Feature

Keputusanku Untuk Menikah Muda Itu Tak Selamanya Merepotkan, Bahagianya Sama Seperti yang Diceritakan Ayah Ibuku Dulu  

Menikah di usia muda seringkali masih jadi perdebatan. Aku pun menyadari hal itu. Aku dan pasanganku memutuskan siap mengarungi bahtera rumah tangga di usia yang terbilang muda. Jika berbicara tentang pasangan usia muda adalah kami yang menikah pada rentang usia 18-25.

Di usia tersebut kebanyakan orang memang masih mengejar karier dan melanjutkan pendidikan. Itulah mengapa keputusan menikah muda sering diributkan. Mungkin perdebatan muncul karena sebagian orang terlalu khawatir jika menikah di usia muda justru akan menimbulkan masalah lantara belum siap secara emosional.  Apalagi jika sejatinya dia masih diminta memenuhi tuntutan keluarga yaitu menyelesaikan studi dan mapan terlebih dulu.

Jadi, benarkah menikah dan punya anak di usia muda begitu merepotkan?

Ada yang Memutuskan Menikah Muda Karena Memang Anjuran dari Keluarga, Jika Sudah Demikian, Mengapa Harus Dilarang?

Kamu tahu kan, pernikahan dini itu lazim terjadi pada zaman orangtua kita? Ada yang saat masih 17 tahun sudah menikah. Ada juga pria yang berani menikah di usia yang baru menginjak awal 20-an. Sejatinya pernikahan dini bukanlah hal baru.

Aku dan dia memutuskan menikah pun karena anjuran orangtua kami. Mereka menikah di usia yang terbilang muda. Mengapa kami memutuskan demikian? Sederhananya begini, jika kami menikah muda, di usia 30 atau awal 40-an, anak-anak kami kelak sudah besar. Itu artinya, saat kami menikmati masa pensiun, setidaknya kami sudah melihat anak-anak kami sudah cukup usia serta siap menapaki jalan dan kariernya masing-masing.

Menikah Muda Tak Selalu Membuatmu Tertekan, Justru yang Ada Kita Dibentuk Untuk Memperbaiki Kondisi Psikologis

Ternyata ada satu hasil penelitian menarik, yaitu pernikahan yang dimulai lebih cepat pada usia 18-25 tahun akan memberikan pengaruh yang lebih cepat dan baik bagi perkembangan kesehatan psikologis pasangan. Penelitian ini dimaksudkan setelah mengadakan penelitian terhadap 8 ribu pasangan muda.

Memaknai Hidup Itu Penting, Para Pasangan yang Memilih Menikah Muda adalah Mereka yang Sedang Berjuang Meningkatkan Kualitas Hidup

Biasanya memang sebelum menikah, seseorang umumnya tak terlalu menganggap penting kondisi tubuh. Kebanyakan dari kita pasti berbuat sesuka hati dengan makan makanan apa pun bahkan mengonsumsi alkohol. Kebiasaan tak sehat lainnya seperti sering pulang malam bahkan tak giat merawat diri identik dengan seseorang yang belum menikah.

Orangtua pun pernah berpesan, dengan menikah biasanya seseorang akan terpacu menjadi sosok yang lebih baik lagi. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga demi pasangannya. Siapa yang tidak ingin membuat pasangannya bahagia? Peningkatan kualitas hidup pun kian terpacu terlebih sudah lahir seorang anak. Bukan tak mungkin dia yang semula hidup ‘asal-asalan’ namun setelah menikah terlihat jauh berperilaku lebih sehat.

Kami yang Menikah Muda Sejatinya Lebih Baik dalam Mengelola Stres

Menikah bukan hanya soal penyatuan dua individu dalam sebuah ikatan yang sah. Tapi juga tentang bagaimana kami berdua melakoni dan melanjutkan hari-hari kami ke depannya. Dengan hidup bersama, kami yakin dan siap untuk jadi sosok yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Seperti halnya nasehat ibuku, aku akan belajar untuk mengatur emosi lebih baik dibanding masa-masa sebelum menikah.

Sekali Lagi, Jarak Usia Anak dan Orangtua Nantinya yang Tidak Terlalu Jauh Tak Akan Membuat Sang Anak Kesulitan

Dengan kondisi psikologis yang baik, pasangan yang menikah muda diketahui punya potensi menghasilkan keturunan yang lebih berkualitas. Di samping itu, kamu juga perlu tahu jika peningkatan kualitas relasi antar keluarga sejatinya bisa dimulai jika jarak atau rentang usia anak dan orang tua tidak terlalu jauh.

