Feature

Kebiasaan Mager Itu Tak Baik, Sebab Badan Jadi Rentan Sakit dan Stamina Jadi Tak Enerjik

Sering dengar kata mager ‘kan? Satu kata ini suka jadi alasan singkat kenapa orang enggan beranjak dari posisinya. Satu kata yang merupakan akronim dari ‘malas gerak’ ini memang cukup ampuh jadi alasan. Misalnya, saat akhir pekan ibumu meminta ditemani ke pasar sebentar, tapi dengan singkat kamu jawab kalau sedang mager. Kamu pun memilih tiduran di rumah dibanding menemani ibumu.

Tahukah kamu, sering mengucapkan kata ‘mager’ ternyata memicu munculnya mood suntuk lho. Kalau sudah suntuk, tubuh pun jadi rentan ngantuk. Bukannya berusaha mengusir rasa mager, kamu malah mengikuti kata hati untuk berlama-lama berdiam diri di atas kasur. Hati-hati, karena ternyata bahaya kesehatan mengintai kamu yang hobi mager.

Tekanan Darah Tinggi Mengancam Kamu yang Enggan Meningkatkan Produktivitas Diri

Sejatinya kamu harus bersyukur kalau badan terasa lelah usai bekerja atau melakukan aktivitas lainnya. Itu artinya kamu memang produktif. Lain halnya jika kamu justru kurang gerak. Ya, badan yang jarang digerakkan akan membuat sirkulasi darah jadi tak lancar dan tidak teratur. Akibatnya, tekanan darah pun bisa naik. Kondisi semacam ini kalau dibiarkan berlama-lama maka sejumlah penyakit seperti stroke hingga masalah ginjal pun bisa jadi akan menyerangmu. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Jika kamu merasa kurang gerak, mulailah aktif dan jangan malas berolahraga ya!

Metabolisme dalam Tubuh Jadi Lambat, Akibatnya Obesitas pun Datang Lebih Cepat

Selain aktivitas jadi tidak produktif, kebiasaan mager yang berlebihan ternyata bisa mengganggu metabolisme tubuh. Umumnya, orang dengan segudang aktivitas cenderung terlihat fit bukan? Hal ini lantaran setiap gerakan yang dilakukan oleh tubuh membantu sistem pencernaan agar dapat menjalankan proses metabolisme sebaik-baiknya. Sementara kalau kamu mager, tubuh pun akan benar-benar kurang gerak sehingga metabolisme tak berjalan dengan maksimal. Akibatnya, lemak-lemak pemicu obesitas pun siap mengintai badanmu.

Malas Gerak Bisa Picu Stres. Masih Muda Kok Rentan Depresi? Bahaya Lho!

Fakta menunjukkan jika bergerak secara aktif ternyata ampuh menurunkan tingkat stres seseorang. Pekerjaan mungkin membuatmu stres, tapi jangan sampai kamu kurang gerak ya! Apalagi saat akhir pekan, lebih baik gunakan waktumu untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat. Kenapa? Kalau kamu hanya berdiam diri di kamar alias mager, beban masalah bukannya hilang tapi yang ada kamu malah tambah stres.  Bahkan hal itu bisa jadi pemicu tubuh jadi rentan terkena gangguan kesehatan lainnya.

Percaya Atau Tidak, Malas Gerak pun Memicu Osteoporosis

Intinya bagimu yang selalu bangga dengan hobi mager-mu itu, kamu harus berhati-hati dari sekarang. Kurang gerak ternyata tak baik untuk kesehatan tulang. Malas gerak tercatat dapat meningkatkan risiko pengeroposan tulang alias osteoporosis lebih cepat. Masa iya masih muda tapi kesehatan tulangmu tidak terjaga? Mulai sekarang, lebih sering gerak yuk kawan!

Selain Mengganggu Metabolisme Tubuh, Kamu Pun Jadi Sulit Tidur Pada Malam Hari

Coba kamu bandingkan, lebih enak mana, tidur malam setelah melewati hari yang penuh dengan aktivitas atau tidur malam dengan kondisi sebelumnya dimana kamu hanya berbaring terus sepanjang hari? Kualitas tidurmu jelas akan kurang dibanding dengan mereka yang memilih menepis rasa mager. Kamu perlu tahu, dengan aktif bergerak kamu akan terbebas dari gangguan tidur. Sementara yang lebih suka mager, bisa dipastikan akan lebih piawai begadang dan bangun siang. Kalau sudah begini, produktivitas pun jadi semakin kacau bukan?

