejadian yang tak bermakna, begitu pula dengan sakit yang kini sedang ingin kamu sembuhkan. Diawal cerita kamu mungkin akan merasa tak akan mampu untuk melaluinya, padahal itu hanyalah ketakutanmu saja. Daripada harus terus meratapi semua kejadian yang terasa sangat menyakitkan. Lebih baik penuhi hari dengan hal-hal yang akan membantumu berpikir lebih jernih. Termasuk mensyukuri hal-hal yang katamu sakit.

Toh Tanpanya Kamu Juga Masih Bisa Hidup Seperti Biasa

Kamu memang akan sendiri, karena dia yang tadinya menemani harimu akhirnya pergi. Perlahan kamu mulai berpikir akan hal-hal yang selama ini kamu takutkan. Mulai dari caramu untuk melupakannya hingga bagaimana hidupmu tanpanya. Kamu harus ingat, dari sekian banyaknya umat manusia, kamu bukanlah satu-satunya orang yang merasakan hal itu.

Tengok kembali bagaimana kamu dulu sebelum bertemu dengannya. Toh tanpa dia, dulu kamu bisa tertawa dan bahagia. Masih sama seperti dulu, ada keluarga dan sahabat yang selalu siap sedia untuk mendengarkan keluh kesahmu. Sebaliknya, terus menerus menaruh harap pada rasa yang sudah hilang hanya akan membuatmu jadi orang yang merugi.

Tak Usah Mengutuki Diri Sendiri, Jika Ternyata Dirinyalah yang Memilih Pergi

Kita mungkin telah salah, pernah mempercayakan hati pada dirinya. Kisah bersamanya memang cukup membuat kita bingung. Satu persatu pertanyaan pun mungkin akan muncul. Bagaimana mungkin dia yang kemarin berjanji untuk bersama, bisa pergi begitu saja. Tanpa sadar, kita kerap meloncarkan beberapa kata yang mengisyarakatkan ketidaksetujuan atas apa yang terjadi. Bahkan menyalahkan diri sendiri.

Besarnya cintamu mungkin tak perlu dipertanyakan, tapi untuk bisa terus bertahan cinta saja tak cukup Kawan. Kamu harus sedikit bijak untuk menyikapinya. Jika ternyata dirinyalah yang memutuskan untuk pergi. Untuk apa kamu tangisi lagi?

Kamu Mungkin Masih Mencintainya, Tapi Kembali Bersama dengan Akhir yang Serupa, Untuk Apa?

Tetap berharap pada cintanya hanya akan membuang-buang waktumu saja. Coba hitung kembali sudah berapa banyak tenaga dan pikiran yang kamu korbankan hanya untuk berharap dirinya kembali. Bukan tak percaya pada kekuatan cinta yang katanya mampu mengalahkan segalanya. Namun, terlihat bodoh hanya karena cinta bukanlah pilihan yang tepat tentunya.

Berdiri ditempat yang sama hanya untuk kisah yang serupa adalah kebodohan yang seharusnya tak kamu lakukan. Karena kamu sendiri sudah bisa menebak, kembali bersama hanya akan membuatmu terjebak pada luka yang sama.

Terlalu Sibuk Memikirkan Dirinya, Justru Membuatmu Kehilangan Jati Dirimu

Percaya atau tidak, hubunganmu dengan si dia nampaknya bukanlah sesuatu yang benar. Dirimu yang sekarang bukan lagi kamu yang dulu. Kekuatan yang tadinya bisa dibanggakan jadi hilang hanya karena terus berharap pada rasa yang sebenarnya sudah musnah. Ingat kembali nilai positif apa yang sudah dia tinggalkan untukmu, dari kisah bersamanya. Jika ternyata tidak ada sama sekali, itu berarti kamu mencintai orang yang salah. Titik!

Tak ada yang mampu untuk ditawar lagi. Terus bertahan bersama dengan rasa sayang kamu miliki hanya akan membuatmu kehilangan banyak kesempatan lain. Karena secara tak langsung, sikapmu yang masih menunggu dia jadi benteng yang kamu bentuk sendiri, hingga tak ada orang lain yang mau mendekatimu.