Sekarang, keputusan menikah muda yang telah kupilih memang karena aku ingin membangun keluarga yang punya hubungan yang berkualitas. Tekadku kian kuat lantaran aku melihat ayah ibuku kini masih terbilang bugar saat mereka mengantarkanku menikah. Merekalah indikator terdekat bagiku untuk berani mengambil keputusan menikah muda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Saat Cari Pacar Senangnya Bad Boy, Giliran Disakiti Bilang Semua Laki-Laki Sama Aja

Sikap wanita kadang membuat kita geleng-geleng kepala. Apalagi jika kita coba memberinya pertanyaan, perihal laki-laki mana yang paling menawan? Dan jawabannya tentu saja si bad boy jadi pemenang. Wanita tak perlu mengelak atau tiba-tiba ingin menyuarakan protes, karena faktanya ada bukti lain yang bisa kita lihat. Salah satunya, si laki-laki yang terlihat nakal dengan penampilan yang juga urak-urakan, mudah sekali menggaet wanita. Anehnya jika mereka kelak disakiti oleh si bad boy tadi, mereka akan membuat sebuah argumen bahwa semua laki-laki itu sama saja. Loh, bukannya tadi mereka sendiri yang memilih si bad boy?  

Untuk Sakit Hati yang Mungkin Kamu Rasa, Bukan Berarti Kamu Lantas Boleh Menvonis Mereka Sama

Kisah cintamu dengan beberapa dari mereka mungkin berakhir dengan tak menyenangkan. Tapi berpikir bahwa mereka semua adalah sama, bukanlah sesuatu yang bijak. Meski memiliki jenis kelamin yang sama, mereka tetap saja berbeda. Dia yang terlihat bad boy mungkin nakal seperti katamu, tapi bukan berarti laki-laki bertampang urakan yang lain juga sama. Lagi pula harusnya kamu paham, bahwa setiap manusia hadir dengan kekurangan dan kelebihan yang berbeda.  

Coba Bayangkan Jika Mereka Akan Membalas Dengan Perkataan Yang Sama, Semua Wanita Sama Saja!

Hadir sebagai orang baru di kehidupan seseorang, lalu kamu dihadiahi sebuah perkataan bak vonis mematikan. Katanya semua wanita itu sama, sama-sama brengseknya! Bohong jika kamu bilang kamu tak sakit hati karena ungkapan itu. Bahkan mereka yang kita bilang tak baik saja, memiliki bentuk keburukan yang berbeda pula. Lalu siapakah kita bisa menvonis mereka semua sama? Rasanya tak ada yang mau jika disama-samakan dengan yang lain. Termasuk kamu! Apa lagi jika hal yang disamakan tersebut dalam konteks yang tidak baik.  

Lagi Pula Meski Berkata Demikian, Hal Itu Tentu Tak Membuat Lukamu Hilang

Jika ungkapan tersebut adalah sebuah matra yang bisa menyembuhkan, nampaknya mungkin bisa dipertimbangkan. Pasca putus cinta dari si bad boy yang katamu tak baik itu, sakit hati memang jadi sesuatu yang sedang kamu ingin hilangkan. Namun pada kenyataannya berkata demikian tak akan membuatmu jauh lebih baik darinya, sebaliknya orang lain akan menilaimu sebagai wanita yang tak punya pendirian. Karena sejak awal bisa jadi kamulah yang telah memilihnya untuk dijadikan pasangan. Dengan demikian sakit hati sudah menjadi resiko yang mau tak mau harus dihadapi.  

Dengan Berkata Begitu Berarti Kamu Menutup Diri Dari Laki-laki Baik Yang Mungkin Sedang Ingin Menyembuhkan Lukamu

Kesalahan dalam memilih pasangan bukan sesuatu yang perlu disesalkan. Biar bagaimana pun mereka pernah membuatmu tertawa hingga bahagia. Ini akan jadi cerita untuk hidup yang kamu punya. Hari ini mungkin kamu menyesal, karena kemarin telah menaruh percaya padanya. Tapi jika akhirnya ia melukis luka, bukan berarti laki-laki lain akan berbuat hal yang sama. Jika kamu masih terus berputar-putar pada bayangan negatif yang kamu letakkan pada semua lelaki. Itu artinya dirimu sedang membangun tembok pemisah dengan mereka yang mungkin bisa bersikap baik padamu.  