 

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Berhemat Bisa Dilakukan Secara Menyenangkan

Sebetulnya kenapa sih kita harus melakukan penghematan? Kenapa kita harus menabung? Toh kita selama ini mampu membayar kebutuhan kita, kenapa pulak kita harus repot menyisihkan penghasilan untuk menabung?

Meski tidak selalu eksplisit mungkin pertanyaan macam itu kerap muncul di benakmu. Apalagi sedari kecil kita memang ditanamkan untuk tidak boros. Tapi sayangnya kita memang tak pernah diajarkan alasan kenapa kita harus berhemat dan menabung.

Dalam hal menabung, hal paling penting yang harus kamu ingat adalah kondisimu tidak akan selalu sama seperti sekarang ini. Kamu tidak selalu bisa seproduktif seperti saat ini.

Coba bayangkan saja kalau kamu sakit, tentunya kamu tidak akan bisa bekerja seperti biasanya. Atau nanti ketika tua kamu juga sudah tak lagi bisa menghasilkan seperti ketika muda. Pada saat itulah kita akan menuai hasil penghematan yang kita lakukan saat ini.

Lagi pula, bicara soal hemat itu jangan langsung mengasosiasikan dengan hidup susah dan tak menyenangkan. Kita bisa kok, melakukan penghematan dengan cara yang mengasyikkan.

Berhemat Itu Di depan Bukan Belakangan Karena Terpaksa Tak Punya Uang

Ini kekeliruan utama yang sering kita lakukan. Penghematan dan menabung itu dilakukan belakangan ketika duit hanya tinggal sisa remah-remah akhir bulan. Pada saat itu tentunya berhemat jadi tak menyenangkan karena terasa seperti keharusan karena kehabisan uang. Ditambah lagi cara ini sering kali gagal.

Karena itu cobalah untuk melakukan penghematan itu di depan. Rencanakan semua pengeluaran itu sebelum bulan berjalan. Jadi yang kita lakukan adalah mengatur pemasukan dan pengeluaran, bukan melakukan pengetatan ikat pinggang karena kekurangan uang. Tentukan dulu sedari awal prosentase uang yang ingin kita hemat setiap bulannya.

Irit Itu Tak Perlu Rumit, Menabunglah Menggunakan Rumus 80-20!

Seorang pemikir manajemen bisnis bernama Joseph M. Juran memperkenalkan konsep menabung 80-20. Konsepnya dari rumus ini sangat sederhana. Kamu hanya perlu menabung sebesar 20% dari pendapatan bersih yang telah kamu peroleh. Kemudian gunakan sisanya untuk dibelanjakan. Sebesar 50% dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan 30% sisanya dipakai untuk membeli apa yang kita inginkan.

Sertakan Impianmu Dalam Rencana Penghematan, Karena Menabung Dengan Tujuan Itu Jauh Lebih Mudah

Tak perlu menabung dengan jumlah sangat besar dengan tujuan yang tak jelas. Sikap “yang penting punya tabungan” biasanya sumber dari kegagalan menabung. Karena kita tak akan punya motivasi jelas kenapa harus berhemat.

Karena itu cobalah untuk menetapkan terlebih dahulu tujuanmu. Misalnya, berhemat karena ingin mengganti smartphone terbaru dengan harga tertentu, ingin membeli sepatu merk tertentu yang harganya tak murah, ingin menabung untuk penghasilan di hari tua, berhemat untuk dana darurat ketika sakit, dan tujuan spesifik lainnya.

Dengan membagi tujuanmu secara rinci manajemen keuanganmu juga akan lebih baik. Dan kamu akan punya banyak pos keuangan yang tidak saling tumpang tindih.

Jangan Salah ya, Barang Yang Keren Tak Selalu Idientik Dengan Boros

Kamu keliru kalau berpikir barang-barang yang hemat itu tak bagus. Dan sebaliknya barang-barang yang keren itu harus boros. Coba ambil contoh misalnya lampu LED yang hemat energi. Bentuk dan nyala lampunya jauh lebih baik dari lampu biasa. Pendingin ruangan juga punya karakteristik yang sama. AC dengan teknologi low watt punya bentuk yang lebih langsing dan jauh lebih bisa disesuaikan dengan tampilan interior rumah.