Daripada Terus Menerus Menyirami Rasa yang Sudah Tak Ada, Cobalah Buka Dirimu Untuk Orang yang Berbeda

Perpisahan tentu bukanlah sesuatu yang kita pikirkan sebelumnya. Bahkan jika boleh meminta, kita tentu ingin hidup bahagia setiap hari dengan orang-orang yang kita cintai. Akan tetapi, perpisahan terjadi begitu saja. Tanpa bisa menolak atau menghindar, perpisahan bisa menghampiri hubungan kita kapan pun.

Tak ada yang bisa mengatakan bahwa cinta itu adalah sebuah ketulusan yang sederhana. Karena cinta memang tak sesederhana yang kita kira. Ada berbagai macam, kegagalan yang akan kita temui. Termasuk kegagalan dalam hal membina hubungan dengan seseorang.

Diri ini hanya butuh yakin dan percaya, bahwa setiap orang pernah mengalami luka. Tapi bagaimana sikap yang selanjutnya akan dilakukan, tentu jadi tugas kita. Tak perlu langsung terburu-buru, berjalanlah sebisamu untuk hilang dari dia yang telah menyakitimu. Buktikan pada dirinya bahwa kamu juga bisa bahagia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab Bahumu Adalah Rumahku, Jangan Pergi Jauh-jauh

Menjadi bagian dari hidupmu dalam beberapa tahun terakhir, sabar jelas jadi hal yang giat aku tumbuhkan. Hidup bersamamu di bawah atap yang sama, tentu ada yang terasa hilang tiap kali kamu tak di rumah. Aroma khas kemejamu sehabis pulang kerja, hingga pujian atas masakan makan malam di rumah pelan-pelan mulai kurindukan.

Aku paham, kamu tentu juga tak ingin kita berjauhan. Tapi dengan alasan berbagai kepentingan yang lebih banyak karena pekerjaan. Mau tak mau, aku lagi-lagi harus ditinggalkan. Perempuan lain yang bernasib sama mungkin tahu, bagaimana aku berjuang mengalahkan beratnya hari saat harus menunggu kamu yang kucinta pulang ke rumah.

Tak Ingin Beranjak dari Tidur, Pagiku Seolah Berhenti Karena Tak Ada Kamu yang Biasanya Minta Dibuatkan Kopi

“Tak akan lama, mungkin 2 sampai 3 minggu saja,” katamu di ambang pintu untuk kepergian yang entah sudah ke berapa. Kujawab dengan senyum yang kamu sendiri tahu, jelas bukan tanda bahagia. Sebab setiap kali kamu pergi, itu artinya aku akan sendiri di rumah.

Hariku memang masih berjalan seperti biasa, tapi menyadari kamu tak akan pulang saat senja datang, jadi sesuatu yang berat untuk dilewatkan. Sebab ini artinya aku hanya akan makan dan bersantai seorang diri tanpa teman. Menonton tayangan tevelisi kesukaan hingga bermalas-malasan di akhir pekan.

Hilangnya kamu sementara waktu memang tak selalu merubah hampir seluruh hidupku, sebab aku masih bisa melakoni hal-hal yang kusuka seperti biasa. Hanya saja tak ada orang yang tadinya biasa menjadi juri untuk memberi komentar secara cuma-cuma.

Di Sana Kamu Sedang Berjuang Untuk Hidup yang Katamu Akan Lebih Nyaman, Sedang Aku Hanya Bisa Menunggu Kapan Kamu Pulang

Jauh sebelum memanggilmu sebagai suami, kita memang sudah menjalani ini. Bertahan sekian lama, jadi alasan lain yang akhirnya mendorong kita meresmikan hubungan. Hal lain yang selalu membuat aku bisa meredam ketakutan, tujuanmu pergi yang memang menjadi bagian dari pekerjaan.

“Sabar sebentar ya, ini demi masa depan,” jadi perkataan selalu berhasil membuat aku tetap kuat bertahan. Sembari memberimu dorongan semangat untuk terus berjuang, aku hanya bisa mendoakanmu agar selalu dalam lindungan-Nya.

Aku Belajar Untuk Bersahabat dengan Waktu, Kesendirian, Hingga Rindu yang Terus Datang Meski Tak Diundang

Suatu kali selepas pulang dan menikmati waktu berdua dirumah, kamu pernah bertanya bagaimana aku menjalani hari setiap kali kamu jauh. Tak ingin jadi pasangan yang egois, aku memang jarang menyampaikan kerinduan agar kamu segera pulang. Karena aku tahu, setiap kali akan pergi ada kerinduan yang juga sama sedang mengisi isi kepalamu.

