Feature

Kawan, Tak Perlu Kamu Risau Mengejar Ambisimu Hanya Karena Ada Aku yang Jadi Rekan Kerjamu

Mendapat kerja di kantor yang sekarang sungguh membuatku bahagia, apa lagi sejak kali pertama aku datang tempat ini memang sudah memberi kesan kantor ideal. Bukan soal gedung belaka, tapi juga pekerjaan dan posisi yang kudapatkan. Aku melihat ada peluang untuk semakin berkembang. Karenanya, kuharap semua akan berjalan baik-baik saja.

Sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Ya, kamu, rekan kerjaku yang duduk di samping mejaku. Aku memberi salam saat kita pertama bertemu. Untuk sekian hari, kamu menyambutku begitu ramah. Tapi perlahan aku mulai merasa ada perubahan dengan tingkah lakumu terhadapku. Meski aku berusaha menepisnya, tapi kuakui, kali ini ada yang berbeda. Kamu menganggap keberadaanku bukan sebagai rekan tapi rival. Sebentar, aku dan kamu memang tak berada dijalur yang sama. Tapi bukankah kita tetap satu tim?

Aku Bekerja dengan Membawa Visi, Bukan untuk Cari Muka Tapi Agar Aku Terlatih Mengejar Sebuah Target yang Ingin Kucapai

Bekerja bukan hanya soal mencari uang sebanyak-banyaknya. Aku memandang pekerjaanku sekarang sebagai tempatku berekspresi. Dengan lingkungan yang sedemikian idealnya, aku ingin menunjukkan kapabilitasku terhadap pekerjaan ini. Namun bukan berarti aku ingin terlihat menonjol sendiri, apa lagi perusahaan tempatku bernaung sekarang nyatanya menuntut kerja tim. Kamu, yang lebih lama dariku jelas jauh lebih mengerti tentang visi perusahan ini bukan? Bukankah lebih baik kita seperti senasib sepenanggungan atau seperti bangunan yang saling menopang? Dibanding bertatap layaknya lawan yang ingin saling menjatuhkan.

Tujuan dan Target Bersama Menurutku Lebih Utama dibandingkan Ambisi demi Memperindah CV Semata

Aku tahu kamu memang sengaja melakukan hal-hal yang tidak fair karena terlalu berambisi dengan jabatan di atasmu bukan? Sebentar, memang dalam karier itu perlu ada peningkatan kinerja, namun bukan berarti kamu harus sebegitu ambisius sampai mengorbankan kekompakan. Penting untukmu, mengejar tujuan dan target bersama didalam perusahaan itu jauh lebih utama dibanding mengejar ambisimu semata. Toh kalau soal karier pribadi, bukankah menajamkan skill jauh lebih baik dibanding hanya berambisi memperindah CV?

Memiliki Sudut Pandang Positif, Itulah Caraku Menghadapi Tekanan demi Tekanan yang Mulai Datang Silih Berganti

Memang di luar sana akan banyak sekali orang yang punya segala cara dan tujuan negatif dalam persaingan. Namun sebagai seorang individu, lebih baik berusaha menanamkan sudut pandang positif dan hati yang bersih. Karena jika dua hal itu sudah dimiliki, bukankah lebih mudah menghindari persaingan dengan rekan sekantor?

Mungkin pihak-pihak lain mulai keluar dari batasan, dan etika berkompetisi dengan sehat, namun kita tak boleh ikut-ikutan. Setidaknya itulah yang disampaikan salah satu motivator kenamaan, Andrie Wongso.

Aku Hanya Heran Saja, Kenapa Kamu Lebih Suka Bersaing Secara Tidak Fair?

Bukankah kamu hanya buang-buang energi jika terus-terusan berusaha menjegal setiap rekan kerjamu hanya demi ambisi pribadi semata? Meski begitu, percayalah, aku akan tetap coba meresponmu secara positif. Karena sejak pertama aku berada di kantor ini, kamulah rekan kerjaku. Pilihanku bertindak demikian karena aku tak ingin ada pihak yang merasa dirugikan. Toh menurutku kalaupun ada orang-orang yang berusaha menjatuhkan kita, aku rasa itulah waktunya yang tepat untuk mengembangkan kualitas diri yang kita miliki.