Kendaraan Yang Hemat Pun Bisa Juga Tampil Keren Loh

Sementara untuk kendaraan kamu bisa menengok Suzuki Nex. Motor satu ini memegang rekor MURI untuk kategori motor matic paling irit. Ketika pemecahan rekor mampu mencapai 109,8Km/L. Hal ini dimungkinkan karena Suzuki Nex dibekali mesin 113cc dengan teknologi SUPER FI (Suzuki Performance Fuel Injection) dan mesin berkonsep LeaP (Light, Efficient and Powerful) yang telah terbukti menghasilkan tenaga besar secara presisi dan minim gesekan sehingga mampu mengoptimalkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Tapi meski lekat dengan irit dan hemat bukan berarti Nex akan membuat kita jadi tampil seadanya. Karena Suzuki menawarkan rasa elegan dan mewah pada skutik yang dibandrol Rp12.950.000 ini. Pilihan warna misalnya disediakan Mat Titanium Silver, Titanium Silver, dan Matt Black. Warna-warna yang masuk kategori berkelas.

Desainnya sendiri juga berkelas dengan lampu depan model V dengan bodi keseluruhan yang ramping. Nah, terkait dengan dimensi, pada Suzuki Nex ini memiliki ukuran dimensi dengan panjang 1850 mm, lebarnya 665 mm, dan tinggi 1035 mm serta memiliki berat hingga 90 Kg saja. Suzuki pun juga melengkapi Suzuki Nex ini dengan velg roda berpalang tiga dengan rem cakram di depan. Sebuah tampilan yang tentunya elegan sekaligus sporty.

Jadi kamu siap berhemat dengan cara yang menyenangkan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Fitness Bikin Fisikmu Sehat, Sering Posting Foto Fitness Pertanda Jiwamu Sakit

Mari kita buka-bukaan, dari sekian banyak teman yang kamu punya, mungkin ada satu orang yang kerap membagikan aktivitas olahraganya di laman media sosial, khususnya Facebook. Atau bisa jadi diri ini adalah salah satu dari mereka?

“Lumayan, lari 5 km sebelum ngantor pagi ini,” lengkap disertai foto yang menunjukkan diri sedang berkeringat dipagi hari. Meski kita sendiri kadang tak tahu betul, itu keringat sungguhan atau sisa air yang dipakai membasuh wajah.

Beberapa saat sebelum membagikan foto dan postingan status tersebut, kamu mungkin akan tersenyum tipis. Sembari berpikir bahwa hidupmu jauh lebih baik dibanding yang lain. Tapi jangan dulu senang Kawan, karena bisa jadi kamu sedang mengalami gangguan dalam hal kejiwaan.

Tidak percaya? Para ahli dari Universitas Brunel di London melakukan sebuah penelitian terhadap mereka yang kerap membagikan aktivitas fitness di laman media sosial, hasilnya ditemukan bahwa mereka yang kerap melakukan aktivitas tersebut adalah seseorang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Hasil ini jadi bukti yang cukup untuk membuat kita bertanya? Seberapa gilakah diriku?

Kecanduan Akan Sebuah Penghargaan, Jadi Faktor Utama yang Kerap Memicu Seseorang Berbuat Demikian

Teknologi telah mengubah banyak perilaku manusia dalam melakukan sesuatu. Dan salah satunya adalah mendokumentasikan kegiatan melalui telepon genggam jadi sesuatu yang wajib untuk dilakukan. Bahkan kebiasaan ini nyaris dilakukan semua orang.

Untuk mereka yang kebetulan berprofesi sebagai personal trainer olahraga, ini tentu jadi salah satu kebutuhan akan pekerjaan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak berprofesi sebagai personal trainer olahraga? Kegiatan ini kerap jadi ajang untuk menunjukkan brand yang dikenakan hingga sejauh mana mereka telah menghasilkan keringat.

Bahkan penelitian dari profesor James Fowler dari University of California mengatakan tak hanya untuk diakui oleh sesama, media sosial jadi salah satu wadah yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk berolahraga. Beliau mengatakan bahwa seseorang akan mencoba berolahraga dan makan sehat apabila dia melihat dan mendengar temannya melakukan hal tersebut.

Padahal Bentuk Tanda Suka dan Komentar Berisi Pujian yang Disampaikan Orang-orang Tak Selalu Benar

Konon hal ini lebih sering dirasakan oleh generasi muda yang dibesarkan kemajuan zaman lewat sosial media Facebook dan Twitter. Orang-orang ini kerap berpikir bahwa membagikan potret yang memperlihatkan aktivitas olahraga, jadi salah satu rangkaian kehidupan masa kini.