Sakit Hati Itu Wajar, Tapi Menyembuhkannya Bukanlah Demikian

“Pasti ada pelangi setelah hujan”, kalimat ini bisa kamu jadikan acuan untuk perjalanan cintamu. Konon untuk bisa sampai pada cinta sejati yang sebenarnya, kamu memang harus beberapa kali singgah pada hati yang salah terlebih dulu. Cinta yang tak berakhir dengan baik, justru jadi pelajaran yang akan menguatkan hatimu. Kamu hanya perlu bersabar, tanpa harus membeberkan keburukan pasangan yang lalu. Apalagi dengan menilai orang lain yang juga sama. Tentu tidak demikian. Tak hanya kamu saja, bahkan laki-laki juga mungkin akan merasakan hal yang sama. Tapi bukan berarti mereka lantas berhak berkata bahwa semua wanita itu sama.  

Satu Bukan Berarti Semua, Percayalah Masih Ada Si Good Boy Yang Akan Jadi Penawar Luka

Nah ini adalah poin penting yang harus kamu percaya, untuk cerita cinta yang mungkin berakhir dengan luka. Kelak jika waktunya sudah mulai tiba, semesta dan Sang Pemiliknya akan mempertemukanmu dengan laki-laki lain yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan masalah dari tampilannya yang bad boy atau tidak, tapi bagaimana kamu bisa mengenali dia lebih dalam lagi. Tak peduli bagaimana tampilannya, yang paling penting dirinya bisa memperlakukanmu dengan baik dan bertanggung jawab atas hubungan. Tapi semua ini hanya akan kamu dapatkan saat kamu telah bisa berpikir positif, dan tak menutup diri dari laki-laki lain hanya karena kamu pernah disakiti dari salah satu dari mereka.  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab-sebab Kenapa Kamu Selalu Dirundung Pilu dan Susah Bahagia

Hidup itu penuh warna. Perasaanmu pun tak selalu bahagia, sebab ada kalanya juga sepi dan pilu datang menyapa. Jika bahagia saja ada alasannya, pun juga pilu yang kadang datang dengan tiba-tiba. Diantara sekian perasaan, mendapati hidup yang tak bahagia itu jelas tak enak. Untukmu yang mungkin bertanya-tanya apa sebabnya kamu sukar tertawa, mungkin kamu perlu menilik kembali apa saja yang telah kamu lakukan selama ini.

Kuasa Itu Bukan Segalanya, Kamu Hanya Akan Memupuk Pilu Jika Terus Menekan Orang-orang di Sekitarmu

Coba berefleksi sejenak, sudahkah sikap dan tingkah lakumu diterima orang-orang yang ada di sekitarmu? Jiwa kepemimpinan itu memang perlu, menciptakan citra diri penuh kharisma pun tak salah jika itu maumu. Tapi bukan dengan terus menerus memberi tekanan pada mereka yang ada di sekitarmu. Semula mereka terlihat bahagia, lambat laun senyum yang rutin kamu lihat ternyata memudar dari wajah mereka. Alasannya, mereka tak lagi menaruh hormat pada dirimu.

Jika sudah demikian, bukankah menyedihkan? Ingatlah, kuasa itu bukan segalanya. Kalaupun kamu punya wewenang, coba pikirkan kembali bagaimana seharusnya kamu menjalankan hal tersebut. Melatih diri menghargai orang lain dengan beragam latar belakang yang mereka miliki adalah cara terbaik yang bisa kamu lakukan. Sebab dengan begitu, kamu akan tahu caranya menghargai kebahagiaan yang datang padamu.

Sudah Tahu Betapa Tidak Nyamannya Dibandingkan, Mengapa Kamu Masih Gemar Membanding-bandingkan?

Imbas dari majunya kehidupan media sosial adalah mudahnya membandingkan hal satu dengan yang lainnya. Bukan hanya soal barang, tapi sering kali orang pun tak luput jadi obyek perbandingan. Kamu, seandainya ibumu membandingkanmu dengan anak tetangga, bukankah telinga jadi jengah juga kala mendengarnya? Lantas, kenapa kamu masih sibuk membanding-bandingkan hidupmu dengan orang lain? Ada satu prinsip hidup sederhana yang berkata, “Setiap orang punya lajunya masing-masing.”