Seiring Ambisimu Untuk Mengejar Kenaikan Jabatan, Kuharap Memang Kamulah Orang yang Tepat Mengisi Posisi Itu

Kamu perlu tahu satu hal, banyak orang yang sejatinya tidak memiliki kemampuan untuk naik jabatan. Namun ‘berbekal’ banyak cara, mereka pun berhasil mendapatkan ambisi itu. Di luar sana, mudah sekali menemukan orang yang semacam ini. Kuharap kamu bukanlah satu diantara mereka. Kamu layak untuk mendapatkan ambisimu, asal tetap tunjukkan etika kerja dan bergaul yang baik. Tak lupa, tetaplah menjadi seseorang yang menghargai rekan kerja. Karena kukira hal itu akan meningkatkan kualitas dirimu sekaligus dan mutu kerjamu di depan Pak Bos. Just relax and mind our own business, okay?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Menjadi Call Center: Pekerjaan Duduk Manis yang Bikin Hati Meringis

Sering membayangkan, bahwa profesi ini hanyalah pekerjaan gampang yang bisa dilakukan oleh semua orang. Angkat telepon, bicara kemudian menutupnya lagi. Begitu terus saban hari.

Padahal ini adalah sebuah pemahaman yang keliru, karena sama halnya dengan jenis pekerjaan lain, menjadi pegawai call center juga ada resikonya. Karena dibalik aktivitas yang terlihat remeh, ternyata ada dampak lain yang cukup memprihatinkan.

Ditempatkan pada garda terdepan sebuah perusahaan, atau yang biasa disebut divisi call center. Pekerjaan ini jadi barisan “pion” yang berkewajiban untuk menangani seluruh keluhan, kebutuhan informasi, ataupun saran dari seluruh customer dalam lingkup nasional.

Kelihatannya memang mudah, namun jika kamu sudah melakoninya tentu pendapatmu akan jadi berbeda.

Mereka Sering Menerima Pelecehan Secara Verbal, Disebut Binatang Hingga Dibilang Pelacur

Menjadi seorang CSO (Call Center Officer) memang jadi situasi yang memaksa kita untuk merubah pemahaman. Termasuk mulai belajar akan beberapa karakter orang. Bersyukur jika nanti akan dipertemukan dengan orang-orang baik yang ramah dengan karakter yang juga santun.

Sayangnya tak semua orang begitu, mereka yang mungkin sedang emosi kadang melampiskan semua kekesalahan akan produk yang dipakai pada sang call center.

Benar memang, ini adalah bagian dari pekerjaan, mau tak mau memang harus dijalankan. Tapi siapa pun itu orangnya, tentu tak ingin jika setiap hari hanya akan menerima caci maki dan berbagai macam bahasa tak enak yang lainnya. Dan para pegawai call center menerimanya setiap hari, selama bekerja.

Tidak Boleh Marah dan Wajib Bersikap Ramah, Walau Pelanggan Kadang Tak Bersikap Sebagaimana Mestinya

Lain hal dengan pekerjaan lain, yang jika sedang tak enak hati bisa menyendiri. Tak begitu dengan pekerjaan ini. Sebab melayani dan berhubungan dengan orang lain adalah hukum yang wajib untuk dijalani.

Jadi call center harus pintar menyembunyikan emosi saat sedang melayani pelanggan. Sekeras apa pun bentakan yang diterima tak bisa dibalas dengan nada serupa, sebab marahnya pelanggan akan jadi bumerang. Alih-alih mendapat pembelaan, kadang sang pegawailah yang justru dijadikan tersangka.

Maka tak heran, jika berdasarkan data dari riset yang dilakukan Biro Statistik Tenaga Kerja dan Business Insider,  profesi CSO atau Call Center Officer jadi salah satu dari 27 pekerjaan dengan tingkat stres paling tinggi di dunia. Bahkan dari angka 0-100, profesi ini ada di level 93,3.

Data ini jelas merubah pandangan siapa saja, mereka yang tadinya terlihat jadi pihak dengan tanggung jawab pekerjaan yang cukup mudah ternyata mengemban beban yang lebih berat.