Kita boleh merasa bangga atas jumlah like yang diterima pada setiap postingan. Tapi jika semua itu tak berarti  untuk kehidupan nyata, untuk apa? Toh tanda suka yang orang lain kirimkan, bisa juga jadi salah satu bentuk tak suka yang mereka resahkan.

Di kolom komentar dirinya bisa saja memuji pencapaian yang kamu bagikan. Akan tetapi jauh didalam hatinya, hal-hal seperti ini dianggap sebagai salah satu bentuk kesombongan.

Biar Bagaimana pun Membakar Kalori Hanya Dilakukan dengan Gerakan Bukan dengan Posting Foto di Media Sosial

Seorang psikolog olahraga dari Amerika Serikat bernama Jerry Lynch, Ph.D., mengatakan bahwa sifat adiktif seseorang terhadap smartphone membuat pelari menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial ketimbang aktivitas berlarinya.

Ungkapan ini sekaligus jadi gambaran akan sikap-sikap yang kerap kita tunjukkan. Tak perlu olahraga dengan durasi waktu yang lama, jika sudah berhasil mengirimkan status atau foto di timeline media sosial rasanya sudah cukup, mungkin begitu pikir kita.

Karena Olahraga yang Baik Tentu Membutuhkan Fokus, Pikiranmu Tak Boleh Terbagi

Menurut Dr Michael Rebold, asisten profesor ilmu latihan integratif di Hiram University, “Menggunakan handphone berarti perhatian Anda terbagi. Hal ini dapat mengganggu kestabilan bentuk postur tubuh Anda, serta memungkinkan Anda jatuh atau mengalami cedera muskuloskeletal”.

Karena biar bagaimana pun, membagi fokus pikiran dengan smartphone saat tengah berolahraga, sebenarnya membuang-buang waktu saja. Agaknya kita memang harus memfokuskan pikiran pada aktivitas olahraga. Bukan malah sibuk berpikir akan bagaimana caranya mengambil angle foto yang pas untuk di-posting di Instagram.

Dan Posting Status Sesaat Sebelum Berolahraga Jadi Bukti Kamu Tak Sedang Sungguh-sungguh Berolahraga

Tak pelak lagi, jika sudah begini sebagian besar waktumu pun akan terpotong begitu saja hanya karena menunggu respon dari mereka atas apa yang sedang kamu lakukan.  Sebagai contoh kamu mungkin bisa berlari sepanjang 15 menit setiap pagi. Namun oleh karena keinginanmu untuk dilihat dan dipuji oleh teman-temanmu di media sosial, waktu yang seharusnya bisa pakai untuk berolahraga justru terpotong begitu saja. Ini jelas mengurangi kesungguhanmu berolahraga.

Sesuatu yang harus kita pahami, jika memang ternayata hanya untuk pamer saja, sebaiknya tak perlu olahraga. Kecuali kamu memang menjadikan hal tersebut sebagai kebutuhan. Entah itu instruktur senam atau olahragawan yang kerap memberikan tips seputar olahraga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Karena Sehat Itu Mahal, Terapkan Gaya Hidup Ini Sebagai Investasi Kesehatanmu Sebelum Hari Tua

Masih ingat momen ketika Ketua DPR Setya Novanto masuk rumah sakit dan (katanya) menjalani perawatan intensif? Berdasarkan keterangan pengacaranya, Novanto harus dirawat lantaran gangguan jantung dan kadar gula darahnya meningkat. Padahal, sosok seperti Setya Novanto seharusnya dituntut punya kondisi kesehatan prima. Mungkin bukan hanya Novanto, masih banyak orang yang baru memasuki usia paruh baya namun sudah harus bergelut dengan kondisi kesehatan yang bermasalah.

Sementara kamu, yang sedang giat-giatnya bekerja, jangan sampai malah jadi lalai dengan kesehatanmu. Mungkin kamu merasa sehat-sehat saja, tapi tak ada yang tahu kondisi tubuhmu yang sebenarnya. Lagi pula, bukankah ada ungkapan “Lebih baik mencegah daripada mengobati”. Karenanya, sebelum terlambat, mulailah peduli dengan kondisi kesehatanmu ya Kawan! Hitung-hitung, sebagai investasimu dihari tua kelak.