Kamu tak perlu sibuk mengomentari si A yang hidupnya pelesiran, si B yang mampu belanja barang-barang mewah, atau si C yang sudah berkeluarga dan terlihat bahagia. Kamu akan berada pada fase itu, hanya saja waktumu belum tiba. Itulah mengapa penting sekali untuk mengingatkan sesama agar terus bersyukur, agar tak ada satu orang pun yang merasa hidupnya pilu berkepanjangan.

Memandang Buruk Setiap Kesalahan Itu Tak Perlu, Yakinlah Kalau Kamu Bisa Terus Melangkah Maju

Sikap optimis itu mampu meleburkan rasa pesimis. Kamu pasti pernah gagal dalam hal tertentu, evaluasi pun juga perlu, tapi bukan berarti kamu harus terus dirundung pilu. Seperti kata pepatah, setiap manusia itu belajar dari kesalahan. Ya, kamu harus optimis jika setiap kegagalan, sakit hati, tangisan, pengkhianatan, serta hal-hal menyedihkan lainnya ada untuk membuat kita jauh lebih kuat.

Meski kamu tahu energimu akan terkuras melewati setiap fase hidup yang berat itu, percayalah bahwa ada pelajaran berharga yang bisa kita petik. Lebih baik mana, gagal atau menyesal? Meski gagal setidaknya kamu pernah mencoba, daripada menyesal karena tak pernah mencobanya sama sekali.

Selagi Kamu Bisa Melakukan Hal Positif, Tinggalkan Saja Segala Hal Negatif

Melakukan hal negatif itu ibarat penyakit menular. Kalau kamu berada di dekatnya, kemungkinan untuk tertular juga cukup besar. Karenanya, daripada tertular, lebih baik jangan dekat-dekat. Seperti itulah lingkungan di sekitar kita. Kalau kamu tahu sekelilingmu hanya memberi dampak negatif, lebih baik jangan biarkan dirimu tenggelam bersama mereka. Hindari kedekatan dengan orang-orang yang hanya menghabiskan waktu dengan bergosip, membenci grup tertentu, atau bahkan tak menghargai keberadaanmu.

Lantaran Terlalu Sibuk Memperhatikan Sekitarmu, Jangan Sampai Lalai Memikirkan Dirimu 

Selama ini mungkin kita terlampau sibuk dengan segala macam hal yang ingin kita kejar dan mimpi untuk membahagiakan orang sekitar kita. Tapi coba pikirkan lagi, sudahkah kamu bahagia sekarang ini? Untuk apa sibuk merangkai mimpi dan membahagiakan orang-orang di sekitarmu kalau kamu sendiri pun tak bahagia? Hei kawan, kamu berhak melukiskan kebahagiaanmu terlebih dahulu. Mengenali diri sendiri itu jauh lebih penting. Karena jika kamu saja tak kenal dirimu, lantas apakah tujuan dari semua kerja kerasmu? Mulai hari ini, berprinsiplah kalau dirimu harus berbahagia terlebih dahulu sebelum memikirkan kebahagiaan orang lain.    

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Cinta Datang Tanpa Diduga, Seperti Teman Yang Mencintai Pacarmu Diam-Diam

Kamu mungkin bisa saja bilang, bahwa pacarmu tak mungkin berpaling pada hati yang lain. Tapi dalam sebuah hubungan pasti selalu ada pasang surutnya. Saat perjalanan cinta kamu dengan si dia sedang goyah, bukan tak mungkin jika orang lain akan masuk secara tiba-tiba. Dan ungkapan “Musuh dalam selimut” mungkin jadi sesuatu yang akan kita percaya. Belajar dari beberapa kasus teman makan teman yang lain, dia yang mengaku teman bisa jadi musuh yang diam-diam akan menusuk dari belakang. Tak ingin berprasangka buruk kepada si dia dan teman kita, tapi hal ini memang jadi sesuatu yang patut untuk dijaga. Karena tanpa sepengetahuan kita, bisa jadi diam-diam dia telah menaruh rasa.  

Awalnya Mungkin Biasa, Sekedar Meminta Untuk Dikenalkan Dengan Si Dia, Tapi Perlahan Si Kawan Mulai Bertingkah Tak Biasa

Untuk ukuran niat yang mungkin buruk, perkenalan memanglah bukan sebuah patokan untuk kita bisa berpikir bahwa dia akan merebut pacar kita. Apalagi jika ternyata perkenalan mereka terjadi tanpa disengaja. Misalnya secara tak sengaja saat sedang jalan berdua dengan pacar, kita bertemu dengannya. Wajar jika kemudian kita akan meminta mereka untuk berkenalan. Tapi akan berbeda, jika ternyata dia yang selalu ingin untuk dikenalkan dengan pacar kita. Meski awalnya katanya hanya sekedar ingin tahu saja, dia yang kita panggil teman mulai lebih sering membahas soal pacarmu.  