Padahal Tak Ubahnya dengan Kita, Mereka Juga Manusia yang Bisa Lelah dan Marah

Setiap pekerjaan memang datang dengan emosi dan tingkat kesulitan beragam. Sesuatu yang mungkin saja adalah batas rasa sabar yang kita punya. Tapi sebagai pelanggan yang ingin dilayani, tentu kita tak akan ambil pusing untuk itu. Di mata kita, mereka adalah pegawai, dan kita adalah pelanggan yang berarti wajib dipuaskan.

Ada baiknya, sebelum nanti akan marah-marah. Coba bayangkan orang lain yang menunggu mereka di rumah. Berharap dan bergantung pada mereka yang sedang mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Posisi kita mungkin berbeda, mereka adalah pelayan dengan kita sebagai pelanggan. Meski begitu, cobalah untuk berpikir dahulu, dan jangan marah-marah melulu.

Beban Emosi yang Berlebih, Bisa Membuat Mereka Depresi

Dibalik gagang telepon yang dipakai untuk melakoni pekerjaan, ada beribu marah dan kecewa hingga emosi yang mereka tahan sendiri. Ditimbun hingga berubah menjadi beban yang bisa saja mematikan.

Dan asal kamu tahu saja, menurut hasil dari beberapa peneliti. Mereka yang bekerja sebagai call center dapat menderita stres kerja yang lebih besar seperti: gangguan organ pencernaan, kinerja seksual yang buruk, kelelahan, kinerja yang rendah, kehilangan konsentrasi, dan absensi yang dikarenakan oleh beban emosi yang kadang tak bisa terluapkan.

Demi Mengurangi Tingkat Stres yang Dirasakan, Salah Satu Perusahaan Minyak di Korea Membuat Sebuah Gebrakan

Seolah peduli pada hal yang dialami oleh para call center tersebut, pada Agustus 2017 lalu di laman YouTube perusahaan minyak GS Caltex dan agen komunikasi AdQUA Interaktive dari Korea, ada sebuah video menarik yang dibuat sebagai gebrakan.

Ya, video berdurasi 2:50 menit tersebut berisi penuturan dari 3 orang perempuan yang berprofesi sebagai call center di Korea. Mereka bertiga bercerita bahwa pekerjaan itu kerap membawa mereka pada beberapa perlakuan yang tak menyenangkan. Dimarahi seenaknya, hingga dimaki-maki dan tak dihargai.

Untuk itu, perusahaan tersebut akhirnya memutuskan untuk merekam suara anak atau keluarga dari para pegawai tersebut, untuk kemudian dijadikan nada sambung selama pelanggan menunggu dilayani pegawai call center tersebut.

Hal itu dilakukan agar pelanggan yang sedang melakukan komunikasi tidak lagi marah dan lebih menghargai setiap pegawai yang sedang melayani. Hasilnya? Tingkat stres yang dialami para pegawai berhasil turun sebesar 54,2%.

Kepuasan mereka yang merasa dihargai meningkat sebesar 25%, respon baik konsumen juga meningkat sebesar 8,3%, dan ekspektasi karyawan kepada kebaikan pelanggan meningkat 25%.

Dari Sini Kita Kemudian Belajar, Bahwa Menjadi Call Center Bukanlah Pekerjaan yang Gampang

Hari ini, setelah membaca penjelasan ini semoga kita lebih mengerti dan lebih memahami lagi. Jika sebelumnya kita kerap berpikir bahwa menjadi call center adalah sesuatu yang mudah dilakukan, silahkan ganti pemahamanmu. Melayani memang jadi kewajiban dari mereka, tapi bersikap baik sebagaimana mestinya juga menjadi tanggung jawab kita.

Cobalah tempatkan diri sebagaimana mereka yang melakoninya. Barangkali ini lebih membantu untuk kita mengerti bahwa pekerjaan ini memang tak gampang.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kawan, Gaji Besar Percuma Saja Kalau Kamu Tak Bisa Mengelolanya

Kamu boleh bersyukur dengan penghasilanmu sekarang ini. Bisa dibilang mungkin kamu beruntung, karena di usia yang masih muda kamu sudah memiliki jenjang karier dan penghasilan menjanjikan. Berkat kerja kerasmu, hidupmu kini jauh lebih mapan. Apa lagi dengan gaji yang memadai, kamu tak lagi merasa kesulitan secara finansial

Tapi sudahkah kamu bijak mengelola penghasilanmu? Saat ada pemasukan, pikirkanlah bahwa kamu masih punya hari depan yang patut dipersiapkan. Kebanyakan orang muda seringkali lupa mengalokasikan penghasilan mereka untuk masa depan. Pada akhirnya, gaji pun selalu habis dan kewajiban untuk menabung jadi terabaikan. Jika kamu terjebak dalam situasi semacam ini, coba evaluasi sejenak, dalam sebulan kira-kira uangmu dipakai untuk apa saja?