Mulailah Aktif Berolahraga, Demi Tubuh Sehat dan Pikiran yang Segar Setiap Harinya

Buang jauh-jauh pemikiran kalau olahraga itu melelahkan. Sebaliknya, banyak-banyak berolahraga akan mendatangkan sejuta manfaat untuk tubuhmu. Kamu tak hanya mengurangi risiko datangnya berbagai macam penyakit, tapi peredaran darahmu jadi kian lancar karena jantung bekerja lebih baik sehingga dapat menyalurkan darah dengan baik ke seluruh tubuh.

Nah, kalau peredaran darah lancar, kamu tak akan mudah stres. Oksigen yang masuk ke otak pun lancar sehingga meningkatkan kerja otak hingga mendorong tubuhmu agar tetap bisa beraktivitas dengan stamina yang fit. Jangan ragu memulai olahraga, kamu bisa mulai dengan melakukan gerakan stretching atau melihat berbagai tutorialnya di YouTube.

Punya Waktu Tidur yang Cukup Itu Harus, Agar Stamina Tubuh Tak Mudah Tergerus

Tidur itu obat yang paling alami saat tubuh merasa letih. Tapi kita kerap meremehkannya. Bukannya memperbaiki jam tidur, malah cenderung menunda-nunda waktu tidur alias begadang hingga dini hari. Punya jam tidur yang cukup itu penting demi metabolisme tubuh bahkan membantu tubuh agar mampu memperbaiki sel yang rusak dengan baik. Sementara kalau kamu malah jadi kurang tidur, siap-siap dihadang beragam persoalan kesehatan seperti ancaman hipertensi, diabetes, obesitas, dan sebagainya. Jadi, pastikan kamu dapat tidur 7-9 jam sehari ya!

Sempatkan Diri Untuk Sarapan, Kondisi Tubuhmu Pada Pagi Hari Sangat Membutuhkan Asupan

Hingga hari ini, masih banyak orang yang memilih melewatkan sarapan dengan alasan tidak sempat. Padahal, sarapan adalah waktu makan paling penting. Asupan makanan dipagi hari akan memberikan energi bagi tubuh agar mampu melakoni aktivitas hingga siang hari. Jadi, kalau kamu membiarkan perut kosong sejak pagi, itu sama saja kamu tak memedulikan kesehatanmu.

Jika Tubuhmu Mulai Lelah, Beristirahatlah Sejenak daripada Dipaksa Bekerja Namun Justru Sakit Pada Kemudian Hari

Tubuh biasanya akan mengirim sinyal kalau sudah merasa lelah. Nah, kalau kamu sudah merasakan tanda-tanda yang tidak beres saat kamu bekerja, semisal pusing, pegal-pegal, hingga hilang konsentrasi, lebih baik berhenti dulu dari aktivitasmu dan ambil waktu istirahat sejenak. Kamu bisa mengakalinya dengan berjalan-jalan di luar ruangan atau berbaring sejenak. Paling tidak, ada baiknya kamu beranjak dari depan layar komputer.

Perbanyak Minum Air Putih Agar Ginjalmu Sehat dan Tubuh Pun Bugar

Dalam sehari, kamu dianjurkan minum delapan gelas air putih supaya kebutuhan cairan untuk tubuh terpenuhi. Menjaga hidup itu penting dan berbuat baik itu bisa diawali pada diri sendiri dengan menyayangi kesehatan.  Minum air putih yang cukup, selain menyehatkan ginjal, juga membuat tubuh jadi bugar dan stamina tetap fit.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Trending

Keluh Kesah Para Dokter, Susah-susah Sekolah Cuma Buat Nakut-nakutin Anak

“Nanti kalau bandel, Mama panggil Pak Dokter lho biar disuntik.”

Saat kamu masih kecil, ibumu mungkin pernah mengungkapkan hal ini. Sadar tak sadar, kamu perlu tahu, kalimat itulah yang sejatinya membuat kita memiliki kesan ‘angker’ pada dokter sejak kecil. Padahal tidak seharusnya demikian. Tak sedikit dokter yang mengaku sedih mendapati bahwa di luar sana masih banyak anak kecil yang takut untuk diperiksa hanya karena paranoid dengan keberadaan dokter di dekat mereka.

Untukmu yang bukan dokter, mungkin ke depannya tak perlu lagi menakut-nakuti anak kecil, entah dia anakmu atau keponakanmu, dengan ancaman demikian. Dokter itu bukanlah sebuah profesi yang perlu ditakuti. Apa lagi bagi kita yang awam, bukankah sudah sering mendengar perjuangan berat seorang calon dokter selama menempuh studi mereka? Karenanya, untuk menghargai jasa sekaligus perjuangan para dokter, setiap tanggal 24 Oktober diperingati sebagai Hari Dokter Nasional. Mungkin kalau ada temanmu, saudara, atau kamu bahkan punya kenalan seorang dokter, jangan sungkan untuk mengucapkan “Selamat hari Dokter!”