Lalu Sikapnya Kerap Kali Berubah Saat Sedang Bertemu Dengan Pacarmu

Perubahan sikapnya ini jadi salah satu tanda jika diam-diam dia sedang menaruh rasa pada pacarmu. Sama seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, setiap kali bertemu dengan pacarmu sikapnya jelas berubah. Mulai dari yang dulunya tak banyak cakap, tiba-tiba berubah lebih banyak bicara. Bahkan yang lebih parahnya lagi, meski di hadapanmu dia sering melempar senyum ke arah pacarmu, bisa jadi hal itu jadi bentuk komunikasi diantara mereka. Namun mengingat hubungan mereka adalah teman dari pacar dan pacar dari teman, rasanya itu tak seharusnya.  

Merasa Jadi Orang Yang Paling Mengerti, Dengan Harapan Pacarmu Akan Lebih Banyak Curhat Padanya Jika Hubungan Kalian Sedang Bermasalah

Dengan statusnya sebagai seorang teman, sedikit banyak dia tentu sudah paham siapa kita. Tapi apakah hal ini selalu berdampak baik untuk hubungan kita? Nampaknya tak selalu begitu. Apalagi jika dia mendadak bersikap jadi orang yang paling tahu kita dari segala hal. Bukan apa-apa, bisa jadi ini adalah salah satu siasat yang sedang ingin dia lakukan. Dengan harapan, jika sewaktu-waktu kamu dan pasangan bertengkar dia akan hadir sebagai penenang. Setelah pacarmu akan curhat dengannya, kamu tentu tahu apa yang selanjutnya bisa terjadi diantara mereka.  

Selalu Terlihat Baik Dan Peduli Saat Hubungan Kalian Ada Masalah, Tapi Nasehatnya Sering Menyuruhmu Untuk Menyerah

Logikanya sebagai seorang teman, kita tentu akan berusaha memberi masukan yang menenangkan. Namun berbeda dengan dirinya yang mungkin sedang ada di depan kita. Berharap mendapat saran yang baik, dia justru selalu memberi pilihan untuk menyudahi hubungan dengan pacarmu. Justru dia berpendapat bahwa pacarmu sekarang bukanlah orang terbaik yang harus dipertahankan. Padahal itu adalah salah satu cara untuk merebut posisi kita sekarang.  

Dan Pada Berbagai Kesempatan Dia Selalu Berupaya Untuk Bisa Bertemu Dengan Pacarmu

Tak peduli entah itu berhubungan dengan masalah pekerjaan atau urusan pribadi, nampaknya dia memang selalu ingin melibatkan pacarmu dalam segala situasi. Belum lagi jika pacarmu adalah tipikal orang yang baik. Tak ingin berprasangka buruk kepada orang lain, ia akan memenuhi permintaan kawanmu itu tanpa berpikir yang tidak-tidak. Meski diri ini sudah menunjukkan ekspresi tak suka, dirinya hanya akan menenangkan kamu sembari bilang bahwa dia tak mungkin merebut pacarmu. Padahal nyatanya kebiasaannya yang melibatkan pacarmu itu adalah satu cara untuk menarik perhatiannya.  

Hingga Mulai Sering Jalan Berdua Tanpa Sepengetahuan Kamu

Dan akan sangat lebih menyakitkan lagi saat kita tahu setelah mereka sudah selesai bepergian bersama. Meski katanya mereka tak melakukan apa-apa, tapi yang namanya pergi berdua tetap saja membuat kita merasa telah dibohongi oleh mereka berdua. Siapa pun tentu paham, jika cinta bisa datang kapan saja. Apalagi jika dua orang yang sering bertemu, pelan-pelan bisa saja saling merasa nyaman. Maka tak heran jika nanti tiba-tiba sang pacar akan datang untuk bilang bahwa ia akan memilih dia yang kemarin kita panggil sebagai teman. Bukan ingin menaruh prasangka buruk atas mereka yang menjadi teman, bukan pula tak percaya pada dia yang kini berstatus pacar. Tapi kemungkinan ini jadi salah satu hal yang wajib kita waspadai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top