Terbiasa Menuruti Nafsu Belanja, Membuatmu Tak Bisa Mengontrol Uang Belanja

Apakah kamu tipikal orang yang selalu lapar mata saat belanja? Atau merasa kalap kalau sudah melihat ada diskon besar-besaran? Baik pria atau wanita sejatinya sama saja, sebab kesulitan mengontrol nafsu belanja pun tidak memandang jenis kelamin. Mungkin kebiasaan semacam ini yang membuat gajimu cepat raib. Barang koleksimu mungkin bertambah, tapi kamu jadi tak punya tabungan karena habis untuk berbelanja.

Belanja Boleh, Asal Tahu Apa yang Diperlukan dan yang Sebaiknya Memang Tidak Usah Dibeli

 

Semakin besar pemasukan, semakin besar juga keinginan untuk berbelanja. Alasannya, karena ada diskon, sudah jadi barang incaran, dan lain sebagainya. Apa pun itu, kamu sah-sah saja untuk belanja. Hanya saja, setidaknya kamu bisa membedakan mana yang jadi barang kebutuhan pokok sehingga wajib untuk dibelanjakan, serta barang-barang yang menjadi keinginanmu saja, seperti pakaian, aksesoris dan lainnya. Namun kalau kamu berkeinginan untuk berhemat, biasakan untuk membeli barang yang sesuai kebutuhan dan tahan keinginanmu untuk berbelanja.

Gaji Cepat Habis Tak Bersisa, Bisa Jadi Karena Kamu Tak Memiliki Perencanaan Keuangan yang Tertata

Perencanaan keuangan sangat diperlukan. Kalau dari dulu kamu belum terbiasa membuat laporan keuangan pribadimu, mulailah biasakan membuatnya dari sekarang. Hal ini akan melatihmu untuk mengetahui aliran uang yang kamu terima dan detail penggunaanya untuk apa saja. Bukankah lebih enak kalau semuanya terlihat jelas?

Belum Bisa Memisahkan Antara Tabungan Simpanan dan Tabungan Kebutuhan

 

Padahal ada baiknya kamu memisahkan antara pemakaian tabungan untuk kebutuhan jalan-jalan, kesehatan, serta belanja rumah tangga demi membuat semuanya tertata. Kalau dalam sebulan keuanganmu tertata, kamu akan bisa mengelola pemasukan dengan baik, dengan demikian kamu akan tahu gajimu dipakai untuk apa saja. Gaji besarmu itu tak akan berakhir sia-sia dan kamu pun bisa mulai menerapkan gaya hidup yang sejahtera.

Meski Gaji Besar, Tak Ada Salahnya Untuk Memikirkan Perkara Investasi

Coba sisihkan uangmu sedikit demi sedikit untuk melakukan investasi kecil-kecilan. Tak perlu muluk-muluk, cobalah dengan membeli emas lima gram. Hal itu bisa melatihmu berinvestasi sedari dini. Atau gunakan uangmu untuk membangun usaha kecil-kecilan yang lain. Selagi hal itu bermanfaat dan bisa memutar uang, kenapa tidak?

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Para Pekerja Shift Malam Adalah Barisan Para Pejuang

Mereka ini disebut manusia kelelawar, sebab bekerja pada malam dan tertidur saat siang.

Dan tak hanya jam kerja yang berbeda, sebenarnya ada banyak hal lain yang kami rasakan dengan hati was-was. Tak sepenuhnya serupa, meski katanya sama-sama bekerja pada shif malam, tentu setiap tempat memiliki aturan dan sistem yang berbeda.

Seorang kawan yang bekerja pada sebuah pabrik, konon memiliki kemungkinan untuk bisa beristirahat sejenak selama pekerjaannnya sudah selesai, bisa saja. Tapi tidak bagi pekerja yang di tempat berbeda. Sebut saja di rumah sakit atau klinik 24 jam yang harus selalu siaga jika ada pasien yang tiba-tiba butuh pertolongan. Bayangkan sepanjang malam, ketika orang lain sedang tidur, mereka justru harus selalu terjaga.