Dari situ aku belajar, bahwa tak hanya aku saja, ternyata kamu juga merasakan hal yang sama. Pulang bekerja dan tak disambut oleh siapa-siapa, hingga urusan lain yang akan kamu selesaikan seorang diri. Jelas lebih berat dari apa yang aku jalani.

Pelan-pelan aku mulai terbiasa memahami arti dari kesendirian yang memang hanya sementara, hingga pintar dalam hal manakar rindu yang terus membesar.

Memahami Semua Rentang Jarak yang Ada, Hingga Berdoa Agar Kamu Tak Lagi Harus Bepergian Ke Luar Kota

Tak peduli ini akan jadi doa yang kamu harapkan atau tidak, tapi biar bagaimana pun ini jadi sesuatu yang memang aku mohonkan pada Tuhan.

“Kan cuma ke luar kota, bagaimana jika ke luar negeri?” katamu dengan nada becanda.

“Aku sudah berdoa biar kamu dapat proyek yang hanya di dalam kota saja,” kataku tak kalah bercandanya. Meski seperti katamu, posisimu yang masih dalam tahap pertimbangan membuatmu hanya bisa mengiyakan segala perintah atasan. Kamu harus siap sedia, pergi kemana saja yang diminta.

Untuk itulah aku akan terus berdoa semoga tak ada lagi, list luar kota untuk tugas yang kamu punya. Dan kuharap semesta akan mendengar dan mengamininya.

Perjalanan Kita Jelas Akan Jadi Memori, Sudah Kususun Rapi dan Kelak Akan Kuceritakan Lagi

Kamu mungkin akan menggeleng tak habis pikir mengapa aku bisa tiba-tiba menelpon dengan suara yang berat hanya karena tiba-tiba menangis karena rindu. Hingga kamu yang mendadak posesif meski aku hanya akan pergi dengan teman perempuan untuk sekedar makan di luar.

Satu per satu cerita yang sudah kita lalui, sudah mulai tersusun rapi dalam lemari. Kelak jika sedang ingin, aku akan membukanya kembali dan kubagikan pada dia yang kelak jadi buah hati. Ia harus tahu betapa ibu dan bapaknya, dulu pernah begitu rindu hanya karena jarang bertemu.

Perlahan Doa Kita Mulai Didengarkan, Kamu Tidak Lagi Harus Bepergian dan Aku Pun Tak Terus Diterkam Rasa Takut Kehilangan

Menjadi teman yang selama ini menemani kamu berjuang di kejauhan, kalimat “Aku akan stay, dan tak lagi bepergian.” jelas jadi sesuatu yang amat membahagiakan. Karena itu artinya, aku tak akan lagi tidur sendirian. Bisa bangun dengan girang, karena ada seseorang yang harus dibuatkan sarapan. Hingga menunggumu pulang dengan hati yang bahagia saat malam telah datang.

Gambaran kehidupan rumah tangga yang selama ini kita mimpikan, akhirnya akan jadi kenyataan. Bahkan meski aku tak akan menjelaskan, kamu sendiri jelas tahu seberapa senang hatiku sekarang.

Kita Pun Jadi Belajar, Jika Pasangan Adalah Alasan Indah Untuk Segera Pulang Saat Senja Datang

Tak peduli seberapa lelah dan padat kegiatanku, bayang-bayang akan bertemu denganmu di rumah saat sore tiba, jadi kenyataan lain yang kerap memberiku energi jauh lebih besar setelah lelah bekerja seharian.

Jangan pergi-pergi lagi, sebab kamu telah menjadi bagian dari nadiku, aku tak ingin kamu jauh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Terlalu Percaya, Barangkali Dia Hanya Ingin Memanfaatkanmu Saja

Perihal dimanfaatkan dan memanfaatkan memang jadi sesuatu yang sulit kita baca. Karena pelakunya sering kali merupakan orang yang cukup dekat dengan kita. Benar memang, kita tak boleh main tuduh saja. Sebab bisa saja dia memang tulus menjalin hubungan dengan kita.