Bukan Perkara Mudah, Berjuang dengan Masa Studi yang Relatif Panjang Sungguh Membuat Para Calon Dokter Jadi Pribadi yang Tabah

Profesi ini istimewa sekaligus penuh risiko mengingat pekerjaan mereka punya sangkut paut terhadap keselamatan seseorang. Karenanya, untuk jadi seorang dokter, seorang mahasiswa kedokteran pun harus menempuh proses yang lebih panjang dibanding jurusan lainnya. Umumnya setelah berkuliah selama sekitar 3,5 tahun, kita akan diwisuda sebagai sarjana. Meski hal ini juga berlaku bagi mahasiswa kedokteran, namun mereka harus menjalani masa co-assistant atau yang akrab disebut koas selama dua tahun. Belum lagi ada uji kompetensi, jadi dokter magang selama setahun, baru bisa mendapatkan izin praktik atau bekerja di rumah sakit.

Perlu Komitmen dan Kesungguhan Hati, Sebab Jasa Seorang Dokter Akan Dikenang Hingga Dia Tiada

Untukmu yang mudah bosan, jangan sekali-kali berpikir menjajal profesi sebagai dokter. Selain butuh waktu yang tak sebentar, menjadi seorang dokter adalah sebuah panggilan dari hati. Profesi ini tak bisa hanya mengandalkan mimpi ‘agar-cepat-kaya’. Memang, sebagian orang mengira kalau jadi dokter pasti gajinya besar, tapi selain ada perjuangan yang besar, mereka yang memutuskan mengabdi pada profesi ini pun punya kesungguhan hati yang luar biasa. Itulah mengapa para dokter pasti sebelumnya melakukan sumpah dokter sebagai bukti komitmen mereka terhadap profesi yang satu ini.

Mereka Harus Siap Siaga Setiap Waktu, Karenanya Mereka pun Harus Terbiasa dengan Jam Kerja yang Tak Menentu

Tiba-tiba ada kecelakaan saat dini hari, dokter jaga pun harus sigap memberikan penanganan terhadap para korban cedera. Hal-hal semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari para dokter. Mereka yang menganjurkanmu tidur tujuh jam sehari, justru mungkin ada yang hanya tidur 3-4 jam seharinya. Demi loyalitas terhadap profesi, para dokter ini dituntut siaga setiap waktu. Kamu yang punya pasangan seorang dokter, tak perlu bersedih. Sebaliknya, kamu harus bangga dan memberi dukungan setiap waktu. Sebab apa yang mereka lakukan sungguh patut diapresiasi.

Dibalik Kuatnya Mental Para Dokter, Akan Ada Momen dimana Mereka Begitu Rindu Menikmati Weekend dan Family Time

Mental para dokter sudah terlatih untuk tidak mudah homesick. Apalagi mereka yang ditugaskan di daerah, menjadi dokter sungguh perlu pengorbanan besar. Family time pun jadi momen mewah yang jarang dirasakan para dokter ini. Tapi sekuat-kuatnya mental mereka, dokter tetaplah manusia yang punya rasa. Rasa rindu pada keluarga, kekasih, sahabat, bahkan me-time jelas terasa. Hanya saja, mereka selalu dilatih untuk mengutamakan panggilan jiwa dibanding kesenangan pribadi.

Sejak Mahasiswa, Mereka Dituntut Punya Simpati dan Empati yang Mendalam. Bukankah Tak Adil Kalau Keberadaan Dokter Justru Jadi Alat Orangtua untuk Menakuti-nakuti sang Anak?

Sekali lagi, saat masih menjadi mahasiswa kedokteran, para calon dokter dituntut tak hanya peduli dengan masalah kesehatan, tapi juga harus terbiasa menanamkan simpati dan empati kepada orang lain. Mereka harus cekatan untuk menolong orang dan terbiasa untuk menomorsatukan kesehatan orang lain dibalik kesenangan pribadi. Itulah mengapa saat berjumpa dengan dokter, bukan hal sulit untuk memberikan senyuman terbaik mereka pada pasiennya. Nah untuk para orangtua, yuk ubah stereotipe dokter itu menyeramkan seperti yang selama ini sudah terlanjur melekat pada kepala sebagian anak-anak!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top