Jam Kerja yang Baru Otomatis Merubah Jam Biologismu dan Tingkat Sensitivitas

Menjalani kehidupan yang bertolak belakang dengan hal-hal biasanya dilakukan orang tentu bukan sesuatu yang mudah. Bahkan butuh waktu lama untuk mampu beradaptasi.

Bagaimana tidak, tubuh yang terbiasa tidur saat malam mau tak mau harus tetap aktif meski malam. Pelan-pelan jam biologis tubuh pun ikut berputar. Bahkan karena masih jadi kebiasaan baru, perubahan jam biologis ini sering membuat kita mengantuk di jam kerja.

Bahkan lelahnya bekerja juga berpengaruh pada hal lain pada tubuhmu, salah satunya menjadi lebih sensitif dari biasanya karena kurang beristirahat dengan baik. Bahkan para pekerja shift malam memiliki tingkat stres lebih tinggi dari mereka yang bekerja siang.

Tak Boleh Serampangan, Bijak dalam Mengatur Waktu Adalah Sesuatu yang Dibutuhkan

Jika malam bekerja, siangnya cukup tidur dan istirahat di rumah.

Begitu kira-kira yang mungkin ada dalam bayangan kita, padahal untuk menjalaninya tentu tidak semudah bicara. Ada saja faktor lain yang datang tanpa diundang. Memaksa kita tetap beraktivitas pada siang hari, padahal nanti malam masih harus tetap bekerja dan menguras pikiran.

Ini memang bukanlah sesuatu yang main-main, sebab salah dalam mengatur waktu bisa berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan. Berpengaruh pada pekerjaan, hingga menganggu kesehatan. Jangan biarkan semuanya berantakan, buatlah jadwal yang teratur untuk memilah-milah hal mana yang akan kamu lakukan.

Satu Sisi Ini Memang Tak Membosankan, Tapi Kerap Membuat Hati Tak Karuan

Faktanya ada masa dimana kita tak akan masuk malam lagi, dan ini jadi poin penting penyejuk hati. Ya, ada sisi berbeda yang kita rasakan. Sehingga pekerjaan yang ada, tak terasa monoton hanya karena begitu-begitu saja.

Dan barangkali ini jadi salah satu nilai positif yang bisa kita rasakan, hidup berjalan lebih dinamis. Karena selain beban pekerjaan malam yang terasa berat, ada hal lain yang mengobati hati.

Hidup yang dijalani terasa lebih berwarna karena tak terpaku pada jam kerja yang sama.

Hingga Perasaan Was-was Jika Sewaktu-waktu Terserang Penyakit

Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli, orang yang bekerja secara shift dipredikasi lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan dan masalah kesehatan.  Mulai dari obesitas, resiko tekanan darah, perubahan nafsu makan, hingga diabetes. Dan semua itu dikarenakan perubahan jam biologis yang ikut berubah.

Nah, demi menanggulanginya, baiknya kita berolahraga, menerapkan pola makan sehat, tidur dan istirahat secukupnya, hingga berhenti mengonsumsi alkohol dan kafein terlalu banyak.

Meski pada dasarnya siapa pun bisa terserang penyakit, namun ada baiknya kita berusaha mencegah sebelum nanti semuanya terjadi.

Dan Tak Hanya Jam Kerja, Kehidupan Sosial Pun Turut Serta Berubah

Saat kita sedang beristirahat di siang hari, teman-teman lain mungkin sedang bekerja. Namun saat mereka sudah kembali ke rumah, sebaliknya kitalah yang mau tak mau harus bekerja. Situasi ini memaksa kita untuk mengurungkan beberapa pertemuan dengan orang-orang, hingga mengubah kehidupan sosial. 

Ini mungkin akan susah, sebab waktu luang yang kita punya tidak sama dengan yang mereka miliki.

Siklus kerja dan jam istirahat kita memang berbeda dengan mereka yang bekerja dari pagi sampai sore, untuk itu pulalah kita patut berbangga. Sebab kita ini adalah pejuang yang sebenarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top