Namun jika ternyata perlakuan darinya kerap memberatkan, itu artinya kita perlu memasang kuda-kuda. Bukan berpikiran buruk padanya, tapi kita juga tak boleh langsung percaya. Sebab seorang serigala, biasanya mendekat terlebih dulu untuk leluasa menerkam mangsa.

Dia Selalu Di Dekatmu Saat Kamu Senang, Namun Jika Kamu Sedang Kesusahan Ia Mendadak Hilang

Untuk hal-hal yang merupakan urusan senang-senang, entah kenapa ia selalu datang meski tak diundang. Dan akan berbanding terbalik jika yang terjadi adalah sebuah kesusahan. Jangankan untuk datang dan bertanya kabar, bertemu secara tak sengaja saja seperti tak saling kenal.

Dan lebih liciknya lagi, ketika kamu mungkin coba bertanya kemana ia selama ini. Dengan cepat dan lihai, ia akan membangun sebuah cerita bohong dengan tujuan membuatmu percaya. Ia memang lihai dalam hal berbicara, untuk itu kerap membuatmu percaya.

Menempatkan Diri Sebagai Pihak yang Tak Bisa Apa-apa, Padahal Dia Hanya Ingin Bergantung Padamu Saja

“Kamu saja ya, kan kamu serba bisa,”

Jadi sebuah kalimat yang kerap terdengar darinya, bukan karena memang tulus untuk memuji kita. Trik yang ia pakai hanya sedang berusaha melindungi diri, berpura-pura seperti manusia yang tak memliki kemampuan, sehingga segala sesuatu dibebankan padamu.

Tak ada alasan untuk terus-menerus memahaminya, kamu perlu tegas untuk bilang tidak. Sebab jika terus mengikuti keinginan, dan permintaanya,  siap-siap saja ia akan melakukan hal yang sama lebih sering dari sebelumnya.

Menjadi Pendengar yang Baik Untuk Semua Keluh Kesahnya, Tapi Ia Justru Sebaliknya

Ya, kita tahu relasi yang terjalin pada dua orang berbeda jadi salah satu wadah untuk kita bertukar sapa, hingga pada hal-hal yang lainnya. Dan, selama ini kamu sebagai orang yang mengenalkan berpikir jika mendengarkannya saat ia ada dibawah tentulah adalah kewajiban, anehnya dia malah tak berpikir demikian.

Jika sedihnya adalah sedihmu juga, baginya sedihmu akan tetap jadi bebanmu sendiri. Tak ingin terbebani, ia selalu menolak untuk mendengar ceritamu. Karena dimatanya sesuatu yang terpenting adalah bisa mendapat solusi, bukan memberi solusi untuk orang lain. Ia egois, tapi kerap berlindung dengan berbagai alasan yang terdengar logis.

Bertindak Bak Orang yang Melindungi, Sebenarnya Dia Hanya Menjadikanmu Sebagai Objek Kepentingan Pribadi

Jika ini terjadi antara perempuan dan laki-laki, mungkin akan merambah ke hal-hal yang lebih spesifik lagi. Bagaimana ia berperan sebagai pangeran baik hati di depan orang, namun mendadak jadi tuan yang sewenang-wenang ketika sudah tak lagi ada orang.

Perbuatan-perbuatan baik darinya hanyalah sebuah ilusi, sebab dengan begitu ia bisa sembunyi dan melindungi diri. Seolah sedang menjaga, padahal secara tak sadar ia sedang menguras semua yang kamu punya. Cobalah ingat dulu, berapa kali ia memaksamu untuk melakukan sesuatu yang sebanarnya tak kamu mau. Jika ternyata sering, itu artinya ia memang tak benar-benar ingin mengayomi.

Bahkan Hanya Akan Datang Saat Dirinya Merasa Butuh

Ini akan jadi bukti nyata lain yang sering tak bisa kita lihat dengan cepat. Wajar memang, orang-orang seperti ini biasanya sangat lihai untuk memainkan peran. Bahkan meski sedang berbuat kejahatan ia bisa terlihat bagai malaikat pernuh berkat.

Namun jika kamu ini memastikannya secara sungguh-sungguh, perhatikanlah intensitas kedatangannya padamu. Jika ternyata ia hanya akan datang saat merasa butuh bantuan, bisa dipastikan ia memang hanya ingin memanfaatkan.

Tak perlu menyampaikannya secara langsung, sebab ia pasti punya alasan untuk bisa lepas dari tuduhan. Berjalanlah pelan-pelan untuk mundur dari hubungan. Sebab ia hanya ingin mencari keuntungan.

Dan Membuat Batasan Agar Kamu Tak Mengenal Orang-orang Terdekatnya

Pertanda lain yang bisa kamu baca, perihal bagaimana sikapnya yang sebenarnya adalah dengan melihat perlakuannya dalam hal membatasi diri kita. Entah dengan alasan apa, ada dinding pemisah yang sepertinya sengaja dibangun dalam hubungan kita dengannya. Ia tak ingin terlihat dihadapan orang yang kita kenal, tapi juga tak ingin memperlihatkan kita pada mereka yang ia kenal.

Bukan ingin mengajakmu jadi seseorang yang kerap menaruh curiga, akan tetapi jika sikapnya memang terlihat tak seperti orang atau kawan biasanya. Kamu memang patut curiga. Cobalah cari beberapa hal yang terasa janggal, selidiki lebih dalam hingga kamu bisa mendapat jawaban. Jika memang ia ternyata kerap melakukan beberapa poin yang tadi dijelaskan, bisa jadi ia memang hanya ingin memanfaatkanmu saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Belum Ingin Menikah Hari Ini, Bukan Berarti Seumur Hidup Akan Sendiri

Mendapat pertanyaan, “Sudah punya calon belum?” saat acara kumpul keluarga, agaknya jadi hal yang biasa. Tapi jangan dulu menyalahkan mereka, sebab hal itu memang menjadi pertanyaan wajar untuk manusia yang sudah dewasa namun tak pernah terlihat menggandeng siapa-siapa.

Perihal usia yang sudah matang hingga keputusan melangkah yang harus disegerakan, memang selalu jadi perkara yang rumit untuk dibicarakan. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menyadarkan kami yang masih sendiri, bahwa sebagian orang masih mendekskrisikan kesendirian sebagai situasi nelangsa.

Kemudian dengan santainya berpendapat bahwa kita yang masih sendiri hingga kini adalah pribadi yang menyalahi kodrat. Tak ingin terbawa emosi, tentu ada beberapa alasan dibalik pilihan itu. Sebab tak ingin menikah sekarang bukan berarti akan hidup sendiri sampai mati.

Hal Pertama yang Harus Kita Mengerti Adalah Setiap Orang Bebas Memilih

Tak ada alasan yang lantas akan membedakan kita dengan mereka yang lebih dulu menikah, sebab ini adalah bagian dari pilihan kehidupan yang sedang dijalankan. Sama halnya dengan mereka yang sudah menikah, harusnya yang lain juga paham jika sendiri dulu adalah pilihan yang harus dihargai.

Karena ini bukanlah perkara mudah, ada ribuan tantangan yang akan dibebankan pada pundak dan kepala. Jika memang belum merasa bisa mengembannya, tak perlu memaksa diri. Tak berniat untuk menyinggung mereka yang mungkin belum mengerti, hanya saja jika pilihan menikah bisa dihargai, hal yang sama harusnya bisa diberikan pada pilihan yang sebaliknya.

Seandainya Mereka Tahu Lelahnya Diberondong Pertanyaan yang Sama Setiap Kali Jumpa, Mungkin Mereka Tak Akan Sampai Hati Mengulanginya

Dielu-elukan sebagai pertanyaan yang bernada skak-mat, kalimat “Kapan nikah?” tak lagi terdengar menakutkan, cuma sedikit membosankan. Karena meski saat ini sudah memiliki kekasih yang bisa diajak bicara soal masa depan, pasti akan ada pertanyaan yang juga bernada serupa.

Seolah tak ada habisnya, mereka yang melempar tanya sepertinya memang doyan membuat hati orang lain nelangsa. Bukan apa-apa, baginya mungkin biasa namun mereka yang menjadi objek tentu punya penilaian yang berbeda.

Diingatkan Terus-menerus, Seolah Kami Tak Paham Bahwa Setiap Manusia Sudah Tercipta Berpasang-pasangan

“Mau apa lagi? Usia sudah cukup, pekerjaan pun sudah mapan. Segeralah cari pasangan,”

Komentar seorang teman yang memang telah lebih dulu jadi seorang bapak. Tak berpikir ia sedang menghakimi, ucapan itu dapat dianggap sebagai bentuk perhatian seorang teman sebaya. Tapi jika terus-menerus disampaikan, jelas menganggu pikiran.

Dengan berbagai alasan positif, memang ada batasan usia untuk seorang laki-laki dan perempuan berada pada masa yang baik. Keturunan dan hal lain jelas jadi pertimbangan memang, tapi bukankah dari awal sudah ada jodoh yang memang disiapkan oleh Tuhan? Lantas untuk apa membebani diri dengan meresahkannya?

Usia Memang Sudah Dewasa, Tapi Sejak Kapan Umur Jadi Patokan Untuk Menikah?

Saat kamu duduk di bangku SMA, mungkin ada temanmu yang memilih menikah lalu meninggalkan pendidikannya, teman lain yang usianya sudah lebih dari seperempat abad masih santai tanpa berpikir harus menikah buru-buru, dan yang lebih uniknya lagi ada yang sudah berkepala tiga namun mengaku masih belum siap menikah.

Lalu yang menjadi pertanyaan, teori menikah karena sudah cukup usia datang darimana? Tentu ini adalah pandangan yang salah, sebab sesungguhnya tak ada batasan usia untuk seseorang menikah. Prosesi nan sakral ini tak memiliki standardisasi. Akan lebih baik jika kita hanya akan melangkah saat sudah merasa siap untuk mengarunginya, bukan karena katanya sudah waktunya, atau dikejar usia.

Tak Ingin Menjadikan Pernikahan Sebagai Pelarian, Sebab Menikah Jelas Butuh Persiapan

Percayalah Kawan, dengan menikah tak lantas semua beban akan hilang, sebab seberat apa pun kamu menjawab pertanyaan kapan nikah, masih belum ada apa-apanya ketika nanti berumah tangga.

Lebih dari itu, menikah jadi gardu paling depan yang akan menghantarkan kita pada berbagai pengalaman. Contoh kecilnya, kamu yang biasa hidup dengan pola yang kamu suka, mendadak harus menyelaraskan langkah dengan manusia baru yang belum tentu akan selalu seirama. Bukan tak percaya akan adanya manusia yang rela menemani kita dan menurunkan egonya, hanya saja bepikir menikah adalah solusi dari berbagai macam beban tidaklah benar.

Belum Ingin Menikah Sekarang Bukan Berarti Selamanya Ingin Melajang, Aku Hanya Menunggu Dia yang Mau Menggenapkanku

Barangkali bukan aku yang jengah, sebab melakoni semua hal sendiri masih jadi sesuatu yang aku nikmati. Anehnya mereka yang jadi penonton justru berpendapat jika kesendirian ini, akan berakhir hingga kelak kematian datang.

Sebab jika memang sudah waktunya, aku pun ingin seperti yang lainnya. Menjadikan seorang sebagai alasan pulang, hingga rela berbagi bantal saat malam. Aku pun sebenarnya sama dengan mereka yang telah menikah, hanya saja hari ini memang belum waktunya. Sebab untuk mewujudkan itu, aku tak akan sembarangan memilih.

Tidak Perlu Menempatkan Orang Lain Sebagai Patokan, Karena Menikah Bukanlah Sebuah Perlombaan

“Si anu sudah menikah, istrinya baik dan punya anak perempuan nan cantik,” atau “Kamu apa nggak ngiri sama temanmu yang udah foto dengan anaknya di instagram, buruan cari calon suami!”.

Ini adalah pilihan untuk menjadi diri sendiri, tanpa perlu beranggapan jika teman lain sudah melakukan lantas aku pun harus mengikut dibelakang. Tidak, bukan seperti itu Kawan! Ada batas dimana aku akan menjadikan orang lain sebagai panutan, tapi untuk urusan menikah nampaknya tidak akan.

Aku memang masih sendiri, meski sudah banyak undangan pernikahan yang menanti rasanya tak jadi alasan harus buru-buru cari pacar yang mau diajak melangkah ke pernikahan.

Masih merasa nyaman akan kesendirian, bukan berarti selama aku akan melajang. Tak berniat melawat kodrat, aku hanya ingin menunggu dia yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top